 |
Cowok sedang nonton p*rno diam-diam
|
Makin Maraknya
Pornografi
Kita
pasti tau lah ya kalau pornografi kini makin marak. Nggak seperti dulu lagi
yang lebih berupa opsi atau pilihan. Sekarang tuh hampir semuanya mengandung
hal-hal porno. Kita dikepung pornografi. Pilihan nggenah (baik)-nya makin susah
ditemui. Ini seperti kita, sejak kecil, udah digiring masuk ke sana, terpapar
konten-konten m*sum itu. Baik itu film kartun, film atau drama remaja/dewasa,
iklan, hiburan, musik, bacaan, duh kah semuanya mengandung gitu2. Bahkan, kita
nggak aneh-aneh aja, hal-hal kayak gitu sering juga lewat di internet atau
gawai kita atau di sekitar kita (dunyat). Nah, lo, gak enteng kan?
Tapi
apa yang bikin aku kemudian ngangkat bahasan ini itu karena aku nemu
celetukan-celetukan cowok yang menarik. Saat itu, ada yang terdengar jujur, dan
bukan ngeles atau rasionalisasi, misal ngomong gini, “Ya lihat gituan
karena belum mampu nikah karena ga punya biaya (buat “swa-layan” maksudnya,
sambil nonton gituan).” Seketika aku tertegun, alasan ini sama sekali
belum terpikirkan olehku sebelumnya. Biasanya itu pikiranku tentang orang-orang
yang terpapar porno lebih tentang cowok bejat, cowok trauma, cowok stres/gak
jelas/kurang kerjaan, atau semacamnya. Eh ternyata ada juga yang cowok yang
berpikir kurang tepat seperti itu. Dan, dia gak sendiri. Ada beberapa alasan
“kemanfaatan” yang sempat dilontarkan cowok tentang keterlibatan mereka dalam
mengakses pornografi.
Namun,
sebelumnya, kita bagi dulu seluruh cowok pengakses porno berdasarkan
kelompoknya.
Tiga Jenis Cowok
Pengakses Pornografi
Cowok
pengakses pornografi itu beda-beda. Di sini, aku akan kelompokkan mereka
ke dalam 3 kelompok besar:
1. Cowok bejat (berperilaku bejat)
Cowok jenis ini emang dari sononya
bejat. Gak bisa diubah. Dia memang ingin dan suka di dalam perilaku bejatnya.
Menikmati. Gak merasa bersalah. Gak pengen keluar/sembuh. Gak jarang mereka ini
malah bangga dengan penyimpangannya/dosa-dosanya.
2. Cowok trauma, stres, dan pengisi waktu luang (cowok
berperilaku pengecut/malas)
Pornografi bagi tipe cowok ke dua ini
lebih berupa pelarian. Dia ingin “kabur” dari masalahnya.
3. Cowok yang kurang pintar (cowok berperilaku kurang
intelek)
Cowok di kelompok ini terjerumus ke pornografi
karena alasan “kemanfaatan”. Seperti contoh di atas tadi, karena belum mampu
nikah, ngakunya.
Nah, kita akan bahas
lebih jauh tentang tipe ke tiga ini, cowok yang kurang pintar.
Macam-Macam “Manfaat”
Pornografi di Mata Cowok yang Kurang Pintar
Cowok
kurang pintar di sini, bukan berarti bodoh ya, tetapi dia mungkin telah
mengakses informasi yang salah, tidak punya akses ke edukasi hal yang benar
sama sekali, atau tentang dugaan-dugaannya sendiri yang menyebabkan dia salah
bertindak.
Kadang
sih ngakunya maksudnya baik, tapi tetep aja, dalam beribadah, niat dan cara itu
sama-sama harus baik dan benar. Gak bisa asal.
