29 Januari 2026

Alam Lebih Terjaga Saat Indonesia Dijajah Belanda? Hoaks yang Menyakitkan Hati

Kerusakan alam
Kerusakan Alam


Alam dan lingkungan yang rusak memang mudah membuat orang geram. Apalagi di tengah bencana besar yang ditengarai masih berhubungan dengan tangan-tangan manusia. Namun, ketika kudengar seseorang berbicara berapi-api mengagumi penjajah, dan di-amin-i pula oleh para komentator di sana. Batinku berteriak, "Ada yang salah!" Dan kesalahan ini sangat menyakitkan hati. Bagaimana bisa penjajah yang menggores dan mencabik-cabik luka kita, tiba-tiba disanjung dan dipuja-puja.

 

Saya tahu kita terluka dan kecewa karena bencana-bencana dan kerusakan alam di Indonesia ini. Tapi, kalau dianggap kondisi kita saat masa penjajahan lebih baik atau penjajah lebih merawat alam ini, oh tunggu dulu.

 

Pada masa penjajahan Belanda, eksploitasi alamnya malah sistematis:

  • Deforestasi masif: Sejak abad ke-19, Belanda menebang hutan besar-besaran untuk perkebunan teh, kopi, dan karet. Di Jawa, hutan jati dieksploitasi habis-habisan untuk bahan bangunan kapal dan kereta api. Banyak lahan rusak dan rakyat kelaparan.
  • Pertambangan: Mereka merintis pengerukan sumber daya bawah tanah, seperti batubara di Sawahlunto (Ombilin) dan minyak bumi di Sumatera Utara, yang meninggalkan luka lingkungan permanen di wilayah tersebut. Pertambangan dan perkebunan dieksploitasi oleh Belanda buat ekspor, bukan buat kaberlanjutan.
  • Alih fungsi lahan: Melalui tanam paksa (Cultuurstelsel), Belanda mengubah jutaan hektar hutan menjadi lahan pertanian paksa, yang merusak ekosistem asli flora dan fauna Indonesia.
  • Irigasi dan kehutanan "rapi", tetapi bukan demi alam, melainkan demi hasil ekonomi yang stabil buat Belanda.

 

Kalau mereka terlihat "tertib", itu karena: 

Alam dijaga "supaya bisa terus dieksploitasi", bukan karena cinta lingkungan.

 

Kenapa alam dulu terlihat lebih "utuh"?

Bukan karena Belanda-nya baik atau merawat alam, tetapi karena:

  • Populasi sedikit: kalau populasinya sedikit, kebutuhan lahan untuk pemukiman juga lebih sedikit. Tekanan ke alam lebih kecil.
  • Kapasitas teknologi: alat-alat sekarang lebih bervariasi dan canggih. Karena alatnya jadul (keterbatasan teknologi), eksploitasi Belanda juga lebih lambat daripada sekarang.
  • Paradigma konservasi: menjelang akhir penjajahan, Belanda mulai menerapkan kebijakan perlindungan alam (seperti pendirian cagar alam Ujung Kulon) untuk memastikan kelangsungan sumber daya mereka sendiri di masa depan.
  • Akses rakyat dibatasi: bukan karena alam dilindungi, tapi rakyatnya yang dikunci (rakyat dilarang masuk, tanah adat diambil alih, dan pelanggaran dihukum berat).


Jadi, bukan Belanda-nya yang suci, tapi kondisinya beda zaman.
 
Selain itu, banyak wilayah juga belum sempat dieksploitasi total karena perang dan perlawanan lokal. Prioritas mereka adalah stabilitas politik dulu, eksploitasi belakangan.

Kenapa sekarang alam kita malah lebih rusak?

  • Otonomi dan kebijakan: kebijakan lemah dan pro modal, bukan pro lingkungan.
  • Teknologi: alat lebih maju/canggih dan lebih bervariasi.
  • Kecepatan ekonomi: fokus pada pertumbuhan ekonomi yang cepat sehingga membuat faktor lingkungan nomor dua.
  • Populasi raksasa: populasi sudah meningkat berkali-kali lipat, sehingga kebutuhan pun meningkat (pemukiman, pangan, bahan bakar, dll).
  • Konflik sesama Indonesia,
  • Korupsi dan penegakan hukum lemah,
  • Elit lokal yang meneruskan pola ekstraksi kolonial.
 
