Enak Zamanku, tho: Ironi Hilangnya Ruang Bermain Anak Zaman Now


Enak Zamanku, Tho: Ironi Hilangnya Ruang Bermain Anak Zaman Now

(Gb. Anak-anak sedang bermain lompat tali dengan riang)

 

Tak seindah zamanku

 
Begitu kesan awalku saat melihat postingan-postingan itu, postingan tentang menjamurnya tempat bermain buatan. Rasanya, aku ikut merasakan kepedihan untuk kalian, anak-anak zaman sekarang.
 
Bukan, ini bukan tentang celetukan pak Harto. Ini tentang hiburan bagi anak-anak masa kini, yang semakin menjadi kemewahan.


Menjamurnya Tempat Rekreasi Anak

 
Postingan yang kumaksud itu adalah tentang menjamurnya tempat rekreasi anak. Begitu aku ngintip tentang hiburan dan rekreasi, algoritma langsung menjejaliku dengan aneka tempat hiburan dan rekreasi. Bagus memang, dari yang indoor di mall-mall, sampai dengan wisata outdoor berupa petualangan dan lainnya. Tak ketinggalan, hewan-hewan pun kadang ikut pindah juga ke dalam mall.


Main Indoor di Mall

 
Permainan anak kini tak lagi sebagai hiburan yang merakyat: harus bayar, jauh, dengan orang asing, dan kalangan terbatas.

Secara pribadi, sebagai introvert aku melihatnya sebagai tempat hiburan yang ga jelas konteksnya atau target sasarannya. Di mall itu riuh dengan suara dan sensorik ala ekstrovert, tetapi mainnya "sendiri-sendiri" ala introvert. Keduanya mungkin nggak sepenuhnya puas atau nyaman.

Anak-anak bebas, tetapi "terkurung" oleh dinding-dinding beton. Tak bisa puas berlari, menyerap energi tumbuhan dan alam, atau bermandi matahari, untuk kecukupan vitamin D yang lebih baik.


Ketika Ruang Bermain Menjadi Sebuah Privilese

 
Orang dewasa sering kali menganggap hidupnya yang paling susah. Akan tetapi, anak-anak zaman sekarang pun bahkan sejak kecil kebebasan bermainnya sudah diganti HP. Lapangannya sudah direnggut jadi tempat parkir atau lainnya. Bahkan, jalan-jalan rumahnya juga diserobot oleh orang-orang yang mengaku kaya (tetapi tak mampu membeli lahan parkirnya sendiri). Lahan gratisan anak telah terampas, lalu digantikan oleh tempat-tempat bermain lain yang harus berbayar (komersial). Sungguh tidak adil.


Dunia Maya Menjadi Satu-satunya Opsi yang Tersisa

 
Mungkin bagi Gen Z dan generasi setelahnya, dunia maya bukanlah sebuah pilihan, melainkan satu-satunya ruang yang tersisa. Ya, zaman memang semakin canggih dengan munculnya AI dan teknologi modern lainnya, tetapi dunia kanak-kanak mereka telah digeser dan dipepet hingga seukuran layar saja.

Mau Facebook-an, TikTok-an, berinteraksi dengan AI, atau main gim, terserah saja—asal tetap di dalam layar. Pilihannya hanya dua: yang sukses mungkin akan menjadi ahli IT, sementara yang kurang beruntung hanya berakhir menjadi "ahli" media sosial yang terjebak membuang-buang waktu. Jadi, kenapa kita masih heran melihat Indonesia menjadi salah satu pengguna medsos dengan durasi terpanjang di dunia? Wong pilihannya memang cuma itu.

Dunia mereka dipepet sebatas layar. Lapangan jadi parkiran. Gang depan rumah diserobot mobil tetangga yang nggak punya garasi. Anak-anak butuh ruang publik di depan matanya, bukan yang jauh di alun-alun atau harus bayar di mall dan tempat wisata. Karena ruang fisik dirampas, mereka lari ke HP. Di sana, mereka malah dikepung j*dol dan p*rnografi. Jangan salahkan anaknya kecanduan layar kalau pilihannya memang cuma itu.


Sudah Hiburan Tinggal HP, Isinya "Racun" Pula

 
Dulu, telinga kita dimanjakan dengan lagu-lagu yang memang ditulis untuk usia kita—tentang pelangi, menanam jagung, atau kasih ibu. Sekarang? Lagu anak-anak menjadi barang langka. Di platform digital, anak-anak justru lebih hafal lirik lagu dewasa tentang pengkhianatan dan cinta yang toksik hanya karena itu yang sedang trending.

Begitu pula dengan tontonan. Film yang benar-benar "sehat" tenggelam oleh konten viral yang hanya mengejar viewers. Bahkan, ruang aman terakhir seperti gim pun mulai terkontaminasi. Tak jarang, gim yang tampilannya tampak lucu justru disusupi iklan atau visual yang vulgar, menjurus ke p*rnografi. Itu belum termasuk jebakan j*di online (j*dol) yang juga menyasar rasa penasaran mereka.

