|
| Cover buku The cartoon introduction to economics (Microeconomics) |
Ternyata Kartun Tak Selamanya Mudah
Aku baca buku The Cartoon Introduction to Economics (Microeconomics) karena mengikuti saran dari The Almanack of Naval Ravikant untuk mempelajari mikroekonomi. Meski sudah diajari ekonomi di sekolah, tapi aku tidak tahu banyak mana yang makroekonomi dan mana yang mikroekonomi. Aku baru punya gambaran jelas ketika membaca buku ini.
Buku ini kupilih dari beberapa buku mikroekonomi yang pernah kuintip. Karena formatnya kartun, aku berharap materinya lebih mudah dipahami. Buku-buku teks lain banyak yang kututup lagi karena malas membacanya—entah karena tata letaknya yang membosankan atau penjelasannya yang memang rumit.
Terus terang, saat menemukan buku ini aku sangat senang. Harapannya, format visual bisa membantu mencerna teori-teori berat. Awalnya memang terasa mudah, tapi lama-kelamaan materinya tetap terasa sulit untuk diikuti.
Aslinya, buku ini berisi semacam kesimpulan atau intisari dari mikroekonomi yang dialihkan ke bentuk kartun. Jumlah halamannya sekitar 450-an, tapi banyak bagian yang kosong, jadi sebenarnya tidak semenakutkan kelihatannya.
Apa yang dipelajari?
Ternyata sebagian materi sudah ada di pelajaran SMA dulu, meski ingatanku sudah samar, seperti:
- Kurva permintaan dan penawaran
- Kesetimbangan kurva
- Pergeseran kurva, dan lain-lain.
Ada bagian yang langsung kupahami intinya, ada yang sekadar paham maksudnya tapi bingung cara menerapkannya, dan ada juga yang tidak paham sama sekali. Meskipun berbentuk kartun, materi ini tetap menantang. Sebagian bisa kupahami dengan mudah, sebagian lagi harus kupikirkan matang-matang atau bertanya ke AI baru mengerti.
Buku dibuka dengan pengertian mikroekonomi. Mikroekonomi menjelaskan bahwa masing-masing manusia adalah optimizing individual (ingin mengoptimalkan perolehannya) dan transaksi yang terjadi di antara mereka. Mikroekonomi mengatur agar setiap individu mencapai titik optimal yang adil—bukan satu pihak puas sementara yang lain tidak kebagian. Paling tidak, jika satu kondisi membaik, pihak lain tetap stabil tanpa ada yang dirugikan.
Dalam upaya optimasi ini, muncullah transaksi, barter, atau lelang. Karena masing-masing pihak tidak mau rugi, penawaran akan selalu menuju titik seimbang. Penjual dan pembeli akan menghitung keuntungan marginal dibanding biaya marginalnya. Selain itu, ada pembahasan game theory, yaitu menduga langkah "lawan". Semakin ada asimetri pengetahuan (informasi yang tidak diketahui lawan), semakin posisi kita menguntungkan.
Di dalam transaksi tersebut, terdapat pula peran pajak pemerintah. Namun prinsip dasar tetap sama: kurva akan mencari kesetimbangan. Mau pajak dibebankan ke pembeli atau penjual, pada akhirnya pajak tersebut ditanggung bersama oleh keduanya, hanya proporsinya saja yang berbeda.
Kenapa Buku ini Berat?
Meskipun formatnya kartun, buku ini tetap terasa berat. Aku tidak yakin orang awam tanpa dasar ekonomi bisa memahaminya dengan mudah. Gambarnya sangat kompleks; jika dalam tulisan satu paragraf mewakili satu ide, di buku ini satu gambar terasa memuat terlalu banyak pokok pikiran sekaligus.
Selain itu, banyak noise atau elemen visual pengganggu yang tidak penting. Format halaman yang selang-seling (satu halaman bergambar, halaman berikutnya kosong) juga sangat mengganggu alur belajar. Rasanya boros energi untuk memahaminya, sehingga aku memutuskan untuk tidak menyelesaikannya meski sudah membaca hampir 400 halaman.
Kesimpulan
Intinya, aku tetap kesulitan memahami mikroekonomi sepenuhnya dari buku ini. Aku masih ingin mencari referensi lain yang mungkin penjelasannya jauh lebih sederhana dan efektif daripada format kartun yang kompleks ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.