Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Review Buku "Win or Learn"

Review Buku Win or Learn

Cover buku Win or Learn

Sebuah Buku tentang Kemenangan Hidup

Hidup itu tentang belajar. Kamu menang atau kamu belajar lagi. Pada keduanya kamu akan mendapat data: data mengapa kamu menang atau data mengapa kamu masih perlu belajar lagi. Tak ada yang namanya kalah atau gagal. Kita itu selalu menang dan setiap proses tersebut perlu dirayakan.

Penolakan juga termasuk apa yang perlu kita pelajari di dalamnya. Penulis mengajarkan tentang 3 jenis penolakan dan cara menyikapinya.

Penilaian Singkat

Cover:

  • Lumayan, tapi masih bisa diperbaiki

Jumlah halaman:

  • Sangat sedikit, cocok untuk pembaca pemula atau sekali baca.

Isi:

  • Bagus dan prinsip, tetapi tidak baru.
  • Bersifat memotivasi.
  • Intinya cuma sedikit, banyak ceritanya. Cocok buat yang suka ala cerita atau mungkin penggemar fiksi.
  • Per bahasan lumayan pendek, tetapi masih panjang bagiku.
  • Membosankan bagiku dan bertele-tele karena aku nggak suka tipe cerita. Aku suka yang to the point.

Layout:

  • Tidak enak dibaca.
  • Ukuran font terlalu kecil dan jenis font aku kurang suka.
  • Margin juga mungkin butuh ditambah sedikit.

Intinya

Isi buku ini nggak baru, tapi cocok buat kamu kalau kamu butuh motivasi atau belum nerapin isi yang ditulis di buku ini. Banyak pembaca yang mungkin cuma baca tapi nggak praktek. Buku ini bagiku isinya sederhana tapi merupakan bagian dari prinsip-prinsip kehidupan.

Review Buku "The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics)" oleh Grady Klein dan Yoram Bauman


Review Buku The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics)
Cover buku The cartoon introduction to economics (Microeconomics)

Ternyata Kartun Tak Selamanya Mudah

 Aku baca buku The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics) karena mengikuti saran dari The Almanack of Naval Ravikant untuk mempelajari mikroekonomi. Meski sudah diajari ekonomi di sekolah, tapi aku tidak tahu banyak mana yang makroekonomi dan mana yang mikroekonomi. Aku baru punya gambaran jelas ketika membaca buku ini.

Buku ini kupilih dari beberapa buku mikroekonomi yang pernah kuintip. Karena formatnya kartun, aku berharap materinya lebih mudah dipahami. Buku-buku teks lain banyak yang kututup lagi karena malas membacanya—entah karena tata letaknya yang membosankan atau penjelasannya yang memang rumit.

Terus terang, saat menemukan buku ini aku sangat senang. Harapannya, format visual bisa membantu mencerna teori-teori berat. Awalnya memang terasa mudah, tapi lama-kelamaan materinya tetap terasa sulit untuk diikuti.

Aslinya, buku ini berisi semacam kesimpulan atau intisari dari mikroekonomi yang dialihkan ke bentuk kartun. Jumlah halamannya sekitar 450-an, tapi banyak bagian yang kosong, jadi sebenarnya tidak semenakutkan kelihatannya.

Apa yang dipelajari?

Ternyata sebagian materi sudah ada di pelajaran SMA dulu, meski ingatanku sudah samar, seperti:

  • Kurva permintaan dan penawaran
  • Kesetimbangan kurva
  • Pergeseran kurva, dan lain-lain.

Ada bagian yang langsung kupahami intinya, ada yang sekadar paham maksudnya tapi bingung cara menerapkannya, dan ada juga yang tidak paham sama sekali. Meskipun berbentuk kartun, materi ini tetap menantang. Sebagian bisa kupahami dengan mudah, sebagian lagi harus kupikirkan matang-matang atau bertanya ke AI baru mengerti.

Buku dibuka dengan pengertian mikroekonomi. Mikroekonomi menjelaskan bahwa masing-masing manusia adalah optimizing individual (ingin mengoptimalkan perolehannya) dan transaksi yang terjadi di antara mereka. Mikroekonomi mengatur agar setiap individu mencapai titik optimal yang adil—bukan satu pihak puas sementara yang lain tidak kebagian. Paling tidak, jika satu kondisi membaik, pihak lain tetap stabil tanpa ada yang dirugikan.

Dalam upaya optimasi ini, muncullah transaksi, barter, atau lelang. Karena masing-masing pihak tidak mau rugi, penawaran akan selalu menuju titik seimbang. Penjual dan pembeli akan menghitung keuntungan marginal dibanding biaya marginalnya. Selain itu, ada pembahasan game theory, yaitu menduga langkah "lawan". Semakin ada asimetri pengetahuan (informasi yang tidak diketahui lawan), semakin posisi kita menguntungkan.

Di dalam transaksi tersebut, terdapat pula peran pajak pemerintah. Namun prinsip dasar tetap sama: kurva akan mencari kesetimbangan. Mau pajak dibebankan ke pembeli atau penjual, pada akhirnya pajak tersebut ditanggung bersama oleh keduanya, hanya proporsinya saja yang berbeda.

Kenapa Buku ini Berat?

Meskipun formatnya kartun, buku ini tetap terasa berat. Aku tidak yakin orang awam tanpa dasar ekonomi bisa memahaminya dengan mudah. Gambarnya sangat kompleks; jika dalam tulisan satu paragraf mewakili satu ide, di buku ini satu gambar terasa memuat terlalu banyak pokok pikiran sekaligus.

Selain itu, banyak noise atau elemen visual pengganggu yang tidak penting. Format halaman yang selang-seling (satu halaman bergambar, halaman berikutnya kosong) juga sangat mengganggu alur belajar. Rasanya boros energi untuk memahaminya, sehingga aku memutuskan untuk tidak menyelesaikannya meski sudah membaca hampir 400 halaman.

Kesimpulan

Intinya, aku tetap kesulitan memahami mikroekonomi sepenuhnya dari buku ini. Aku masih ingin mencari referensi lain yang mungkin penjelasannya jauh lebih sederhana dan efektif daripada format kartun yang kompleks ini.

Review Buku "Bergulat dengan Diri"

Cover buku Bergulat dengan Diri

Ini adalah buku yang kupilih random aja, asal berbahasa Indonesia. Kalau dilihat dari cover pun tidak menarik, sedangkan judul Bergulat dengan Diri itu agak abstrak atau setidaknya sangat luas, gulat bagian apanya. Tapi pikiranku sih mungkin mengatasi masalah-masalah internal di diri, terutama terkait refleksi. Taunya nggak. Loh ini kok lebih bahas tentang orang lain, toksik-toksik, dll.

Pas aku baca, aku lebih bingung lagi. Karena ini kan diformat sebagai tulisan terpisah yang dijalin membentuk satu tema utama, taunya kok nggak nyambung. Ini nggak hanya gak sesuai judul, tapi juga nggak terbentuk benang merah antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Aku gak tau ini masuk ranah apa, apa kesatuan, koherensi, atau sekadar alur/plotnya aja yang nggak nyambung?

Ini tulisannya juga masih perlu lebih padat, masih bertele-tele (wordy banget). Selain itu, tulisan di buku ini sangat emosional (aura emosi), sangat judgemental (menghakimi), dan sangat hitam-putih. Penulis seperti memiliki atau melihat satu perspektif saja. Akhirnya jatuhnya terasa seperti "Kamu kalau nggak golongan 'ini'/nggak ngelakuin 'ini' maka kamu salah/buruk." Kepercayaan diri yang kuat pada pada pendapatnya, tetapi tidak diimbangi dengan perspektif yang luas. Kayak setiap orang itu hanya melalui peristiwa yang seragam.

Aduh bacanya menimbulkan aura yang nggak enak banget.

