Antara Rating, Ulasan, dan Masalah Marketplace yang Sebenarnya

Antara Rating, Ulasan, dan Masalah Marketplace yang Sebenarnya
Marketplace

Rating dan Ulasan sebagai Umpan Balik?

Ini sudah seperti "keanehan umum". Marketplace suka sekali memajang opsi rating dan ulasan "di mana-mana". Setiap habis komplain dengan pusat resolusi atau customer service/customer care, atau bahkan tepat setelah kita klik barang pembelian sudah diterima, akan muncul tugas untuk memberi bintang dan memberi ulasan/review. Bejibun di tahap apa pun.

Ketika Rating dan Ulasan Tidak Berfungsi

Masalahnya, apakah rating dan ulasan tadi ditindaklanjuti? Atau, apakah sekadar tempelan yang menuh-menuhin tiap halaman dan capek-capekin kita dituntut merating dan mengulas terus sepanjang waktu?

Malahan, ketika aku komplain, seringkali komplainku tidak ditangani dengan baik. CS juga seperti tempelan, tak berfungsi apa-apa. Padahal, itu rating dan ulasan yang bejibun di mana-mana, ditambah dengan survei-survei-an yang puanjang daftar pertanyaannya dan nggak berefek apa-apa, aslinya ya kalau marketplace (dan yang cara kerjanya serupa itu) mau mendengarkan keluhan customer dengan baik dan mendengarkan saran perbaikan mereka saat mengeluh ke CS, rating, ulasan, atau survei-survei kayak gitu mungkin nggak perlu ada atau nggak se-perlu itu lagi.

Marketplace itu nggak mendengarkan tapi terus menyuruh customer memberi umpan balik di mana-mana. Paham nggak sih kamu para marketplace betapa lucunya dirimu. Bukannya customer merasa dihargai dan teratasi masalahnya, yang ada malah nyebelin dan nyia-nyiain waktu mereka.

Jika marketplace mendengarkan dan memperlakukan penanganan keluhan di CS saat itu juga (bukan cuma formalitas) dan melakukan perbaikan segera, itu akan lebih baik, lebih nyenengin, dan lebih efektif bagi kedua belah pihak. Bukan terus-menerus kena masalah yang sama dan terus-menerus dijejali permintaan untuk memberi rating, ulasan, dan ikut survei.

Analisis P0litik Di Balik Hoaks Lengsernya Tr*mp

Di Balik Hoaks Lengsernya Trump, Ini Pemikiran Menarik Saya
Seorang wanita sedang berpikir

Berita L3ngsernya Tr*mp adalah Hoaks

Baru-baru ini muncul isu lengsernya Tr*mp di beranda browserku. Kali ini beritanya hoaks, meskipun pada 2019 dan 2021 memang pernah terjadi pem4kzulan (impeachm3nt) terhadapnya. Tr*mp lolos di Senat pada kedua kasus tersebut dan tetap menjabat hingga akhir masa jabatannya secara normal.

Meskipun ada diskusi mengenai amandemen ke-25 untuk melepaskan presiden dari jabatan, para ahli menilai hal tersebut sulit diterapkan dan bukan dirancang untuk perbedaan p0litik biasa. Yang sering terjadi adalah pemberhentian pejabat pemerintah atau tarif kebijakan, bukan pemberhentian langsung terhadap D0nald Tr*mp sebagai presiden oleh lembaga legislatif.

Menariknya P0litik di Am3rika

Mungkin sebagian dari kamu ngarep banget Tr*mp ini beneran dipecat. Tapi, kamu perlu tau kalau nggak cuma Tr*mp yang udah 2 kali lolos upaya pel3ngseran (pemakz*lan), tetapi Bill Clint0n juga lolos dalam kasus skandal p*lecehan s*ksualnya di masa lalu. Selain itu, mungkin kamu bakal kecewa karena memang presiden di Am3rika didesain untuk sulit dilengserkan, bahkan mustahil dilengserkan, kecuali "turun" atas keinginan sendiri.

Berikut alasan kenapa pemecatan presiden itu jarang terjadi:

Proses Dua Tahap: 

Pertama, DPR (House of Repr3sentatives) harus setuju untuk mendakwa presiden. 

