06 Februari 2026

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah

 

Harimau di hutan

Segerombolan harimau di hutan


Manusia Ingin Mengorbankan Harimau, tetapi Dirinya Terkena Juga

Lagi, korban harimau terus berjatuhan. Tak hanya teror harimau terhadap warga dan ternak di Langkat, tetapi juga di Solok, Siak, Pelalawan, dan daerah lainnya.

Ancaman itu nyata, dari luka parah hingga kehilangan nyawa. Jika satu korban lagi berjatuhan, terlalu banyak rasanya. Betapapun kita ingin hidup berdampingan dengan makhluk belang ini, hubungan kita dengannya jangan terlalu diromantisasi.

 

Hubungan Manusia dan Harimau Jangan Terlalu Diromantisasi

Mungkin sesekali video manusia memelihara atau memeluk hewan buas seperti harimau ini pernah lewat di beranda Anda. Atau, mungkin Anda pernah mendengar cerita-cerita legenda tentang bagaimana manusia bersahabat dengan hewan-hewan hutan yang perkasa. Namun, jangan lupa, harimau adalah hewan buas. Hewan karnivora. Hewan yang sangat instingtif dan bisa memangsa Anda bila kelaparan atau saat Anda lengah.

Apalagi, kalau harimaunya tua, cacat, atau terluka, manusia seringkali menganggapnya sudah aman. Padahal, ternak-ternaknya dan dirinya kini malah semakin menarik untuk menjadi santapan. Manusia dan ternak-ternaknya yang lamban dan dibatasi kandang atau tali kekang, sangat hemat energi untuk dimangsa daripada rusa yang bisa berlari kencang di hutan. Jadi, bukannya lebih aman, nyawa manusia bisa semakin terancam..

Sebagaimana manusia yang bisa memakan harimau jika kelaparan, harimau juga demikian. Sudah ada contohnya, misalnya pada Suku Anak Dalam. Karena desakan perut yang menguat, mereka bahkan memakan harimau - hewan yang didewa-dewakannya sejak dulu. Sama juga dengan harimau, semakin membahayakan manusia jika perutnya keroncongan. Layaknya hukum alam, tiap-tiap makhluk ingin melindungi diri dan bertahan.

Jadi, alih-alih berfokus pada romantisasi terhadap harimau, jalinlah hubungan yang saling menghormati dengannya- bukan hubungan yang menganggap harimau aman/jinak, bukan juga tentang santai-santai saja dekat dengannya, serta selfi-selfi dan memeluk dia. Sudah banyak manusia ceroboh yang menjadi korban karenanya. Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya. Jika memang ingin hidup bersama dengan mereka (coexistence), pastikan keamanan kita menjadi prioritas utamanya.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global

 

Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2025/11/membangun-kesempatan-setara-menghargai.html

 

Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku


Baca seluruh artikel inspirasiku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Menakar Koeksistensi (coexistence) dengan Hati-Hati

Ketika kita berbicara mengenai koeksistensi, kita harus berhati-hati dan penuh strategi. Jangan sampai menjadi sekadar wacana karena jika gagal taruhannya NYAWA. Kita tidak boleh hanya menduga-duga, tetapi sebisa mungkin harus presisi.

Harimau tak seperti beruk, dia punya tingkat ancaman yang lebih tinggi. Beruk, meski juga berbahaya bagi manusia, tetapi pada beberapa area manusia sudah bisa hidup berdampingan dengannya. Namun, untuk harimau, meskipun di negara luar sudah ada kisah serupa, kita tetap harus sangat waspada.

Seperti serangan harimau terhadap 2 warga pada 16 September lalu di kebun karet, Solok, yang masih segar beritanya. Serangan harimau di negara kita masih sangat banyak dan beragam. Tak hanya di area hutan, serangan tersebut juga terjadi di perkebunan, jalan, area memancing, juga pemukiman. Korban disergap saat sedang dalam aktivitas yang berbeda-beda. Selain itu, korban tidak hanya menimpa pendatang, melainkan juga penduduk sekitar.

Parahnya lagi, teror ini terjadi di berbagai daerah. Bahkan, teror terhadap manusia dan ternak ini juga ada yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Apa yang salah dengan pengelolaan hutan kita?

Kisah Suku Anak Dalam di bawah ini dapat membantu kita menjawabnya.

 

Ketika Suku Anak Dalam dan Harimau Bernasib Serupa

Kalau akhir-akhir ini harimau terus menerkam/memangsa manusia dan terdorong keluar dari hutan (habitatnya), suku Anak Dalam pun pernah bernasib serupa. Pada Desember 2014 hingga Maret 2015, 11 Suku Anak Dalam Jambi tewas karena kelaparan. Di Taman Nasional Bukit Duabelas yang telah beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit, hutan tak lagi kaya pangan, kaya air, atau kaya bahan obat tradisional. Hewan buruan sulit didapat, bahan ramuan pun sama saja. Suku Anak Dalam tak berdaya. Mereka menjadi lemah dan sakit, tetapi tak bisa menerapi dirinya sendiri karena bahan ramuannya tak lagi tersedia. Demi bertahan hidup, akhirnya mereka berburu apa saja, termasuk harimau, hewan yang didewa-dewakannya. Atau, kalau semakin terdesak, mereka akan mengincar hasil ladang warga, atau berhamburan keluar hutan menuju pinggir-pinggir desa, jalan-jalan, atau rumah warga di sekitarnya (Viva.co.id).

