Sadar nggak, kita itu makin lama makin “di-kotak-in”. Apa-apa sekarang diarahkan ke online/digital. Selain itu, apa-apa juga sekarang makin berpusat ke bank. Singkatnya, kita didesain untuk BOROS dan TERJERAT UTANG.
Terlepas dari desain ini disengaja atau sekadar efek negatif dari perkembangan zaman, kita harus mewaspadainya. Kalau zaman dulu perang itu lebih terang-terangan, pakai senjata fisik, serangan dengan terjun langsung, dll, zaman sekarang menghancurkan negara bisa lebih mudah, cepat, sederhana, dan senyap.
Dari segi kekuatan senjata, kita (memilih untuk) nggak punya nuklir. Dari segi kecanggihan teknologi atau kekayaan, kita juga kalah dari negara maju. Kita menang jumlah orang aja, kadang bisa di-alias-kan/dianggap “pasar”, bagi produk dan jasa negara lain.
Dengan perkembangan zaman, semua hal sudah bisa di-kotak-in/ada dalam genggaman/HP. Mengintip dan meretas bisa dari jarak jauh, mengalihkan agar orang kita gak belanja di negara sendiri juga bisa dari jarak jauh. Dan, nggak sekadar tentang bahaya hoaks, informasi yang sampai ke kita dan yang keluar dari kita juga dibatasi/dikendalikan oleh “wadah”-nya (aturan platform dll.). Kita merasa tahu segalanya, padahal tidak.
1. Perang Digital, Fungsi Eksekutif, dan Pelemahan Fisik
Dunia digital dan online nggak hanya tentang keunggulan. Kita juga bisa dirusak olehnya. Mulai dari gangguan/kerusakan Prefrontal Cortex sampai dengan masalah gaya hidup seperti gaya hidup sedentary, isolasi, narsisme, dan penguatan bias negatif dan kecenderungan negatif yang lain pada manusia.
- Erosi Prefrontal Cortex (PFC): Aplikasi digital modern dirancang memakai prinsip intermittent variable rewards (mekanisme yang sama dengan mesin judi). Paparan dopamine hit bertubi-tubi dari video pendek dan notifikasi mengikis rentang perhatian dan melemahkan fungsi eksekutif otak kita (kemampuan fokus, regulasi emosi, perencanaan panjang, dan kontrol diri).
- Aspek Fisik & Isos (Isolasi Sosial): Secara biologis, ketika tubuh kurang bergerak (sedentari), kemampuan kognitif dan ketahanan mental ikut menurun. Manusia yang terisolasi secara sosial, secara fisik lemah, dan sulit fokus adalah populasi yang sangat mudah dikendalikan, dicuci otak, dan dimanipulasi secara opini publik.
2. Desain Bangsa Boros & Daya Beli
Di sisi lain, ekonomi kita juga makin berpusat pada bank. Apa-apa di-bank-in (terhubung/tergantung dengan bank), sedangkan bank “hidup” dari kredit/utang. Akhirnya, kita didorong untuk boros dan berutang. Masyarakat digenjot untuk boros belanja.
- Pertumbuhan Berbasis Konsumsi: Di banyak negara berkembang, PDB (Produk Domestik Bruto) disokong lebih dari 50% oleh konsumsi rumah tangga. Negara dan sistem industri berkepentingan menjaga daya beli dan tingkat belanja tetap tinggi agar roda ekonomi berputar dan penerimaan pajak (seperti PPN) terus mengalir.
- Dari kebutuhan ke keinginan: Sistem kapitalisme digital mengubah alur dari sekadar memenuhi kebutuhan fisik menjadi mengeksploitasi validasi sosial (FOMO, lifestyle inflation). Akibatnya, masyarakat didorong untuk terus membelanjakan uangnya alih-alih membangun aset produktif atau kemandirian finansial.
3. "Di-bank-in" & Desain Ketergantungan Utang
A. Monetisasi Masa Depan (Fractional Reserve & Credit)
Sistem keuangan modern berdiri di atas roda kredit (utang).
Ketika segala hal - mulai dari rumah, kendaraan, pendidikan, hingga belanja harian (melalui PayLater atau kartu kredit) - diintegrasikan ke dalam sistem perbankan, masyarakat secara halus "diarahkan" untuk mendedikasikan pendapatan masa depannya guna membayar bunga hari ini.
Keterikatan pada cicilan/utang menciptakan kondisi psikologis yang disebut *financial lock-in: orang tidak lagi bebas mengambil risiko, takut mengekspresikan kritik, dan harus terus bekerja dalam lingkaran rat race demi membayar kewajiban bulanan.