Ke dua, Senat harus mengadakan pengadilan dan butuh 2/3 suara (mayoritas besar) untuk benar-benar memecatnya.

Syarat Berat:  

Presiden hanya bisa dipecat jika terbukti melakukan pengkhianatan, penyuapan, atau kejahatan berat lainnya.

Probabilitas yang Palsu

Ini adalah permainan matematika atau statisik yang palsu, yang seolah-olah masyarakat itu diberi pilihan padahal secara peluang itu mustahil.

Ambang batas 2/3 suara (67 dari 100 Senator) itu sebenarnya bukan angka acak, melainkan sebuah "benteng matematika" yang hampir mustahil ditembus dalam sistem dua partai.

Alasannya:

1. Desain "Stalemate" (Jalan Buntu) Matematika

Dalam sistem dua partai di AS (Dem0krat vs R3publik), sangat jarang satu partai menguasai 67 kursi di Senat.

  • Logikanya: Untuk memecat presiden, kamu butuh partai lawan bersatu PLUS sekitar 15-20 Senator dari partai presiden sendiri yang berkhianat.
  •  Insentif P0litik: Senator yang memecat presiden dari partainya sendiri sama saja melakukan "bunuh diri politik" karena pemilih fanatik mereka akan marah. Jadi, secara statistik, peluang mencapai angka 67 itu mendekati nol selama polarisasi partai masih kuat.

2. Model Statistik: "The Threshold Effect"

Secara matematis, sistem ini dirancang dengan Supermajority Requirement.

  • Jika syaratnya cuma 51% (Simple Majority), Clint0n dan Tr*mp pasti sudah dipecat.
  •  Dengan syarat 67%, sistem ini secara sengaja menciptakan "Illusory Choice" (pilihan semu). Rakyat diberi kesan ada jalur hukum untuk memecat presiden, padahal secara teknis, variabelnya (loyalitas partai) sudah dikunci agar angka 67 itu tidak pernah tercapai.

Apakah Ini Desain yang Disengaja?

Para pendiri AS (F0unding F*thers) memang sengaja mendesain ini agar presiden tidak mudah digulingkan hanya karena "tidak suka" atau "skandal moral" (seperti parlemen di Inggris yang bisa bubar kapan saja). Mereka ingin eksekutif yang sangat stabil.

Kesimpulannya

Secara matematika, pem4kzulan di AS saat ini lebih berfungsi sebagai panggung politik (branding) untuk mempermalukan presiden, bukan mekanisme nyata untuk pemecatan. Peluangnya menang itu "palsu" karena variabel utamanya bukan "bukti kejahatan", tapi "jumlah kursi partai".

Jadi, buat kamu yang ngarep D0nald Tr*mp bakal l3ngser atau kemarin udah percaya kalau beritanya benar, siap-siap kecewa ya. Karena desain politik di Amerika tidak mendukung keinginanmu.

Review Buku "Win or Learn"

Review Buku Win or Learn

Cover buku Win or Learn

Sebuah Buku tentang Kemenangan Hidup

Hidup itu tentang belajar. Kamu menang atau kamu belajar lagi. Pada keduanya kamu akan mendapat data: data mengapa kamu menang atau data mengapa kamu masih perlu belajar lagi. Tak ada yang namanya kalah atau gagal. Kita itu selalu menang dan setiap proses tersebut perlu dirayakan.

Penolakan juga termasuk apa yang perlu kita pelajari di dalamnya. Penulis mengajarkan tentang 3 jenis penolakan dan cara menyikapinya.

Penilaian Singkat

Cover:

  • Lumayan, tapi masih bisa diperbaiki

Jumlah halaman:

  • Sangat sedikit, cocok untuk pembaca pemula atau sekali baca.

Isi:

  • Bagus dan prinsip, tetapi tidak baru.
  • Bersifat memotivasi.
  • Intinya cuma sedikit, banyak ceritanya. Cocok buat yang suka ala cerita atau mungkin penggemar fiksi.
  • Per bahasan lumayan pendek, tetapi masih panjang bagiku.
  • Membosankan bagiku dan bertele-tele karena aku nggak suka tipe cerita. Aku suka yang to the point.

Layout:

  • Tidak enak dibaca.
  • Ukuran font terlalu kecil dan jenis font aku kurang suka.
  • Margin juga mungkin butuh ditambah sedikit.

