Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

Menjangkau yang Terisolasi: Inovasi Logistik dan Infrastruktur Darurat Pendukung CKG di Daerah 3T

Gambar Ilustrasi inovasi logistik dan infrastruktur darurat di daerah 3T

Masyarakat yang sehat adalah fondasi kekuatan negara. Namun, mengobati masyarakat yang sakit sangat boros anggaran. Oleh karena itu, arah kebijakan pemerintah di bidang kesehatan kini lebih dikuatkan ke arah pencegahan. Berbagai gebrakan kesehatan pun diluncurkan, mulai dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga revitalisasi rumah sakit. Langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang secara eksplisit menegaskan tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Daerah dalam menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan primer bagi masyarakat di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK/3T). Semua program tadi merupakan langkah yang bagus, tetapi program-program tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Pada CKG misalnya, akan berakhir menjadi agenda seremonial yang sia-sia jika tidak didukung dengan pengkondisian faskes, ketersediaan alat, dan aksesibilitas masyarakatnya.

Kenyataan di lapangan masih pahit, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Di sana, tiga benteng utamanya masih lemah: distribusi tenaga medis belum merata, aksesibilitas geografis yang ekstrem, serta alat kesehatan mahal yang serba impor. Banyak warga 3T harus menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mendatangi faskes tingkat pertama.

Sebenarnya, prinsip dasar di daerah 3T sederhana: utamakan pencegahan agar warga tidak sampai sakit parah. Sebab sekali mereka jatuh sakit, biaya evakuasinya bisa jauh lebih mahal daripada perawatan medis itu sendiri. Di sinilah CKG memegang peran vital sebagai jaring deteksi dini. Namun, agar CKG tidak jalan di tempat, kita butuh ekosistem pendukung dari hal paling mendasar. Hal-hal pendukung tersebut berupa perluasan lingkup program pasokan air bersih (melalui optimalisasi pompa hidram, pemanen air hujan, pemurni air portabel skala komunitas atau filter ultrafiltrasi tanpa listrik, hingga cistern bawah tanah), MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang layak, serta ide-ide taktis untuk menembus isolasi geografis.

Jika jalan raya beton butuh waktu bertahun-tahun dan anggaran miliaran untuk dibangun, kita butuh "ide-ide gila" yang pragmatis, murah, dan bisa langsung dieksekusi hari ini demi menyukseskan CKG di daerah 3T.

1. Membalik Insentif: Skrining Kesehatan yang "Menguntungkan" Warga

Mengirim tenaga kesehatan menyisir satu per satu rumah di dalam hutan pedalaman sangatlah boros energi. Kita harus membalik logikanya melalui pendekatan behavioral economics: buat warga berbondong-bondong mendatangi pos CKG sebelum mereka sakit parah.

Caranya sederhana, berikan saja insentif langsung kepada warga. Siapapun warga 3T yang bersedia melakukan skrining CKG berkala, imunisasi, atau cek kehamilan langsung di puskesmas akan mendapatkan insentif tunai, voucher sembako, atau token listrik dari pemerintah. Membiayai insentif pencegahan seperti ini jauh lebih murah dibanding menanggung biaya operasi darurat dan evakuasi helikopter saat pasien sudah kritis.

2. Klinik Bergerak Tumpangan

Menyediakan kendaraan medis khusus keliling di daerah 3T sering kali tidak efisien karena biaya perawatan armada yang mahal. Untuk mengatasinya, kita bisa menumpangkan medis keliling pada armada logistik lokal yang rutin lewat, misalnya truk BBM dan sembako. Pemerintah cukup menyewa satu ruang kontainer khusus di truk swasta tersebut untuk difungsikan sebagai "Klinik CKG Berjalan". Setiap kali truk berhenti di desa terpencil untuk bongkar muat barang, klinik mini dibuka selama 2–3 jam untuk melayani skrining dan pemeriksaan warga sebelum melanjutkan perjalanan.

3. Pos Kesehatan Satelit & Diagnostik Tele-Robotik

Daripada memaksa dokter spesialis tinggal di pedalaman, hadirkan teknologi dokter secara virtual. Di pemukiman paling terisolasi, cukup bangun pos kontainer otomatis yang terhubung internet satelit kecepatan tinggi (seperti Starlink).

