05 Maret 2026

Review Buku "Bergulat dengan Diri"

 

cover buku "Bergulat dengan Diri" oleh Kevin Nobel Kurniawan
Cover buku Bergulat dengan Diri


BERGULAT DENGAN DIRI

(Kumpulan Refleksi tentang Tantangan & Perkembangan Hidup Manusia)

Penulis: Kevin Nobel Kurniawan


Ini adalah buku yang kupilih random aja, asal berbahasa Indonesia. Kalau dilihat dari cover pun tidak menarik, sedangkan judul Bergulat dengan Diri itu agak abstrak atau setidaknya sangat luas, gulat bagian apanya. Tapi pikiranku sih mungkin mengatasi masalah-masalah internal di diri, terutama terkait refleksi. Taunya nggak. Loh ini kok lebih bahas tentang orang lain, toksik-toksik, dll.


Pas aku baca, aku lebih bingung lagi. Karena ini kan diformat sebagai tulisan terpisah yang dijalin membentuk satu tema utama, taunya kok nggak nyambung. Ini nggak hanya gak sesuai judul, tapi juga nggak terbentuk benang merah antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Aku gak tau ini masuk ranah apa, apa kesatuan, koherensi, atau sekadar alur/plotnya aja yang nggak nyambung?


Ini tulisannya juga masih perlu lebih padat, masih bertele-tele (wordy banget). Selain itu, tulisan di buku ini sangat emosional (aura emosi), sangat judgemental (menghakimi), dan sangat hitam-putih. Penulis seperti memiliki atau melihat satu perspektif saja. Akhirnya jatuhnya terasa seperti "Kamu kalau nggak golongan 'ini'/nggak ngelakuin 'ini' maka kamu salah/buruk." Kepercayaan diri yang kuat pada pada pendapatnya, tetapi tidak diimbangi dengan perspektif yang luas. Kayak setiap orang itu hanya melalui peristiwa yang seragam.

Aduh bacanya menimbulkan aura yang nggak enak banget.


Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well 

It's okay not to get along with everyone

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel hubunganku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/hubungan


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Menurutku, buku ini akan lebih baik jika covernya dipercantik, plot/alurnya diperbaiki, judulnya diperbaiki (judulnya salah dan kurang spesifik), trus nulisnya itu yang lebih woles dan padat. Selain itu, cobalah untuk lebih memahami betapa beragamnya manusia ini. Buku ini sebenarnya bisa bagus, dan mungkin lebih cocok untuk format buku-buku mini (yang tulisannya dikit dan gambar banyak atau space/ruang lega) karena bagian penting dari buku ini mungkin akan banyak berkurang jika wordy-nya diperbaiki. 


04 Maret 2026

Membuka Karung Kucing Demokrasi: Reset Politik untuk Mengembalikan Fungsi Partai

pemilu kucing (membeli kucing dalam karung)
Membeli kucing dalam karung dalam pemilu

Setiap pemilu, rakyat diminta mencoblos dengan penuh tanggung jawab. Namun, pada saat yang sama, rakyat justru dipaksa membeli kucing dalam karung. Surat suara dipenuhi dengan wajah-wajah yang asing, baliho bertebaran tanpa informasi berarti, dan rekam jejak caleg harus dicari sendiri oleh pemilih dalam waktu terbatas. Demokrasi kita terasa seperti ujian tebakan, bukan proses memilih wakil secara sadar.

 

Fenomena ini bukan perasaan semata. Berbagai laporan dan liputan media menunjukkan bahwa masyarakat di banyak daerah tak mengenal para calegnya. Meskipun poster dan baliho memenuhi jalanan, keduanya hanya memuat foto, nama, dan nomor urut calon. Tanpa sumber informasi lain, kita tidak akan tahu visi misi, program kerja, atau kontribusi nyata mereka(Nu.or.id). Akibatnya, pemilih kerap mencoblos asal-asalan, mengikuti popularitas partai, atau sekadar berharap tak salah pilih.

 

Masalahnya bukan karena rakyat malas mencari tahu, melainkan karena sistemnya. Sejak awal, sistemnya tak dirancang untuk memudahkan rakyat mengenal calon wakilnya. Dilansir dari situs resmi KPU Pemilu 2024, 43,2% caleg DPR tidak mengisi informasi program kerja, dan sekitar 18,5% caleg menutup profilnya. Angka yang cukup besar untuk dianggap sebagai kekurangan teknis semata. Sebaliknya, ini kesalahan sistemik.

 

Secara normatif, kondisi ini seharusnya tidak terjadi. UU Pemilu dan PKPU Nomor 6 Tahun 2024 dengan tegas menyebut bahwa proses pemilu harus berpedoman pada prinsip mandiri, jujur, adil, tertib, terbuka, profesional, dan akuntabel. Namun lucunya, untuk mendapatkan caleg yang benar-benar terbuka, rakyat justru harus menunggu kesadaran sukarela dari caleg dan parpol itu sendiri, atau bahkan belas kasihan mereka. Padahal, mereka mengaku mewakili rakyat. Bambang Soesatyo, yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPR RI, bahkan pernah mendesak parpol peserta Pemilu 2019 untuk menegur dan menghukum calegnya yang menutup data pribadinya (Medcom.id). Sementara itu, KPU pun tak jauh beda, hanya bisa melayangkan surat imbauan ke parpol tersebut karena terbentur oleh pasal 17 huruf h UU tentang Keterbukaan Informasi Publik. Adu Undang-Undang nih ceritanya. Kalau PKPU dan ketua DPR saja tidak berdaya, apalagi kita yang rakyat biasa ini? Kita dibingkai dan dipaksa untuk mengikuti permainan mereka.