Intinya

Isi buku ini nggak baru, tapi cocok buat kamu kalau kamu butuh motivasi atau belum nerapin isi yang ditulis di buku ini. Banyak pembaca yang mungkin cuma baca tapi nggak praktek. Buku ini bagiku isinya sederhana tapi merupakan bagian dari prinsip-prinsip kehidupan.

Gugatan "Produk Cacat" Google-Meta: Mengapa Hukum Indonesia Perlu Meniru Strategi Amerika?

Pelajaran Menarik dari Kasus Google dan Meta (Produk Cacat)

Pelajaran Menarik dari Kasus Google dan Meta

Baru-baru ini terjadi peristiwa yang menggemparkan di Amerika. Seorang individu berusia 20 tahun (KGM) menang dalam gugatannya melawan 2 tokoh kakap sekaligus: Google dan Meta. Rabu, 25 Maret 2026 kemarin (waktu AS), Pengadilan Tinggi California, Los Angeles memvonis Meta (Instagram dan Facebook) dan Google (Youtube) bersalah dalam kasus kecanduan media sosial yang berdampak pada kesehatan mental anak dan remaja. Meta dan Google dinyatakan lalai dan bersalah karena sengaja merancang algoritma dan fitur platform yang membuat pengguna anak/remaja kecanduan, menyebabkan depresi, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental lainnya. Atas putusan tersebut, Meta diwajibkan membayar sekitar $4.2 juta dan Google sekitar $1.8 juta.

Meskipun Meta dan Google dilaporkan berencana banding, menariknya angle yang diambil penggugat dalam kasus ini itu berbeda dari angle kebanyakan orang lainnya. Kalau biasanya orang menyoroti masalah konten (sehingga Meta dan Google bisa ngeles), tapi jaksa dari KGM ini malah menyoroti tentang desain produk yang cacat. Cacat yang disengaja atau diketahui pihak internal dari kedua raksasa teknologi tersebut, tetapi tetap dipakai/diabaikan. Selama bertahun-tahun, Meta dan Google selalu membela diri dengan mengatakan: "Kami hanya platform, yang posting konten kan orang lain." Tapi dalam kasus ini, pengacara dan juri bilang: "Kami tidak peduli kontennya. Kami mempermasalahkan fitur kalian, seperti scroll tanpa batas, notifikasi yang manipulatif, dan algoritma yang bikin kecanduan, itu adalah produk yang cacat dan berbahaya bagi otak anak."

Ini menarik banget buatku dan tampak seperti mereka itu kreatif atau berpikir berbeda (different thinking). Artinya, kalau suatu cara sudah nggak berhasil, ya cari cara yang lain. Tak berhenti sampai di situ, pemikiran ini juga berbasis sejarah, seperti pemikiran ala orang sensing, yaitu melihat apa yang sudah pernah berhasil di masa lalu. Bahkan, pola gugatannya sama persis dengan cara pengacara zaman dulu ngalahin raksasa r*kok (terkait karakter kartun "Joe Camel"), sehingga momen kemenangan kasus medsos kemarin dikenal juga sebagai "Momen Big Tob*cco" (Momen Industri r*kok).

Menggeser Beban Kesalahan: Dari Pengguna ke Produsen

Okelah KGM menang karena nyontek cara dari "Momen Big Tob*cco", tapi masih ada bagian lain yang menarik di sini. Seperti kita tau, 28 Maret 2026 kemarin, baru aja dilakukan pembatasan medsos untuk anak di bawah usia 16 tahun di Indonesia oleh Komdigi. Bagus sih, sudah ada langkah baru/kreatif, tapi lagi-lagi beban ngatasi masalah itu kenapa harus pemerintah/pengguna yang harus pusing mikirin. Tirulah cara Amerika dalam kasus medsos tadi, serahkan beban pada produsen/yang bikin masalah. Masalah produk adalah masalah produsen.