Pos ini tak perlu dijaga dokter, melainkan pemuda atau tokoh lokal yang dilatih singkat. Mereka hanya bertugas menempelkan sensor diagnostik ke tubuh pasien. Dokter spesialis dari RSUD atau kota besar akan memeriksa kondisi pasien secara real-time via layar monitor dan mengendalikan alat periksa jarak jauh. Hasil skrining CKG pun bisa langsung terdata secara digital tanpa hambatan jarak.

4. Ojek Logistik Medis via Drone Otonom (Skala Mikro)

Kematian di daerah 3T sering kali bukan karena terlambat didiagnosis, melainkan karena pasokan darah atau obat darurat habis akibat jalur darat terputus.

Belajar dari keberhasilan sistem Zipline di Rwanda yang memotong waktu tunggu medis dari 4 jam menjadi 15 menit, RSUD Kabupaten di daerah 3T perlu dilengkapi stasiun drone kargo mikro. Ketika puskesmas pembantu butuh antivenom ular, kantong darah, atau sampel CKG yang harus diuji laboratorium, drone otonom akan terbang mengantarkannya dalam hitungan menit lalu menjatuhkannya menggunakan parasut kecil.

5. Fleet Drone Kargo Pasien (eVTOL) untuk Situasi Kritis

Ketika jalan darat lumpuh total karena longsor atau banjir, ambulans helikopter konvensional terlalu mahal untuk dioperasikan. Sebagai alternatifnya, kita bisa memanfaatkan Drone Kargo Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) skala menengah, seperti unit EHang atau Joby Aviation yang dapat terbang otonom tanpa pilot.

Diparkir di RSUD Kabupaten, drone penumpang tanpa roda ini mampu terbang vertikal langsung ke titik GPS pemukiman warga saat menerima sinyal darurat CKG (seperti ibu hamil yang mengalami pendarahan). Pasien cukup masuk ke dalam kapsul pod, dan drone akan menerbangkannya menembus kendala geografis menuju rumah sakit utama.

6. "Kereta Sinterklas Lumpur": Modifikasi Amfibi dan Tapak Rantai

Di daerah rawa, gambut, dan lumpur pekat seperti pedalaman Kalimantan, mobil 4x4 tercanggih sekalipun akan amblas. Sementara itu, mengubah jalanan rawa menjadi aspal membutuhkan biaya fantastis.

Solusi paling masuk akal adalah menggunakan modifikasi dari kendaraan bertapak rantai karet lebar atau kapal bantalan udara (Hovercraft dan Sherp Vehicle). Dengan mendistribusikan beban kendaraan ke permukaan yang lebih luas, kendaraan amfibi ini dapat melindas lumpur hisap, melintasi rawa, dan menyeberangi sungai deras tanpa takut selip untuk membawa tim CKG dan peralatan medis ke ceruk-ceruk pemukiman.

7. Ambulance Cable Car (Tuin Medis): Modifikasi Katrol Jurang

Kondisi geografis pegunungan di Papua atau Sulawesi mirip dengan Nepal, di mana desa-desa terpisah oleh jurang dalam dan sungai berarus deras. Daripada menunggu proyek jembatan beton yang memakan waktu bertahun-tahun, jaringan Zipline Medis Darurat (Cable Car) berbasis kabel baja galvanis adalah jawaban cepat. Ia adalah suatu ambulans yang dilengkapi dengan sistem tali ganda (double-rope safety), katrol evakuasi mandiri (self-rescue pulley), serta tandu lipat.

Namun, karena sistem Tuin tradisional di Nepal masih kasar dan berbahaya, kita perlu merancangnya ulang agar menjadi Ambulance Cable Car yang ramah medis, yaitu dengan melakukan perbaikan-perbaikan sebagai berikut:

  • Desain Tandu Berbaring: Kotak kayu sempit diganti dengan gondola rangka besi ringan yang muat untuk satu tandu pasien (posisi berbaring miring yang aman bagi ibu hamil) dan satu kursi pendamping medis. Jika pasiennya bisa duduk, tandunya bisa dilipat ke dinding gondola. Setelah itu, kursi lipat tambahan bisa dibuka, sehingga gondola bisa memuat 2 hingga 3 orang dalam posisi duduk dengan aman.
  • Mekanisme Anti-Guncangan: Katrol dilapisi karet polyurethane agar meluncur halus tanpa getaran hebat. Kecepatan diatur stabil (10-15 km/jam) menggunakan rem friksi manual atau mesin motor bensin bekas.
  • Keamanan Pendaratan: Diberi peredam pegas di ujung kabel untuk mencegah benturan saat mendarat.