Saran Perbaikan

Menurutku, buku ini akan lebih baik jika covernya dipercantik, plot/alurnya diperbaiki, judulnya diperbaiki (judulnya salah dan kurang spesifik), trus nulisnya itu yang lebih woles dan padat. Selain itu, cobalah untuk lebih memahami betapa beragamnya manusia ini. Buku ini sebenarnya bisa bagus, dan mungkin lebih cocok untuk format buku-buku mini (yang tulisannya dikit dan gambar banyak atau space/ruang lega) karena bagian penting dari buku ini mungkin akan banyak berkurang jika wordy-nya diperbaiki.


Baca review kesehatan mental lainnya:

Review Buku Lainnya: Daftar Review | Buku Bagus

Review Buku "Aku yang Sudah Lama Hilang" oleh Nago Tejena

 

review buku "Aku yang sudah lama hilang" oleh nago tejena
Cover buku "Aku yang sudah lama hilang" oleh Nago Tejena

 
 

AKU YANG SUDAH LAMA HILANG

(Panduan perjalanan menemukan diri di tengah kehidupan dewasa yang membingungkan)

Penulis: Nago Tejena



Buku ini dimulai dengan kekagetan penulis mendapati fotonya saat masa kanak-kanak. Siapa sosok di foto itu? 

Mengapa dia tak mengenalinya lagi.

Ternyata, ada yang hilang di dirinya.

Sesuai judulnya, ini buku tentang mencari dirimu yang ori.

Isinya cara-cara agar kamu lebih jujur pada diri sendiri dan berani berubah untuk mencapai itu.

Buku ini ditulis dengan keahlian menulis yang sangat baik. Dia buku yang psikologi banget tapi sisi kuliahan psikologinya itu gak terlihat sama sekali, jadi full buku populer. Layout-nya yang sangat strategis, karena meskipun isinya duikit banget tapi seolah banyak, karena adanya penataan gambar dan cara menulisnya yang baik.

Tapi ya, kalau untuk feel isinya, ini gak terlalu aman dibaca oleh orang-orang yang sensitif atau lagi sensitif. Di awal sih seolah tulisannya itu kayak berusaha merengkuh kamu dengan halus, berusaha ngertiin kamu, tapi semakin ke tengah hingga akhir suasananya seperti berfluktuasi. Sensasi yang kurasakan adalah penulis ini aslinya nggak sabar dan nggak se-validatif itu tapi berusaha disabar-sabarin sambil kesal dan ada nuansa controlling juga. Aku nggak tau ini memang disusun macam sandwich yang bagian "keras"-nya di tengah, atau memang penulisnya kehilangan kesabaran dan balik ke diri ori-nya sehingga suaranya itu menjadi berbeda dari tengah menuju akhir. Aura atau nuansa tulisannya kacau.

Dan ini nggak nyaman dibaca buatku. Meskipun, belum tentu gitu juga buatmu, karena ini personal. Karena banyak buku yang dipuja orang lain tapi aku gak suka, jadi bisa aja aku gak suka buku ini tapi kamu suka.

 

Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well 

It's okay not to get along with everyone

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Soal materi/isinya, ini bagus, tapi biasa bagi orang-orang yang udah sering baca buku jenis ginian. Artinya, nggak mengandung kebaruan.

Sementara untuk covernya uda bagus, begitupun judulnya, lagi ngetren judul-judul model sederhana kayak gini. Jadi, bagus juga. 

Sedangkan nama penulisnya itu nipu banget lho, kupikir orang Jepang, taunya orang Indonesia. Apalagi desain covernya itu agak-agak ala Korea.

So, kesimpulannya apa?

Aku ga suka buku "Aku yang Sudah Lama Hilang" ini, tapi mungkin saja orang yang nggak sensitif atau nggak sering baca buku jenis ginian bakal suka dan mendapat kemanfaatan darinya.

Review Buku "Cara Cepat Memperbaiki Mood"

 

Cara cepat memperbaiki mood (olivia remes)
Cover buku "Cara cepat memperbaiki mood"


CARA CEPAT MEMPERBAIKI MOOD

(50 Solusi sederhana berbasis sains untuk menghilangkan rasa cemas, panik, dan stres)

Penulis: Olivia Remes

Halaman: 192 halaman


Siapa yang masih susah ngendaliin mood? Nih ada buku yang bakal bantu kamu. Cara Cepat Memperbaiki Mood, karya Olivia Remes. Tadinya sih kupikir mood yang dimaksud itu tentang marah, sedih, atau lainnya. Taunya beda dikit dari bayanganku.


Mood di sini dibagi ke dalam 10 bab:

  1. Merasa ragu-ragu
  2. Merasa tidak termotivasi
  3. Merasa lepas kendali
  4. Merasa stres
  5. Merasa kewalahan
  6. Merasa cemas
  7. Merasa kesepian
  8. Merasa ditolak
  9. Merasa terpuruk
  10. Merasa dikecewakan

Setiap bab dibagi menjadi 3 bagian:

  1. Untuk dibaca saat keadaan darurat
  2. Sains kilat
  3. Cara mengatasi

Jadi, angka 50 itu didapat dari penyebaran solusi ke 10 bab tadi.

Kesanku ya, dilihat dari covernya itu "nggak memperbaiki mood". Ga ada aura cerianya. Warna kunyit/mustard gini suram, ga bawa feel bahagia. Mungkin mending kuning cerah aja sekalian, oren cerah, dan desainnya pun disesuaikan biar lebih baik.

Nah, kalau isinya buku ini tuh bagus banget. Tulisannya itu mudah dipahami dan lumayan singkat. Dia berusaha straight aslinya, tapi bagiku masih bertele-tele dan bentuknya nanggung. Jadi, dia itu antara straight, naratif, dan listicle. Mungkin untuk orang straight/yang suka to the point, dia masih kepanjangan, sedangkan untuk orang yang suka narasi/basa-basi/cerita, dia juga akan kurang memuaskan mereka.

 

Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well 

It's okay not to get along with everyone

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia keterbacaannya juga gak enak, tapi jumlah halaman per bab yang minim bisa menyelamatkan dia jadi mendingan. Isinya itu gems banget tapi layoutnya itu terlalu biasa, gak dikemas dengan lebih sungguh-sungguh. Dan cara nulisnya sebenernya masih bisa diperbaiki lagi biar lebih straight.

Ini sangat enak untuk baca buku ilmiah tapi rasa populer. Reflektif, logis juga, dan gak beraura gelap. Dia nggak bersifat memeluk/memvalidasi, tapi lebih ke memberikan fakta-fakta baru untuk memperbaiki pemikiran/midsetmu dan solutif, ngajak kamu cepat bangkit. Yang gak enak terutama layoutnya. Kayak ngerusak aja gitu. Udah nulis bagus-bagus eh layoutnya gitu doang. Sayang banget gitu lho.

Yang lebih menarik lagi, beberapa tips di buku ini jarang ada di buku lain, trus juga ada bagian agamanya yang bikin aku mikir "Ya Allah, emang bener ya kalau kita ngelanggar sedikit aja/melenceng sedikit aja dari ajaran-Mu, pasti ada efek buruknya." Ada beberapa bagian yang membuatku gitu. Tapi aku gak tau ya apakah orang lain bisa menangkap hal yang sama denganku apa nggak. Karena aku emang reflektif dan bacaan dan cara orang memaknai sesuatu kan beda-beda.

Singkatnya, buku ini bagus banget. Emang layoutnya kurang enak, tapi kalau kamu baca pas lagi betmut, bentuknya yang listicle, jumlah halaman per bab yang tidak terlalu  banyak, dan ada bagian khusus di bab itu yang emang ditujukan untuk dibaca saat keadaan darurat, serta ada rangkumannya juga, dan tempat buat coret-coretan, maka buku ini sangat kurekomendasikan.

Bagus banget.