Lalu yang tak kalah menarik adalah pada kasus perdata di Amerika Serikat ada yang namanya Discovery, yaitu berupa hak hukum bagi pengacara penggugat untuk meminta dokumen rahasia, email, dan hasil riset internal dari perusahaan sebelum sidang dimulai. Jadi, bersama with whistleblower (pengakuan orang dalam) and obrolan karyawan internal, keberadaan Discovery ini memudahkan pengadilan dalam mengusut tuntas kasus. Beda banget kan dengan di Indonesia, yang dikit-dikit privasi, dikit-dikit pemerintah atau pengguna sendiri yang harus ngatasi, dan yang paling parah yang menggugat harus mencari bukti sendiri. Duh dobel-dobel kan susahnya, dipersulit prosesnya oleh tersangka.

Baca Juga: Membuka Karung Kucing Demokrasi

Jadi, ke depannya Indonesia harus meniru cara-cara yang berhasil ini:

  • Miliki Discovery
  • Serahkan tanggung jawab ngatasi masalah pada pembuat masalah/pelaku
  • Jangan suka alasan privasi/HAM (menyalahgunakan privasi/HAM)
 
Catatan:

Ini menarik banget fren, saat aku bikin dan share postingan ini, Google dan Meta ngehack postinganku.

Gambarku (thumbnail) blogku aslinya gambar pengadilan, tapi diganti gambar tentang hoax (padahal gak hoax).
Jadi, blogger (punya Google) dan Facebook (punya Meta) sengaja ngehack dan ganti gambarku.

Trus ya, berita kasus mereka ini gak ada di search engine google. Yang ada cuma yang bahasa Indonesia, kamu gak akan bisa nelusuri/ngecek dari sana. Kayak-kayak itu berita yang ditayangkan di Indonesia kayak lengkap kronologi dan 5W satu H, tapi kenapa kok gak ada.

Akhirnya aku cek ke Bing, dan bener, buanyak berita tentang mereka berbahasa Inggris di sana.

Dari kasus ini kayaknya kita perlu punya banyak cadangan search engine biar gak "dibutain" oknum2/perusahaan2 tertentu.

Diblokir dari berita2 tertentu.


Buruan cek postinganku, sebelum dihapus sepihak oleh mereka.

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2026/04/gugatan-produk-cacat-google-meta.html

Maaf yang Modus: Leader Sejati atau Malah Tak Tahu Diri?

Meminta Maaf dengan Tulus
Meminta Maaf dengan Tulus

Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

Maaf adalah kata yang fungsi utamanya untuk menyesal dari kesalahan. Bersama dengan kata "tolong" dan "terima kasih", sering kali ketiga kata ini digaungkan sebagai kata "emas" yang dianjurkan dipakai sehari-hari. Sayangnya, seiring dengan tren, muncul pula fenomena yang membuat fungsi kata "maaf" yang sebenarnya menjadi luntur. Orang yang benar-benar bersalah tidak lagi benar-benar meminta maaf.

Kata "Maaf" yang Modus

Banyak sekali dalih yang dibuat-buat agar pelaku tidak perlu meminta maaf secara jujur. Ada yang berdalih profesionalitas di lingkungan kerja atau diplomasi—biar terlihat lebih alpha atau like a boss, katanya. Bahkan ada yang melakukan gaslighting dengan berbalik menyalahkan korban. Sudah tidak merasa bersalah, tidak minta maaf, tidak bertanggung jawab, malah menyalahkan korbannya pula. Parah sekali orang-orang model begini.

Macam-Macam Cara Minta "Maaf" yang Modus

Ada banyak kata "maaf" yang modus di dunia ini. Sekadar kata saja mereka tidak mampu memberikannya secara tulus, apalagi ekspresi penyesalan, nada bicara yang tepat, hingga upaya perbaikan. Kalau salah, mereka merasa santai saja, seolah tidak peduli dengan perasaan orang lain, dosa, apalagi akhirat.

Contoh cara minta maaf yang modus itu gini:

  • Sorry
    "I'm Sorry" berbeda dengan "Forgive Me". Sorry sering kali hanya ekspresi penyesalan terhadap situasi tanpa mengakui kesalahan pribadi. Sering kita temui orang yang bilang "Sori ya" dengan enteng, tanpa kerendahan hati, tanpa upaya perbaikan, dan terus mengulangi kesalahannya. Itu palsu.

