Tampilkan postingan dengan label hubungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hubungan. Tampilkan semua postingan

Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?


Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?

(Gb. Dua orang yang bersama tetapi fokus pada HP masing-masing)


Saat awal kemunculannya dulu, mungkin kita berpikir—atau lebih tepatnya dicekoki—dengan narasi megah: "Dunia dalam genggaman." Segala yang berbau teknologi dan digital itu selalu diidentikkan dengan kepraktisan, kemudahan hidup, sesuatu yang mewah, dan keren. Kalau kamu nggak ikut-ikutan, siap-siap saja dicap kudet (kurang update). Dari sanalah badai FOMO (Fear of Missing Out) itu dimulai. Kita semua berlomba-lomba melompat ke dalam arus yang sama.


Tapi, seiring berjalannya waktu, pemikiranku berubah total. Tiba-tiba aku melihat ini bukan sebagai sebuah kemajuan, melainkan sebuah desain "penjara" tak kasat mata. Ini adalah penjara modern tanpa jeruji besi, tempat di mana kamu dan aku masuk dengan "sukarela" dan penuh senyuman, hanya karena kita dimanjakan di dalamnya.



Ketika Opsi Dunia Nyata Sengaja "Dimatikan"


Coba bayangkan, sekarang hampir seluruh aspek hidup kita telah diperas dan dimasukkan ke dalam kotak layar berukuran beberapa inci. Mau belanja? Tinggal klik online. Mau pergi? Panggil transportasi online. Mau bayar-bayar? Pakai uang online. Kelihatannya praktis, kan?


Tapi sadar nggak, peralihan ini tidak terjadi begitu saja tanpa akibat. Proses ini pelan-pelan sedang "membunuh" dunia nyata yang digantikannya. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pengkondisian sistemik.


Mungkin ada yang berkilah, "Ah, nggak bakal mati kok, kan pasar offline punya segmennya sendiri-sendiri." Tapi mari kita lihat realitanya secara jujur. Ketika mayoritas perputaran uang pindah ke layar, ekosistem offline tidak akan kuat bertahan hanya dengan mengandalkan sisa-sisa "segmen tersendiri" itu. Omzet mereka anjlok, biaya sewa tempat tak tertutup, dan akhirnya tumbang.


Lihat saja nasib Pasar Apung di Kalimantan yang legendaris itu—kini dilaporkan sepi, sekarat, bahkan hampir mati karena kalah telak oleh arus online. Sistem ini sengaja meruntuhkan jembatan ekonomi di dunia fisik agar kita tidak punya pilihan lain. Kita digiring secara halus sampai pada titik di mana alternatif offline itu benar-benar hilang, dan kita terpaksa full online karena tidak ada jalan lain yang tersisa.



Penjajahan Jarak Jauh: Senjata Baru Kapitalis Raksasa


Di balik layar yang kita tatap setiap hari, ada sebuah desain besar tentang monopoli dan penjajahan ekonomi gaya baru. Teknologi yang katanya "bisa jarak jauh apa saja" ini ternyata menjadi senjata paling mematikan bagi para pemilik modal raksasa untuk menghabisi pedagang kecil.


Dulu, kalau kapitalis besar mau menguasai pasar suatu daerah, mereka harus repot-repot datang, membangun cabang fisik, menyewa gudang lokal, dan mempekerjakan warga setempat. Artinya, masih ada uang yang berputar dan menetes ke masyarakat bawah.


Sekarang? Efek borderless (tanpa batas) membuat raksasa kapitalis—termasuk gurita e-commerce raksasa asing yang kini menguasai pasar kita—bisa mengeruk uang dari daerah terdalam sekalipun tanpa perlu menginjakkan kaki di sana. Mereka tinggal duduk manis di pusat, mengontrol algoritma, memotong rantai distribusi, dan mengirimkan barang murah hasil produksi massal langsung ke depan pintu rumah konsumen.

 
Ini bukan kompetisi yang adil. Pengrajin dan pedagang lokal yang modalnya pas-pasan dipaksa bertarung melawan raksasa internasional yang sanggup membakar uang demi diskon dan memanipulasi algoritma agar produk mereka selalu muncul di halaman pertama. Hasil akhirnya adalah monopoli terselubung oleh segelintir kapitalis raksasa. Uang di daerah tersedot bersih ke pusat atau bahkan ke luar negeri, menyisakan kelumpuhan ekonomi lokal yang mandiri.

 

Dari Teman Dekat Menjadi Katalog Berjalan


Sementara itu, di sisi hubungan antarmanusia pun tak jauh berbeda, miris juga. Orang sekarang jadi malas menyapa tetangga sebelah rumah, kalau ada apa-apa tinggal nge-WA saja. Sementara di media sosial sendiri, ekosistemnya sudah berubah mengerikan. Kita seperti sudah tidak mengenali lagi mana "teman" dan mana "orang dekat".


Begitu sebuah platform membuka fitur "akun pro", ruang sosial kita langsung berubah menjadi pasar malam raksasa. Teman-teman kita berubah menjadi akun bisnis, dan kita sendiri hanya dipandang sebatas jaringan, angka followers, atau target pasar. Mau teman atau bukan, sejujurnya aku melihat mereka seperti artis di TV yang tak terjangkau—public figure mahal yang kerjanya cuma ceramah searah atau promosi personal branding. Medsos berubah fungsi menjadi katalog berjalan mirip Yellow Pages zaman dulu. Parahnya, jangankan akun pro, kita yang pakai akun biasa pun kalau posting atau menyapa tetap saja dicuekin.


Di medsos sekarang seperti ada aturan tak tertulis: "Jangan ganggu aku ngomong." Komunikasi dibuat menjadi satu arah. Mereka hanya ingin didengar (ceramah), dan kalaupun membalas, mungkin cuma sekali setelah itu dicuekin.


Dulu klaimnya teknologi membuat komunikasi jadi real-time dan cepat. Nyatanya? Gak sama sekali. Malahan, pesan kita bisa dibalas berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian dengan gaya males-malesan. Atau yang paling sering: jangan harap pesanmu bakal dibalas, hanya karena kamu dianggap bukan pangsa pasarnya, nggak menguntungkan, atau nggak penting buat kepentingan bisnis mereka.


Contoh sederhananya soal ustadz. Aku sering banget melempar pertanyaan serius di kolom komentar para ustadz di medsos, tapi ujung-ujungnya selalu di-neglect (dicuekin). Padahal orangnya aktif dan ada di sana, tapi karena kita "bukan siapa-siapa" di mata algoritma dan ekosistem bisnis mereka, suara kita jadi tidak berharga.



Walled Garden: Strategi Egois Penahan Perhatian


Mengapa ini bisa terjadi? Ini bukan cuma tentang algoritma umum milik browser atau search engine yang menyortir apa yang boleh dan tidak boleh kita lihat. Tapi di dalam masing-masing platform atau medsos itu sendiri, sistemnya memang sengaja dirancang agar kita "terjebak" dan diam di sana selama mungkin.


Mereka sangat egois. Di industri teknologi, ada strategi bernama Walled Garden (Taman Berdinding). Mereka benci setengah mati kalau kita keluar dari aplikasi mereka. Pernah nyadar nggak, kalau kita membagikan tautan (share link) luar—seperti link blog pribadi atau link YouTube—ke platform seperti Facebook atau X (Twitter), jangkauan postingan kita langsung anjlok drastis dan sengaja ditenggelamkan oleh algoritma?


Mereka sengaja menyekat kita. Mereka tidak mau kita ngeklik keluar dan kehilangan perhatian kita walau hanya satu detik, karena perhatian kita adalah uang bagi mereka. Makanya, kita dijejali dengan desain adiksi seperti doom scrolling—sebuah jebakan tak berujung agar mata kita tetap menatap layar, mengonsumsi konten mereka, dan perlahan-lahan melupakan dunia luar.