Singkatnya, Belanda bukan tidak merusak.
Justru mereka-lah yang meletakkan dasar sistem eksploitasi.
Penjajahannya berhenti, tetapi logika kolonialnya masih jalan.

Belanda bukan penjaga alam, mereka manajer eksploitasi.
Indonesia sekarang rusak bukan karena merdeka, tapi karena gagal keluar dari sistem kolonial versi baru.


Zaman Sekarang Kita Lebih Bebas Bersuara

Zaman penjajahan itu kan terbatas banget ya yang kita tahu. Apalagi, kita nggak berada di sana. Di zaman penjajahan itu rakyat nggak punya suara, konflik ditutup paksa, dan kalau ada masalah rakyat bakal dihajar atau disensor.

Beda dengan sekarang, konflik kelihatan karena nggak bisa ditutup. Kebijakan yang jelek pun bisa kita lihat real time. Sekarang rakyat bebas (secara teori), tapi negara lemah lawan korporasi dan hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Jadi, dulu seolah lebih rapi, padahal rapi karena dipaksa.



Infrastruktur Belanda Lebih Bagus?

Belanda memang membangun jalan, rel kereta, pelabuhan, dan irigasi, tapi itu bukan buat rakyat. Jalurnya dari perkebunan ke pelabuhan. Sedangkan desa yang nggak produktif, dicuekin.

Kalau sekarang kita pake itu, bukan berarti Belandanya baik.
Itu kayak:

> maling ninggalin pisau dapur → terus dipuji karena pisaunya awet


Orang salah sangka:

> “dulu hutan terjaga”
> padahal yang dijaga itu kepentingan kolonial, bukan ekosistem.


Trauma + minder pasca-kolonial

Jangan minder sejarah. 

Jangan lupa bahwa "ketertiban" kolonial dibangun di atas "penindasan dan eksploitasi".

Ini dalem tapi penting.

Banyak orang Indonesia:

  • capek liat negara sendiri amburadul
  • kecewa sama elite lokal
  • akhirnya romantisasi penjajah

Ini mekanisme psikologis:

> “kalau dulu lebih baik, berarti kita emang nggak mampu ngurus diri sendiri”

Padahal itu warisan mental kolonial.

 

Elite lokal dapet untung dari narasi ini

Narasi “Belanda tertib” itu berguna buat:

  • justifikasi kebijakan keras
  • anti kritik
  • pro investasi rakus

Logikanya:

> “lihat tuh, kita rusak karena kebebasan kebanyakan”

Padahal masalahnya bukan kebebasan, tapi ketimpangan kuasa.

 

Kesimpulan jujurnya

Belanda:

  • ngerusak alam
  • ngeksploitasi manusia 
  • “rapi” karena otoriter

Indonesia sekarang rusak:

  • bukan karena merdeka
  • tapi karena sistem kolonialnya diwarisin, pelakunya ganti orang.


Jadi gitu ya, jangan lagi bela-belain, nyanjung-nyanjung, dan bangga-banggain penjajah. Mereka nggak sebaik itu.

Bahkan, mereka nggak baik sama sekali.

Penjajah tetep penjajah. Gak ada bagus-bagusnya. 

STOP BILANG "ENAK PAS KITA DIJAJAH BELANDA THO?"

 

Btw: nih aku kan mau pasang gambar dari bing ya, gak bisa lho pake keyword2 penjajahan. Diblacklist ketika aku pake keyword spesifik. Sedangkan ketika aku pake keyword zaman penjajahan? Oh noo...gambarnya lho gak mencerminkan penjajahan blas. Kayak kondisi yang rapi, hepi, dll. (tapi ada juga uniknya, seragamnya ya dari negara2 sono). Pelaku penjajahannya bener tapi adegannya dan setting gambarnya yang error/salah besar.