  • Terima kasih sudah...
    Pelaku tidak menyesal, malah menyuruh orang lain untuk lebih sabar. Ini adalah penyalahgunaan kata "terima kasih" yang manipulatif. Seharusnya, akui kesalahan dulu: "Maaf saya terlambat. Terima kasih sudah menunggu." Itu lebih beretika daripada langsung sok bossy.

  • Mohon maaf atas ketidaknyamanannya
    Ini cara menggeser fokus dari kesalahan pelaku ke "perasaan" korban (seolah korban yang terlalu sensitif). Pernyataan ini sering kali tidak punya subjek yang jelas, tidak mengakui salah apa, dan tidak ada solusi perbaikan. Ini hanyalah basa-basi bisnis atau tameng hukum agar tidak dianggap mengakui kesalahan secara legal.

Semua bentuk maaf palsu tadi termasuk manipulasi psikologis yang sering disebut sebagai non-apology apology. Ini adalah tren kesombongan modern. Sok baik dan bijak, tapi munafik. Bahkan jika kamu seorang leader, jadilah pemimpin yang positif, bukan yang toksik. Jabatan bukan alasan untuk berbuat seenaknya.

Justru pemimpin yang baik itu berani mengakui kesalahan, meminta maaf dengan rendah hati, dan bersedia memperbaiki diri. Kalau ada yang bilang kamu kurang berjiwa pemimpin hanya karena kamu sering meminta maaf saat salah, ketahuilah bahwa dialah yang bermasalah. Dialah yang tidak tahu diri.

Kamu adalah leader yang baik karena berprinsip dan beretika. Tegaklah di jalan yang benar. Tandai dalam ingatan siapa saja orang-orang dengan "maaf palsu" ini, dan berhati-hatilah jika harus berurusan dengan mereka lagi.

Dilema Jasa Laundry bagi Muslim: Sekadar Bersih atau Benar-Benar Suci?

Risiko Menggunakan Jasa Laundry bagi Muslim
Risiko Jasa Laundry bagi Muslim

Laundry dan Fleksibilitas Hidup Masa Kini

Kehidupan kita tak lepas dari kesibukan. Kesibukan ini bahkan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya peran atau tanggung jawab kita. Di lain pihak, kita tidak selalu bisa menangani semuanya sendiri. Kita tak selalu bugar, tak selalu punya waktu, ada kejadian tak terduga, atau sekadar ingin praktis saja. Kita kemudian memilih membayar jasa pihak lain, seperti layanan laundry ini.

Risiko di Balik Laundry

Masalahnya, saat kita menggunakan jasa orang lain, kita tidak bisa selalu menetapkan standar personal kita di dalamnya. Kita tidak punya kontrol penuh, atau bahkan tidak punya kontrol sama sekali. Kita tidak tahu pasti bagaimana cara kerja mereka, atau apakah mereka jujur mengenai proses pencuciannya.

Dalam agama Islam, pakaian bukanlah sekadar kain penutup tubuh. Islam menetapkan bahwa pakaian dan tempat sholat harus suci: bersih dari hadas dan najis. Standar seorang muslim adalah suci, bukan sekadar bersih secara visual atau harum secara aroma.

Namun, pertanyaannya, apakah seluruh proses di laundry langganan kita sudah memenuhi standar ini? Apakah proses pencucian, pembilasan, hingga penjemurannya sudah dilakukan dengan cara yang benar agar najis benar-benar hilang?

Pertanyaan Pentingnya...

Bagaimana jika ternyata prosesnya tidak memenuhi standar kesucian? Apakah hal itu menjadi kesalahan yang "dimaafkan" karena kita memang tidak tahu? Atau sebaliknya, apakah sholat kita menjadi tidak sah jika memakai pakaian hasil cucian laundry tersebut?

Rasanya cukup mengerikan jika ternyata ibadah kita selama ini tidak sah hanya karena perkara cucian. Lalu, apa solusinya? Apakah kita sudah saatnya membutuhkan jasa laundry dengan label syariah yang terverifikasi? Ataukah kita perlu mengharapkan adanya standardisasi prosedur bagi penyedia jasa laundry agar sesuai dengan kebutuhan umat?

Pilihan itu tentu kembali ke masing-masing orang. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menunjukkan bahwa risiko itu ada dan nyata. Jadi, tetaplah hati-hati dalam memilih jasa untuk urusan ibadah kita.

