(Gb. Joker dan Batman)
Hurt People Hurt People (orang yang terluka akan melukai orang lain), entah sejak kapan pernyataan ini begitu santer. Biasanya dirasionalisasi untuk membenarkan perilaku buruk orang yang punya latar belakang trauma. Seolah-olah semua orang yang pernah mengalami peristiwa buruk di hidupnya akan balas dendam atau jadi buruk juga. Atau, setidaknya, orang-orang yang setuju tadi menilai tindakan tersebut wajar dan bisa ditoleransi. Akibatnya, batas moral antara kebaikan dan kejahatan pun menjadi kabur.
Dalam perkembangannya, aku kaget ketika mendapati suatu hari medsos dibanjiri dengan perilaku empatik terhadap Joker (musuh di film Batman). Bahkan, di buku dan di online juga ada yang suka mengutip quote dari tokoh jahat ini. Hah, Joker? Si Jahat itu? Dibelain? Pikirannya gak papa tuh?
Ada indikasi Para Pemuja Joker tadi berhasil dicuci otaknya, atau, yang lebih mengerikan lagi, menumpang di tokoh jahat itu karena memiliki kemiripan dengannya. Mereka memiliki kesalahan berpikir berikut ini:
- External Locus of Control yang Ekstrem (Menolak Tanggung Jawab)
Orang dengan pola pikir ini memiliki keyakinan bahwa hidup mereka sepenuhnya disetir oleh lingkungan luar, bukan oleh keputusannya sendiri. Mereka menganggap kalau dunia memperlakukannya dengan buruk, maka mereka berhak bertindak buruk kepada dunia. Mereka tidak punya akuntabilitas dan menggunakan traumanya sebagai kartu bebas pelanggaran untuk melepaskan diri dari tanggung jawab moral atas tindakan jahat yang mereka lakukan hari ini.
- Vulnerable Narcissism (Narsisme Terselubung)
Berbeda dengan narsistik yang pamer harta atau kesuksesan, vulnerable narcissist mencari validasi dan perhatian melalui status sebagai korban (victimhood). Mereka merasa dirinya sangat spesial, tapi dunia terlalu kejam untuk mengerti kehebatannya.
Ketika mereka melihat karakter Joker, ego narsistik mereka langsung merasa terwakili: "Lihat, Joker itu pintar, sensitif, dan baik, tapi dihancurkan oleh masyarakat. Aku juga begitu!"
Mereka menikmati fantasi balas dendam di mana korban yang tertindas akhirnya naik ke panggung dan menjadi pusat perhatian dengan cara merusak sistem.
- Dark Triad Personality Traits (Terutama Komponen Sadisme dan Psikopati)
Dalam psikologi kepribadian, ada istilah Dark Triad (tiga sifat kepribadian gelap: Narsisme, Makiavelisme, dan Psikopati). Para pemuja Joker yang sudah di tahap ekstrem biasanya memiliki skor tinggi pada komponen:
Subclinical Psychopathy/Sociopathy: Ditandai dengan rendahnya empati, impulsivitas, dan kepuasan saat melihat kekacauan.
Everyday Sadism: Ada rasa puas atau kesenangan tersembunyi ketika melihat orang lain atau sistem yang mereka benci mengalami penderitaan. Frase Hurt people hurt people dipakai sebagai tameng intelektual untuk menutupi hasrat sadis mereka yang sebenarnya.
