Menguras Daerah Lewat Udara: Sisi Gelap yang Ditutupi Narasi "Kemudahan Digital"

 

Menguras Daerah Lewat Udara: Sisi Gelap yang Ditutupi Narasi "Kemudahan Digital

(Gb. Semua serba digital)


Di tulisan kemarin, 

"Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?" ,

aku sempat menyinggung bagaimana dunia digital pelan-pelan "membunuh" ruang fisik kita. Pasar Apung di Kalimantan yang legendaris itu dikabarkan sepi dan sekarat, pasar tradisional rontok, dan toko-toko offline gulung tikar. Kita semua digiring untuk masuk ke dalam satu kotak bernama layar HP.

Mungkin, ada yang bakal menyanggah, "Ah, itu kan proses seleksi alam. Lagi pula, e-commerce dan platform digital kan justru membantu rakyat kecil? Lihat tuh, ada jutaan dropshipper, reseller, dan ojol yang dapet lapangan kerja baru dari sana!"

Kelihatannya mulia ya? Seolah-olah para raksasa kapitalis pemilik platform ini adalah pahlawan penyelamat ekonomi rakyat. Tapi, apakah mereka benar-benar membantu, atau kita yang terlalu naif?

 

Alibi "Membantu" yang Memindahkan Risiko


Mungkin sebagian dari kalian akan membela, para pemilik modal besar dan Official Store raksasa - yang ironisnya kini makin banyak dikuasai oleh modal asing tetap membantu masyarakat, medianya saja yang beralih ke digital, karena adanya reseller, dropshipper, dan ojol lokal.

Tapi, jangan terkecoh. Itu bukan bantuan, melainkan taktik cerdas untuk menggeser risiko usaha (outsourcing).

Kalau mereka membuka toko fisik di daerahmu, mereka terpaksa keluar modal raksasa: sewa ruko, bayar retribusi, dan wajib membayar gaji karyawan sesuai UMR daerah tersebut. Dengan sistem online, mereka lepas tangan dari semua kewajiban itu. Tugas promosi digeser ke dropshipper lokal (yang cuma dibayar komisi receh kalau barangnya laku), dan tugas antar barang dipindah ke ojol yang harus modal motor dan bensin sendiri.

Mereka memanfaatkan tenaga kerja murah di daerah tanpa mau menanggung jaminan kesejahteraannya. Begitu produk Si dropshipper lokal mulai ramai dan datanya terbaca, si kapitalis besar tinggal potong harga lebih ekstrem di Official Store mereka agar konsumen langsung beli ke pusat. Ujung-ujungnya? Pemain lokal ditendang juga setelah dimanfaatkan untuk cek ombak.


Analogi Ruko vs. Platform: Ke Mana Duitnya Terbang?


Mereka mungkin akan ngeles lagi: "Lho, kami di dunia digital juga keluar duit kok! Kami bayar biaya admin platform sebagai pengganti sewa ruko, dan kami juga taat bayar pajak digital ke pemerintah!"

Sekilas argumen ini logis, tapi di sinilah blind spot atau kebutaan sistemik yang jarang disadari orang awam:

  • Ketika sebuah brand menyewa ruko fisik di daerahmu, uang sewa itu masuk ke kantong pemilik tanah lokal. Karyawan toko orang lokal yang gajinya dibelanjakan di warung nasi sebelah ruko. Ada efek domino (multiplier effect) yang menghidupkan ekonomi wilayah tersebut. Uang berputar di bawah.

  • Sekarang bandingkan dengan biaya tempat digital (Official Store). Ketika mereka membayar biaya admin atau komisi platform, uang itu langsung terbang lewat udara ke kantong korporasi teknologi raksasa di pusat (Jakarta atau bahkan ke luar negeri). Tidak ada satu persen pun dari "biaya sewa digital" itu yang menetes untuk memakmurkan tanah di daerahmu.

 

Baca juga:

Enak Zamanku, tho: Ironi Hilangnya Ruang Bermain pada Generasi Anak Masa Kini

Antara Rating, Ulasan, dan Masalah Marketplace yang Sebenarnya

Cara Islam dalam Mengatasi Hoaks

 

Pusat yang Kenyang, Daerah yang Kering


Bagaimana dengan pajak? Iya, pemerintah memang memungut PPN perdagangan digital. Tapi ingat, semua pajak digital itu ditarik langsung oleh Pemerintah Pusat.

Padahal, kalau ada toko fisik di daerah, ada komponen Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang masuk menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Uang pajak itulah yang dipakai untuk memperbaiki jalan rusak atau fasilitas umum di daerahmu.

Begitu semuanya pindah online, kabupaten atau kota kecil kehilangan potensi pendapatan daerahnya karena semua transaksi menguap langsung ke pusat. Hasilnya, Pemerintah Pusat makin kaya dan kenyang, sementara daerah makin kering dan lumpuh secara mandiri. Daerah kita hanya disisakan polusi knalpot ojol dan jalanan rusak, sementara gunung uangnya disedot bersih ke pusat kekuasaan.

 

The Winner Takes All


Membandingkan satu Official Store digital dengan ruko fisik adalah manipulasi logika yang brutal. Satu ruko fisik hanya bisa melayani konsumen di radius beberapa kilometer. Tapi satu akun Official Store raksasa di pusat bisa melayani seluruh konsumen dari Sabang sampai Merauke secara bersamaan tanpa batas geografis.

Ini adalah sistem "The Winner Takes All" - Si Kuat menyapu bersih semuanya. Jarak jauh yang dijanjikan teknologi digital ternyata bukan membebaskan yang kecil, melainkan memberikan "tangan yang lebih panjang" bagi kapitalis raksasa untuk mencekik dan menguras dompet warga daerah langsung dari dalam kamar mereka.

Kita mengira kita sedang menyongsong masa depan yang serba praktis, padahal kita sedang menyaksikan sebuah wilayah dikuras habis kekayaannya lewat udara - secara rapi, legal, dan disambut dengan senyuman serta ketukan jari di layar gawai.

Jadi, setelah tahu detail ini, apakah kamu masih melihat ojol, reseller, dan e-commerce sebagai bentuk "pemerataan ekonomi"? Atau jangan-jangan... kita semua cuma bahan bakar yang menyalakan mesin penjajahan gaya baru ini?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.