Bagaimana Setan dari Golongan Jin dan Setan dari Golongan Manusia Bertemu?

Bagaimana Setan dari Golongan Jin dan Setan dari Golongan Manusia Bertemu?
Pertemuan setan jin dan setan manusia

Setan Jin dan Setan Manusia, Apa itu?

Apakah kamu benar-benar paham apa yang dimaksud dengan setan jin dan setan manusia?
Saat sekolah dulu, aku hanya seperti menghafal tanpa benar-benar tahu apa maksudnya. 
Di buku-buku hanya tertulis setan adalah sifat buruk atau yang mengarah pada dosa, tapi apa itu?


Pertemuan Setan Jin dan Setan Manusia

Pemahamanku berawal dari ketidaksengajaan. Dari rasa ingin tahu dan semangat belajarku aku mendalami satu bidang ke bidang lainnya. Teman kuliahku memandangku aneh, sedangkan saudaraku malah takut aku ngikut "yang aneh-aneh". Padahal, aku tahu batasan dan sangat berhati-hati. Dari mendalami dunia gaib versi agama, ruqyah, versi dukun-dukun dan cerita mistis, versi new w0rld order, versi pelaku atau korban yang tobat atau kabur/selamat, atau lainnya.


Singkat saja, ada banyak cara bagi setan jin bertemu dengan calon/setan manusia:

  • Manusianya sendiri yang ingin bertemu, biasanya dengan cara:
    • Ndukun (pemakai dukun yang nyari dukun sendiri karena pikirannya sedang gelap), atau 
    • Dia sendiri yang jadi dukunnya/pelakunya (misal: belajar otodidak ilmu yang jelas-jelas sesat).  
Jadi, dia sadar dan sengaja mau ngikut setan jin/jalan keburukan. 

Ada yang memang kepepet (misal terlilit utang), ada juga yang memang serakah (ingin jalan pintas ke keduniawian yang lebih banyak atau lebih besar atau lebih enak), tapi semuanya sadar dan dengan keinginan sendiri.