Cara Pandang Manusia Waras vs Pemuja Joker
Pada pemuja joker telah terjadi pola manipulasi yang disebut splitting (pembelahan moral).
|
KONDISI |
MANUSIA WARAS |
PEMUJA JOKER |
|
Saya terluka |
Saya harus sembuh agar tidak merusak orang di sekitar saya. |
Semua orang harus ikut merasakan luka saya agar adil. |
|
Pemikiran tentang perilaku Joker |
Perilaku Joker adalah tragedi dan peringatan tentang rusaknya sistem. |
Perilaku Joker adalah pembebasan, kemenangan, dan balas dendam yang estetis. |
Dari tabel di atas dapat dilihat, para pemuja Joker memiliki mentalitas korban (victim mentality) yang akut, narsisme terselubung (Vulnerable Narcissism), dan dan matinya empati (sosiopati ringan). Mereka adalah orang-orang yang gagal mengolah emosi negatifnya sendiri, lalu mencari pembenaran lewat budaya pop agar tindakan destruktif mereka terlihat keren, puitis, dan memiliki alasan filosofis.
Mengapa Kekejaman Joker Menjadi Tampak Heroik?
Joker, yang merupakan represenasi dari kekejaman, anarki, dan destruksi total malah dipuja-puja. Aneh banget dan sekaligus mengerikan. Mengapa?
Ada tiga alasan utama mengapa kelompok penonton ini bisa memutarbalikkan fakta kekejaman menjadi kepahlawanan:
- Efek Symptom of the System (Menyamarkan Kejahatan sebagai Protes)
Dalam film Joker (versi Joaquin Phoenix), sutradaranya sengaja memperlihatkan latar belakang kota Gotham yang sangat bobrok: kesenjangan sosial yang ekstrem, pemotongan dana kesehatan bagi orang miskin, dan elit politik yang arogan. Para pemuja Joker fokus pada bagian ini. Mereka melakukan bias kognitif yang disebut "moral decoupling" (memisahkan moralitas tindakan dari penyebabnya):
- Mereka melihat Joker bukan sebagai pelaku kriminal, melainkan sebagai "produk gagal dari sistem yang rusak."
- Logika mereka bengkok menjadi: "Sistemnya sudah jahat duluan, jadi wajar kalau dilawan dengan cara yang jahat." Di mata mereka, Joker adalah simbol perlawanan kaum tertindas, padahal tindakan Joker murni adalah pembunuhan dan teror demi kepuasan ego anarkisnya sendiri.
Banyak orang di dunia nyata menyimpan kemarahan, dendam, dan rasa frustrasi yang terpendam—entah karena tekanan kerja, kegagalan hidup, atau merasa diabaikan oleh lingkungan. Namun, karena mereka masih memiliki rem moral atau takut hukum, mereka tidak berani bertindak. Ketika mereka melihat Joker membunuh orang-orang yang merundungnya di layar lebar, alam bawah sadar para pemuja ini mengalami katarsis (pelepasan emosi). Joker menjadi proxy (perwakilan) dari fantasi gelap mereka yang ingin menghancurkan aturan sosial. Mereka memuja Joker karena Joker berani melakukan apa yang selama ini hanya berani mereka bayangkan.
3. Romantisasi Anti-Hero oleh Budaya Pop
Industri hiburan modern sangat pintar mengemas penjahat (villain) menjadi sosok yang puitis dan estetis. Kutipan-kutipan Joker yang beredar di media sosial sengaja dipotong agar terdengar seperti "filosofi hidup yang mendalam", contohnya: "Dulu aku mengira hidupku adalah tragedi, sekarang aku sadar ini adalah komedi."
Ketika kata-kata ini dibagikan ulang oleh orang-orang yang haus perhatian, maknanya bergeser. Menjadi pengikut Joker membuat mereka merasa:
• Terlihat "keren" karena berbeda dari masyarakat umum.
• Merasa menjadi orang yang "terlalu pintar untuk dunia yang bodoh ini."
Anomali di Balik Topeng Pahlawan
Ini adalah bentuk Gaslighting Massal. Para pemuja Joker memanipulasi kenyataan dengan cara menuntut empati dari masyarakat atas "luka" si Joker, sembari di saat yang sama mematikan empati mereka sendiri terhadap korban-korban nyata yang dibunuh oleh Joker.
