Tampilkan postingan dengan label asmara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asmara. Tampilkan semua postingan

Cinta Sehidup Semati, Romantis atau Horor?

 

Cinta Sehidup Semati, Romantis atau Horor?

Gb. Kenangan bersama ayah dan ibu


Cinta sehidup semati, benarkah seindah itu?

Maksudku, bukan hanya tentang cintanya, tetapi ketika dua orang yang jatuh cinta itu ingin mati pada saat yang sama.

Tak usah berpanjang-panjang, mari kita pikirkan beberapa skenarionya:

  • Mereka tewas kecelakaan sama-sama,
  • Mereka tewas kebakaran di rumahnya yang sedang terbakar,
  • Mereka tewas bersama saat bencana alam,
  • Mereka tewas bersama saat dibunuh orang jahat,
  • Salah satunya sakit lalu satunya ketularan juga, lalu mati sama-sama,
  • Salah satunya sakit lalu mati, lalu pasangan yang merawatnya ini juga lelah fisik dan mental, lalu mati juga tak lama setelahnya.
  • Salah satunya mati duluan, lalu pasangan yang ditinggal ini terlalu lemah/bergantung (dependent)/shock, lalu ikut mati tak lama kemudian,
  • Salah satunya perok*k lalu merokoknya di rumah. Kemudian keduanya sama-sama mati karena rok*k karena sama-sama terpapar racunnya di rumahnya.
Dan masih banyak lagi.

Aku mengerti ditinggalkan itu berat. Pihak yang masih hidup tak hanya akan berduka cita, tetapi juga akan mengalami perubahan hidup, misalnya harus mencari uang sendiri, mengurus diri sendiri, atau lainnya.

Akan tetapi, ketika kamu berpikir untuk mati bersama - sesuatu yang mungkin tampak seolah romantis - bagaimana dengan anak-anakmu? Apakah kamu tidak memikirkan anak-anakmu yang mungkin akan mengalami kedukaan ganda, kesusahan ganda, atau lainnya?

Atau, jika kamu berpikir untuk mati bersama anak-anakmu juga sekalian, apakah kamu tidak berpikir bahwa keturunanmu akan terputus dan habis sampai di situ?

Sekarang, setelah kamu melihat kembali berbagai kemungkinan ini, apakah mati bersama pasangan atau sekeluarga masih terdengar menyenangkan, indah, atau romantis? Kebanyakan skenario mati bersama pasangan adalah karena musibah/bencana, apakah tidak terdengar horor bagimu?

Cintanya saja yang selamanya. Orangnya jangan (tidak harus/jangan mengharap) mati bersama.
 
 

Bukan Soal Drama, Ini Alasan Sebenarnya Kenapa Cewek Dibilang Suka Kode-Kodean

Cewek kode-kodean ke cowok (flirting)
Cewek kode-kodean ke cowok (flirting)

 

Penasaran ya kenapa kamu sering denger cowok ngatain cewek suka kode-kodean?

Penjelasanku ini mungkin bakal di luar bayanganmu.

 

Di dunia, orang dengan MBTI S (Sensing) lebih banyak daripada MBTI N (Intuiting).

Sekitar 70-75% dari populasi global (terutama di budaya barat dan Asia) → Sensing (S)

Sekitar 25-30% → Intuiting (N)

 

Persentasenya bisa beda-beda tergantung budaya, profesi, gender, tapi pola umumnya tetap sama:

Sensing (S) > N (Intuiting)

 

Selain di dunia memang banyak S-nya, cowok sendiri juga lebih banyak S-nya daripada cewek.

Hal itu karena kombinasi antara preferensi kepribadian, pola sosial, dan cara komunikasi yang diasah sejak kecil.

 

Perbandingan Cowok S dan Cewek S:

Sekitar 75% cowok → S

Sekitar 65% cewek → S

Jadi, pada kedua gender lebih banyak S-nya.

 

Beda S dan N:

Sensing (S):

  • Fokus: fakta, detail, pengalaman nyata
  • Cara belajar: langsung, konkret, berdasarkan data
  •  Gaya komunikasi: to the point, step by step
  • Contoh: “Buktinya apa?”

 

Intuiting (N):

  • Fokus: pola, mana, kemungkinan
  • Cara belajar: abstrak, metafora, asosiasi bebas
  • Gaya komunikasi: ide lompat-lompat, sering pakai analogi, perumpamaan, kiasan.
  • Contoh: “Gambaran besarnya apa?”

 Kenapa cowok sering minta komunikasi yang jelas/lugas, nggak implisit/kode-kodean:

 

1.    Cara kerja MBTI Sensing (S), suka: 

  • Hal konkrit, langsung, eksplisit
  • Informasi yang bisa dicek, dilihat, dirasakan
  • Kurang nyaman dengan "kode", "perasaan implisit", atau "subteks"

Otaknya gak diprogram buat baca makna tersembunyi

 

2.    Pengaruh Sosial & Budaya Gender

Di banyak budaya:

  • Cowok diajarin untuk langsung, efisien, problem-solving
  • Cewek diajarin untuk peka, membaca situasi, “halus” secara sosial

 

Hasilnya:

  • Cewek lebih terbiasa baca “nuansa”
  • Cowok lebih terbiasa tanggapi “teks, bukan konteks”

Bukan soal “cewek implisit, cowok to the point” secara biologis, tapi “dibiasakan sejak kecil.”