  • Setan manusia berburu calon setan manusia, misalnya:
    • Menarget tokoh-tokoh/petinggi agama dan orang-orang high level (kaya, status sosial tinggi, terkenal, dll)
Jadi, masing-masing petinggi agama ini dicari kelemahannya, apakah itu harta, s*ks, kedudukan, atau lainnya. Lalu dia masuk melalui itu.
    • Menjebak orang-orang yang rentan/bingung/dalam pencarian, misalnya: 
      • Lagi banyak utang ketemu "teman" yang error alias setan manusia, diajak ndukun.
      • Ada pelaku p*sugihan ngajak orang untuk ngikut p*sugihan juga.
      • Penganut aliran sesat/s*tanis nyari member baru.
    • Memerangkap dalam jebakan industri, misalnya:
      • Dia penyanyi/rapper/penari biasa (normal) tapi begitu masuk ke industri tersebut ternyata isinya error (ada/mungkin diwajibkan memakai m*ras, n*rkoba, pemujaan s*tan, tanda tangan kontrak sesat/dengan dunia hitam, melakukan/membiarkan ritual sesat di studio atau acaranya, dan berbagai kebejatan dan dosa lainnya). Di situ dia diberi pilihan (atau setidaknya seolah diberi pilihan): mau ikut error tapi "kujadiin" terkenal, atau kamu hancur dan tersingkir dari industri ini (dan mungkin juga m*ti/di-k*ll karena sudah tau/terlalu banyak tahu).
      • Mengadakan event/mengundang mereka (misal: artis) ke tempat maksiat, misal d*skotik/kl*b malam. Lalu kalau ekosistemnya sudah maksiat, dia akan lebih mudah terpengaruh maksiat.
    • Reward dan punishment (imbalan dan hukuman), misalnya:
      • "Ikut ini aja nanti kamu bisa kaya, bisa ganti-ganti partner s*ks (pesta s*ks) terus, terkenal, dll."
      • Dijebak dalam suatu event (diundang) yang ternyata itu event perekrutan "member" baru. Di dalamnya itu ada level-level/kategorisasi dosa yang masing-masingnya besar (berbagai jenis dosa besar maksudnya). Tempatnya sangat misterius, orang-orangnya dibungkam/sangat rahasia (masing-masing sangat takut), desain ruangannya sangat susah dibobol (kayak labirin yang dijaga ketat dan sulit bagi orang yang ada di sana untuk kabur), dan kalaupun bisa kabur kamu tidak bisa dipastikan akan hidup tenang atau bahkan selamat (di-k*ll).
    • Berkedok kebaikan, misalnya: 
      • Saleh palsu atau bahkan "menyatu dengan Tuhan", contohnya tulisanku tentang vampir di sini. Si calon vampir ini aslinya ingin saleh tapi makin lama makin terjerumus ke dalam kesesatan.
      • Kepandaian/kemampuan luar biasa
Orang-orang di sini akan merasa bahwa kepandaiannya sangat super, seperti menembus berbagai dimensi lain, atau pokoknya tau yang aneh-aneh, tau alam ini itu, bisa meramal nasib/t*rot, astr*logi, dll.
      • Ketenangan, misalnya menembus alam lain, clairvoyance, dll.
      • Kekuatan/melindungi diri atau orang lain, misal kebal b*cok/senj*ta tajam, mukul orang jarak jauh, dll.
      • Kesehatan, misalnya t*naga dalam/ilmu m*tafisik/k*batinan, ritual saat pergerakan bulan, dll. 
      • Dan masih banyak lagi.
    • Dit*mbalkan, misalnya :
      • Pacar error men*mbalkan pacar wanitanya untuk diz*nai rame-rame pada rit*al pesta s*ks.
      • Teman error men*mbalkan temannya untuk dia z*nai/dis*domi sebagai syarat ritual s*sat tersebut.
Prosesi ini kemungkinan ada perantaranya juga, misal ritual tertentu, minum tertentu, disiram/diolesi tertentu, atau lainnya. Dia yang sudah kena gini, istilahnya itu mungkin kayak "udah terbuka"/pembatas alam setan jin dan dirinya mungkin udah longgar, jadi dia lebih mudah diganggu atau dikendalikan oleh setan jin maupun setan manusia.
    • Melalui alat/perantara, misalnya: 
      • Seorang penganut ilmu hit*m mencari korban menusukkan cincin lancip ke korbannya sehingga saat darah korban kena cincinnya, maka korban itu sudah ditandai.
      • Melalui minuman khusus, r*jah, j*mat, m*ntra, mimpi, atau semacamnya.
Ketika sudah kena, pikirannya mungkin bisa dipengaruhi setan jin dari jarak jauh/alam gaib.

 

Jadi, sebagaimana kita tahu, jin dan manusia itu beda alam, ada pembatasnya. Untuk bisa bertemu pembatasnya tadi itu harus dilonggarkan/dihilangkan dulu.

 

Urutannya:

Setan manusia mencari korban -->  Manusia lain terperangkap --> Mereka melakukan dosa-dosa besar dulu (syirik, zina, dll) --> Setan jin muncul dan mengikat perjanjian --> Cakor (calon korban) tadi kini telah menjadi setan manusia --> Setan manusia ini melakukan kejahatan bertingkat --> Jika ingin reward yang semakin besar dan banyak maka dosa-dosanya harus semakin besar dan semakin banyak jenisnya dan massal (misal pemb*nuhan massal, merekrut sebanyak mungkin setan manusia baru, dll) --> Semakin banyak pengikutnya dan pemujanya dan dosa-dosa yang dilakukan di bumi, setan jin semakin kuat dan merekrut lebih banyak setan-setan manusia baru dan semakin banyak kerusakan dan dosa di muka bumi (semakin besar kehancurannya) --> Setan manusia yang lemah/gak powerful/udah gak berguna, kemungkinan besar akan disingkirkan (dibikin c*cat, dib*nuh, dialienasi grup setan manusia yang powerful tadi/industrinya), sedangkan setan manusia yang kuat akan dikompori dan diberi booster sehingga makin merusak di bumi.

 

Bagaimana Setan dari Golongan Jin dan Setan dari Golongan Manusia Bertemu?
Tabel Alur Transformasi Setan Manusia

 

Mereka, setan-setan manusia tadi, punya grand plan (rencana besar dan terstruktur) dan sumber daya (terutama uang dan jaringan kakap) yang juga sangat mendukungnya. Dan mereka ada di berbagai bidang: politik, kedokteran, bisnis, atau lainnya. 