B. Inklusi Keuangan vs. Literasi Finansial
Gagasan "inklusi keuangan" sering kali digencarkan tanpa diimbangi "literasi dan perlindungan finansial" yang memadai. Akibatnya, akses mudah ke produk pinjaman (terutama pinjol atau kredit konsumtif) justru mengondisikan masyarakat menjadi rentan gagal bayar dan ketergantungan pada utang untuk menutupi kebutuhan hidup dasar.
Meskipun ada pandangan yang berbeda, saya lebih cenderung berpikir bahwa ini adalah desain gelap (dark design) yang disengaja. Salah satu yang kuingat jelas misalnya adalah orang cenderung lebih boros jika belanja tanpa uang fisik (cashless/online). Karena nggak keliatan uangnya, tau-tau habis.
Jadi, meskipun sering dibungkus dengan istilah manis seperti "kemajuan teknologi" dan "inklusi keuangan", tetapi ada kedua faktor perusak di dalamnya yang berupa:
- Kapitalisme Perhatian (Attention Economy): Industri aplikasi dan media sosial terang-terangan mempekerjakan ahli saraf dan psikolog (persuasive technology) untuk merancang algoritma yang memicu kecanduan. Tujuannya agar mata kita terus menempel di layar demi mendulang data iklan. Ini bukan kebetulan; ini desain industri yang disengaja.
- Komodifikasi Manusia: Ketika sistem keuangan mendesain agar orang mudah terjebak utang konsumtif (lewat kartu kredit, cicilan, hingga pinjol instan), batas antara fasilitas dan jeratan menjadi sangat tipis. Masyarakat yang terbelit utang bulanan adalah tenaga kerja yang paling "patuh" - mereka tidak berani protest, tidak berani ambil risiko keluar dari pekerjaan buruk, karena besok harus bayar cicilan.
Jadi, Apakah Negaranya Sehat atau Menuju Kehancuran?
Negara dan sistem global saat ini tidak sedang runtuh total, tapi sedang berada di titik tegang (strain) yang tinggi.
- Secara Makro (Angka di atas kertas): Negara sering kali terlihat "sehat" karena angka pertumbuhan ekonomi, perputaran uang, dan investasi tampak besar.
- Secara Mikro (Kondisi manusia di dalamnya): Di tingkat individu, beban mental, tingkat kecemasan, epidemi kesepian, masalah kesehatan fisik akibat kurang gerak, dan tekanan finansial (krisis kelas menengah) meningkat tajam di seluruh dunia.
Kampanye Gemar Menabung yang Seperti Lawak
Hal ini kemudian membuatku melihat kampanye gemar menabung hanya seperti lawak atau sesuatu yang munafik. Terdapatnya dua hal di bawah ini membuatnya bertentangan dengan anjuran baik tersebut:
1. Disonansi Antara Narasi Moral vs. Kebutuhan Mesin Ekonomi
Sistem modern menjalankan dua hal yang bertolak belakang sekaligus:
- Sisi Kampanye Moral (Slogan): Kampanye "Gemar Menabung" atau "Inklusi Keuangan" disuarakan sebagai instruksi edukasi moral - seolah-olah masalah utama rakyat adalah kurangnya kedisiplinan pribadi.
- Sisi Mesin Ekonomi (Kebutuhan Sistem): Di tingkat makro, pertumbuhan ekonomi (PDB) sebagian besar disokong oleh konsumsi rumah tangga dan ekspansi kredit (utang). Jika seluruh rakyat mendadak disiplin menabung, menahan diri dari belanja konsumtif, dan menolak mengambil cicilan, angka pertumbuhan ekonomi akan anjlok drastis dan penerimaan pajak (seperti PPN) ikut turun.
Artinya, ada ketidakjujuran struktural: negara dan industri secara retoris menyuruh orang hemat, tetapi struktur ekonominya justru sangat bergantung pada orang yang rajin berbelanja dan terus menggunakan fasilitas kredit.
2. Industri Keuangan & "Asimetri Kekuatan"
Sistem ini mungkin tidak dengan sengaja ingin membuat rakyat menderita, melainkan sekadar menginginkan keuntungan.. Namun, dampak turunannya memang menciptakan penderitaan, dan sistem sering kali tutup mata terhadap dampak tersebut.
- Eksploitasi Keterbatasan Psikologis: Industri finansial modern (seperti paylater, pinjol instan, hingga kemudahan gesek kredit) dirancang dengan memanfaatkan celah psikologi manusia - mempermudah akses utang dalam hitungan detik saat kontrol diri manusia sedang lemah.
- Dampak Kehilangan Kedaulatan: Ketika seseorang terjebak utang atau hidup pas-pasan dari gaji ke gaji karena gaya hidup konsumtif, kedaulatan dirinya mengikis. Individu yang terbebani cicilan cenderung lebih patuh, takut mengambil risiko, dan tidak memiliki ruang bandwidth mental untuk mempertanyakan atau mengkritik keadaan sekitar.