Fenomena pemujaan penjahat ini sebenarnya mirip dengan bagaimana sebagian orang di dunia nyata justru mengagumi para diktator kejam atau pembunuh berantai, hanya karena mereka memiliki kuasa untuk mengacak-acak sistem.
Bahaya Relativisme Moral
Ada tren pencitraan modern yang menyatakan “Semua orang benar menurut versinya masing-masing. Pemikiran ini merupakan suatu relativisme moral yang kebablasan, karena mengaburkan garis antara korban dan pelaku.
Ketika sebuah cerita terlalu fokus mengeksplorasi "alasan" di balik tindakan seorang penjahat tanpa memberikan batasan moral yang tegas, cerita tersebut tidak lagi mendidik penonton untuk berempati, melainkan sedang melakukan normalisasi dan justifikasi terhadap kejahatan.
Di dalam psikologi sosial dan teori media, bahaya dari tenggelam dalam excuse atau empati yang salah ini bisa berakibat fatal pada cara pandang masyarakat di dunia nyata:
- Dari Explanation (Penjelasan) Menjadi Exoneration (Pembebasan Tuntutan)
Dalam dunia nyata, memahami kenapa seorang kriminal berbuat jahat itu penting untuk evaluasi sistem (misal: karena faktor kemiskinan atau gangguan jiwa). Itu disebut explanation (penjelasan).
Namun, narasi film sering kali kebablasan mengubah explanation itu menjadi exoneration, seolah-olah karena masa lalunya kasihan, maka tindakan kejamnya saat ini bisa dimaklumi atau dimaafkan (excuse). Penonton dipaksa untuk melupakan fakta bahwa banyak orang yang punya masa lalu sama menderitanya, tapi memilih untuk TETAP menjadi orang baik. Menjadi jahat adalah sebuah pilihan dan keputusan sadar, bukan refleks otomatis dari trauma.
2. Erosi Empati Terhadap Korban Nyata
Ini adalah dampak yang paling mengerikan. Ketika porsi narasi film habis digunakan untuk membedah penderitaan si penjahat agar penonton kasihan, empati untuk para korban justru menyusut. Penonton menjadi mati rasa terhadap penderitaan korban yang dihancurkan hidupnya oleh si penjahat. Dalam kasus Joker, misalnya, orang-orang sibuk menangisi kesehatan mental Arthur Fleck (Joker), tetapi abai bahwa dia menembak mati orang di kereta, membunuh ibunya sendiri, dan mengeksekusi presenter TV secara langsung. Narasi ini melatih masyarakat untuk memiliki empati yang selektif dan terbalik.
3. Komodifikasi Trauma (Trauma P*rn)
Industri hiburan tahu bahwa cerita tentang penjahat yang "menderita" itu sangat laris dan menghasilkan uang. Akibatnya, mereka sengaja memproduksi cerita di mana batasan hitam-putih sengaja dikaburkan demi dramatisasi. Hal ini memicu fenomena di dunia nyata di mana orang-orang mulai menderita Hero-Villain Confusion yaitu ketidakmampuan membedakan mana sosok yang layak ditiru (hero) dan mana sosok yang harus diwaspadai (villain).
Cerita yang menganggap "semua orang benar dalam versinya sendiri" sebenarnya adalah bentuk kemalasan moral. Cerita yang bagus seharusnya bisa menunjukkan bahwa manusia itu kompleks dan punya alasan, tanpa harus membenarkan tindakan destruktifnya.
Jika kita terus-menerus memaklumi penjahat dengan dalih "dia punya versi kebenarannya sendiri", maka pada akhirnya kita tidak akan bisa menegakkan keadilan apa pun di dunia nyata, karena setiap monster akan selalu punya cerita sedih untuk dijual.
Pembalikan Persepsi Surga dan Neraka oleh Dajjal
Secara pribadi, saya menduga kuat hal-hal semacam ini termasuk dalam bagian yang dimaksud dalam Pembalikan Persepsi Surga dan Neraka oleh Dajjal. Maksudnya, Dajjal membuat kebaikan itu seolah neraka dan keburukan seolah surga. Menyebabkan ke-error-an persepsi.