 

Ruang Kerja Tanpa Batas yang Menghancurkan "Kita"


Aplikasi yang harapan awalnya sangat mulia untuk menyambung silaturahmi, seperti WhatsApp (WA), kini telah bermanifestasi menjadi sesuatu yang melelahkan. WA berubah menjadi ajang grup jualan, ruang promosi, tempat koordinasi tugas yang gak ada habisnya, atau bahkan tempat kantor dan klien menghubungi kita seenaknya.


Karena HP kita dianggap selalu nyala, kita diasumsikan harus selalu available (tersedia) setiap hari, jam berapa saja, bahkan di hari libur. Di mana efek santai atau hiburannya? Hidup akhirnya diperas hanya seputar kerjaan, tugas, dan projek lagi. Tugas terooos!


Kapan interaksi itu kembali tentang "kita"? Tentang aku dan kamu. Tentang obrolan-obrolan hangat tanpa interupsi yang mengukir kenangan indah di antara kita sebagai manusia.
 

Menikahi Gawai dan Generasi yang "Dikotakkan"


Seolah belum cukup menyedihkan di dunia digital, saat kita memaksakan diri bertemu di dunia nyata pun, pemandangannya sama saja: semua orang sibuk melakukan phubbing (alias asyik melihat layar HP masing-masing). Tubuhnya memang duduk di sebelah kita, tapi jiwanya entah terbang ke mana. Rasanya, kita semua sudah diam-diam "menikahi" gawai masing-masing. Kalau sudah begitu, lalu pantaskah aku cemburu pada HP-mu?


Fenomena ini celakanya tidak cuma menyerang kita yang dewasa. Kalau kalian sempat membaca artikelku kemarin soal ruang bermain anak, kalian pasti tahu kalau ruang gerak fisik anak-anak di dunia nyata itu sudah semakin menyempit.


Akibatnya, anak-anak "hanya" punya satu-satunya ruang tersisa: ruang online. Parahnya lagi, banyak orang tua zaman sekarang yang mengambil jalan pintas. Biar anaknya nggak nangis, nggak rewel, dan nggak lari-larian, mereka langsung menyodorted TV, HP, atau laptop sejak si anak masih balita. Dunia anak-anak ternyata tidak luput dari penjajahan digital ini. Malah nasib mereka jauh lebih tragis, karena mereka sudah "dipenjara" dan dikondisikan di dalam layar sejak usia dini.



Dengan semua realitas di atas, hidup kita perlahan tapi pasti telah "di-kotak-in" dan diringkas menjadi sebatas layar HP saja. Kita dikurung, diisolasi, dan dijajah secara digital oleh segelintir kapitalis raksasa sampai kita lupa rasanya menjadi manusia seutuhnya di dunia nyata.


Jadi, kembali ke klaim awal tentang teknologi yang katanya "mendekatkan yang jauh" ... hmmm ... melihat bagaimana kita semua berakhir di dalam penjara layar sementara ekonomi lokal kita perlahan mati, gimana menurutmu? 
Masih percaya dengan narasi manis itu?
 


Btw, kalau belum baca artikelku kemarin soal ruang bermain anak yang menyempit, klik di sini ya:

Enak zamanku, tho: Ironi hilangnya ruang bermain anak zaman now
 
 

Yang Tersisa di Kala Lansia

Yang Tersisa di Kala Lansia
Lansia

Di usiaku yang sekarang ini, menjadi lansia itu tinggal selangkah lagi. Apalagi jika merujuk pada jatah umat Nabi Muhammad yang rata-rata hidup sampai umur 63 tahun, orang seumuranku itu sudah harus banyak-banyak merenung. Tapi yang kukisahkan kali ini bukan tentang diriku, melainkan para lansia yang pernah kuamati.

Banyak dari mereka yang kupandang bernasib tragis. Saat "pakaian kebesarannya" (jabatan atau kekuasaan) runtuh, mereka kembali menjadi "bukan siapa-siapa". Kembali menjadi orang biasa. Tak jarang pertemuan dengan mereka tak jauh-jauh dari bahasan seputar "sudah sakit apa saja" atau tentang cucunya. Sebagian lainnya mungkin mengenang kejayaan masa lalu atau ganti membandingkan orang lain—entah anak, cucu, atau lainnya. Tak terlalu ada lagi yang bisa dibandingkan dari dirinya sendiri.

Mengapa Lansia Harus Punya Kehidupan Sendiri?

Menariknya, banyak dari mereka yang tadinya begitu membanggakan prestasi anaknya yang wah, akhirnya malah kesepian. Tak sekadar jauh dari anaknya, tetapi juga mencari pelarian, misalnya mengangkat "anak asuh", mencari pembantu (demi pemenuhan emosional), atau bahkan mencari siapa saja yang bisa ditemui di luar sana. Di mana pun aku bertemu lansia, mereka cenderung sangat ingin curhat berlebihan tentang apa saja.

Banyak orang lupa bahwa kesuksesan anak dan cucu itu juga dibayar dengan harga. Banyak orang sukses itu sangat sibuk atau bahkan bekerja di luar kota, sehingga jarang bisa memenuhi kebutuhan emosional lansia tersebut. Atau bisa juga memang sengaja memilih begitu karena ada ketidakcocokan antara orang tua dengan anaknya.

Itulah kenapa para lansia juga harus punya kehidupan "sendiri" agar tidak terus mengganggu anak-anaknya atau orang lain. Harus aktif dan tahu cara menghibur diri sendiri. Aku sendiri merasa sangat terganggu ketika dijadikan pelampiasan. Aku bukan anaknya dan aku punya kehidupan sendiri. Sebagai seorang introvert, aku merasa sangat intrusif ketika diincar beberapa kali sehari hanya untuk mendengarkan curhatan rutin.

Jebakan Emosional di Masa Lansia

Pikiranku berkata, "Kalau kamu begitu membanggakan anak-anakmu, lalu kenapa aku yang kamu jadikan pemenuhan kebutuhan emosionalmu?" Kamu tidak boleh egois dengan ingin anakmu sendiri berhasil (bebas sibuk kerja) lalu mengganggu produktivitas orang lain. Anak itu hasil didikanmu; jika kamu akhirnya kesepian, salahkan dirimu sendiri.

Yang tak kalah tragis, beberapa lansia meninggal sendirian di rumah. Sebagian karena mungkin tidak mau pindah ikut menumpang rumah anak menantunya, sebagian lagi karena memang tidak cocok. Hidup memang penuh warna. Begitu orang pensiun atau menjadi lansia, banyak hal mendadak berubah. Mereka menyadari hidup sudah berbeda, sendiri, dan makin dekat dengan ajal.

Kesuksesan Anak dan Harga yang Harus Dibayar

Banyak yang tadinya peduli harta dan duniawi, akhirnya hanya ingin ditemani. Asal tidak sendiri, itu cukup. Melihat kisah-kisah lansia seperti itu memang tampak tidak mudah. Tapi semoga saja jika kita bisa mencapai usia lansia nanti, kita tidak akan mengalami hal-hal buruk. Hidup kita tetap indah, semakin indah, dan akan selalu baik-baik saja.

Review Buku "Bergulat dengan Diri"

Cover buku Bergulat dengan Diri

Ini adalah buku yang kupilih random aja, asal berbahasa Indonesia. Kalau dilihat dari cover pun tidak menarik, sedangkan judul Bergulat dengan Diri itu agak abstrak atau setidaknya sangat luas, gulat bagian apanya. Tapi pikiranku sih mungkin mengatasi masalah-masalah internal di diri, terutama terkait refleksi. Taunya nggak. Loh ini kok lebih bahas tentang orang lain, toksik-toksik, dll.

Pas aku baca, aku lebih bingung lagi. Karena ini kan diformat sebagai tulisan terpisah yang dijalin membentuk satu tema utama, taunya kok nggak nyambung. Ini nggak hanya gak sesuai judul, tapi juga nggak terbentuk benang merah antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Aku gak tau ini masuk ranah apa, apa kesatuan, koherensi, atau sekadar alur/plotnya aja yang nggak nyambung?