 

3.    Otak cowok bukan tidak bisa membaca makna, tapi fokusnya beda

Beberapa studi neurologi menunjukkan:

  • Otak cowok cenderung lebih fokus dan terarah
  • Otak cewek lebih terdistribusi dan relasional

 

Makanya:

  • Cowok bisa lebih jago deep focus (misalnya di tugas teknis)
  • Cewek lebih cepat tangkap konteks sosial (termasuk “perasaan yang gak dikatakan”)

 

Tapi ini “gak hitam-putih”. Banyak cowok juga intuitif banget. Sebaliknya, banyak cewek juga to the point banget.

 

Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah

Inikah Versi Keren bagi Kaum Adam?


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel asmaraku lainnya di sini:

Review buku "Red Flags"

Review buku "Just Send the Text"


Baca seluruh artikel asmaraku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/asmara

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Aku sendiri juga ga suka kalo cowok nganggep cewek pinter baca kode cowok.

Cewek bukan dukun, mereka juga ga bisa baca kode, atau tidak selalu tepat.

 

Jadi, kesimpulannya, cowok yang suka teriak2/ngeluh cewek suka kode-kodean, kemungkinan besar adalah cowok Sensing (S) yang mengeluhkan pacarnya/mantannya (cewek) yang MBTI-nya Intuiting (N).

 

Sedangkan cowok yang teriak-teriak di medsos sehingga menjadi viral, kemungkinan mengandung E (ekstrovert), sehingga dia mungkin MBTI ES (Ekstrovert Sensing).

Artinya, gak semua cowok gitu.

Tapi karena yang suka teriak itu cowok yang ngeluh gitu (cowok yang kemungkinan ES tadi), jadi kayak viral di medsos. Padahal, itu emang kelompok S sendiri, yang keluhannya diviralkan oleh ES. 

Orang E itu energinya ke luar, ekspresif, spontan, dan suka interaksi sosial.

Mereka suka respons cepat, komentar, dan debat.

Kalau dikombinasikan dengan S (jadi ES), mereka akan ngomong blak-blakan, gak suka basa-basi. Tegas dan ekspresif.

 

Jadi, cowok ES (Ekstrovert Sensing) cenderung:

  • Lebih ekspresif
  • Sering ngomong panjang, dan
  • Terbuka soal apa yang mereka pikirkan

 

Dan karena manusia itu kebanyakan MBTI-nya S dan pada masing-masing gender S itu juga lebih banyak, maka peluang S muncul emang lebih besar.

Ditambah dengan faktor2 lain tadi (pola asuh & budaya), akhirnya kayak semua cowok gitu.

Padahal, cowok N (Intuiting) juga ada, dan mereka biasanya lebih nyaman dengan implisit, metafora, perumpamaan, kiasan, dan subteks. (dan mungkin juga lebih bisa baca kode)

 

Kuncinya, nggak usah ngeluh, nggak usah ngeladeni cowok yang teriak-teriak kayak gitu, cukup:

  • Menyesuaikan diri dengan pasanganmu/komunikasikan dengan baik, atau
  • Cari yang emang cocok denganmu

 

Cowok yang teriak-teriak ngeluh di medsos kayak gitu belum dewasa.

Bukannya ngomong langsung ke pasangannya untuk cari solusi langsung eh malah ngrasani di medsos, trus nyari sesama cowok buat ngrasani bareng2, jelek2in cewek.

 

Nyatanya, cewek pun sering ketemu cowok yang suka ngomong kode-kodean atau menafsirkan implisit-implisit.

Cewek sudah bilang apa adanya/lugas eh dicari-cari arti di baliknya.

Jadi, kekesalan tersebut ga cuma menimpa cowok. 

 

Lagian ya, kode-kodean juga bisa terjadi karena salah satu pihak menganggap pihak lain gak aman: entah takut dia marah, untuk jaga hatinya (biar ga bikin dia minder misalnya), untuk mudahin dia tanpa bikin dia tersinggung atau malu, atau lainnya. Gak semua tapi ya.

Apapun itu, kalau itu parah banget, ya artinya kalian gagal komunikasi → Mending cari cowok lain/pasangan lain.

Dibikin simple aja deh ya.

 

 

Review Buku "Just Send the Text"

Review buku "Just Send the Text" oleh Candice Jalili
Cover buku "Just Send the Text"

 

Just Send the Text

(An expert's guide to letting go of the stress and anxiety of modern dating)

Penulis: Candice Jalili



Buku ini tentang modern dating. Untuk cewek. Kan saat cari jodoh itu cewek suka galau-galau trus ngegames ini itu baik karena ngikut coach tertentu atau karena pengaruh orang sekitarnya. Nah, buku ini bilangin cewek-cewek gitu, "Eh kamu jangan ngegames, jadi cewek ori aja." Ngapain kamu ngegames, kerugiannya gini gitu. Lagian, kamu jadi ga ori karenanya. Gitu.