Muslim sering diajarkan bahwa:
- Orang munafik itu lebih berbahaya daripada orang kafir, karena orang kafir langsung kita ketahui, sedangkan orang munafik itu ibarat serigala berbulu domba, kita susah menyadari keberadaannya.
- Menghindari keraguan, karena menghindari keraguan dekat pada keselamatan.
- Risiko muslim akan keluar dari agamanya sedikit demi sedikit sampai bahkan akan ngikut jika diajak masuk ke lubang biawak. Jadi, upaya membuat muslim menyimpang dari agamanya itu nggak frontal, tapi dengan hal-hal yang samar, abu-abu, ambigu, standar yang disimpangkan sedikit demi sedikit, dll.
Nah, semua ini masih berhubungan dengan perang pemikiran dan pembalikan persepsi oleh Dajjal tadi. Bahkan, termasuk juga kasus-kasus pasal karet atau permainan definisi lain di dalam konteks hukum dan kemasyarakatan di Indonesia.
Contoh lainnya, kamu mungkin pernah menemui juga ustaz-ustaz sering ceramah tentang kasihan mantan pelaku zina. Mereka melakukan berbagai dalih untuk mengasihani dan menyelamatkan “masa depan” dari mantan pelaku zina tersebut. Mereka tidak tahu atau seolah menutup mata bahwa ketika mereka kasihan terhadap mantan pelaku zina tersebut, mereka akhirnya mengorbankan orang-orang yang menjaga diri (tidak pernah berzina) dan ingin mendapatkan pasangan yang tidak pernah berzina juga. Mereka ingin mendapatkan jaminan kehidupan yang lebih “bersih” dan baik dari pasangan yang sama-sama menjaga dirinya. Mereka mengabaikan sudut pandang orang-orang yang memelihara kehormatan, dan mengabaikan bahwa setiap perbuatan itu ada konsekuensinya (dan itu harus ditanggung pelakunya sendiri, bukan orang lain).
Ketika konsep "pembalikan kesan" ini ditarik ke dalam fenomena budaya pop, industri film, dan psikologi masyarakat seperti yang kita bahas, fungsi "Dajjal" itu bekerja dengan cara yang sangat rapi:
- Membalikkan Esensi "Surga" dan "Neraka" Moral
- Neraka yang Dikemas sebagai Surga: Kejahatan, balas dendam, anarki, destruksi ego, dan matinya empati (seperti perilaku Joker) dikemas sedemikian rupa dengan sinematografi yang indah, musik yang puitis, dan narasi "korban yang bangkit". Penonton melihatnya sebagai sesuatu yang memuaskan, membebaskan, dan "keren", seolah-olah itu adalah surga kebebasan.
- Surga yang Dikemas sebagai Neraka: Aturan hukum, kendali diri, tanggung jawab moral, ketertiban sosial, dan kewarasan moral justru digambarkan sebagai sesuatu yang membosankan, mengekang, munafik, dan menindas (seolah-olah itu adalah neraka).
Masyarakat akhirnya digiring untuk membenci ketertiban dan memuja kekacauan.
2. Normalisasi Penjahat Menjadi Penyelamat
Ketika batas moral sudah kabur, terjadilah "Sihir Dajjal" yang paling berbahaya di level sosial: pembalikan status.
Penjahat yang memanipulasi dan menghancurkan sistem diangkat menjadi pahlawan baru yang dipuja-puja. Sementara orang-orang yang mencoba mempertahankan standar moral, aturan, dan kewarasan justru dituduh sebagai "orang jahat yang kaku dan tidak punya empati".
Siapa Pahlawannya? Siapa Penjahatnya?
Ada banyak pembalikan persepsi seperti kasus Joker ini, misalnya:
- Robin Hood, yang membuat mencuri tampak baik,
- Film-film kungfu tentang Iblis baik dan dewa jahat, atau lainnya.