Nih beberapa contoh
alasan mereka:
·
Karena belum
punya uang untuk nikah
Maka, dia “swa-layan”, sambil
nonton porno/PMO (P*rnography, M*sturbation, and Org*sm atau P*rnografi,
M*sturbasi, dan Org*sme). Ya daripada zina ma orang lain/cewek, dosa kan?
Mending ngelakuin “ini”. Gitu kurang lebih pikirannya.
·
Biar nanti pas
nikah udah ahli (buat belajar)
Mereka belajar macem-macem “gaya” dari
film b*kep.
·
Nonton bareng ma
istri biar cepet “naik” dan banyak variasi “gaya”
Ini karena cowoknya males pemanasan/f*replay, tapi
ngakunya sih biar gak bosen hubungan pas*trinya. Biar adegan r*njang mereka itu
selalu h*t dan penuh gairah.
Terlepas
dari itu ngeles/rasionalisasi ataukah perilaku kebodohan, alasan-alasan yang
tampak “mulia” ini punya dampak serius yang bakal jadi bumerang buat diri
mereka sendiri.
Dan inilah bumerangnya
...
Kenapa Manfaat yang
Diharapkan Cowok dari Porno itu akhirnya “Bunuh” Mereka Sendiri?
Gak
malah untung, tapi malah buntung. Alih-alih mendapatkan manfaat, yang didapat
justru musibah dunia akhirat.
Nonton karena Belum
Mampu Nikah
· Bikin
males nikah
Cowok
single yang sering mengkonsumsi pornografi dengan dalih belum mampu nikah,
akhirnya malah jadi males nikah. Mereka akan kehilangan motivasi untuk berjuang
secara finansial atau cari pasangan beneran. Otaknya sudah "kenyang"
dengan kepuasan semu, sehingga dorongan untuk bekerja keras demi meminang
seseorang justru menurun.
·
Bikin mati rasa
terhadap rangs*ngan dari pasangan nyata
Keseringan
nonton p*rno atau foto s*ksi menyebabkan dia mengalami visual
overstimulation (overdosis visual). Dia butuh stimulus luar yang sangat
kuat agar bisa ter*ngsang. Jika ini diteruskan, dia malah tidak akan bisa
"naik" (er*ksi atau klim*ks) jika hanya dengan sentuhan atau
kehadiran pasangan nyata. Dia jadi "mati rasa" terhadap manusia asli
dan hanya bisa bereaksi pada layar.
·
Melatih otak
untuk “ejak*lasi dini”
On*ni
sambil nonton konten vulgar/p*rno membuat otaknya belajar bahwa s*ks harus
cepat dan instan. Padahal, hubungan nyata butuh for*play (pemanasan) atau
durasi dan proses.
·
Mentalitas
"konsumen", bukan "pemberi"
Alasan
"biar cepat" menunjukkan bahwa dia melihat aktivitas s*ksual hanya sebagai
transaksi pembuangan sy*hwat, bukan sebuah komunikasi atau berbagi kasih
sayang.
Risikonya:
Cowok
tipe ini biasanya akan jadi suami yang egois. Dia hanya peduli kepuasannya
sendiri yang penting cepat beres. Dia akan malas melakukan for*play atau merayu
istri karena baginya itu "terlalu lambat" dan merepotkan.
· Mengira
bahwa adegan di film b*kep itu normal
Ketidaktahuan dan kurangnya edukasi s*ksual, membuat
mereka kepo dan belajar dari sumber yang salah (p*rnografi), lalu menganggap
apa yang diajarkan/dilihat di dalamnya itu benar/normal, padahal nggak normal
sama sekali.
Nonton untuk Belajar
"Gaya"
·
Jadi susah “puas”
dan memiliki ekspektasi yang tidak realistis (coolidge effect)
P*rno
adalah industri film dengan trik kamera, editing, dan aktor profesional. Bintang
p*rno di layar adalah hasil dari:
Ø Operasi
plastik, makeup tebal, dan pencahayaan profesional.