 

Review Buku "It's Okay Not to Get Along with Everyone"

 

Review Buku "It's okay not to get along with everyone"
Cover buku "It's okay not to get along with everyone"

 

Pertama nemu buku ini aku nggak terlalu ngamati detail covernya. Iya di sana tertulis non fiksi best seller Korea, tapi aku nggak tahu Dancing Snail itu orang Korea apa bukan. Tapi cover-cover kayak gini ini biasanya ala Korea, jadi ya udah aku ngintip aja karena aku belum pernah baca buku ala Korea. Soalnya aku kaget juga, Korsel itu kan terkenal dingin orangnya, workaholic, dan fast moving, masa iya nulis/ngajar tentang kesehatan mental? Wong orang sana aja banyak yang gangguan mental/b*ndir. Jadi, aku penasaran apakah ada sisi lain dari mereka yang belum kuketahui, yang mungkin sebenarnya positif.

 

Tapi, nyatanya memang terasa aneh saat baca buku ini. Dia itu dalem banget jelasin gini gitu tentang perasaan. Blak-blakan juga tentang dirinya, pandangan-pandangannya, dan pilihan-pilihan hidupnya. Tapi tetep aja dia terasa datar/flat (tidak menggugah) dan beraura penulis sendiri tidak terlalu sehat mentalnya. Sampai kemudian aku menemukan penjelasan lebih lanjut tentang penulis di bagian akhir buku itu, memang iya dan memang Korea.

 

Meski gitu, jangan salah ya, penjelasan-penjelasan di buku ini itu baik. Kayak penulis itu sangat reflektif atau perasa atau apa gitu. Jadi secara teori atau cara menulis dia baik, hanya auranya aja yang aku "gak dapet". Trus aku merasa puyeng atau terganggu juga dengan gaya campuran antara tulisan dan gambarnya. Gambarnya besar-besar, bisa satu halaman atau kurang trus bersambung dengan gambar lanjutannya di halaman lain. Jadi, satu tema itu gambarnya bisa beberapa halaman sekaligus baru kelar, uda gitu ada tulisan di bawah dan di atas gambar, juga bubble dialog pada masing-masing pemeran, aduh itu kayak kacau banget. Gak kayak komik yang mungkin satu halaman itu selesai satu tema.


Ini tuh isinya dikit, banyakan gambarnya. Modus aslinya, menuh-menuhin halaman. Kayak tuebel padahal gambarnya yang banyak. Tapi isinya daging kok meskipun dikit, gak semua bagian cocok denganku, dan "gak ada feel"-nya.

 


Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Buku ini isinya sangat "merakyat", kayak cerita jujur dari hati yang terdalam. Ditulis berdasarkan sudut pandang pelaku, "Ini lho yang kualami dan ini kesimpulanku/pelajaran yang kuambil." Gitu. Jadi, bukan dari sudut pandang ahli. Mungkin sisi merakyat itulah yang berpengaruh juga bikin dia jadi best seller. Ini sehari-hari banget dan jujur banget. Nggak jaim.

Isinya tentang tentang gak papa kamu gak selalu cocok dengan orang lain. 

Ada orang yang kita kira cocok padahal nggak, ada orang yang ngira orang lain cocok dengannya padahal nggak. 

Ada masa-masa ketika kita merasa sendiri meski di keramaian. 

Ada yang dulunya dekat tapi kemudian jauh.

Ada juga perasaan gak jelas pengen dekat apa nggak dengan orang lain.

Gitu-gitu. Tentang perubahan perasaan dan perubahan hubungan.

 

Trus di tiap akhir babnya ada penjelasannya, berupa kesimpulan atau tips dari penulis.

 

Inspiratif tapi gak menggugah/"gak ada feel"-nya.

 

 

 

 




Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"

 

Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"
Cover buku "It's Ok to Feel Things Deeply"


IT'S OK TO FEEL THINGS DEEPLY

Penulis: Carissa Potter

Jumlah halaman: 61 halaman


 

It's Ok to Feel Things Deeply adalah buku mini tentang kesehatan mental.

Aku nggak ngira dia singkat banget, cuma 60 an halaman.

Lebih nggak ngira lagi karena ini full gambar.

 

Jadi, ini tuh kayak panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar (dan lebih mirip ke target untuk orang-orang yang depresi, bukan orang umum).

Semua teks dirupakan gambar.

 

Berbeda dengan buku You are Positively Awesome, gambar-gambar di sini itu tidak "hidup", tidak membawa aura ceria. Gambarnya kusam. Bahkan, kalau beneran untuk orang depresi, dia sama sekali gak nyenengin dilihat. Perlu lebih colorful dan ceria/playful.

Selain itu, tulisan-tulisan pada gambarnya juga tidak menggugah, nggak kayak buku How to Keep House while Drowning. Kayak nggak ada "nyawanya".

Jadi, baik gambar maupun tulisannya itu "mati".

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia seperti sekadar membuat panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar. Satu gambar untuk satu tips, tapi nggak hidup sama sekali.Cuma untuk dibaca ya gampang dan cepet selesai karena emang bentuk gambar dan halamannya sangat sedikit gitu aja.

 

Jadi, dari cover dia gak nyambung dan gak menarik, dari isi pun begitu, gak menarik juga.

Buku ini perlu diubah ulang formatnya agar bisa lebih baik.


Review Buku "You are Positively Awesome"

 

Review buku "You Are Positively Awesome" oleh Stacie Swift
Cover buku "You are Positively Awesome"


YOU ARE POSITIVELY AWESOME

(Good vibes and self care prompts for all of life's ups and down)

Penulis: Stacie Swift


Buku You are Positively Awesome ini beda banget sama buku You are Awesome -nya Matthew Syed. Buku yang disebut pertama ini ceria banget seperti gambar covernya. Tadinya yang direkom ke aku oleh AI-nya itu buku Matthew Syed tapi aku nggak suka, trus ngintip buku yang ini dan jadi kukepoin sampai habis deh.


Buku ini itu super duper ceria sekali. Dia sangat nyatu antara cover, layout, font, gambar-gambar dan desain di dalamnya, serta warna-warnanya yang colorful. Ceria, bagus, enak dibaca, dan isinya sangat memotivasi, meskipun bagiku nggak terlalu menggugah sih, nggak ada krenteknya, nggak kayak How to Keep House while Drowning

 

Tapi, tetep aja dia bagus untuk self worth-mu dan penting untuk dibaca. Apalagi, dia itu isinya dikit. Dia mengutamakan kenyamanan dan inti/dagingnya aja, dan itu baik atau setidaknya cukup untuk membantu moodmu dan mendukung perbaikan self worth-mu. Ada tugas-tugasnya juga di dalamnya, yang bikin ini gabungan antara buku bacaan dan juga buku kerja/workbook, dan sisi lainnya, tentu saja isinya/teori/bacaannya lebih dikit lagi. Makanya kamu bisa nyikat habis buku ini dalam sekali baca atau sekali duduk. Easy, apalagi buat kamu yang udah suhu karena biasa baca novel tuebel-tuebel. 

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Singkatnya, aku sangat merekomendasikannya. Lihat desain, layout, dan warna-warninya aja pasti uda bisa bikin hidupmu makin berwarna. Nggak surem lagi. Moodmu bisa membaik, walaupun kamu belum baca sekalipun. Tampilannya sangat menceriakan duniamu, dan juga hidupmu.

 

Baca aja deh.

Gak bakal nyesel kok.


Tonton juga video yang satu ini:

 



Review Buku "Addicted to Negative Thinking?"

 

Review buku "Addicted to negative thinking" oleh zera young
Cover buku "Addicted to negative thinking"

ADDICTED TO NEGATIVE THINKING?

(and why positive thinking is not the answer)

Penulis: Zera Young


Hal yang membuatku tertarik membaca buku ini adalah sub judulnya. Karena biasanya orang suka terjatuh pada ekstrim, kalo negatif dianggap jelek berarti solusinya itu harus positifnya (kebalikannya). Tapi, kok di buku ini beda? Dan sisi "addicted" (kecanduan) dan solusi yang bukan kebalikannya ini yang dijual (ditonjolkan di cover).