 

Lalu pertanyaannya sederhana: siapa yang membuat Undang-Undang itu? Jawabannya kembali ke DPR, lembaga yang anggotanya berasal dari caleg, dan caleg itu sendiri diusung oleh parpol. Di titik inilah lingkaran masalahnya terlihat jelas. Sistem pencalonan, regulasi keterbukaan, hingga mekanisme pengawasan, semuanya berputar di aktor yang sama. Akhirnya, lagi-lagi rakyat yang harus menanggung akibatnya.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel pembangunanku lainnya di sini:

Etalase kemewahan: negara dalam pajangan, rakyat dalam angan (satire)


Baca seluruh artikel pembangunanku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pembangunan

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Wajar jika kemudian hasil survei tingkat kepercayaan publik yang dilakukan oleh Indonesia Political Opinion (IPO) periode Mei 2025 menunjukkan bahwa partai politik menempati posisi terbawah dalam tingkat kepercayaan publik, hanya 43%, sejajar dengan KPU (43,5%) dan DPR (45,8%). Bandingkan dengan Presiden (97,5%) dan TNI (92,8%) yang berada di puncak kepercayaan. Jelas sekali bukan bahwa publik tak percaya lagi pada institusi perwakilan dan partai politik, dan ketertutupan dalam pencalonan menjadi salah satu penyebab utamanya.

 

Ironisnya, dokumen resmi KPU menunjukkan keseriusan luar biasa bagi peserta pemilu (kota-cimahi.kpu.go.id):

·      Pendaftaran, verifikasi, dan penetapan peserta dijalankan dengan harmonisasi peraturan, koordinasi pemerintah daerah, serta rujukan keputusan Mahkamah Konstitusi,

·      Sengketa proses bahkan bisa berujung Pemungutan Suara Ulang (PSU), dan

·      Semua prosedur dijalankan untuk melindungi kepastian peserta pemilu.

 

Namun, bagi pemilih:

·      Akses informasi caleg tidak dijamin, hak ini dianggap “opsional”.

·      Rakyat harus menebak program kerja dan rekam jejak calon, karena keterbukaan bersifat sukarela.

·       Asas LUBER dan JURDIL (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, Adil) secara substantif menjadi formalitas belaka, karena “jujur dan adil” lebih melindungi peserta daripada pemilih.

 

Padahal, tanpa informasi yang memadai, hak memilih akan kehilangan makna, dan asas “langsung, umum, bebas” berubah menjadi formalitas belaka.

 

Akibatnya:

·      Banyak caleg menutup sebagian atau seluruh profilnya. Banyak juga yang mengisi asal-asalan.

·      Ada partai yang seluruh calegnya menutup profilnya, dan ada juga partai yang seluruh calegnya menutup sebagian profilnya, sehingga publik tak bisa menilai kompetensi calon.

·      Publik menjadi korban sistem yang tidak seimbang, sementara peserta (caleg/partai) mendapat perlindungan maksimal.

·      Pemilu menjadi rutinitas: rakyat memilih “yang paling mending di antara calon bobrok yang ada” karena tak ada cara untuk menilai calon secara objektif.

 

Jika kita merujuk pada akibat-akibat di atas dan juga data bahwa 43,2% caleg DPR tidak mengisi informasi program kerja, sementara sisanya pun ada yang mengisi asal-asalan, atau mengisi minim dan tidak SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), kita bisa mempertanyakan lebih lanjut: seriuskah mereka mewakili kita? tidak mengisi itu artinya tidak mau mempublikasikan atau memang tak punya program kerja atau tak siap bekerja?

 

Begitulah ironi nyata dalam politik Indonesia. Padahal, pemilu Indonesia dirancang harus melalui parpol. Artinya, caleg-caleg yang maju adalah tanggung jawab penuh partai. Jika partai mengaku mewakili rakyat, maka langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah memastikan calegnya terbuka, dapat dikenali, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika partai justru membiarkan calegnya bersembunyi di balik karung, kepercayaan publik runtuh bahkan sebelum pemilu dimulai. Bagaimana tidak, dalam proses seleksi bakal caleg (bacaleg) pun itu tidak dilakukan secara terbuka. Itu dilakukan oleh internal parpol. Kita tidak tahu seleksinya bagaimana, apa saja materinya, bahkan kita juga tidak tahu apakah seleksi itu terstandardisasi antara parpol yang satu dengan lainnya. Sementara itu, pada masa kampanye pun tak jarang yang datang hanya baliho, brosur, atau serangan fajar-nya. Para caleg itu tidak turun ke daerah kami atau berusaha mengenal kami. Jika web resmi KPU, sebagai satu-satunya sumber informasi resmi bagi pemilih pun tidak mencantumkan informasi mereka, lalu sebenarnya apa yang kami pilih? Kami ibarat membeli kucing dalam karung, yang bahkan karungnya pun enggan kami beli. Dengan informasi seminim itu yang masih pula diperdebatkan sebagai privasi, masih layakkah mereka mengaku mewakili kami? Wahai para caleg dan parpol, ketahuilah, kalian telah mencederai kepercayaan rakyat sejak awal. 