 

Bagaimana Cara Mereka Melakukan Dosa?

Ingat lagi misi iblis di dunia, dia akan membuat kerusakan sebanyak mungkin dan merekrut sebanyak mungkin setan manusia. 

Makanya, walau aku percaya aslinya antara manusia dan jin itu ada "pembatasnya", tapi manusia itu sendiri yang ngerusak batas itu, dengan maksiat dan ritual-ritual lain di atas. 

Untuk ketemu setan jin, mereka biasanya harus lelaku/ritual yang melecehkan Tuhan dan agama, mau disuruh-suruh yang di luar nalar, njijik'i, dll. Kan yang aslinya manusia itu dalam sejarahnya (yang diwakili Nabi Adam) lebih berakal daripada iblis, tapi mau di-jongkrok-in kayak gitu istilahnya, disuruh makan b*ngkai/minum d*rah mau, disuruh zina mau, disuruh menzinai hewan mau, dll (seneng tho ibl*snya, bisa mempermainkan manusia). Sampai ya wajar akhirnya saat hamilnya janinnya jadi rusak parah/error karena dikasih makan minum macem-macem dan berbuat macem-macem yang ngerusak kehamilannya.

Istilahnya itu, melanggar rules Sang Pencipta, padahal misal kita nih ya bikin sesuatu, kan kita tau banget tentang bikinan kita itu. Tapi orang-orang tadi memilih melanggar rules, sok tau, merasa jalur cepat dan mudah, sehingga Allah mengistilahkan orang-orang tadi sebagai "melampaui batas". Kamu dikasih petunjuk biar bisa beroperasi dengan baik eh malah aneh-aneh, tuh liat hasil perbuatanmu, jadi error, kan? 

 

Nah begitu seseorang jadi setan manusia dia akan membawa misi setan jin juga. Jadi, gak bisa enak-enakan barter satu ganti satu. Kalau kamu n*mbal, maka kamu akan terus n*mbal sampai akhirnya kamu sendiri yang jadi t*mbal. Kalau kamu mau naik tingkat atau bahkan sekadar tetep di posisimu, kamu harus minum m*ras, n*rkoba, z*na, elgebete, human tr*fficking, child traff*cking, melecehkan kitab dan nabimu, melecehkan Tuhanmu, g*nosida, dll. Semakin besar keinginannya, semakin besar dosanya dan semakin banyak jenis dosa besar dan kerusakan yang harus dibuat (massal). Itu sepaket ya. Inilah bentuk interaksi antara setan jin dan setan manusia. Mereka juga ada yang punya kategorisasi atau jabatan spesifik atau spesialisasi di organisasi ses*tnya tadi.


Di kalangan elit puncak yang konon jumlahnya cuma seuprit persen, itu berhubungan erat dengan hal-hal tadi. Ada elit puncak yang masuk kelompok rahasia dan mengendalikan kejahatan global yang sangat masif dan terorganisir, lalu merusak berbagai sendi kehidupan kita. Melakukan berbagai kejahatan besar di balik layar atau bahkan di depan layar karena telah masuk dunia hit*m. Karena mereka uda jadi setan manusia.

 

Siapa Memperbudak Siapa?

Sebagian setan manusia mengira dirinyalah yang memperbudak setan jin, padahal sebaliknya: setan jin-lah yang memperbudak mereka. Padahal, setan jin tidak akan bisa "menyentuh" manusia tanpa "izin dari manusia itu sendiri" (izin Allah tetapi manusia secara kasat mata mengizinkan hal itu terjadi), yaitu lewat maksiat serta r*tual s*sat dan aneh. Ironisnya, banyak yang merasa sudah menang karena mendapat harta atau ketenaran, padahal mereka hanyalah "budak" di organisasi yang suatu saat akan men*mbalkan mereka juga.

 

Jadi, sebelum merasa paling hebat karena tahu "alam sebelah", ingatlah satu hal: di sistem ini, kalau kamu sudah tidak berguna lagi untuk menciptakan kerusakan, kamu adalah target eliminasi berikutnya. Jangan sampai rencana besar mereka, menjadi kehancuran pribadimu.