![]() |
| Kerusakan Alam |
Alam dan lingkungan yang rusak memang mudah membuat orang geram. Apalagi di tengah bencana besar yang ditengarai masih berhubungan dengan tangan-tangan manusia. Namun, ketika kudengar seseorang berbicara berapi-api mengagumi penjajah, dan di-amin-i pula oleh para komentator di sana. Batinku berteriak, "Ada yang salah!" Dan kesalahan ini sangat menyakitkan hati. Bagaimana bisa penjajah yang menggores dan mencabik-cabik luka kita, tiba-tiba disanjung dan dipuja-puja.
Saya tahu kita terluka dan kecewa karena bencana-bencana dan kerusakan alam di Indonesia ini. Tapi, kalau dianggap kondisi kita saat masa penjajahan lebih baik atau penjajah lebih merawat alam ini, oh tunggu dulu.
Pada masa penjajahan Belanda, eksploitasi alamnya malah sistematis:
- Deforestasi
masif: Sejak abad ke-19, Belanda menebang hutan besar-besaran untuk
perkebunan teh, kopi, dan karet. Di Jawa, hutan jati dieksploitasi
habis-habisan untuk bahan bangunan kapal dan kereta api. Banyak lahan
rusak dan rakyat kelaparan.
- Pertambangan:
Mereka merintis pengerukan sumber daya bawah tanah, seperti batubara di
Sawahlunto (Ombilin) dan minyak bumi di Sumatera Utara, yang
meninggalkan luka lingkungan permanen di wilayah tersebut. Pertambangan
dan perkebunan dieksploitasi oleh Belanda buat ekspor, bukan buat
kaberlanjutan.
- Alih fungsi lahan: Melalui tanam paksa (Cultuurstelsel), Belanda mengubah jutaan hektar hutan menjadi lahan pertanian paksa, yang merusak ekosistem asli flora dan fauna Indonesia.
- Irigasi dan kehutanan "rapi", tetapi bukan demi alam, melainkan demi hasil ekonomi yang stabil buat Belanda.
Kalau mereka terlihat "tertib", itu karena:
Alam dijaga "supaya bisa terus dieksploitasi", bukan karena cinta lingkungan.
Kenapa alam dulu terlihat lebih "utuh"?
Bukan karena Belanda-nya baik atau merawat alam, tetapi karena:
- Populasi sedikit: kalau populasinya sedikit, kebutuhan lahan untuk pemukiman juga lebih sedikit. Tekanan ke alam lebih kecil.
- Kapasitas teknologi: alat-alat sekarang lebih bervariasi dan canggih. Karena alatnya jadul (keterbatasan teknologi), eksploitasi Belanda juga lebih lambat daripada sekarang.
- Paradigma konservasi: menjelang akhir penjajahan, Belanda mulai menerapkan kebijakan perlindungan alam (seperti pendirian cagar alam Ujung Kulon) untuk memastikan kelangsungan sumber daya mereka sendiri di masa depan.
- Akses rakyat dibatasi: bukan karena alam dilindungi, tapi rakyatnya yang dikunci (rakyat dilarang masuk, tanah adat diambil alih, dan pelanggaran dihukum berat).
Kenapa sekarang alam kita malah lebih rusak?
- Otonomi dan kebijakan: kebijakan lemah dan pro modal, bukan pro lingkungan.
- Teknologi: alat lebih maju/canggih dan lebih bervariasi.
- Kecepatan ekonomi: fokus pada pertumbuhan ekonomi yang cepat sehingga membuat faktor lingkungan nomor dua.
- Populasi raksasa: populasi sudah meningkat berkali-kali lipat, sehingga kebutuhan pun meningkat (pemukiman, pangan, bahan bakar, dll).
- Konflik sesama Indonesia,
- Korupsi dan penegakan hukum lemah,
- Elit lokal yang meneruskan pola ekstraksi kolonial.
Belanda bukan penjaga alam, mereka manajer eksploitasi.
Indonesia sekarang rusak bukan karena merdeka, tapi karena gagal keluar dari sistem kolonial versi baru.
Zaman Sekarang Kita Lebih Bebas Bersuara
Zaman
penjajahan itu kan terbatas banget ya yang kita tahu. Apalagi, kita
nggak berada di sana. Di zaman penjajahan itu rakyat nggak punya suara,
konflik ditutup paksa, dan kalau ada masalah rakyat bakal dihajar atau
disensor.
Beda dengan sekarang, konflik kelihatan karena nggak bisa ditutup. Kebijakan yang jelek pun bisa kita lihat real time. Sekarang rakyat bebas (secara teori), tapi negara lemah lawan korporasi dan hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Jadi, dulu seolah lebih rapi, padahal rapi karena dipaksa.
Infrastruktur Belanda Lebih Bagus?
Belanda
memang membangun jalan, rel kereta, pelabuhan, dan irigasi, tapi itu
bukan buat rakyat. Jalurnya dari perkebunan ke pelabuhan. Sedangkan desa
yang nggak produktif, dicuekin.
Kalau sekarang kita pake itu, bukan berarti Belandanya baik.
Itu kayak:
> maling ninggalin pisau dapur → terus dipuji karena pisaunya awet
Orang salah sangka:
> “dulu hutan terjaga”
> padahal yang dijaga itu kepentingan kolonial, bukan ekosistem.
Trauma + minder pasca-kolonial
Jangan minder sejarah.
Jangan lupa bahwa "ketertiban" kolonial dibangun di atas "penindasan dan eksploitasi".
Ini dalem tapi penting.
Banyak orang Indonesia:
- capek liat negara sendiri amburadul
- kecewa sama elite lokal
- akhirnya romantisasi penjajah
Ini mekanisme psikologis:
> “kalau dulu lebih baik, berarti kita emang nggak mampu ngurus diri sendiri”
Padahal itu warisan mental kolonial.
Elite lokal dapet untung dari narasi ini
Narasi “Belanda tertib” itu berguna buat:
- justifikasi kebijakan keras
- anti kritik
- pro investasi rakus
Logikanya:
> “lihat tuh, kita rusak karena kebebasan kebanyakan”
Padahal masalahnya bukan kebebasan, tapi ketimpangan kuasa.
Kesimpulan jujurnya
Belanda:
- ngerusak alam
- ngeksploitasi manusia
- “rapi” karena otoriter
Indonesia sekarang rusak:
- bukan karena merdeka
- tapi karena sistem kolonialnya diwarisin, pelakunya ganti orang.
Jadi gitu ya, jangan lagi bela-belain, nyanjung-nyanjung, dan bangga-banggain penjajah. Mereka nggak sebaik itu.
Bahkan, mereka nggak baik sama sekali.
Penjajah tetep penjajah. Gak ada bagus-bagusnya.
STOP BILANG "ENAK PAS KITA DIJAJAH BELANDA THO?"
Btw:
nih aku kan mau pasang gambar dari bing ya, gak bisa lho pake keyword2
penjajahan. Diblacklist ketika aku pake keyword spesifik. Sedangkan
ketika aku pake keyword zaman penjajahan? Oh noo...gambarnya lho gak
mencerminkan penjajahan blas. Kayak kondisi yang rapi, hepi, dll. (tapi
ada juga uniknya, seragamnya ya dari negara2 sono). Pelaku penjajahannya
bener tapi adegannya dan setting gambarnya yang error/salah besar.
Yah begitulah. Namanya juga AI bikinan manusia. Milik pemodal.


.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)