Kisah Suku Anak Dalam di atas sangat mirip dengan apa yang dialami harimau akhir-akhir ini. Karakter harimau yang suka menjangkau wilayah jelajah luas serupa dengan Suku Anak Dalam yang suka hidup berpindah-pindah. Mereka lalu sama-sama terdesak di hutan dan kelaparan, sehingga terpaksa memakan/memangsa pihak lain, kemudian sama-sama mengincar ladang warga atau keluar hutan demi mengisi perutnya. Kisah mereka menggambarkan pelajaran yang sempurna, bahwa hutan kita sedang tidak baik-baik saja.

 

Strategi Menuju Koeksistensi yang Sehat antara Harimau dan Manusia

Banyak pihak telah menduga bahwa penyebab maraknya konflik harimau dengan manusia akhir-akhir ini adalah karena penyempitan habitat harimau dan juga masalah pangannya. Namun, kita tak boleh berhenti sampai di situ, kita harus menghitung dengan presisi berapa kebutuhan tersebut yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, di dalam mengatasi konflik harimau dan manusia, kita membutuhkan sinergi dari berbagai ahli/lintas disiplin, seperti:

·      Ahli Statistik dan Data Science

Ahli ini bertugas mengolah data konflik (frekuensi serangan, lokasi, musim, dll), memodelkan risiko, dan memprediksi tren. Dengan berbasis data, mereka akan menganalisis pola-pola konflik dan memprediksi kebutuhan kita akan sumber daya.

·      Ahli Matematika Terapan / Operasional Riset

Ahli ini bertugas membuat model alokasi optimal sumber daya konservasi (seperti jumlah petugas, lokasi penempatan, rotasi shift, dll) — mirip sistem rumah sakit atau pemadam kebakaran. Termasuk penggunaan linear programming, integer optimization, atau model antrian. Mereka berperan menentukan berapa banyak personel yang dibutuhkan dan penempatannya, dengan cara yang paling efisien dan efektif.

·      Ahli GIS dan Spasial Ekologi

Ahli ini bertugas membuat peta risiko, zonasi habitat, pergerakan harimau, dan interaksi dengan pemukiman manusia. Mereka bisa menggabungkan data lokasi dengan statistik konflik dan menampilkannya secara spasial. Dengan bantuan mereka, kita bisa memetakan dan mengidentifikasi hotspot konflik serta pergerakan harimau secara real-time.

·      Ahli Sosial Lingkungan dan Antropologi

Ahli ini bertugas khusus untuk memahami kondisi masyarakat lokal seperti Suku Anak Dalam: pola hidup mereka, kebutuhan, dan potensi konflik. Mereka harus bisa menjembatani pendekatan teknologi dan budaya lokal. Merekalah yang akan menerjemahkan hasil teknis menjadi kebijakan yang adil, serta mendorong solusi yang diterima masyarakat.

Para ahli tadi bisa memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kondisi hutan kita, misalnya:

·      Spatial Risk Modeling (Model Risiko Spasial): untuk memetakan zonasi jumlah personel berdasarkan risiko konflik manusia-harimau, yaitu menggunakan data GIS dan statistik kejadian konflik.

·      Poisson Process / Poisson Distribution: untuk memprediksi frekuensi serangan per wilayah per tahun, lalu mengatur jumlah ideal petugas yang siaga.

·      Resource Allocation Optimization Model: model ini menekankan pada efisiensi jumlah personel konservasi, yaitu dengan memperhitungkan biaya, jumlah personel, efektivitas, dan kebutuhan berdasarkan wilayah.

·      Agent-Based Modeling (ABM): mensimulasikan dengan sangat realistis mengenai interaksi harimau, manusia, dan petugas konservasi dalam satu sistem kompleks, dan mencari solusi optimal berbasis dinamika lapangan.

Kita tinggal memilihnya sesuai kebutuhan. Jika ingin solusi logis dan sederhana berdasarkan data, kita bisa menggunakan Spatial Risk Modeling atau Poisson Process. Jika kita ingin solusi yang efisien, kita bisa menggunakan Resource Allocation Optimization Model. Sedangkan jika kita ingin solusi yang visioner maka Agent-Based Modeling adalah jawabannya.

·      Model Predator-Mangsa (Predator-Prey Model)

Contohnya Lotka-Volterra. Dengan data nyata, model ini bisa disesuaikan untuk memperkirakan keseimbangan antara predator dan mangsa.

Jadi, untuk menghindari harimau beralih ke ternak atau konflik, hutan harus mampu mendukung sejumlah mangsa tersebut yang bisa diakses secara efektif.

Intinya, kita harus menghitung dengan teliti segalanya, baik menggunakan model matematika/statistika maupun simulasi komputer. Tidak hanya tentang hal-hal di atas, tetapi juga tentang kebutuhan ruang harimau, yaitu dengan memperhitungkan struktur sosial harimau,wilayah blok sosial per jantan/eksklusivitas jantan, overlap home range antar individu (khususnya betina dengan jantan), zona antara (buffer non-teritorial antar wilayah jantan dewasa), zona dispersal untuk sub-adult, serta cadangan zona konflik atau zona penyangga luar (opsional).