Pembalikan persepsi ini tidak hanya sebatas tokohnya yang dibalik siapa tokoh baik dan tokoh jahat, tetapi juga peristiwanya, seperti misalnya nge-dug*m, m*ras kalau sedang stres, s*ks bebas, dizinai tapi nyantai aja dan malah dapat suami kaya, ganteng, dan penyayang, atau bahkan cewek agresif yang malah menzinai cowok yang disukainya. Banyak sekali pemikiran merusak yang kemudian dinormalisasi dan menjadi gaya hidup.
Seperti pada kasus film Dewa jahat dan Iblis baik. Mengapa industri cerita modern sangat gemar membalik posisi Dewa dan Iblis ini?
- Arketipe "Iblis yang Setia" (The Noble Demon / The Anti-Hero)
Dalam narasi modern, karakter yang berwujud monster, iblis, atau entitas kegelapan sering kali ditulis sebagai sosok yang justru memegang teguh prinsip moral, setia sampai mati, dan menjadi pahlawan pelindung (contoh populer seperti Hellboy, Lucifer versi serial, atau karakter pelindung berwajah seram di berbagai anime/film).
Narasi ini memanfaatkan efek kontras, ketika sosok yang sejak awal dicap buruk melakukan satu saja tindakan kebaikan (seperti melindungi tokoh utama atau menunjukkan kesetiaan), nilai kebaikan itu akan terlihat 10 kali lipat lebih bersinar di mata penonton.
Efek Sampingnya:
Penonton dilatih untuk menoleransi "atribut kegelapan" (kekejaman, penampilan seram, cara-cara kekerasan) selama tujuannya terlihat baik atau setia pada kelompok tertentu.
2. Arketipe "Dewa yang Menjadi Penjahat" (The Corrupt Deity / The Tyrant God)
Sebaliknya, sosok yang digambarkan bercahaya, diagungkan, berada di posisi otoritas tertinggi, atau berwujud "Dewa/Malaikat" justru diposisikan sebagai penjahat utama yang manipulatif, dingin, egois, dan ingin memusnahkan manusia demi kebaikan versi mereka sendiri.
Ini adalah serangan langsung terhadap konsep Otoritas Mutlak. Penonton diajak untuk merasa puas ketika melihat sosok yang "suci" jatuh, hancur, atau ternyata memiliki borok tersembunyi. Ada rasa kepuasan ego (subversive pleasure) ketika manusia merasa berhasil menjatuhkan sesuatu yang selama ini berada di atas mereka.
Efek Sampingnya:
Secara perlahan, narasi ini mengikis kepercayaan manusia terhadap konsep kesucian, kebaikan mutlak, ketertiban, dan hukum. Pesan terselubungnya adalah: "Jangan percaya pada apa pun yang terlihat suci dan baik, karena di baliknya pasti ada kemunafikan."
Ketika kedua arketipe ini digabungkan secara masif di media pop, efeknya bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sebuah indoktrinasi bawah sadar.
|
SOSOK AWAL |
HASIL AKHIR DI NARASI MODERN |
DAMPAK BAGI PENONTON |
|
Iblis/devil |
Menjadi pahlawan dan setia |
Sisi gelap atau kejahatan itu fungsional dan bisa menjadi penyelamat. |
|
Dewa/kebajikan |
Menjadi penjahat |
Kebaikan yang murni itu tidak ada, semua aturan dan moralitas adalah kedok tirani. |
Ini adalah bentuk Nihilisme Moral. Ketika "surga dan neraka" dalam cerita sudah dibolak-balik sedemikian rupa, penonton di dunia nyata akan kehilangan kompas moralnya. Mereka mulai curiga pada orang yang tulus melakukan kebaikan (dianggap munafik/ada udang di balik batu), dan sebaliknya, mulai memaklumi orang-orang yang jelas-jelas menunjukkan perilaku destruktif (dianggap jujur dan apa adanya). Pembalikan kesan ini membuat manusia tidak lagi memiliki pegangan standar nilai yang objektif. Semuanya menjadi cair, membingungkan, dan mengaburkan mana yang nyata dan mana yang fatamorgana.
