Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Antara Rating, Ulasan, dan Masalah Marketplace yang Sebenarnya

Antara Rating, Ulasan, dan Masalah Marketplace yang Sebenarnya
Marketplace

Rating dan Ulasan sebagai Umpan Balik?

Ini sudah seperti "keanehan umum". Marketplace suka sekali memajang opsi rating dan ulasan "di mana-mana". Setiap habis komplain dengan pusat resolusi atau customer service/customer care, atau bahkan tepat setelah kita klik barang pembelian sudah diterima, akan muncul tugas untuk memberi bintang dan memberi ulasan/review. Bejibun di tahap apa pun.

Ketika Rating dan Ulasan Tidak Berfungsi

Masalahnya, apakah rating dan ulasan tadi ditindaklanjuti? Atau, apakah sekadar tempelan yang menuh-menuhin tiap halaman dan capek-capekin kita dituntut merating dan mengulas terus sepanjang waktu?

Malahan, ketika aku komplain, seringkali komplainku tidak ditangani dengan baik. CS juga seperti tempelan, tak berfungsi apa-apa. Padahal, itu rating dan ulasan yang bejibun di mana-mana, ditambah dengan survei-survei-an yang puanjang daftar pertanyaannya dan nggak berefek apa-apa, aslinya ya kalau marketplace (dan yang cara kerjanya serupa itu) mau mendengarkan keluhan customer dengan baik dan mendengarkan saran perbaikan mereka saat mengeluh ke CS, rating, ulasan, atau survei-survei kayak gitu mungkin nggak perlu ada atau nggak se-perlu itu lagi.

Marketplace itu nggak mendengarkan tapi terus menyuruh customer memberi umpan balik di mana-mana. Paham nggak sih kamu para marketplace betapa lucunya dirimu. Bukannya customer merasa dihargai dan teratasi masalahnya, yang ada malah nyebelin dan nyia-nyiain waktu mereka.

Jika marketplace mendengarkan dan memperlakukan penanganan keluhan di CS saat itu juga (bukan cuma formalitas) dan melakukan perbaikan segera, itu akan lebih baik, lebih nyenengin, dan lebih efektif bagi kedua belah pihak. Bukan terus-menerus kena masalah yang sama dan terus-menerus dijejali permintaan untuk memberi rating, ulasan, dan ikut survei.

Review Buku "The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics)" oleh Grady Klein dan Yoram Bauman


Review Buku The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics)
Cover buku The cartoon introduction to economics (Microeconomics)

Ternyata Kartun Tak Selamanya Mudah

 Aku baca buku The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics) karena mengikuti saran dari The Almanack of Naval Ravikant untuk mempelajari mikroekonomi. Meski sudah diajari ekonomi di sekolah, tapi aku tidak tahu banyak mana yang makroekonomi dan mana yang mikroekonomi. Aku baru punya gambaran jelas ketika membaca buku ini.

Buku ini kupilih dari beberapa buku mikroekonomi yang pernah kuintip. Karena formatnya kartun, aku berharap materinya lebih mudah dipahami. Buku-buku teks lain banyak yang kututup lagi karena malas membacanya—entah karena tata letaknya yang membosankan atau penjelasannya yang memang rumit.

Terus terang, saat menemukan buku ini aku sangat senang. Harapannya, format visual bisa membantu mencerna teori-teori berat. Awalnya memang terasa mudah, tapi lama-kelamaan materinya tetap terasa sulit untuk diikuti.

Aslinya, buku ini berisi semacam kesimpulan atau intisari dari mikroekonomi yang dialihkan ke bentuk kartun. Jumlah halamannya sekitar 450-an, tapi banyak bagian yang kosong, jadi sebenarnya tidak semenakutkan kelihatannya.

Apa yang dipelajari?

Ternyata sebagian materi sudah ada di pelajaran SMA dulu, meski ingatanku sudah samar, seperti:

  • Kurva permintaan dan penawaran
  • Kesetimbangan kurva
  • Pergeseran kurva, dan lain-lain.

Ada bagian yang langsung kupahami intinya, ada yang sekadar paham maksudnya tapi bingung cara menerapkannya, dan ada juga yang tidak paham sama sekali. Meskipun berbentuk kartun, materi ini tetap menantang. Sebagian bisa kupahami dengan mudah, sebagian lagi harus kupikirkan matang-matang atau bertanya ke AI baru mengerti.

Buku dibuka dengan pengertian mikroekonomi. Mikroekonomi menjelaskan bahwa masing-masing manusia adalah optimizing individual (ingin mengoptimalkan perolehannya) dan transaksi yang terjadi di antara mereka. Mikroekonomi mengatur agar setiap individu mencapai titik optimal yang adil—bukan satu pihak puas sementara yang lain tidak kebagian. Paling tidak, jika satu kondisi membaik, pihak lain tetap stabil tanpa ada yang dirugikan.

Dalam upaya optimasi ini, muncullah transaksi, barter, atau lelang. Karena masing-masing pihak tidak mau rugi, penawaran akan selalu menuju titik seimbang. Penjual dan pembeli akan menghitung keuntungan marginal dibanding biaya marginalnya. Selain itu, ada pembahasan game theory, yaitu menduga langkah "lawan". Semakin ada asimetri pengetahuan (informasi yang tidak diketahui lawan), semakin posisi kita menguntungkan.

Di dalam transaksi tersebut, terdapat pula peran pajak pemerintah. Namun prinsip dasar tetap sama: kurva akan mencari kesetimbangan. Mau pajak dibebankan ke pembeli atau penjual, pada akhirnya pajak tersebut ditanggung bersama oleh keduanya, hanya proporsinya saja yang berbeda.

Kenapa Buku ini Berat?

Meskipun formatnya kartun, buku ini tetap terasa berat. Aku tidak yakin orang awam tanpa dasar ekonomi bisa memahaminya dengan mudah. Gambarnya sangat kompleks; jika dalam tulisan satu paragraf mewakili satu ide, di buku ini satu gambar terasa memuat terlalu banyak pokok pikiran sekaligus.

Selain itu, banyak noise atau elemen visual pengganggu yang tidak penting. Format halaman yang selang-seling (satu halaman bergambar, halaman berikutnya kosong) juga sangat mengganggu alur belajar. Rasanya boros energi untuk memahaminya, sehingga aku memutuskan untuk tidak menyelesaikannya meski sudah membaca hampir 400 halaman.

Kesimpulan

Intinya, aku tetap kesulitan memahami mikroekonomi sepenuhnya dari buku ini. Aku masih ingin mencari referensi lain yang mungkin penjelasannya jauh lebih sederhana dan efektif daripada format kartun yang kompleks ini.

Menghadapi Tantangan Plagiarisme di Indonesia

Seorang penulis wanita sedang menulis di atas kertas

Banyaknya kasus plagiarisme di Indonesia menunjukkan bahwa kepemilikan naskah sering kali dipandang sebelah mata. Tak jarang, kasus-kasus ini berakhir menggantung atau bahkan tak dibawa ke jalur hukum. Lantas, haruskah penulis pasrah dan memilih berdamai setiap kali plagiarisme terjadi pada karyanya?

Setiap karya yang lahir dari tangan penulis adalah hasil dari pemikiran, usaha, dan emosi yang mendalam. Penulis tidak hanya menulis, tetapi mencurahkan jiwa dan raga mereka dalam setiap kalimat yang tercipta. Berjam-jam bahkan berhari-hari, mereka menggali ide, merangkai kata, dan mengolah setiap bagian dengan harapan karya mereka bisa memberi dampak. Kehilangan karya yang sudah diperjuangkan bukanlah hal yang mudah. Bayangkan, jika karya yang begitu berharga tiba-tiba dicuri orang lain tanpa rasa hormat terhadap proses panjang yang telah dilalui. Itulah realitas yang dihadapi banyak penulis saat plagiarisme terjadi.