Anak-anak kita dipaksa dewasa sebelum waktunya oleh algoritma. Mereka kehilangan idola yang seumuran, kehilangan narasi yang polos, dan akhirnya kehilangan imajinasi masa kecil yang murni.



Anak-Anak yang Dikambinghitamkan

 
Sakitnya, saat perilaku anak-anak ini berubah akibat paparan konten tersebut, masyarakat justru dengan cepat menyalahkan mereka. Kita menyebut mereka "generasi manja" atau "generasi rusak," padahal dunia hanya menyajikan itu sebagai pilihan tunggal.

Mereka terkepung oleh algoritma yang rakus akan waktu perhatian. Belum lagi ancaman judi online yang kini menyamar dengan sangat rapi, menyasar rasa penasaran mereka melalui iklan-iklan yang sulit dikendalikan. Bagaimana kita bisa mengharapkan pertumbuhan yang sehat jika lingkungan digital mereka sudah dirancang menjadi jebakan batman sejak dini? Anak-anak kita bukan tidak bisa memilih, mereka hanya tidak diberi pilihan yang layak.


Bahkan, Bermain pun Harus Sambil Belajar

 
Di tengah kepungan ini, muncul fenomena yang ironis: label "Belajar Sambil Bermain" kini menjadi satu-satunya celah bagi anak untuk mendapatkan kembali hak geraknya. Ini adalah bentuk kerinduan yang disamarkan. Karena ruang untuk "main murni" tanpa beban sudah habis dirampas, anak-anak terpaksa menggunakan modus belajar agar tetap diizinkan keluar dari layar.

Mereka rela dibebani target akademis, membawa buku catatan ke taman, atau mengikuti instruksi kurikulum yang kaku, asalkan bisa mencium bau rumput dan merasakan sinar matahari. Menyedihkan memang, ketika seorang anak harus punya alasan untuk "menjadi pintar" hanya agar diizinkan untuk "menjadi bahagia". Ini bukan lagi bermain, ini adalah upaya bertahan hidup dari rasa lapar sensorik yang akut.

Yang lebih miris lagi, bukan hanya ruang bermainnya yang tidak ada, bermain itu sendiri pun harus sambil belajar. Sudah di kelas mereka dipaksa belajar sambil bermain (dengan games), di luar sekolah pun saat bermain harus tetap belajar. Bermain, benar-benar telah menjadi suatu kemewahan.

Seolah kita sudah dipaksa untuk "produktif" sejak kecil, atau menjadi bersalah jika bermain ya hanya bermain- sepenuhnya dinikmati untuk rileks dan bahagia.
  1. "Bermain" yang Memakai Topeng: Bagi banyak anak, "Belajar Sambil Bermain" adalah modus agar mereka bisa mendapatkan kembali hak gerak mereka tanpa merasa bersalah.
  • Dulu: Main ya main saja, tujuannya bahagia.
  • Sekarang: Main harus ada "output"-nya (biar pintar, biar tahu sejarah, biar tahu sains). Ini adalah bentuk kompromi. Karena kalau "cuma main", sering dianggap buang-buang waktu oleh orang dewasa yang sudah terobsesi dengan produktivitas.
 
2. Upaya "Melegalkan" Kebebasan: Anak-anak (dan pendidik yang peduli) menggunakan label ini untuk merebut kembali ruang fisik. 
 
Contoh:
  • Field Trip ke taman nasional atau museum sebenarnya adalah cara anak-anak untuk bisa menghirup udara luar dan berlari, meskipun harus sambil bawa buku catatan.
  • Gim Edukasi adalah cara mereka bisa merasakan sensasi gaming tanpa dimarahi karena dianggap sedang "belajar".
  • Belajar di kelas dengan permainan 
3. Gejala "Haus Sensorik": Kerinduan itu nyata karena manusia butuh stimulasi fisik. Ketika anak-anak begitu antusias dengan metode "belajar sambil bermain" yang melibatkan fisik (seperti eksperimen sains luar ruangan atau outbound), itu sebenarnya sinyal bahwa mereka sedang lapar sensorik. Mereka rindu menyentuh tanah, mencium bau rumput, dan merasakan sinar matahari—hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh layar 6 inci.

 

Ruang Bebas di Zamanku Dulu

 
Berbeda dengan mereka, di zamanku dulu masih tersedia banyak opsi dan kebebasan. Mau main di dalam atau di luar rumah bisa dipilih sendiri, dan semuanya gratis. Permainannya pun beragam; bisa berdua atau beramai-ramai. Ada yang aktif seperti bentengan dan lompat tali, ada yang tenang seperti bekelan, ular tangga, dakon, hingga kelereng, atau yang setengah aktif seperti engklek.

Kami bisa bermandi matahari atau ditemani cahaya bulan. Waktunya bebas, selama tidak berlebihan dan membahayakan. Aku jadi sadar, mungkin itu juga alasan mengapa petasan atau mercon tetap menjadi pilihan bagi anak zaman now meski berbahaya—karena mereka sedang berteriak kekurangan ruang dan pilihan.