Ini tulisannya juga masih perlu lebih padat, masih bertele-tele (wordy banget). Selain itu, tulisan di buku ini sangat emosional (aura emosi), sangat judgemental (menghakimi), dan sangat hitam-putih. Penulis seperti memiliki atau melihat satu perspektif saja. Akhirnya jatuhnya terasa seperti "Kamu kalau nggak golongan 'ini'/nggak ngelakuin 'ini' maka kamu salah/buruk." Kepercayaan diri yang kuat pada pada pendapatnya, tetapi tidak diimbangi dengan perspektif yang luas. Kayak setiap orang itu hanya melalui peristiwa yang seragam.

Aduh bacanya menimbulkan aura yang nggak enak banget.

Saran Perbaikan

Menurutku, buku ini akan lebih baik jika covernya dipercantik, plot/alurnya diperbaiki, judulnya diperbaiki (judulnya salah dan kurang spesifik), trus nulisnya itu yang lebih woles dan padat. Selain itu, cobalah untuk lebih memahami betapa beragamnya manusia ini. Buku ini sebenarnya bisa bagus, dan mungkin lebih cocok untuk format buku-buku mini (yang tulisannya dikit dan gambar banyak atau space/ruang lega) karena bagian penting dari buku ini mungkin akan banyak berkurang jika wordy-nya diperbaiki.


Baca review kesehatan mental lainnya:

Review Buku Lainnya: Daftar Review | Buku Bagus

Tentang Seragam, Sarimbit, dan Perasaan yang Tak Pernah Kita Bahas

 

Pakai sarimbit sekeluarga
Sekeluarga memakai sarimbit


Semasa sekolah kita dulu selalu berseragam. Setidaknya, dari SD sampai SMA. Mau itu untuk seragam harian, seragam olahraga, seragam batik, atau apa pun. Lama sekali aku mempercayai bahwa seragam itu sepenuhnya baik, terutama biar nggak jor-joran. Yang memang jujur saja, pasti ada orang/anak itu yang ingin tampak lebih wah dari orang atau anak lainnya, sehingga memakai baju dan aksesoris berlebihan atau bahkan kurang sesuai dengan tatanan/aturan.

 

Pada situasi lain, aku berpikir seragam kadang bagus juga untuk rekreasi atau kunjungan ke resepsi orang "luar" atau acara luar yang ramai, terutama kalau ada bocilnya. Sebagai penanda tentunya, biar bocil dan anggota grup nggak mudah hilang atau mudah ditemukan.

 

Tapi, perasaan dan pikiranku berubah ketika memakai sarimbit menjadi tren ketika bertamu ke rumah keluarga besar sendiri. Tiba-tiba muncul perasaan "Ini keluarga kami (memakai sarimbit), dan itu keluarga luar/orang asing," tidak lagi "Ini keluarga besar kami", saat berfoto.

Foto yang tadinya membaur semua menjadi satu (ini keluarga besar kami), menjadi "ini keluargaku" dan "itu keluargamu". Apalagi ketika selera warna atau pakaian kami berbeda. Foto menjadi sangat tidak harmonis penampakannya. Ya, kamu benar, aku mengatakan, meskipun tanpa sarimbit, kami berada dalam "kekacauan yang harmonis" dalam sebuah foto. Sebaliknya, dengan sarimbit, kami menjadi "excluded"/alienasi.

Kesanku dulu bahwa sarimbit hanya tentang kekompakan, untuk memudahkan mencari, atau biar gak mudah hilang, sirna seketika.

 

Begitupun ketika ada momen jantung sehat di kampungku, di mana masing-masing RT inisiatif sendiri membuat grup seragam khusus untuk RT-nya. Dengar yang satu bikin, yang lain ikut bikin, dan mungkin mencoba bikin yang lebih bagus/wah. Aku melihatnya seperti bersatu tetapi tidak bersatu. Ini momen kampung tetapi menjadi momen kumpulan "individu RT", RT demi RT masih terpisah, hanya raganya yang berkumpul.


Akhirnya, lagi-lagi aku kembali pada kesimpulanku. Banyak hal atau malah mungkin semua hal, punya 2 sisi, positif maupun negatif. 

Kalau kita sedang bertanding dengan sekolah lain, tentu kita butuh pembeda/seragam yang beda. Tanding dengan kampung lain juga gitu.

Tapi ketika momen berada di kampung sendiri, itu agak gak cocok sih menurutku, kalau tidak tentang konteks tanding.

Begitupun tentang sarimbit/seragam, lebih cocok dipakai untuk outdoor (luar ruangan), di tengah kerumunan banyak orang, atau di tempat yang jauh/asing, dan dengan tingkat kekerabatan yang jauh/konteks acara tidak tentang kebersamaan. 


Seragam, termasuk sarimbit, tidak hanya bisa menyatukan atau menjadi pembeda dalam konteks sehat, tetapi bisa juga menjadi alat pemecah/alienasi/excluded orang lain atau kelompok lain. Miris ya?

 

Menjadi Tegas Tanpa Kehilangan Kualitas

Seorang wanita bersikap tegas di kantor
Bersikap tegas

Banyak orang meyakini bahwa pria adalah makhluk pemikir (logis) sedangkan wanita adalah makhluk perasa (lebih mengedepankan emosinya). Keyakinan ini kemudian membuat sebagian pria menyelewengkan penafsirannya dengan menyamakan dominan perasaan sebagai bodoh dan mudah ditipu. Dalam kondisi-kondisi tertentu, ketika terdapat hal-hal yang mengancam ego pria (misalnya perbedaan pendapat atau konflik), akhirnya sering disinggung-singgung oleh mereka, “Ah, kamu itu siapa sih. Makhluk yang lemah akalnya. Tahu apa kamu? Kami ini makhluk pemikir dan kami ini imam, kamu makmum. Kamu tinggal mengikuti saja.”

 

Jadi, keyakinan bahwa wanita itu dominan perasaan seringkali dijadikan alat untuk membungkam dan mengolok-olok wanita, seolah para wanita tidak boleh memiliki pendapat, pikiran, dan aspirasi sendiri.

 

Wanita dididik tidak boleh vokal, tidak boleh marah, dan tidak boleh tampak kuat. Jika pria marah itu dibolehkan, dianggap wajar, pemberani, kuat, macho, laki banget, dan perkasa; sedangkan jika wanita vokal atau marah itu dianggap kasar, judes, dan tidak sepantasnya.

 

Akan tetapi, tidak dibolehkannya wanita untuk menjadi vokal dan marah ini kemudian menjadikan dirinya menjadi kurang/tidak asertif, cenderung penurut (sulit menegakkan boundaries), dan rawan untuk menjadi korban kekerasan. Mereka menjadi sulit untuk bersuara, menolak kejahatan, marah jika ditindas/dizalimi, maupun untuk membela/melindungi dirinya sendiri dari bahaya serta ketidakadilan. Selain itu, mereka bisa membenci dirinya sendiri, malu, mengalami low self-worth, depresi, menarik diri, membahayakan diri sendiri, mengalami obesitas, atau mengalami gangguan fisik dan mental karena tidak bisa mengekspresikan marahnya dengan bebas dan benar. 

 

Berbagai ekspresi emosi pada wanita
Wanita boleh memiliki segala emosi

 

Mengutip pernyataan dari Deborah Tannen dalam bukunya Talking from 9 to 5, Josh Bernoff memuat dalam bukunya yang berjudul Writing without Bullshit, bahwa dalam dunia kerja pun demikian, wanita juga tidak bisa vokal karena jika vokal mereka akan dianggap bermusuhan. Sudah umum bagi wanita, terutama mereka yang baru mulai di dunia kerja untuk meminta maaf atau melunakkan perkataannya jika berpendapat padahal pria-pria malah berbicara dengan sombong dan menantang atau menyela orang-orang di sekitarnya. Jadi, bukan hanya rasa takut yang harus dihadapi oleh seorang wanita yang mengekspresikan dirinya. Ini adalah tekanan sosial untuk memuluskan segalanya dan bergaul dengan orang-orang. Wanita secara tidak adil mendapatkan tanggung jawab untuk memastikan bahwa segala sesuatu dan semua orang baik-baik saja. Secara pribadi, ini mengarah pada permintaan maaf, pernyataan yang dilindungi (dihalus-haluskan/sering minta maaf yang tidak perlu), dan opini valid yang tidak dinyatakan (menyembunyikan opininya). Wanita memang terbiasa diperlakukan berbeda dari pria, termasuk ketika masih muda, orangtua dan guru cenderung menghargai perilaku yang lebih hormat, bahkan ketika mereka mendorong dan menoleransi anak laki-laki yang berbicara dan menyela.