 

Penulis jelasin satu per satu gamesnya dan cara sehatnya versi penulis. Jadi, penulis itu empowering cewek gitu. Ada 50 kasus games-games cewek, yang gak guna, dan penulis ini berusaha mengubah mindset dan tindakan cewek-cewek tadi.

 

Buku ini meskipun judulnya Just Send the Text tapi itu bukan tentang chatting ya. Judul itu metafora bahwa kamu itu harus tegas aja dalam bertindak: proaktif dan tegas. Nggak usah takut ditolak.

 

Malahan, bagian terbaik dari buku ini adalah bagian "mengatasi rejection/penolakannya", dia kasih cerita dan tips yang bagus. Ya gimana-gimana ditolak itu sakit, tapi sakit itu nggak bikin kita mandeg. Kita bisa cepet balik netral/mental istilahnya/melenting bangkit lagi trus nyoba ikhtiar lagi nyari cowok yang baru. Jangan takut ditolak, daripada kamu jadi nggak ori atau dapet cowok yang nggak bener-bener cocok buatmu atau hanya menyukai diri palsumu.

 

Baca review buku asmara lainnya di sini:

The Marriage Plan

 

Baca artikel reviewku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/Review


Baca semua buku bagus rekomendasiku di sini:

Daftar buku bagus yang pernah kubaca


Baca postingan lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Layoutnya lumayan enak, ada tabel-tabel singkat tiap kasus asmara yang dibahas, trus kata-katanya juga empowering/nguatin cewek, nggak bernada negatif. Ya meskipun mirisnya karena dia bule, itu cewek-cewek yang nanya/konsul ke dia ya seputar h00k up-h00k up gitu deh. Kayak unboxing itu emang uda jadi gaya hidup di sana, uda biasa di sana.


Trus ya, meski ini buku tentang cari jodoh, tapi ini bukan tentang cara dapetin jodoh. Dia nggak ngajarin itu. Dia cuma nguatin para cewek agar gak kehilangan diri dan value-nya dalam proses pencarian jodoh itu. Karena nilai wanita itu tidak pada pria/pasangan atau hubungan. Jangan sampai para wanita kehilangan dirinya yang paling berharga hanya demi pria atau hubungan.


Buku ini top banget. Buagus banget kayak buku kemarin yang How to Keep House while Drowning itu.

Buku-buku itu sangat bermanfaat untuk self worth cewek. Yang satu menekankan bahwa nilai wanita itu tidak diukur dari tugas-tugas rumah tangga/kebersihan/kerapian, satunya lagi menekankan bahwa nilai wanita tidak diukur dari pria atau sudah berpasangan atau belum.


Wajib masuk daftar bacamu ya.

Jangan dilewatkan.

 

 

Review Buku "Red Flags"

Red Flags: How to Know if He's Playing Games with You

Penulis: Brian Nox

Review Buku "Red Flags" oleh Brian Nox

Red flag (red flag meaning) artinya bendera merah, yaitu tanda atau sinyal bahaya. Red flag dalam hubungan berarti tanda bahwa hubungan itu berbahaya. Cowok red flags artinya cowok itu berbahaya atau nggak baik buat kamu. Jadi, biggest red flags in a guy artinya tanda-tanda bahwa cowok itu bahaya banget buat kamu atau hubungan kalian. 

Sesuai judulnya, buku "red flags" ini mengandung the biggest red flags in a guy. Ada red flags test nya juga untuk memudahkan kamu mengenali mereka. Penting banget bagimu untuk tahu tentang red flags ini soalnya cowok red flags itu akan bikin kamu berada dalam an uneasy relationship alias bakal nyusahin kamu banget, ngerugiin kamu, atau bikin kamu nangis bombay.

Habis baca buku tentang otak yang berat banget kemarin, gantian aku baca "Red Flags" yang easy peasy baca dan nyeleseinnya. Halamannya dikit, tulisannya gede-gede, dan bahasanya ringan. Kriuk kayak kerupuk. Covernya juga menarik toh. 

Ada orang bilang cowok ga bisa bedain warna lipstik, tapi kalo dalam hal games gini meskipun judulnya sama-sama games tidak semua pemainnya dinamakan player. Itu versi penulis buku ini. Kalau bagiku sih pokoknya main games ya player. Emang gue pikirin jenisnya? Bikin berat otak aja.

Buku ini secara umum bagus walaupun ada juga bagian yang aku ga cocok/ga suka. 

Penulisnya dating coach utk cewek dan cowok, tapi sepertinya dia nggak berhubungan dengan dating site/situs kencan online manapun. Karena di bukunya sendiri pun tidak disebut website lain, hanya web yang mengarah ke miliknya sendiri. Jadi, dia dating coach solo/independen/sendiri. 

Isi buku ini di antaranya adalah:
- Tipe-tipe pria dan games yang dimainkannya
- Red flags untuk diwaspadai
- Cara menyaring bad boy
- Cara melindungi hatimu
- Game player (player) sebagai marketer yang luar biasa
- Mengapa pria main games dengan kamu
- Alasan-alasan pria tidak mau berkomitmen
- Pria yang "main" dengan banyak wanita, padahal g4y
- Apa yang diinginkan pria darimu
- Kapan membiarkan pria pergi
- Tanda-tanda lain pria main games denganmu
- Cara mengetahui apakah kamu punya masa depan dengan dia, dll.