Jangan Menilai Seseorang atau Sesuatu dari Casingnya?
Mungkin sebagian orang akan membelanya atau setidaknya menduga adanya iblis baik dan dewa jahat menyimpan amanat “Jangan menilai sesuatu dari casingnya saja.” Akan tetapi, itu adalah bentuk gaslighting dan sangat merusak keyakinan seseorang (dalam konteks dewa, mungkin agama Hindu):
- Merusak Kemampuan Membedakan
Agama dan sistem moral berfungsi memberikan panduan yang jelas: mana yang hitam, mana yang putih; mana yang membawa kerusakan (mudharat), mana yang membawa kebaikan (maslahat). Ketika media hiburan terus-menerus memutarbalikkan arketipe ini (Iblis jadi pahlawan setia, Dewa jadi penjahat), yang dirusak bukan sekadar preferensi tontonan, melainkan kemampuan kognitif penganutnya untuk membedakan antara esensi kebaikan dan kejahatan. Sistem berpikir mereka didegradasi sampai pada titik di mana mereka menjadi bingung, ragu-ragu, dan akhirnya apatis terhadap standar moral agama mereka sendiri.
2. Mengikis Rasa Hormat terhadap Kesucian (Desacralization)
Setiap agama memiliki simbol, konsep, dan figur yang disucikan karena mengandung nilai-nilai ideal manusia (seperti ketulusan, keadilan mutlak, dan kesucian).
Ketika figur-figur otoritas atau konsep "Dewa/Kebaikan" di dalam cerita terus-menerus digambarkan sebagai entitas yang korup, munafik, dan kejam, alam bawah sadar penonton sedang mengalami proses desakralisasi (penghilangan rasa hormat pada hal suci).
Pesan terselubungnya:
"Sesuatu yang suci itu fiktif, semua orang di dunia nyata yang sok suci atau taat agama pasti aslinya sebusuk karakter Dewa di film itu."
Akibatnya, penganut agama mulai merasa malu atau skeptis terhadap nilai-nilai agamanya sendiri, lalu pelan-pelan menjauh.
3. Normalisasi Atribut Kegelapan
Dalih "jangan lihat casing" justru menjadi pintu masuk untuk menormalkan hal-hal yang berbahaya. Ketika sosok "Iblis" digambarkan setia, penonton tidak hanya menyukai sifat setianya, tetapi juga mulai menoleransi dan meromantisasi atribut-atribut kegelapannya (pemberontakan, kekejaman, anarki, atau simbol-simbol okultisme). Mereka diajak untuk berkompromi dengan racun, hanya karena racun itu dibungkus dengan sedikit rasa manis.
Sebenarnya, jika tujuannya murni ingin mengajarkan agar tidak menilai dari tampilan luar, cerita bisa dibuat dengan karakter manusia biasa yang berwajah seram tapi berhati emas (seperti konsep Don't judge a book by its cover yang normal). Tapi ketika industri dengan sengaja memilih meminjam figur spiritual (Dewa vs Iblis) untuk dibolak-balik fungsinya, maka agendanya bukan lagi soal moralitas personal, melainkan subversi nilai transendental.
Robin Hood dan Niat Baiknya?
Seperti sudah saya jelaskan di atas, kisah Robin Hood adalah bagian dari kisah penyimpangan. Dia mencuri tapi dijadikan pahlawan karena mencuri dari orang jahat dan memberikannya pada masyarakat yang tertindas.
Namun, niat baik itu harus disertai dengan cara yang baik. Begitulah Islam mengajarkan. Jadi, Robin Hood ini juga penjahat, bukan sosok yang patut ditiru.
