(Gb. Seorang ayah terkejut tetapi senang melihat anak-anaknya ternyata rajin membaca)
Benarkah Orang Indonesia Malas Membaca?
Sejak beberapa tahun terakhir, berbagai pihak santer menyebarluaskan narasi bahwa minat baca orang Indonesia rendah. Judul-judul berita, unggahan media sosial, hingga pernyataan pejabat sering kali menyampaikan satu pesan yang sama: rakyat Indonesia sangat malas membaca. Sebagai orang Indonesia, kita merasa malu pastinya. Apalagi, banyak orang Indonesia yang langsung percaya dan membuat penyebarannya menjadi semakin masif.
Ironisnya, jika kita benar-benar membaca data, kritik tentang rendahnya minat baca itu sendiri sering kali lahir dari pemahaman yang dangkal terhadap data yang sama. Mereka yang menyebarkan berita tersebut kemungkinan besar tidak membaca, hanya menyontek media lain, atau kurang memahami konteks datanya.
Pentingnya Memahami Apa yang Diuji pada Setiap Skor Membaca Kita
Ada banyak tes tentang membaca. Penyelenggaranya pun berbeda-beda. Baik UNESCO, PISA, CCSU, atau lainnya, masing-masing memiliki lingkup uji dan data sendiri-sendiri. Oleh karena itu, pertama-tama kita perlu mengetahui apa yang sebenarnya mereka uji. Seperti pada data UNESCO misalnya, tingkat melek huruf pada orang Indonesia berusia 15 tahun ke atas pada 2020 mencapai 96%, jauh di atas rata-rata global. Artinya, sebagian besar penduduk Indonesia bisa membaca huruf dan kalimat dalam konteks dasar sehari‑hari (Theglobaleconomy.com).
Meskipun demikian, ada juga data lain yang sering diklaim berasal dari UNESCO, yaitu klaim bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang yang diuji hanya 1 orang yang “gemar membaca”. Berbagai pihak dan media sering mengutip data ini dengan embel-embel yang begitu buruknya, padahal ini hoaks. Gol A Gong, sebagai Duta Baca Nasional periode 2021-2026 pun telah menepisnya dengan membawa klarifikasi resmi dari UNESCO (Detik.com).
Selain data dari UNESCO, ada pula data lain yang sering disebut. Data itu adalah hasil studi World’s Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke‑60 dari 61 negara. Namun, penting dicatat bahwa studi tersebut bukan mengukur minat baca harian individu, melainkan berbagai indikator struktural seperti ketersediaan perpustakaan, sirkulasi surat kabar, infrastruktur pendidikan, dan faktor lain yang berbeda dari membaca secara sukarela. (GoodStats.id).
Di antara semuanya, barangkali data yang paling sering dipakai untuk memperkuat narasi “minat baca rendah” adalah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) oleh OECD. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca pelajar Indonesia mencapai 359 poin, jauh di bawah rata‑rata global yang sebesar 437 poin. (Theglobaleconomy.com).
Namun, seperti pada data CCSU, data PISA ini pun bukan mengukur tentang minat membaca, melainkan kemampuan memahami, menginterpretasi, dan mengevaluasi teks kompleks dalam konteks sekolah dan pembelajaran formal. Data ini lebih merupakan tolok ukur kualitas literasi pendidikan, bukan sekadar seberapa sering seseorang membaca novel atau artikel berita.
Dengan kata lain, jika ekstrakurikuler sekolah atau gaya belajar di rumah lebih mengutamakan hafalan daripada refleksi dan analisis, skor PISA bisa rendah. Selain itu, minat baca pun sebenarnya bisa berbentuk aktivitas membaca lain seperti media digital, fanfiction, artikel berita, atau buku ringan.
Angin Segar Bagi Literasi Indonesia
Tak hanya berdasarkan hasil riset dari luar negeri, Indonesia pun tak ketinggalan ikut mengukur tingkat literasi di negeri sendiri. Kabar baiknya, data nasional kita menunjukkan arah positif. BPS dan Perpustakaan Nasional mencatat bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) meningkat dari sekitar 66,77 poin (2023) menjadi 72,44 poin (2024), yang merupakan indikator komprehensif minat dan kebiasaan membaca masyarakat. Selain itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional juga menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir (Perpusnas.go.id).