Harimau jantan tak bisa dipaksa hidup berdempetan terus-menerus. Jika zona jantannya tidak ada buffer atau terlalu tumpang tindih, maka akan terjadi perebutan wilayah berdarah, harimau terdorong keluar, serta konflik manusia-harimau akan meningkat tajam. Jika memang ruang terbatas, kita perlu mengatur kapasitas daya dukung populasinya. Jangan biarkan harimau berkembang tanpa kendali.

 

Jika Kebutuhan Ruang Harimau Lebih Besar daripada Ruang yang Tersedia

Jika dari hasil penghitungan model matematika/statistika atau simulasi komputer ternyata kebutuhan ruang harimau lebih besar daripada luas hutan yang tersedia, maka jantan dewasa akan tetap mempertahankan perilaku teritorial. Home range terpaksa menyusut, sedangkan overlapping jantan meningkat, sehingga memicu perkelahian, kematian antar individu, serta dispersal ke luar zona aman (yang akhirnya berkonflik dengan manusia). Sementara itu, sub adult tak punya ruang untuk dispersal, sehingga terdorong ke pinggiran hutan, pemukiman, dan perkebunan. Tingkat mortalitas yang tinggi, konflik dengan manusia, sumber daya yang terbatas, serta fragmentasi genetik (inbreeding) akhirnya bisa menyebabkan populasi harimau stagnan atau menurun.

Untuk mengatasinya, kita bisa melakukan beberapa cara berikut:

·      Adaptasi Ekologis – perkecil home range sementara

Harimau bisa menekan home range mereka sementara asal ketersediaan mangsa tinggi dan minim gangguan manusia. Namun, ketegangan sosial antar harimau bisa meningkat, terutama karena meningkatnya konflik antar jantan karena zona antara (buffer) yang hilang/menyempit drastis. Akibatnya, stabilitas sosial harimau jangka panjang dapat terganggu.

·      Fokus pada individu produktif, yaitu dengan mempertahankan sejumlah kecil jantan dominan dan beberapa betina untuk menjaga reproduksi. Misalnya: 3 jantan dan 6–10 betina bisa cukup untuk menjaga populasi kecil yang viable dalam jangka pendek. Namun, risikonya populasi akan terlalu kecil dan rentan inbreeding serta kehilangan genetik.

·      Gunakan Lanskap Multifungsi (Matrix Landscape)

Walau habitat utama sempit, harimau bisa menjelajah lanskap sekitar jika ada koridor vegetasi, zona pertanian ramah satwa (wildlife-friendly farming), serta manusia tidak langsung bunuh saat melihat harimau. Model lanskap seperti ini umum di India & Nepal → human–wildlife coexistence model.

·      Konektivitas Antar Kawasan (Koridor Ekologis)

Daripada memaksakan semua harimau di satu blok sempit, hubungkan ke hutan lain dengan koridor alami (sungai, sempadan, sabuk hijau) atau reforestasi kecil yang menghubungkan patch hutan. Hal ini memungkinkan terjadinya dispersal alami ke blok lain, mengurangi tekanan dan mencegah inbreeding.

·      Manajemen Populasi Aktif

Kalau populasinya mulai terlalu padat dan ruang terbatas, lakukan relokasi individu tertentu ke kawasan lain atau terapkan kontrasepsi satwa liar.

 

Strategi Praktis bagi Pengelola Kawasan Hutan

STRATEGI

TUJUAN

KAPAN DITERAPKAN

Kurangi buffer zone

Maksimalkan ruang untuk lebih banyak individu

Ruang sangat sempit tapi populasi masih kecil

Prioritaskan jantan dominan      

Jaga stabilitas sosial                       

Saat hanya bisa dukung 1–2 wilayah jantan

Bangun konektivitas lanskap      

Jangka panjang, turunkan konflik             

Saat hutan kecil tapi ada patch terdekat

Sosialisasi ke masyarakat sekitar

Redam konflik saat dispersal meningkat       

Saat zona dispersal masuk desa/perkebunan

Monitoring & respon cepat        

Cegah konflik meluas

Harus selalu ada tim tanggap konflik    

 

Mengukur Kemampuan Diri Sendiri

Konservasi, termasuk koridor satwa, tidak boleh meminggirkan masyarakat adat. Konservasi harimau itu penting, tetapi masyarakat adat selama ini juga telah ikut andil dalam menjaga hutan. Kenyataan bahwa ruang kita terbatas, maka kita harus berbagi ruang antara hewan dengan manusia. Meskipun, pada prakteknya, masyarakat adat/masyarakat sekitar hutan itu sendiri yang bisa mengukur sejauh mana mereka mampu hidup bersama dan aman dengan harimau dan hewan hutan lainnya. Jadi, meskipun di India dan Nepal masyarakat seperti bisa hidup bersama dengan harimau seperti biasa, tetapi yang lebih mengetahui kondisi diri dan hutan kita adalah masyarakat yang memang ada di sekitar hutan itu sendiri. Intinya, kita tidak sekadar meniru negara lain atau meromantisasi hubungan harimau dan manusia ini. Kita perlu mengukur kemampuan diri sendiri dan tetap melakukan pencegahan yang diperlukan.

