Mengapa Muslim Tidak Butuh Radical Acceptance?
Gb. Radical acceptance vs ridho vs tawakal

Kalau kalian sering mempelajari psikologi atau kesehatan mental, mungkin kalian sudah tidak asing dengan istilah Radical Acceptance (penerimaan radikal). Radical Acceptance sering disebut sebagai salah satu solusi untuk mengatasi trauma atau memperbaiki kesehatan mental.

Tapi, bagi yang muslim, pernahkah kamu berpikir bahwa ternyata di ajaran Islam itu sudah ada semacam itu, bahkan lebih baik dan lebih komprehensif. Meskipun, di sini, yang kubahas terkait 2 ibadah hati saja, yaitu ridho dan tawakal.

Ternyata, ridho ini sangat mirip dengan radical acceptance.

Radical Acceptance Vs Ridho

Radical Acceptance adalah konsep psikologi modern dari Dialectical Behavior Therapy (DBT) oleh Marsha Linehan. Ia berupa tindakan menerima kenyataan secara total dan tanpa syarat (tanpa menolak, memprotes, atau mengutuki kenyataan yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah). Radical Acceptance dan ridho sama-sama melatih pikiran untuk tidak denial, tidak melawan fakta yang sudah terjadi, dan menghentikan penderitaan sekunder (seperti kesedihan yang berlarut-larut akibat menolak kenyataan).

Namun, Radical Acceptance berfokus pada rasionalitas psikologis, yang menganggap bahwa kenyataan saat ini adalah hasil dari serangkaian sebab-akibat masa lalu. Menolaknya tidak akan mengubahnya dan justru membuat otak makin menderita.

Sedangkan ridho berfokus pada dimensi spiritual/keimanan, yaitu menerima dengan kelapangan hati bahwa takdir ini terjadi atas izin dan ketetapan Allah. Pada ridho terdapat unsur ketenangan batin karena rasa percaya kepada Allah.

Radical Acceptance Vs Tawakal

Jika ridho sangat mirip dengan Radical Acceptance, tawakal jauh berbeda. Tawakal bukan sekadar menerima, melainkan menyerahkan hasilnya kepada Allah setelah adanya prasyarat tindakan (ikhtiar).

Radical Acceptance adalah fase penyikapan atas fakta yang sudah terjadi (fokus pada penerimaan realitas saat ini), sedangkan tawakal adalah fase penyerahan hasil akhir atas proses yang sedang/akan diikhtiarkan ke depan (fokus pada penyerahan kendali atas masa depan). Kalau kamu pernah dengar versi psikologi yang menyuruh jangan terikat pada hasil/jangan "mengendalikan" hasil, nah itulah yang lebih mirip dengan tawakal. Lagi-lagi bedanya terletak pada sisi spiritualnya, kalau versi psikologi itu hanya tentang "ya udah kita gak bisa ngendaliin hasil karena ada uncertainty (ketidakpastian), blind spot (titik buta), dll", tapi kalau tawakal berhubungan dengan penerima atas takdir Tuhan terhadap hasil dari ikhtiar kita. Kita meyakini bahwa usaha atau kemampuan manusia itu ada batasnya. Nggak semua keinginan kita bisa kita dapatkan persis seperti mau kita, meskipun kita usaha maksimal sekalipun.

PERBANDINGAN RINGKAS

Tabel perbedaan radical acceptance, ridho, dan tawakal
Gb. Tabel perbedaan radical acceptance, ridho, dan tawakal

Urutannya dalam Praktek

Dalam urutan praktis, ketiganya saling melengkapi secara runtut:

  1. Radical Acceptance/Ridho: Berhenti meratapi kenyataan yang sudah terjadi.
  2. Ikhtiar: Memikirkan langkah logis berikutnya dari titik tempat berdiri sekarang.
  3. Tawakal: Melepaskan keterikatan pada hasil akhir dari langkah tersebut.

Singkatnya,

Ridho dan tawakal mengandung unsur iman kepada qada dan qadar (kita menerima kenyataan dan dimaknai dengan hati kita), sedangkan radical acceptance tidak (kita menerima kenyataan karena ya udah wong nggak bisa diubah lagi). Radical acceptance hanya berfokus pada hubungan sebab akibat dan tidak melibatkan unsur spiritual. Jadi, ridho mencakup radical acceptance di dalamnya, tetapi radical acceptance tidak mencakup ridho di dalamnya. Orang atheis atau agnostik pun bisa melakukan radical acceptance. Mungkin karena psikologi sendiri termasuk ranah ilmu umum, jadi tidak memuat unsur spiritual (biar netral atau diterima semua pihak mungkin ya). Itulah kenapa kita sebagai muslim harus berhati-hati dalam menyikapi psikologi, karena meskipun mirip, tetapi konsep di Islam berbeda.

Muslim punya ridho, bukan radical acceptance. Kita tidak butuh radical acceptance karena kita punya yang lebih baik darinya, yaitu RIDHO.