Yah, seperti itu. Bagus. Kamu kudu baca buku "Red flags" ini, biar kamu bisa tahu apa aja the biggest red flags in a guy dan bisa menghindar darinya.
 

Review Buku "How to Choose a Partner"

"How to Choose a Partner"

Penulis: Susan Quilliam


How to choose a partner


"How to Choose a Partner" ini adalah buku 100-an halaman tentang cara memilih pasangan hidup. Tulisannya itu kalem, tapi isinya berat. Dia berupa kumpulan hasil-hasil riset dari ahli lain. Meski gitu, cara menulisnya itu termasuk luwes, sudah lumayan populer, udah nggak ala karya ilmiah.


Bagian awal itu mbosenin, semacam sejarah atau perbandingan dengan pencarian jodoh di masa lalu. Kemudian semakin ke dalam penulis mulai membahas tentang teori-teori jodoh yang kemudian dikerucutkan menjadi pengambilan kesimpulan oleh penulis. Jadi, mulai dari bagaimana ketertarikan terjadi, apa faktor pendukung hubungan jangka panjang, mungkin nggak sih kita itu jatuh cinta instan dan langsung menikah kilat dan tetep langgeng hubungannya, bagaimana cara meningkatkan peluangmu untuk mendapat jodoh dari dunia nyata maupun dari online, bagaimana jika cinta bertepuk sebelah tangan, bagaimana sebaiknya jika ada orang yang ngejar-ngejar kamu, dll itu ada.


Bagus dan lumayan cepat/straight ga terlalu bertele-tele karena halamannya sedikit. Tapi bagiku ini masih lumayan berat. Kemarin sebenarnya aku nyari buku yang ringan  karena otakku masih capek. Kupikir ini ringan cz cuma bahas jodoh tapi pas aku baca masih nggak lancar jaya entah cz layoutnya doang yang ga enak, paragrafnya yang lempeng dan terlalu panjang, isinya yang ilmiah banget, kurang terstruktur dengan baik (kurang ada kesatuan atau koherensi), atau cara menulisnya. Atau cz akunya yang lagi capek? Ga tau, yang jelas belum terasa ringan di otakku dan belum lancar jaya. Beda sama buku yang saat ini sedang kubaca, lancar jaya. Oh mungkin masalah kompleksitas kalimat juga kali ya, kalo versi bahasa penulis lain itu banyak "bulshit"-nya. Kurang sederhana dan clarity jadi berat dan ga lancar jaya bacanya bagiku.


Secara isi, aku merekomendasikan buku ini. 

 

Review Buku "Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear"

"Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear," how to spot a narcissist on the very first date and set boundaries to become psychopath free

Penulis: Theresa J. Covert


Dating a narcissist


Buku "Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear" ini covernya kuning, antimainstream karena biasanya kuning itu warna yang ceria.


Sebelum bahas isinya, perhatikan judul dan sub judulnya. Seperti yang pernah kubilang, sebagian ahli itu nggak ngurus beda antara narsis, psikopat, sosiopat, APD, dan BPD. Mereka tumpang tindih dan kadang didapati dalam bentuk combo (1 orang mengidap lebih dari 1 sekaligus). Kebanyakan sih penulis nggak mentingin bedanya saat ngajar orang awam. Mereka lebih menyeragamkan jadi satu frase "orang toksik" gitu aja. Penulis ini ternyata termasuk yang menyamakan antara narsis dan psikopat atau mungkin maksudnya keduanya itu cara pendekatannya sama dalam asmara.


Ada banyak buku tentang narsis, tapi buku ini punya kelebihan karena temanya yang sangat spesifik. Penulis hanya membahas tentang narsis saat PDKT dan saat jadi pacarmu, serta caramu memulihkan diri kalau terlanjur terjebak dengan mereka. Selain temanya yang spesifik, daya tarik lain dari buku ini adalah frase "brutal truth"-nya dan warna kuningnya yang menyolok. Ngejreng banget.


Secara isi, terdapat beberapa tambahan yang tidak kudapati dari buku narsis lainnya. Tapi, buku ini menurutku lebih ke tips praktis untuk mengenali narsis saat PDKT, kencan (awal ngedate), atau pacaran. Ada buku yang lebih detail baik tentang pengenalan narsisnya, macam-macam mind games atau manipulasinya, ataupun mengenai cara mengkonfrontasi langsung narsisnya. Mungkin sengaja dibuat gitu karena penulis ini bikin buku berseri. Buku ini hanya salah satu bukunya yang membahas tentang narsis. Selain untuk lebih menyederhanakan ya mungkin biar dibeli semua gitu bukunya.

Untuk ukuran buku setebal 100-an halaman sih buku "Dating a Narcissist" ini sudah bagus.