 

Melakukan Pencegahan yang Diperlukan

Dalam melakukan pencegahan yang diperlukan kita tidak boleh saling melempar tanggung jawab. Masing-masing pihak harus melakukan apa yang ada di dalam tanggung jawabnya, yaitu sebagai berikut:

 

Peran pemerintah:

Menghitung kebutuhan pangan harimau secara akurat (termasuk faktor kompetitor, aksesibilitas mangsa, dan tekanan pemburu)

Membangun/memperbaiki fungsi koridor satwa: agar harimau bisa berpindah tanpa melintasi pemukiman. Kita perlu mengecek apakah koridor terlalu sempit atau terganggu aktivitas manusia? Apakah benar-benar digunakan oleh harimau? Apakah tersambung ke habitat mangsa yang cukup? Kalau koridor cuma lorong panjang tanpa cukup pakan dan perlindungan, harimau tetap bisa keluar jalur dan bertemu manusia.

Restorasi dan perlindungan habitat mangsa: mengembalikan populasi mangsa dan menekan perburuan liar oleh manusia.

Program kompensasi ternak (yang diterkam harimau): supaya warga tidak membalas dendam pada harimau.

Pendidikan dan pelibatan masyarakat lokal: jadikan warga sebagai bagian dari solusi. Libatkan mereka sebagai pemandu satwa liar, penjaga hutan (community rangers), serta penerima manfaat ekowisata atau konservasi.

Membuat sistem peringatan dini dan monitoring GPS: beberapa harimau bisa dipasangi GPS collar. Jika harimau telah mendekati pemukiman, bisa mengirim peringatan pada warga.

Membuat zonasi kegiatan manusia: relokasi ladang/ternak agar tidak terlalu dekat tepi hutan, serta membuat zona penyangga (buffer zone) sehingga manusia dan satwa tidak langsung bersinggungan.

 

Peran individu/masyarakat:

Membatasi waktu aktivitas di dekat hutan: hindari subuh dan senja. Pagi setelah matahari terang hingga siang/awal sore lebih aman.

Lewat hutan secara berkelompok, minimal 4 orang. Makin banyak makin baik.

Memakai topeng di belakang kepala: karena harimau cenderung menyerang dari belakang saat merasa tidak dilihat.

Memagari rumah atau kandang: untuk mencegah serangan spontan, menjaga ternak, serta memberi waktu warga untuk bereaksi. Masukkan ternak ke dalam kandang tertutup saat malam. Beri penerangan malam dan sistem peringatan dini (kaleng, lonceng, lampu sorot otomatis, atau anjing penjaga - bagi non muslim) di sekitar pagar. Selain itu, olahlah sampah dan bangkai ternak agar jangan sampai menarik predator. Memagari rumah hanyalah upaya pencegahan, tetapi perlu didukung dengan upaya-upaya di atas serta edukasi warga.

Memasang spanduk dan memberi peringatan kepada warga pendatang: spanduk harus sangat besar dan menyolok dan ditempatkan sebelum memasuki area-area rawan. Spanduk ini menjadi semacam peringatan terakhir setelah pendatang diperingatkan dari mulut ke mulut, diberi peringatan mengenai waktu kunjungan, atau diperingatkan melalui panduan wisata/panduan bagi pendatang. Atau bisa juga dengan memberi peringatan berupa rekaman suara dan bunyi alarm pertanda bahaya atau larangan sepennuhnya bagi warga untuk memasuki area tersebut. Di daerah yang asing semacam ini, sangat berbahaya jika pendatang tidak paham medannya. Yang lebih tahu mengenai kondisi hutan dan jalur-jalur satwa (terutama yang berbahaya) biasanya adalah masyarakat sekitar hutan tersebut. Misalnya masyarakat Besemah, mereka memiliki landskap “Besemah Libar” dengan dengan koridor satwa yang disebut “Bakal Agung”. Area tersebut sering dilewati oleh harimau Sumatera dan hewan hutan lainnya, sehingga mereka tidak membangun kebun atau rumah di sana. Akan tetapi, para pendatang tidak tahu, sehingga banyak dari pendatang yang akhirnya jadi korban serangan harimau. 

 

Harimau Harus Berubah? Yang Benar Saja

Di tengah riuh konflik manusia dan harimau, muncul tuntutan: “Harimau harus berubah!” Harimau diminta menepi, tidak menyerang ternak, tetap hidup “baik-baik saja” di ruang yang makin menyempit. Serius? Harimau bukan pegawai kantor yang bisa diatur jam kerjanya. Ia predator: lapar, punya wilayah, dan instingnya tetap sama sejak ribuan tahun lalu.

Menyuruh harimau berubah tanpa memperbaiki hutan dan tata kelola manusia itu seperti menyuruh kucing agar tidak mencakar sofa, padahal kita sendiri yang bikin sofa empuk dan menarik. Ironisnya, manusialah yang punya akal, teknologi, dan data untuk menghitung, merencanakan, dan mengantisipasi. Harimau cuma menjalankan hukum alamnya: bertahan hidup.

Koeksistensi bukan soal harimau jadi jinak, bukan soal selfie di hutan atau memeluk makhluk belang. Koeksistensi berarti manusia berubah: mengatur ruang, menghitung pangan, menjaga koridor, dan melibatkan masyarakat lokal secara adil. Jadi kalau memang ada yang harus berubah, bukan harimaunya. Yang perlu berubah adalah manusianya, yang sering lupa bahwa ia sedang berbagi ruang dengan predator puncak.

Harimau harus berubah? Yang benar saja. Kalau kita serius ingin hidup berdampingan, langkah pertama adalah membuka mata, bukan mengharap predator ribut itu tiba-tiba ikut aturan manusia.