Yah begitulah. Namanya juga AI bikinan manusia. Milik pemodal.


25 Desember 2025

Review Buku "It's Okay Not to Get Along with Everyone"

 

Review Buku "It's okay not to get along with everyone"
Cover buku "It's okay not to get along with everyone"

 

Pertama nemu buku ini aku nggak terlalu ngamati detail covernya. Iya di sana tertulis non fiksi best seller Korea, tapi aku nggak tahu Dancing Snail itu orang Korea apa bukan. Tapi cover-cover kayak gini ini biasanya ala Korea, jadi ya udah aku ngintip aja karena aku belum pernah baca buku ala Korea. Soalnya aku kaget juga, Korsel itu kan terkenal dingin orangnya, workaholic, dan fast moving, masa iya nulis/ngajar tentang kesehatan mental? Wong orang sana aja banyak yang gangguan mental/b*ndir. Jadi, aku penasaran apakah ada sisi lain dari mereka yang belum kuketahui, yang mungkin sebenarnya positif.

 

Tapi, nyatanya memang terasa aneh saat baca buku ini. Dia itu dalem banget jelasin gini gitu tentang perasaan. Blak-blakan juga tentang dirinya, pandangan-pandangannya, dan pilihan-pilihan hidupnya. Tapi tetep aja dia terasa datar/flat (tidak menggugah) dan beraura penulis sendiri tidak terlalu sehat mentalnya. Sampai kemudian aku menemukan penjelasan lebih lanjut tentang penulis di bagian akhir buku itu, memang iya dan memang Korea.

 

Meski gitu, jangan salah ya, penjelasan-penjelasan di buku ini itu baik. Kayak penulis itu sangat reflektif atau perasa atau apa gitu. Jadi secara teori atau cara menulis dia baik, hanya auranya aja yang aku "gak dapet". Trus aku merasa puyeng atau terganggu juga dengan gaya campuran antara tulisan dan gambarnya. Gambarnya besar-besar, bisa satu halaman atau kurang trus bersambung dengan gambar lanjutannya di halaman lain. Jadi, satu tema itu gambarnya bisa beberapa halaman sekaligus baru kelar, uda gitu ada tulisan di bawah dan di atas gambar, juga bubble dialog pada masing-masing pemeran, aduh itu kayak kacau banget. Gak kayak komik yang mungkin satu halaman itu selesai satu tema.


Ini tuh isinya dikit, banyakan gambarnya. Modus aslinya, menuh-menuhin halaman. Kayak tuebel padahal gambarnya yang banyak. Tapi isinya daging kok meskipun dikit, gak semua bagian cocok denganku, dan "gak ada feel"-nya.

 


Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Buku ini isinya sangat "merakyat", kayak cerita jujur dari hati yang terdalam. Ditulis berdasarkan sudut pandang pelaku, "Ini lho yang kualami dan ini kesimpulanku/pelajaran yang kuambil." Gitu. Jadi, bukan dari sudut pandang ahli. Mungkin sisi merakyat itulah yang berpengaruh juga bikin dia jadi best seller. Ini sehari-hari banget dan jujur banget. Nggak jaim.

Isinya tentang tentang gak papa kamu gak selalu cocok dengan orang lain. 

Ada orang yang kita kira cocok padahal nggak, ada orang yang ngira orang lain cocok dengannya padahal nggak. 

Ada masa-masa ketika kita merasa sendiri meski di keramaian. 

Ada yang dulunya dekat tapi kemudian jauh.

Ada juga perasaan gak jelas pengen dekat apa nggak dengan orang lain.

Gitu-gitu. Tentang perubahan perasaan dan perubahan hubungan.

 

Trus di tiap akhir babnya ada penjelasannya, berupa kesimpulan atau tips dari penulis.

 

Inspiratif tapi gak menggugah/"gak ada feel"-nya.

 

 

 

 




22 Desember 2025

Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"

 

Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"
Cover buku "It's Ok to Feel Things Deeply"


IT'S OK TO FEEL THINGS DEEPLY

Penulis: Carissa Potter

Jumlah halaman: 61 halaman


 

It's Ok to Feel Things Deeply adalah buku mini tentang kesehatan mental.