Btw, setelah aku mendalami narsis cukup lama, aku mulai berpikir, salah satu hal paling berbahaya dari narsis adalah mind games (manipulasinya), makanya di berbagai buku yang bahas narsis sangat menekankan tentang hal itu.


So, buat kamu, terutama yang pemula or nggak tahu banget tentang narsis dan butuh tips praktis untuk cari jodoh yang aman, kamu bisa baca buku ini.


Review Buku "Lasting Relationships"

"Lasting Relationships," how to recognize the man or woman who's right for you

Penulis: Myron Brenton


Buku "Lasting Relationships" ini adalah buku relationship yang luar biasa bagus. Dia daging banget dan nggak bisa di-speed reading. 


Di sini itu kamu akan mendapatkan banyak hal yang bersifat praktis dan disertai parameter-parameternya. Gampangnya itu dia memberikan cara cepat dan scanning kilat tapi menyeluruh pada diri calon serta cara mengukur kekuatan dan kelemahan kalian, kira-kira kalian cocok atau tidak. 


Misal kamu nyari yang cerdas, cara mengetahui kecerdasannya itu gimana. Ada banyak sifat/karakter yang dicantumkan di sini beserta cara cepat untuk mengecek atau memprediksinya.


Tak lupa penulis juga memberikan contoh-contoh kasus di dalamnya. Singkat-singkat doang tapi ngena, memperjelas info sebelumnya (bukan mengulang ya). Itu juga aku suka, seperti nggak mubazir (bertele-tele/pemborosan kata dan waktu) jadinya. 


Pokoknya aku suka banget buku ini. Aku dapat insight baru dan tambahan ilmu darinya, yang mungkin bisa bantu aku untuk dapat jodoh yang terbaik dan sesuai harapan.

 

Review Buku "The Little Black Book of Big Red Flags"

"The Little Black Book of Big Red Flags," relationship warning signs you totally spotted but chose to ignore

Penulis: Natasha Burton, Julie Fishman, dan Meagan McCrary


The little black book of big red flags


"The Little Black Book of Big Red Flags" ini adalah buku tentang red flags yang bagus untuk dibaca.


Dia tidak bertele-tele, ditulis dengan cara langsung masuk ke red flag-red flag-nya. Total ada 20 red flags yang dibagi ke dalam 5 kelompok red flag, plus 50 red flag rules di dalamnya.


Aku suka sih dengan sistematika atau cara penulisannya. Bahkan, walaupun ada contoh kasusnya, ceritanya itu pendek-pendek. Cuma, dia punya definisi yang aneh tentang player. Entah apakah itu terkait budaya di sana atau tidak. 


Buatku pribadi, red flags di dalamnya nggak terlalu baru. Sebagian besar sudah kuketahui. Tapi entah ya kalo aku yang sedang dalam hubungan dan bukan aku sebagai pengamat, aku masih "sadar" dan bisa lolos nggak.


Jadi, kalau dibandingkan dengan buku red flags yang lain, red flags di sini itu nggak terlalu baru atau bahkan mungkin nggak baru sama sekali, tapi nyatanya masih banyak cewek-cewek yang belum ngerti atau belum bisa melepaskan diri darinya. Jadi, ini bermanfaat banget gitu lho.


Sejauh yang kubaca, buku-buku red flags itu bagus-bagus sih. Dan buku "The Little Black Book of Big Red Flags" ini bisa jadi salah satu pilihanmu.


Review Buku "The Mate Map"

"The Mate Map," the right tool for choosing the right mate

Penulis: Steven Sacks


The mate map


"The Mate Map," judul yang antimainstream ya. Judul dan subjudul seperti ini punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Kelebihannya adalah dia unik dan langsung jadi pembeda di antara buku relationship lainnya, terutama kalau kita lihat langsung dan tidak mencari via online atau melalui kata kunci (keyword). Sebaliknya, kalau kita nyari dengan kata kunci (yang bener-bener belum tau buku ini sebelumnya), mungkin buku ini nyaris tidak akan ketemu. Baik judul maupun subjudulnya itu tidak memuat kata-kata kunci yang biasa digunakan orang untuk mencari jodoh.


Pada bagian awal penulis menjelaskan kalau metode yang dipakainya adalah berdasarkan analisis. Aku udah mbatin, "Wah, cocok banget nih kan kelebihanku emang di analisis." Begitu dibaca ... ternyata rumit sodara-sodara. Aku paham sih, cuma penerapannya agak mbuh-mbuhan gitu lho ya. Nggak yakin gitu bisa nerapin apa nggak. Terutama saat merating mana yang paling krusial (deal breaker) dan mana yang nggak serta berapa yang harus terpenuhi aspek/parameternya.


