14 Februari 2026

Menara Kayangan: Cahaya Magis yang Menghubungkan Langit dan Bumi di Kalimantan

ilustrasi menara kayangan (contoh 1)
Ilustrasi Menara Kayangan (bukan desain yang sebenarnya)

 

Kalimantan adalah pulau yang kaya potensi wisata, tetapi sayang masih banyak orang yang mengenalnya hanya sebatas “hutan” dan “orang utan”-nya. Meskipun mall-mall telah menjamur di sana, yang dikenal orang masih saja tentang kesan kurang modern, hutan, dan kebakaran tahunan. Kita perlu memperbaiki citra ini dan mengemas hutan di Kalimantan dengan lebih baik. Hutan yang tak sekadar hutan, tetapi hutan fantasi. Hutan yang fantastis karena di dalamnya terdapat menara yang spektakuler, yaitu Menara Kayangan.

Menara Kayangan ini nantinya akan bertempat di Sepaku/Muara Badak, karena keduanya berada di perbatasan Balikpapan-Samarinda, area yang paling siap di Kalimantan dan paling potensial menjangkau pasar domestik maupun mancanegara. Selain itu, letaknya yang dekat IKN sangat mendukung untuk dikunjungi masyarakat sekitar dan pekerja IKN, pejabat, serta tamu negara, terutama sebagai sarana hiburan atau relaksasi. Ia akan ditempatkan di tempat strategis dan menghadap ke alam terbuka, seperti pegunungan, sungai, atau hutan, sehingga semakin menunjang majunya wisata alam. Dengan cara ini, menara tak hanya akan menjangkau negara-negara tetangga tetapi juga negara jauh yang pernah berkunjung ke Indonesia.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel pembangunanku lainnya di sini:

Etalase kemewahan: negara dalam pajangan, rakyat dalam angan (satire)


Baca seluruh artikel pembangunanku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pembangunan

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

­­­Selain pemilihan lokasi, menara juga didesain sedemikian rupa agar tampak lebih menonjol dari sekitarnya, misalnya dengan lanskap berundak dan tinggi menara yang dibuat melampaui obyek-obyek di dekatnya, maupun dengan desain cahaya yang luar biasa. Gerakannya yang seperti aura atau nyala api lembut, dengan bentuk yang bisa diatur menurut waktu, seperti bentuk spiral atau berkilauan bak bintang jatuh, semakin memudahkan cahaya ini dalam mengalahkan polusi-polusi cahaya di sekitarnya.

Efek yang mengesankan menara “hidup” tersebut bisa kita capai melalui:

·      Pemilihan lampu LED RGB:

Memudahkan kita mengubah warna dan intensitas cahaya menara, mendukung perubahan bentuk cahaya yang dinamis, dan mampu menciptakan efek aurora atau kilauan lembut, bintang jatuh, atau bentuk spiral yang berubah-ubah, sesuai perubahan waktu atau acara. Ia dapat difokuskan pada area tertentu untuk mengurangi polusi cahaya pada ekosistem sekitar.

·      Teknologi Pencahayaan Canggih:

Sinkronkan antara sistem pencahayaan otomatis dengan sensor cuaca, angin, atau gerakan untuk menciptakan efek yang dinamis dan misterius, misalnya cahaya bisa memanjang atau berputar mengikuti gerakan angin saat angin kencang berembus.

·      Proyeksi Dinamis:

Gunakan proyektor yang dapat menampilkan gambar 3D atau pola bergerak di sekitar menara untuk meningkatkan efek dramatis dan magisnya, seperti bintang yang melesat, galaksi yang berputar, atau silhouette bidadari yang terbang mengelilingi menara. Efek ini dapat mempertajam visual cahaya serta bisa disinkronkan dengan waktu atau acara tertentu, sehingga akan semakin memukau penonton.

·      Cahaya yang Terpadu dengan Alam:

Penggunaan sensor dan teknologi terarah, misalnya lampu sorot terarah, membantu memfokuskan cahaya hanya pada bagian yang diinginkan, sehingga tidak mengganggu hewan atau lingkungan sekitar.

 

Ilustrasi Menara Kayangan (contoh 2)
Ilustrasi Menara Kayangan (contoh 2, bukan desain yang sebenarnya)

 

Secara umum, bagian-bagian menara dapat diamati pada tabel berikut:

 Tabel menara kayangan (atas)

tabel menara kayangan (bawah)

 

Jadi, untuk memajukan potensi wisata di Kalimantan, kita bisa membangun Menara Kayangan ini, dengan desain seperti di atas.




13 Februari 2026

Review Buku "Cara Cepat Memperbaiki Mood"

 

Cara cepat memperbaiki mood (olivia remes)
Cover buku "Cara cepat memperbaiki mood"


CARA CEPAT MEMPERBAIKI MOOD

(50 Solusi sederhana berbasis sains untuk menghilangkan rasa cemas, panik, dan stres)

Penulis: Olivia Remes

Halaman: 192 halaman


Siapa yang masih susah ngendaliin mood? Nih ada buku yang bakal bantu kamu. Cara Cepat Memperbaiki Mood, karya Olivia Remes. Tadinya sih kupikir mood yang dimaksud itu tentang marah, sedih, atau lainnya. Taunya beda dikit dari bayanganku.