Angka-angka ini menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia mulai membaca lebih sering, bahkan dibarengi transformasi layanan perpustakaan digital dan inklusi literasi yang meluas ke desa, puskesmas, serta institusi lain (perpusnas.go.id).
Mengapa narasi “Indonesia malas membaca” begitu populer?
Setelah mengetahui berbagai fakta di atas, wajar jika kemudian orang menjadi bertanya-tanya, “Mengapa narasi “Indonesia malas membaca” begitu populer?” Jika kita amati lebih jauh, kesalahan dari pemberitaan-pemberitaan di atas berbeda-beda. Ada yang beritanya sepenuhnya salah, ada pula yang datanya benar tetapi dipahami atau disimpulkan secara salah. Hal itu karena banyak pihak membaca angka secara kuantitatif saja (ranking, skor tes, persentase) tanpa membaca apa yang diukur, bagaimana konteksnya, dan apa artinya dalam kehidupan nyata. Mereka gagal membaca secara mendalam.
Aktivitas Membaca Tidak Hilang, tetapi Hanya Berubah Bentuk
Selama ini, media sosial disebut-sebut sebagai dalang dari “rendahnya budaya baca” bangsa kita. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar. Malahan, di media sosial, kita bisa menemukan berbagai komunitas buku seperti BookTok, Bookstagram, klub buku daring, dan diskusi literasi aktif di berbagai platform, yang menunjukkan minat baca masih kuat di kalangan generasi muda. Aktivitas membaca tidak hilang, tetapi berubah bentuk dalam era digital (Reddit.com).
Permasalahan Literasi Kita yang Sebenarnya
Jika memang minat baca kita tidak rendah, jadi apa masalah literasi kita yang sebenarnya? Masalah kita tak lain adalah kurangnya ketersediaan bacaan berkualitas di banyak daerah serta ketimpangan akses perpustakaan dan fasilitas literasi. Contohnya, rasio koleksi buku terhadap jumlah penduduk di banyak wilayah masih jauh di bawah standar internasional. Begitupun infrastruktur perpustakaannya, masih sangat terpusat (Kompas.id). Selain itu, perhatikan pula mengenai keterjangkauan dalam mengaksesnya/pengoperasiannya dan juga keramahan petugasnya. Nyatanya, pada berbagai aplikasi dan web terkait pinjam-meminjam di Indonesia seringkali error atau koleksinya terlalu minim jumlah dan jenisnya.
Budayakan Membaca Sebelum Mengkritik
Intinya, Indonesia memang memiliki masalah literasi, tetapi bukan tentang minat baca rendah. Oleh karena itu, penting untuk membaca realitas struktural ini dengan akurat, bukan malah menjadikannya alasan untuk memvonis masyarakat secara moral.
“Rendah teriak rendah”, kritik tentang kurangnya budaya membaca sering kali muncul karena pengkritik itu sendiri yang tidak membaca data dengan cermat, tidak membaca metodologi dengan teliti, dan tidak mengerti apa yang sebenarnya diukur. Jika kita ingin Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang literat, kita perlu memahami data dengan konteks. Jangan sekadar mengejar skor internasional yang tinggi, tetapi kuatkan juga pemahaman kritis dan partisipasi aktif masyarakat dalam dunia pengetahuan. Untuk itu, kita perlu merancang intervensi kebijakan yang tepat: dari pendidikan yang mengajarkan literasi tingkat tinggi, hingga perluasan akses bahan bacaan berkualitas di seluruh pelosok negeri.
Sejatinya, kebiasaan membaca tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang membuka buku, tetapi juga dari seberapa dalam pemahamannya. Oleh karena itu, sebelum mereka (oknum-oknum tersebut) menuduh rakyat Indonesia “malas membaca”, pastikan dulu mereka telah membaca dan memahami apa yang hendak mereka bicarakan.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)