Aku nggak ngira dia singkat banget, cuma 60 an halaman.

Lebih nggak ngira lagi karena ini full gambar.

 

Jadi, ini tuh kayak panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar (dan lebih mirip ke target untuk orang-orang yang depresi, bukan orang umum).

Semua teks dirupakan gambar.

 

Berbeda dengan buku You are Positively Awesome, gambar-gambar di sini itu tidak "hidup", tidak membawa aura ceria. Gambarnya kusam. Bahkan, kalau beneran untuk orang depresi, dia sama sekali gak nyenengin dilihat. Perlu lebih colorful dan ceria/playful.

Selain itu, tulisan-tulisan pada gambarnya juga tidak menggugah, nggak kayak buku How to Keep House while Drowning. Kayak nggak ada "nyawanya".

Jadi, baik gambar maupun tulisannya itu "mati".

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia seperti sekadar membuat panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar. Satu gambar untuk satu tips, tapi nggak hidup sama sekali.Cuma untuk dibaca ya gampang dan cepet selesai karena emang bentuk gambar dan halamannya sangat sedikit gitu aja.

 

Jadi, dari cover dia gak nyambung dan gak menarik, dari isi pun begitu, gak menarik juga.

Buku ini perlu diubah ulang formatnya agar bisa lebih baik.


21 Desember 2025

Review Buku "You are Positively Awesome"

 

Review buku "You Are Positively Awesome" oleh Stacie Swift
Cover buku "You are Positively Awesome"


YOU ARE POSITIVELY AWESOME

(Good vibes and self care prompts for all of life's ups and down)

Penulis: Stacie Swift


Buku You are Positively Awesome ini beda banget sama buku You are Awesome -nya Matthew Syed. Buku yang disebut pertama ini ceria banget seperti gambar covernya. Tadinya yang direkom ke aku oleh AI-nya itu buku Matthew Syed tapi aku nggak suka, trus ngintip buku yang ini dan jadi kukepoin sampai habis deh.


Buku ini itu super duper ceria sekali. Dia sangat nyatu antara cover, layout, font, gambar-gambar dan desain di dalamnya, serta warna-warnanya yang colorful. Ceria, bagus, enak dibaca, dan isinya sangat memotivasi, meskipun bagiku nggak terlalu menggugah sih, nggak ada krenteknya, nggak kayak How to Keep House while Drowning

 

Tapi, tetep aja dia bagus untuk self worth-mu dan penting untuk dibaca. Apalagi, dia itu isinya dikit. Dia mengutamakan kenyamanan dan inti/dagingnya aja, dan itu baik atau setidaknya cukup untuk membantu moodmu dan mendukung perbaikan self worth-mu. Ada tugas-tugasnya juga di dalamnya, yang bikin ini gabungan antara buku bacaan dan juga buku kerja/workbook, dan sisi lainnya, tentu saja isinya/teori/bacaannya lebih dikit lagi. Makanya kamu bisa nyikat habis buku ini dalam sekali baca atau sekali duduk. Easy, apalagi buat kamu yang udah suhu karena biasa baca novel tuebel-tuebel. 

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Singkatnya, aku sangat merekomendasikannya. Lihat desain, layout, dan warna-warninya aja pasti uda bisa bikin hidupmu makin berwarna. Nggak surem lagi. Moodmu bisa membaik, walaupun kamu belum baca sekalipun. Tampilannya sangat menceriakan duniamu, dan juga hidupmu.

 

Baca aja deh.

Gak bakal nyesel kok.


Tonton juga video yang satu ini:

 



17 Desember 2025

Review Buku "Addicted to Negative Thinking?"

 

Review buku "Addicted to negative thinking" oleh zera young
Cover buku "Addicted to negative thinking"

ADDICTED TO NEGATIVE THINKING?