 

Bantuan Hukum untuk Penulis: Belajar dari Negara Lain

Di banyak negara, penulis memiliki akses terhadap bantuan hukum gratis atau subsidi untuk melindungi hak cipta mereka. Negara seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Jerman memiliki organisasi yang memberikan bantuan hukum pro bono bagi penulis yang menghadapi plagiarisme. Ini memberikan penulis keyakinan untuk memperjuangkan karya mereka tanpa dibebani biaya tinggi. Mereka juga merasa didukung untuk melaporkan plagiarisme, karena ada lembaga hukum yang siap membantu.

Di Indonesia, meski bantuan hukum bagi penulis belum sekuat di luar negeri, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bisa menjadi solusi. LBH berpengalaman memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang membutuhkan, dan penulis bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan keadilan tanpa harus terhambat biaya. Meningkatkan kesadaran penulis tentang hal ini penting agar mereka tahu bahwa ada bantuan hukum yang bisa mereka akses.

 

Tantangan Pembuktian yang Mengharuskan Ketelitian

Membuktikan plagiarisme dalam karya non-akademik memang kompleks. Tidak hanya soal kemiripan konten, tetapi juga gaya penulisan, struktur, dan nuansa karya. Proses ini membutuhkan keahlian khusus, namun bukan berarti penulis harus mundur. Karya yang lahir dari kerja keras harus dilindungi. Jika karya kita dihargai dan diperjuangkan, maka kita pantas untuk mendapatkannya kembali.

Sering kali, banyak kasus plagiarisme diselesaikan di luar pengadilan melalui mediasi atau negosiasi, bukan karena kurang bukti, tetapi lebih pada keinginan menghindari kerugian reputasi yang lebih besar. Namun, ini bukan alasan bagi penulis untuk menyerah. Dengan semangat, kita bisa memperjuangkan karya kita dan menuntut keadilan yang seharusnya didapatkan.

 

Reputasi dan Dampak dari Tindakan Plagiarisme

Jika plagiarisme bisa merusak reputasi seseorang, maka mengapa melakukan tindakan merugikan ini sejak awal? Jika seseorang begitu takut terhadap reputasi yang rusak, mengapa mereka memilih mencuri karya orang lain? Plagiarisme tidak hanya mencuri hasil kerja, tetapi juga merusak reputasi yang seharusnya dibangun dengan integritas.

Kerugian materi dan non-materi bagi penulis asli sangat besar. Tidak hanya kehilangan keuntungan finansial dari hak cipta mereka, tetapi juga keadilan dan hak mereka sebagai pencipta. Parahnya, penulis yang dirugikan sering kali justru harus berjuang untuk membuktikan kebenaran mereka, bahkan bisa saja dituduh sebagai plagiat. Dalam dunia yang semakin terhubung, tuduhan tanpa bukti bisa merusak reputasi seseorang serta mempengaruhi karier mereka.

Tindakan plagiarisme juga merampas peluang orang lain yang lebih layak. Plagiator yang tidak memiliki kemampuan memadai memperoleh posisi atau pengakuan yang seharusnya didapatkan orang lain yang benar-benar berkompeten. Ini menghalangi mereka yang memiliki potensi sejati, sementara plagiator mendapatkan keuntungan tanpa usaha yang layak. Dalam konteks akademik atau dunia kerja, kasus seperti ini memberikan contoh buruk—di mana seseorang tetap menjabat atau meraih peluang meskipun tanpa kualifikasi yang sah, hanya karena tindakannya tidak terungkap.

 

Menghadapi Ketimpangan Dukungan: Penulis Harus Bersatu

Penulis Indonesia sering kali terisolasi dalam menghadapi plagiarisme, sementara pihak yang terduga plagiarisme terkadang mendapatkan dukungan lebih solid, baik dari penerbit atau mentor berpengalaman. Namun, ini bukan alasan untuk menyerah. Komunitas penulis dan penerbit di Indonesia harus bersatu dan mendukung penulis yang teraniaya plagiarisme.

Keberanian penulis untuk berbicara tentang masalah ini sangat penting. Melalui media sosial, komunitas, dan jaringan penerbit, kita dapat menciptakan kesadaran yang lebih tinggi mengenai pentingnya menghargai hak cipta. Pembaca juga perlu lebih menghargai karya sastra dan tulisan dengan memberi perhatian pada perlindungan hak cipta.

 

Menumbuhkan Kesadaran Hukum dan Perlindungan Karya

Kesadaran akan hak cipta di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Penulis harus paham hak mereka sejak awal, dan penerbit wajib memastikan karya yang diterbitkan memiliki perlindungan hukum yang jelas. Edukasi tentang hak cipta dan bantuan hukum perlu digalakkan agar penulis tahu langkah-langkah yang harus diambil jika karya mereka dijiplak.

Penulis Indonesia tidak boleh menyerah. Semangat menulis harus tetap ada, dan semangat mempertahankan karya harus menjadi bagian dari perjalanan itu. Meskipun jalan untuk mendapatkan keadilan tidak mudah, dengan dukungan komunitas yang lebih kuat dan langkah-langkah hukum yang jelas, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih adil bagi penulis di tanah air.

 

Sisi Gelap Teknologi dalam Bisnis

pemasaran online (digital marketing)
Ilustrasi pemasaran online (digital marketing)

Di era digital ini, teknologi membawa banyak kemudahan dalam dunia bisnis. Namun, di balik itu ada sisi gelap yang mempengaruhi kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Transaksi bisnis barang maupun jasa di dunia nyata maupun maya kini telah menjadi semakin tidak nyaman. Di dunia maya, belanja online adalah contohnya. Meskipun belanja online memberikan kenyamanan dan akses yang lebih mudah ke berbagai produk, tak jarang bisnis tersebut menggunakan teknologi dengan cara yang merugikan konsumen.

 

Tekanan untuk Memberikan Rating Lima Bintang

Rating menjadi sangat penting di pasar yang sangat kompetitif ini. Oleh karena itu, banyak bisnis menekan pelanggan untuk memberi rating lima bintang setelah pembelian. Pelanggan sering kali merasa terpaksa memberi rating, bahkan ketika pengalaman mereka kurang memuaskan. Mereka takut kehilangan keuntungan atau diperlakukan buruk di masa depan. Bahkan, tak jarang pula mereka diancam akan diblokir jika menentang.

Beberapa bisnis lainnya memiliki strategi berbeda. Mereka menjanjikan hadiah atau diskon di masa depan jika pelanggan memberikan rating dan ulasan yang bagus. Hal ini menyebabkan banyak rating dan ulasan yang tidak mencerminkan pengalaman asli. Calon pembeli yang mengandalkan rating dan ulasan pembeli lain dalam membuat keputusan bisa tertipu karenanya.

Mirisnya lagi, terkadang Si Pembuat Rating dan Ulasan adalah pemilik usaha itu sendiri atau pekerja dan orang-orang dekatnya. Tak berhenti sampai di situ, ada pula rating dan ulasan yang dibayar. Pemilik/perusahaan sengaja mempekerjakan orang hanya untuk memberi rating dan ulasan pada produk atau jasanya. Selain untuk mendongkrak peringkat SEO, hal ini mereka lakukan agar usahanya tampak lebih meyakinkan dan terpercaya. Jadi, rating dan ulasan tidak selalu bisa dipercaya. Ulasan yang seharusnya bisa membangun kepercayaan dan transparansi kini telah hilang keasliannya.