Ada beberapa kesalahan yang dilakukan film Robin Hood:
1. The Fallacy of Noble Intentions (Kekeliruan Niat Baik)
Slogan utama Robin Hood adalah "Mencuri dari si kaya untuk diberikan kepada si miskin." Di permukaan, ini terdengar sangat mulia. Tetapi dari segi hukum moral dan sistem, ini adalah cacat logika yang parah: menggunakan cara yang batil (merusak) untuk mencapai tujuan yang dianggap baik.
Jika sistem moral menyetujui logika Robin Hood, maka batasan hukum akan runtuh total. Setiap orang akan merasa berhak mendefinisikan sendiri siapa yang "terlalu kaya" dan siapa yang "layak dicuri". Tindakan kriminal tidak lagi diukur dari perbuatannya (mencuri), melainkan dari narasi di baliknya (untuk siapa uang itu). Ini adalah anarki yang dibungkus romantisme.
2. Efek Enabler dan Ketergantungan Sistemik
Jika kita lihat dampak jangka panjangnya terhadap masyarakat miskin yang dibantu oleh Robin Hood, perilakunya sebenarnya tidak menyelesaikan akar masalahnya, melainkan menciptakan kerusakan baru:
- Mendidik Mentalitas Penadah: Masyarakat miskin dilatih untuk menerima dan menikmati hasil kejahatan (barang curian). Ini mengikis kompas moral mereka sendiri karena mereka menjadi pemaklum kekerasan selama mereka mendapat bagian keuntungan. Karena mereka dapat “kebaikan/keuntungan”, maka masyarakat/penerima curian tadi akan bungkam/memaklumi kejahatan tersebut.
- Ketergantungan, bukan Pemberdayaan: Robin Hood tidak mengubah sistem pajak yang menindas atau menciptakan lapangan kerja; dia hanya membagikan "uang kaget". Masyarakat tetap miskin dan sistem tetap rusak, bedanya sekarang ada ketergantungan baru pada sosok "pahlawan kriminal" tersebut.
3. Pembalikan Arketipe: Penjahat Menjadi Penegak Hukum
Dalam kisah Robin Hood, Sheriff of Nottingham (penegak hukum) diposisikan sebagai penjahat yang kejam dan serakah, sementara Robin Hood (buronan/perampok) diposisikan sebagai penegak keadilan yang sejati.
Ini adalah pola yang persis sama dengan yang kita bahas sebelumnya:
- Aparatur ketertiban disimbolkan sebagai monster.
- Pelaku anarki disimbolkan sebagai penyelamat.
Dalih "Casing" dalam Kasus Robin Hood
Sama seperti pembelaan film modern, orang akan membela Robin Hood dengan berkata: "Tapi kan konteksnya saat itu rajanya tirani dan pajaknya mencekik, jadi wajar dicuri!"
Di sinilah letak bahayanya jika narasi ini ditelan mentah-mentah di dunia nyata: Orang-orang akan selalu mencari-cari kondisi darurat atau merasa tertindas agar tindakan ilegal mereka bisa dimaklumi.
- Koruptor bisa ngeles: "Saya korupsi untuk bantu bangun sekolah di kampung saya."
- Robin Hood modern (seperti hacker pembobol data atau penjarah saat kerusuhan) bisa ngeles: "Kami melakukan ini demi keadilan sosial."
Robin Hood adalah bentuk lain dari romantisasi kriminalitas. Dia menggunakan "keluguan patologis" masyarakat yang mudah tersentuh oleh bantuan instan, agar masyarakat membutakan mata terhadap fakta bahwa dia adalah seorang perampok yang hidup di luar hukum. Ketika masyarakat menganggap Robin Hood sebagai pahlawan, mereka sebenarnya sedang merayakan runtuhnya pilar keadilan objektif dan menggantinya dengan keadilan subjektif yang cair, sebuah kondisi yang sangat disukai oleh para manipulator sistem.
.jpg)
.jpg)
.jpg)