(and why positive thinking is not the answer)

Penulis: Zera Young


Hal yang membuatku tertarik membaca buku ini adalah sub judulnya. Karena biasanya orang suka terjatuh pada ekstrim, kalo negatif dianggap jelek berarti solusinya itu harus positifnya (kebalikannya). Tapi, kok di buku ini beda? Dan sisi "addicted" (kecanduan) dan solusi yang bukan kebalikannya ini yang dijual (ditonjolkan di cover).

 

Secara kan kalau kamu uda sering baca buku tema serupa, kamu biasanya uda tau lah ya solusinya ya gitu-gitu aja, afirmasi, CBT/perbaikan mindset, atau apalah-apalah. Trus dia mau bilang apa nih di buku ini kalau dia nggak nyuruh pembaca atau penderita negative thinking itu positif. Itulah yang kukepoin di buku ini.

 

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian:

 

Bagian pertama: menjelaskan negative thinking itu sendiri

Bagian ke dua: menjelaskan mengapa positive thinking bukan jawabannya

Bagian ke tiga: menjelaskan apa yang dipandang inti masalahnya

Bagian ke empat: menjelaskan teknik untuk mengatasi masalah yang disebut pada bagian ke tiga


Buku ini sangat tipis, hanya 27 halaman. Dari 27 itu, itu masih banyak juga halaman kurang/tidak pentingnya, jadi isinya lebih tipis lagi dari itu.

 

Mungkin karena itu juga seperti bagian pertama misalnya, pola negative thinking hanya diberi contoh sedikit. 

 

Kemudian apa yang dipandang penulis sebagai inti masalahnya, menurutku nggak sepenuhnya benar. Nggak lengkap. Padahal, di bagian belakang buku penulis itu tau bahwa negative thinking itu nggak selalu buruk, tetapi ketika dia menjelaskan negative thinking atau inti masalah dan solusinya, negative thinking itu seperti hanya dipandang dari satu sisi/lingkup yang sangat kecil. Maksudnya, negative thinking itu kan banyak macamnya, batasan dia di buku ini itu apa, kenapa di buku ini masalah dan solusinya disempitkan pada satu atau beberapa jenis negative thinking saja, yaitu yang seolah ngatasi inner critic dan semacamnya saja.

 

Baca review buku thinking lainnya di sini:

Hard optimism

Wait, I need to overthink 

Berpikir pangkal menderita

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Meski gitu, kuakui sih penjelasan dan solusi dia di buku ini itu punya keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis. 


Untuk keterbacaan sih nggak terlalu enak, yang agak bikin mendingan karena dia per bahasan nggak terlalu panjang, yah sekitar satu sampai empat halaman.

Trus yang agak ganggu juga bagian disclaimer-nya (bagian hukum tentang bukunya), kayak terlalu panjang/berlebihan/ganggu banget atau gimana gitu dibanding buku lain, terutama karena buku ini tipis banget kali ya, jadi penulis takut kalau ada yang dibocorkan makin "habis" lah isinya (yang belum dibaca).


Bagus kok tapi bukunya. Masih layak baca.



 

 




 

16 Desember 2025

Nggak Ada Orang yang Meninggal karena Merokok (Satire)

 

Melanggar larangan merokok
Tambeng/mokong alias bandel, malah ngerokok di samping tanda dilarang merokok

 

"Ada nggak orang yang meninggal karena merokok? Nggak ada. Sampai sekarang belum ada satupun dokter yang mengatakan orang meninggal karena merokok. Otopsinya mengatakan sakit jantung, paru-paru, diabetes, ...." (statement wakil partai di Indonesia, saya tidak mengatakan wakil rakyat ya karena saya tidak merasa terwakili olehnya)


Hmm ... iya nih, kok ada gitu lho orang yang bilang "ada orang yang meninggal karena merokok."

Nggak ada.