Mood di sini dibagi ke dalam 10 bab:

  1. Merasa ragu-ragu
  2. Merasa tidak termotivasi
  3. Merasa lepas kendali
  4. Merasa stres
  5. Merasa kewalahan
  6. Merasa cemas
  7. Merasa kesepian
  8. Merasa ditolak
  9. Merasa terpuruk
  10. Merasa dikecewakan

Setiap bab dibagi menjadi 3 bagian:

  1. Untuk dibaca saat keadaan darurat
  2. Sains kilat
  3. Cara mengatasi

Jadi, angka 50 itu didapat dari penyebaran solusi ke 10 bab tadi.

Kesanku ya, dilihat dari covernya itu "nggak memperbaiki mood". Ga ada aura cerianya. Warna kunyit/mustard gini suram, ga bawa feel bahagia. Mungkin mending kuning cerah aja sekalian, oren cerah, dan desainnya pun disesuaikan biar lebih baik.

Nah, kalau isinya buku ini tuh bagus banget. Tulisannya itu mudah dipahami dan lumayan singkat. Dia berusaha straight aslinya, tapi bagiku masih bertele-tele dan bentuknya nanggung. Jadi, dia itu antara straight, naratif, dan listicle. Mungkin untuk orang straight/yang suka to the point, dia masih kepanjangan, sedangkan untuk orang yang suka narasi/basa-basi/cerita, dia juga akan kurang memuaskan mereka.

 

Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well 

It's okay not to get along with everyone

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia keterbacaannya juga gak enak, tapi jumlah halaman per bab yang minim bisa menyelamatkan dia jadi mendingan. Isinya itu gems banget tapi layoutnya itu terlalu biasa, gak dikemas dengan lebih sungguh-sungguh. Dan cara nulisnya sebenernya masih bisa diperbaiki lagi biar lebih straight.

Ini sangat enak untuk baca buku ilmiah tapi rasa populer. Reflektif, logis juga, dan gak beraura gelap. Dia nggak bersifat memeluk/memvalidasi, tapi lebih ke memberikan fakta-fakta baru untuk memperbaiki pemikiran/midsetmu dan solutif, ngajak kamu cepat bangkit. Yang gak enak terutama layoutnya. Kayak ngerusak aja gitu. Udah nulis bagus-bagus eh layoutnya gitu doang. Sayang banget gitu lho.

Yang lebih menarik lagi, beberapa tips di buku ini jarang ada di buku lain, trus juga ada bagian agamanya yang bikin aku mikir "Ya Allah, emang bener ya kalau kita ngelanggar sedikit aja/melenceng sedikit aja dari ajaran-Mu, pasti ada efek buruknya." Ada beberapa bagian yang membuatku gitu. Tapi aku gak tau ya apakah orang lain bisa menangkap hal yang sama denganku apa nggak. Karena aku emang reflektif dan bacaan dan cara orang memaknai sesuatu kan beda-beda.

Singkatnya, buku ini bagus banget. Emang layoutnya kurang enak, tapi kalau kamu baca pas lagi betmut, bentuknya yang listicle, jumlah halaman per bab yang tidak terlalu  banyak, dan ada bagian khusus di bab itu yang emang ditujukan untuk dibaca saat keadaan darurat, serta ada rangkumannya juga, dan tempat buat coret-coretan, maka buku ini sangat kurekomendasikan.

Bagus banget.


 

12 Februari 2026

Self Talk Bukan Musuh: Dari Sunyi Tanpa Kata hingga Manfaat Nyatanya

Self talk negatif
Self talk negatif


Self talk tak selalu buruk, meski mungkin yang sering kamu baca atau dengar demikian.

Ya karena memang konteksnya mereka ngomongin tentang inner critic atau negative self talk.

Bahkan, ekstrimnya, ada yang ngatain self talk adalah sumber masalah dan harus dibungkam sepenuhnya.

Namun, sepertinya mereka hanya menduga-duga. Dulu pun perasaan atau emosi dituduh gitu. Tapi, mereka pernah nggak berada dalam kondisi perasaan yang "tidak ada" (tidak ada perasaan) atau self talk yang "tidak ada"?

Aku pernah dengan suatu metode kombi pernapasan dan gerakan mungkin qiqong, tapping, atau pokoknya semacam olahraga nyasar ke kondisi tersebut. Bukan hampa, tapi "ga ada perasaan" tapi aku masih bisa merasa. Sulit dijelaskan ya, apakah mungkin itu jiwa atau apa. Yang jelas, intinya bukan perasaan/emosi yang jadi masalah manusia. Mereka merujuk pada masalah yang salah. Lagian, daripada ngilangin "emosi/perasaan", kondisi 'tenang" yang muncul itu enakan dari ibadah. Serius.

Begitupun self talk. Kamu percaya nggak self talk bisa dihilangkan? Aku pernah berada dalam kondisi tersebut. Bahkan, mungkin sampai sekarang aku masih dalam kondisi demikian, atau setidaknya sangat minim/hampir hilang. Karena suatu momen yang tidak terduga tiba-tiba saja gitu. Waktu itu aku agak panik juga, lalu aku tanya beberapa AI dan mereka sama-sama bilang itu danger, kamu akan kehilangan fungsi otak begini begitu atau ngalami ini itu. But, nyatanya, aku fine2 aja.

Hatiku bisa tidak berbicara tapi ada sesuatu yang sangat dalam entah otak atau apa yang masih bisa berbicara "tanpa kata" (meskipun konteks internal). Aku sulit jelasinnya.

Namun, lagi-lagi, aku mo nunjukin, masalah intinya adalah bukan tentang membungkam self talk.


Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global

 

Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2025/11/membangun-kesempatan-setara-menghargai.html

 

Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku


Baca seluruh artikel inspirasiku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Nah, setelah kujelasin gimana self talk jadi nol (gak negatif kayak di atas), sekarang aku mo jelasin kalau self talk juga bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat alias positifnya self talk.

Aku ini sangat bermasalah dalam berbicara. Suaraku sangat minimalis dan mulutku kering. Bicara agak banyak atau keras membuatku mudah radang tenggorokan. Tentu saja aku punya keterbatasan tidak bisa ibadah suara sebanyak orang lain, bergaul sebanyak orang lain, atau menghafal disuarakan serajin orang lain.

Namun, beruntungnya ada suara-suara lain yang bisa bantu. Aku dapat tips dari AI untuk orang-orang bersuara kecil dan terbatas sepertiku.

Untuk ibadah suara, hafalan, praktek berbicara, atau semacamnya, dia kasih aku tips-tips di bawah ini:

  • Bicara dalam hati,
  • Bicara dalam pikiran,
  • Bicara dengan sangat pelan,
  • Sekadar gerakan bibir seolah mengucapkan kata-kata tersebut

Alhamdulillah juga ya Islam juga menyediakan jenis ibadah hati. Zikir dalam hati pun boleh. 

Ada orang-orang tertentu yang bisa banyak zikir suara, banyak ngaji, banyak hafalan Qur'an atau lainnya dan itu adalah kelebihan mereka. Aku tidak punya kelebihan di situ. Bahkan, aku sering merasa wow banget (takjub/kagum) tiap ada orang beberin dia zikir misalnya istighfar rutin sepuluh ribu kali. Itu adalah kelebihan dia dan rahmat Allah baginya.

Jadi, ketika AI ngasih aku tips-tips di atas, aku merasa ternyata ada jalan bagiku untuk belajar dan beribadah ala aku (yang sesuai dengan keterbatasanku).

Ya gitu deh, intinya self talk ada sisi positifnya juga, sebagaimana banyak hal lain pada umumnya. Dan itu bukan tentang afirmasi (bukan tentang self talk yang disuarakan keras, tapi self talk batin) tetapi kegunaan lain seperti yang sudah kujelaskan di atas. Buat orang-orang yang punya masalah sepertiku ini bisa ngebantu banget.


11 Februari 2026

Membangun dari yang Terdekat: Logika yang Sering Dianggap Sepele

 

Desa yang asri dan bahagia
Desa yang asri dan bahagia


Baik pun harus terarah. 

Sebaik apa pun diri kita sumber daya kita terbatas. 

Waktu juga terbatas. 

Jadi, betapapun kita ingin membantu "segalanya" itu mustahil.

 

Di sini, saya ingin menyoroti di mana pertolongan dan fokus kita harus diutamakan. 

Di Islam sudah diajarkan, utamakan keluarga dulu (istri dan anak) baru orang-orang terdekat dan orang-orang yang kita kenal (tetangga, saudara dll), baru orang-orang lain. 

Membangun juga gitu. Dari diri sendiri yang dipimpin, lalu membangun keluarga, lalu masyarakat kecil, lalu masyarakat skup yang lebih besar. 

Jadi:


Diri sendiri -> keluarga -> RT/RW -> Desa -> kecamatan -> dst ke skup yang lebih besar (negara sendiri lalu negara tetangga lalu negara lain)


Masalahnya, urutan ini sering diabaikan atau bahkan dibalik.

Akhirnya kacau dan tak kunjung berhasil.

Ini bukan soal keren-kerenan atau imej, tapi kebermanfaatan dan peluang bahwa perubahan itu akan lebih mudah dan lebih cepat terjadi.

Pertama, amankan diri sendiri dulu. Lalu, baru peduli lingkungan terdekat, baru yang semakin jauh.

Dan di sini, kita pilah-pilah lagi, pilih yang lebih banyak manfaatnya dulu orang/wilayahnya. Sehingga, adil itu bukan tentang merata atau sama besar. Adil itu tentang kita akan membantu orang/wilayah yang mau membantu dirinya sendiri, yang cermat di dalam mengelola keuangan atau bantuan tersebut, dan memberikan manfaat berlipat ganda bagi orang/wilayah yang ditolong tersebut. Artinya, akan memampukan mereka hidup mandiri dan tidak ketergantungan lagi. Bantuan itu diperebutkan dan diatur proporsinya sesuai usaha masing-masing, bukan sekadar dibagi-bagikan merata.


Telah banyak contoh dari pembangunan dari bawah ke atas atau dari dekat ke jauh seperti ini. Ada yang individu atau satu dua orang mampu membangun wilayahnya, ada desa A berhasil di dalam bidang X, ada kampung B mampu menghidupi kampungnya sendiri, dll. Saya tidak nyantumin spesifik contohnya karena males nyari-nyari lagi referensi itu. Lagian ini kan format blog, yang penting idenya nyampe.


Masalahnya, yang terdekat dan pemerintahan yang terbawah malah ditangani makin asal-asalan. Pemilihan ketua RT atau RW digilir karena nggak ada yang mau menjabat atau langsung diserahkan yang termuda (karena untuk buli-bulian dan dianggap nurut), atau dikuasai orang yang dominan tapi gak peduli dan gak kompeten (karena sekarang udah ada bayarannya), atau lainnya. Pemilihan kepala desa itu orangnya itu-itu aja atau muter di keluarganya, atau semacamnya. 

