20 Februari 2026

Bukan Soal Drama, Ini Alasan Sebenarnya Kenapa Cewek Dibilang Suka Kode-Kodean

Cewek kode-kodean ke cowok (flirting)
Cewek kode-kodean ke cowok (flirting)

 

Penasaran ya kenapa kamu sering denger cowok ngatain cewek suka kode-kodean?

Penjelasanku ini mungkin bakal di luar bayanganmu.

 

Di dunia, orang dengan MBTI S (Sensing) lebih banyak daripada MBTI N (Intuiting).

Sekitar 70-75% dari populasi global (terutama di budaya barat dan Asia) → Sensing (S)

Sekitar 25-30% → Intuiting (N)

 

Persentasenya bisa beda-beda tergantung budaya, profesi, gender, tapi pola umumnya tetap sama:

Sensing (S) > N (Intuiting)

 

Selain di dunia memang banyak S-nya, cowok sendiri juga lebih banyak S-nya daripada cewek.

Hal itu karena kombinasi antara preferensi kepribadian, pola sosial, dan cara komunikasi yang diasah sejak kecil.

 

Perbandingan Cowok S dan Cewek S:

Sekitar 75% cowok → S

Sekitar 65% cewek → S

Jadi, pada kedua gender lebih banyak S-nya.

 

Beda S dan N:

Sensing (S):

  • Fokus: fakta, detail, pengalaman nyata
  • Cara belajar: langsung, konkret, berdasarkan data
  •  Gaya komunikasi: to the point, step by step
  • Contoh: “Buktinya apa?”

 

Intuiting (N):

  • Fokus: pola, mana, kemungkinan
  • Cara belajar: abstrak, metafora, asosiasi bebas
  • Gaya komunikasi: ide lompat-lompat, sering pakai analogi, perumpamaan, kiasan.
  • Contoh: “Gambaran besarnya apa?”

 Kenapa cowok sering minta komunikasi yang jelas/lugas, nggak implisit/kode-kodean:

 

1.    Cara kerja MBTI Sensing (S), suka: 

  • Hal konkrit, langsung, eksplisit
  • Informasi yang bisa dicek, dilihat, dirasakan
  • Kurang nyaman dengan "kode", "perasaan implisit", atau "subteks"

Otaknya gak diprogram buat baca makna tersembunyi

 

2.    Pengaruh Sosial & Budaya Gender

Di banyak budaya:

  • Cowok diajarin untuk langsung, efisien, problem-solving
  • Cewek diajarin untuk peka, membaca situasi, “halus” secara sosial

 

Hasilnya:

  • Cewek lebih terbiasa baca “nuansa”
  • Cowok lebih terbiasa tanggapi “teks, bukan konteks”

Bukan soal “cewek implisit, cowok to the point” secara biologis, tapi “dibiasakan sejak kecil.”

 

3.    Otak cowok bukan tidak bisa membaca makna, tapi fokusnya beda

Beberapa studi neurologi menunjukkan:

  • Otak cowok cenderung lebih fokus dan terarah
  • Otak cewek lebih terdistribusi dan relasional

 

Makanya:

  • Cowok bisa lebih jago deep focus (misalnya di tugas teknis)
  • Cewek lebih cepat tangkap konteks sosial (termasuk “perasaan yang gak dikatakan”)

 

Tapi ini “gak hitam-putih”. Banyak cowok juga intuitif banget. Sebaliknya, banyak cewek juga to the point banget.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah

Inikah Versi Keren bagi Kaum Adam?


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel asmaraku lainnya di sini:

Review buku "Red Flags"

Review buku "Just Send the Text"


Baca seluruh artikel asmaraku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/asmara

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Aku sendiri juga ga suka kalo cowok nganggep cewek pinter baca kode cowok.

Cewek bukan dukun, mereka juga ga bisa baca kode, atau tidak selalu tepat.

 

Jadi, kesimpulannya, cowok yang suka teriak2/ngeluh cewek suka kode-kodean, kemungkinan besar adalah cowok Sensing (S) yang mengeluhkan pacarnya/mantannya (cewek) yang MBTI-nya Intuiting (N).

 

Sedangkan cowok yang teriak-teriak di medsos sehingga menjadi viral, kemungkinan mengandung E (ekstrovert), sehingga dia mungkin MBTI ES (Ekstrovert Sensing).

Artinya, gak semua cowok gitu.

Tapi karena yang suka teriak itu cowok yang ngeluh gitu (cowok yang kemungkinan ES tadi), jadi kayak viral di medsos. Padahal, itu emang kelompok S sendiri, yang keluhannya diviralkan oleh ES. 

Orang E itu energinya ke luar, ekspresif, spontan, dan suka interaksi sosial.

Mereka suka respons cepat, komentar, dan debat.

Kalau dikombinasikan dengan S (jadi ES), mereka akan ngomong blak-blakan, gak suka basa-basi. Tegas dan ekspresif.

 

Jadi, cowok ES (Ekstrovert Sensing) cenderung:

  • Lebih ekspresif
  • Sering ngomong panjang, dan
  • Terbuka soal apa yang mereka pikirkan

 

Dan karena manusia itu kebanyakan MBTI-nya S dan pada masing-masing gender S itu juga lebih banyak, maka peluang S muncul emang lebih besar.

Ditambah dengan faktor2 lain tadi (pola asuh & budaya), akhirnya kayak semua cowok gitu.

Padahal, cowok N (Intuiting) juga ada, dan mereka biasanya lebih nyaman dengan implisit, metafora, perumpamaan, kiasan, dan subteks. (dan mungkin juga lebih bisa baca kode)

 

Kuncinya, nggak usah ngeluh, nggak usah ngeladeni cowok yang teriak-teriak kayak gitu, cukup:

  • Menyesuaikan diri dengan pasanganmu/komunikasikan dengan baik, atau
  • Cari yang emang cocok denganmu

 

Cowok yang teriak-teriak ngeluh di medsos kayak gitu belum dewasa.