 

Di sinilah reset politik menjadi relevan. Kita perlu mengembalikan fungsi partai politik sebagai alat representasi rakyat, bukan sekadar mesin elektoral. Partai harus dipaksa, secara sistemik, bertanggung jawab atas kualitas dan keterbukaan caleg yang mereka usung.

 

Reset itu bisa dimulai dengan langkah-langkah realistis sebagai berikut:

·      Menjadikan keterbukaan profil dan program kerja sebagai kewajiban standar partai, bukan pilihan individual caleg;

·      Menampilkan indikator keterbukaan partai secara agregat agar publik tahu partai mana yang transparan dan mana yang tidak;

·      Memindahkan beban transparansi dari rakyat ke sistem, sehingga rakyat tidak lagi dipaksa menjadi detektif politik, di antaranya dengan cara:

Ø Mewajibkan program kerja caleg bersifat SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).

Caleg dilarang menulis hal-hal yang abstrak seperti “meningkatkan kesejahteraan”. Mereka harus menjabarkan ide-idenya secara spesifik, misalnya "merevisi Perda X untuk mempercepat izin UMKM dalam waktu 6 bulan".

Ø Mewajibkan visi caleg sesuai dengan fungsinya. Misalnya, untuk fungsi legislatif, visinya harus berhubungan dengan legislasi (membuat UU), anggaran (budgeting), dan pengawasan (controlling).

 

Selama karungnya masih ditutup, jangan heran jika rakyat enggan percaya. Karena demokrasi yang sehat tidak meminta rakyat membeli kucing dalam karung, lalu menyalahkan mereka saat hasilnya mengecewakan. Jika politik ingin benar-benar di-reset, maka “karung“ itu harus dibuka, dan partai politiklah yang pertama kali harus bertanggung jawab.

 

28 Februari 2026

Review Buku "Aku yang Sudah Lama Hilang" oleh Nago Tejena

 

review buku "Aku yang sudah lama hilang" oleh nago tejena
Cover buku "Aku yang sudah lama hilang" oleh Nago Tejena

 
 

AKU YANG SUDAH LAMA HILANG

(Panduan perjalanan menemukan diri di tengah kehidupan dewasa yang membingungkan)

Penulis: Nago Tejena



Buku ini dimulai dengan kekagetan penulis mendapati fotonya saat masa kanak-kanak. Siapa sosok di foto itu? 

Mengapa dia tak mengenalinya lagi.

Ternyata, ada yang hilang di dirinya.

Sesuai judulnya, ini buku tentang mencari dirimu yang ori.

Isinya cara-cara agar kamu lebih jujur pada diri sendiri dan berani berubah untuk mencapai itu.

Buku ini ditulis dengan keahlian menulis yang sangat baik. Dia buku yang psikologi banget tapi sisi kuliahan psikologinya itu gak terlihat sama sekali, jadi full buku populer. Layout-nya yang sangat strategis, karena meskipun isinya duikit banget tapi seolah banyak, karena adanya penataan gambar dan cara menulisnya yang baik.

Tapi ya, kalau untuk feel isinya, ini gak terlalu aman dibaca oleh orang-orang yang sensitif atau lagi sensitif. Di awal sih seolah tulisannya itu kayak berusaha merengkuh kamu dengan halus, berusaha ngertiin kamu, tapi semakin ke tengah hingga akhir suasananya seperti berfluktuasi. Sensasi yang kurasakan adalah penulis ini aslinya nggak sabar dan nggak se-validatif itu tapi berusaha disabar-sabarin sambil kesal dan ada nuansa controlling juga. Aku nggak tau ini memang disusun macam sandwich yang bagian "keras"-nya di tengah, atau memang penulisnya kehilangan kesabaran dan balik ke diri ori-nya sehingga suaranya itu menjadi berbeda dari tengah menuju akhir. Aura atau nuansa tulisannya kacau.

Dan ini nggak nyaman dibaca buatku. Meskipun, belum tentu gitu juga buatmu, karena ini personal. Karena banyak buku yang dipuja orang lain tapi aku gak suka, jadi bisa aja aku gak suka buku ini tapi kamu suka.

 

Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well 

It's okay not to get along with everyone

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Soal materi/isinya, ini bagus, tapi biasa bagi orang-orang yang udah sering baca buku jenis ginian. Artinya, nggak mengandung kebaruan.

Sementara untuk covernya uda bagus, begitupun judulnya, lagi ngetren judul-judul model sederhana kayak gini. Jadi, bagus juga. 

Sedangkan nama penulisnya itu nipu banget lho, kupikir orang Jepang, taunya orang Indonesia. Apalagi desain covernya itu agak-agak ala Korea.

So, kesimpulannya apa?

Aku ga suka buku "Aku yang Sudah Lama Hilang" ini, tapi mungkin saja orang yang nggak sensitif atau nggak sering baca buku jenis ginian bakal suka dan mendapat kemanfaatan darinya.