 

 

29 Januari 2026

Alam Lebih Terjaga Saat Indonesia Dijajah Belanda? Hoaks yang Menyakitkan Hati

Kerusakan alam
Kerusakan Alam


Alam dan lingkungan yang rusak memang mudah membuat orang geram. Apalagi di tengah bencana besar yang ditengarai masih berhubungan dengan tangan-tangan manusia. Namun, ketika kudengar seseorang berbicara berapi-api mengagumi penjajah, dan di-amin-i pula oleh para komentator di sana. Batinku berteriak, "Ada yang salah!" Dan kesalahan ini sangat menyakitkan hati. Bagaimana bisa penjajah yang menggores dan mencabik-cabik luka kita, tiba-tiba disanjung dan dipuja-puja.

 

Saya tahu kita terluka dan kecewa karena bencana-bencana dan kerusakan alam di Indonesia ini. Tapi, kalau dianggap kondisi kita saat masa penjajahan lebih baik atau penjajah lebih merawat alam ini, oh tunggu dulu.

 

Pada masa penjajahan Belanda, eksploitasi alamnya malah sistematis:

  • Deforestasi masif: Sejak abad ke-19, Belanda menebang hutan besar-besaran untuk perkebunan teh, kopi, dan karet. Di Jawa, hutan jati dieksploitasi habis-habisan untuk bahan bangunan kapal dan kereta api. Banyak lahan rusak dan rakyat kelaparan.
  • Pertambangan: Mereka merintis pengerukan sumber daya bawah tanah, seperti batubara di Sawahlunto (Ombilin) dan minyak bumi di Sumatera Utara, yang meninggalkan luka lingkungan permanen di wilayah tersebut. Pertambangan dan perkebunan dieksploitasi oleh Belanda buat ekspor, bukan buat kaberlanjutan.
  • Alih fungsi lahan: Melalui tanam paksa (Cultuurstelsel), Belanda mengubah jutaan hektar hutan menjadi lahan pertanian paksa, yang merusak ekosistem asli flora dan fauna Indonesia.
  • Irigasi dan kehutanan "rapi", tetapi bukan demi alam, melainkan demi hasil ekonomi yang stabil buat Belanda.

 

Kalau mereka terlihat "tertib", itu karena: 

Alam dijaga "supaya bisa terus dieksploitasi", bukan karena cinta lingkungan.

 

Kenapa alam dulu terlihat lebih "utuh"?

Bukan karena Belanda-nya baik atau merawat alam, tetapi karena:

  • Populasi sedikit: kalau populasinya sedikit, kebutuhan lahan untuk pemukiman juga lebih sedikit. Tekanan ke alam lebih kecil.
  • Kapasitas teknologi: alat-alat sekarang lebih bervariasi dan canggih. Karena alatnya jadul (keterbatasan teknologi), eksploitasi Belanda juga lebih lambat daripada sekarang.
  • Paradigma konservasi: menjelang akhir penjajahan, Belanda mulai menerapkan kebijakan perlindungan alam (seperti pendirian cagar alam Ujung Kulon) untuk memastikan kelangsungan sumber daya mereka sendiri di masa depan.
  • Akses rakyat dibatasi: bukan karena alam dilindungi, tapi rakyatnya yang dikunci (rakyat dilarang masuk, tanah adat diambil alih, dan pelanggaran dihukum berat).


Jadi, bukan Belanda-nya yang suci, tapi kondisinya beda zaman.
 
Selain itu, banyak wilayah juga belum sempat dieksploitasi total karena perang dan perlawanan lokal. Prioritas mereka adalah stabilitas politik dulu, eksploitasi belakangan.

Kenapa sekarang alam kita malah lebih rusak?

  • Otonomi dan kebijakan: kebijakan lemah dan pro modal, bukan pro lingkungan.
  • Teknologi: alat lebih maju/canggih dan lebih bervariasi.
  • Kecepatan ekonomi: fokus pada pertumbuhan ekonomi yang cepat sehingga membuat faktor lingkungan nomor dua.
  • Populasi raksasa: populasi sudah meningkat berkali-kali lipat, sehingga kebutuhan pun meningkat (pemukiman, pangan, bahan bakar, dll).
  • Konflik sesama Indonesia,
  • Korupsi dan penegakan hukum lemah,
  • Elit lokal yang meneruskan pola ekstraksi kolonial.
 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2026/02/konflik-manusia-dan-harimau-terus.html

 

Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/
 
 
Singkatnya, Belanda bukan tidak merusak.
Justru mereka-lah yang meletakkan dasar sistem eksploitasi.
Penjajahannya berhenti, tetapi logika kolonialnya masih jalan.

Belanda bukan penjaga alam, mereka manajer eksploitasi.
Indonesia sekarang rusak bukan karena merdeka, tapi karena gagal keluar dari sistem kolonial versi baru.


Zaman Sekarang Kita Lebih Bebas Bersuara

Zaman penjajahan itu kan terbatas banget ya yang kita tahu. Apalagi, kita nggak berada di sana. Di zaman penjajahan itu rakyat nggak punya suara, konflik ditutup paksa, dan kalau ada masalah rakyat bakal dihajar atau disensor.

Beda dengan sekarang, konflik kelihatan karena nggak bisa ditutup. Kebijakan yang jelek pun bisa kita lihat real time. Sekarang rakyat bebas (secara teori), tapi negara lemah lawan korporasi dan hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Jadi, dulu seolah lebih rapi, padahal rapi karena dipaksa.



