Tampilkan postingan dengan label Tarung buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarung buku. Tampilkan semua postingan

Seni Berbicara Ala Larry King Vs Oh Su Yang, Buku Mana yang Paling Cocok Buatmu?

Review Buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja (Larry King dan Bill Gilbert) dan Bicara Itu Ada Seninya (Oh Su Hyang).



Kamu lagi belajar seni berbicara? Ini ada 2 pembicara hebat yang nggak boleh kamu lewatin bukunya, yaitu Larry King dan Oh Su Hyang.

 

Oh Su Hyang menjadi pembicara berawal dari dipuji gurunya, sedangkan Larry King mengawali karir bicaranya dari menjadi penyiar radio. 

 

Buku mereka yang kubaca adalah versi terjemahannya. Meski sama-sama mengajarkan cara berbicara, keduanya punya persamaan dan perbedaan, yang mungkin akan mempengaruhi kenyamanan membacamu atau bahkan gayamu saat praktek berbicara nantinya.

 

Persamaannya, buku mereka sama-sama bergaya story telling/bercerita dan dibagi dalam poin-poin bahasan yang pendek. Keduanya punya tips tersendiri yang berguna untuk situasi-situasi bicara yang khusus. 

 

Secara layout, buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja lebih enak dibaca dan lebih baik dalam kesatuan, koherensi, serta alurnya dibanding buku Bicara Itu Ada Seninya, kecuali bagian yang semakin ke belakang, tampak semakin membosankan. Selain itu, buku Larry King lebih menceritakan pengalamannya sendiri yang sangat kaya. Kamu akan seolah menonton kisah jatuh bangun Larry King dalam membangun karirnya dengan lumayan detail. Dia cenderung bercerita tentang orang-orang yang nyata dia temui/berinteraksi dengannya. Semacam buku otobiografi yang berfokus pada bidang bicaranya.

 


Berbeda dengan Larry King, Oh Su Hyang itu bukunya lebih panjang-panjang tulisannya/lebih cerewet. Dia bercerita apa saja terutama tentang orang lain atau tentang buku-buku yang pernah dibacanya atau pokoknya hal-hal di luar dirinya. Dia memasukkan campuran wawasan-wawasan lain yang berasal dari luar dirinya, tetapi masuknya hal-hal tadi itu tidak menyatu dengan sempurna, jadi agak "nggrenjel"/kurang enak dibaca. Dalam penyajian bukunya, Oh Su Yang ini lebih mendetail dan lebih kreatif, pake metafora dan segala macem. Selain itu, ajarannya masuk sampai ke teknis olah suara juga.

Jadi, bukunya Larry King itu lebih to the point daripada buku Oh Su Hyang.

 

Kedua tokoh di atas tadi juga ngakunya mulai dari bawah, berlatih dengan giat, dan sangat detail. Mereka berdua bicara tentang persiapan-persiapan sebelum tampil.

 

 Buku Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja ala Larry King dan buku Bicara Itu Ada Seninya ala Oh Su Hyang itu sama-sama bagus sih. Kalau bisa sih baca aja dua-duanya. Toh, tips-tips dari mereka itu beda kok. Selebihnya, kamu bisa pertimbangkan ulasanku di atas.

Larry King bukunya itu story telling tapi agak-agak poin-poin juga (separuh story telling, separuh to the point/listicle), kalau buku Oh Su Hyang itu lebih full story telling-nya. Kalau kamu tipe dominan otak kanan, mungkin lebih suka ala buku Bicara Itu Ada Seninya, tapi kalau kamu masih agak-agak dominan otak kiri, mungkin akan lebih suka buku ala Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja.

 

Oke, sudah tau belum mau baca yang mana dulu?

 

 



 

 

Tarung Buku tentang Happy Brain

1. Buku 1:

"35 Tips for a Happy Brain," how to boost your oxytocin, dopamine, endorphins and serotonin

Penulis: V. Noot

 

35 Tips for a Happy Brain

2. Buku 2:

"Happy Brain," boost your dopamine, serotonin, oxytocin & other neurotransmitters naturally. Improve your focus and brain functions

Penulis: C. Kancel


Happy Brain

Kedua buku ini adalah buku tentang neurotransmitter-neurotransmitter otak yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang (hormon bahagia/hormon kebahagiaan). 


Mereka sama-sama mini book/buku mini yang bisa habis dibaca dalam sekali duduk. Buku ke-1 sebanyak 33 halaman, buku ke-2 sebanyak 47 halaman.