27 Februari 2026

Tentang Seragam, Sarimbit, dan Perasaan yang Tak Pernah Kita Bahas

 

Pakai sarimbit sekeluarga
Sekeluarga memakai sarimbit


Semasa sekolah kita dulu selalu berseragam. Setidaknya, dari SD sampai SMA. Mau itu untuk seragam harian, seragam olahraga, seragam batik, atau apa pun. Lama sekali aku mempercayai bahwa seragam itu sepenuhnya baik, terutama biar nggak jor-joran. Yang memang jujur saja, pasti ada orang/anak itu yang ingin tampak lebih wah dari orang atau anak lainnya, sehingga memakai baju dan aksesoris berlebihan atau bahkan kurang sesuai dengan tatanan/aturan.

 

Pada situasi lain, aku berpikir seragam kadang bagus juga untuk rekreasi atau kunjungan ke resepsi orang "luar" atau acara luar yang ramai, terutama kalau ada bocilnya. Sebagai penanda tentunya, biar bocil dan anggota grup nggak mudah hilang atau mudah ditemukan.

 

Tapi, perasaan dan pikiranku berubah ketika memakai sarimbit menjadi tren ketika bertamu ke rumah keluarga besar sendiri. Tiba-tiba muncul perasaan "Ini keluarga kami (memakai sarimbit), dan itu keluarga luar/orang asing," tidak lagi "Ini keluarga besar kami", saat berfoto.

Foto yang tadinya membaur semua menjadi satu (ini keluarga besar kami), menjadi "ini keluargaku" dan "itu keluargamu". Apalagi ketika selera warna atau pakaian kami berbeda. Foto menjadi sangat tidak harmonis penampakannya. Ya, kamu benar, aku mengatakan, meskipun tanpa sarimbit, kami berada dalam "kekacauan yang harmonis" dalam sebuah foto. Sebaliknya, dengan sarimbit, kami menjadi "excluded"/alienasi.

Kesanku dulu bahwa sarimbit hanya tentang kekompakan, untuk memudahkan mencari, atau biar gak mudah hilang, sirna seketika.

 

Begitupun ketika ada momen jantung sehat di kampungku, di mana masing-masing RT inisiatif sendiri membuat grup seragam khusus untuk RT-nya. Dengar yang satu bikin, yang lain ikut bikin, dan mungkin mencoba bikin yang lebih bagus/wah. Aku melihatnya seperti bersatu tetapi tidak bersatu. Ini momen kampung tetapi menjadi momen kumpulan "individu RT", RT demi RT masih terpisah, hanya raganya yang berkumpul.


Akhirnya, lagi-lagi aku kembali pada kesimpulanku. Banyak hal atau malah mungkin semua hal, punya 2 sisi, positif maupun negatif. 

Kalau kita sedang bertanding dengan sekolah lain, tentu kita butuh pembeda/seragam yang beda. Tanding dengan kampung lain juga gitu.

Tapi ketika momen berada di kampung sendiri, itu agak gak cocok sih menurutku, kalau tidak tentang konteks tanding.

Begitupun tentang sarimbit/seragam, lebih cocok dipakai untuk outdoor (luar ruangan), di tengah kerumunan banyak orang, atau di tempat yang jauh/asing, dan dengan tingkat kekerabatan yang jauh/konteks acara tidak tentang kebersamaan. 


Seragam, termasuk sarimbit, tidak hanya bisa menyatukan atau menjadi pembeda dalam konteks sehat, tetapi bisa juga menjadi alat pemecah/alienasi/excluded orang lain atau kelompok lain. Miris ya?

 

22 Februari 2026

Pengen Makin Hot, tapi Malah Makin Kejedot: Salah Kaprah Cowok tentang Manfaat Pornografi

 

Cowok sedang nonton p*rno diam-diam
Cowok sedang nonton p*rno diam-diam

 

Makin Maraknya Pornografi

Kita pasti tau lah ya kalau pornografi kini makin marak. Nggak seperti dulu lagi yang lebih berupa opsi atau pilihan. Sekarang tuh hampir semuanya mengandung hal-hal porno. Kita dikepung pornografi. Pilihan nggenah (baik)-nya makin susah ditemui. Ini seperti kita, sejak kecil, udah digiring masuk ke sana, terpapar konten-konten m*sum itu. Baik itu film kartun, film atau drama remaja/dewasa, iklan, hiburan, musik, bacaan, duh kah semuanya mengandung gitu2. Bahkan, kita nggak aneh-aneh aja, hal-hal kayak gitu sering juga lewat di internet atau gawai kita atau di sekitar kita (dunyat). Nah, lo, gak enteng kan?

Tapi apa yang bikin aku kemudian ngangkat bahasan ini itu karena aku nemu celetukan-celetukan cowok yang menarik. Saat itu, ada yang terdengar jujur, dan bukan ngeles atau rasionalisasi, misal ngomong gini, “Ya lihat gituan karena belum mampu nikah karena ga punya biaya (buat “swa-layan” maksudnya, sambil nonton gituan).” Seketika aku tertegun, alasan ini sama sekali belum terpikirkan olehku sebelumnya. Biasanya itu pikiranku tentang orang-orang yang terpapar porno lebih tentang cowok bejat, cowok trauma, cowok stres/gak jelas/kurang kerjaan, atau semacamnya. Eh ternyata ada juga yang cowok yang berpikir kurang tepat seperti itu. Dan, dia gak sendiri. Ada beberapa alasan “kemanfaatan” yang sempat dilontarkan cowok tentang keterlibatan mereka dalam mengakses pornografi.