Sistem kabel baja gantung ini hanya butuh dua tiang pancang kokoh. Cara memanggilnya pun cukup mudah. Panggil saja ambulans ini dengan Radio HT (handy talkie) VHF/UHF, satu tombol darurat bertenaga panel surya kecil, atau bahkan kode kentongan dengan ketukan khusus atau dengan menyalakan api suar/senter ke arah puskesmas saat dibutuhkan. Dalam waktu 3 hingga 5 menit, pasien kritis pun bisa menyeberangi jurang dengan tenang menuju pos CKG atau ambulans darat yang menanti di seberang.

Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi mutakhir berharga mahal. Di daerah 3T, inovasi teruji dari kemampuan kita mengawinkan teknologi tepat guna dengan kondisi realitas di lapangan.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) adalah niat mulia negara untuk memetakan kesehatan rakyatnya. Namun, tanpa adanya terobosan logistik dan transportasi darurat yang mampu menembus jurang, lumpur, dan jarak, CKG hanya akan menjadi hak milik warga yang tinggal di dekat jalan aspal. Dengan mengintegrasikan sistem transportasi taktis dan pemberian insentif perilaku, kita tidak hanya mengawal keberhasilan CKG hingga ke ujung batas negeri, melainkan membangun fondasi utama bagi masyarakat sehat demi terwujudnya Indonesia kuat.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI


SUMBER:


 

Menerapkan Gaya Hidup Minimalis (Minimalist Lifestyle) sebagai Salah Satu Strategi Penghematan Air


 

Seni beberes rumah

Pic. www.bbteam.com dalam https://joannearchibald.com/


Tahukah Anda jika pakaian berpengaruh besar terhadap ketersediaan air di alam? Ya, di balik pakaian kita terkandung beberapa bahaya, misalnya:

1.    Produksi fashion seringkali menggunakan air berlebihan,

2.    Banyak industri pakaian yang memakai bahan kimia tak ramah lingkungan,

Industri fast fashion biasanya menggunakan pewarna tekstil yang murah dan berbahaya, sehingga dapat mencemari air dan mengganggu kesehatan manusia. Termasuk mayoritas produsen kain di Asia, biasa menggunakan bahan kimia beracun dalam pengolahan serat kain hingga proses pengemasan pakaian.

3.    Pakaian yang berbahan poliester, nilon, dan spandeks mengandung plastik. Saat dicuci, partikel mikroplastiknya akan terlepas dan mencemari air tanah, sungai, hingga lautan dan ekosistemnya.

4.    Bahan katun memang dapat terurai di alam, tetapi pohon kapas membutuhkan banyak sekali air dalam proses produksinya. Untuk membuat satu kaos katun dibutuhkan 2700 liter air dan emisi yang dihasilkan dalam produksinya sama dengan emisi berkendara mobil dari Bogor ke Bekasi (Zahra, A, 2019).

 Apalagi, jika pakaian tersebut termasuk ke dalam kelompok fast fashion, yaitu busana murah dengan waktu edar singkat dengan model berlimpah yang mengikuti tren terbaru (Adimaja, M, 2020). Fast fashion menjadi salah satu penyebab utama polusi limbah fashion yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi air, tanah, maupun penghasil gas emisi rumah kaca yang dapat memicu perubahan iklim.

 Hasil riset dari Ellen McArthur Foundation, sebuah badan amal di Inggris yang menyerukan perilaku bijak dalam mengonsumsi busana, pada 2017, menyatakan satu truk sampah tekstil tercipta setiap detik di Bumi. Masih pada tahun yang sama, Copenhagen Fashion Summit melaporkan bahwa sebesar 92 juta ton limbah busana mengalir ke tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

 

 

Contoh rumah minimalis

Sumber: calon arsitek dalam marudiyafu.com
 

 Oleh karena itu, untuk mencapai sustainable fashion, kita harus bijak dalam menggunakan pakaian. Nah, menjadikan rumah minimalis sebagai proyek nasional merupakan salah satu solusinya.