Bukannya ngomong langsung ke pasangannya untuk cari solusi langsung eh malah ngrasani di medsos, trus nyari sesama cowok buat ngrasani bareng2, jelek2in cewek.

 

Nyatanya, cewek pun sering ketemu cowok yang suka ngomong kode-kodean atau menafsirkan implisit-implisit.

Cewek sudah bilang apa adanya/lugas eh dicari-cari arti di baliknya.

Jadi, kekesalan tersebut ga cuma menimpa cowok. 

 

Lagian ya, kode-kodean juga bisa terjadi karena salah satu pihak menganggap pihak lain gak aman: entah takut dia marah, untuk jaga hatinya (biar ga bikin dia minder misalnya), untuk mudahin dia tanpa bikin dia tersinggung atau malu, atau lainnya. Gak semua tapi ya.

Apapun itu, kalau itu parah banget, ya artinya kalian gagal komunikasi → Mending cari cowok lain/pasangan lain.

Dibikin simple aja deh ya.

 

 

14 Februari 2026

Menara Kayangan: Cahaya Magis yang Menghubungkan Langit dan Bumi di Kalimantan

ilustrasi menara kayangan (contoh 1)
Ilustrasi Menara Kayangan (bukan desain yang sebenarnya)

 

Kalimantan adalah pulau yang kaya potensi wisata, tetapi sayang masih banyak orang yang mengenalnya hanya sebatas “hutan” dan “orang utan”-nya. Meskipun mall-mall telah menjamur di sana, yang dikenal orang masih saja tentang kesan kurang modern, hutan, dan kebakaran tahunan. Kita perlu memperbaiki citra ini dan mengemas hutan di Kalimantan dengan lebih baik. Hutan yang tak sekadar hutan, tetapi hutan fantasi. Hutan yang fantastis karena di dalamnya terdapat menara yang spektakuler, yaitu Menara Kayangan.

Menara Kayangan ini nantinya akan bertempat di Sepaku/Muara Badak, karena keduanya berada di perbatasan Balikpapan-Samarinda, area yang paling siap di Kalimantan dan paling potensial menjangkau pasar domestik maupun mancanegara. Selain itu, letaknya yang dekat IKN sangat mendukung untuk dikunjungi masyarakat sekitar dan pekerja IKN, pejabat, serta tamu negara, terutama sebagai sarana hiburan atau relaksasi. Ia akan ditempatkan di tempat strategis dan menghadap ke alam terbuka, seperti pegunungan, sungai, atau hutan, sehingga semakin menunjang majunya wisata alam. Dengan cara ini, menara tak hanya akan menjangkau negara-negara tetangga tetapi juga negara jauh yang pernah berkunjung ke Indonesia.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel pembangunanku lainnya di sini:

Etalase kemewahan: negara dalam pajangan, rakyat dalam angan (satire)


Baca seluruh artikel pembangunanku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pembangunan

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

­­­Selain pemilihan lokasi, menara juga didesain sedemikian rupa agar tampak lebih menonjol dari sekitarnya, misalnya dengan lanskap berundak dan tinggi menara yang dibuat melampaui obyek-obyek di dekatnya, maupun dengan desain cahaya yang luar biasa. Gerakannya yang seperti aura atau nyala api lembut, dengan bentuk yang bisa diatur menurut waktu, seperti bentuk spiral atau berkilauan bak bintang jatuh, semakin memudahkan cahaya ini dalam mengalahkan polusi-polusi cahaya di sekitarnya.

Efek yang mengesankan menara “hidup” tersebut bisa kita capai melalui:

·      Pemilihan lampu LED RGB:

Memudahkan kita mengubah warna dan intensitas cahaya menara, mendukung perubahan bentuk cahaya yang dinamis, dan mampu menciptakan efek aurora atau kilauan lembut, bintang jatuh, atau bentuk spiral yang berubah-ubah, sesuai perubahan waktu atau acara. Ia dapat difokuskan pada area tertentu untuk mengurangi polusi cahaya pada ekosistem sekitar.

·      Teknologi Pencahayaan Canggih:

Sinkronkan antara sistem pencahayaan otomatis dengan sensor cuaca, angin, atau gerakan untuk menciptakan efek yang dinamis dan misterius, misalnya cahaya bisa memanjang atau berputar mengikuti gerakan angin saat angin kencang berembus.

·      Proyeksi Dinamis:

Gunakan proyektor yang dapat menampilkan gambar 3D atau pola bergerak di sekitar menara untuk meningkatkan efek dramatis dan magisnya, seperti bintang yang melesat, galaksi yang berputar, atau silhouette bidadari yang terbang mengelilingi menara. Efek ini dapat mempertajam visual cahaya serta bisa disinkronkan dengan waktu atau acara tertentu, sehingga akan semakin memukau penonton.

·      Cahaya yang Terpadu dengan Alam:

Penggunaan sensor dan teknologi terarah, misalnya lampu sorot terarah, membantu memfokuskan cahaya hanya pada bagian yang diinginkan, sehingga tidak mengganggu hewan atau lingkungan sekitar.

 

Ilustrasi Menara Kayangan (contoh 2)
Ilustrasi Menara Kayangan (contoh 2, bukan desain yang sebenarnya)

 

Secara umum, bagian-bagian menara dapat diamati pada tabel berikut:

 Tabel menara kayangan (atas)

tabel menara kayangan (bawah)

 

Jadi, untuk memajukan potensi wisata di Kalimantan, kita bisa membangun Menara Kayangan ini, dengan desain seperti di atas.