Gb. Kenangan bersama ayah dan ibu
Cinta sehidup semati, benarkah seindah itu?
Maksudku, bukan hanya tentang cintanya, tetapi ketika dua orang yang jatuh cinta itu ingin mati pada saat yang sama.
Tak usah berpanjang-panjang, mari kita pikirkan beberapa skenarionya:
- Mereka tewas kecelakaan sama-sama,
- Mereka tewas kebakaran di rumahnya yang sedang terbakar,
- Mereka tewas bersama saat bencana alam,
- Mereka tewas bersama saat dibunuh orang jahat,
- Salah satunya sakit lalu satunya ketularan juga, lalu mati sama-sama,
- Salah satunya sakit lalu mati, lalu pasangan yang merawatnya ini juga lelah fisik dan mental, lalu mati juga tak lama setelahnya.
- Salah satunya mati duluan, lalu pasangan yang ditinggal ini terlalu lemah/bergantung (dependent)/shock, lalu ikut mati tak lama kemudian,
- Salah satunya perok*k lalu merokoknya di rumah. Kemudian keduanya sama-sama mati karena rok*k karena sama-sama terpapar racunnya di rumahnya.
Dan masih banyak lagi.
Aku
mengerti ditinggalkan itu berat. Pihak yang masih hidup tak hanya akan
berduka cita, tetapi juga akan mengalami perubahan hidup, misalnya harus
mencari uang sendiri, mengurus diri sendiri, atau lainnya.
Akan
tetapi, ketika kamu berpikir untuk mati bersama - sesuatu yang mungkin
tampak seolah romantis - bagaimana dengan anak-anakmu? Apakah kamu tidak
memikirkan anak-anakmu yang mungkin akan mengalami kedukaan ganda,
kesusahan ganda, atau lainnya?
Atau, jika kamu
berpikir untuk mati bersama anak-anakmu juga sekalian, apakah kamu tidak
berpikir bahwa keturunanmu akan terputus dan habis sampai di situ?
Sekarang,
setelah kamu melihat kembali berbagai kemungkinan ini, apakah mati
bersama pasangan atau sekeluarga masih terdengar menyenangkan, indah,
atau romantis? Kebanyakan skenario mati bersama pasangan adalah karena
musibah/bencana, apakah tidak terdengar horor bagimu?
Cintanya saja yang selamanya. Orangnya jangan (tidak harus/jangan mengharap) mati bersama.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.