Infrastruktur Belanda Lebih Bagus?

Belanda memang membangun jalan, rel kereta, pelabuhan, dan irigasi, tapi itu bukan buat rakyat. Jalurnya dari perkebunan ke pelabuhan. Sedangkan desa yang nggak produktif, dicuekin.

Kalau sekarang kita pake itu, bukan berarti Belandanya baik.
Itu kayak:

> maling ninggalin pisau dapur → terus dipuji karena pisaunya awet


Orang salah sangka:

> “dulu hutan terjaga”
> padahal yang dijaga itu kepentingan kolonial, bukan ekosistem.


Trauma + minder pasca-kolonial

Jangan minder sejarah. 

Jangan lupa bahwa "ketertiban" kolonial dibangun di atas "penindasan dan eksploitasi".

Ini dalem tapi penting.

Banyak orang Indonesia:

  • capek liat negara sendiri amburadul
  • kecewa sama elite lokal
  • akhirnya romantisasi penjajah

Ini mekanisme psikologis:

> “kalau dulu lebih baik, berarti kita emang nggak mampu ngurus diri sendiri”

Padahal itu warisan mental kolonial.

 

Elite lokal dapet untung dari narasi ini

Narasi “Belanda tertib” itu berguna buat:

  • justifikasi kebijakan keras
  • anti kritik
  • pro investasi rakus

Logikanya:

> “lihat tuh, kita rusak karena kebebasan kebanyakan”

Padahal masalahnya bukan kebebasan, tapi ketimpangan kuasa.

 

Kesimpulan jujurnya

Belanda:

  • ngerusak alam
  • ngeksploitasi manusia 
  • “rapi” karena otoriter

Indonesia sekarang rusak:

  • bukan karena merdeka
  • tapi karena sistem kolonialnya diwarisin, pelakunya ganti orang.


Jadi gitu ya, jangan lagi bela-belain, nyanjung-nyanjung, dan bangga-banggain penjajah. Mereka nggak sebaik itu.

Bahkan, mereka nggak baik sama sekali.

Penjajah tetep penjajah. Gak ada bagus-bagusnya. 

STOP BILANG "ENAK PAS KITA DIJAJAH BELANDA THO?"

 

Btw: nih aku kan mau pasang gambar dari bing ya, gak bisa lho pake keyword2 penjajahan. Diblacklist ketika aku pake keyword spesifik. Sedangkan ketika aku pake keyword zaman penjajahan? Oh noo...gambarnya lho gak mencerminkan penjajahan blas. Kayak kondisi yang rapi, hepi, dll. (tapi ada juga uniknya, seragamnya ya dari negara2 sono). Pelaku penjajahannya bener tapi adegannya dan setting gambarnya yang error/salah besar.

Yah begitulah. Namanya juga AI bikinan manusia. Milik pemodal.


25 Desember 2025

Review Buku "It's Okay Not to Get Along with Everyone"

 

Review Buku "It's okay not to get along with everyone"
Cover buku "It's okay not to get along with everyone"

 

Pertama nemu buku ini aku nggak terlalu ngamati detail covernya. Iya di sana tertulis non fiksi best seller Korea, tapi aku nggak tahu Dancing Snail itu orang Korea apa bukan. Tapi cover-cover kayak gini ini biasanya ala Korea, jadi ya udah aku ngintip aja karena aku belum pernah baca buku ala Korea. Soalnya aku kaget juga, Korsel itu kan terkenal dingin orangnya, workaholic, dan fast moving, masa iya nulis/ngajar tentang kesehatan mental? Wong orang sana aja banyak yang gangguan mental/b*ndir. Jadi, aku penasaran apakah ada sisi lain dari mereka yang belum kuketahui, yang mungkin sebenarnya positif.

 

Tapi, nyatanya memang terasa aneh saat baca buku ini. Dia itu dalem banget jelasin gini gitu tentang perasaan. Blak-blakan juga tentang dirinya, pandangan-pandangannya, dan pilihan-pilihan hidupnya. Tapi tetep aja dia terasa datar/flat (tidak menggugah) dan beraura penulis sendiri tidak terlalu sehat mentalnya. Sampai kemudian aku menemukan penjelasan lebih lanjut tentang penulis di bagian akhir buku itu, memang iya dan memang Korea.

 

Meski gitu, jangan salah ya, penjelasan-penjelasan di buku ini itu baik. Kayak penulis itu sangat reflektif atau perasa atau apa gitu. Jadi secara teori atau cara menulis dia baik, hanya auranya aja yang aku "gak dapet". Trus aku merasa puyeng atau terganggu juga dengan gaya campuran antara tulisan dan gambarnya. Gambarnya besar-besar, bisa satu halaman atau kurang trus bersambung dengan gambar lanjutannya di halaman lain. Jadi, satu tema itu gambarnya bisa beberapa halaman sekaligus baru kelar, uda gitu ada tulisan di bawah dan di atas gambar, juga bubble dialog pada masing-masing pemeran, aduh itu kayak kacau banget. Gak kayak komik yang mungkin satu halaman itu selesai satu tema.