Nagisa Tatsumi, penulis buku The Art of Discarding, pernah mensurvei orang-orang Jepang tentang kebiasaannya menimbun barang-barang di rumah. Ternyata, 100% pria dan 98% wanita itu merasa kesulitan merapikan barang-barangnya. Tiga barang teratasnya adalah buku, pakaian, dan majalah. Untuk mengatasinya, para wanita tersebut memilih membuangnya atau memiliki tempat penyimpanan yang lebih baik dan keahlian mengorganisir yang lebih baik. Sementara para pria mencari ruangan yang lebih banyak atau lebih besar, atau berpindah ke rumah yang lebih besar sebagai solusinya.

 Di sinilah peluang penghematan pakaian bisa terjadi, yang pada akhirnya berujung pada penghematan air. Sinergikan antara program rumah minimalis ini dengan seni beres-beres rumah seperti yang diajarkan oleh Nagisa Tatsumi atau Marie Kondo. Dengan rumah yang minimalis, otomatis kita harus pandai-pandai memilih barang apa yang ada di dalamnya. Kita takkan bisa lagi menimbun pakaian atau barang-barang lain secara berlebihan. Kita akan menjadi sangat selektif, hemat, dan rapi. Melalui sinergi dari kedua hal tadi tanpa sadar masyarakat akan menjadi lebih menghargai air.

 

 

Sumber:

Adimaja, Muhammad. 2019. Limbah Industri Busana, Ancaman Serius bagi Lingkungan. Artikel dapat dilihat di https://foto.kompas.com/photo/read/2020/2/17/1581948059356/1/limbah-industri-busana-ancaman-serius-bagi-lingkungan.

Kholisil, Zulfa. 2019. Apakah Limbah Tekstil sama Bahayanya dengan Limbah Plastik? Artikel dapat dilihat di https://www.brilio.net/creator/apakah-limbah-tekstil-sama-bahayanya-dengan-sampah-plastik-d07dd2.html.

Zahra, Amanda. 2019. Fesyen Cepat (Fast Fashion). Artikel dapat dilihat di https://zerowaste.id/zero-waste-fashion/fesyen-cepat-fast-fashion/.

https://pejengkolan.kec-padureso.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/273

https://dlh.jatimprov.go.id/berita-industri-garmen-harus-bijak-dan-ramah-lingkungan-dalam-produksi-pakaiannya.html

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2005893/stop-pakai-langsung-baju-baru-tanpa-dicuci

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/

https://gaya.tempo.co/read/1280888/waspada-limbah-pakaian-bisa-akibatkan-masalah-pernapasan

https://www.gatra.com/detail/news/433061/gaya%20hidup/masyarakat-perlu-terapkan-sustainable-fashion

https://nationalgeographic.grid.id/read/131717564/demi-kelestarian-bumi-ayo-bertukar-baju?page=all

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah

Apa jadinya bila manusia, hewan, dan tumbuhan sebagai sesama makhluk hidup memperebutkan kebutuhan dasar yang sama? Air misalnya. Bila cara mengelolanya salah tentu saja salah satu atau beberapa dari mereka terpaksa dikorbankan, yaitu berupa:
1.    Mengorbankan hewan
2.    Mengorbankan tumbuhan
3.    Mengorbankan manusia lain

Meskipun persaingan/kompetisi antar makhluk hidup akan air bisa terjadi secara alami, namun mengorbankan secara sengaja juga mungkin terjadi. Contoh nyatanya terjadi pada kasus kekurangan pangan yang menimpa satwa di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoological Garden (Bazoga). Keterbatasan anggaran karena Covid-19 memaksa pengelola kebun binatang tersebut untuk merelakan rusa menjadi santapan harimau sebagai opsi terakhir.

Pada bumi sendiri, menurut The United States Geological Survey Water Science School, 71 persen dari permukaannya tertutup air. Namun, sekitar 97 persen dari air di bumi berupa lautan, hanya 3 persen yang tidak mengandung garam. Dari 3 persen tersebut, 69 persen dibekukan di es dan gletser dan 30 persen lainnya ada di tanah. Hanya 0,26 persen air dunia yang ada di danau air tawar, dan hanya 0,001 persen dari seluruh air kita yang ada di atmosfer (Tempo.co, 22/3/2018).