Namun, sebelumnya, kita bagi dulu seluruh cowok pengakses porno berdasarkan kelompoknya.

 

Tiga Jenis Cowok Pengakses Pornografi

Cowok pengakses pornografi itu beda-beda. Di sini, aku akan kelompokkan mereka ke dalam 3 kelompok besar:

1.    Cowok bejat (berperilaku bejat)

Cowok jenis ini emang dari sononya bejat. Gak bisa diubah. Dia memang ingin dan suka di dalam perilaku bejatnya. Menikmati. Gak merasa bersalah. Gak pengen keluar/sembuh. Gak jarang mereka ini malah bangga dengan penyimpangannya/dosa-dosanya.

 

2.    Cowok trauma, stres, dan pengisi waktu luang (cowok berperilaku pengecut/malas)

Pornografi bagi tipe cowok ke dua ini lebih berupa pelarian. Dia ingin “kabur” dari masalahnya.

 

3.    Cowok yang kurang pintar (cowok berperilaku kurang intelek)

Cowok di kelompok ini terjerumus ke pornografi karena alasan “kemanfaatan”. Seperti contoh di atas tadi, karena belum mampu nikah, ngakunya.

 

Nah, kita akan bahas lebih jauh tentang tipe ke tiga ini, cowok yang kurang pintar.

 

Macam-Macam “Manfaat” Pornografi di Mata Cowok yang Kurang Pintar

Cowok kurang pintar di sini, bukan berarti bodoh ya, tetapi dia mungkin telah mengakses informasi yang salah, tidak punya akses ke edukasi hal yang benar sama sekali, atau tentang dugaan-dugaannya sendiri yang menyebabkan dia salah bertindak.

Kadang sih ngakunya maksudnya baik, tapi tetep aja, dalam beribadah, niat dan cara itu sama-sama harus baik dan benar. Gak bisa asal.

Nih beberapa contoh alasan mereka:

·      Karena belum punya uang untuk nikah

Maka, dia “swa-layan”, sambil nonton porno/PMO (P*rnography, M*sturbation, and Org*sm atau P*rnografi, M*sturbasi, dan Org*sme). Ya daripada zina ma orang lain/cewek, dosa kan? Mending ngelakuin “ini”. Gitu kurang lebih pikirannya.

 

·      Biar nanti pas nikah udah ahli (buat belajar)

Mereka belajar macem-macem “gaya” dari film b*kep.

 

·      Nonton bareng ma istri biar cepet “naik” dan banyak variasi “gaya”

Ini karena cowoknya males pemanasan/f*replay, tapi ngakunya sih biar gak bosen hubungan pas*trinya. Biar adegan r*njang mereka itu selalu h*t dan penuh gairah.

 

Terlepas dari itu ngeles/rasionalisasi ataukah perilaku kebodohan, alasan-alasan yang tampak “mulia” ini punya dampak serius yang bakal jadi bumerang buat diri mereka sendiri.

Dan inilah bumerangnya ...

 

Kenapa Manfaat yang Diharapkan Cowok dari Porno itu akhirnya “Bunuh” Mereka Sendiri?

Gak malah untung, tapi malah buntung. Alih-alih mendapatkan manfaat, yang didapat justru musibah dunia akhirat.

 

Nonton karena Belum Mampu Nikah

 

·      Bikin males nikah

Cowok single yang sering mengkonsumsi pornografi dengan dalih belum mampu nikah, akhirnya malah jadi males nikah. Mereka akan kehilangan motivasi untuk berjuang secara finansial atau cari pasangan beneran. Otaknya sudah "kenyang" dengan kepuasan semu, sehingga dorongan untuk bekerja keras demi meminang seseorang justru menurun.

 

·      Bikin mati rasa terhadap rangs*ngan dari pasangan nyata

Keseringan nonton p*rno atau foto s*ksi menyebabkan dia mengalami visual overstimulation (overdosis visual). Dia butuh stimulus luar yang sangat kuat agar bisa ter*ngsang. Jika ini diteruskan, dia malah tidak akan bisa "naik" (er*ksi atau klim*ks) jika hanya dengan sentuhan atau kehadiran pasangan nyata. Dia jadi "mati rasa" terhadap manusia asli dan hanya bisa bereaksi pada layar.

 

·      Melatih otak untuk “ejak*lasi dini”

On*ni sambil nonton konten vulgar/p*rno membuat otaknya belajar bahwa s*ks harus cepat dan instan. Padahal, hubungan nyata butuh for*play (pemanasan) atau durasi dan proses.

 

·      Mentalitas "konsumen", bukan "pemberi"

Alasan "biar cepat" menunjukkan bahwa dia melihat aktivitas s*ksual hanya sebagai transaksi pembuangan sy*hwat, bukan sebuah komunikasi atau berbagi kasih sayang.

 

Risikonya:

Cowok tipe ini biasanya akan jadi suami yang egois. Dia hanya peduli kepuasannya sendiri yang penting cepat beres. Dia akan malas melakukan for*play atau merayu istri karena baginya itu "terlalu lambat" dan merepotkan.