 

Pelanggaran Privasi

Pemilik bisnis juga sering meminta informasi pribadi dari pelanggan, seperti email, akun media sosial, telepon, dan alamat fisik secara otomatis, dengan alasan untuk memberikan layanan yang lebih baik. Namun, informasi ini sering disalahgunakan untuk kepentingan pemasaran mereka, yaitu dengan mengirimkan promosi atau iklan yang tidak berhubungan dengan pembelian pelanggan. Pelanggan yang mengalami ini akan terganggu privasinya dan banyak yang kecewa karena mereka tidak menginginkan pesan yang terus menerus. Belum lagi dengan waktu kontak mereka yang juga sering tidak tahu aturan. Entah terlalu pagi, di luar jam kerja, atau bahkan tengah malam. Sangat menyebalkan.

Pelanggaran privasi semacam ini merusak hubungan antara pemilik bisnis dan pelanggan. Pelanggan merasa terperangkap dalam spam, dan bukannya merasa dilayani dengan baik, mereka justru merasa terganggu oleh iklan yang tak henti-hentinya.

Banyak praktik semacam ini, terutama karena terus disosialisasikan di buku-buku maupun akun-akun tentang pemasaran atau marketing. Sementara itu, konsumen seolah hanya bisa pasrah selama mereka masih membutuhkan produk atau jasa tersebut pada penyedia tersebut.

 

Tekanan untuk Memberikan Testimoni

Selain rating, beberapa bisnis juga menekan pelanggan untuk memberikan testimoni positif tentang produk atau layanan mereka. Mereka sering kali menghubungi pelanggan segera setelah pembelian dan meminta mereka untuk mengikuti format tertentu dalam memberikan umpan balik. Hal ini membuat pengalaman pelanggan terasa dipaksakan, bukan sebagai opini yang tulus.

Tekanan semacam ini bisa membuat pelanggan merasa bersalah atau cemas jika pengalaman mereka tidak sesuai dengan harapan Si Pemilik Bisnis. Selain itu, hal ini juga merusak keaslian ulasan dan dapat menipu pelanggan lain, sekaligus merusak kredibilitas pasar secara keseluruhan.

 

Dampak Lebih Luas

Praktik tidak etis seperti ini bisa memiliki dampak yang jauh lebih besar dari sekadar mempengaruhi satu transaksi. Ketika pelanggan merasa terganggu oleh pemasaran yang mengganggu dan dipaksa memberi umpan balik, mereka bisa kehilangan kepercayaan terhadap belanja online secara keseluruhan. Ini bisa menghambat perkembangan e-commerce di masa depan.

Selain itu, perusahaan yang memilih keuntungan jangka pendek dengan cara-cara tidak etis bisa kehilangan loyalitas pelanggan dan reputasi jangka panjang. Pelanggan saat ini bisa dengan mudah menyebarkan pengalaman negatif mereka melalui media sosial dan forum online, yang bisa jauh lebih merugikan daripada manfaat dari praktik-praktik tersebut.

Teknologi memang membawa banyak kemajuan bagi bisnis, namun juga memberi celah bagi praktik-praktik yang merusak kepercayaan pelanggan. Pemaksaan untuk memberi rating lima bintang, pelanggaran privasi, dan tekanan untuk memberi testimoni bisa membuat frustrasi konsumen dan merusak reputasi bisnis itu sendiri. Di dunia digital ini, penting bagi bisnis untuk mengutamakan etika dan hubungan yang lebih personal dengan pelanggan. Tanpa itu, bisnis hanya akan kehilangan kepercayaan dan menghancurkan pasar yang sehat. Bisnis harus memilih untuk bertindak dengan integritas, atau mereka akan menghadapi risiko kehilangan pelanggan yang mereka butuhkan untuk berkembang.

Review Buku "Start Your Own Coaching Business"

"Start Your Own Coaching Business," quick guide to starting a profitable coaching business

Penulis: Alex Damale


Start your own coaching business


Bisnis coaching merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan, kalau kamu berhasil menjalaninya. Sebagaimana pekerjaan/bisnis apapun, pasti ada orang yang berhasil dan ada yang tidak. Bisnis coaching pun begitu, ada coach yang gagal dan ada yang tidak bisa berpenghasilan menjanjikan.


Buku "Start Your Own Coaching Business" ini ditulis oleh Alex Damale karena hal itu. Dia ingin membantu calon coach agar bisa menjadi coach yang sukses dan berpenghasilan fantastis. Pertama adalah dengan memiliki mindset yang benar dan memenuhi modal-modal internal yang dibutuhkan. Selain itu, dia juga mengajarkan mengenai alat-alat/sarana-sarana yang dibutuhkan dan bentuk-bentuk promosinya, etika atau aturan tidak tertulis saat menghadapi klien, cara menangani beberapa masalah dengan klien, dll.


Penulis cukup terbuka menjelaskan beberapa suka duka menjadi coach. Penulis juga memberikan referensi-referensi, misalnya kamu pakai hosting "ini", nanti dilengkapi dengan "ini" kamu tinggal lihat contohnya di "sini", trus baca panduannya di "sini". Gitu-gitu. Ditunjukkan sekilas alternatif atau variasinya. Tapi ya gitu, cuma sambil lalu, bahkan terkesan nggak niat atau nggak bener-bener pengen memandu calon coach tersebut dengan detail. Alasannya karena ini bukan buku tutorial. Kamu yang gaptek harus aktif nyari sendiri tutorial lengkapnya di internet.


Penulis menjamin kalau semua sarannya dijalankan kamu akan berhasil menjadi coach yang laris dan berpendapatan sangat besar. Cuma, kalau semua sarannya dijalankan, biayanya juga besar. Karena segalanya itu dibuat sebaik mungkin agar tampak profesional dan layak dengan harga mahal.


Jadi, boleh-boleh aja kamu baca buku "Start Your Own Coaching Business" ini, tapi akan susah kalau kamu gaptek. Masih kerja lagi untuk nyari sumber-sumber lainnya. Lagipula, ini bahannya masih sangat kurang. Tergantung dengan tipe bisnis coaching yang mau kamu buka, tapi secara umum kalau modalmu cuma baca buku ini, belum siap/belum mantap untuk buka jasa tersebut. 


Review Buku "Budgets Don't Work, but This Does"

Budgets Don't Work, but This Does

Penulis: Melissa Browne


Budgets don't work (but this does)


Salah satu hal yang nggak kusukai/kusetujui adalah ketika orang mengatakan "Kamu hanya bisa (mencapai tujuanmu) dengan cara 'ini'." Itu karena aku percaya kalau orang itu beda-beda dan karena masih dimungkinkan ada penemuan/pemahaman baru di masa mendatang.


Kalau kamu nggak cocok dengan suatu metode, belum tentu kamu yang gagal/bermasalah. Bisa juga metodenya yang nggak cocok buatmu. Ada teknik yang lebih tepat untuk kamu.


Nah, seperti itu pula Melissa Brown menyinggung di dalam bukunya, "Budget don't work, but this does," nggak ada metode itu yang fit for all. Dia mengajukan teori baru untuk memperbaiki keuanganmu, yaitu dengan mengenali financial phenotypes-mu (fenotip keuanganmu). 


Ada 4 fenotip keuangan utama dan beberapa fenotip kombinasi yang dipaparkan di sini, masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya, beliefnya, mottonya, tantangannya, relationship-nya, serta cara mengatasi kondisi/sabotase dirinya saat stres.


Aku nyoba ngisi ini dan emang bener aku gitu, kebiasaanku juga gitu, walau aku uda tau sih karena selain salah satu kecerdasan utamaku memang intrapersonal aku sering melakukan refleksi diri, memang mendalami psikologi, dan lumayan sering ngisi tes-tesan. 


Dan untuk solusi memang harus nyari yang pas dan dicoba dulu. Pada beberapa buku yang kubaca memang gitu, penulisnya berproses dulu nyari dan mraktekin teori-teori dari orang lain, baru kemudian nemu apa yang work buat dia. 