Mirisnya, sebagian dari 0,26 persen tersebut airnya tercemar, tidak layak dikonsumsi atau digunakan. Alhasil persentase air yang dapat kita manfaatkan menjadi lebih kecil lagi.

Sementara jumlah air di bumi tetap, dan bahkan air yang layak pakai berkurang karena pencemaran atau lainnya, jumlah populasi manusia terus meningkat. Worldometers mencatat jumlah penduduk dunia pada 2019 mencapai 7,7 miliar jiwa, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 7,6 miliar jiwa. Oleh karena itu, persaingan antara sesama makhluk hidup dalam mendapatkan air dan tempat menjadi tak terelakkan.

Sebagai gambaran, beberapa daerah di Indonesia yang masih mengalami kekeringan di antaranya meliputi (data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 November 2019):

99 desa di 21 kecamatan di TTU, NTT
60 desa di 15 kecamatan di Alor, NTT
27 desa 8 kecamatan di Flotim, NTT
24 Desa 6 kecamatan Kabupaten Pati, Jateng
2 Desa di Kabupaten Kendal, Jateng
12 Kecamatan di Kabupaten Cirebon, Jabar
25 Desa di 8 Kecamatan di Kabupaten Brebes, Jateng
7 Desa di 3 Kecamatan Kabupaten Karangasem, Bali (Tekno.tempo.co, 23/11/2019)
Jadi, masih sangat banyak.


Kebutuhan akan Air di Masa Pandemik

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah


Hans Rosling, dalam buku Factfulness, telah memperingatkan adanya 6 risiko global yang perlu kita khawatirkan, yaitu:
1.    Pandemik global (global pandemic),
2.    Keruntuhan keuangan (financial collaps),
3.    Perang dunia III (world war III),
4.    Perubahan iklim (climate change),
5.    Kemiskinan ekstrem (extreme poverty), dan
6.    Tidak diketahui (unknown unknown).

Saat ini kita telah berada pada masa pandemik global sekaligus perubahan iklim yang terus berproses. Perubahan iklim ini memicu pemanasan global, yang berdampak pada munculnya lapisan es di kutub dan puncak gunung salju, kenaikan suhu dan tinggi permukaan air laut, meningkatnya suhu di sejumlah kota di Indonesia, cuaca ekstrem dan kekeringan yang panjang, serta munculnya berbagai hama dan penyakit tanaman (In.ideanation).

Seperti kita ketahui, pandemik global dan perubahan iklim secara terpisah sudah sangat merepotkan dan membebani, bagaimana jika keduanya terjadi bersamaan? Apalagi, kedua hal ini juga berkaitan erat dengan keruntuhan keuangan, kemiskinan ekstrem, bahkan mungkin juga Perang Dunia III dan “risiko yang tidak diketahui”.

Pada kondisi normal (tanpa pandemik), kehidupan manusia sudah sangat berhubungan dengan air. Kita membutuhkan air untuk minum, memasak, mencuci, mandi, media transportasi, dan lain-lain. Bahkan, tubuh manusia terdiri atas 75 persen air, otak manusia terdiri atas 85 persen air, di dalam sel-sel tubuh idealnya terdapat 75 persen air, dan dalam kondisi terhidrasi penuh normalnya 94 persen dari darah berupa air. Secara khusus, F. Batmanghelidj, M.D., di dalam buku Air untuk Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan Penyakit, memaparkan bila kita kekurangan air kita bisa menderita berbagai penyakit.

Jangan lupakan pula mengenai penyakit-penyakit lain seperti diare dan pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi pada anak, Covid-19, serta penyakit mata, penyakit perut, kecacingan, dan flu yang bisa berawal dari tangan yang kotor. Semua penyakit ini berhubungan dengan air, baik meliputi sanitasi atau higienitasnya, maupun cukup tidaknya air yang diminum dalam memenuhi kebutuhan tubuh.

Kekeringan (Sumber: Pixabay)
Di antara penyakit-penyakit yang bisa dicegah/diminimalisir dengan mencuci tangan menggunakan sabun, Covid-19 adalah salah satunya. Pada masa pandemik seperti sekarang, orang-orang menjadi sering mencuci tangan karena takut tertular Covid-19. Hal ini menjadi tantangan juga di tengah kondisi Indonesia yang semakin rawan air.

