Cara Islam dalam Mengatasi Hoaks dan Mengapa Kita Perlu Mulai Menerapkannya

Berita palsu (hoaks)

"Dikarenakan banyak hoaks di negara Anda, maka kami mengenakan tarif layanan sekian." Begitulah Telegram menyambutku yang waktu itu hendak menginstalnya. Kaget dan merasa terhina. Sudahlah tidak gratis lagi, dikatain pusat hoaks pula. Jadilah aku batal menginstalnya karena memang cuma kepo, tidak butuh-butuh amat. Belakangan kata AI ada beberapa negara yang dicap seperti ini oleh Telegram.

Di lain waktu, aku kaget dengan adanya berita yang dipromosikan di beranda browserku (Opera). Lalu aku tanya AI dan lagi-lagi katanya hoaks. Browser tidak tahu atau tidak peduli kalau itu hoaks. Yang penting ramai, pasti bakal dipromosikan. Hoaks yang ini setengah benar karena memodifikasi berita yang beneran ada. Jadi, terasa meyakinkan. Ini lebih rawan membuat orang tertipu.

Banyak sekali kita temui, baik aku maupun orang lain, yang mempercayai atau bahkan ikut menyebarkan hoaks. Tapi di sini aku ingin menyoroti sisi muslimnya saja. Dari 290-an juta jiwa penduduk Indonesia, 250-an jutanya adalah muslim, atau sekitar 87 persen. Karena negara kita termasuk yang mudah termakan hoaks dan kurang perlindungan, kita perlu banyak introspeksi diri. Kalau banyak muslim yang pandai membedah hoaks, tentunya kita akan menyumbang perbaikan signifikan pada stabilitas negeri ini.

Pentingnya Verifikasi di Tengah Arus Informasi

Kondisi-kondisi seperti itu sangat disayangkan karena Islam memiliki metode verifikasi fundamental, mungkin yang pertama di dunia, yaitu peletakan dasar periwayatan hadits. Ada dua rujukan utama dalam Islam: Al-Quran dan hadits. Hadits harus merujuk pada Al-Quran, sedangkan hukum-hukum lain harus merujuk pada keduanya.

Menghafal hadits itu baik, menerapkannya juga sangat baik. Namun, jangan lupa, di balik hadits itu sendiri ada metode verifikasi berita yang luar biasa. Sanad dicek dari Si A ke Si B hingga sampai kepada Nabi. Orang-orangnya dicek sifatnya, kejujurannya, hingga kemungkinan pertemuannya. Sayangnya, metode ini seolah hanya berhenti pada studi hadits saja.

Padahal, metode ini harusnya dibawa ke keseharian kita, baik online maupun offline. Misalnya saat pasangan dituduh selingkuh atau teman dituduh mencuri; harus ada proses cek dan ricek yang ketat.

Bahaya Cocoklogi dan Kecerobohan Intelektual

Aku juga sempat melihat seorang ilmuwan mengkritisi tafsiran hadits tentang lalat. Aku tidak berhenti pada lalatnya, tapi pada fenomena "cocoklogi" yang seringkali salah. Contohnya larangan emas bagi pria yang dikaitkan dengan haid. Ini adalah hoaks yang lahir dari kecerobohan kita dalam mengecek sumber. Kadang para ustaz pun membawa ranah ilmu umum yang kurang mereka pahami. Harus ada kerendahan hati untuk berkata, "Ini bukan bidang saya."

Ironisnya, ada ustaz yang justru ikut menyebarkan hoaks terkait geopolitik. Ini bukti bahwa hoaks bisa menimpa siapa saja, termasuk ahli agama. Padahal mereka seharusnya paling ahli dalam metode verifikasi (sanad) ini, namun terkadang tidak dipraktikkan dalam urusan informasi umum.

Masalah ini sangat krusial mengingat Indonesia adalah negara yang sangat divergen. Banyak "senggolan" yang berisiko memicu konflik. Islam sangat kaya dengan ilmu verifikasi; itulah yang harus kita terapkan secara komprehensif agar negara tidak mudah diadu domba seperti masa penjajahan dulu.

Kita sudah diincar oleh pihak-pihak luar yang ingin mengambil keuntungan. Sebagai muslim, kita harus menerapkan "verifikasi ala hadits" agar negara ini sulit diobok-obok. Hati-hatilah ke depannya, karena tanganmu bisa menjadi bencanamu, dan mungkin juga bencana bagi kita bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.