 

Secara kan kalau kamu uda sering baca buku tema serupa, kamu biasanya uda tau lah ya solusinya ya gitu-gitu aja, afirmasi, CBT/perbaikan mindset, atau apalah-apalah. Trus dia mau bilang apa nih di buku ini kalau dia nggak nyuruh pembaca atau penderita negative thinking itu positif. Itulah yang kukepoin di buku ini.

 

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian:

 

Bagian pertama: menjelaskan negative thinking itu sendiri

Bagian ke dua: menjelaskan mengapa positive thinking bukan jawabannya

Bagian ke tiga: menjelaskan apa yang dipandang inti masalahnya

Bagian ke empat: menjelaskan teknik untuk mengatasi masalah yang disebut pada bagian ke tiga


Buku ini sangat tipis, hanya 27 halaman. Dari 27 itu, itu masih banyak juga halaman kurang/tidak pentingnya, jadi isinya lebih tipis lagi dari itu.

 

Mungkin karena itu juga seperti bagian pertama misalnya, pola negative thinking hanya diberi contoh sedikit. 

 

Kemudian apa yang dipandang penulis sebagai inti masalahnya, menurutku nggak sepenuhnya benar. Nggak lengkap. Padahal, di bagian belakang buku penulis itu tau bahwa negative thinking itu nggak selalu buruk, tetapi ketika dia menjelaskan negative thinking atau inti masalah dan solusinya, negative thinking itu seperti hanya dipandang dari satu sisi/lingkup yang sangat kecil. Maksudnya, negative thinking itu kan banyak macamnya, batasan dia di buku ini itu apa, kenapa di buku ini masalah dan solusinya disempitkan pada satu atau beberapa jenis negative thinking saja, yaitu yang seolah ngatasi inner critic dan semacamnya saja.

 

Baca review buku thinking lainnya di sini:

Hard optimism

Wait, I need to overthink 

Berpikir pangkal menderita

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Meski gitu, kuakui sih penjelasan dan solusi dia di buku ini itu punya keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis. 


Untuk keterbacaan sih nggak terlalu enak, yang agak bikin mendingan karena dia per bahasan nggak terlalu panjang, yah sekitar satu sampai empat halaman.

Trus yang agak ganggu juga bagian disclaimer-nya (bagian hukum tentang bukunya), kayak terlalu panjang/berlebihan/ganggu banget atau gimana gitu dibanding buku lain, terutama karena buku ini tipis banget kali ya, jadi penulis takut kalau ada yang dibocorkan makin "habis" lah isinya (yang belum dibaca).


Bagus kok tapi bukunya. Masih layak baca.



 

 




 

Review Buku "Just Send the Text"

Review buku "Just Send the Text" oleh Candice Jalili
Cover buku "Just Send the Text"

 

Just Send the Text

(An expert's guide to letting go of the stress and anxiety of modern dating)

Penulis: Candice Jalili



Buku ini tentang modern dating. Untuk cewek. Kan saat cari jodoh itu cewek suka galau-galau trus ngegames ini itu baik karena ngikut coach tertentu atau karena pengaruh orang sekitarnya. Nah, buku ini bilangin cewek-cewek gitu, "Eh kamu jangan ngegames, jadi cewek ori aja." Ngapain kamu ngegames, kerugiannya gini gitu. Lagian, kamu jadi ga ori karenanya. Gitu.

 

Penulis jelasin satu per satu gamesnya dan cara sehatnya versi penulis. Jadi, penulis itu empowering cewek gitu. Ada 50 kasus games-games cewek, yang gak guna, dan penulis ini berusaha mengubah mindset dan tindakan cewek-cewek tadi.

 

Buku ini meskipun judulnya Just Send the Text tapi itu bukan tentang chatting ya. Judul itu metafora bahwa kamu itu harus tegas aja dalam bertindak: proaktif dan tegas. Nggak usah takut ditolak.

 

Malahan, bagian terbaik dari buku ini adalah bagian "mengatasi rejection/penolakannya", dia kasih cerita dan tips yang bagus. Ya gimana-gimana ditolak itu sakit, tapi sakit itu nggak bikin kita mandeg. Kita bisa cepet balik netral/mental istilahnya/melenting bangkit lagi trus nyoba ikhtiar lagi nyari cowok yang baru. Jangan takut ditolak, daripada kamu jadi nggak ori atau dapet cowok yang nggak bener-bener cocok buatmu atau hanya menyukai diri palsumu.

 

Baca review buku asmara lainnya di sini:

The Marriage Plan

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Layoutnya lumayan enak, ada tabel-tabel singkat tiap kasus asmara yang dibahas, trus kata-katanya juga empowering/nguatin cewek, nggak bernada negatif. Ya meskipun mirisnya karena dia bule, itu cewek-cewek yang nanya/konsul ke dia ya seputar h00k up-h00k up gitu deh. Kayak unboxing itu emang uda jadi gaya hidup di sana, uda biasa di sana.


Trus ya, meski ini buku tentang cari jodoh, tapi ini bukan tentang cara dapetin jodoh. Dia nggak ngajarin itu. Dia cuma nguatin para cewek agar gak kehilangan diri dan value-nya dalam proses pencarian jodoh itu. Karena nilai wanita itu tidak pada pria/pasangan atau hubungan. Jangan sampai para wanita kehilangan dirinya yang paling berharga hanya demi pria atau hubungan.


Buku ini top banget. Buagus banget kayak buku kemarin yang How to Keep House while Drowning itu.

Buku-buku itu sangat bermanfaat untuk self worth cewek. Yang satu menekankan bahwa nilai wanita itu tidak diukur dari tugas-tugas rumah tangga/kebersihan/kerapian, satunya lagi menekankan bahwa nilai wanita tidak diukur dari pria atau sudah berpasangan atau belum.


Wajib masuk daftar bacamu ya.

Jangan dilewatkan.

 

 

Review Buku "How to Keep House While Drowning"

Review buku "How to Keep House While Drowning" oleh KC Davis

Cover buku "How to Keep House While Drowning"

 


Bersih-bersih saat kondisi kita lagi nggak banget, uh nyebelin dan berat banget ya. 

Belum lagi ngatasi omongan-omongan orang yang nggak nyenengin di telinga, pasti menambah buruk suasana.

Trus ada nggak sih caranya biar hidup kita lebih wolesan gitu?

Nah, ini yang ditawarkan oleh KC Davis, penulis buku ini.

Kita, terutama yang cewek nih, sebagai istri, atau ibu yang punya bocil-bocil, pasti nggak asing dengan tetek bengek rumah tangga yang kayak nggak ada abisnya. Padahal nih, energi kita uda empot-empotan, uda lobet, uda abis. Eh orang-orang cuma nyinyirin rumahmu kok kotor, kamu kok males, kamu bukan istri atau ibu yang baik, dan segudang nyinyiran lainnya. Belum lagi dengan abusivitas sebagian ortu ke anaknya yang bikin anaknya besok-besok itu jadi males dengan kerjaan rumah tangga atau sebaliknya, jadi terlalu terikat pada kerjaan rumah tangga.

Ditambah dengan sebagian orang lagi yang ngait-ngaitin kerjaan rumah tangga dengan moral. Aduuuh plis deh, itu nggak banget. Dan buku ini bantu banget kamu ngatasi perasaan shame (malu), guilty (bersalah), anxious (cemas), not good enough (tidak cukup baik), dan lain-lain yang menyertainya.

 Ini buku bagus banget buat mental kamu, terutama cewek-cewek yang berkutat dengan kerjaan rumah tangga.