Pada intinya, isi dan formatnya sama, berupa penjelasan singkat neurotransmitter, manfaat, lalu cara meningkatkannya. Bedanya, neurotransmitter pada buku ke-2 lebih banyak jenisnya. Pada buku ke-1 hanya ada 4 neurotransmitter, yaitu oksitosin, dopamin, endorfin, dan serotonin, sementara pada buku ke-2 ada 8 neurotransmitter, yaitu dopamin, serotonin, endorfin, asetilkolin, epinefrin, norepinefrin, glutamat, dan GABA. Anehnya, buku ke-2 tidak mengandung bahasan oksitosin seperti yang tertulis pada covernya. Bahasan dan cara menyusunnya sama, kecuali neurotransmitter tambahan tersebut dan buku ke-2 ditutup dengan cara meningkatkan kinerja otak secara keseluruhan. 


Agar lebih bahagia/happy salah satu yang bisa dilakukan adalah olahraga teratur. Olahraga apa saja. Kamu bisa fitnes misalnya menggunakan alat fitnes pengecil perut atau alat fitnes rumahan multifungsi, melakukan senam pelajar pancasila atau senam sicita, atau bahkan aerobik. Latihan aerobik yang dilakukan secara teratur dengan takaran yang cukup akan memperbaiki kerja jantung dan pastinya baik untuk tubuh. 


Kembali pada kedua buku tadi, kali ini kita bahas covernya. Untuk covernya, aku lebih suka buku ke-2 karena lebih kreatif dan ceria seperti judul dan isinya. Untuk cara penulisan, aku lebih suka buku pertama karena tulisannya besar-besar dan lebih straight/sesuai kebutuhan orang awam sepertiku. Secara keseluruhan, aku juga lebih suka buku "35 Tips for a Happy Brain", tetapi kalau kamu butuh jenis yang lebih lengkap, kamu mending milih buku "Happy Brain."

Tarung Buku "Dopamine Detox"

Buku 1:

Dopamine Detox karya Thibaut Meurisse (disingkat DDTM)

A short guide to remove distractions and get your brain to do hard things


Dopamine Detox (Thibaut Meurisse)


Buku 2:

Dopamine Detox karya Linda Hill (DDLH)

The step by step guide to overcome addictions, break bad habits and stop obsessive thoughts

Dopamine Detox (Linda Hill)

Unik, judul kedua buku ini persis sama, tapi sub judul dan penulisnya kok beda. Apakah penulisnya benar-benar beda? Karena dalam dunia tulis itu orang bisa jadi siapa saja. Aku pernah tahu ada penulis yang pake nama pena beda gender pada buku karyanya. Dan apakah isinya beda? Pas aku nemu kedua buku ini aku sempat bingung karena hal-hal di atas, termasuk apakah buku-buku tersebut bener-bener beda atau beda cover aja setelah revisi atau cetak ulang. 


Akhirnya, aku baca keduanya. Pikiran pertamaku adalah buku-buku ini isinya bakal mirip buku-buku tentang otak karena dopamin adalah salah satu neurotransmitter otak, ternyata nggak. Isi buku DDTM lebih ke buku tentang fokus, sesuai judulnya; sedangkan isi buku DDLH lebih ke gabungan antara buku tentang motivasi, fokus, habit, procrastination, produktivitas/manajemen waktu, dan pikiran negatif. Format ini membuatnya lebih luwes daripada buku tentang otak pada umumnya, hanya saja meski pada sub judul DDLH itu memuat kata kecanduan dan obsesi jangan dibayangkan seperti buku-buku tentang terapi kecanduan yang biasa ditulis oleh psikolog, psikiater, atau lainnya karena ini luwes dan nggak sedalam itu.


Dopamin ini adalah neurotransmitter yang sangat berhubungan dengan motivasi, fokus, reward instan, kebiasaan, penunda-nundaan, kecanduan, dll. Kalau kamu bermasalah dengan susah konsentrasi, suka menunda-nunda dan multitasking, kecanduan, kurang perencanaan akan masa depan, maka kamu mungkin bermasalah dengan dopamin. Kamu mengalami overstimulasi sehingga dopaminmu harus di-detoks. Istilah detoks dopamin itu sebenarnya kurang tepat tapi kedua penulis tersebut tetap memakainya dan menjelaskan alasannya di buku mereka.


Jadi, saat dopaminmu tadi bermasalah, kamu jadi mager, sulit fokus, dll. Saat kamu ingin mengatasinya, kamu butuh buku yang tipis-tipis aja, wong lagi mager dan bad mood. Kedua buku ini cocok karena sama-sama punya halaman sedikit. DDTM 48 halaman, cocok kalau kamu lagi mager/susah fokus parah atau lagi hari-H mager, sedangkan DDLH lebih cocok kalau nggak lagi hari-H karena lebih detail dan lebih tebal.


Secara isi, pada intinya sama, dan semua bagian DDTM sudah termasuk di dalam DDLH (DDTM semacam versi mini dari DDLH). DDLH lebih lengkap dan lebih dijelaskan satu-satu bagian-bagiannya. Jadi, semua bagian DDTM ada di DDLH, sedangkan apa yang dibahas di DDLH tidak semuanya ada di DDTM, misalnya tentang makanan untuk otak dan aktivitas gelombang otak.


Jadi, kamu lebih suka yang mana?