Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?


Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?

(Gb. Dua orang yang bersama tetapi fokus pada HP masing-masing)


Saat awal kemunculannya dulu, mungkin kita berpikir—atau lebih tepatnya dicekoki—dengan narasi megah: "Dunia dalam genggaman." Segala yang berbau teknologi dan digital itu selalu diidentikkan dengan kepraktisan, kemudahan hidup, sesuatu yang mewah, dan keren. Kalau kamu nggak ikut-ikutan, siap-siap saja dicap kudet (kurang update). Dari sanalah badai FOMO (Fear of Missing Out) itu dimulai. Kita semua berlomba-lomba melompat ke dalam arus yang sama.


Tapi, seiring berjalannya waktu, pemikiranku berubah total. Tiba-tiba aku melihat ini bukan sebagai sebuah kemajuan, melainkan sebuah desain "penjara" tak kasat mata. Ini adalah penjara modern tanpa jeruji besi, tempat di mana kamu dan aku masuk dengan "sukarela" dan penuh senyuman, hanya karena kita dimanjakan di dalamnya.



Ketika Opsi Dunia Nyata Sengaja "Dimatikan"


Coba bayangkan, sekarang hampir seluruh aspek hidup kita telah diperas dan dimasukkan ke dalam kotak layar berukuran beberapa inci. Mau belanja? Tinggal klik online. Mau pergi? Panggil transportasi online. Mau bayar-bayar? Pakai uang online. Kelihatannya praktis, kan?


Tapi sadar nggak, peralihan ini tidak terjadi begitu saja tanpa akibat. Proses ini pelan-pelan sedang "membunuh" dunia nyata yang digantikannya. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pengkondisian sistemik.


Mungkin ada yang berkilah, "Ah, nggak bakal mati kok, kan pasar offline punya segmennya sendiri-sendiri." Tapi mari kita lihat realitanya secara jujur. Ketika mayoritas perputaran uang pindah ke layar, ekosistem offline tidak akan kuat bertahan hanya dengan mengandalkan sisa-sisa "segmen tersendiri" itu. Omzet mereka anjlok, biaya sewa tempat tak tertutup, dan akhirnya tumbang.


Lihat saja nasib Pasar Apung di Kalimantan yang legendaris itu—kini dilaporkan sepi, sekarat, bahkan hampir mati karena kalah telak oleh arus online. Sistem ini sengaja meruntuhkan jembatan ekonomi di dunia fisik agar kita tidak punya pilihan lain. Kita digiring secara halus sampai pada titik di mana alternatif offline itu benar-benar hilang, dan kita terpaksa full online karena tidak ada jalan lain yang tersisa.



Penjajahan Jarak Jauh: Senjata Baru Kapitalis Raksasa


Di balik layar yang kita tatap setiap hari, ada sebuah desain besar tentang monopoli dan penjajahan ekonomi gaya baru. Teknologi yang katanya "bisa jarak jauh apa saja" ini ternyata menjadi senjata paling mematikan bagi para pemilik modal raksasa untuk menghabisi pedagang kecil.


Dulu, kalau kapitalis besar mau menguasai pasar suatu daerah, mereka harus repot-repot datang, membangun cabang fisik, menyewa gudang lokal, dan mempekerjakan warga setempat. Artinya, masih ada uang yang berputar dan menetes ke masyarakat bawah.


Sekarang? Efek borderless (tanpa batas) membuat raksasa kapitalis—termasuk gurita e-commerce raksasa asing yang kini menguasai pasar kita—bisa mengeruk uang dari daerah terdalam sekalipun tanpa perlu menginjakkan kaki di sana. Mereka tinggal duduk manis di pusat, mengontrol algoritma, memotong rantai distribusi, dan mengirimkan barang murah hasil produksi massal langsung ke depan pintu rumah konsumen.

 
Ini bukan kompetisi yang adil. Pengrajin dan pedagang lokal yang modalnya pas-pasan dipaksa bertarung melawan raksasa internasional yang sanggup membakar uang demi diskon dan memanipulasi algoritma agar produk mereka selalu muncul di halaman pertama. Hasil akhirnya adalah monopoli terselubung oleh segelintir kapitalis raksasa. Uang di daerah tersedot bersih ke pusat atau bahkan ke luar negeri, menyisakan kelumpuhan ekonomi lokal yang mandiri.

 

Dari Teman Dekat Menjadi Katalog Berjalan


Sementara itu, di sisi hubungan antarmanusia pun tak jauh berbeda, miris juga. Orang sekarang jadi malas menyapa tetangga sebelah rumah, kalau ada apa-apa tinggal nge-WA saja. Sementara di media sosial sendiri, ekosistemnya sudah berubah mengerikan. Kita seperti sudah tidak mengenali lagi mana "teman" dan mana "orang dekat".


Begitu sebuah platform membuka fitur "akun pro", ruang sosial kita langsung berubah menjadi pasar malam raksasa. Teman-teman kita berubah menjadi akun bisnis, dan kita sendiri hanya dipandang sebatas jaringan, angka followers, atau target pasar. Mau teman atau bukan, sejujurnya aku melihat mereka seperti artis di TV yang tak terjangkau—public figure mahal yang kerjanya cuma ceramah searah atau promosi personal branding. Medsos berubah fungsi menjadi katalog berjalan mirip Yellow Pages zaman dulu. Parahnya, jangankan akun pro, kita yang pakai akun biasa pun kalau posting atau menyapa tetap saja dicuekin.