Ini tuh isinya dikit, banyakan gambarnya. Modus aslinya, menuh-menuhin halaman. Kayak tuebel padahal gambarnya yang banyak. Tapi isinya daging kok meskipun dikit, gak semua bagian cocok denganku, dan "gak ada feel"-nya.

 


Baca review kesehatan mental lainnya di sini:

It's okay to feel things deeply

You are positively awesome

Addicted to negative thinking 

How to suffer well

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Buku ini isinya sangat "merakyat", kayak cerita jujur dari hati yang terdalam. Ditulis berdasarkan sudut pandang pelaku, "Ini lho yang kualami dan ini kesimpulanku/pelajaran yang kuambil." Gitu. Jadi, bukan dari sudut pandang ahli. Mungkin sisi merakyat itulah yang berpengaruh juga bikin dia jadi best seller. Ini sehari-hari banget dan jujur banget. Nggak jaim.

Isinya tentang tentang gak papa kamu gak selalu cocok dengan orang lain. 

Ada orang yang kita kira cocok padahal nggak, ada orang yang ngira orang lain cocok dengannya padahal nggak. 

Ada masa-masa ketika kita merasa sendiri meski di keramaian. 

Ada yang dulunya dekat tapi kemudian jauh.

Ada juga perasaan gak jelas pengen dekat apa nggak dengan orang lain.

Gitu-gitu. Tentang perubahan perasaan dan perubahan hubungan.

 

Trus di tiap akhir babnya ada penjelasannya, berupa kesimpulan atau tips dari penulis.

 

Inspiratif tapi gak menggugah/"gak ada feel"-nya.

 

 

 

 




22 Desember 2025

Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"

 

Review Buku "It's Ok to Feel Things Deeply"
Cover buku "It's Ok to Feel Things Deeply"


IT'S OK TO FEEL THINGS DEEPLY

Penulis: Carissa Potter

Jumlah halaman: 61 halaman


 

It's Ok to Feel Things Deeply adalah buku mini tentang kesehatan mental.

Aku nggak ngira dia singkat banget, cuma 60 an halaman.

Lebih nggak ngira lagi karena ini full gambar.

 

Jadi, ini tuh kayak panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar (dan lebih mirip ke target untuk orang-orang yang depresi, bukan orang umum).

Semua teks dirupakan gambar.

 

Berbeda dengan buku You are Positively Awesome, gambar-gambar di sini itu tidak "hidup", tidak membawa aura ceria. Gambarnya kusam. Bahkan, kalau beneran untuk orang depresi, dia sama sekali gak nyenengin dilihat. Perlu lebih colorful dan ceria/playful.

Selain itu, tulisan-tulisan pada gambarnya juga tidak menggugah, nggak kayak buku How to Keep House while Drowning. Kayak nggak ada "nyawanya".

Jadi, baik gambar maupun tulisannya itu "mati".

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Dia seperti sekadar membuat panduan kesehatan mental dalam bentuk gambar. Satu gambar untuk satu tips, tapi nggak hidup sama sekali.Cuma untuk dibaca ya gampang dan cepet selesai karena emang bentuk gambar dan halamannya sangat sedikit gitu aja.

 

Jadi, dari cover dia gak nyambung dan gak menarik, dari isi pun begitu, gak menarik juga.

Buku ini perlu diubah ulang formatnya agar bisa lebih baik.


21 Desember 2025

Review Buku "You are Positively Awesome"

 

Review buku "You Are Positively Awesome" oleh Stacie Swift
Cover buku "You are Positively Awesome"


YOU ARE POSITIVELY AWESOME

(Good vibes and self care prompts for all of life's ups and down)

Penulis: Stacie Swift


Buku You are Positively Awesome ini beda banget sama buku You are Awesome -nya Matthew Syed. Buku yang disebut pertama ini ceria banget seperti gambar covernya. Tadinya yang direkom ke aku oleh AI-nya itu buku Matthew Syed tapi aku nggak suka, trus ngintip buku yang ini dan jadi kukepoin sampai habis deh.


Buku ini itu super duper ceria sekali. Dia sangat nyatu antara cover, layout, font, gambar-gambar dan desain di dalamnya, serta warna-warnanya yang colorful. Ceria, bagus, enak dibaca, dan isinya sangat memotivasi, meskipun bagiku nggak terlalu menggugah sih, nggak ada krenteknya, nggak kayak How to Keep House while Drowning

 

Tapi, tetep aja dia bagus untuk self worth-mu dan penting untuk dibaca. Apalagi, dia itu isinya dikit. Dia mengutamakan kenyamanan dan inti/dagingnya aja, dan itu baik atau setidaknya cukup untuk membantu moodmu dan mendukung perbaikan self worth-mu. Ada tugas-tugasnya juga di dalamnya, yang bikin ini gabungan antara buku bacaan dan juga buku kerja/workbook, dan sisi lainnya, tentu saja isinya/teori/bacaannya lebih dikit lagi. Makanya kamu bisa nyikat habis buku ini dalam sekali baca atau sekali duduk. Easy, apalagi buat kamu yang udah suhu karena biasa baca novel tuebel-tuebel. 

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca artikel inspirasiku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/inspirasi


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Singkatnya, aku sangat merekomendasikannya. Lihat desain, layout, dan warna-warninya aja pasti uda bisa bikin hidupmu makin berwarna. Nggak surem lagi. Moodmu bisa membaik, walaupun kamu belum baca sekalipun. Tampilannya sangat menceriakan duniamu, dan juga hidupmu.