Jadi, mulai saat ini kita tak boleh cuek lagi. Harus peduli. Kecuali jika kita mau menjadi dehidrasi, tidak mampu memenuhi kebutuhan air sehari-hari, pemilikan air sangat dibatasi, atau terpaksa menggunakan air yang tidak layak untuk konsumsi atau non konsumsi. Sudah ada buktinya, misalnya pada warga Banjar Pendem desa Manistutu kecamatan Melaya kabupaten Jembrana Bali, mereka harus rela berjalan pulang pergi 10 kilometer hanya untuk mencari air di sebuah kubangan.

Tidak mau kan seperti mereka?

Oleh karena itu, mari perhatikan prinsip-prinsip pengelolaan air di bawah ini untuk memperbaiki ketersediaan air bersih dan menurunkan laju krisis air bersih atau kelangkaan air di Indonesia:
1.    Hindari eksploitasi air berlebihan,
2.    Jaga jangan sampai air bersih yang tersisa tercemar atau berkurang,
Keberadaan air sudah terbatas, jangan sampai air yang masih tersedia ini berkurang karena pencermaran.
3.    Atur jumlah manusia dan makhluk lain dalam negara, misalnya berupa:
a.       Mengatur jumlah kelahiran
b.      Mengatur jumlah imigran
Kondisi ini bisa diterapkan jika sangat terpaksa/genting.
4.    Memulihkan air yang tercemar,
Bila memungkinkan, memulihkan air yang tercemar merupakan langkah yang baik.
5. Mengatur pendistribusian dan pemerataan air, bila sangat kritis setiap rumah perlu dijatah kebutuhan airnya,
6. Mengutamakan air untuk kebutuhan primer dulu dan menghentikan atau meminimalkan penggunaan untuk kebutuhan sekunder dan tersier,
7.    Mewajibkan setiap rumah dan setiap kantor/industri untuk membuat biopori, sumur resapan, atau semacamnya,
Mari kita belajar dari Desa Patemon dalam mengatasi kekeringan/kekurangan air di daerahnya dengan membuat biopori, sumur resapan, atau semacamnya. Program pembuatan biopori dan sumur resapan tersebut pelaksanaannya dikuatkan dengan Peraturan Desa atau Perdes  No. 3 tahun 2015 tentang Tata Kelola Sumber Daya Air sehingga semakin mengikat warga. Dalam Perdes ditetapkan bahwa setiap warga yang memiliki atau mendirikan bangunan wajib membangun sumur resapan secara swadaya. Bahkan, perusahaan yang mendirikan pabrik di Patemon juga wajib membuat sumur resapan dengan volume 20 meter kubik. Hasilnya, sejak 2014 warga Desa Patemon tak lagi mengalami kelangkaan air.
Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah
Pemanasan global (Sumber: Ideanation)
 
8.    Menjalankan pembangunan yang berwawasan lingkungan, termasuk terhadap industri properti.
Properti yang ada dewasa ini banyak yang kurang memperhatikan lingkungan. Misalnya di Amuntai, di kanan-kiri jalan bukit-bukit digali, diambil tanahnya untuk menimbun rawa di pinggir jalan. Rumah-rumah panggung itu sudah berubah menjadi rumah “modern” (landed house), tidak memanfaatkan arsitektur asli yang berupa rumah panggung. Sehingga daerah sana menjadi sering banjir.
Ada juga praktek lain berupa land clearing (cut & fill), mengabaikan kontur asli daerah tersebut. Padahal, banyak properti-properti yang memanfaatkan kontur dan pepohonan alami yang malah bernilai sangat tinggi. Belum selesai sampai di situ, setelah “meratakan”, pengembang akan mulai membangun infrastruktur. Dengan cara menutup dengan semen, beton, atau aspal, sehingga tiada lagi resapan air. Jika pengembang membangung cluster rumah seluas 5.000 meter saja, maka setidaknya dia telah menutup resapan air seluas 4.000 meter atau lebih. Ketiadaan area resapan air tanah ini menyebabkan tidak ada lagi proses infiltrasi. Yaitu perjalanan air ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral) dan gravitasi (gerakan ke arah vertikal). Air yang meresap ke dalam tanah sebagian akan tertahan oleh partikel-partikel tanah dan menguap kembali ke atmosfer, sebagian lagi diserap oleh tumbuhan dan yang lain akan terus meresap di bawah permukaan bumi hingga zona yang terisi air yaitu zona saturasi.
Air yang meresap melalui pori-pori tanah kemudian tersimpan di bawah permukaan bumi yang impermeabel (tak dapat ditembus oleh air) sehingga disebut air tanah.
Hal ini menyebabkan pada musim kemarau daerah tersebut kekurangan air, sedangkan pada musim penghujan terjadi banjir.
9. Mewajibkan semua industi untuk menerapkan nol limbah (zero waste),
10. Menegakkan aturan-aturan yang selama ini sudah ada, baik, dan tepat,