RT dan RW tidak ditangani serius, banyak sungkannya, atau sekadar formalitas. Begitupun kepala desa, nggak jelas programnya dan pembangunannya apa. Bertahun-tahun menjabat/"ganti" tidak terlihat perubahan yang berarti atau bahkan tidak terlihat perubahan sama sekali.

Nggak cuma itu, korupsi di tingkat desa ini termasuk salah satu korupsi yang tertinggi di Indonesia. 

Jadi, di tingkat desa pun bancakannya sudah seheboh itu, bagaimana dengan tingkat yang lebih tinggi? Beneran lebih rendah korupsinya atau sekadar main "lebih cantik"?


Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel pembangunanku lainnya di sini:

Etalase kemewahan: negara dalam pajangan, rakyat dalam angan (satire)


Baca seluruh artikel pembangunanku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pembangunan

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Jadi, bagi individu maupun konteks pemerintahan, sosial, atau lainnya, terapkanlah urutan dari bawah ke atas dan dari dekat ke jauh ini.

Bukan berarti tidak boleh peduli yang lebih jauh, tetapi proporsinya harus diatur - semakin jauh semakin kecil atau dikesampingkan/tidak diprioritaskan. 

Kalau kita sakit misalnya siapa yang lebih mungkin bantu dimintai tolong/bantu duluan? 

Kalau desa kita butuh/kena bencana siapa yang lebih mungkin dimintai tolong/bantu duluan?

Kalau wilayah kita sedang butuh sedangkan pemerintahan yang lebih atas tidak peduli kita atau tidak memprioritaskan kita atau lambat responnya, lalu bagaimana?

Itulah kenapa kita harus urut dari bawah ke atas dan dari yang terdekat ke terjauh dulu.

Lagipula, semakin dekat dengan kita semakin memungkinkan/mudah kita memantaunya. Beda dengan kalau nyumbang atau peduliin yang jauh-jauh dulu, nggak ada yang tahu beneran sampai apa nggak atau gimana pemanfaatannya. Sementara kalau yang lebih dekat, kita bahkan bisa ikut mantau atau terjun langsung di dalamnya (dan emang idealnya harus demikian, berpartisipasi aktif).


Iya, kita diajarkan untuk peduli orang lain, tetapi masalahnya ada pada bentuk, proporsi, kemanfaatan, dan prioritas.

Kalau kita tidak kaya, ya jangan maksa nyumbang banyak, atau jangan nyumbang uang sama sekali. Kita bisa bantu tenaga, waktu, tulisan, koneksi, publikasi, barang-barang baik yang sudah tidak kita butuhkan, atau lainnya.

Lalu proporsi: dekat lebih banyak dari yang jauh. 

Kemanfaatan dan prioritas: yang paling bermanfaat dapat duluan dan lebih besar. 

Kita membantu untuk membuat mereka bangkit dan mandiri dan dalam jangka panjang menjadi pihak kuat yang bisa membantu orang atau wilayah lainnya lagi, bukan untuk membuat mereka lemah, malas, atau ketergantungan.


Sering juga saya jumpai, lembaga-lembaga donasi itu malah mencantumkan minimal donasi yang sangat tinggi. Ya itu terserah mereka sih, tapi ada orang-orang yang tidak kaya itu sebenarnya ingin menyumbang juga. Namun, karena jumlahnya tidak sesuai ekspektasi dari lembaga-lembaga donasi itu, meskipun orang-orang tadi mampunya segitu (dan secara urutan saya di atas memang harus lebih kecil dari yang lain), akhirnya malah mungkin tidak jadi menyumbang.


Yah intinya, perbaiki dulu individu, keluarga, RT/RW, dan desa. Masyarakat kecil dulu baru dunia/internasional/negara lain. Tangani dengan serius, seperti kita menangani perusahaan. Timbang untung ruginya, catat, evaluasi, dan perbaiki. Pecat orang-orang yang tidak baik, tidak kompeten, atau menjadi penghalang. Setiap dana keluar harus mendatangkan dana baru/laba atau kemanfaatan yang berkali-kali lipat lebih besar. Dan itu butuh cara/struktur yang manjur juga di dalam menerapkannya.

 

 



 








08 Februari 2026

Menjadi Cowok yang Lebih Keren? Inikah Versi Keren bagi Kaum Adam?

Belakangan ini ada sesuatu yang sangat mengusik pikiranku. Membuatku nggak habis pikir. Kok aneh gitu cowok keren versi kaum Adam sendiri.


Gondrong 

Pake giwang (terutama kayak kancing hitam di telinga), gelang, cincin, kalung, atau tindik.

Atau bahkan pake lipstik/pewarna bibir ala artis-artis film


Coba tebak mirip siapa? 

Benar mirip kami, para CEWEK. 

Lah kok? Semakin mirip kami semakin mereka merasa keren, padahal kan semakin menjauhi atau melenceng dari identitas gendernya. 

Semakin nggak laki secara penampilan, mau dibilang model aksesorisnya beda dari cewek pun tetep aja itu makin mirip kami.


Yang gak kalah aneh juga, keren bagi mereka itu lebih mengarah ke hal-hal yang merusak diri dan atau lingkungannya.

Nger*kok

T*to

M*ras

Atau perilaku2 berbahaya yang ga guna, selain dalih mereka untuk tantangan, adrenalin, atau semacamnya, seperti:

Keb*t-keb*tan

Suka mukul/t*wuran/pemarah

Merusak anak orang (menz*nahi sebanyak mungkin)

Lalu siapa yang akan ikut kena dampaknya jika mereka luka, cacat, atau mati?


