 |
Segerombolan harimau di hutan
|
Manusia Ingin
Mengorbankan Harimau, tetapi Dirinya Terkena Juga
Lagi,
korban harimau terus berjatuhan. Tak hanya teror harimau terhadap warga dan
ternak di Langkat, tetapi juga di Solok, Siak, Pelalawan, dan daerah lainnya.
Ancaman
itu nyata, dari luka parah hingga kehilangan nyawa. Jika satu korban lagi berjatuhan,
terlalu banyak rasanya. Betapapun kita ingin hidup berdampingan dengan makhluk
belang ini, hubungan kita dengannya jangan terlalu diromantisasi.
Hubungan Manusia dan
Harimau Jangan Terlalu Diromantisasi
Mungkin
sesekali video manusia memelihara atau memeluk hewan buas seperti harimau ini
pernah lewat di beranda Anda. Atau, mungkin Anda pernah mendengar cerita-cerita
legenda tentang bagaimana manusia bersahabat dengan hewan-hewan hutan yang
perkasa. Namun, jangan lupa, harimau adalah hewan buas. Hewan karnivora. Hewan
yang sangat instingtif dan bisa memangsa Anda bila kelaparan atau saat Anda
lengah.
Apalagi,
kalau harimaunya tua, cacat, atau terluka, manusia seringkali menganggapnya
sudah aman. Padahal, ternak-ternaknya dan dirinya kini malah semakin menarik
untuk menjadi santapan. Manusia dan ternak-ternaknya yang lamban dan dibatasi
kandang atau tali kekang, sangat hemat energi untuk dimangsa daripada rusa yang
bisa berlari kencang di hutan. Jadi, bukannya lebih aman, nyawa manusia bisa
semakin terancam..
Sebagaimana
manusia yang bisa memakan harimau jika kelaparan, harimau juga demikian. Sudah
ada contohnya, misalnya pada Suku Anak Dalam. Karena desakan perut yang
menguat, mereka bahkan memakan harimau - hewan yang didewa-dewakannya sejak
dulu. Sama juga dengan harimau, semakin membahayakan manusia jika perutnya
keroncongan. Layaknya hukum alam, tiap-tiap makhluk ingin melindungi diri dan
bertahan.
Jadi,
alih-alih berfokus pada romantisasi terhadap harimau, jalinlah hubungan yang
saling menghormati dengannya- bukan hubungan yang menganggap harimau
aman/jinak, bukan juga tentang santai-santai saja dekat dengannya, serta
selfi-selfi dan memeluk dia. Sudah banyak manusia ceroboh yang menjadi korban
karenanya. Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya. Jika memang ingin
hidup bersama dengan mereka (coexistence), pastikan keamanan kita
menjadi prioritas utamanya.
Baca artikel pemikiranku lainnya di sini:
Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global
Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:
https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2025/11/membangun-kesempatan-setara-menghargai.html
Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:
https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku
Baca seluruh artikel inspirasiku di sini:
https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi
Baca artikel blog lengkapku di sini:
https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/
Menakar Koeksistensi (coexistence)
dengan Hati-Hati
Ketika
kita berbicara mengenai koeksistensi, kita harus berhati-hati dan penuh
strategi. Jangan sampai menjadi sekadar wacana karena jika gagal taruhannya
NYAWA. Kita tidak boleh hanya menduga-duga, tetapi sebisa mungkin harus
presisi.
Harimau
tak seperti beruk, dia punya tingkat ancaman yang lebih tinggi. Beruk, meski
juga berbahaya bagi manusia, tetapi pada beberapa area manusia sudah bisa hidup
berdampingan dengannya. Namun, untuk harimau, meskipun di negara luar sudah ada
kisah serupa, kita tetap harus sangat waspada.
Seperti
serangan harimau terhadap 2 warga pada 16 September lalu di kebun karet, Solok,
yang masih segar beritanya. Serangan harimau di negara kita masih sangat banyak
dan beragam. Tak hanya di area hutan, serangan tersebut juga terjadi di
perkebunan, jalan, area memancing, juga pemukiman. Korban disergap saat sedang
dalam aktivitas yang berbeda-beda. Selain itu, korban tidak hanya menimpa
pendatang, melainkan juga penduduk sekitar.
Parahnya
lagi, teror ini terjadi di berbagai daerah. Bahkan, teror terhadap manusia dan
ternak ini juga ada yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Apa yang salah
dengan pengelolaan hutan kita?
Kisah
Suku Anak Dalam di bawah ini dapat membantu kita menjawabnya.
Ketika Suku Anak Dalam
dan Harimau Bernasib Serupa
Kalau
akhir-akhir ini harimau terus menerkam/memangsa manusia dan terdorong keluar
dari hutan (habitatnya), suku Anak Dalam pun pernah bernasib serupa. Pada
Desember 2014 hingga Maret 2015, 11 Suku Anak Dalam Jambi tewas karena
kelaparan. Di Taman Nasional Bukit Duabelas yang telah beralih fungsi menjadi
kebun kelapa sawit, hutan tak lagi kaya pangan, kaya air, atau kaya bahan obat
tradisional. Hewan buruan sulit didapat, bahan ramuan pun sama saja. Suku Anak
Dalam tak berdaya. Mereka menjadi lemah dan sakit, tetapi tak bisa menerapi
dirinya sendiri karena bahan ramuannya tak lagi tersedia. Demi bertahan hidup,
akhirnya mereka berburu apa saja, termasuk harimau, hewan yang
didewa-dewakannya. Atau, kalau semakin terdesak, mereka akan mengincar hasil
ladang warga, atau berhamburan keluar hutan menuju pinggir-pinggir desa,
jalan-jalan, atau rumah warga di sekitarnya (Viva.co.id).
Kisah
Suku Anak Dalam di atas sangat mirip dengan apa yang dialami harimau
akhir-akhir ini. Karakter harimau yang suka menjangkau wilayah jelajah luas
serupa dengan Suku Anak Dalam yang suka hidup berpindah-pindah. Mereka lalu
sama-sama terdesak di hutan dan kelaparan, sehingga terpaksa memakan/memangsa
pihak lain, kemudian sama-sama mengincar ladang warga atau keluar hutan demi mengisi
perutnya. Kisah mereka menggambarkan pelajaran yang sempurna, bahwa hutan kita
sedang tidak baik-baik saja.
Strategi Menuju
Koeksistensi yang Sehat antara Harimau dan Manusia
Banyak
pihak telah menduga bahwa penyebab maraknya konflik harimau dengan manusia
akhir-akhir ini adalah karena penyempitan habitat harimau dan juga masalah
pangannya. Namun, kita tak boleh berhenti sampai di situ, kita harus menghitung
dengan presisi berapa kebutuhan tersebut yang sesungguhnya.
Oleh
karena itu, di dalam mengatasi konflik harimau dan manusia, kita membutuhkan sinergi
dari berbagai ahli/lintas disiplin, seperti:
·
Ahli Statistik
dan Data Science
Ahli
ini bertugas mengolah data konflik (frekuensi serangan, lokasi, musim, dll),
memodelkan risiko, dan memprediksi tren. Dengan berbasis data, mereka akan menganalisis
pola-pola konflik dan memprediksi kebutuhan kita akan sumber daya.
·
Ahli Matematika
Terapan / Operasional Riset
Ahli
ini bertugas membuat model alokasi optimal sumber daya konservasi
(seperti jumlah petugas, lokasi penempatan, rotasi shift, dll) — mirip sistem
rumah sakit atau pemadam kebakaran. Termasuk penggunaan linear programming,
integer optimization, atau model antrian. Mereka berperan menentukan berapa
banyak personel yang dibutuhkan dan penempatannya, dengan cara yang paling
efisien dan efektif.
·
Ahli GIS dan
Spasial Ekologi
Ahli
ini bertugas membuat peta risiko, zonasi habitat, pergerakan harimau, dan
interaksi dengan pemukiman manusia. Mereka bisa menggabungkan data lokasi
dengan statistik konflik dan menampilkannya secara spasial. Dengan bantuan mereka,
kita bisa memetakan dan mengidentifikasi hotspot konflik serta pergerakan
harimau secara real-time.
·
Ahli Sosial
Lingkungan dan Antropologi
Ahli
ini bertugas khusus untuk memahami kondisi masyarakat lokal seperti Suku Anak
Dalam: pola hidup mereka, kebutuhan, dan potensi konflik. Mereka harus bisa
menjembatani pendekatan teknologi dan budaya lokal. Merekalah yang akan menerjemahkan
hasil teknis menjadi kebijakan yang adil, serta mendorong solusi yang diterima
masyarakat.
Para
ahli tadi bisa memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kondisi hutan
kita, misalnya:
·
Spatial Risk
Modeling (Model Risiko Spasial): untuk memetakan zonasi
jumlah personel berdasarkan risiko konflik manusia-harimau, yaitu menggunakan
data GIS dan statistik kejadian konflik.
· Poisson Process / Poisson Distribution:
untuk memprediksi frekuensi serangan per wilayah per tahun, lalu mengatur
jumlah ideal petugas yang siaga.
·
Resource
Allocation Optimization Model: model ini menekankan
pada efisiensi jumlah personel konservasi, yaitu dengan memperhitungkan biaya,
jumlah personel, efektivitas, dan kebutuhan berdasarkan wilayah.
·
Agent-Based
Modeling (ABM): mensimulasikan dengan sangat realistis
mengenai interaksi harimau, manusia, dan petugas konservasi dalam satu sistem
kompleks, dan mencari solusi optimal berbasis dinamika lapangan.
Kita
tinggal memilihnya sesuai kebutuhan. Jika ingin solusi logis dan sederhana
berdasarkan data, kita bisa menggunakan Spatial Risk Modeling atau Poisson
Process. Jika kita ingin solusi yang efisien, kita bisa menggunakan Resource
Allocation Optimization Model. Sedangkan jika kita ingin solusi yang
visioner maka Agent-Based Modeling adalah jawabannya.
·
Model
Predator-Mangsa (Predator-Prey Model)
Contohnya
Lotka-Volterra.
Dengan data nyata, model ini bisa disesuaikan untuk memperkirakan keseimbangan
antara predator dan mangsa.
Jadi,
untuk menghindari harimau beralih ke ternak atau konflik, hutan harus mampu
mendukung sejumlah mangsa tersebut yang bisa diakses secara efektif.
Intinya,
kita harus menghitung dengan teliti segalanya, baik menggunakan model
matematika/statistika maupun simulasi komputer. Tidak hanya tentang hal-hal di
atas, tetapi juga tentang kebutuhan ruang harimau, yaitu dengan memperhitungkan
struktur sosial harimau,wilayah blok sosial per jantan/eksklusivitas jantan, overlap
home range antar individu (khususnya betina dengan jantan), zona antara (buffer
non-teritorial antar wilayah jantan dewasa), zona dispersal untuk sub-adult,
serta cadangan zona konflik atau zona penyangga luar (opsional).
Harimau
jantan tak bisa dipaksa hidup berdempetan terus-menerus. Jika zona jantannya
tidak ada buffer atau terlalu tumpang tindih, maka akan terjadi perebutan
wilayah berdarah, harimau terdorong keluar, serta konflik manusia-harimau akan
meningkat tajam. Jika memang ruang terbatas, kita perlu mengatur kapasitas daya
dukung populasinya. Jangan biarkan harimau berkembang tanpa kendali.
Jika Kebutuhan Ruang
Harimau Lebih Besar daripada Ruang yang Tersedia
Jika
dari hasil penghitungan model matematika/statistika atau simulasi komputer
ternyata kebutuhan ruang harimau lebih besar daripada luas hutan yang tersedia,
maka jantan dewasa akan tetap mempertahankan perilaku teritorial. Home range
terpaksa menyusut, sedangkan overlapping jantan meningkat, sehingga
memicu perkelahian, kematian antar individu, serta dispersal ke luar zona aman
(yang akhirnya berkonflik dengan manusia). Sementara itu, sub adult tak
punya ruang untuk dispersal, sehingga terdorong ke pinggiran hutan, pemukiman,
dan perkebunan. Tingkat mortalitas yang tinggi, konflik dengan manusia, sumber
daya yang terbatas, serta fragmentasi genetik (inbreeding) akhirnya bisa
menyebabkan populasi harimau stagnan atau menurun.
Untuk mengatasinya,
kita bisa melakukan beberapa cara berikut:
·
Adaptasi
Ekologis – perkecil home range sementara
Harimau
bisa menekan home range mereka sementara asal ketersediaan mangsa tinggi dan
minim gangguan manusia. Namun, ketegangan sosial antar harimau bisa meningkat,
terutama karena meningkatnya konflik antar jantan karena zona antara (buffer)
yang hilang/menyempit drastis. Akibatnya, stabilitas sosial harimau jangka
panjang dapat terganggu.
·
Fokus pada
individu produktif, yaitu dengan mempertahankan sejumlah kecil jantan dominan
dan beberapa betina untuk menjaga reproduksi. Misalnya: 3 jantan dan 6–10
betina bisa cukup untuk menjaga populasi kecil yang viable dalam jangka pendek.
Namun, risikonya populasi akan terlalu kecil dan rentan inbreeding serta
kehilangan genetik.
·
Gunakan Lanskap
Multifungsi (Matrix Landscape)
Walau
habitat utama sempit, harimau bisa menjelajah lanskap sekitar jika ada koridor
vegetasi, zona pertanian ramah satwa (wildlife-friendly farming), serta
manusia tidak langsung bunuh saat melihat harimau. Model lanskap seperti ini
umum di India & Nepal → human–wildlife coexistence model.
·
Konektivitas
Antar Kawasan (Koridor Ekologis)
Daripada
memaksakan semua harimau di satu blok sempit, hubungkan ke hutan lain dengan koridor
alami (sungai, sempadan, sabuk hijau) atau reforestasi kecil yang menghubungkan
patch hutan. Hal ini memungkinkan terjadinya dispersal alami ke blok lain,
mengurangi tekanan dan mencegah inbreeding.
·
Manajemen
Populasi Aktif
Kalau
populasinya mulai terlalu padat dan ruang terbatas, lakukan relokasi individu
tertentu ke kawasan lain atau terapkan kontrasepsi satwa liar.
Strategi
Praktis bagi Pengelola Kawasan Hutan
|
STRATEGI
|
TUJUAN
|
KAPAN DITERAPKAN
|
|
Kurangi
buffer zone
|
Maksimalkan
ruang untuk lebih banyak individu
|
Ruang
sangat sempit tapi populasi masih kecil
|
|
Prioritaskan
jantan dominan
|
Jaga
stabilitas sosial
|
Saat
hanya bisa dukung 1–2 wilayah jantan
|
|
Bangun
konektivitas lanskap
|
Jangka
panjang, turunkan konflik
|
Saat hutan
kecil tapi ada patch terdekat
|
|
Sosialisasi
ke masyarakat sekitar
|
Redam
konflik saat dispersal meningkat
|
Saat
zona dispersal masuk desa/perkebunan
|
|
Monitoring
& respon cepat
|
Cegah
konflik meluas
|
Harus
selalu ada tim tanggap konflik
|
Mengukur Kemampuan Diri Sendiri
Konservasi, termasuk koridor satwa, tidak boleh
meminggirkan masyarakat adat. Konservasi harimau itu penting, tetapi masyarakat
adat selama ini juga telah ikut andil dalam menjaga hutan. Kenyataan bahwa
ruang kita terbatas, maka kita harus berbagi ruang antara hewan dengan manusia.
Meskipun, pada prakteknya, masyarakat adat/masyarakat sekitar hutan itu sendiri
yang bisa mengukur sejauh mana mereka mampu hidup bersama dan aman dengan
harimau dan hewan hutan lainnya. Jadi, meskipun di India dan Nepal masyarakat
seperti bisa hidup bersama dengan harimau seperti biasa, tetapi yang lebih
mengetahui kondisi diri dan hutan kita adalah masyarakat yang memang ada di
sekitar hutan itu sendiri. Intinya, kita tidak sekadar meniru negara lain
atau meromantisasi hubungan harimau dan manusia ini. Kita perlu mengukur
kemampuan diri sendiri dan tetap melakukan pencegahan yang diperlukan.
Melakukan Pencegahan
yang Diperlukan
Dalam
melakukan pencegahan yang diperlukan kita tidak boleh saling melempar tanggung
jawab. Masing-masing pihak harus melakukan apa yang ada di dalam tanggung
jawabnya, yaitu sebagai berikut:
Peran pemerintah:
Menghitung kebutuhan
pangan harimau secara akurat (termasuk faktor
kompetitor, aksesibilitas mangsa, dan tekanan pemburu)
Membangun/memperbaiki
fungsi koridor satwa: agar harimau bisa berpindah tanpa
melintasi pemukiman. Kita perlu mengecek apakah koridor terlalu sempit atau
terganggu aktivitas manusia? Apakah benar-benar digunakan oleh harimau? Apakah tersambung
ke habitat mangsa yang cukup? Kalau koridor cuma lorong panjang tanpa cukup
pakan dan perlindungan, harimau tetap bisa keluar jalur dan bertemu manusia.
Restorasi dan
perlindungan habitat mangsa: mengembalikan populasi mangsa dan
menekan perburuan liar oleh manusia.
Program kompensasi
ternak (yang diterkam harimau): supaya warga tidak
membalas dendam pada harimau.
Pendidikan dan pelibatan
masyarakat lokal: jadikan warga sebagai bagian dari
solusi. Libatkan mereka sebagai pemandu satwa liar, penjaga hutan (community
rangers), serta penerima manfaat ekowisata atau konservasi.
Membuat sistem
peringatan dini dan monitoring GPS: beberapa harimau bisa
dipasangi GPS collar. Jika harimau telah mendekati pemukiman, bisa mengirim
peringatan pada warga.
Membuat zonasi kegiatan
manusia: relokasi ladang/ternak agar tidak terlalu dekat
tepi hutan, serta membuat zona penyangga (buffer zone) sehingga manusia
dan satwa tidak langsung bersinggungan.
Peran individu/masyarakat:
Membatasi waktu
aktivitas di dekat hutan: hindari subuh dan senja. Pagi
setelah matahari terang hingga siang/awal sore lebih aman.
Lewat hutan secara
berkelompok, minimal 4 orang. Makin banyak makin
baik.
Memakai topeng di
belakang kepala: karena harimau cenderung menyerang
dari belakang saat merasa tidak dilihat.
Memagari rumah atau
kandang: untuk mencegah serangan spontan, menjaga ternak,
serta memberi waktu warga untuk bereaksi. Masukkan ternak ke dalam kandang
tertutup saat malam. Beri penerangan malam dan sistem peringatan dini (kaleng,
lonceng, lampu sorot otomatis, atau anjing penjaga - bagi non muslim) di
sekitar pagar. Selain itu, olahlah sampah dan bangkai ternak agar jangan sampai
menarik predator. Memagari rumah hanyalah upaya pencegahan, tetapi perlu
didukung dengan upaya-upaya di atas serta edukasi warga.
Memasang spanduk dan
memberi peringatan kepada warga pendatang: spanduk harus
sangat besar dan menyolok dan ditempatkan sebelum memasuki area-area rawan. Spanduk
ini menjadi semacam peringatan terakhir setelah pendatang diperingatkan dari
mulut ke mulut, diberi peringatan mengenai waktu kunjungan, atau diperingatkan
melalui panduan wisata/panduan bagi pendatang. Atau bisa juga dengan memberi
peringatan berupa rekaman suara dan bunyi alarm pertanda bahaya atau larangan
sepenuhnya bagi warga untuk memasuki area tersebut. Di daerah yang asing
semacam ini, sangat berbahaya jika pendatang tidak paham medannya. Yang lebih
tahu mengenai kondisi hutan dan jalur-jalur satwa (terutama yang berbahaya)
biasanya adalah masyarakat sekitar hutan tersebut. Misalnya masyarakat Besemah,
mereka memiliki landskap “Besemah Libar” dengan dengan koridor satwa yang disebut
“Bakal Agung”. Area tersebut sering dilewati oleh harimau Sumatera dan hewan
hutan lainnya, sehingga mereka tidak membangun kebun atau rumah di sana. Akan
tetapi, para pendatang tidak tahu, sehingga banyak dari pendatang yang akhirnya
jadi korban serangan harimau.
Harimau Harus Berubah?
Yang Benar Saja
Di
tengah riuh konflik manusia dan harimau, muncul tuntutan: “Harimau harus
berubah!” Harimau diminta menepi, tidak menyerang ternak, tetap hidup
“baik-baik saja” di ruang yang makin menyempit. Serius? Harimau bukan pegawai
kantor yang bisa diatur jam kerjanya. Ia predator: lapar, punya wilayah, dan
instingnya tetap sama sejak ribuan tahun lalu.
Menyuruh
harimau berubah tanpa memperbaiki hutan dan tata kelola manusia itu seperti
menyuruh kucing agar tidak mencakar sofa, padahal kita sendiri yang bikin sofa
empuk dan menarik. Ironisnya, manusialah yang punya akal, teknologi, dan data
untuk menghitung, merencanakan, dan mengantisipasi. Harimau cuma menjalankan
hukum alamnya: bertahan hidup.
Koeksistensi
bukan soal harimau jadi jinak, bukan soal selfie di hutan atau memeluk makhluk
belang. Koeksistensi berarti manusia berubah: mengatur ruang, menghitung
pangan, menjaga koridor, dan melibatkan masyarakat lokal secara adil. Jadi
kalau memang ada yang harus berubah, bukan harimaunya. Yang perlu berubah
adalah manusianya, yang sering lupa bahwa ia sedang berbagi ruang dengan
predator puncak.
Harimau
harus berubah? Yang benar saja. Kalau kita serius ingin hidup berdampingan,
langkah pertama adalah membuka mata, bukan mengharap predator besar itu
tiba-tiba ikut aturan manusia.