 

·      Mengira bahwa adegan di film b*kep itu normal

Ketidaktahuan dan kurangnya edukasi s*ksual, membuat mereka kepo dan belajar dari sumber yang salah (p*rnografi), lalu menganggap apa yang diajarkan/dilihat di dalamnya itu benar/normal, padahal nggak normal sama sekali.

 

Nonton untuk Belajar "Gaya"

·      Jadi susah “puas” dan memiliki ekspektasi yang tidak realistis (coolidge effect)

P*rno adalah industri film dengan trik kamera, editing, dan aktor profesional. Bintang p*rno di layar adalah hasil dari:

Ø Operasi plastik, makeup tebal, dan pencahayaan profesional.

Ø Editing video yang membuang semua bagian "manusiawi" (seperti keringat berlebih, ekspresi lelah, atau bentuk tubuh alami).

Ini adalah perbandingan visual yang nggak adil. Mencoba meniru p*rno di dunia nyata seringkali membuat istri merasa kesakitan, tidak nyaman, atau merasa diperlakukan seperti objek, bukan manusia. Ketika suami melihat istrinya yang merupakan manusia nyata (yang mungkin lelah mengurus rumah, kerja, atau baru melahirkan), otaknya secara tidak sadar membandingkan dengan citra "sempurna" di layar. Akibatnya, dia merasa istrinya "kurang" secara fisik, padahal istrinya adalah manusia normal.

 

·      Kehilangan keintiman

S*ks bukan soal sirkus atau koreografi, tetapi tentang komunikasi. Belajar dari p*rno hanya akan membuat cowok jadi kaku dan egois.

Dia kehilangan kemampuan untuk menikmati keintiman emosional dan hanya mengejar kejutan visual. Inilah yang membuatnya susah puas secara seksual maupun mental.

 

·      Matinya rasa syukur (desensitisasi)

Pornografi menawarkan variasi tanpa batas. Hanya dengan satu klik, seorang cowok bisa melihat ribuan orang berbeda.

 

Dampaknya:

Otak menjadi manja. Ketika dia hanya menghadapi satu orang (istrinya) setiap hari, sistem reward di otaknya merasa "bosan".

 

Nonton Bareng Istri (Biar Cepat "Naik")

 

·      Membunuh kedekatan emosional

Hubungan intim yang sehat butuh chemistry antarmanusia. Jika butuh "bantuan" layar untuk terangsang, artinya dia sudah mati rasa terhadap pasangannya sendiri.

 

·      Ketergantungan visual

Otak jadi malas memproses r*ngsangan nyata (sentuhan/aroma istri) karena sudah terbiasa dengan rangsangan visual ekstrem dari p*rno. Tanpa layar, dia bisa mengalami disfungsi er*ksi di depan istri.

 

·      Kehilangan fokus pada Pasangan

Dalam hubungan sehat, kepuasan datang dari koneksi dua arah. Namun, cowok yang otaknya sudah terpapar p*rno sering kali:

Ø  Hanya fokus pada performa: Dia ingin istrinya melakukan gaya seperti di film.

Ø  Kurang empati

Dia tidak peduli apakah istrinya nyaman atau tidak, yang penting dia mendapatkan stimulasi visual yang mirip dengan apa yang dia tonton.

Ø  Jika istri tidak bisa (atau tidak mau) memenuhi fantasi liarnya, dia akan merasa "tidak puas" dan mulai menyalahkan istrinya, padahal masalahnya ada pada ekspektasi otaknya yang sudah rusak.

Ø  .Lingkaran setan "selingkuh mental"

Membandingkan istri dengan bintang p*rno sebenarnya adalah bentuk perselingkuhan mental:

 

Dia hadir secara fisik di depan istrinya, tapi pikirannya ada di tempat lain.

 

Dia mungkin akan nyuruh istri niru adegan yang ditontonnya. Yang harusnya waktu stimulasi itu sambil melihat istri langsung (ada kontak mata dan keintiman lainnya, eh gara-gara mau niru “gaya” di film-film akhirnya mata keduanya menuju ke layar.

Gak cukup sampai di situ, Si Suami ini mungkin juga akan berfantasi s*ksual bayangin cewek lain saat berhubungan b*dan dengan istrinya. Gak sekadar gak menatap istri, tapi meremnya dia itu sambil bayangin artis s*ksi/s*nsual atau bintang-bintang p*rno.

Yang gini ini pel*cehan banget bagi istri dan akhirnya menciptakan jarak emosional. Istri akan merasa tidak dihargai, merasa rendah diri (insecure), dan akhirnya hubungan pun jadi hambar.

 

Selain itu, mereka yang juga sering menonton p*rno akan berisiko:

 

·      Kecanduan atau mengalami ekskalasi (peningkatan dosis untuk mendapatkan efek yang sama)

 

Ada orang yang beralasan iseng aja. Tapi, dampak p*rno gak se-iseng niat mereka. Menurutmu kenapa Tuhan ngelarang kita dari dosa-dosa itu? Masa iya Tuhan yang butuh kita? Nggak, kan? Yang butuh itu ya kita sendiri. Yang bikin (ciptain kita) itu bikinin kita rules (petunjuk penggunaan) biar kita itu nggak error, nggak kena samting-samting. Kalau kita ngelanggar rules ya tentu kita bakal kena samting-samting. Selain ngecewain pembuatnya (Tuhan), kita juga bakal efek lainnya di dunia atau di akhirat.