Yah itu adalah standar aneh dari sebagian cowok atau oknum cowok yang kehilangan kemampuan menilai cowok keren yang benar dan positif itu seperti apa sih.


Masa iya yang SEMAKIN MIRIP CEWEK?

Masa iya yang SEMAKIN RUSAK/SEMAKIN MERUSAK?

Yuk deh yang cowok2 bisa direnungkan kembali.



06 Februari 2026

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah

 

Harimau di hutan

Segerombolan harimau di hutan


Manusia Ingin Mengorbankan Harimau, tetapi Dirinya Terkena Juga

Lagi, korban harimau terus berjatuhan. Tak hanya teror harimau terhadap warga dan ternak di Langkat, tetapi juga di Solok, Siak, Pelalawan, dan daerah lainnya.

Ancaman itu nyata, dari luka parah hingga kehilangan nyawa. Jika satu korban lagi berjatuhan, terlalu banyak rasanya. Betapapun kita ingin hidup berdampingan dengan makhluk belang ini, hubungan kita dengannya jangan terlalu diromantisasi.

 

Hubungan Manusia dan Harimau Jangan Terlalu Diromantisasi

Mungkin sesekali video manusia memelihara atau memeluk hewan buas seperti harimau ini pernah lewat di beranda Anda. Atau, mungkin Anda pernah mendengar cerita-cerita legenda tentang bagaimana manusia bersahabat dengan hewan-hewan hutan yang perkasa. Namun, jangan lupa, harimau adalah hewan buas. Hewan karnivora. Hewan yang sangat instingtif dan bisa memangsa Anda bila kelaparan atau saat Anda lengah.

Apalagi, kalau harimaunya tua, cacat, atau terluka, manusia seringkali menganggapnya sudah aman. Padahal, ternak-ternaknya dan dirinya kini malah semakin menarik untuk menjadi santapan. Manusia dan ternak-ternaknya yang lamban dan dibatasi kandang atau tali kekang, sangat hemat energi untuk dimangsa daripada rusa yang bisa berlari kencang di hutan. Jadi, bukannya lebih aman, nyawa manusia bisa semakin terancam..

Sebagaimana manusia yang bisa memakan harimau jika kelaparan, harimau juga demikian. Sudah ada contohnya, misalnya pada Suku Anak Dalam. Karena desakan perut yang menguat, mereka bahkan memakan harimau - hewan yang didewa-dewakannya sejak dulu. Sama juga dengan harimau, semakin membahayakan manusia jika perutnya keroncongan. Layaknya hukum alam, tiap-tiap makhluk ingin melindungi diri dan bertahan.

Jadi, alih-alih berfokus pada romantisasi terhadap harimau, jalinlah hubungan yang saling menghormati dengannya- bukan hubungan yang menganggap harimau aman/jinak, bukan juga tentang santai-santai saja dekat dengannya, serta selfi-selfi dan memeluk dia. Sudah banyak manusia ceroboh yang menjadi korban karenanya. Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya. Jika memang ingin hidup bersama dengan mereka (coexistence), pastikan keamanan kita menjadi prioritas utamanya.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global

 

Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2025/11/membangun-kesempatan-setara-menghargai.html

 

Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku


Baca seluruh artikel inspirasiku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Menakar Koeksistensi (coexistence) dengan Hati-Hati

Ketika kita berbicara mengenai koeksistensi, kita harus berhati-hati dan penuh strategi. Jangan sampai menjadi sekadar wacana karena jika gagal taruhannya NYAWA. Kita tidak boleh hanya menduga-duga, tetapi sebisa mungkin harus presisi.

Harimau tak seperti beruk, dia punya tingkat ancaman yang lebih tinggi. Beruk, meski juga berbahaya bagi manusia, tetapi pada beberapa area manusia sudah bisa hidup berdampingan dengannya. Namun, untuk harimau, meskipun di negara luar sudah ada kisah serupa, kita tetap harus sangat waspada.

Seperti serangan harimau terhadap 2 warga pada 16 September lalu di kebun karet, Solok, yang masih segar beritanya. Serangan harimau di negara kita masih sangat banyak dan beragam. Tak hanya di area hutan, serangan tersebut juga terjadi di perkebunan, jalan, area memancing, juga pemukiman. Korban disergap saat sedang dalam aktivitas yang berbeda-beda. Selain itu, korban tidak hanya menimpa pendatang, melainkan juga penduduk sekitar.

Parahnya lagi, teror ini terjadi di berbagai daerah. Bahkan, teror terhadap manusia dan ternak ini juga ada yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Apa yang salah dengan pengelolaan hutan kita?

Kisah Suku Anak Dalam di bawah ini dapat membantu kita menjawabnya.

 

Ketika Suku Anak Dalam dan Harimau Bernasib Serupa

Kalau akhir-akhir ini harimau terus menerkam/memangsa manusia dan terdorong keluar dari hutan (habitatnya), suku Anak Dalam pun pernah bernasib serupa. Pada Desember 2014 hingga Maret 2015, 11 Suku Anak Dalam Jambi tewas karena kelaparan. Di Taman Nasional Bukit Duabelas yang telah beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit, hutan tak lagi kaya pangan, kaya air, atau kaya bahan obat tradisional. Hewan buruan sulit didapat, bahan ramuan pun sama saja. Suku Anak Dalam tak berdaya. Mereka menjadi lemah dan sakit, tetapi tak bisa menerapi dirinya sendiri karena bahan ramuannya tak lagi tersedia. Demi bertahan hidup, akhirnya mereka berburu apa saja, termasuk harimau, hewan yang didewa-dewakannya. Atau, kalau semakin terdesak, mereka akan mengincar hasil ladang warga, atau berhamburan keluar hutan menuju pinggir-pinggir desa, jalan-jalan, atau rumah warga di sekitarnya (Viva.co.id).