 

Telah banyak bukti bahwa para wanita korban kekerasan (termasuk remaja wanita) itu biasanya punya riwayat kekerasan di dalam keluarganya/pada masa lalunya pada saat dia masih kecil, misalnya ada belief merusak yang ditanamkan oleh orangtuanya padanya/perlakuan buruk yang diterapkan padanya yang membuat wanita tersebut merasa kekasaran yang dilakukan oleh pacarnya itu familiar/wajar. Dia tidak bisa/bersedia marah/menolak karena takut dicap jahat, kasar, egois, bukan wanita yang baik, dan sebagainya; yang intinya takut tidak disukai/diterima oleh orang lain.

 

Ketika wanita dilarang untuk tegas, vokal, atau marah dengan direspon negatif secara implisit atau terang-terangan, mereka kemudian mungkin akan menekan perasaan tersebut lalu menumpulkannya (menjadi numb/hampa) karena upayanya sia-sia. Itu karena kehampaan/mati rasa terjadi karena banjir emosi pada satu waktu atau keputusan untuk tidak merasakannya seiring waktu.

 

Di dalam buku Numb karya Kay Gackle disebutkan banyak orang terlalu keras pada dirinya sendiri. Mereka bisa berempati pada orang lain tetapi mengecilkan masalah dirinya sendiri. Saat mereka mengecilkan masalahnya, mereka mulai menutup perasaan apa pun yang terkait dengannya karena itu tidak berfungsi, berubah, atau menjadi lebih baik.

 

Masalahnya, orang yang tidak bersedia/tidak mampu merasakan emosi-emosi yang berat (anger, sadness) juga tidak akan mampu merasakan emosi-emosi yang baik (joy, excitement). Spektrum perasaan kita menjadi lebih kecil secara signifikan. Perasaan deep sadness mungkin akan pergi, tetapi perasaan deep joy juga akan demikian.  

 

Di situlah pentingnya wanita dan pria untuk dibolehkan memiliki semua jenis emosi dan mengekspresikannya secara sehat, serta dididik secara khusus untuk tujuan tersebut. 

 

seorang pria muda duduk bersedih di pinggir jalan
Seorang pria boleh bersedih dan menangis

 

Kita tak perlu malu untuk memiliki, menerima, atau mengekspresikan emosi apa pun. Bahkan, memang emosi harus diperlakukan demikian, karena jika tidak emosi tadi bisa mewujud ke dalam hal lain yang bersifat negatif/merusak, misalnya suka belanja berlebihan (over belanja), gila kerja (workaholic), kecanduan sesuatu, emosi yang keluar menjadi bom waktu, makan berlebihan/malas makan, marah kepada dirinya sendiri (karena tidak bisa melampiaskan marahnya kepada orang lain), menjadi depresi, berjuang dengan rasa bersalah dan rasa malu, mer*kok, kebut-kebutan, memicu pertengkaran, mengalami berbagai gangguan fisik dan mental, atau bahkan mematirasakan perasaannya dan tidak mampu mengakses kemarahan dan rasa sakitnya dari masa lalu. 

 

Biasanya, orang terburu-buru mengaitkan emosi dengan sesuatu yang negatif, padahal itu tidak benar. Yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum adalah terdapat setidaknya 3 emosi utama, yaitu marah, sedih, dan bahagia. Marah yang benar dan sehat dan cepat selesai disebut mad, sedangkan yang berlebihan/berkepanjangan/tidak sehat disebut anger; sementara sedih yang sehat disebut sad, sedangkan sedih yang tidak sehat disebut depressed. Untuk emosi bahagia hanya ada satu istilah yaitu glad. Ini yang harus diketahui orang bahwa tidak apa-apa marah yang berupa mad itu dan sedih yang berupa sad itu. 

 

 Dengan kita mengizinkan wanita untuk memiliki perasaan dan emosi apa pun dan mengekspresikannya secara sehat, harapannya mereka bisa lebih sehat secara fisik dan mental dan energi yang terkandung di dalam emosi-emosi tersebut dapat tersalurkan/terekspresikan ke dalam hal-hal yang positif. Tak hanya itu, mengizinkan mereka untuk merasakan dan mengekspresikan emosi yang tersembunyi dari masa lalu juga akan membantunya untuk pulih dari luka-luka masa lalu. Selain itu, wanita juga tidak hanya bisa diam menerima segala perkataan, perlakuan, dan keputusan pria tanpa bisa menolak, marah, atau berbuat hal asertif lainnya. Kemarahan dan ketegasan wanita tidak membuat wanita kehilangan perasaan atau sisi kewanitaannya. Bahkan, dengan menjadi lebih tegas wanita akan menjadi lebih berkualitas. Oleh karena itu, mari kita dukung sesama wanita untuk bisa mewujudkan hal tersebut.

 

Seni Berbicara Ala Larry King Vs Oh Su Yang, Buku Mana yang Paling Cocok Buatmu?

Review Buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja (Larry King dan Bill Gilbert) dan Bicara Itu Ada Seninya (Oh Su Hyang).



Kamu lagi belajar seni berbicara? Ini ada 2 pembicara hebat yang nggak boleh kamu lewatin bukunya, yaitu Larry King dan Oh Su Hyang.

 

Oh Su Hyang menjadi pembicara berawal dari dipuji gurunya, sedangkan Larry King mengawali karir bicaranya dari menjadi penyiar radio. 

 

Buku mereka yang kubaca adalah versi terjemahannya. Meski sama-sama mengajarkan cara berbicara, keduanya punya persamaan dan perbedaan, yang mungkin akan mempengaruhi kenyamanan membacamu atau bahkan gayamu saat praktek berbicara nantinya.

 

Persamaannya, buku mereka sama-sama bergaya story telling/bercerita dan dibagi dalam poin-poin bahasan yang pendek. Keduanya punya tips tersendiri yang berguna untuk situasi-situasi bicara yang khusus. 

 

Secara layout, buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja lebih enak dibaca dan lebih baik dalam kesatuan, koherensi, serta alurnya dibanding buku Bicara Itu Ada Seninya, kecuali bagian yang semakin ke belakang, tampak semakin membosankan. Selain itu, buku Larry King lebih menceritakan pengalamannya sendiri yang sangat kaya. Kamu akan seolah menonton kisah jatuh bangun Larry King dalam membangun karirnya dengan lumayan detail. Dia cenderung bercerita tentang orang-orang yang nyata dia temui/berinteraksi dengannya. Semacam buku otobiografi yang berfokus pada bidang bicaranya.

 


Berbeda dengan Larry King, Oh Su Hyang itu bukunya lebih panjang-panjang tulisannya/lebih cerewet. Dia bercerita apa saja terutama tentang orang lain atau tentang buku-buku yang pernah dibacanya atau pokoknya hal-hal di luar dirinya. Dia memasukkan campuran wawasan-wawasan lain yang berasal dari luar dirinya, tetapi masuknya hal-hal tadi itu tidak menyatu dengan sempurna, jadi agak "nggrenjel"/kurang enak dibaca. Dalam penyajian bukunya, Oh Su Yang ini lebih mendetail dan lebih kreatif, pake metafora dan segala macem. Selain itu, ajarannya masuk sampai ke teknis olah suara juga.

Jadi, bukunya Larry King itu lebih to the point daripada buku Oh Su Hyang.

 

Kedua tokoh di atas tadi juga ngakunya mulai dari bawah, berlatih dengan giat, dan sangat detail. Mereka berdua bicara tentang persiapan-persiapan sebelum tampil.