Sama juga dengan p*rno. Otak manusia sangat suka dopamin. Sesuatu yang dimulai dari "iseng" bisa dengan cepat membuat jalur saraf baru di otak. Saat bosan atau kosong, otak akan menagih "iseng" tersebut sebagai pelarian utama, hingga akhirnya kehilangan kendali.

Pornografi menyediakan lonjakan dopamin (hormon kesenangan) secara instan. Kalau otak sudah terbiasa dengan kepuasan tinggi gini, kalau nggak nonton p*rno lagi otaknya jadi ngerasa "kekurangan", lalu memicu rasa cemas atau kesepian dan memaksa orang tersebut untuk mengaksesnya kembali.

Selain itu, p*rnografi  tersebut juga akan mengubah struktur otak dia (neuroplastisitas). Konsumsi yang berlebihan dan terus-menerus dapat mengubah jaringan saraf otak, mirip dengan adiksi narkotika atau alkohol. Area otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) dia akan melemah, sehingga dia akan sulit berhenti meskipun tahu itu merusak.

 

·      Makin memburuk kondisinya

 

Kalau radar agamanya masih baik, dia akan merasa bersalah setelahnya. Ini bikin pelarian dia dari stres malah nyebabin stres yang lebih tinggi.

 

Sebaliknya, kalau radar agamanya sudah memudar/hilang, dia akan santai saja melakukan dosa tersebut. Remnya udah dol (blong) atau rusak. Yang tadinya malu, ngerasa bersalah, dll akhirnya udah gak gitu lagi. Gak stres lagi sih kayak yang radar agamanya masih baik, tapi yang ini malah lebih bahaya, karena imannya sudah terdegradasi parah.

 

 

·      Semakin jauh dari solusi yang sebenarnya

 

Kalau dikit-dikit larinya ke p*rno. Trauma lari ke p*rno, stres (bosan, stres, kesepian) larinya ke p*rno, ada masalah dengan istri ke p*rno lagi, minder dengan lawan jenis ke p*rno juga, maka hidupnya mungkin nggak akan mengalami perbaikan. Dia hanya melakukan pelarian atau mencari kesenangan sesaat, nggak nyari solusinya. Itu sama aja nggak bikin dirinya sembuh (masalah teratasi), tapi cuma menipu diri sendiri.

Apalagi, p*rno itu bisa merebut kehidupan di dunia nyata dia sepenuhnya. S*ks bisa beralih ke p*rno, interaksi dengan manusia bisa beralih ke p*rno, dan semacamnya. Dia jadi “nyaman” di hal-hal yang menyimpang/tidak wajar.

P*rno yang tadinya digunakannya sebagai anestesi/obat b*us untuk mematikan perasaan sedih, gagal, atau trauma malah berbalik jadi bumerang. Udah stresnya nggak hilang (hanya tertunda), begitu efek dopamin habis eh stresnya malah datang lagi dengan bonus rasa bersalah, memicu siklus kecanduan yang lebih parah.

         

Dan gong-nya lagi, alasan-alasan yang tadinya kayak buat harmosisasi keluarga, akhirnya malah bisa membuka pintu perselingkuhan.

Hubungan antara kecanduan pornografi dan perselingkuhan nyata itu ibarat tangga; p*rnografi adalah anak tangga pertama yang pelan-pelan menuntun seseorang ke risiko perz*naan fisik.

Jadi, yang awalnya tadi iseng atau nonton sebentar atau jarang, dan nontonnya masih yang soft, lama-lama makin lama durasinya, makin sering frekuensinya, makin hard tontonannya, makin menyimpang perilaku s*ksualnya (misal: dengan h*wan, anak kecil, sesama j*nis, lewat an*s, dengan peny*ksaan, atau lainnya), lalu mungkin naik jadi melibatkan orang lain(chat m*sum, phone s*x, Ve-Ce-eS), lalu ke praktek ke orang nyata (c*uman, cewek lain or*l dia, atau lainnya), lalu p*tting, dan akhirnya bers*tubuh beneran. Lalu intensitas makin sering, ingin ganti-ganti orang dan ganti-ganti gaya, ganti-ganti lokasi, ganti-ganti alat bantu, dan seterusnya. Makin nyungsep hidupnya. Makin error kualitas dirinya. Udah jauh dari kata sholeh lagi.

 

Mengapa Memudahkan Mereka Menikah Belum Tentu Mengatasi?

Seperti sudah dijelaskan di atas, cowok yang mengakses p*rno itu dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu: cowok bejat, cowok pelarian, dan cowok “tujuan mulia”. Cowok bejat ranahnya adalah hukum/kriminalitas, sedangkan cowok pelarian/kecand*an ranahnya adalah psikolog/psikiater/penyembuh gangguan mental.

Yang bisa kita usahakan untuk kita jangkau adalah cowok jenis ke-3 (yang paling potensial), yaitu cowok belum nikah, yang belum mampu nikah, dan kurang edukasi s*ksual. Meskipun, nggak semua juga, tergantung tingkat keparahannya, dia merasa mampu nggak buat berubah, dan mau berubah apa nggak. Yang lebih baik sih, edukasinya (dan atau upaya bantu dia nikah) itu dilakukan sebelum dia terjun/terpapar konten atau aktivitas p*rno tadi.