Di buku ini kebetulan financial phenotypes penulisnya sama denganku. Jadi, aku dapat inspirasi tambahan dari apa yang sudah dicoba dia dan work di dia.


Oh ya, ngomong-ngomong soal judulnya yang ada garis coretnya pada kalimat "Budget don't work," aku ngiri lho cz aku bikin naskah dengan judul yang kuberi keterangan coret kayak gitu enggak lolos. 


Udah ah, jadi ngomongin aku. 

Intinya gini, kalau kamu uda nyoba berbagai metode keuangan dan nggak berhasil, mungkin itu nggak cocok dengan fenotip keuanganmu. Coba baca buku ini untuk lebih memahami fenotip keuanganmu itu yang mana dan solusi apa yang sekiranya lebih cocok untuk tipe seperti kamu.

 

Review Buku "The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money"

"The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money"

Penulis: P.T. Barnum


"The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money" adalah karya dari P.T. Barnum, salah satu orang yang sukses di berbagai bidang.


Dia merupakan buku yang singkat dan padat berisi. Isinya memuat prinsip-prinsip penting dalam mencari atau menghasilkan uang. Prinsip-prinsip ini sederhana tetapi penting. Dan saat aku baca prinsipnya, aku kagum karena salah satu yang diajarkannya adalah "Carilah uang dengan jujur." Jadi, kemungkinan besar Barnum adalah orang yang baik (orang baik-baik), yang berusaha/bekerja dengan "bersih."


Buku ini ditulis dengan cara tiap 1 bab mewakili 1 prinsip. Jadi, mudah untuk membedakannya.


Buku ini punya cover yang kelihatan klasik, memuat gambar yang mungkin gambar Barnum itu sendiri. Yah memang buku ini terbitan 1880 jadi wajar lah ya. Bahasanya pun gitu, masih serius. Tapi, Barnum ini sebenarnya penulis dan penerbit juga, walaupun buku ini sendiri sepertinya diterbitkan oleh penerbit lain.


Aku sih kurang suka cara penulisan buku ini, tapi aku suka prinsip-prinsip yang diajarkan di dalamnya. Aku setuju bahwa prinsip-prinsip yang diajukannya itu krusial di dalam bisnis/mencari dan menghasilkan uang.

 

Review Buku "Pivot"

"Pivot," the only move that matters is your next one

Penulis: Jenny Blake


Kamu mau pindah kerja? Atau pindah bidang? Bingung mau ke mana? Buku "Pivot" ini jawabannya.


Ini adalah buku panduan yang tepat untuk kamu yang mau pindah kantor, pindah kerja, pindah bidang kerja, pindah dari kerja kantoran jadi wiraswasta atau sebaliknya, dan semacamnya tapi bingung apa yang harus dilakukan.


Jenny Blake, penulisnya, akan memandumu mulai dari menentukan bidang apa, mengatasi masalah uangnya, siapa mentornya, dll. Semua diulas secara detail, runut, dan sabar oleh Si Penulis.


Bahasanya sebenarnya ramah, cuma tingkat kesulitan pelajarannya mungkin antara medium/menengah/sedang sampai tinggi.


Untuk infonya sendiri, kayaknya sih nggak baru, seperti gabungan/kompilasi dari berbagai sumber tapi dibentuk ulang jadi bentuk yang baru.


Buku ini alurnya baik dan karena dia memandu dengan sabar, kalau kamu termasuk yang bisa memahami bukunya, kamu akan mendapatkan keuntungan/pengetahuan yang besar darinya.


Yang paling kusuka dari buku ini adalah dia memberimu kebebasan tentang pilihan-pilihanmu. Dia tidak controlling. Selain itu, panduan di dalam buku ini itu sistematis. Enak banget untuk diikuti.


Intinya, kebanyakan orang itu kan taunya cuma pengen keluar dari kantornya saat ini, tapi keluarnya ke mana? Ngapain? Bisa sukses nggak nantinya? Mereka masih bingung. Nah, buat kamu yang ngalami kayak gitu, temukan jawabannya pada buku ini.

 

Review Buku "Riches in Niches"

"Riches in Niches", how to make it big in a small market

Penulis: Susan Friedmann


Beberapa waktu lalu aku sudah membahas tentang generalis yaitu pada buku "How to be Everything". Aku juga sudah membahas buku tentang niche yang ternyata isinya nggak bahas niche sama sekali. Nah, kalau "Riches in Niches" ini beda, dia sangaaaat detail. 


Buku ini akan membimbingmu untuk mencari niche yang tepat, mulai dari mempertimbangkan opsi-opsi yang kira-kira cocok untuk jadi niche-mu, mengeksekusinya, sampai dengan membawamu pada kesuksesan ada di dalamnya. Jadi, di dalamnya itu ada brainstorming, planning, branding, marketing, targetting, positioning, executing, dll.


Step by step di dalamnya itu lengkap banget. Bacanya pun enak karena selain penulis itu membimbingmu dengan sabar dan gaya bahasa yang sangat bersahabat, ini layoutnya juga lumayan enak. Ada space yang enak untuk mata dan indah. Margin-marginnya, menjorok-menjoroknya, jarak antar paragraf, box untuk ringkasan, dll-nya itu sangat mendukung kenyamanan baca buku ini.


Susan Friedmann, penulisnya pun tampaknya rendah hati orangnya. Kata-katanya itu nggak pake menghina-menghina, nyindir-nyindir, berantem/bantah-bantahan, otoriter, dan semacamnya, tetapi lebih pada membimbing/mengarahkan dengan santun. Walaupun posisi pembaca dan penulis memang vertikal (penulis lebih tinggi posisinya/sebagai ahli) tapi penulis nggak sok atau ngerendah-rendahin pembaca. Kayak tulus gitu lho pengen pembaca bisa sukses seperti dia. (Btw, aku lebay gak sih ngomong soal tulus? Kayak tau dia aja.)


Aku nggak ngomong isi buku ini mudah diterapkan, tapi penulis itu seperti sudah berusaha banget untuk bisa mentransfer ilmunya dan menyampaikannya dengan sebaik mungkin, dengan bahasa se-santun mungkin.


Aku berusaha mencerna buku ini pelan-pelan. Ya walau nggak 100% masuk, tapi ya nggak 0% juga.


Pokoknya ini bagus banget dan sangat aku rekomendasikan. TITIK. 


Review Buku "How to Create $1600 Per Month Niche Websites for Passive Income"

"How to Create $1600 Per Month Niche Websites for Passive Income"

Penulis: Dave Hedley


Buku "How to Create $1600 Per Month Niche Websites for Passive Income" ini adalah buku tentang SEO, terutama SEO untuk afiliasi.


Dia berisi tentang cara-cara untuk menduduki halaman awal Google, baik alat-alatnya (tools-nya), arti istilah-istilah, cara mengoptimalkan pemasukan web/afiliasi yang kamu lakukan, termasuk hal-hal penunjang baik itu yang gratis maupun yang berbayar.


Buku ini halamannya sedikit, tulisannya buesar-buesar, dan marginnya terlalu mepet pinggir. Secara muatan/isi, dia to the point, langsung ke intinya. 


Aku mendapatkan beberapa wawasan baru dari sini, tapi belum kucoba. Sayangnya, buku ini mengandung apa yang kuistilahkan dengan "lubang." "Lubang" ini semacam jembatan yang putus. Dia ada di bagian bahasan tentang niche itu sendiri, yang notabene menjadi judul/tema besar buku ini. Oleh karena itu, aku tetap nggak paham bagian tersebut. Pemahamanku terputus/tidak komprehensif.


Entah kenapa banyak buku punya "lubang" semacam ini. Kayak keburu-buru, males, menganggap pembaca sudah tahu, nggak ikhlas, sengaja nyembunyiin, atau apa gitu lho. Jadi, buat dipraktekin beneran itu susah, nggak lengkap/detail materinya.