 

 Buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja ala Larry King dan buku Bicara Itu Ada Seninya ala Oh Su Hyang itu sama-sama bagus sih. Kalau bisa sih baca aja dua-duanya. Toh, tips-tips dari mereka itu beda kok. Selebihnya, kamu bisa pertimbangkan ulasanku di atas.

Larry King bukunya itu story telling tapi agak-agak poin-poin juga (separuh story telling, separuh to the point/listicle), kalau buku Oh Su Hyang itu lebih full story telling-nya. Kalau kamu tipe dominan otak kanan, mungkin lebih suka ala buku Bicara Itu Ada Seninya, tapi kalau kamu masih agak-agak dominan otak kiri, mungkin akan lebih suka buku ala Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja.

 

Oke, sudah tau belum mau baca yang mana dulu?

 

 



 

 

Review Buku "Bad Childhood, Good Life"

"Bad Childhood, Good Life," how to blossom and thrive in spite of an unhappy childhood

Penulis: Laura Schlessinger


Bad childhood, good life


Pertama baca buku "Bad Childhood, Good Life" ini kamu akan langsung masuk ke sensasi yang berbeda dari buku abuse/trauma/narsis kebanyakan. 


Penulis datang dengan sangat kuat dan walau dia bilang divalidasi dulu lalu ditunjukkan hard truth-nya, tidak terasa empatinya sama sekali. Ini tulisannya halus tapi muatannya kasar. Dia lugas, to the point, blak-blakan dan full nyalah-nyalahin korban/survivor.


Aku ga tahu apa ini termasuk metode CBT (Cognitive Behavior Therapy) apa nggak, yang jelas ini pake pendekatan otak (thinking) atau berpikir. Aku nggak tau metode sekeras ini cocok untuk semua tipe (tipe T/thinking/pemikir) dan (tipe F/feeling/perasa) atau cuma cocok untuk tipe T aja, yang jelas ini kasar dan kamu harus bener-bener menyiapkan mental sebelum baca.


Untuk metodenya sendiri, itu lebih ke pengalihan dan fokus ke dirimu sendiri. Kan ada buku-buku sejenis itu yang masih ngasih cara untuk mengatasi atau meminimalkan risiko kerusakan dari narsis/trauma (misalnya memberi contoh macam-macam manipulasi dari narsis/abuser itu), di sini nggak. Nggak ada. Dia cuma ngurusi moodmu, pikiranmu, perasaanmu, belief-belief-mu, atau tindakanmu biar kamu bisa berfungsi dengan baik. 


Sepertinya, penulis mikir bahwa apa yang kamu alami itu hanya masa lalu dan penyebab kamu bertindak seperti apa yang kamu lakukan sampai sekarang itu sudah nggak ada (abusernya nggak ada/penyebab traumanya udah nggak ada). So, kalau kamu masih bersama dengan abuser-mu, kayaknya buku ini nggak akan bisa berfungsi penuh.


Ingat ya! Kalau kamu mau baca buku ini pastikan kamu dalam kondisi high (siap mental), apalagi kalau kamu orangnya perasa atau mengalami kekerasan emosional, verbal, atau pikiran (gaslighting), harus sangat-sangat menyiapkan mental dulu. 


Buku ini sangat tidak kurekomendasikan. Sangat nggak sehat or maybe penulisnya sendiri narsis atau enabler/flying monkey.


Review Buku "Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist"

"Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist"

Penulis: H.G. Tudor

 

Danger 50 Things You Should Not Do With A Narcissist


"Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist" ini adalah buku yang menarik karena ditulis oleh narsis psikopat. Dia menulis berdasarkan dirinya sendiri dan risetnya atas sesama narsis seperti dia.


Oleh karena itu, ini sangat detail berisi sekalian tentang contoh-contoh perilakunya dan motif-motifnya, tapi lebih ke narsis sebagai pasangan (dalam hal asmara). Kamu akan tahu betapa danger-nya narsis ini dan betapa kamu akan merasa sendirian karena ga ada yang memahami (orang lain termakan taktik dia/terlalu berprasangka baik), termasuk orang-orang religius sekalipun nggak akan ada di pihakmu.


H.G. Tudor ini membuat paket buku tentang narsis dan buku ini hanya salah satunya. Dia juga punya youtube yang isinya juga menginformasikan tentang narsis, cuma menurutku suara dia di sana gak jelas jadi aku lebih suka baca bukunya.


Buku ini sangat worth it dan kupikir aku perlu membaca seluruh paket bukunya. Kamu juga sangat kuanjurkan. Ini dalem banget dan harus kamu pelajari karena korban narsis adalah asing, nyaris nggak akan ada yang memahami kondisimu. Kamu akan bisa baca tahapan-tahapan prosesnya saat narsis berusaha menguasai kamu. Dan dari bahasanya aja kamu akan bisa merasakan betapa kejam dan licik mereka.


Berhubungan dengan narsis itu benar-benar akan menyulitkanmu. Bahkan, walaupun kamu sudah mengetahui info tentang mereka sekalipun. Tapi kamu tetap perlu membekali dirimu dengan hal itu. Sisanya, teruslah berproses untuk bisa mengatasi makhluk-makhluk semacam mereka dengan lebih baik lagi.


Review Buku "The Narcissism Recovery Workbook"

"The Narcissism Recovery Workbook," skills for healing from emotional abuse

Penulis: Brenda Stephens


The narcissism recovery workbook


Satu hal utama yang saya soroti dari "The Narcissism Recovery Workbook" ini adalah buku ini pro korban/survivor. 100% aman. Nggak ada kata-katanya yang nggak enak buat korban/survivor. Dan dia memahami bahwa di kalangan ahli pun banyak yang nggak bener-bener paham mengenai narsis dan  masalah yang ditimbulkannya ini.


Buku ini berwarna tapi gak full. Secara layout menarik, sayang tulisannya kecil banget. 


Kalau di buku-buku narsis yang pernah kubaca kan biasanya solusinya gitu-gitu aja, jadi aku ngintip khusus yang workbook ini beda apa nggak. Lumayan beda sih solusi di buku ini. Mungkin penulis dapet sendiri dan nggak tiru-tiru ahli lain. 


Jumlah halaman totalnya ada 146, tapi itu termasuk teori-teori/pengenalan tentang narsis dan contoh-contoh kasusnya. 


Untuk solusinya, ini lebih ke perbaikan diri sendiri ya, bukan tentang mengatasi narsisnya. Meskipun solusinya agak beda dari buku-buku serupa, aku lihatnya tetep gimana... gitu. Solusinya masih serumpun or mirip-mirip lah ya dan yah... gitu deh.


Untuk ukuran workbook yang tipis, ini udah lumayan banget, cz tadi aku sempat ngintip workbook lain juga nggak terlalu ada kelebihannya walaupun tebel. 


Review Buku "Narcissistic Mothers"

"Narcissistic Mothers," how to handle a narcissistic parent and recover from CPTSD

Penulis: Caroline Foster


Narcissistic mothers


Di antara buku tentang narsis, buku "Narcissistic Mothers" ini spesifik membahas tentang ortu yang narsis, tepatnya ibu yang narsis. CPTSD adalah salah satu efeknya. Jadi, judulnya dijadiin sepaket, bahas narsis dan CPTSD.


Dari warna covernya, buku ini aneh ya, pake warna kuning yang biasa mengindikasikan keceriaan atau kebahagiaan. Tapi, gambarnya menyolok banget tentang ibu yang nyakitin anaknya.


Isi buku ini lebih ke teori. Teorinya lumayan detail. Pemahamannya bagus. Tapi, untuk solusi masih mengawang-awang. Ngglambyar istilahnya. 


Yang kusuka dari buku ini, penulis 99% pro korban/survivornya. Lumayan aman untuk feel mu dan kalo di buku lain masih banyak yang nyalah-nyalahin korban or punya kecenderungan besar untuk menuduh korban akan/pasti jadi narsis berikutnya, buku ini nggak. Cuma 1%. 


Ada 2 hal yang unik sih tapi satunya aku lupa. Di sini, neglect itu juga digolongkan sebagai abuse. Kapan hari aku pernah nonton ahli lain di IG tidak menggolongkan neglect sebagai abuse. 