 

Karena:

·      Masalahnya di otak, bukan di s*langkangan: Adiksi p*rno adalah gangguan pada sistem reward di otak, bukan sekadar kekurangan penyaluran s*ksual.

 

·      Variasi vs monogami

Di p*rno, cowok bisa melihat ribuan orang dalam satu menit, sedangkan dalam pernikahan pasangannya hanya satu. Jika otaknya sudah "rusak" oleh variasi p*rno, dia akan cepat bosan dengan istrinya karena otaknya selalu menagih stimulasi baru yang tidak masuk akal.

 

·      Konflik rumah tangga

Jika dia terbiasa lari ke porno saat stres, maka setiap kali bertengkar dengan istri, dia akan kembali ke p*rno sebagai pelarian, bukannya menyelesaikan masalah dengan pasangan.

 

Peran Pria sebagai Pemimpin sedang Diuji

Di sinilah peran pria sebagai pemimpin diuji. Pemimpin itu nggak cuma koar-koar aja, tapi mimpin diri sendiri dulu. Ngasih keteladanan dulu. Urutannya adalah mimpin diri sendiri dulu, baru mimpin orang lain.

Tugas kita sebagai muslim, ya sebagai pemimpin. Memimpin itu bukan hanya tentang suami terhadap istri, dan bukan nunggu nikah dulu, tapi kita sebagai muslim itu emang ditugaskan untuk memimpin diri sendiri sebaik mungkin, seumur hidup.

Nah, setelah itu, baru kita berusaha mimpin orang lain, terutama orang terdekat dulu. Dalam konteks cowok, cowok ini harus menegur sekitarnya juga kalau ada yang salah, misal ortunya, tetangganya, temannya, atau lainnya.

Terutama terhadap teman nih ya, aku sering nemuin cowok-cowok itu lemah terhadap temannya yang m*sum. Seringkali ada f*cek atau teman cerita m*sum di kantor mereka, menceritakan hubungan s*ksualnya atau prestasinya ngerusak banyak kehormatan cewek (menz*nai), tapi cowok-cowok di situ (dan kadang ada cewek-cewek juga di sana) malah kepo atau ikut nimbrung cerita juga. Nggak berusaha negur. Gak berusaha membubarkan. Malah ikut menikmati. Ya minimal banget nih ya, kalau mereka itu lemah, minimaaaal banget, kamu menjauh gitu lho. Jauuuh banget. Jauhin mereka. Itu bikin kamu masih punya sisi pemimpin, meskipun dalam taraf terendah (memimpin dengan hati/sekadar mampu membenci perbuatan tersebut).

Cowok suka ngaku-ngaku “Kami pemimpin lho. Kami pemimpin lho.” Tapi gak bisa mimpin dirinya sendiri dengan baik. Kalau ditegur tentang kem*suman malah nyalahin cewek, ngeles bilang “cowok itu ya emang setelannya gitu (m*sum), dll.

Kalau ditegur tentang r*kok, ngeles dengan berbagai alasan, yang intinya gak mau dipisahin ma r*koknya. Atau kelakuan-kelakuan absurd cowok lainnya.

Nah, misal ya, kamu ngatain cowok n*psu karena ceweknya bajunya s*ksi2. Lah apa mereka pikir semua cewek itu muslim? Cewek yang nggak muslim atau cewek muslim yang masih kurang taat (tahap belajar/sedang khilaf/masih berproses) tentunya ya masih nggak menutup aurat dengan sempurna. Kalau mereka ingin ngontrol orang lain, kelompok lain, atau bahkan negara lain itu nggak realistis.

Cewek punya ujian/PR sendiri (misal: sangat pengen tampil), cowok juga punya ujian/PR sendiri (misal: syahw*t yang mungkin lebih besar dari cewek). Itu PR masing-masing untuk berusaha menjadi pribadi yang sebaik mungkin, menegur orang lain dengan baik, tetapi hasilnya gak mungkin semuanya ngikut maumu. Pasti banyak juga yang masih tetep nggak berubah. Itulah pentingnya kamu nguatin bentengmu sendiri, gak lepas tangan dan cuma nyalahin orang lain. Carilah caranya sampai ketemu. Ngeles ngatain m*sum itu "bawaan cowok" adalah alasan manipulatif. Jangan mengkambinghitamkan gender untuk menutupi rendahnya kontrol diri dan rusaknya integritasmu.

Jadi, harapannya, dengan gitu kamu nggak akan mudah terjatuh ke hal-hal p*rno dan gak akan cuma koar-koar aja, tapi juga ga diam aja. Introspeksi diri, memperbaiki diri, menegur orang lain dengan baik, tapi hasilnya serahkan pada Allah.

Laki-laki yang berkualitas bukan dilihat dari seberapa "berpengalaman" dia, tapi dari keberanian moralnya untuk berbeda dari arus yang rusak. Menjauh dari lingkungan toksik adalah standar paling minim bagi seorang pria yang layak menjadi pemimpin. Jika dia hanya "ikut-ikutan" atau "pasif" saat temannya berbuat m*sum, dia bukan pemimpin, dia hanya penumpang yang menunggu waktu untuk ikut kecemplung juga.