Baca artikel bersih-bersihku lainnya di sini:

Unfuck your habitat

The messies manual 

How to not clean the kitchen


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia sebenernya bicara tentang psikologi, tapi bukan seperti psikologi lainnya. Ya bidangnya psikologi tapi mindset atau pemikirannya beda, cara dia beda. Misal kamu biasa baca buku-buku psikologi, kamu mungkin akan nemu isi/solusi dari buku psikologi/mental health tersebut sama atau serumpun, masih mirip. Itulah kenapa kadang-kadang kita butuh outsider atau pemikiran lintas bidang (transferable thinking aku adaptasi dari transferable skill). Misalnya, kalau aku kurang fokus, meski aku bukan ADHD, aku bisa coba baca buku-buku tentang ADHD

Nah balik ke buku tadi, buku How to Keep House While Drowning itu aslinya itu kayak ditujukan untuk umum, tapi pas aku baca kayak lebih untuk orang-orang depresi atau orang-orang dengan gangguan mental gitu tapi masih bisa banget dan netral untuk kondisi umum wanita, seperti pas capek banget, burnout, stres, sakit, atau lainnya. Sebagian juga berisi serangan/protes terhadap aktivis tertentu, yang intinya kita ga perlu ikut peduli mereka kalo diri kita sendiri belum kita sayang.

Mindsetnya itu "ruang itu untuk kamu, bukan kamu yang untuk ruang." Kamu harus ngutamain dirimu sendiri (self compassion) dibanding nyinyiran orang, "tanggung jawab", atau lainnya.

Yang paling bagus dari buku ini justru puk puknya atau kenyamanan verbalnya/perbaikan mindsetnya, bukan tentang solusi bersih-bersih itu sendiri. Solusinya sendiri sebagian bagus, sebagian susah kupahami, dan sebagian lagi biasa, uda ada di buku-buku serupa.

Intinya, kamu tetap berharga walau rumahmu tidak bersih dan rapi atau tidak sempurna. Nyante aja hidup. Harga dirimu nggak ditentuin dengan kerjaanmu/seberapa keras kamu bekerja atau seberapa bersih dan rapi kamu. 

Pokoknya nyaman banget bacanya. 

Baca aja pas betmut, mood bisa membaik. Eh manjur di aku.

Buku ini sangat menyayangimu.


Tapi ya buku ini tuh tipis banget dan dikit banget isinya, cuma 54 halaman. Tapi emang cocok sih buat orang-orang yang lagi drowning: tipis, isi dikit per halaman, pendek-pendek dan per bahasan dipisah halamannya. Meski gitu layout dan spasinya masih nggak enak dibaca.


Tapi aku masih masukin buku ini jadi buku yang sangat kurekomendasikan. 

Kamu harus baca juga nih, buku yang sayang kamu.


 

 

Review Buku "Wait! I Need to Overthink!"

"Wait! I Need to Overthink!"

(From panicked and trapped to observant and intentional) 

Penulis: Nick Trenton


Review Buku "Wait! I Need to Overthink!" oleh Nick Trenton

I Need to Overthink? Lah, kok? Judul yang aneh banget. Di saat buku-buku lain ngajari How to Not Overthink atau Don't Overthink It eh buku ini malah ngajari beda. Overthinking will kill your peace, kenapa kamu malah ngajari overthinking? 

Bingung nggak sih?

Tapi tenang karena judul itu hanya satire, alias menyindir halus. Dia juga berisi cara mengatasi overthinking berlebihan.


Buku ini dibuka dengan penjelasan bahwa emosi adalah data, bukan arah. Dia bukan positif atau negatif, dan juga bukan diri kita. Emosi hanya bagian dari diri kita. Dia ada untuk memberi informasi kepada kita akan sesuatu. Dengan melacaknya, kita bisa memahami pesan apa yang dibawanya. Hal ini penting agar kita tidak overthinking.


Bagi yang belum tahu, arti overthink adalah berpikir berlebihan, sedangkan padanan kata overthinking, menurut penulisnya, adalah ruminasi. Ruminasi ada 3 jenis dan masing-masing jenisnya ini menyebabkan tampilan luar (coping mechanism) yang berbeda-beda pada penderitanya.


Terjadinya overthinking seringkali dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kita yang salah, baik yang berasal dari asumsi, keyakinan inti (core belief), ekspektasi, bias, maupun narasi pribadi (personal naratif). Pikiran-pikiran yang pesimis, powerless (tak berdaya)/bermental korban adalah beberapa di antaranya. Oleh karena itu, memiliki pikiran yang lebih baik juga dapat memperbaiki overthinking. Dengan kata lain, dengan memperbaiki pikiran kita kecemasan berlebihan kita juga akan menurun. Karena overthinker person biasanya suka cemas berlebihan, baik mengalami kecemasan masa depan atau kecemasan lainnya. 


Di buku ini dijelaskan lebih detail tentang pikiran-pikiran yang salah tersebut dan cara-cara mengatasinya. Hal-hal yang salah dalam diri kita bisa menyamar ke dalam bentuk aturan yang kita pegang, intuisi (apa yang kita anggap intuisi), cara kita menerjemahkan/menginterpretasikan sesuatu, dan segala sesuatu yang intinya bukan kenyataan tetapi dianggap kenyataan oleh orang itu sendiri (pemilik pikiran itu sendiri).


Banyak penyebab overthinking dan banyak juga variasi cara mengatasinya, tidak hanya tentang mengatasi perasaan buruk/overthinking tersebut tetapi juga mengatasi risiko-risiko nyata terhadap apa yang kita cemaskan tadi. Ada aksi nyatanya, tidak hanya berputar-putar dalam pikiran. Karena terkadang kamu memang perlu melakukan sesuatu.


Buku ini isinya bagus, tetapi perlu perbaikan pada cover dan layoutnya. Covernya terkesan merendahkan orang-orang yang overthinking (disamain sama monyet), dan layoutnya membuat sangat tidak enak dibaca, melelahkan, dan membosankan. Selain itu struktur dan alurnya perlu diperbaiki agar ramah untuk mata dan keterbacaan enak dan nyaman.

 

Habis baca buku ini kamu mungkin nggak akan overthinking lagi. Yang lain pada galau "Habis stalking terbitlah overthinking", tapi nggak berlaku buat kamu, karena kamu uda dibekali senjatanya. Nyante aja jadinya.


Jadi, biarpun judulnya sok-sok nyuruh overthinking, buku Wait! I Need to Overthink! isinya malah berupa cara mengatasinya.





Review Buku "The INFP Book" : karena Sesama INFP Saling Mendukung

THE INFP BOOK

(The Perks, Challenges, and Self-Discovery of an INFP)

Penulis: Catherine Chea


Review Buku "The INFP Book" oleh Catherine Chea

Berawal dari perasaannya yang terasing di dunia ini dan pencarian jati dirinya, penulis kemudian melakukan riset mendalam tentang INFP, MBTI-nya sendiri. Meskipun awalnya dia sendiri salah menyangka tipenya adalah INFJ atau INTJ, tetapi kemudian dia tahu bahwa dirinya INFP. Dan dalam pencariannya itu, dia menemukan ternyata dia nggak sendiri. Dia menemukan orang-orang yang seperti dia.


Tak berhenti sampai di situ, penulis ini sangat gigih untuk memperbaiki kekurangan atau kelemahan dirinya. Dia menceritakan perjalanannya sebagai seorang INFP yang mencari jati diri, mencari makna kehidupan, dan mencari sesuatu yang "gue banget", dan akhirnya berhasil. Segalanya ditulis dengan sangat hati-hati, empatik, dan berani, nggak jaim untuk vulnerable/menunjukkan sisi rentan dirinya. Cara dan proses dia, tips-tips dia, semua ditunjukkan di sini. Ditulis dengan gaya suportif dan sangat menyemangati/empowering kamu yang sesama INFP seperti dia, membuat buku ini sangat cocok untuk merangkul sesama INFP yang ingin mengikuti jejak kesuksesannya.