Intinya di sini itu penulis memberikan beberapa aspek terpenting untuk diamati saat mencari jodoh. Masing-masing aspek tersebut punya sub-sub aspek atau parameter-parameter lagi. Trus kamu disuruh melakukan refleksi sejauh mana tingkat kepentingan/kebutuhanmu akan aspek tersebut, disertai dengan alasan dan rating/grade-nya. Setelah itu kamu mengamati calonmu memenuhi apa nggak, berapa yang dipenuhi dan berapa yang nggak. Trus dilakukan skoring akhir, skornya masuk ke green flag, yellow flag, atau red flag. Kalau masuk green dan red kan sudah jelas ya, kalau masuk yellow kudu diproses lagi. Yellow flag ini bisa diperbaiki dari sisi kamu atau dari sisi dia atau dari kalian berdua, butuh didiskusikan nggak, gimana hasilnya, dan ada perbaikan apa nggak. Kalau ada perbaikan yang bikin skornya masuk green flag berarti gol, udah terima aja. Kalau nggak ada perbaikan or skornya belum termasuk range green ya berarti dengdong, gak baik sebagai calonmu. Tinggalin.


Sebenarnya sih buku ini unik, beda banget dari yang lain, walaupun secara inti masih ada benang merahnya sih (ini buku penemuan pribadi tapi secara teknik seperti teknik lain yang dibahasakan ulang atau dimodifikasi). Aku pribadi melihatnya rumit, tapi emang aku juga belum nemu buku tentang choosing the right one itu yang sederhana. Sejauh ini kebanyakan rumit penerapannya atau kalau nggak ya mbingungi. Tapi menurut penulis cara ini efektif. Banyak orang yang sukses setelah menerapkannya. 


Gak papa baca aja. Bagus kok.

 

Review Buku "Mr. Alexander's Four Steps to Love"

"Mr. Alexander's Four Steps to Love," the simple way to find your dream partner

Penulis: Alexander Stadler & Jennifer Worick


Mr. Alexander's Four Steps to Love


 "Mr. Alexander's Four Steps to Love" ini termasuk buku yang unik kalau dibandingkan dengan buku relationship lainnya. Ini lebih mirip buku untuk meningkatkan self esteem dan self confidence. Ya ada sih bagian relationshipnya, misalnya tentang kriteria, tempat mencari jodoh, dll tapi dominannya ya tentang self esteem dan self confidence tadi, alias hubunganmu dengan dirimu sendiri.


Sepintas kayak nggak terlalu nyambung ya, kok isinya malah tentang hubungan dengan diri sendiri, tapi sebenernya kayak buku yang barusan kureview sebelum ini, hal itu berhubungan erat dengan potensi untuk mendapatkan pasangan yang sehat (mendukung healthy relationship) dan mencegah the Wrong Man/the Loser Man.


Isinya lebih meriah dan full color daripada buku tentang "the loser man" tadi, lebih artistik juga. Kalau yang buku "the loser man" tadi lebih mirip majalah, kalau yang ini lebih mirip komik berwarna: lebih luwes, lebih cheerful, lebih menarik, dan lebih enak dipandang dan dibaca. Pendeknya, mata dan otak sama-sama senang. Nggak cuma itu, isi dan penyajiannya kreatif banget. Ide-idenya penuh kebaruan.


Aku suka sih buku ini. Ada ilmu baru yang bisa kudapat darinya. Tapi ya itu tadi, ini lebih ke self esteem, nggak mengupas terlalu dalam tentang Si Dia-nya maupun proses pencarian jodoh itu sendiri. Orang yang merasa dominan otak kanan pasti suka banget buku ini, sementara yang dominan otak kiri mungkin bisa lebih rileks. Tapi, buatku sih otak ya bekerjanya barengan, aku udah unlearning konsep dominan otak kanan atau kiri. Yang ada "otak" gitu aja.


Oke. Selamat membaca.

 

Review Buku "Lose that Loser and Find the Right Guy"

"Lose that Loser and Find the Right Guy," stop falling for Mr. unavailable, Mr. bad boy, Mr. Needy, Mr. married man, or Mr. s3x maniac

Penulis: Jane Matthews


Lose that Loser and Find the Right Guy


Buku "Lose that Loser and Find the Right Guy" tuh covernya agak p*rno. Begitupun gambar-gambar di dalamnya, ada beberapa yang agak p*rno, tapi tenang isinya nggak p*rno kok. 


Nih buku meriah banget, super duper full color dan layoutnya kayak majalah. Gambarnya juga gede-gede. Meski gitu, jenis dan ukuran fontnya serta ketebalan fontnya nggak enak dibaca. Yah sayang banget ya.


Aku baca ini untuk selingan sih cz kayaknya ringan, halamannya gak terlalu banyak, dan yang pasti meriah tadi. Otakku bisa lebih enjoy bacanya, meskipun lagi capek atau full sekalipun.


Oh ya, kamu bisa baca di atas, ada sub judulnya kan ya, udah dibocorin cowok losernya jenisnya apa aja. Ini bisa jadi keuntungan, bisa juga kerugian. Kadang kalo aku baca buku jenis ginian, aku kepo jenis wrong man atau red flag atau deal breakernya itu apa aja, kalau dibocorin kan udah keliatan dan kita jadi tau misal udah pernah baca di buku lain ya mungkin males baca lagi. Sebaliknya, bisa juga itu menjadi keuntungan. Begitu lihat sub judulnya, kamu udah tau karena udah spesifik jenis loser man-nya. Kalau kamu bermasalah dengan satu atau lebih loser man tadi, kamu malah tertarik untuk baca lebih lanjut dari buku ini.