Tapi, aku sendiri udah pernah belajar SEO, jadi masih paham dikit-dikit plus masih bisa memahami beberapa ilmu tambahan di dalamnya.


Buatku pribadi, buku ini targetnya tidak tercapai, karena aslinya tujuan utamaku baca buat nyari niche, eh malah "lubang"-nya ada di niche-nya.

 

Review Buku "The 22 Immutable Laws of Marketing"

 



"The 22 Immutable Laws of Marketing" ini adalah buku yang didedikasikan oleh penulisnya untuk mematahkan mitos-mitos dan kesalahpahaman-kesalahpahaman di bidang pemasaran (marketing). Isinya tentang cara meraih posisi puncak (atau 3 besar) dan apa saja yang menyebabkan terjadinya pergeseran posisi pada anak tangga pemasaran. 


Buku ini menarik dan sangat sistematis. Ia ditulis dalam bentuk poin-poin, di mana 1 poin mewakili 1 hukum. Ke dua puluh dua poin ini bisa langsung kita lihat dengan jelas pada daftar isi, walaupun daftar isinya tersebut tidak memuat halaman untuk masing-masing kontennya. Aku suka daftar isi model gini yang bisa berfungsi sebagai jendela untuk ngintip isi bukunya (hanya perlu ditambah halaman).


Siapakah Al Ries dan Jack Trout sehingga berani membuat hukum-hukum marketing seperti yang tercantum di dalam buku ini? Agak misterius sebenarnya. Kalau biasanya dijelaskan penulis adalah seorang lulusan jurusan ini, universitas ini, bekerja sebagai ini, di kantor ini dan negara ini, penulis buku "The 22 Immutable Laws of Marketing" ini tidak. Mencari identitasnya pun susah. Pada bagian depan hanya dijelaskan tentang fungsional pekerjaannya, sedangkan pada bagian belakang hanya dijelaskan bahwa kedua penulis tersebut adalah ahli strategi pemasaran (marketing strategist) yang mungkin terbaik di dunia.

Sebagai orang yang tidak berlatarbelakang ekonomi, buku ini cukup berat bagiku. Kalau disebut sebagai hukum, isinya membingungkan, karena setahuku hukum itu tidak berubah, tetapi nyatanya di dalam buku ini hukumnya berubah-ubah karena berlaku pula hukum yang satunya dan yang lainnya lagi. 

Itulah, aku jadi bingung dan tertatih-tatih membaca atau memahaminya walaupun sebenarnya buku ini ditulis straight/to the point. Yang lebih menyulitkan lagi adalah bahasanya yang cowok banget: sangat teknis, memuat banyak data dan angka, riset-riset pemasaran. Dengan kata lain, buku ini lebih ramah cowok. Ini bahasa mereka. Mungkin akan lebih enak dibaca, lebih mudah dipahami, dan lebih ramah cewek kalau datanya dibuat dalam bentuk tabel dan contoh brandnya dikurangi. Karena terlalu banyak nama brand dan contoh pergeseran posisi brand yang dimuat malah memusingkan pembaca. Menurutku, yang penting ada contohnya dan bisa membuat jadi paham ya sudah, tidak perlu terlalu banyak.

Buat yang background-nya bukan ekonomi, cewek, dan mungkin keahlian (kecerdasan terkait data)-nya kurang/biasa saja, ya perlu energi ekstra untuk memahaminya. Meskipun, aslinya buku ini itu penting, bermanfaat, menarik, pemilihan jenis dan ukuran font serta layout-nya juga lumayan enak dibaca, dan isinya to the point sehingga (seharusnya) orang-orang yang sibuk tidak boros waktu untuk membacanya. Bahasan per poinnya pun singkat-singkat kok, enak dibacanya (cuma ya itu, full data), tapi meskipun bentuk listicle (per poin) bacanya lebih baik urut karena masih berhubungan dengan bahasan sebelumnya. 


So, intinya ini lebih cocok buat cowok. Buat cowok yang tertarik dengan dunia pemasaran, buku ini layak untuk menjadi teman baca kamu. 

Review Buku "Catch Him and Keep Him"

 

Jika berbicara tentang hubungan/interaksi pria dan wanita, aku sering sekali ketemu ajaran/pandangan serupa yang ada di dalam buku "Catch Him and Keep Him" ini. 

Apakah itu?

Buanyak sekali orang -baik melalui buku atau video- yang mengajarkan atau menjelaskan betapa wanita yang harus memulai atau bekerja keras di dalam sebuah hubungan.

Alasannya klise, lagi-lagi karena wanita dianggap dominan perasaan atau karena cowok secara alami nggak peka, atau hal-hal semacam itu.

Secara halus, penulis juga seperti menganggap para wanita itu bodoh karena terlalu memperturutkan perasaannya. Sedangkan pria bisa langsung mengenali wanita potensial untuk jangka panjangnya (untuk diperistri) dengan cepat. 

Beberapa pria di dalam buku-buku karya mereka malah terang-terangan menyuruh wanita itu berpikir ala pria, misalnya Steve Harvey dalam "Act Like A Lady, Think Like A Man."

Singkatnya, semua para pria tersebut itu mo ngomong gini, mereka itu beda denganmu, nggak ngertiin kamu, kamu makhluk yang lebih peka dan lebih perasa jadi kamu yang harus ngikuti pendekatan ala gender mereka. Gitu. Paham?

Sementara penulis menjelaskan selingkuh/suka fisik/s*ks adalah biologis/alamiahnya pria, takut berkomitmen adalah alamiahnya pria, bisa nges*ks tanpa butuh perasaan/komitmen adalah alamiahnya pria, pada buanyak sekali buku atau video (dari pengajar pria maupun wanita) mengajarkan hal-hal yang rumit terhadap wanita. Seperti semua beban perubahan itu diletakkan pada pundak wanita dan wanita yang harus menginisiasi atau mendahului (dan kalau beruntung, pasangannya gantian akan memberikan treatment manis padanya). Ada buanyak sekali aturan untuk berbicara maupun bersikap terhadap pasangan pria kita, sementara pria-pria tersebut bisa bebas berucap atau bertindak karena mereka nggak peka atau hanya karena mereka pria (biasanya dihubungkan dengan ego).

Selain itu, ada juga yang unik di dalam buku ini. Bertentangan dengan keyakinan umum, penulis menjelaskan bahwa pria suka melakukan kode-kodean. Bukankah kamu sering dengar kalo wanita yang suka diolok-olok karena melakukan kode-kodean? Tak dijelaskan apakah itu hanya pria atau itu menunjukkan kedua gender sama-sama melakukan kode-kodean. Dan lagi-lagi, kamu para cewek, dituntut untuk paham kodenya (atau secara implisit dianggap bodoh, kalo gagal baca kodenya).

Kalau kuamati, buku-buku atau coaching relationship juga demikian, lebih menyasar pihak wanita. Aku pernah baca di mana gitu ya, kalo targetnya pria nggak akan laku. Satu lagi, buku-buku relationship dengan target pria, biasanya gak jauh-jauh dari selangkangan: cara ngajak cewek tidur denganmu, cara menjadi bad boy dan digilai cewek, cara ngajak cewek muda tidur denganmu walo umurmu udah tua banget, gitu-gitu deh.

So, aku ga suka buku ini dan ajaran yang serupa dengannya. Itu bikin aku mikir betapa mbencekno makhluk bernama pria ini dan betapa mereka hanya bisa nyusahin hidupku dan bikin aku males nikah. Sementara ini aku masih berpikir apakah itu pendapat ataukah kebenaran? Adakah perkecualiannya? Pria yang manis dan tidak seperti apa yang mereka katakan?