 

 Baca juga:  

Cara Nemuin Bakat, Minat, dan Kepribadianmu

Review Buku "You Do You"

 

Kalau kamu INFP, kamu mungkin bosen dengan postingan-postingan klise dari akun-akun MBTI yang selalu nulis INFP gitu-gitu aja: cengeng, dreamy, healer, atau sesuatu yang kayak jelek atau lemah lainnya. Beda banget dengan saat akun-akun itu menggambarkan tipe-tipe MBTI yang lain. Jadi, buku The INFP Book itu bagus banget buat kamu baca, untuk tambahan pengetahuan yang positif buat kamu. Yah, meskipun aku merasa masih ada kesan-kesan negatif di dalamnya. Kalau aku sebagai INFP-nya, aku berharap buku-buku tentang MBTI-ku akan lebih menyorot sisi kekuatannya/empowering sisi kekuatannya. Jujur aja aku bosen karena di mana-mana orang itu udah buanyak banget yang nyorot tentang negatifnya/kekurangannya. Aku mengharapkan suatu buku INFP yang ditulis dengan angle menguatkan kekuatan dan setelah membacanya para INFP makin bangga dan percaya pada dirinya. Tapi buku ini lebih menyorot kekurangan dan cara mengatasinya, dan entah ya meskipun dibalut dengan positif tapi aku merasa auranya masih negatif, masih berbau kurang PD atau kurang bangga dengan MBTI-nya sendiri.

 

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, buku ini menjadi lebih kaya contoh nyata/praktis tapi juga bias-bias pribadi. Sifat dia, "ciri INFP" di dia, atau kelemahan dia bisa jadi itu miliknya sendiri tapi kadang seperti "Kalau aku gini pasti INFP lain juga gini", padahal gak. 


Tapi buku ini sangat bagus dan lengkap kok, ditulis dengan sangat respectful/menghormati juga, dengan sapaan ramah di pembuka buku ini untuk sesama INFP. Isi dan strukturnya juga sangat bagus. Setelah berkali-kali aku baca buku yang strukturnya amburadul terus (ga semuanya kureview atau kubaca "beneran"), akhirnya aku bisa istirahat setelah nemu buku ini (yang bagus strukturnya). Isinya jelas dan runut, memenuhi unsur clarity/kejelasan. Enak banget pokoknya dibaca. Penulis baik di dalam kemampuan menulis dan mentransfer ilmunya. Singkatnya, dia penulis yang baik dan guru yang baik, dengan kepedulian yang seperti ori terhadap sesama INFP.


Aku baca buku lain juga tentang MBTI lainnya, tapi buku lain itu kayak langsung nyerocos Na-Ni-Nu-Ne-No (baca: unsur-unsur MBTI seperti Si, Se, Ni, Ne, Fi, Fe, Ti, Te) tanpa dijelasin/dipahamkan dulu ke pembaca. Trus berkali-kali muncul dalam bentuk gitu, kayak annoying/nyebelin banget gitu. Uda ga paham, muncul terus pula. Dan buntutnya, meski buku lain juga ber-aura negatif (fokus ke kekurangan), sama seperti buku ini, tapi buku lain itu efeknya lebih ekstrim, malah bikin bad mood setelah habis baca seluruhnya. Intinya, buku lain bikin aku gak dapat feelnya, meskipun dapat ilmunya. Makanya, dari segi itu, buku The INFP Book ini lebih baik. Dia runut ngejelasinnya, dari INFP itu apa, urutan-urutan fungsinya yang dominan (Fi), auxiliary (Ne), tersier (Si), dan inferior (Te), sampai ke hal-hal yang lebih praktis dan mendalam.


Isi buku ini ya kurang lebih sama seperti buku-buku MBTI lainnya, tentang stereotip INFP, tentang MBTI yang mirip tapi dijelasin bedanya di mana (yang orang sering salah mengira MBTI tersebut padahal aslinya INFP), tentang kelebihan dan kekurangan, pekerjaan dan hubungan, jenis-jenis pekerjaan yang biasanya cocok, dan gak lupa dibumbui dengan pengalaman pribadi penulis dan perjuangannya dalam mengatasi hambatan dan tantangan hidupnya.


Ini bukunya bakal sangat merangkul kamu. Cara nulisnya itu halus, sangat bersahabat (kayak memunculkan vibe "Kita kan satu kelompok. Satu tipe." gitu lho) dan berusaha jaga perasaan kamu.

Jadi, layak banget kamu baca.


Buku The INFP Book ini bagus banget.






 

 

Review Buku "The Time Chunking Method"

THE TIME CHUNKING METHOD

(A 10-Step Action Plan For Increasing Your Productivity)

Penulis: Damon Zahariades


Review Buku "The Time Chunking Method" oleh Damon Zahariades


Baca istilah time chunking itu ngingetin aku sama iklan cokelat chunky bar. Hahaha.

Kayak gak nyambung ya? Tapi masih ada hubungannya kok, buat asosiasi.

Biar kamu mudah bayangin arti chunking itu kayak apa. Ya kayak cokelat yang dipotong-potong kecil-kecil gitu. Pembagian waktu per aktivitas.


Jadi, Time Chunking itu salah satu metode untuk meningkatkan produktivitas. Aku sendiri ga ngerti kenapa dia dibikin satu buku terpisah. Aku kepo, emang isinya apaan, kok bisa jadi sebuku? Bahas apa aja gitu. Apalagi, di buku itu dijelaskan pengertian time chunking-nya itu kayak pengertian Pomodoro yang selama ini kutahu. 

Misalnya: 

kerja 25 menit

istirahat 5 menit

kerja 25 menit

istirahat 5 menit

kerja 25 menit

istirahat 5 menit

kerja 25 menit

istirahat 20 menit

 

Penulis memilih time chunking karena metode ini yang berhasil baginya. Dia mencontohkan bagaimana metode Getting Things Done (yang pakai ceklis-ceklis) ga berhasil di dia. Makanya, dia milih metode time chunking sekaligus ngajari caranya ke pembaca.

Time chunking sendiri adalah bagian dari timeboxing, tapi ada bedanya. Dan time chunking yang dijalani penulis ini uda dimodif sendiri dari versi aslinya. Penulis juga nyaranin demikian pada pembaca, kamu modif sendiri dengan nyari porsi yang tepat buat kamu. Tapi, dia juga ngasih saran-saran aktivitas yang bisa dilakukan saat istirahat dan yang sebaiknya gak dilakukan saat istirahat. Biar gak stres, burnout, atau gagal (di sini dia juga jelasin bedanya stres dengan burnout, biar kamu mudah memahaminya).

Sisanya ya seperti buku-buku produktivitas yang lain, harus memperhatikan tidur, exercise/olahraga, diet/makanan, mencegah stres, dan penggunaan teknologi yang bijak, baik melalui cara-cara menggunakan HP dan internet maupun menunjukkan berbagai aplikasi pendukung yang bisa digunakan.

Buku ini biasa aja menurutku. Keterbacaan juga kurang enak baik ukuran font maupun spasi dan marginnya, tapi untungnya terbantu dengan desain tulisan yang tiap bahasan itu ganti halaman (satu bahasan satu halaman atau kurang). Meskipun kayak menuh-menuhin halaman (biar cepet tebel) tapi dia juga bantu meringankan aku buat baca dan fokus. Dan alurnya juga lumayan. Dia gak manjang-manjangin isi, dia tetep padat tapi isinya dibentuk per satu bahasan satu halaman jadi lumayan gampang dipahami dan diingat. Selama ini kan banyak orang yang nyalahin pembaca seolah pasti kesalahan pembaca kalau nggak paham atau nggak ingat. Pasti memorinya/ingatannya lemah gitu, padahal gak mesti. Memang ada banyak buku yang penulisnya itu tidak punya kemampuan menulis dengan baik, tidak benar-benar memahami apa yang disampaikannya, atau tidak bisa mentransfer ilmunya dengan baik. Jadi, jangan terlalu mudah nyalahin diri kalau kamu baca buku trus gak ingat atau gak paham isinya. Belum tentu karena kamu, atau belum tentu hanya karena kamu, bisa juga karena faktor penulisnya.

Yah gitu aja, gak usah panjang-panjang karena ini bukunya juga isinya dikit kok.