Pada halaman depan, gak pake lama, langsung menuju ke jenis-jenis loser man-nya. Kemudian dijelaskan ciri-cirinya, cara mengenalinya dari kata-kata di profilnya, kenapa kamu bisa tertarik padanya, cara putus dari dia, cara mengatasi kesedihan setelah putus, cara menjadi single yang bahagia, bertumbuh, powerful, dan terbebas selamanya dari loser man lagi, cara mengenali Mr. Right, dll.


Kalo kubilang sih buku ini separo sistematis separo nggak. Jadi, nggak mulus banget bacanya. Nggak lancar jaya. Masuk apa gitu itu, kesatuan apa koherensi ya? Tapi, dia lumayan padat berisi. Daging banget. Dan sepanjang aku baca ini aku sering teringat sesuatu, merenung, dan memikirkannya. Ada bagian pembuka pikirannya juga. Tapi dia bukan satu-satunya sih, ada beberapa buku yang beda jauh jenis dan bahasannya dan juga pendekatannya tapi sama-sama nyuruh ngenali diri sendiri. Rata-rata masing-masing ada pertanyaannya, tapi kok susah jawabnya. Nah, pas aku baca buku ini dan merenung, terbukalah satu atau beberapa pemahaman tentang diriku sendiri. Alhamdulillah.


Oh ya, penulis membatasi bahwa isinya tidak mencakup cowok KDRT (abuser) dan pecandu (semacam miras dll gitu) atau yang danger-danger gitu karena menurutnya itu adalah ranah psikolog/ahli kesehatan mental. 


So, hasil akhirnya adalah ... jreng jreng jreng...highly recommended.

 

Review Buku "The 7 Deadly Texting Mistakes"

The 7 Deadly Texting Mistakes

Penulis: Bobby Rio


The 7 Deadly Texting Mistakes


Ceritanya aku itu keliru milih bukunya. Buku "The 7 Deadly Texting Mistakes" ini ternyata ajaran dating coach untuk cowok, alias buat ngedapetin cewek.


Ya udah kepalang tanggung, tetep kubaca deh. Toh cuma 17 halaman dan asyik nih penampakannya, full color dan tulisannya singkat-singkat. Cenderung buat menuh-menuhin halaman aja sih, tapi enak dibaca. Ramah di mata.


Kalau kamu cewek dan lagi baca buku ini, kamu mungkin akan nyadar kalau cowok itu juga takut banget nggak ngedapetin cewek yang disukainya dan mereka berusaha banget untuk menang, dengan strategi dll. Kalo versi-versi cowok yang ada di buku pada umumnya, yang katanya dunia cowok adalah dunia kompetisi, ya tercium juga sih di buku ini. Tak lupa nyelip juga aura p*rnonya. Ya elah ngikut juga yang satu itu.


Intinya, ya apa sih yang didapat dari 17 halaman? Ya 7 kesalahan tadi berikut penjelasannya. "Jangan melakukan 7 kesalahan 'ini', sebagai gantinya lakukan yang 'ini'. Gitu. Ga ada lain-lainnya. Tekniknya aneh-aneh sih. Kalau aku sebagai ceweknya ya liatnya kayak berlebihan banget dan ada yang aneh ajarannya, meskipun ada juga yang mungkin bener. Itu kalau aku ya, nggak tau kalo cewek lain.

Menurutku sih ajaran buku ini kayak dipaksakan. Pria seperti dipaksa jadi dirinya yang palsu/nggak ori, yang dipikirnya lebih menarik dan lebih berpeluang dalam mendapatkan wanita incarannya. 


Ajaran ini nggak asing sih kalau di dunia cowok player. 

Buatku, cowok lebih baik cari buku yang lain. Aku tidak merekomendasikan buku ini.


Review Buku "Deal Breakers"

"Deal Breakers," breaking out of relationship purgatory

Penulis: Bethany Marshall


Deal breakers


Habis baca buku "Red Flags" kemarin aku baca buku "Deal Breakers." Keduanya sama-sama luar biasa isinya dan wajib kamu baca. Bedanya, "Deal Breakers" ini lebih simple, clear (memenuhi unsur clarity), bahasanya sederhana, dan keterbacaannya lebih enak baik dari sisi jenis dan ukuran font maupun layoutnya.


Isinya bagus banget, meskipun ada sisi danger-nya juga yang tidak kusepakati, misalnya bahwa perselingkuhan bagi dia tidak seharusnya kamu masukkan ke dalam deal breaker. Begitupun jika pasanganmu menularkan herpes k*lamin padamu (karena mungkin nakal). Bagiku sih dua-duanya itu no banget.


Terlepas dari hal danger tersebut, selebihnya buku ini bagus. Aku mendapat insight/pencerahan setelah membacanya. Aku nggak tahu pasti sih itu karena buku ini atau karena aku udah berproses lama dan udah mendalami lama banget tentang masalah ini, tetapi sepertinya buku ini punya andil besar dalam membuka tabir kegelapan di pikiranku. Saat membacanya, aku jadi ingat benang merah terhadap ilmu-ilmu yang kupelajari sebelumnya dan pengalaman-pengalamanku yang berhubungan. Tiba-tiba aku bisa melihat apa yang sebelumnya tak tampak. Percaya nggak sih walaupun isinya ini kadang udah pernah ditunjukkan oleh ahli-ahli lain, tapi itu kayak kata-kata "mati" yang nggak kumaknai dan begitu aku baca buku ini "Oh Ya Allah ternyata itu dulu maksudnya gitu tho." Padahal, ahli sebelumnya itu sudah merangkumnya dengan sangat singkat, padat, jelas, praktis, dan aplikatif lho. 