Baca buku ini aku ga terlalu dapat apa-apa selain rasa sebal, serupa dengan salah satu buku karya penulis pria yang juga pernah kuulas di blog ini.



Review Buku "Unlock It"

 

Buku "Unlock It" ini adalah karya Dan Lok.

Aku mendapatkannya karena aku sempat mengikutinya secara khusus.

Buku ini dibuka dengan kisah perjalanan Dan Lok menuju sukses. Kalau kamu juga pernah mengikuti dia sepertiku, kamu mungkin sudah tak asing dengan cerita-cerita tersebut. Dia sudah pernah menceritakannya di medsosnya ataupun melalui newsletter email.

Saat aku membaca bukunya, nyata banget terlihat kepiawaiannya dalam bermain kata. Cocok dengan backgroundnya sebagai high income copywriter. Isinya itu tap tap tap, poin demi poin langsung dibahas dengan jelas (clear), cenderung daging semua tapi tetep enak dibaca. 

Jadi, dia itu menggabungkan pengalaman bisnisnya dengan kelihaian menulisnya. Dia langsung membahas hal-hal penting dalam bisnis dan mitos-mitos/kesalahan-kesalahan umum para pebisnis pemula.

Tak terkecuali diriku, pernah melakukan banyak sekali kesalahan yang disebut di dalamnya. Andai saja aku mengetahuinya lebih awal, tentu banyak kebodohan dan kerugian yang bisa kuhindari. Yah, begitulah, di tengah derasnya arus informasi, setiap orang berbicara, dan aku bingung mana yang benar. Juga, mana yang manjur/cocok untukku. Itu membutuhkan keahlian tersendiri untuk memilahnya.

Buku ini dibagi dalam beberapa bab. Menariknya, bab 4 tidak ada (dikosongi), karena menurut budaya Cina angka 4 itu membawa kesialan. Artinya, Dan Lok masih percaya hal-hal seperti itu.

Membaca bagian awalnya membuatku mendapat banyak insight/pemahaman baru. Rasanya pikiranku jadi lebih terbuka. Di antara buku bisnis yang efeknya seperti ini adalah bukunya Harv Eker. Aku lupa judulnya, tapi tentang miliuner-miliuner gitu deh. Aku pernah baca 2 buku Harv Eker semuanya bagus, itu isinya prinsip-prinsip dalam berbisnis/menjadi miliuner, seperti buku Dan Lok ini.


Setelah bagian sejarah Dan Lok hingga menjadi miliuner, bagian tengah buku ini berisi kesalahan-kesalahan umum pebisnis pemula, diikuti dengan adopsi teknik dari buku-buku/ahli-ahli lain yang sudah dipersonalisasi dikit-dikit (diubah menjadi ala Dan Lok). Kemudian ada bagian yang berisi kategori-kategori umum masyarakat dalam bekerja/mencari uang. Kamu disuruh melakukan refleksi diri termasuk yang mana. Setelahnya adalah solusi dari masing-masing kategori tersebut, dan ditutup dengan mengulas teknik menjual tiket-tiket mahal secara lumayan mendalam. 

Buku "Unlock" ini dibagi dalam poin-poin yang enak untuk daya konsentrasi otak (sesuai dengan durasi kemampuan otak dalam berkonsentrasi), meskipun bisa makin nyaman lagi dibaca kalau jenis font-nya mungkin diganti dengan yang lebih enak dibaca. 

Bagian awal sampai tengah itu mudah dipahami, sedangkan bagian akhir (solusi sampai teknik menjual tiket-tiket mahal) itu kurang mampu kupahami.

Secara keahlian menulis, tulisan-tulisan di dalam buku ini sebenarnya halus, tetapi muatannya kasar. Pada beberapa bagian terdapat kata-kata yang kurang santun.

Jadi, buku ini aslinya bagus tapi banyak bagian yang kurang kupahami dan memuat beberapa kata yang kurang santun.

Emang Masih Bisa Punya Anak?

 Zaman dulu wanita itu dianggap tidak berharga. Anak-anak wanita dibunuh, wanita-wanita dijadikan budak, dll. Lalu Islam hadir untuk mengangkat harkat dan martabat kaum wanita, membuatnya diperlakukan layak.

Akan tetapi, makin ke sini makin banyak penyelewengan yang terjadi, yang dilakukan oleh individu-individunya tetapi mencoreng Islam atau membawa-bawa nama Islam.

Ada wanita yang tak bisa punya anak

Ada wanita yang lambat punya anak

Ada wanita yang anaknya cuma sedikit

Ada wanita yang anaknya cuma 1 cepat mati pula

Ada wanita yang punya beberapa anak tetapi mati semua kecuali 1

Dll. Nasibnya beda2 terkait anak.

Kisah wanita sebagai pembawa rahim dan terkadang janin juga begitu beraneka rupa.

Mulai dari masalah virginitas, kaum kamilah yang lebih disorot karena konon lebih terlihat dan karena kesakralan/kesucian itu seperti hanya aturan untuk kaum kami.

Lalu tentang kemandulan atau kesuburan, lagi-lagi kami yang disorot duluan dan mungkin juga satu-satunya yang disorot.

Lihat betapa banyaknya bapak-bapak yang enggan periksa kalau ada masalah k*lamin atau reproduksi. Seolah hanya dirinya yang malu dan ibu-ibu tidak. Seolah pasti penyebab penyakit atau kemandulannya ada pada istrinya.

Sampai pada masalah pemilihan jodoh dan masalah ranjang pun lagi-lagi wanita/istri yang diubek-ubek.

Sampai-sampai ada ceramah ustaz yang bilang dengan kasarnya (baik secara intonasi maupun isi), "Istri itu harus seperti p*lacur (saat melayani suaminya)".

Segitunya dia ngarep/berfantasi tentang wanita sampai nyama-nyamain istri dengan p*lacur. 

Aku marah. Dia tak pantas jadi ustaz jika bermulut seperti itu.

Siapa yang peduli tentang kenikmatan/kepuasan istri? Semua yang dibesar-besarkan adalah tentang suami.

Yang kalo suami pengen istri harus mau.

Yang kalo habis marahan berdamainya dengan cara ML dengan suami

Dll yang isinya cuma perintah. Dan suami lagi suami lagi.

Kalau kamu ngikuti status or artikel-artikelku aku mungkin terlihat menentang Islam. Padahal, aku menentang ajaran ustaz/ustazahnya.

Hanya jika orang mempersepsikan ustaz/ustazah = Islam, pasti melihatku seperti menentang Islam.

Suatu hari aku nyetatus tentang ketidakadilan urusan ranjang itu dan beberapa suami orang mengolok-olok. 

Heran deh, betapa banyak orang yang nggak paham dengan hal mudah semacam itu? Or sengaja nggak mau tau?

Bagiku ya, ibadah itu bukan berarti nggak bisa dinikmati atau nggak boleh dapat bagian dunia juga. Seperti s*ks misalnya, itu masalah yang sakral. Harusnya bisa sama-sama puas, sama-sama pengen karena nyenengin, enak, or apa pun istilahmu. Bukan sekadar kewajiban, beban, sedang jadwalnya, dll yang intinya males-malesin dan bikin kepaksa banget.

Masalah kepuasan or cocok-cocokan s*ksual ini bahkan sering dijadikan alasan bagi orang-orang bule untuk icip-icip sebelum menikah.

Siapa yang menang? Tentu yang sudah expert toh. Yang jam terbangnya tinggi.

Seorang cewek bule bahkan pernah sangat desperate-nya dalam mencari jodoh sampai-sampai nyasar ke guru yang amburadul, yang mengajarkan menggaet cowok dengan s*ks dan berbagai kiat s*ks yang jos gandoz.