 

 

 


 


 

Review Buku "How to Suffer Well"

HOW TO SUFFER WELL

(Timeless Knowledge on Dealing With Hardship and Becoming Anguish-Proof)

Penulis: Peter Hollins


Review Buku "How to Suffer Well" oleh Peter Hollins


HOW TO SUFFER WELL. 

Sepintas judul ini aneh ya. Biasanya judul itu kan ngatasi "keburukan", ini malah ngajari tetep suffer/menderita, walaupun menderitanya lebih baik.

Tapi meski gitu, buku ini ngingetin aku akan psikologi marketing, yang katanya orang itu lebih suka nyari cara untuk "mengurangi penderitaan" daripada "meningkatkan kesenangan". Kalau dari sisi itu harusnya dia potensial untuk best seller, tapi aku ga tau kenyataannya karena di covernya juga ga ada tulisannya best seller. Lagian, best seller itu juga kadang dipengaruhi banyak faktor, potensial bukan berarti pasti akan best seller. 

Kalau dari covernya udah menarik sih ya, ada gambar orang jadul ala zamannya Aristoteles, ala Yunani gitu deh. Dan emang sih isinya juga mengandung stoik-stoik gitu, setidaknya di beberapa bagian, cocok juga sama cover tadi. 

Ada Stoik masih gak papa sih ya, yang nyebelin malah banyak nyebut/muji budhist/budha di dalamnya. Eh ini buku umum lho, tapi banyak nyebut budha di dalamnya, terutama di bagian awal-awal buku ini. Nyebelin banget bagi orang yang bukan agama tersebut.

Buat kalian yang mungkin belum tahu, di buku-buku umum (buku bule) itu kayak boleh nyebut agama apapun, selain Islam. Hampir gak akan kamu temukan buku umum memuat Islam atau ajaran Islam. Kalo Budha atau Kristen/Nasrani sering, atau ya masih nyerempet-nyerempet ajaran Budha juga tapi istilahnya agak-agak implisit, jadi mungkin orang berpikir itu untuk umum. Hindu atau dewa-dewa juga ada kadang-kadang. Tapi jangan harap ada buku umum mengutip atau menyebut Islam atau ajaran Islam, nyaris gak ada. Ini diskriminasi ya. Paling banter, kalopun nyebut Islam, pasti akan disandingkan dengan agama-agama lain atau tokoh-tokoh lain/tokoh-tokoh agama lain. Diam-diam kayak diblacklist gitu (diblacklist implisit).


Baca juga:

Review Buku "How Full is Your Bucket"


Key, kita lanjut ke isi bukunya. Ini itu isinya cara agar menderita lebih baik. Semua orang mungkin akan mengalami pain, tapi suffer itu pilihan. Istilahnya itu semua orang itu bisa kena musibah, tapi kita nggak harus jatuh banget/menderita banget kalau kita lagi kena musibah (Ini ngingetin aku pada salah satu ustaz saat ngajari zikir Yaa Lathiif yang intinya kayak gitu, kita tetep kena musibah tapi bakal woles aja kalo ngamalin Yaa Lathiif). Kan ada yang bisa ngatasi dengan baik, ada yang woles aja, ada juga yang uda ambyar gitu deh. Nah, buku ini itu ngajari kamu untuk ngurangi penderitaan. Kalaupun kamu masih menderita, ya biar kamu itu bisa menderita dengan lebih baik/lebih ringan gitu jalaninnya. Dia bawa-bawa cara stoicism/stoikisme (itu tuh yang lagi ngetren), Frankl, bahkan cara-cara modern ala-ala buku psikologi pada umumnya.


Tapi ya gitu, meskipun buku ini ngajari cara agar gak menderita, tapi aku menderita banget bacanya. Ini banyak ceritanya/bagian yang kurang penting dan gak enak layoutnya. 

Tapi, tenang, ada solusinya. Kamu baca aja kesimpulan langsung per babnya dan inti dari buku ini itu aslinya ada di beberapa halaman menjelang akhir. Langsung baca itu aja biar gak capek-capek terlalu basa-basi. Kalau kamu buka buku ini pas beneran lagi pain/betmut/dalam masalah mungkin kamu akan makin menderita kalau baca full dari awal, karena melelahkan banget bacanya. Kalau kamu kondisi normal dan emang suka yang tipe cerita/storytelling/basa-basi kamu bisa baca dari awal. Beberapa bagian dari buku ini bagus kok.







Review Buku "You Do You"

YOU DO YOU

(Discovering Life Through Experiments & Self Awareness)

Penulis: Fellexandro Ruby

 

Review Buku "You Do You" oleh Fellexandro Ruby


You Do You, buku ini aslinya aku gak bener-bener tertarik.

Aku memaksakan diri gitu ya untuk kepo dan baca karena dia dulu judul yang masuk di SEO.

Dan aku ketipu juga sih, kupikir dia buku bule, taunya buatan orang Indonesia juga. Dari judul maupun nama penulisnya itu nipu banget, kayak kebule-bulean banget.

Karena aku sendiri bahasa Inggrisnya biasa aja, aku aslinya gak ngerti arti "You Do You" itu apa. Ternyata sih artinya jadilah dirimu sendiri atau lakukan saja apa yang terbaik untukmu, terlepas dari apa yang orang lain pikirkan atau katakan. Nah, kan, ternyata artinya mirip-mirip "Be Yourself".


Seperti yang kubilang tadi, You Do You itu masuk di pencarian SEO. Dia ternyata mega best seller, dan udah terjual lebih dari 50 ribu eksemplar. Tapi kupikir itu bukan karena bukunya, karena penulisnya emang uda punya massa yang sangat besar. Dia udah sukses banget di medsosnya dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari subscriber/followernya lewat buku ini. 


Buku laris itu kan bisa dari banyak faktor, bisa dari bukunya yang bagus, marketingnya, penulisnya yang udah punya massa, atau lainnya. Nah, buku ini didukung juga oleh penulisnya yang emang udah punya massa besar. Jadi, ketika dia nelorin buku udah banyak follower yang siap menampung.


Kalau kamu lihat dari covernya, itu abu-abu ya, gak menarik. Mungkin dia bukan ambil sisi menariknya, tapi ambil sisi different-nya/pembedanya. Karena dulu aku pernah tau ada orang ngajarin di antara "sekitarmu" yang berwarna, jadilah hitam putih. Itu jadi teduh kalau versi oknum yang ngajari teori tersebut. Bisa jadi penulisnya juga ngikut saran semacam itu.


Dari cover masuk ke bagian awal, aku kaget aja gitu taunya dia gaul banget dan aku menduga jakarta banget (dan ternyata bener). Jadi, bahasanya ya gitu banget, ala-ala sana, dan sebenernya agak annoying buatku yang bukan orang sana. Seperti terlalu eksklusif hanya untuk orang Jakarta atau orang-orang "gaul" (bahasa gaul maksudnya) macam dia, meskipun mungkin memang itu disesuaikan dengan target pasarnya. Trus juga kata-katanya masih terasa keras dan kasar buatku.


Buku ini itu 200 an halaman, penuh dengan ilustrasi dan ruang-ruang kosong. Dia artistik, keterbacaan enak, tapi sekaligus menuh-menuhin halaman (biar cepet tebel). Jadi, meski 200 an halaman itu aslinya gak terlalu berat dibaca.


Isinya bagus kok, meskipun kurang terstruktur dengan baik, tapi dia bersifat panduan praktis berdasarkan pengalaman dan pemikiran penulisnya, meskipun gak detail juga sih panduannya. Ada gambar-gambarnya juga, gambar pemanis dan juga gambar pendukung isi.


Jadi, kan banyak tuh orang-orang yang bingung arah hidupnya, nah penulis ngasih cara jadilah dirimu sendiri. Lakuin tes-tes ini itu, ketahui kepribadianmu, jam biologismu/jam efektifmu, dan lain-lain. Trus dia ngasih arahan kamu generalis atau spesialis; nerusin usaha kelurga, usaha sendiri, atau kerja ikut orang, lalu ngejar impian-impianmu, gimana cara modalinnya, gimana pdkt dengan ahlinya, reverse engineering (berpikir terbalik, dari akhir ke awal), dll. 