Ya, intinya penulis pemahamannya bagus tapi kalau kamu nyari solusi dari buku ini kayaknya nggak dapet deh. Istilahnya kayak "Ah gitu doang." Lebih baik nyari solusi dari buku lain yang lebih spesifik dalam menjelaskan hal itu.

 

Review Buku "You can be Happy No Matter What"

 "You can be Happy No Matter What," five principles for keeping life in perspective

Penulis: Richard Carlson


You can be happy no matter what


Buku "You can be Happy No Matter What" ini berisi tentang 5 prinsip untuk bahagia, apa pun yang terjadi. 


Percaya nggak sih, aku tertariknya pada frase "no matter what"-nya. Dia menawarkan apa sih? Emang bisa gitu?


Aku memandang buku ini netral ya, tapi cenderung reject, dalam arti bagiku itu nggak gitu, tapi mungkin saja dia benar. Aku terbuka untuk kemungkinan itu. Mungkin aku aja yang nggak cocok dengan metode dia atau nggak/belum bisa nerapinnya. 


Intinya, di buku ini itu bahagia itu ada dalam kendalimu sendiri. Kalau kamu bisa mengontrol pikiran, perasaan, moodmu, dll tetap baik, kamu pasti nggak akan terpengaruh dengan hal-hal di luar kamu yang bikin nggak bahagia. Idenya itu mirip "detachment" kalau di istilah psikologi. Dan menurutku itu akan berhasil dalam kadar tertentu. Hanya membantu, tidak benar-benar membuatmu full bahagia. Itu bukan berarti kamu Borderline Personality Disorder (BPD) karena terpengaruh lingkungan, tapi hanya terkait kapasitas kemampuan kamu. Ada upaya lain yang tetap harus dilakukan. 


Real aja ya, aku sering dalam kondisi baik atau sangat baik, tapi negativitas lingkungan itu menggempur dengan sangat kuat, seberapa bisa kamu mempertahankan kondisi baikmu? Atau kamu akan menyalahkan dirimu sendiri seharusnya kamu bisa meningkatkan level positivitas pikiran, perasaan, dan moodmu sampai bisa menangani setinggi dan sebanyak apapun, segencar apapun negativitas dari luar?


Yah seperti itu. Aku cenderung "no" terhadap isi buku ini. 

 

Review Buku "You Don't Owe Anyone"

"You Don't Owe Anyone," free yourself from the weight of expectations

Penulis: Caroline Garnet McGraw


You don't owe anyone


Pertama baca judul buku "You Don't Owe Anyone" ini, ia langsung menyedot perhatianku. Abisnya, judulnya unik sih. Beda sendiri gitu. Menyolok di antara yang lain. Antimainstream.


Dan memang ada kondisi saat orang itu merasa berutang pada orang lain atau orang lain yang seolah memaksa kita untuk seperti itu, berutang padanya. 


Kalau mau jujur, apa sih salah satu hal terberat sekaligus perusak kebahagiaan? Jawabannya ekspektasi. Beberapa kali aku nemu di buku-buku relationship rumah tangga hancur atau memburuk gara-gara ekspektasi yang tidak kesampaian. Dalam hal lain pun sama aja kurasa.


Buku "You Don't Owe Anyone" ini berusaha membebaskan kita dari beratnya ekspektasi. Isinya sih seputar boundaries, self care, self compassion, dan semacamnya pada berbagai kondisi yang membuat kita merasa berutang.


Di sela-sela bahasannya, tanpa sungkan penulis menyisipkan pengalaman-pengalaman pribadinya.


Dan yang paling keren dari buku ini adalah ia warm/hangat, empatik, dan sangat safe (aman). Bahasanya itu sangat ramah, pengertian, dan nyaman. Maybe aku bisa merekomendasikan dia sebagai salah satu terapis yang patut kamu coba. 


I know banyak buku yang memuat pengalaman pribadi penulisnya juga, tapi itu nggak bikin tulisannya itu otomatis empatik, halus, dan hangat. Yang kasar atau setengah kasar juga banyak. 


Jadi, coba deh kamu baca buku "You Don't Owe Anyone" ini. Selain merasa relate dan dimengerti, kamu mungkin akan dapat solusi dari masalahmu juga. 

 

Review Buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists"

54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists

Penulis: Dr. David Mc. Dermott


54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists


Ada banyak hal yang bikin aku mutusin untuk baca buku yang mana. Kalau buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists" ini kupilih karena judulnya. 


Perhatikan, judulnya sangat menohok dan to the point, beda dengan buku-buku tentang narsis dan psikopat pada umumnya. Dia langsung menunjukkan "Ini lho saya punya solusinya. Nggak cuma 1, ada 54 malah." 


Kalau kamu sering baca buku tentang narsis atau psikopat, kamu mungkin tau kalau susunannya ya gitu-gitu aja, solusinya juga gitu-gitu aja. Biasanya cenderung 1 atau 2 solusi utama. Paling banter juga nggak sampai 54 solusi I guess. Dan jangan lupa, kalau ngomongin narsis dan psikopat kita ngomongin orang dalam spektrum menyebalkan, toksik, sampai berbahaya. Jadi, kita butuh buku sesimpel mungkin yang bisa memandu kita untuk segera dapetin solusinya.


Nih buku itu enak banget dibaca. Selain halamannya sedikit, poin-poinnya itu sudah langsung memotret ciri-ciri narsis dan psikopat sekaligus langsung memberikan solusinya. Ini detail banget dalam menjelaskan teknik manipulasi yang dilakukan oleh narsis/psikopat tersebut, efek-efeknya terhadap korbannya, serta apa yang seharusnya/tidak seharusnya dilakukan oleh korbannya. Ini sangat spesifik di dalam hal ini dan banyak memuat hal yang tidak ada di dalam buku narsis/psikopat yang lain.


Kalau kubilang sih buku ini cocok untuk kamu yang sudah punya pengetahuan dasar tentang narsis dan psikopat atau yang butuh solusi kilat karena gangguan yang kamu alami lumayan intens atau danger atau mengalami pikiran yang sangat berkabut/bingung/konslet karena hasil manipulasi dari psikopat/narsis tersebut. Dia memang memuat juga tentang ciri-ciri narsis dan psikopat tetapi nggak terlalu melebar. Dia lebih mendalam dan lebih ke solusinya. Kalau kamu lebih butuh untuk mengetahui teori-teorinya, jenis-jenis narsis dan psikopat secara spesifik, latar belakang, dll, kamu lebih cocok baca buku lain. Buku ini bukan yang kamu cari.


Buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists" ini very recommended untuk dibaca. Harus banget dan wajib buanget dibaca. 


Review Buku "The Nice Girl Syndrome"

"The Nice Girl Syndrome," stop being manipulated

Penulis: Beverly Engel


The nice girl syndrome


Nice Girl. Sampai sekarang pun budaya untuk menjadi nice girl masih terus disosialisasikan dan terus ada. Ditambah dengan latar belakang kita di keluarga yang mungkin diasuh dengan cara tidak layak, membuat nice girl ini masih banyak saja sampai saat ini.


Itu belum seberapa, masih banyak belief-belief kita yang salah yang menyebabkan kita untuk terus menyuburkan atau bahkan bangga menjadi nice girl bahkan mungkin untuk selamanya.


Dulu aku termasuk orang yang menganggap nggak penting adanya mindset atau bahasan belief di dalam buku. Terasa teoritis, nggak praktis, atau cuma untuk menuh-menuhin halaman. Kenapa sih banyak buku bahas gituan? Apalagi kadang udah ganti tema buku tapi masih juga ketemu mindset lagi mindset lagi, belief lagi belief lagi. Lambat laun aku unlearning keyakinan tersebut. Mindset dan belief memang penting, bahkan hanya dengan mengubahnya kadang orang bisa mengubah habit-nya atau berubah menjadi orang yang baru seketika.


Jadi, "The Nice Girl Syndrome" ini isinya lebih menitikberatkan pada merusak belief lamamu yang nggak bermanfaat/buruk bagi hidupmu. Ada banyak belief di sini dan ada latihannya juga untuk kamu praktekkan dalam unlearning belief tersebut, lalu kamu diajarkan untuk membangun belief baru yang akan menguatkan/empowering kamu.


