27 Februari 2026

Tentang Seragam, Sarimbit, dan Perasaan yang Tak Pernah Kita Bahas

 

Pakai sarimbit sekeluarga
Sekeluarga memakai sarimbit


Semasa sekolah kita dulu selalu berseragam. Setidaknya, dari SD sampai SMA. Mau itu untuk seragam harian, seragam olahraga, seragam batik, atau apa pun. Lama sekali aku mempercayai bahwa seragam itu sepenuhnya baik, terutama biar nggak jor-joran. Yang memang jujur saja, pasti ada orang/anak itu yang ingin tampak lebih wah dari orang atau anak lainnya, sehingga memakai baju dan aksesoris berlebihan atau bahkan kurang sesuai dengan tatanan/aturan.

 

Pada situasi lain, aku berpikir seragam kadang bagus juga untuk rekreasi atau kunjungan ke resepsi orang "luar" atau acara luar yang ramai, terutama kalau ada bocilnya. Sebagai penanda tentunya, biar bocil dan anggota grup nggak mudah hilang atau mudah ditemukan.

 

Tapi, perasaan dan pikiranku berubah ketika memakai sarimbit menjadi tren ketika bertamu ke rumah keluarga besar sendiri. Tiba-tiba muncul perasaan "Ini keluarga kami (memakai sarimbit), dan itu keluarga luar/orang asing," tidak lagi "Ini keluarga besar kami", saat berfoto.

Foto yang tadinya membaur semua menjadi satu (ini keluarga besar kami), menjadi "ini keluargaku" dan "itu keluargamu". Apalagi ketika selera warna atau pakaian kami berbeda. Foto menjadi sangat tidak harmonis penampakannya. Ya, kamu benar, aku mengatakan, meskipun tanpa sarimbit, kami berada dalam "kekacauan yang harmonis" dalam sebuah foto. Sebaliknya, dengan sarimbit, kami menjadi "excluded"/alienasi.

Kesanku dulu bahwa sarimbit hanya tentang kekompakan, untuk memudahkan mencari, atau biar gak mudah hilang, sirna seketika.

 

Begitupun ketika ada momen jantung sehat di kampungku, di mana masing-masing RT inisiatif sendiri membuat grup seragam khusus untuk RT-nya. Dengar yang satu bikin, yang lain ikut bikin, dan mungkin mencoba bikin yang lebih bagus/wah. Aku melihatnya seperti bersatu tetapi tidak bersatu. Ini momen kampung tetapi menjadi momen kumpulan "individu RT", RT demi RT masih terpisah, hanya raganya yang berkumpul.


Akhirnya, lagi-lagi aku kembali pada kesimpulanku. Banyak hal atau malah mungkin semua hal, punya 2 sisi, positif maupun negatif. 

Kalau kita sedang bertanding dengan sekolah lain, tentu kita butuh pembeda/seragam yang beda. Tanding dengan kampung lain juga gitu.

Tapi ketika momen berada di kampung sendiri, itu agak gak cocok sih menurutku, kalau tidak tentang konteks tanding.

Begitupun tentang sarimbit/seragam, lebih cocok dipakai untuk outdoor (luar ruangan), di tengah kerumunan banyak orang, atau di tempat yang jauh/asing, dan dengan tingkat kekerabatan yang jauh/konteks acara tidak tentang kebersamaan. 


Seragam, termasuk sarimbit, tidak hanya bisa menyatukan atau menjadi pembeda dalam konteks sehat, tetapi bisa juga menjadi alat pemecah/alienasi/excluded orang lain atau kelompok lain. Miris ya?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.