 

Bumi, Air, dan Kekayaan Alam di Dalamnya Dikuasai Negara

 
Pemerintah, bagaimana ini? Bukankah kami telah menguasakan bumi, air, dan kekayaan alam di dalamnya kepada negara untuk digunakan memakmurkan rakyat?

Lantas mengapa untuk sekadar menjadi kanak-kanak yang bahagia, atau bahkan saat nanti harus kembali ke tanah sebagai jenazah, kami seolah tak punya ruang lagi yang tersisa?



Merindukan Ruang Publik untuk Anak

 
Di tengah gempuran layar, kita sebenarnya melihat bibit-bibit kerinduan yang besar akan alam. Masih banyak orang tua yang berjuang mengajak anaknya "kembali ke tanah"—membiarkan mereka kotor bermain pasir, mengamati semut di taman kota, atau bersepeda keliling kompleks. Kita juga melihat komunitas-komunitas kreatif yang mulai menghidupkan kembali permainan tradisional di taman-taman publik yang tersisa. Inisiatif kecil ini membuktikan bahwa naluri bermain yang murni itu tidak pernah mati; ia hanya butuh ruang untuk bernapas.

Munculnya gerakan seperti Kampung Lali Gadget (KLG) di Sidoarjo adalah oase. Di sana, anak-anak kembali mengenal egrang, gasing, dan permainan tradisional dalam suasana pedesaan yang asri. Ada juga komunitas seperti Tradisional Belajar (Tradbel) di beberapa kota yang konsisten menghidupkan kembali permainan rakyat di taman-taman kota setiap akhir pekan. Inisiatif ini membuktikan bahwa naluri bermain yang murni tidak pernah mati; ia hanya butuh ruang untuk bernapas.


Merebut Kembali Ruang Mereka

 
Masalah sistemik ini butuh solusi bersama. Kita butuh ketegasan pemerintah untuk mengembalikan fungsi ruang publik, bukan sekadar jargon "Kota Layak Anak".

Pemerintah harus melakukan aksi nyata secara spesifik:
  1. Audit Lahan Fasum/Fasos: Memastikan setiap perumahan dan pemukiman padat memiliki ruang terbuka hijau (RTH) dalam radius jalan kaki (maksimal 300 meter). Jangan ada lagi lahan bermain yang "hilang" menjadi bangunan komersial, ruko, atau tempat parkir.
  2. Ketegasan Aturan Parkir: Menegakkan aturan larangan parkir di jalan lingkungan (gang) yang menghambat ruang gerak dan keselamatan anak. Jalan di depan rumah adalah hak publik, bukan garasi pribadi. Untuk memperketat penerapannya, gunakan pendekatan berbasis data dan teknologi. Misalnya, sistem pelaporan warga yang anonim dan terintegrasi langsung ke penderekan otomatis tanpa perlu debat kusir antar tetangga.
  3. Regulasi Konten & Literasi Digital: Memperketat pengawasan terhadap iklan j*di online dan konten dewasa (p*rnografi) yang menyusup ke gim anak dan konten untuk anak lainnya, serta memberikan dukungan dana bagi komunitas lokal yang fokus pada kegiatan luar ruang.
  4. Meng-audit ulang IMB/PBG secara digital: Banyak perumahan atau izin bangunan (IMB/PBG) lolos padahal nggak punya rasio parkir yang masuk akal. Pemerintah seharusnya Audit Ulang IMB/PBG secara digital. Kalau rumahnya nggak ada garasi tapi punya mobil, ya pajaknya harus dibuat progresif berkali-kali lipat atau izin kendaraannya dicabut. Paksa orang untuk sadar bahwa jalan umum bukan hak milik pribadi.
  5. Solusi "Parkir Terpusat" di Level RT/RW: Daripada gang buntu jadi penuh mobil, pemerintah atau pengembang bisa dipaksa menyediakan Gedung Parkir Komunal di setiap blok. Jadi, lapangan dan jalanan di depan rumah benar-benar "disterilkan" untuk ruang gerak anak atau pejalan kaki.

Plis, kasih anak-anak kita pilihan: ruang nyata yang aman, atau mereka akan selamanya "terjebak" di balik layar karena dunia luar sudah kita bikin terlalu sempit untuk mereka. Kita berhutang pada mereka—sebuah dunia di mana mereka bisa bahagia tanpa harus membayar mahal, dan tanpa harus meminjam alasan "belajar" hanya untuk sekadar boleh main.

Mari kita ciptakan kembali momen-momen sederhana: main kelereng di teras, bersepeda saat matahari sore, atau sekadar membiarkan mereka berlari di bawah siraman matahari. Dengan memberi mereka ruang fisik yang aman dan pilihan hiburan yang sehat, kita sedang menyelamatkan masa depan. Karena bumi, air, dan kekayaan alam ini harusnya menjadi tempat bermain yang makmur bagi mereka, bukan sekadar komoditas yang harus dibayar mahal.


Referensi Ortu:

Selain Kampung Lali Gadget, ortu bisa cek jadwal Car Free Day (CFD) di kota masing-masing atau mencari Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) jika berada di wilayah Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.