Di buku "Deal Breakers" ini penulis menunjukkan 5 deal breakers utama. Di situ kan banyak kliennya yang bingung, "Yang bermasalah itu aku (Si Klien) atau dia sih?" Nah, Bethany Marshall, penulisnya, menguraikannya dengan jelas di sini. Sudah bisa diduga kan, mayoritas klien ini mengalami kebingungan, mirip hubungan dengan narsis trait. Yah terus terang aja karena dating itu mengandung permainan mental yang kuat. 


Sudah pasti dong penulis juga memaparkan ciri dari masing-masing deal breakers tersebut agar kamu bisa mengenalinya. Kamu juga ditunjukkan kenapa dia begitu dan kenapa kamu tertarik sama orang seperti itu, trus cara ngetes kamu sebaiknya bertahan atau putus sama dia. Jadi, kamu nggak bakal galau lagi. Udah mantep bakal lanjut atau malah bye-bye aja selamanya. Intinya cara agar bikin hubunganmu sama dia lebih sehat.


Bonusnya lagi, penulis juga menunjukkan ciri-ciri pria yang "sehat" untuk dijadikan pasangan hidup.


Oh ya, aku mo nyampein juga 1 hal penting lain di sini. Masalah relationship/percintaan/asmara biasanya kan berakar pada masalah pengasuhan. Kalau kamu bermasalah di keluargamu, kamu kemungkinan besar akan menjalin hubungan dengan pasangan yang bermasalah atau mengalami masalah dalam hubungan kalian. Aku mbayanginnya kayak penyakit komplikasi gitu ya, sistematik. Yang kalau kamu ngalami itu kayak "Aduh masalahku aja udah berat dan belum selesai kok ketambahan masalah baru sih." Kabar baiknya, karena inti masalahnya sama, tips penulis yang aslinya ditujukan biar kamu bisa meng-handle calonmu itu bisa kamu praktekkan/coba juga untuk meng-handle keluargamu dan bisa untuk mutusin juga apakah kamu lebih baik tetep di sana atau misal pergi dan punya rumah sendiri. So, itu adalah makna dari "Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui."


Menurutmu aku bakal rekomendasiin nggak buku "Deal Breakers" ini? Pasti lah. Highly recommended. Wajib kamu baca. 

 

Review Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

"Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

Penulis: Gary S. Aumiller dan Daniel A. Goldfarb


Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser


Aku punya ketertarikan tinggi untuk membaca buku-buku tentang relationship, terutama tentang red flags atau deal breakers. Aku membaca semua versi, baik versi pria, versi wanita, maupun versi dangerous people/toxic people/abuser. Tapi, buku-buku yang ditulis oleh pria kuberikan perhatian lebih. Secara aku berpikir yang lebih memahami pria mungkin kaumnya sendiri plus aku kepo sejauh mana mereka paham tentang wanita (apa kata mereka tentang wanita). Ya mungkin ada persamaan-persamaan dari versi pria dengan versi wanita, tapi terkadang ada kejutan-kejutan besar maupun kecil yang tidak kudapati dari versi kaumku sendiri kalau bicara tentang makhluk yang namanya laki-laki.


Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" ini adalah salah satu buku tentang red flags yang ditulis oleh 2 pria. Amazing juga sih, mereka pria tetapi sangat detail menggambarkan isinya. Mungkinkah mereka tipe melankolis? Atau detail atau tidak detail itu tidak tergantung gender tetapi stigma saja. 


Ini isinya detail banget. Ada 25 red flags berikut contoh kisahnya, penjelasannya, tesnya, dan cara putus/memperbaiki hubungan dengannya (jika bisa). Red flags ini campuran, ada yang bukan cowok baik-baik tapi ada juga yang sekadar tidak perhatian (baik tapi tidak baik sebagai pasangan). Ada yang jelas banget nggak baiknya, tapi ada yang kayaknya baik padahal nggak. 


Dari red flags-red flags ini nggak semua berdiri sendiri, ada yang tumpang tindih dengan buku-buku dari ahli lain, termasuk buku yang ditulis oleh wanita.


Isi buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" meskipun detail tetapi rumit bagiku dan susah kalau harus ingat isinya saat dating beneran/kenalan dengan cowok beneran. Tapi ada patokan utama yang kupegang, yaitu percayai perasaan dan intuisimu dan fokuslah pada cara dia memperlakukan kamu, bukan fokus pada keuangan dia/kamu, imej-mu, atau lainnya. Penulis nggak bilang tentang narsis dan semacamnya sih tapi nasibmu tetep aja akan ngenes baik itu narsis beneran atau bukan.


Buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan.