
Judul : Don’t Believe Everything You Think (Jangan mempercayai segala yang kamu pikirkan)
Penulis : Joseph Nguyen
Tebal : 87 halaman
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Penerbit : Diterbitkan secara independen
ISBN : 979-8-428-60490-0
Cogito Ergo Sum – Aku berpikir, maka aku ada. Demikian bunyi pernyataan terkenal dari Rene Descartes. Lalu jika aku tidak berpikir, siapakah aku?
Manusia disebut-sebut sebagai makhluk yang memiliki akal dan nafsu. Memisahkan antara manusia dengan pikiran dan berpikir, mungkinkah? Joseph Nguyen merupakan salah satu orang yang berseberangan dengan pemikiran Descartes tersebut. Di dalam bukunya Don’t Believe Everything You Think, Joseph Nguyen menguraikan alasan-alasannya, di antaranya dengan cara membedakan antara pikiran dan berpikir. Jika beberapa orang mungkin masih bingung apakah pikiran yang mempengaruhi perasaan atau sebaliknya, perasaan yang mempengaruhi pikiran; maka penulis jelas-jelas sudah menentukan pilihannya. Dia menyebutkan, berpikir adalah sumber emosi negatif pada manusia (bab 1 dan 4).
Hal itu mengingatkan saya pada kaum pria yang biasa mengagung-agungkan logikanya. Apakah mereka kemudian menjadi makhluk yang paling menderita karenanya? Hal ini juga mengingatkan saya pada orang-orang melankolis dan sanguinis. Masyarakat mengenal orang-orang sanguinis sebagai orang-orang yang spontan dan tidak terlalu berpikir. Apakah hal itu yang membuat mereka kemudian tampak sebagai kelompok kepribadian yang periang dan seperti tanpa beban? Sebaliknya, dengan teori dari Joseph Nguyen ini, orang-orang dengan kepribadian melankolis, terutama pria melankolis, dan orang-orang dengan kepribadian MBTI tipe T (thinking), pastilah orang-orang yang paling menderita di dunia ini karena mereka terlalu sering atau terlalu keras berpikir.
Buku tentang “Jangan mempercayai segala yang kamu pikirkan” ini bukanlah buku pertama atau satu-satunya yang membahas tentang ini. Ada banyak buku lain yang telah membahas tema serupa, pun buku lain yang membahas tema sebaliknya, “Jangan mempercayai segala yang kamu rasakan.” Salah satu buku yang membahas bagaimana pikiran bisa mempengaruhi perasaan adalah buku Mind Over Mood karya Dennis Greenberger dan Christine Padesky yang telah terbit sejak tahun 1995.
Tampak kontras, mengapa kita memiliki otak tetapi hanya boleh berpikir seminimal mungkin. Apalagi bagi umat muslim, pada Al Quran jelas disebutkan sekitar seratus ayat yang berhubungan dengan berpikir atau perintah untuk berpikir.
Buku Don’t Believe Everything You Think ini masih diwarnai ajaran agama Budha. Pada beberapa bagian masih menyebut tentang Zen dan secara langsung ataupun tidak mengarah pada aktivitas seperti meditasi dan semacamnya. Jadi, ini tidak sepenuhnya buku umum.
Terdapat bagian yang rawan bahaya di sini, yaitu ketika penulis mengatakan benar atau salah dan baik atau buruk itu hanyalah sebatas persepsi. Dengan kata lain, semua hal itu tergantung kita yang memaknainya (bab 12).
Dalam psikologi ataupun kedokteran mungkin kita juga pernah mendengar “Ah, itu hanya pikiranmu,” yang biasanya lebih berupa invalidasi bagi penderita gangguan fisik ataupun mental tersebut. Buku ini pun demikian, penulis juga mengatakan, “Itu hanya pikiranmu dan itu akan berlalu.” (bab 7)
Di sini saya masih bingung, mengapa penulis membedakan antara pikiran dan hasil dari berpikir? Bahkan, di alam mimpi saja konon kita hanya bisa memimpikan apa yang pernah kita lihat karena otak tidak bisa membentuk gambaran sendiri tanpa ada masukannya terlebih dahulu. Sama seperti itu, mungkinkah pikiran itu ada dengan sendirinya? Pertanyaan lain kemudian muncul, pada kondisi terdesak, manusia biasanya melakukan beberapa alternatif pilihan, mulai dari menjauh (kabur/keluar dari tempat tersebut), mengalihkan emosi (misalnya dengan makan atau belanja), memecah kepribadian (membuat diri memiliki beberapa kepribadian), melemahkan ingatan/menjadi pelupa, mematikan emosi/perasaan (numb), sampai dengan bunuh diri. Sementara di dalam buku Numb, Kay Gackle, penulisnya, menyatakan jika kita tidak merasakan emosi-emosi yang sulit (kemarahan dan kesedihan), kita juga tidak akan bisa merasakan emosi-emosi yang baik (kesenangan atau kegembiraan). Spektrum perasaan kita menjadi lebih kecil. Perasaan kesedihan yang mendalam mungkin akan pergi, tetapi begitu pula perasaan kesenangan yang mendalam. Itulah numb atau mati rasa. Dengan asumsi yang sama, jika kita tidak berpikir, bukankah hasilnya akan seperti numb tadi? Apalagi jika dengan sengaja menidurkan/melemahkan pikiran logis kita dengan melatihnya berulang-ulang melalui metode-metode tertentu. Segala sesuatu yang tidak atau kurang digunakan akan melemah. Otak kita pun demikian. Jika bagian-bagian tertentu tidak digunakan, bagian/kemampuan tersebut juga akan melemah.
Penulis menyebutkan bahwa hal itu tidak apa-apa karena akan digantikan salah satunya adalah oleh pikiran intuitif. Sayangnya, menurut saya penulis terlalu melebih-lebihkan tentang intuisi dan tidak memberikan porsi yang proporsional antara pikiran intuitif dan pikiran logis atau rasional. Dia menganggap intuisi selalu benar. Saya tidak sepenuhnya menolak pendapat penulis, tetapi mungkin hal itu lebih bersifat kasuistik atau situasional. Pada orang-orang yang berpikir berlebihan, mungkin baik jika dosis, durasi, atau frekuensi berpikir mereka dikurangi; tetapi jika berpikir dianggap sepenuhnya buruk dan harus ditekan sekecil-kecilnya sepertinya itu tidak benar. Kita masih membutuhkan berpikir untuk belajar atau berbagai hal lain.
Sama seperti saya menganggap pikiran dan perasaan/emosi memiliki porsi/manfaat masing-masing, saya juga menganggap pikiran intuitif dan pikiran logis memiliki porsi tersendiri. Saya melihat isi buku ini lebih sebagai penjelasan bahwa cara berpikir manusia itu memiliki kekurangan, seperti misalnya yang dijelaskan dalam buku Don’t Believe Everything You Think karya Thomas Kida. Dia menyebutkan bahwa terdapat 6 kesalahan dasar yang kita buat dalam berpikir. Atau, kita juga bisa melihat lebih banyak kelemahan dalam cara berpikir manusia seperti yang disebutkan dalam buku Logically Fallacious karya B. Bennett, yang memuat lebih dari 300 kesalahan dalam berlogika. Dengan demikian, bagi saya, apa yang dipaparkan oleh Joseph Nguyen hanya menunjukkan bahwa kita sebagai manusia itu memiliki kekurangan. Kita makhluk yang lemah. Otak atau pikiran yang kita bangga-banggakan itu pun memiliki kekurangan yang begitu banyaknya. Jadi, untuk apa kita sombong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.