Kisah Suku Anak Dalam di atas sangat mirip dengan apa yang dialami harimau akhir-akhir ini. Karakter harimau yang suka menjangkau wilayah jelajah luas serupa dengan Suku Anak Dalam yang suka hidup berpindah-pindah. Mereka lalu sama-sama terdesak di hutan dan kelaparan, sehingga terpaksa memakan/memangsa pihak lain, kemudian sama-sama mengincar ladang warga atau keluar hutan demi mengisi perutnya. Kisah mereka menggambarkan pelajaran yang sempurna, bahwa hutan kita sedang tidak baik-baik saja.

 

Strategi Menuju Koeksistensi yang Sehat antara Harimau dan Manusia

Banyak pihak telah menduga bahwa penyebab maraknya konflik harimau dengan manusia akhir-akhir ini adalah karena penyempitan habitat harimau dan juga masalah pangannya. Namun, kita tak boleh berhenti sampai di situ, kita harus menghitung dengan presisi berapa kebutuhan tersebut yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, di dalam mengatasi konflik harimau dan manusia, kita membutuhkan sinergi dari berbagai ahli/lintas disiplin, seperti:

·      Ahli Statistik dan Data Science

Ahli ini bertugas mengolah data konflik (frekuensi serangan, lokasi, musim, dll), memodelkan risiko, dan memprediksi tren. Dengan berbasis data, mereka akan menganalisis pola-pola konflik dan memprediksi kebutuhan kita akan sumber daya.

·      Ahli Matematika Terapan / Operasional Riset

Ahli ini bertugas membuat model alokasi optimal sumber daya konservasi (seperti jumlah petugas, lokasi penempatan, rotasi shift, dll) — mirip sistem rumah sakit atau pemadam kebakaran. Termasuk penggunaan linear programming, integer optimization, atau model antrian. Mereka berperan menentukan berapa banyak personel yang dibutuhkan dan penempatannya, dengan cara yang paling efisien dan efektif.

·      Ahli GIS dan Spasial Ekologi

Ahli ini bertugas membuat peta risiko, zonasi habitat, pergerakan harimau, dan interaksi dengan pemukiman manusia. Mereka bisa menggabungkan data lokasi dengan statistik konflik dan menampilkannya secara spasial. Dengan bantuan mereka, kita bisa memetakan dan mengidentifikasi hotspot konflik serta pergerakan harimau secara real-time.

·      Ahli Sosial Lingkungan dan Antropologi

Ahli ini bertugas khusus untuk memahami kondisi masyarakat lokal seperti Suku Anak Dalam: pola hidup mereka, kebutuhan, dan potensi konflik. Mereka harus bisa menjembatani pendekatan teknologi dan budaya lokal. Merekalah yang akan menerjemahkan hasil teknis menjadi kebijakan yang adil, serta mendorong solusi yang diterima masyarakat.

Para ahli tadi bisa memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kondisi hutan kita, misalnya:

·      Spatial Risk Modeling (Model Risiko Spasial): untuk memetakan zonasi jumlah personel berdasarkan risiko konflik manusia-harimau, yaitu menggunakan data GIS dan statistik kejadian konflik.

·      Poisson Process / Poisson Distribution: untuk memprediksi frekuensi serangan per wilayah per tahun, lalu mengatur jumlah ideal petugas yang siaga.

·      Resource Allocation Optimization Model: model ini menekankan pada efisiensi jumlah personel konservasi, yaitu dengan memperhitungkan biaya, jumlah personel, efektivitas, dan kebutuhan berdasarkan wilayah.

·      Agent-Based Modeling (ABM): mensimulasikan dengan sangat realistis mengenai interaksi harimau, manusia, dan petugas konservasi dalam satu sistem kompleks, dan mencari solusi optimal berbasis dinamika lapangan.

Kita tinggal memilihnya sesuai kebutuhan. Jika ingin solusi logis dan sederhana berdasarkan data, kita bisa menggunakan Spatial Risk Modeling atau Poisson Process. Jika kita ingin solusi yang efisien, kita bisa menggunakan Resource Allocation Optimization Model. Sedangkan jika kita ingin solusi yang visioner maka Agent-Based Modeling adalah jawabannya.

·      Model Predator-Mangsa (Predator-Prey Model)

Contohnya Lotka-Volterra. Dengan data nyata, model ini bisa disesuaikan untuk memperkirakan keseimbangan antara predator dan mangsa.

Jadi, untuk menghindari harimau beralih ke ternak atau konflik, hutan harus mampu mendukung sejumlah mangsa tersebut yang bisa diakses secara efektif.

Intinya, kita harus menghitung dengan teliti segalanya, baik menggunakan model matematika/statistika maupun simulasi komputer. Tidak hanya tentang hal-hal di atas, tetapi juga tentang kebutuhan ruang harimau, yaitu dengan memperhitungkan struktur sosial harimau,wilayah blok sosial per jantan/eksklusivitas jantan, overlap home range antar individu (khususnya betina dengan jantan), zona antara (buffer non-teritorial antar wilayah jantan dewasa), zona dispersal untuk sub-adult, serta cadangan zona konflik atau zona penyangga luar (opsional).