Kalau kamu berada dalam fase seperti aku yang dulu, pasti kamu akan menganggap "Nih buku apaan sih. Isinya kok gitu doang." Tapi kalau kamu termasuk yang sudah lewat dari fase tersebut atau sudah memahami pentingnya belief ya mungkin akan setuju kalau buku ini bagus dan bermanfaat.


Isinya lebih ke refleksi diri sih karena kalau kamu sudah lama berada dalam hubungan yang disfungsi/abusive, kemungkinan besar kamu yang ori sudah terhapus. Kamu nggak tahu siapa dirimu yang sebenarnya.


Dan kenapa buku-buku gini ada? Menurutku ya karena nggak semua orang itu lemah, penakut, nggak tau cara asertif, atau nggak tau cara melindungi dirinya sendiri. Kadang ada juga orang yang aslinya asertif, pemberani, kuat, dan tahu cara "menyerang balik" sehingga dia nggak perlu panduan yang terlalu detail tentang langkah-langkahnya. Dia hanya butuh "pembuka pikiran"/"pembuka kesadaran" dan sisanya akan dia bereskan sendiri.


 Nah, buku "The Nice Girl Syndrome" ini sangat bagus untuk orang-orang jenis itu. Sementara untuk jenis yang lain, buku ini lebih berfungsi sebagai pembuka/langkah awal saja. Memperbaiki internalmu dulu (diri sendiri) baru kemudian memperbaiki eksternalmu, dan cara memperbaiki eksternalmu ini bisa kamu dapatkan dari buku lain atau sumber yang lain. Ada sih di buku ini tetapi kurang mendalam. Ada buku lain yang lebih ditujukan untuk menyusun kata-kata atau mengambil aksi yang tepat dalam mengatasi manipulasi atau orang-orang yang sulit/beracun (toxic people).


Buku ini bagus banget dan wajib dibaca oleh semua wanita. Very recommended. 

 

Review Buku "Skip The Guilt Trap"

"Skip The Guilt Trap," simple steps to help you move on with your life

Penulis: Gael Lindenfield


Nih buku covernya nyolok banget. Ada embel-embelnya "International Best Seller" dan "The Million Copy Best Selling Author." Jadi, gak main-main nih, kemungkinan besar akan keren banget isinya. Cuma gambar covernya agak aneh. Gambarnya venus fly trap. Mungkin karena sama-sama ada "trap"-nya kali ya.


Eh tapi beneran lho, isinya ini super keren. Duetil banget dan sangat spesifik dalam menjelaskan masalah shame, guilty, dan terutama solusi untuk masing-masing tipe guilty-nya.


Best seller itu kan kadang karena memang isinya bagus dan kadang karena marketingnya aja yang bagus. Nah, buku "Skip The Guilt Trap" ini termasuk buku yang isinya super bagus, terlepas dari marketingnya yang entah bagus juga apa nggak. 


Buku ini sangat bermanfaat, sangat kaya, daging banget, to the point, padat berisi. Pokoknya dia bakal bantu banget buat kamu yang punya masalah dengan rasa bersalah (guilty atau guilt trap). 

Highly recommended.


Review Buku "Codependent No More"

"Codependent No More," how to stop controlling others and start caring for yourself

Penulis: Melody Beattie


Buku "Codependent No More" ini ada 2 macam, versi teori dan versi workbook (buku kerja). Yang kureview ini versi teorinya.


Buku ini lumayan terkenal di medsos-medsos kesehatan mental, lalu kubaca deh.


Menurut buku "Codependent No More" ini kodependen itu banyak versinya, tapi aku baru tahu. Yang kutahu dan banyak tersebar itu narsis yang banyak versinya, sedangkan kodependen adalah kebalikan dari narsis, dia korban/survivor dari narsis/abuser lainnya atau mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang berbeda (coping mekanisme) di bawah lingkungan yang sama dengan narsis. 


Nah, suatu hari ada orang yang mensabotase pertanyaanku, aku nanya ke pemilik akun tapi dia yang jawab (sambil sembunyi-sembunyi seperti takut diserang oleh follower lain, seperti ga berani jawab langsung cuma berani ngasih link). Aku dikirimi link ilmiah versi dia yang menyatakan kalau narsis itu ya kodependen (ini bener-bener beda ekstrim dan lebih pro ke narsisnya). 


Buku "Codependent No More" ini kan judulnya kodependen, aku pengen tau versi dia. Ternyata, setelah aku bandingkan dengan banyak ahli, termasuk buku ini, bedalah ya narsis ma kodependen. Aku lebih cenderung ke versi yang ini daripada versi yang ekstrim tadi.


Pada buku "Codependent No More" ini, penulisnya, Melody Beattie, berusaha menjelaskan dengan detail apa itu kodependen. Dia juga mencantumkan pengertian kodependen versi berbagai ahli dan versi dirinya sendiri. Tentu saja dia juga mencantumkan ciri-cirinya, walaupun tetep nggak jelas karena nggak ada ciri-ciri pastinya. Ciri-cirinya sangat bervariasi antara orang yang satu dengan orang yang lain. Agar lebih jelas, dia juga menunjukkan contoh-contoh kasusnya dari pengalamannya sendiri maupun dari klien-kliennya. Dan meskipun ada pertanyaan-pertanyaan refleksinya, bagiku dia tidak memberikan solusi apa-apa. Buku ini lebih bersifat membuka pikiran aja biar kamu nyadar kalau kamu kodependen trus kamu nyari solusi sendiri.


Pada beberapa bagian isinya seperti luwes, sedangkan pada sebagian lainnya kaku seperti literatur ilmiah (kurang populer). Sebagian juga lumayan hangat dan empati dan sebagian sisanya tetep nyalah-nyalahin. Bahkan, pada banyak kasus kliennya, klien-klien tersebut harus melabel dirinya kodependen dan menyebut masalah itu terjadi karena dia kodependen. Terlepas dari "agar pulih dari sesuatu kamu harus sadar kalau kamu sakit/ada yang salah," hal itu tetap terdengar kasar dan merupakan pendekatan yang tidak enak kalau dilakukan dengan nyalah-nyalahin.


Sebenarnya, diagnosa kodependen itu sendiri pun masih samar, dan penulis pun mengakuinya. Dulu ada juga buku yang pernah kubaca (yang aku lupa judulnya), ada pendapat lain lagi tentang kodependen, bahwa orang sering disalahartikan sebagai kodependen padahal tidak (aslinya sesuatu yang positif tapi aku lupa apa).


Kodependen sendiri dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu yang tampak sebagai sesuatu yang negatif dan yang tampak sebagai sesuatu yang "positif." Kalau kamu merasa/dianggap sebagai orang baik oleh orang-orang, periksa lagi kamu beneran baik apa malah aslinya kodependen. Banyak orang yang nggak nyadar hal ini.


Secara muatan/isi, buku "Codependent No More" ini bagus kok. Silakan dibaca. Recommended.


Review Buku "Maybe It's You"

"Maybe It's You," Cut the Crap, Face Your Fears, Love Your Life

Penulis: Lauren Handel Zander


"Maybe It's You." Pertama baca judulnya aku nggak punya gambaran buku ini isinya apa karena selain nggak clear aku nggak terlalu paham bahasa Inggris (dan lagi males ngintip terjemahan). Dan ketika baca subjudulnya sudah agak terasa ya kalau gaya penulisnya ini bakal kasar dan blak-blakan.


Gaya blak-blakan ini ditegaskan pula di awal, dia nggak bakal manis-manisin. Dari situ aku uda siap-siap, sekasar apa nih? Cocok nggak buat aku? Nada-nadanya pun bakal pake gaya nyalah-nyalahin, yang pastinya nggak enak banget.