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah
Air bekas tambang batu bara (Dok. Theresia Jari/Jatam Kaltim dalam Tribunnews)

11. Mewaspadai dan segera menangani pencemaran air, kerusakan air, atau pemborosan air dalam jumlah besar, yang berasal dari:
a.       Bekas tambang,
b.      Limbah deterjen dan pupuk/bahan-bahan kimia pertanian/limbah-limbah perikanan karamba,
c.       Limbah-limbah minyak atau bahan-bahan lain yang sulit terurai,
d.      Kebocoran air pada pipa-pipa PDAM,
e.       Ancaman bahaya alami maupun buatan semacam kasus Lumpur Lapindo Sidoarjo,
f.       Kolam renang-kolam renang wahana wisata air, industri pariwisata termasuk perhotelan, mal, apartemen, dan hal-hal semacamnya yang kurang penting/sekadar hiburan.
Hasil riset dari Eko Teguh Paripurno, Peneliti Penanggulangan Bencana dari Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, menegaskan bahwa pembangunan hotel, mal, dan sejenisnya di Yogyakarta rentan memicu krisis air. Contohnya adalah
pembangunan Fave Hotel di Miliran dan Hotel 1O1 di Gowongan yang berdampak pada mengeringnya air sumur warga.
Bali, sebagai salah satu ikon wisata terkenal di Indonesia juga tak luput dari dampaknya. Dr. Stroma Cole, dosen senior Geography and Environmental Management University of The West of England bahkan telah meramalkan krisis air di Bali akan terjadi pada 2020-2025, jika tak ada aksi nyata dalam penyadaran, konservasi, dan koordinasi kebijakan. “Tourism in Bali is killing people,” paparnya, Selasa (14/4/15).

12. Mensosialisasikan dan menerapkan kebiasaan hemat air/bijak dalam mengelola dan memanfaatkan air,
13. Jangan menurunkan kebutuhan air pada tanaman, karena andai tanaman tersebut kita konsumsi buahnya, maka kandungan air pada buah tersebut juga akan berkurang/rendah,
14.    Carilah suatu teknologi/buatlah inovasi tentang penghematan air pada benda-benda mati saja,
15. Jangan mengencingi air yang tidak mengalir, jangan pula melakukan pencemaran dalam bentuk lain,
16. Carilah cara untuk mencegah dan mengatasi pencemaran dan pemborosan air, lalu sosialisasikan pada para pelakunya, misalnya limbah-limbah industri batik atau lainnya.

Situasi sudah semakin kritis, masihkah kita tak mau peduli? Kalau tidak diperbaiki sejak sekarang, kapan lagi? Jangan sampai terlambat dan menyesal?



Sumber:
https://tekno.tempo.co/read/1071944/hari-air-sedunia-2018-ini-12-fakta-mencengangkan-soal-air/full&view=ok
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/10/jumlah-penduduk-dunia-pada-2019-capai-77-miliar-jiwa
https://www.merdeka.com/peristiwa/dampak-covid-19-kebun-binatang-bandung-akan-potong-rusa-untuk-makanan-macan.html
http://www.beritalingkungan.com/2020/03/cerita-dari-desa-patemon-tak-biarkan.html
Http://masyarakattanpariba.com/mtr/bisnis-syariah-bukan-sekedar-tanpa-riba/
https://tirto.id/ironi-sleman-warga-krisis-air-di-tengah-geliat-bisnis-hotel-mal-ep4w
https://www.mongabay.co.id/2015/04/15/bali-terancam-krisis-air-mengapa/
https://tekno.tempo.co/read/1275398/sebagian-indonesia-masih-mengalami-kekeringan-hingga-november
Batmanghelidj, F, M.D. 2007. Air untuk Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan Penyakit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.