Di medsos sekarang seperti ada aturan tak tertulis: "Jangan ganggu aku ngomong." Komunikasi dibuat menjadi satu arah. Mereka hanya ingin didengar (ceramah), dan kalaupun membalas, mungkin cuma sekali setelah itu dicuekin.


Dulu klaimnya teknologi membuat komunikasi jadi real-time dan cepat. Nyatanya? Gak sama sekali. Malahan, pesan kita bisa dibalas berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian dengan gaya males-malesan. Atau yang paling sering: jangan harap pesanmu bakal dibalas, hanya karena kamu dianggap bukan pangsa pasarnya, nggak menguntungkan, atau nggak penting buat kepentingan bisnis mereka.


Contoh sederhananya soal ustadz. Aku sering banget melempar pertanyaan serius di kolom komentar para ustadz di medsos, tapi ujung-ujungnya selalu di-neglect (dicuekin). Padahal orangnya aktif dan ada di sana, tapi karena kita "bukan siapa-siapa" di mata algoritma dan ekosistem bisnis mereka, suara kita jadi tidak berharga.



Walled Garden: Strategi Egois Penahan Perhatian


Mengapa ini bisa terjadi? Ini bukan cuma tentang algoritma umum milik browser atau search engine yang menyortir apa yang boleh dan tidak boleh kita lihat. Tapi di dalam masing-masing platform atau medsos itu sendiri, sistemnya memang sengaja dirancang agar kita "terjebak" dan diam di sana selama mungkin.


Mereka sangat egois. Di industri teknologi, ada strategi bernama Walled Garden (Taman Berdinding). Mereka benci setengah mati kalau kita keluar dari aplikasi mereka. Pernah nyadar nggak, kalau kita membagikan tautan (share link) luar—seperti link blog pribadi atau link YouTube—ke platform seperti Facebook atau X (Twitter), jangkauan postingan kita langsung anjlok drastis dan sengaja ditenggelamkan oleh algoritma?


Mereka sengaja menyekat kita. Mereka tidak mau kita ngeklik keluar dan kehilangan perhatian kita walau hanya satu detik, karena perhatian kita adalah uang bagi mereka. Makanya, kita dijejali dengan desain adiksi seperti doom scrolling—sebuah jebakan tak berujung agar mata kita tetap menatap layar, mengonsumsi konten mereka, dan perlahan-lahan melupakan dunia luar.


 

Ruang Kerja Tanpa Batas yang Menghancurkan "Kita"


Aplikasi yang harapan awalnya sangat mulia untuk menyambung silaturahmi, seperti WhatsApp (WA), kini telah bermanifestasi menjadi sesuatu yang melelahkan. WA berubah menjadi ajang grup jualan, ruang promosi, tempat koordinasi tugas yang gak ada habisnya, atau bahkan tempat kantor dan klien menghubungi kita seenaknya.


Karena HP kita dianggap selalu nyala, kita diasumsikan harus selalu available (tersedia) setiap hari, jam berapa saja, bahkan di hari libur. Di mana efek santai atau hiburannya? Hidup akhirnya diperas hanya seputar kerjaan, tugas, dan projek lagi. Tugas terooos!


Kapan interaksi itu kembali tentang "kita"? Tentang aku dan kamu. Tentang obrolan-obrolan hangat tanpa interupsi yang mengukir kenangan indah di antara kita sebagai manusia.
 

Menikahi Gawai dan Generasi yang "Dikotakkan"


Seolah belum cukup menyedihkan di dunia digital, saat kita memaksakan diri bertemu di dunia nyata pun, pemandangannya sama saja: semua orang sibuk melakukan phubbing (alias asyik melihat layar HP masing-masing). Tubuhnya memang duduk di sebelah kita, tapi jiwanya entah terbang ke mana. Rasanya, kita semua sudah diam-diam "menikahi" gawai masing-masing. Kalau sudah begitu, lalu pantaskah aku cemburu pada HP-mu?


Fenomena ini celakanya tidak cuma menyerang kita yang dewasa. Kalau kalian sempat membaca artikelku kemarin soal ruang bermain anak, kalian pasti tahu kalau ruang gerak fisik anak-anak di dunia nyata itu sudah semakin menyempit.


Akibatnya, anak-anak "hanya" punya satu-satunya ruang tersisa: ruang online. Parahnya lagi, banyak orang tua zaman sekarang yang mengambil jalan pintas. Biar anaknya nggak nangis, nggak rewel, dan nggak lari-larian, mereka langsung menyodorted TV, HP, atau laptop sejak si anak masih balita. Dunia anak-anak ternyata tidak luput dari penjajahan digital ini. Malah nasib mereka jauh lebih tragis, karena mereka sudah "dipenjara" dan dikondisikan di dalam layar sejak usia dini.



Dengan semua realitas di atas, hidup kita perlahan tapi pasti telah "di-kotak-in" dan diringkas menjadi sebatas layar HP saja. Kita dikurung, diisolasi, dan dijajah secara digital oleh segelintir kapitalis raksasa sampai kita lupa rasanya menjadi manusia seutuhnya di dunia nyata.


Jadi, kembali ke klaim awal tentang teknologi yang katanya "mendekatkan yang jauh" ... hmmm ... melihat bagaimana kita semua berakhir di dalam penjara layar sementara ekonomi lokal kita perlahan mati, gimana menurutmu? 
Masih percaya dengan narasi manis itu?
 


Btw, kalau belum baca artikelku kemarin soal ruang bermain anak yang menyempit, klik di sini ya:

Enak zamanku, tho: Ironi hilangnya ruang bermain anak zaman now
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.