Kesolehan mana kesolehan. Suatu kata religius yang sering dijadikan jualannya para pencari jodoh. Padahal, yang diubek-ubek sekitar penampilan, kehamilan, dan selangkangan. Dan seolah-olah semua cowok itu pasti subur dan pasti jago s*ksnya, juga pasti lebih tinggi libidonya dari cewek.

Suatu hari aku membaca ada kriteria cowok yang unik, mencari yang haidnya lancar.

Trus aku lihat apanya dong? Yang mimpi basahnya lancar dan teratur gitu?

Hahaha ya ampun.

Nasib cewek ya, kalau dianggap kurang hot, kalau sakit/nggak bisa melayani, kalau nggak bisa punya anak suaminya mikirnya poligami. Sementara jika sebaliknya suami yang gitu istrinya dituntut setia.

Buanyak banget cowok keweden (ketakutan) ditinggal istrinya kalo dirinya sedang susah/di bawah, tapi kalo fine-fine aja kenapa kok jadi belagu gitu. Nyari-nyari masalah.

Oke oke udah deh basa-basinya.

Aku mo cerita betapa mirisnya kaum wanita yang hanya dinilai sebatas s*ks dan peranakan/rahim. Aisyah saja tidak punya anak dan siapa yang meragukan beliau sebagai salah satu wanita terbaik. 

Kalau kamu wanita dan sudah berusia kepala 3 atau 4 bersiaplah untuk semakin dilecehkan termasuk terkait masalah anak ini. Emang masih bisa punya anak? 

Tekanan untuk punya anak pada wanita ini kemudian menyebabkan beberapa hal berikut terjadi:

1. Agar punya anak, ada wanita yang berhubungan s*ks sebanyak-banyaknya

Ada seperti ini di luar negeri. Saat masih bisa punya anak mereka punya anak dulu, walaupun belum ketemu jodohnya/belum nikah, kuatir besok-besok nggak bisa punya anak kalau menikahnya terlambat. Yang penting punya anak dulu.

2. Dites oleh pria bisa punya anak apa nggak (dibuat modus/percobaan icip-icip)

3. Menikah sembarangan, yang penting nikah,

4. Penghinaan/abuse terhadap wanita yang belum nikah setelah mencapai usia tertentu,

5. Dianggap hanya layak untuk duda atau dipoligami atau mbah2.

6. Sebagian wanita barat/bule menyimpan sel telurnya di bank sperma dan sel telur agar jika suatu saat ketemu jodoh mereka masih bisa punya anak.

Kesolehan mana kesolehan. Saat pria-pria yang ngomongin agama dengan mulut "berbusa-busa" kutanya "Kamu punya kriteria umur dan lokasi tidak?" (Yang jelas2 aku tau nggak ada kriteria gitu di profilnya) kebanyakan mundur walau tidak tau aku soleh atau tidak, cantik atau tidak, dll. 

Yah intinya hidupmu akan penuh drama kalo nikah sama cowok yang nyari s*ks atau anak doang. Nggak mikirin kamu.

Ntar dituntut punya anak seolah dia doang yang pengen anak/menanti kehadiran Si Buah Hati.

Ntar kita doang yang diubek2 dengan proses or terapi ini itu biar punya anak, biar servisnya hebat, dll.

Ntar kita akan dituntut punya anak dengan jenis kelamin tertentu atau jumlah tertentu. Dll.

Ups, aku jadi ingat pernah punya kenalan cowok yang kurang ajar banget. Baru pada chat pertama itu udah bilang gini "Aku pengen punya anak 11 laki semua. Nanti aku mo bikin kesebelasan."

Aku nyengir. "Busyet dah, manak'o dewe."

Emang kita bisa nentuin/mastiin anak kita berapa, jenis kelaminnya apa, dll? Emang kita Tuhan?

Semua ditentuin sendiri lho. Nggak mikir pasangannya. Eits, enak aja pasangan, baru juga ngobrol sekali itu kok. Ogah gua punya pasangan kek gitu.

Wis talah pokok'e pinter2 ae milih bojo. Jangan sampai kita dianggap sebagai pemuas nafsu (ngecas doang) or peternakan. 

 

NB: Siapa yg suka jualan kata2 "pacaran sesudah nikah?" Pacaran tuh enak sama2 bukan lu doang. Buktiin dong. 



Review Buku "Love Yourself, Pay Yourself First"



Love Yourself, Pay Yourself First. Wah, saya beneran ketipu lho sama judulnya. Gara-garanya itu saya pernah membaca pernyataan serupa tetapi dengan konteks yang berbeda. Di dalam buku yang dulu saya baca itu, pokoknya kita harus bersikap kaya. Setiap mendapat pemasukan, kita menggaji diri kita dulu. Diseneng-senengin. Beli apa yang kita pengen. Nggak boleh ngitung uang sebelum beli, itu kerjaan orang miskin. Semacam itu.

Nah, ternyata buku Love Yourself, Pay Yourself First ini isinya beda jaaauuuuh. Buku ini itu tentang cara mencari dan mengelola uang, tetapi hanya secara garis besar, misalnya tentang mindset-mindsetnya, motivasi-motivasi, faktor pendukung dan penghambat, serta prinsip-prinsipnya.

Kalau kamu cari panduan yang detail step by step, buku ini kurang cocok. Ini lebih general/umum dan jumlah halamannya sedikit. 

Buku ini layout-nya lumayan bikin enak dibaca dan cara menulisnya itu halus. Dia punya keahlian bertutur yang baik. Meskipun secara isi/muatan masih termasuk keras. 

Penulisnya itu praktisi, tepatnya seorang dokter. Dia mengajarkan apa yang berhasil bagi dirinya kepada orang lain. Pendek kata, dia membocorkan rahasianya. 

Seperti apa tuh rahasianya? Baca sendiri ya bukunya.

Dilema Anti Utang Bank

Katanya nih ya utang bank atau kredit yang berbunga itu riba. Trus cara-cara memiliki rumah dengan kredit juga riba katanya.

Saya pernah bahas pada artikel lain, kadang itu bukan tentang orang nggak mau patuh pada aturannya, tapi berilah solusinya.

Trus ada yang jawab, "Percaya aja sama Allah."

Eits tunggu dulu, Allah mengajarkan kita bahwa percaya itu ada usahanya juga. Mau itu berupa doa kek, usaha apa kek, dan semacamnya. Nggak "males" tapi berdalih "percaya".

Burung dicontohkan sebagai makhluk yang tawakkal, tapi dia nggak diem doang kan? Dia terbang kesana-kemari mengikhtiarkan rezekinya. Begitupun kisah unta yang ditinggal sholat (kalau ga salah), harus diikat dulu dan diikhtiarkan keamanannya sebaik mungkin sebelum ditinggal sholat.

Kembali ke masalah utang ya, coba pikirkan, kalau orang nggak boleh utang ke bank trus utang ke siapa? 

Alternatifnya ya keluarga, saudara, teman, tetangga, gitu-gitu kan?

Sekarang pernah nggak kamu ngalami atau nemuin ada orang satuuu aja utang terus ke kamu? Ditutup bentar utang lagi, ditutup bentar utang lagi, atau malah nambah terus dan minta perpanjangan tempo. Atau, apesnya lagi, malah nggak bayar, sok lupa, dan marah-marah bin galak kalau ditagih. 

Pernah gak ngalamin atau nemuin?

Abis orang itu lunas pun, gantian yang lain ngutang. 

Atau yang lebih parah lagi, banyak orang rombongan pada utang ma dia. Ada lho ini. Yang ngutang itu galak kalo nggak diutangi, sedangkan yang ngutangi itu juga orang yang nggak enakan dan sulit berkata "tidak". Lumayan terintimidasi juga.

Banyak orang langganan utang sama dia dan besar-besar utangnya. Sampai-sampai yang punya uang itu takut kelihatan punya uang banyak, nanti semakin diutang.