 

Yang ada itu orang meninggal karena:

 

NAFASNYA SUDAH BERHENTI

JATAH HIDUPNYA SUDAH HABIS

DIJEMPUT MALAIKAT IZRAIL

NYAWANYA SUDAH HILANG

HASIL OTOPSINYA MENGATAKAN SUDAH MENINGGAL

MAU NGELENCER KE ALAM BARZAH

INGIN BERTEMU ORANG-ORANG YANG SUDAH MENINGGAL LAINNYA DI ALAM "SANA"

MENGHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

 SUDAH PINDAH KE ALAM "LAIN"

 

Gimana sih orang-orang itu, nggak ada orang meninggal karena merokok.

Mereka itu cuma KEMULAN KAIN KAFAN dan PINDAH BOBOK DI BAWAH TANAH, tapi selamanya.

Nggak meninggal itu.

Kita harus bedakan bahasanya dengan jelas. 

Penggunaan bahasa itu harus tepat. 

Jangan sampai mencederai bahasa nasional dan bahasa daerah kita.

Ingat ya, "nggak meninggal."

Tewas.


 

 


 


Review Buku "Just Send the Text"

Review buku "Just Send the Text" oleh Candice Jalili
Cover buku "Just Send the Text"

 

Just Send the Text

(An expert's guide to letting go of the stress and anxiety of modern dating)

Penulis: Candice Jalili



Buku ini tentang modern dating. Untuk cewek. Kan saat cari jodoh itu cewek suka galau-galau trus ngegames ini itu baik karena ngikut coach tertentu atau karena pengaruh orang sekitarnya. Nah, buku ini bilangin cewek-cewek gitu, "Eh kamu jangan ngegames, jadi cewek ori aja." Ngapain kamu ngegames, kerugiannya gini gitu. Lagian, kamu jadi ga ori karenanya. Gitu.

 

Penulis jelasin satu per satu gamesnya dan cara sehatnya versi penulis. Jadi, penulis itu empowering cewek gitu. Ada 50 kasus games-games cewek, yang gak guna, dan penulis ini berusaha mengubah mindset dan tindakan cewek-cewek tadi.

 

Buku ini meskipun judulnya Just Send the Text tapi itu bukan tentang chatting ya. Judul itu metafora bahwa kamu itu harus tegas aja dalam bertindak: proaktif dan tegas. Nggak usah takut ditolak.

 

Malahan, bagian terbaik dari buku ini adalah bagian "mengatasi rejection/penolakannya", dia kasih cerita dan tips yang bagus. Ya gimana-gimana ditolak itu sakit, tapi sakit itu nggak bikin kita mandeg. Kita bisa cepet balik netral/mental istilahnya/melenting bangkit lagi trus nyoba ikhtiar lagi nyari cowok yang baru. Jangan takut ditolak, daripada kamu jadi nggak ori atau dapet cowok yang nggak bener-bener cocok buatmu atau hanya menyukai diri palsumu.

 

Baca review buku asmara lainnya di sini:

The Marriage Plan

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Layoutnya lumayan enak, ada tabel-tabel singkat tiap kasus asmara yang dibahas, trus kata-katanya juga empowering/nguatin cewek, nggak bernada negatif. Ya meskipun mirisnya karena dia bule, itu cewek-cewek yang nanya/konsul ke dia ya seputar h00k up-h00k up gitu deh. Kayak unboxing itu emang uda jadi gaya hidup di sana, uda biasa di sana.


Trus ya, meski ini buku tentang cari jodoh, tapi ini bukan tentang cara dapetin jodoh. Dia nggak ngajarin itu. Dia cuma nguatin para cewek agar gak kehilangan diri dan value-nya dalam proses pencarian jodoh itu. Karena nilai wanita itu tidak pada pria/pasangan atau hubungan. Jangan sampai para wanita kehilangan dirinya yang paling berharga hanya demi pria atau hubungan.


Buku ini top banget. Buagus banget kayak buku kemarin yang How to Keep House while Drowning itu.

Buku-buku itu sangat bermanfaat untuk self worth cewek. Yang satu menekankan bahwa nilai wanita itu tidak diukur dari tugas-tugas rumah tangga/kebersihan/kerapian, satunya lagi menekankan bahwa nilai wanita tidak diukur dari pria atau sudah berpasangan atau belum.


Wajib masuk daftar bacamu ya.

Jangan dilewatkan.