Ø Editing
video yang membuang semua bagian "manusiawi" (seperti keringat
berlebih, ekspresi lelah, atau bentuk tubuh alami).
Ini
adalah perbandingan visual yang nggak adil. Mencoba meniru p*rno di dunia nyata
seringkali membuat istri merasa kesakitan, tidak nyaman, atau merasa
diperlakukan seperti objek, bukan manusia. Ketika suami melihat istrinya yang
merupakan manusia nyata (yang mungkin lelah mengurus rumah, kerja, atau baru
melahirkan), otaknya secara tidak sadar membandingkan dengan citra
"sempurna" di layar. Akibatnya, dia merasa istrinya
"kurang" secara fisik, padahal istrinya adalah manusia normal.
·
Kehilangan keintiman
S*ks
bukan soal sirkus atau koreografi, tetapi tentang komunikasi. Belajar dari p*rno
hanya akan membuat cowok jadi kaku dan egois.
Dia
kehilangan kemampuan untuk menikmati keintiman emosional dan hanya mengejar
kejutan visual. Inilah yang membuatnya susah puas secara seksual maupun mental.
·
Matinya rasa
syukur (desensitisasi)
Pornografi
menawarkan variasi tanpa batas. Hanya dengan satu klik, seorang cowok bisa
melihat ribuan orang berbeda.
Dampaknya:
Otak
menjadi manja. Ketika dia hanya menghadapi satu orang (istrinya) setiap hari,
sistem reward di otaknya merasa "bosan".
Nonton Bareng Istri (Biar Cepat "Naik")
· Membunuh
kedekatan emosional
Hubungan intim yang sehat butuh chemistry
antarmanusia. Jika butuh "bantuan" layar untuk terangsang, artinya
dia sudah mati rasa terhadap pasangannya sendiri.
· Ketergantungan
visual
Otak jadi malas memproses r*ngsangan
nyata (sentuhan/aroma istri) karena sudah terbiasa dengan rangsangan visual
ekstrem dari p*rno. Tanpa layar, dia bisa mengalami disfungsi er*ksi di depan
istri.
·
Kehilangan fokus
pada Pasangan
Dalam
hubungan sehat, kepuasan datang dari koneksi dua arah. Namun, cowok yang
otaknya sudah terpapar p*rno sering kali:
Ø Hanya
fokus pada performa: Dia ingin istrinya melakukan gaya seperti di film.
Ø Kurang
empati
Dia
tidak peduli apakah istrinya nyaman atau tidak, yang penting dia mendapatkan
stimulasi visual yang mirip dengan apa yang dia tonton.
Ø Jika
istri tidak bisa (atau tidak mau) memenuhi fantasi liarnya, dia akan merasa
"tidak puas" dan mulai menyalahkan istrinya, padahal masalahnya ada
pada ekspektasi otaknya yang sudah rusak.
Ø .Lingkaran
setan "selingkuh mental"
Membandingkan
istri dengan bintang p*rno sebenarnya adalah bentuk perselingkuhan mental:
Dia
hadir secara fisik di depan istrinya, tapi pikirannya ada di tempat lain.
Dia
mungkin akan nyuruh istri niru adegan yang ditontonnya. Yang harusnya waktu
stimulasi itu sambil melihat istri langsung (ada kontak mata dan keintiman
lainnya, eh gara-gara mau niru “gaya” di film-film akhirnya mata keduanya
menuju ke layar.
Gak
cukup sampai di situ, Si Suami ini mungkin juga akan berfantasi s*ksual
bayangin cewek lain saat berhubungan b*dan dengan istrinya. Gak sekadar gak
menatap istri, tapi meremnya dia itu sambil bayangin artis s*ksi/s*nsual atau
bintang-bintang p*rno.
Yang
gini ini pel*cehan banget bagi istri dan akhirnya menciptakan jarak emosional.
Istri akan merasa tidak dihargai, merasa rendah diri (insecure), dan akhirnya
hubungan pun jadi hambar.
Selain itu, mereka yang
juga sering menonton p*rno akan berisiko:
· Kecanduan
atau mengalami ekskalasi (peningkatan dosis untuk mendapatkan efek yang sama)
Ada orang yang
beralasan iseng aja. Tapi, dampak p*rno gak se-iseng niat mereka. Menurutmu
kenapa Tuhan ngelarang kita dari dosa-dosa itu? Masa iya Tuhan yang butuh kita?
Nggak, kan? Yang butuh itu ya kita sendiri. Yang bikin (ciptain kita) itu
bikinin kita rules (petunjuk penggunaan) biar kita itu nggak error, nggak kena
samting-samting. Kalau kita ngelanggar rules ya tentu kita bakal kena
samting-samting. Selain ngecewain pembuatnya (Tuhan), kita juga bakal efek
lainnya di dunia atau di akhirat.
Sama juga dengan p*rno.
Otak manusia sangat suka dopamin. Sesuatu yang dimulai dari "iseng"
bisa dengan cepat membuat jalur saraf baru di otak. Saat bosan atau kosong,
otak akan menagih "iseng" tersebut sebagai pelarian utama, hingga
akhirnya kehilangan kendali.
Pornografi menyediakan
lonjakan dopamin (hormon kesenangan) secara instan. Kalau otak sudah terbiasa
dengan kepuasan tinggi gini, kalau nggak nonton p*rno lagi otaknya jadi ngerasa
"kekurangan", lalu memicu rasa cemas atau kesepian dan memaksa orang
tersebut untuk mengaksesnya kembali.
Selain itu, p*rnografi tersebut juga akan mengubah struktur otak dia
(neuroplastisitas). Konsumsi yang berlebihan dan terus-menerus dapat mengubah
jaringan saraf otak, mirip dengan adiksi narkotika atau alkohol. Area otak yang
mengatur logika dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) dia akan melemah,
sehingga dia akan sulit berhenti meskipun tahu itu merusak.
· Makin
memburuk kondisinya
Kalau radar agamanya
masih baik, dia akan merasa bersalah setelahnya. Ini bikin pelarian dia dari
stres malah nyebabin stres yang lebih tinggi.
Sebaliknya, kalau radar
agamanya sudah memudar/hilang, dia akan santai saja melakukan dosa tersebut.
Remnya udah dol (blong) atau rusak. Yang tadinya malu, ngerasa bersalah, dll
akhirnya udah gak gitu lagi. Gak stres lagi sih kayak yang radar agamanya masih
baik, tapi yang ini malah lebih bahaya, karena imannya sudah terdegradasi parah.
· Semakin
jauh dari solusi yang sebenarnya
Kalau dikit-dikit
larinya ke p*rno. Trauma lari ke p*rno, stres (bosan, stres, kesepian) larinya
ke p*rno, ada masalah dengan istri ke p*rno lagi, minder dengan lawan jenis ke
p*rno juga, maka hidupnya mungkin nggak akan mengalami perbaikan. Dia hanya
melakukan pelarian atau mencari kesenangan sesaat, nggak nyari solusinya. Itu
sama aja nggak bikin dirinya sembuh (masalah teratasi), tapi cuma menipu diri
sendiri.
Apalagi, p*rno itu bisa
merebut kehidupan di dunia nyata dia sepenuhnya. S*ks bisa beralih ke p*rno,
interaksi dengan manusia bisa beralih ke p*rno, dan semacamnya. Dia jadi “nyaman”
di hal-hal yang menyimpang/tidak wajar.
P*rno yang tadinya digunakannya
sebagai anestesi/obat b*us untuk mematikan perasaan sedih, gagal, atau trauma
malah berbalik jadi bumerang. Udah stresnya nggak hilang (hanya tertunda), begitu
efek dopamin habis eh stresnya malah datang lagi dengan bonus rasa bersalah,
memicu siklus kecanduan yang lebih parah.
Dan gong-nya lagi,
alasan-alasan yang tadinya kayak buat harmosisasi keluarga, akhirnya malah bisa
membuka pintu perselingkuhan.
Hubungan antara kecanduan
pornografi dan perselingkuhan nyata itu ibarat tangga; p*rnografi adalah anak
tangga pertama yang pelan-pelan menuntun seseorang ke risiko perz*naan fisik.
Jadi,
yang awalnya tadi iseng atau nonton sebentar atau jarang, dan nontonnya masih
yang soft, lama-lama makin lama durasinya, makin sering frekuensinya, makin
hard tontonannya, makin menyimpang perilaku s*ksualnya (misal: dengan h*wan,
anak kecil, sesama j*nis, lewat an*s, dengan peny*ksaan, atau lainnya), lalu
mungkin naik jadi melibatkan orang lain(chat m*sum, phone s*x, Ve-Ce-eS), lalu
ke praktek ke orang nyata (c*uman, cewek lain or*l dia, atau lainnya), lalu
p*tting, dan akhirnya bers*tubuh beneran. Lalu intensitas makin sering, ingin
ganti-ganti orang dan ganti-ganti gaya, ganti-ganti lokasi, ganti-ganti alat bantu,
dan seterusnya. Makin nyungsep hidupnya. Makin error kualitas dirinya. Udah
jauh dari kata sholeh lagi.
Mengapa Memudahkan
Mereka Menikah Belum Tentu Mengatasi?
Seperti
sudah dijelaskan di atas, cowok yang mengakses p*rno itu dibagi menjadi 3
golongan besar, yaitu: cowok bejat, cowok pelarian, dan cowok “tujuan mulia”.
Cowok bejat ranahnya adalah hukum/kriminalitas, sedangkan cowok pelarian/kecand*an
ranahnya adalah psikolog/psikiater/penyembuh gangguan mental.
Yang
bisa kita usahakan untuk kita jangkau adalah cowok jenis ke-3 (yang paling
potensial), yaitu cowok belum nikah, yang belum mampu nikah, dan kurang edukasi
s*ksual. Meskipun, nggak semua juga, tergantung tingkat keparahannya, dia
merasa mampu nggak buat berubah, dan mau berubah apa nggak. Yang lebih baik
sih, edukasinya (dan atau upaya bantu dia nikah) itu dilakukan sebelum dia
terjun/terpapar konten atau aktivitas p*rno tadi.
Karena:
·
Masalahnya di
otak, bukan di s*langkangan: Adiksi p*rno adalah gangguan pada sistem reward di
otak, bukan sekadar kekurangan penyaluran s*ksual.
·
Variasi vs
monogami
Di
p*rno, cowok bisa melihat ribuan orang dalam satu menit, sedangkan dalam pernikahan
pasangannya hanya satu. Jika otaknya sudah "rusak" oleh variasi p*rno,
dia akan cepat bosan dengan istrinya karena otaknya selalu menagih stimulasi
baru yang tidak masuk akal.
·
Konflik rumah
tangga
Jika
dia terbiasa lari ke porno saat stres, maka setiap kali bertengkar dengan
istri, dia akan kembali ke p*rno sebagai pelarian, bukannya menyelesaikan
masalah dengan pasangan.
Peran Pria sebagai
Pemimpin sedang Diuji
Di
sinilah peran pria sebagai pemimpin diuji. Pemimpin itu nggak cuma koar-koar
aja, tapi mimpin diri sendiri dulu. Ngasih keteladanan dulu. Urutannya adalah
mimpin diri sendiri dulu, baru mimpin orang lain.
Tugas
kita sebagai muslim, ya sebagai pemimpin. Memimpin itu bukan hanya tentang
suami terhadap istri, dan bukan nunggu nikah dulu, tapi kita sebagai muslim itu
emang ditugaskan untuk memimpin diri sendiri sebaik mungkin, seumur hidup.
Nah,
setelah itu, baru kita berusaha mimpin orang lain, terutama orang terdekat
dulu. Dalam konteks cowok, cowok ini harus menegur sekitarnya juga kalau ada
yang salah, misal ortunya, tetangganya, temannya, atau lainnya.
Terutama
terhadap teman nih ya, aku sering nemuin cowok-cowok itu lemah terhadap
temannya yang m*sum. Seringkali ada f*cek atau teman cerita m*sum di kantor
mereka, menceritakan hubungan s*ksualnya atau prestasinya ngerusak banyak
kehormatan cewek (menz*nai), tapi cowok-cowok di situ (dan kadang ada
cewek-cewek juga di sana) malah kepo atau ikut nimbrung cerita juga. Nggak
berusaha negur. Gak berusaha membubarkan. Malah ikut menikmati. Ya minimal
banget nih ya, kalau mereka itu lemah, minimaaaal banget, kamu menjauh gitu
lho. Jauuuh banget. Jauhin mereka. Itu bikin kamu masih punya sisi pemimpin,
meskipun dalam taraf terendah (memimpin dengan hati/sekadar mampu membenci
perbuatan tersebut).
Cowok
suka ngaku-ngaku “Kami pemimpin lho. Kami pemimpin lho.” Tapi gak bisa mimpin
dirinya sendiri dengan baik. Kalau ditegur tentang kem*suman malah nyalahin
cewek, ngeles bilang “cowok itu ya emang setelannya gitu (m*sum), dll.
Kalau
ditegur tentang r*kok, ngeles dengan berbagai alasan, yang intinya gak mau
dipisahin ma r*koknya. Atau kelakuan-kelakuan absurd cowok lainnya.
Nah,
misal ya, kamu ngatain cowok n*psu karena ceweknya bajunya s*ksi2. Lah apa
mereka pikir semua cewek itu muslim? Cewek yang nggak muslim atau cewek muslim
yang masih kurang taat (tahap belajar/sedang khilaf/masih berproses) tentunya
ya masih nggak menutup aurat dengan sempurna. Kalau mereka ingin ngontrol orang
lain, kelompok lain, atau bahkan negara lain itu nggak realistis.
Cewek
punya ujian/PR sendiri (misal: sangat pengen tampil), cowok juga punya ujian/PR
sendiri (misal: syahw*t yang mungkin lebih besar dari cewek). Itu PR
masing-masing untuk berusaha menjadi pribadi yang sebaik mungkin, menegur orang
lain dengan baik, tetapi hasilnya gak mungkin semuanya ngikut maumu. Pasti
banyak juga yang masih tetep nggak berubah. Itulah pentingnya kamu nguatin
bentengmu sendiri, gak lepas tangan dan cuma nyalahin orang lain. Carilah
caranya sampai ketemu. Ngeles ngatain m*sum itu "bawaan cowok" adalah
alasan manipulatif. Jangan mengkambinghitamkan gender untuk menutupi rendahnya
kontrol diri dan rusaknya integritasmu.
Jadi,
harapannya, dengan gitu kamu nggak akan mudah terjatuh ke hal-hal p*rno dan gak
akan cuma koar-koar aja, tapi juga ga diam aja. Introspeksi diri, memperbaiki
diri, menegur orang lain dengan baik, tapi hasilnya serahkan pada Allah.
Laki-laki
yang berkualitas bukan dilihat dari seberapa "berpengalaman" dia,
tapi dari keberanian moralnya untuk berbeda dari arus yang rusak. Menjauh dari
lingkungan toksik adalah standar paling minim bagi seorang pria yang layak
menjadi pemimpin. Jika dia hanya "ikut-ikutan" atau "pasif"
saat temannya berbuat m*sum, dia bukan pemimpin, dia hanya penumpang yang
menunggu waktu untuk ikut kecemplung juga.