Ini yang perlu kalian pikirkan juga ya, cz kisah itu nyata ada di sekitar kita.

Okelah kalian bilang haram atau melarang sesuatu tetapi beri solusinya juga, jangan malah menyusahkan atau menjadi parasit bagi orang lain.

Dengan begitu perintah tersebut bisa lebih dipatuhi tanpa harus menyusahkan orang lain.


9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda


9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda

Acara sudah saatnya dimulai, tetapi banyak peserta terlambat. Anehnya, yang terlambat malah peserta dari sekitar Surabaya, tak bisa dibandingkan dengan pria tua di sebelah saya. Bapak itu datang sangat pagi dari Malang ke Surabaya. Berangkat Subuh katanya, masih dengan semangat 45 ingin menimba ilmu kepenulisan yang diadakan Harian Surya. Ia menyapaku ramah dan kami pun bertukar cerita. “Saya penulis, Pak,” kataku. Lalu kutuliskan salah satu blogku sesuai permintaannya. “Wow, sudah dot com!” serunya takjub. Begitupun saya, tak kalah terkejutnya. Begitu dahsyat peran dot com di matanya.


9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda


Orang-orang mengenal .com sebagai Top Level Domain (TLD). Domain adalah lokasi situs web. Domain berbeda dengan url. Misalnya untuk blog saya, nama domainnya Cerahdanmencerahkan.com, sedangkan url/alamat webnya Http://www.cerahdanmencerahkan.com/ (alamat lama, yang baru sudah ganti).

Nama domain terdiri dari 2, yaitu SLD (Second Level Domain) dan TLD (Top Level Domain). Dalam blog saya, SLD-nya adalah Cerahdanmencerahkan dan TLD-nya adalah .com. TLD tidak hanya .com, bisa .id, .net, .org, .top, .xyz, atau lainnya.

Menentukan domain merupakan langkah awal dalam menyiapkan blog atau situs web. Domain yang tepat sangat menentukan kesuksesan blog, web, atau bisnis Anda. 


9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda

Setidaknya terdapat 16 cara untuk menemukan domain yang tepat, yaitu sebagai berikut:

1. Sesuaikan nama domain dengan nama blog dan bisnis, perusahaan, merek, atau nama Anda


Ketidaksesuaian di antara mereka bisa membuat pengunjung melupakan domain Anda atau menurunkan lalu lintas ke situs tersebut. 

Misalnya:
Amazon.com (domain) adalah Amazon (merek).
PaulaSilviana.com (domain) adalah Paula Silviana (pemilik/pebisnis)

Penggunaan merek atau nama adalah tergantung model bisnis Anda. Saya mendapati banyak penulis luar negeri menggunakan domain nama. Jika Anda penulis, Anda bisa mempertimbangkan untuk memakainya juga.

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan nama domain yang deskriptif konten, walaupun agak panjang. Jika blog Anda tentang pelatihan anjing, maka nama domain seperti "HowToTrainYourDog.com" dapat digunakan karena langsung bisa menunjukkan isi dari blog/website tersebut.

2. Pikirkan lokasi pelanggan sebelum memilih ekstensi/TLD


Ekstensi/TLD dot com merupakan pilihan tepat jika Anda menyasar seluruh dunia. Tapi jika Anda hanya menyasar satu negara, ekstensi terbaik untuk negara itu bisa juga dipilih. Meski demikian, orang sudah terlanjur familiar dengan .com dan cenderung lupa ekstensi lain. Selain itu, ekstensi .com merupakan ekstensi terpopuler dan perangkat seluler pun memberi tombol khusus .com pada keyboardnya. Oleh karena itu, jadikan .com sebagai pilihan utama.

3. Buatlah sesingkat mungkin dan mudah 

    diingat


Domain pendek memudahkan diingat, melapangkan ruang bagi judul postingan (domain panjang dapat mengurangi jumlah karakter yang bisa ditulis pada judul), dan mendukung SEO. Ia dapat memperluas url sehingga mudah ditemukan di halaman hasil mesin pencari (SERP) dan otomatis meningkatkan peringkat situs Anda. Hanya jika nama yang Anda inginkan sudah tidak tersedia, terpaksa Anda harus membuatnya agak panjang.

4. Hindari tanda hubung, angka, dan 

    semacamnya


Selain sulit diingat, pengunjung cenderung lupa untuk mengetikkan tanda hubung dan angka tersebut. Dan jika mereka mengetikkan domain tanpa tanda hubung, mereka bisa tersesat ke situs lain. Parahnya lagi, domain dengan tanda hubung sering digunakan oleh situs spam sehingga reputasinya buruk. Sedangkan domain dengan angka dapat membingungkan pengunjung, karena harus menuliskan angkanya dalam bentuk bilangan atau huruf.

Misalnya:
Beauty4u.com atau Beautyforyou? (membingungkan pengunjung)
Peluang-bisnis.com

5. Waspada domain bermakna ganda


Misalnya: 
Kidsexchange (pertukaran anak)

6. Jangan gunakan kata kunci pencarian


Kata kunci biasanya tidak bermerek, tidak bisa diperluas, dan sudah tidak mendukung SEO. Menyesuaikan nama domain untuk SEO sudah tidak sepenting dulu lagi sejak Google mengubah algoritmanya pada 2012.

7. Cek domain TLD lainnya


Misalkan Anda menginginkan domain Peluangbisnis.com, cobalah untuk mengecek Peluangbisnis.id, Peluangbisnis.net, atau lainnya. Karena jika orang lupa domain TLD Anda, mereka bisa masuk ke domain pesaing dan akan merugikan Anda.

8. Hindari homofon


Homofon adalah kata-kata yang terdengar sama tetapi ejaan dan maknanya berbeda. Kasus ini pernah menimpa bisnis suku cadang mobil bernama Performance Won. Pemiliknya harus terus-menerus memberi tahu orang-orang bahwa itu dieja “menang”, dan bukan “satu”.

9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda

9. Periksa situs media sosial


Untuk meningkatkan pengenalan merek, gunakan nama yang sama antara domain dan medsos.

10. Hindari menggantikan kata dengan huruf


Misalnya huruf “u” untuk “kamu” pada beauty4u.com. Selain membingungkan pengunjung, ia juga dapat menyesatkan pengunjung ke situs lain.

11. Hindari Strings of Letters/serangkaian 

      huruf yang sama


Misalnya FlossString.com. (huruf “s”-nya berderet tiga)

12. Hindari klaim


Ada kata-kata yang dilarang digunakan, misalnya “treat”, mengobati, atau menyembuhkan.

13. Pilih nama domain yang tak terbatas waktu

Jika nama domain Anda berhubungan dengan tren sedangkan trennya sudah berakhir, maka bisnis Anda juga dapat memburuk.

14. Pilih nama domain yang dapat diperluas


Karena topik populer dan minat kita sebagai blogger/pebisnis bisa berubah.

15. Pilih nama domain yang dapat ditransfer


Domain yang dapat ditransfer memungkinkan orang lain mengambil alih jika terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Selain itu, domain yang dapat ditransfer penting bagi Anda yang berniat membangun situs dan menjualnya.

16. Pastikan nama domain bebas masalah


Misalnya terkait konflik hukum, daftar hitam, dan hukuman Google. Periksalah riwayat url, jangan sampai pernah digunakan di masa lalu, memiliki tautan dari situs lain, atau bereputasi buruk. Url yang buruk dapat merusak reputasi Anda dan peringkat situs Anda.
Cek calon url Anda di archive.org atau ahrefs.com untuk mengetahuinya.



9 Cara Domain Membangun Personal Branding Anda

 Sudah menemukan nama domain yang tepat? Segera daftarkan sebelum nama itu diambil orang.