Harimau jantan tak bisa dipaksa hidup berdempetan terus-menerus. Jika zona jantannya tidak ada buffer atau terlalu tumpang tindih, maka akan terjadi perebutan wilayah berdarah, harimau terdorong keluar, serta konflik manusia-harimau akan meningkat tajam. Jika memang ruang terbatas, kita perlu mengatur kapasitas daya dukung populasinya. Jangan biarkan harimau berkembang tanpa kendali.

 

Jika Kebutuhan Ruang Harimau Lebih Besar daripada Ruang yang Tersedia

Jika dari hasil penghitungan model matematika/statistika atau simulasi komputer ternyata kebutuhan ruang harimau lebih besar daripada luas hutan yang tersedia, maka jantan dewasa akan tetap mempertahankan perilaku teritorial. Home range terpaksa menyusut, sedangkan overlapping jantan meningkat, sehingga memicu perkelahian, kematian antar individu, serta dispersal ke luar zona aman (yang akhirnya berkonflik dengan manusia). Sementara itu, sub adult tak punya ruang untuk dispersal, sehingga terdorong ke pinggiran hutan, pemukiman, dan perkebunan. Tingkat mortalitas yang tinggi, konflik dengan manusia, sumber daya yang terbatas, serta fragmentasi genetik (inbreeding) akhirnya bisa menyebabkan populasi harimau stagnan atau menurun.

Untuk mengatasinya, kita bisa melakukan beberapa cara berikut:

·      Adaptasi Ekologis – perkecil home range sementara

Harimau bisa menekan home range mereka sementara asal ketersediaan mangsa tinggi dan minim gangguan manusia. Namun, ketegangan sosial antar harimau bisa meningkat, terutama karena meningkatnya konflik antar jantan karena zona antara (buffer) yang hilang/menyempit drastis. Akibatnya, stabilitas sosial harimau jangka panjang dapat terganggu.

·      Fokus pada individu produktif, yaitu dengan mempertahankan sejumlah kecil jantan dominan dan beberapa betina untuk menjaga reproduksi. Misalnya: 3 jantan dan 6–10 betina bisa cukup untuk menjaga populasi kecil yang viable dalam jangka pendek. Namun, risikonya populasi akan terlalu kecil dan rentan inbreeding serta kehilangan genetik.

·      Gunakan Lanskap Multifungsi (Matrix Landscape)

Walau habitat utama sempit, harimau bisa menjelajah lanskap sekitar jika ada koridor vegetasi, zona pertanian ramah satwa (wildlife-friendly farming), serta manusia tidak langsung bunuh saat melihat harimau. Model lanskap seperti ini umum di India & Nepal → human–wildlife coexistence model.

·      Konektivitas Antar Kawasan (Koridor Ekologis)

Daripada memaksakan semua harimau di satu blok sempit, hubungkan ke hutan lain dengan koridor alami (sungai, sempadan, sabuk hijau) atau reforestasi kecil yang menghubungkan patch hutan. Hal ini memungkinkan terjadinya dispersal alami ke blok lain, mengurangi tekanan dan mencegah inbreeding.

·      Manajemen Populasi Aktif

Kalau populasinya mulai terlalu padat dan ruang terbatas, lakukan relokasi individu tertentu ke kawasan lain atau terapkan kontrasepsi satwa liar.

 

Strategi Praktis bagi Pengelola Kawasan Hutan

STRATEGI

TUJUAN

KAPAN DITERAPKAN

Kurangi buffer zone

Maksimalkan ruang untuk lebih banyak individu

Ruang sangat sempit tapi populasi masih kecil

Prioritaskan jantan dominan      

Jaga stabilitas sosial                       

Saat hanya bisa dukung 1–2 wilayah jantan

Bangun konektivitas lanskap      

Jangka panjang, turunkan konflik             

Saat hutan kecil tapi ada patch terdekat

Sosialisasi ke masyarakat sekitar

Redam konflik saat dispersal meningkat       

Saat zona dispersal masuk desa/perkebunan

Monitoring & respon cepat        

Cegah konflik meluas

Harus selalu ada tim tanggap konflik    

 

Mengukur Kemampuan Diri Sendiri

Konservasi, termasuk koridor satwa, tidak boleh meminggirkan masyarakat adat. Konservasi harimau itu penting, tetapi masyarakat adat selama ini juga telah ikut andil dalam menjaga hutan. Kenyataan bahwa ruang kita terbatas, maka kita harus berbagi ruang antara hewan dengan manusia. Meskipun, pada prakteknya, masyarakat adat/masyarakat sekitar hutan itu sendiri yang bisa mengukur sejauh mana mereka mampu hidup bersama dan aman dengan harimau dan hewan hutan lainnya. Jadi, meskipun di India dan Nepal masyarakat seperti bisa hidup bersama dengan harimau seperti biasa, tetapi yang lebih mengetahui kondisi diri dan hutan kita adalah masyarakat yang memang ada di sekitar hutan itu sendiri. Intinya, kita tidak sekadar meniru negara lain atau meromantisasi hubungan harimau dan manusia ini. Kita perlu mengukur kemampuan diri sendiri dan tetap melakukan pencegahan yang diperlukan.

 

Melakukan Pencegahan yang Diperlukan

Dalam melakukan pencegahan yang diperlukan kita tidak boleh saling melempar tanggung jawab. Masing-masing pihak harus melakukan apa yang ada di dalam tanggung jawabnya, yaitu sebagai berikut:

 

Peran pemerintah:

Menghitung kebutuhan pangan harimau secara akurat (termasuk faktor kompetitor, aksesibilitas mangsa, dan tekanan pemburu)

Membangun/memperbaiki fungsi koridor satwa: agar harimau bisa berpindah tanpa melintasi pemukiman. Kita perlu mengecek apakah koridor terlalu sempit atau terganggu aktivitas manusia? Apakah benar-benar digunakan oleh harimau? Apakah tersambung ke habitat mangsa yang cukup? Kalau koridor cuma lorong panjang tanpa cukup pakan dan perlindungan, harimau tetap bisa keluar jalur dan bertemu manusia.

Restorasi dan perlindungan habitat mangsa: mengembalikan populasi mangsa dan menekan perburuan liar oleh manusia.

Program kompensasi ternak (yang diterkam harimau): supaya warga tidak membalas dendam pada harimau.

Pendidikan dan pelibatan masyarakat lokal: jadikan warga sebagai bagian dari solusi. Libatkan mereka sebagai pemandu satwa liar, penjaga hutan (community rangers), serta penerima manfaat ekowisata atau konservasi.

Membuat sistem peringatan dini dan monitoring GPS: beberapa harimau bisa dipasangi GPS collar. Jika harimau telah mendekati pemukiman, bisa mengirim peringatan pada warga.

Membuat zonasi kegiatan manusia: relokasi ladang/ternak agar tidak terlalu dekat tepi hutan, serta membuat zona penyangga (buffer zone) sehingga manusia dan satwa tidak langsung bersinggungan.

 

Peran individu/masyarakat:

Membatasi waktu aktivitas di dekat hutan: hindari subuh dan senja. Pagi setelah matahari terang hingga siang/awal sore lebih aman.

Lewat hutan secara berkelompok, minimal 4 orang. Makin banyak makin baik.

Memakai topeng di belakang kepala: karena harimau cenderung menyerang dari belakang saat merasa tidak dilihat.

Memagari rumah atau kandang: untuk mencegah serangan spontan, menjaga ternak, serta memberi waktu warga untuk bereaksi. Masukkan ternak ke dalam kandang tertutup saat malam. Beri penerangan malam dan sistem peringatan dini (kaleng, lonceng, lampu sorot otomatis, atau anjing penjaga - bagi non muslim) di sekitar pagar. Selain itu, olahlah sampah dan bangkai ternak agar jangan sampai menarik predator. Memagari rumah hanyalah upaya pencegahan, tetapi perlu didukung dengan upaya-upaya di atas serta edukasi warga.

Memasang spanduk dan memberi peringatan kepada warga pendatang: spanduk harus sangat besar dan menyolok dan ditempatkan sebelum memasuki area-area rawan. Spanduk ini menjadi semacam peringatan terakhir setelah pendatang diperingatkan dari mulut ke mulut, diberi peringatan mengenai waktu kunjungan, atau diperingatkan melalui panduan wisata/panduan bagi pendatang. Atau bisa juga dengan memberi peringatan berupa rekaman suara dan bunyi alarm pertanda bahaya atau larangan sepenuhnya bagi warga untuk memasuki area tersebut. Di daerah yang asing semacam ini, sangat berbahaya jika pendatang tidak paham medannya. Yang lebih tahu mengenai kondisi hutan dan jalur-jalur satwa (terutama yang berbahaya) biasanya adalah masyarakat sekitar hutan tersebut. Misalnya masyarakat Besemah, mereka memiliki landskap “Besemah Libar” dengan dengan koridor satwa yang disebut “Bakal Agung”. Area tersebut sering dilewati oleh harimau Sumatera dan hewan hutan lainnya, sehingga mereka tidak membangun kebun atau rumah di sana. Akan tetapi, para pendatang tidak tahu, sehingga banyak dari pendatang yang akhirnya jadi korban serangan harimau. 

 

Harimau Harus Berubah? Yang Benar Saja

Di tengah riuh konflik manusia dan harimau, muncul tuntutan: “Harimau harus berubah!” Harimau diminta menepi, tidak menyerang ternak, tetap hidup “baik-baik saja” di ruang yang makin menyempit. Serius? Harimau bukan pegawai kantor yang bisa diatur jam kerjanya. Ia predator: lapar, punya wilayah, dan instingnya tetap sama sejak ribuan tahun lalu.

Menyuruh harimau berubah tanpa memperbaiki hutan dan tata kelola manusia itu seperti menyuruh kucing agar tidak mencakar sofa, padahal kita sendiri yang bikin sofa empuk dan menarik. Ironisnya, manusialah yang punya akal, teknologi, dan data untuk menghitung, merencanakan, dan mengantisipasi. Harimau cuma menjalankan hukum alamnya: bertahan hidup.

Koeksistensi bukan soal harimau jadi jinak, bukan soal selfie di hutan atau memeluk makhluk belang. Koeksistensi berarti manusia berubah: mengatur ruang, menghitung pangan, menjaga koridor, dan melibatkan masyarakat lokal secara adil. Jadi kalau memang ada yang harus berubah, bukan harimaunya. Yang perlu berubah adalah manusianya, yang sering lupa bahwa ia sedang berbagi ruang dengan predator puncak.

Harimau harus berubah? Yang benar saja. Kalau kita serius ingin hidup berdampingan, langkah pertama adalah membuka mata, bukan mengharap predator besar itu tiba-tiba ikut aturan manusia.