![]() |
| Lansia |
Di usiaku yang sekarang ini menjadi lansia itu tinggal selangkah lagi. Apalagi, jika merujuk pada jatah umat Nabi Muhammad yang rata-rata hidup sampai umur 63 tahun, orang seumuranku itu sudah harus banyak-banyak merenung.
Tapi yang kukisahkan kali ini bukan tentang diriku, melainkan para lansia yang pernah kuamati.
Banyak dari mereka yang kupandang bernasib tragis. Saat "pakaian kebesarannya" (jabatan/kekuasaan) runtuh, mereka kembali menjadi "bukan siapa-siapa". Kembali menjadi "orang biasa".
Tak jarang pertemuan dengan mereka tak jauh-jauh dengan bahasan seputar "sudah sakit apa saja" atau tentang cucunya. Sebagian lainnya lagi mungkin mengenang kejayaan masa lalu atau ganti membandingkan orang lain, entah anak, cucu, atau lainnya. Tak terlalu ada lagi yang bisa dibandingkan dari dirinya sendiri.
Menariknya, banyak dari mereka yang tadinya begitu membanggakan prestasi anaknya yang wah, akhirnya malah kesepian. Tak sekadar jauh dari anaknya, tetapi juga mencari pelarian, misalnya mengangkat "anak asuh", mencari pembantu (mencari pemenuhan emosional darinya), atau bahkan mencari siapa saja yang bisa ditemui di luar sana. Di mana pun aku ketemu lansia, mereka cenderung sangat ingin curhat berlebihan tentang apa saja.
Banyak orang lupa bahwa kesuksesan anak dan cucu itu juga dibayar dengan harga. Banyak orang sukses itu sangat sibuk atau bahkan kerja di luar kota atau di daerah yang jauh, sehingga jarang bisa memenuhi kebutuhan lansia tersebut. Atau bisa juga memang sengaja memilih begitu, karena memang ada ketidakcocokan antara ortu dengan anaknya itu.
Itu kenapa para lansia juga harus punya kehidupan "sendiri", agar tidak terus mengganggu anak-anaknya atau orang lain. Harus aktif dan tahu cara menghibur diri sendiri.
Aku sendiri merasa sangat terganggu ketika dijadikan pelampiasan (baca: pengganti anaknya). Aku bukan anaknya dan aku punya kehidupan sendiri. Gak cuma itu, aku juga bukan ekstrovert yang suka ngobrol berlama-lama, apalagi aku diincar beberapa kali sehari.
Pikiranku berkata, "Kalau kamu begitu membanggakan anak-anakmu, lalu kenapa aku yang kamu jadikan pemenuhan kebutuhan emosionalmu?" Kamu nggak boleh egois dengan ingin anakmu sendiri berhasil (bebas sibuk kerja) lalu mengganggu anak orang lain (Jadi gak produktif gara-gara ngobrol kelamaan sama kamu, apalagi berkali-kali sehari, rutin tiap hari. Itu sangat intrusif bagiku). Aku bukan anakmu dan aku nggak bersedia kamu perlakukan seperti itu. Kamu nggak boleh punya standar ganda. Anak itu hasilmu, maka kalau kamu kesepian, salahkan dirimu sendiri.
Yang nggak kalah tragis, beberapa lansia meninggal sendirian di rumah. Sebagian karena mungkin nggak mau pindah ikut numpang rumah anak dan menantunya, sebagian lagi karena mungkin nggak cocok dengan anak dan menantunya.
Yah, hidup itu memang penuh warna. Begitu orang pensiun, menjadi lansia, atau semacamnya, banyak hal itu bisa mendadak berubah. Tiba-tiba saja mereka menyadari hidup sudah berbeda, sendiri, dan makin dekat dengan ajal.
Banyak yang tadinya peduli harta dan duniawi, akhirnya seperti menjadi lebih pengen ditemani. Asal nggak sendiri, itu cukup.
Kalau melihat kisah-kisah lansia yang seperti itu, tampak tak mudah. Tapi semoga saja jika kita bisa mencapai usia lansia, kita tidak akan mengalami hal-hal buruk. Hidup kita tetap indah, semakin indah, dan akan selalu baik-baik saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.