 

Selain bahasanya yang gaul dan keras/kasar bagiku, bahasanya yang super itu juga annoying buatku. Dia suka pakai bahasa-bahasa sulit seperti sangat ingin tampak wah dengan bahasa supernya. Apalagi, di bagian awal buku ini dia berdalih untuk ngajari pembaca bahasa inggris. Itu annoying banget buatku, terkesan merendahkan, karena itu bukan buku belajar bahasa inggris. Isinya juga berkesan pamer banget. Berkesan ya, nggak tau aslinya. Kayak nggak rendah hati bahasanya.


Selain itu, meski judulnya You Do You, tapi ketika dia bicara tentang hubungan anak-ortu, dia sangat kasar dan langsung terkesan judgemental. Gak sesuai dengan judul bukunya. Padahal, dia juga gak tau kondisi ortu-anak di keluarga-keluarga lainnya, tapi seolah disama-samain sama dia.


Buku praktis kayak gini (buku tentang ngajari praktek step by step) memang sejauh ini jarang kutemui. Banyak yang cenderung teoritis. Jadi, terlepas dari hal-hal yang annoying buatku (yang mungkin tidak annoying bagi pembaca yang lain) dan kurang dalam buku ini, kamu bisa belajar banyak dari petualangan dan pengalaman penulisnya, yang emang suka bereksperimen ini. 


Buku ini mungkin akan cocok terutama untuk orang Jakarta atau orang-orang yang gaul, ekstrovert, sensing (mbti), orang-orang yang tidak terlalu sensitif, dan secara umum buat anak-anak muda yang sedang cari arah/bingung hidupnya, orang-orang yang bingung mutusin. Ya meskipun, penulis ini keras banget ya dengan pendapatnya, kalau kamu nggak bisa saring sendiri mana yang cocok buat kamu atau bakal kamu pakai mungkin bisa mudah terpengaruh pendapat dia.








 

Review Buku "How to Not Clean the Kitchen"

HOW TO NOT CLEAN THE KITCHEN: eliminate piles of dishes and endless chores once and for all

(Discover the way to declutter and organize your kitchen so you don't have to clean it)

Penulis: Tamra Carter

 

Review buku "How to Not Clean the Kitchen" oleh Tamra Carter

 

Nggak bersih-bersih dapur?

Wah, ini nih idaman emak-emak banget. 

Judulnya begitu magnetis jadi pengen woles aja gitu, gak bersihin dapur.

Etapi beneran ta bisa kayak gitu?

Ya nggak lah. Mana ada kayak gitu. Paling banter juga bikin bersih-bersih dapurnya lebih ringan.

Judulnya itu clickbait banget, alias lebay.

 

Jadi, apa sih isi buku ini?

 

Isinya segala tentang no-cleaning system yang berfokus pada seputar meminimalkan pekerjaan bersih-bersih kita. 

 

 

Mungkin kamu juga suka buku bersih-bersih yang ini: The Messies Manual

 

 

Ada banyak cara yang digunakan di sini, misalnya memilih/mengatur desainnya, memilih bahannya, memilih dan mengatur peralatan yang digunakan dan jumlahnya, mengatur posisi/letak alat-alatnya, menetapkan peraturan untuk ditaati bersama, menetapkan kebiasaan bersama agar meringankan pekerjaan bersih-bersih di rumah, dan masih banyak lagi.

 

Penulis berusaha detail dalam hal ini sehingga kita bisa mencoba menerapkan satu atau lebih di antaranya. Intinya, gunakan bahan yang mudah dibersihkan. Batasi alat-alatmu, jangan berlebihan. Bersihkan barang-barang kotor secepatnya biar nggak makin susah dibersihkan, berkuman, atau bahkan bau. Perhatikan betul alat apa saja yang kamu gunakan harian, yang kamu gunakan teratur tapi nggak harian, atau alat-alat yang nggak kepake/nggak terlalu kepake. Diperhatikan semua dengan detail: barangnya, bahannya, jumlahnya, posisinya, kapan dipakainya, dll. Dan masing-masing hal tadi dijelaskan tersendiri, misalnya tentang wadah cuci piringnya, rak piringnya, dapurnya, dll. 

 

Kalau misalnya kita mau beresin rak piring aja misalnya, ya bisa cuma baca bagian rak piring. Dan semacamnya.

Ada prinsip minimalisme juga di sini, jadi hidup simple = lebih ringan bersih-bersihnya. 

Kamu akan nemu banyak inspirasi bersih-bersih dan beberes (bikin rapi/organizing) di sini.

 

Di situ disertakan juga tentang peraturan dan pembiasaan buat keluarga kita yang lainnya yang serumah, karena kalau didukung orang serumah kan tujuan agar bersih-bersih dapur kita ini makin woles dan santai lebih mudah tercapai. Nggak emak doang yang usaha, tapi didukung semua anggota keluarga lainnya yang ada di situ.

 

Buku ini covernya bagus, dan meskipun daftar isinya kurang baik tetapi isinya lumayan enak dibaca (keterbacaan lumayan baik). Halamannya ada seratusan, tapi nyantai aja isinya dikit banget kok, karena tulisannya besar-besar dan spasinya juga besar-besar. Ada banyak ruang kosongnya. 


Isinya lumayan buat inspirasi bersih-bersih. 

Kali aja ada tips dia yang cocok buat kamu.

 

 


 

 

 

Review Buku "Disarming Triggers": Breathing Easy, Living Nicotine Free

"Disarming Triggers": Breathing Easy, Living Nicotine Free

(30 Alternatives to lighting up)

Penulis: Jeanne Engleman


Review buku "Disarming Triggers" oleh Jeanne Engleman

Aslinya aku nyasar ya baca buku ini. 

Kurang teliti baca covernya.

Taunya bagus juga sih. 

Ini buku tentang mengatasi aneka trigger yang bikin seseorang merokok. 

Dia cuma 44 halaman. 

Dengan jumlah trigger ada 30 jenis, masing-masing trigger cuma butuh satu halaman.

Ini kayaknya buku saku ya, apalagi tiap trigger cuma butuh satu halaman. To the point juga bahasnya, jadi ringan dibaca.

Jadi kan ada banyak pemicu orang untuk merokok, di situ dikasih cara pengalihan atau cara mengatasinya.

Secara teori/konsep sih bagus, tapi secara praktek aku gak yakin juga bisa bener-bener bisa membatalkan niat orang untuk merokok. Karena ngubah habit buruk itu kadang susah. Apalagi, merokok itu juga berkaitan dengan kecanduan/adiksi. Meski demikian, buku ini ngasih cara kreatif buat perokok biar nggak mikir pendek, dikit-dikit "ngerokok aja deh solusinya". Mereka akan nemu cara-cara lain di sini. Gak harus berujung merokok.


Jadi, buku ini mungkin lebih cocok untuk pemula, perokok sosial, orang yang berkemauan sangat kuat (yang sangat yakin dirinya mampu menguasai kebiasaan merokoknya, bukan lemah terhadap rokoknya), atau sekadar sebagai buku/alternatif pendamping bagi perokok yang mau "insaf" dari kebiasaan merokoknya. Dia juga butuh mungkin terapi kecanduan merokok, anti merokok anonymous, obat atau makanan yang mendukung untuk berhenti merokok, pindah lingkungan/menjauh dari sumber trigger merokoknya, cara mengatasi masalah dia yang sebenarnya (yang bikin dia pelarian ke rokok), dll, gak sekadar baca atau nerapin solusi di buku ini.


Jadi, bergantung pada level perokok tersebut dan apakah perokok tersebut berkepribadian kuat atau tidak, itu sangat mempengaruhi sejauh mana efektivitas saran-saran di buku ini.


Namun, secara keseluruhan buku ini bagus, juga covernya, cantik. Layak dibaca.