Solusi Pribadi (Mikro) dan Negara (Makro)
1. Di Level Makro: Bagaimana Negara Bisa Keluar dari Jebakan Ini?
Kalau sebuah negara benar-benar ingin lepas dari ketergantungan pada konsumtif, utang, dan ekonomi digital yang candu, ada beberapa perombakan radikal yang harus dilakukan:
- Peralihan Fokus dari PDB ke Kesejahteraan Riil (Beyond GDP): Negara harus berhenti mengukur kesuksesan hanya dari seberapa tinggi angka pertumbuhan konsumsi rumah tangga atau PDB. Seharusnya, indikator sukses negara diganti dengan Indeks Kebahagiaan, kesehatan mental, ketahanan pangan, dan tingkat ketimpangan sosial. Negara seperti Bhutan pernah mencoba pendekatan ini (Gross National Happiness).
- Restrukturisasi Industri & Hilirisasi Nyata: Alih-alih mengandalkan daya beli masyarakat dari cicilan dan uang belanja instan, ekonomi harus digerakkan oleh produksi, manufaktur mandiri, dan kemandirian pangan/energi. Ketika negara kuat di sektor riil (memproduksi barang nyata yang dibutuhkan dunia), negara tidak perlu "memaksa" rakyatnya sendiri untuk jadi konsumen boros agar ekonomi tidak kolaps.
- Regulasi Ketat Ekonomi Perhatian (Attention Economy) & Finansial Predatori: Negara yang sehat harus berani membuat regulasi yang keras terhadap eksploitasi psikologis digital (misalnya membatasi algoritma candu pada anak/remaja) serta melarang predatory lending (pinjol ilegal/bunga mencekik yang menyasar rakyat bawah demi keuntungan instan).
2. Di Level Mikro: Cara Kita "Keluar dari Kotak" secara Personal
Karena kita tidak bisa mengubah kebijakan pemerintah pusat dalam semalam, benteng pertahanan terbaik ada di tingkat individu dan komunitas kecil. Ini yang dinamakan kedaulatan mandiri (sovereignty):
- Detoksifikasi Digital & Rebut Kembali Perhatian: Sadar secara aktif membatasi waktu layar (screen time), mematikan notifikasi non-esensial, dan kembali melakukan aktivitas fisik nyata (olahraga, berkebun, interaksi tatap muka langsung). Ketika otak kita tidak lagi dibombardir oleh dopamine hit digital, fungsi eksekutif (PFC) dan daya kritis kita pulih kembali.
- Membangun Budaya "Anti-Konsumtif" sebagai Perlawanan: Menjadikan hidup hemat, menolak lifestyle inflation (kenaikan gaya hidup seiring naiknya pendapatan), dan menghindari utang konsumtif (PayLater, kartu kredit untuk gaya hidup) sebagai bentuk protes damai. Sadarilah bahwa menabung dan hidup secukupnya adalah cara paling ampuh memutus rantai eksploitasi sistem tersebut pada diri kita.
- Memisahkan Narasi Luar dari Strategi Pribadi: Menyadari bahwa ajakan belanja, kemudahan utang, dan iklan gaya hidup adalah umpan sistemik. Strategi terbaik untuk bertahan adalah dengan sengaja membangun buffer finansial sendiri (menabung/investasi nyata) meskipun arus sekitar mendorong untuk boros.
- Membangun Ekonomi Komunitas Lokal (Hyper-local Economy): Mengurangi ketergantungan pada ekosistem digital raksasa dengan cara berbelanja langsung ke pasar lokal, mendukung petani atau produsen tetangga, dan memperkuat jejaring sosial di dunia nyata (tetangga, komunitas hobi offline).
- Rebut Kembali Kontrol Perhatian & Fisik: Membatasi paparan stimulus digital yang merusak fokus, menjaga pola gerak fisik, dan menyeleksi mana kebutuhan riil versus dorongan impulsif yang diciptakan algoritma.
Harapan Itu Tetap Ada
Menyadari hal ini bukan berarti kita harus hidup tanpa teknologi sama sekali, melainkan menjadi pengguna yang sadar (conscious user). Gunakan teknologi seperlunya untuk alat bantu, bukan membiarkan teknologi menggunakan dan menguras energi hidup kita.
Kita yang mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan kita.
Baca juga:
Enak Zamanku, Tho: Ironi Hilangnya Ruang Bermain pada Generasi Anak Masa Kini
Dunia Digital: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat?
Menguras Daerah Lewat Udara: Sisi Gelap yang Ditutupi Narasi "Kemudahan Digital"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.