 

Baca aja deh.

Gak bakal nyesel kok.


Tonton juga video yang satu ini:

 



17 Desember 2025

Review Buku "Addicted to Negative Thinking?"

 

Review buku "Addicted to negative thinking" oleh zera young
Cover buku "Addicted to negative thinking"

ADDICTED TO NEGATIVE THINKING?

(and why positive thinking is not the answer)

Penulis: Zera Young


Hal yang membuatku tertarik membaca buku ini adalah sub judulnya. Karena biasanya orang suka terjatuh pada ekstrim, kalo negatif dianggap jelek berarti solusinya itu harus positifnya (kebalikannya). Tapi, kok di buku ini beda? Dan sisi "addicted" (kecanduan) dan solusi yang bukan kebalikannya ini yang dijual (ditonjolkan di cover).

 

Secara kan kalau kamu uda sering baca buku tema serupa, kamu biasanya uda tau lah ya solusinya ya gitu-gitu aja, afirmasi, CBT/perbaikan mindset, atau apalah-apalah. Trus dia mau bilang apa nih di buku ini kalau dia nggak nyuruh pembaca atau penderita negative thinking itu positif. Itulah yang kukepoin di buku ini.

 

Buku ini dibagi menjadi 4 bagian:

 

Bagian pertama: menjelaskan negative thinking itu sendiri

Bagian ke dua: menjelaskan mengapa positive thinking bukan jawabannya

Bagian ke tiga: menjelaskan apa yang dipandang inti masalahnya

Bagian ke empat: menjelaskan teknik untuk mengatasi masalah yang disebut pada bagian ke tiga


Buku ini sangat tipis, hanya 27 halaman. Dari 27 itu, itu masih banyak juga halaman kurang/tidak pentingnya, jadi isinya lebih tipis lagi dari itu.

 

Mungkin karena itu juga seperti bagian pertama misalnya, pola negative thinking hanya diberi contoh sedikit. 

 

Kemudian apa yang dipandang penulis sebagai inti masalahnya, menurutku nggak sepenuhnya benar. Nggak lengkap. Padahal, di bagian belakang buku penulis itu tau bahwa negative thinking itu nggak selalu buruk, tetapi ketika dia menjelaskan negative thinking atau inti masalah dan solusinya, negative thinking itu seperti hanya dipandang dari satu sisi/lingkup yang sangat kecil. Maksudnya, negative thinking itu kan banyak macamnya, batasan dia di buku ini itu apa, kenapa di buku ini masalah dan solusinya disempitkan pada satu atau beberapa jenis negative thinking saja, yaitu yang seolah ngatasi inner critic dan semacamnya saja.

 

Baca review buku thinking lainnya di sini:

Hard optimism

Wait, I need to overthink 

Berpikir pangkal menderita

 

Baca artikel kesehatanku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/kesehatan


Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Meski gitu, kuakui sih penjelasan dan solusi dia di buku ini itu punya keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis. 


Untuk keterbacaan sih nggak terlalu enak, yang agak bikin mendingan karena dia per bahasan nggak terlalu panjang, yah sekitar satu sampai empat halaman.

Trus yang agak ganggu juga bagian disclaimer-nya (bagian hukum tentang bukunya), kayak terlalu panjang/berlebihan/ganggu banget atau gimana gitu dibanding buku lain, terutama karena buku ini tipis banget kali ya, jadi penulis takut kalau ada yang dibocorkan makin "habis" lah isinya (yang belum dibaca).


Bagus kok tapi bukunya. Masih layak baca.



 

 




 

16 Desember 2025

Nggak Ada Orang yang Meninggal karena Merokok (Satire)

 

Melanggar larangan merokok
Tambeng/mokong alias bandel, malah ngerokok di samping tanda dilarang merokok

 

"Ada nggak orang yang meninggal karena merokok? Nggak ada. Sampai sekarang belum ada satupun dokter yang mengatakan orang meninggal karena merokok. Otopsinya mengatakan sakit jantung, paru-paru, diabetes, ...." (statement wakil partai di Indonesia, saya tidak mengatakan wakil rakyat ya karena saya tidak merasa terwakili olehnya)


Hmm ... iya nih, kok ada gitu lho orang yang bilang "ada orang yang meninggal karena merokok."

Nggak ada.

 

Yang ada itu orang meninggal karena:

 

NAFASNYA SUDAH BERHENTI

JATAH HIDUPNYA SUDAH HABIS

DIJEMPUT MALAIKAT IZRAIL

NYAWANYA SUDAH HILANG

HASIL OTOPSINYA MENGATAKAN SUDAH MENINGGAL

MAU NGELENCER KE ALAM BARZAH

INGIN BERTEMU ORANG-ORANG YANG SUDAH MENINGGAL LAINNYA DI ALAM "SANA"

MENGHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

 SUDAH PINDAH KE ALAM "LAIN"

 

Gimana sih orang-orang itu, nggak ada orang meninggal karena merokok.

Mereka itu cuma KEMULAN KAIN KAFAN dan PINDAH BOBOK DI BAWAH TANAH, tapi selamanya.

Nggak meninggal itu.

Kita harus bedakan bahasanya dengan jelas. 

Penggunaan bahasa itu harus tepat. 

Jangan sampai mencederai bahasa nasional dan bahasa daerah kita.

Ingat ya, "nggak meninggal."

Tewas.