Buku "Maybe It's You" ini isinya tentang changing, perbaikan hidup. Meski judulnya "Maybe", seperti dugaanku, isinya full nyalah-nyalahin. Isinya nggak "Maybe", tapi bener-bener "It's You" (sambil nunjuk ke kamu). Bedanya apa dengan buku lain yang sebenarnya bahasannya sama? Cara penyampaian. Mungkin mereka sama-sama ingin mengubah tapi ini auranya nggak enak. 


Untuk metodenya sendiri secara tertulis beda, tetapi secara inti tidak. Mungkin ada bagian dari kreativitas masing-masing terapisnya. Aku nggak tahu nama metodenya apa, tapi ini tentang kesadaran diri. Lebih ke thinking or logical. Kamu disuruh memikirkan hubungan antara dirimu dengan ucapanmu, belief-mu, inner critic-mu, ortumu, dan lain-lain lalu membuat rencana perubahan dan konsekuensi secara sadar. Ada bagian "menunjukkan"-nya juga, tapi caranya masih kasar.


Sepanjang aku membaca buku ini, dia tidak mengandung daya dorong alami. Kata-kata atau isinya itu nggak menimbulkan daya motivasi atau daya inspirasi otomatis terhadapku. Malahan, aku lebih merasakan aura paksaan. Masih berupa controlling gitu, masih kasaran, nggak alusan, nggak persuasif, dan seperti kataku tadi, nggak menginspirasi dan nggak memotivasi secara otomatis. Kata-katanya tidak punya power ke arah sana. 


Bagus nggak isinya? Bagus kok. Cuma tentang kata-kata tadi aja dan tentang cocok-cocokan metode. Cocok nggak metode ini buat kamu? Dan itu perlu kamu baca dan coba sendiri. 

 

Review Buku "Assertiveness"

"Assertiveness," how to stand up for yourself and still win the respect of others

Penulis: Judy Murphy


"Assertiveness" adalah sebuah buku yang mengajarkan tentang ketegasan dengan tetap menghormati orang lain. Penulis, Judy Murphy, berusaha mengajarkan ketegasan yang sehat, tidak pasif tetapi juga tidak agresif.


Dalam situasi sehari-hari, kita akan sering dihadapkan pada pelanggaran hak, orang yang menyebalkan/toksik, ataupun situasi-situasi yang tidak menguntungkan. Di sinilah sikap asertif kita dibutuhkan.


Mulanya penulis akan mengenalkanmu pada prinsip-prinsip asertif, kemudian mengajarkan bahasa tubuh pendukung ketegasanmu di mata orang lain, serta contoh-contoh penerapan asertivitas pada berbagai pihak dan berbagai situasi/kasus sehari-hari, misalnya pada orangtua, anak, teman kerja, sales, dan bos; bagaimana cara mengajarkan ketegasan kepada anakmu nanti, plus cara mengukur/mengevaluasi apakah pada akhirnya kamu sudah berhasil menjadi lebih tegas/asertif atau belum. Dan pada bagian akhir ada motivasi-motivasinya dan penguat saat masa transisimu (saat kamu belajar menerapkannya).


Enak sih sebenernya, ada contoh-contoh kasus dan strategi/kata-kata asertif yang digunakan, tetapi pada beberapa di antaranya itu seperti susah dilakukan atau susah untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. 


Kalau dari segi bahasa, masih ada bagian yang kasar atau kurang enak di hati. 


Aku belum punya pembanding untuk buku ini karena aku belum terlalu baca buku-buku tentang asertivitas, yang memang temanya spesifik tentang asertif. Kalau buku-buku tentang abuse juga kadang ada bahasan asertifnya tapi kan nggak spesifik bahas tema asertif aja. 


Sementara sih aku masih nilai buku ini kualitasnya sedang. Meski bagus dan bermanfaat, tetapi aku masih kurang puas dengan isinya. 


Review Buku "I Can't Believe You just Said That"

"I Can't Believe You just Said That," the truth about why people are so rude

Penulis: Danny Wallace



Rude/kekasaran itu mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari kita. Di mana-mana orang suka kasar seolah nggak mau ngertiin perasaan orang lain. 


Ketika baca judul buku "I Can't Believe You Just Said That" ini aku tertarik karena aku sendiri merasa ini relate banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Eh barangkali nemu sesuatu yang berguna dari baca buku ini.


Kelihatan ya, tema yang diambil itu beda banget. Lain sendiri. Ada buku tentang orang toksik, ada buku tentang narsis, ada buku tentang asertif, tapi buku ini walaupun secara isi sedikit banyak masih berhubungan dengan hal-hal tersebut tapi judulnya beda banget. Dia bisa berdiri sendiri dengan judul yang menyolok dan lebih familiar. Kalau narsis misalnya mungkin masih ada orang yang belum paham artinya.


Kalau aku nggak salah tafsir ya, dari judul aja bisa terlihat kalau buku ini fokus/lebih menyoroti perbuatan buruknya, bukan pelakunya. Isinya pun gitu, tentang beraneka macam orang di berbagai situasi (di fast food, di jalan, saat interview, dll) dengan kekasaran mereka masing-masing. Penulis mencoba mereka-reka penyebabnya, mencari referensi-referensi ilmiah yang berhubungan, plus mendiskusikan/mencoba menawarkan kemungkinan solusinya.


Dia menjelaskan betapa bahayanya kekerasan itu karena selain bisa menular dengan cepat kepada semua yang menginderanya, dia juga merusak fisik, mental, dan pikiran dari semua orang tersebut. Dia membuat level orang untuk bereaksi negatif meningkat bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya (bagi penulis) netral.


Karena itu dia berusaha meredam dengan respon yang "cenderung ngalahi" walaupun yang salah pihak lain sekalipun. Tips-tipsnya dia bagi di sini.


Buku "I Can't Believe You Just Said That" ini lumayan bermanfaat sih aslinya. Hanya saja formatnya yang berupa story telling dan format layout yang kurang enak dibaca membuat bacanya itu melelahkan banget buatku karena gak nemu-nemu intinya/poinnya.

Baca aja kalau mau. Menarik kok, apalagi karena solusi yang ditawarkan juga unik.


Review Buku "Energy Vampires"

"Energy Vampires," how to protect yourself from toxic people with narcissistic tendencies

Penulis: Tom Sayers


Sesuai judulnya, "Energy Vampires" adalah buku tentang narsis. Penulis menyerupakan narsis dengan vampir yang menyedot energi.


Secara isi sih, kalau kamu udah biasa baca buku ginian, ini sama dengan yang lain (biasa/pasaran). 


Keunggulan buku ini adalah formatnya yang enak dibaca. Dia diusahakan tiap 1 bahasan 1 halaman. Sering-seringnya, 1 bahasan itu pun nggak penuh 1 halaman. Jadi, dia enak dibaca. Dia juga salah satu buku yang bikin aku iri karena boleh pake format ginian. Selain itu, alurnya yang baik dan penulisannya yang jelas (memenuhi unsur clarity) membuatnya semakin enak dibaca.


Seperti buku-buku narsis pada umumnya, dia juga memuat ciri-ciri narsis. Tak lupa dia memberi juga solusi jika kamu berhubungan dengan narsis baik mereka sebagai orangtua, saudara, anak, pasangan, teman, atau lainnya. Meskipun, bagiku pribadi, solusi dia maupun solusi-solusi buku lain pada umumnya terasa gimana ya? Abstrak, nggak terlalu mengatasi masalah/nggak terlalu membantu, atau entah apa.


Anehnya, jika pada buku lain umumnya penulis membahas NPD (Narcissist Personality Disorder) lebih berbahaya daripada narsis (narcissist trait), penulis "Energy Vampires" ini berpendapat sebaliknya. Menurutnya, narsis lebih berbahaya daripada NPD. Pernyataan itu ditunjukkannya melalui perbedaan antara keduanya pada awal buku ini. Dan buku ini adalah tentang narsis tersebut dan bukan NPD.


Jadi, kalau kamu dasar banget/belum tau sama sekali tentang narsis, mungkin bisa lah ya baca buku ini. Tapi, kalau kamu sudah pernah baca/tahu tentang narsis, ya isinya kurang lebih sama dengan buku-buku lainnya (lebih baik cari yang lain).