Gb. Naik Kereta Api
"Menjadi tua di jalan," begitulah gurauan satir dari para penglaju Sidoarjo dan Surabaya- penglaju dari dua kota bertetangga yang sudah langganan macet parah. Di koridor utama ini, kemacetan bukan lagi sekadar hambatan lalu lintas harian, melainkan penyedot energi fisik dan emosi jiwa sebelum para pekerja, pelajar, dan pengguna jalan lainnya sampai di tempat tujuan.
Di antara sekian banyak titik kemacetan di Kabupaten Sidoarjo, Perempatan Gedangan adalah salah satu juaranya. Ironis memang karena titik tersebut dekat sekali dengan Stasiun Gedangan, stasiun yang seharusnya bisa menjadi penawar kemacetan.
Kemacetan itu sendiri sebenarnya penyebabnya tak lepas dari tingginya ketimpangan fasilitas wilayah. Karena Surabaya memiliki rumah sakit, sekolah/kampus, pasar, hingga lapangan kerja yang tampaknya lebih baik dan lebih menggiurkan, hal ini memaksa ribuan warga Sidoarjo bergerak serentak ke utara setiap pagi.
Melihat kelelahan kronis yang harus dihadapi masyarakat Gedangan sehari-hari ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki peluang emas untuk membuktikan komitmennya dalam "Semakin Melayani". PT. KAI diharapkan dapat melakukan transformasi layanan dari sekadar penyedia moda transportasi menjadi pilar utama penyelamat mobilitas bagi masyarakat urban.
Namun, dalam upaya mewujudkan hal tersebut, kita perlu memahami juga mengenai dilema jalur kereta api yang tumpang tindih serta perlunya penataan ulang kota akibat desain tata kota masa lalu yang kini kurang relevan lagi serta membutuhkan banyak penyesuaian.
Menembus Tata Kota dan Dilema Jalur Kereta Api yang Tumpang Tindih
Jika kita amati pada jam sibuk di pagi hari, kepadatan lalu lintas (kemacetan) kendaraan di jalan arah Sidoarjo-Surabaya (sisi barat) lebih tinggi daripada arah Surabaya-Sidoarjo (sisi timur). Namun, anehnya, rel kereta api malah membujur di sisi timur jalan. Alhasil, kejanggalan posisi rel peninggalan era kolonial ini otomatis membuat kereta komuter di sana gagal dalam mengurai kemacetan. Tak hanya itu, ia juga menyebabkan matinya seluruh halte kereta api di sepanjang Surabaya.
Di tingkat tapak, warga lokal dari arah Wedi atau Sedati yang enggan terjebak macet di perempatan Gedangan sering kali terpaksa mencari jalan tikus, di antaranya melewati perumahan Puri Surya Jaya, tembusan di Perumahan Juanda Harapan Permai, hingga tembusan di sebelah Klinik Depag Juanda. Sementara itu, angkutan pengumpan seperti lyn HB (biru telur asin) rute Wedi-Banjar Kemuning jumlahnya juga semakin langka dan jam operasionalnya pun sulit diprediksi. Dengan segala kerumitan tadi, akhirnya masyarakat lebih memilih naik ojek online atau motor pribadi.
Sebenarnya, jika dilihat dari sudut pandang operasional perkeretaapian, tantangan utama penataan ini bersumber pada dua hal mendasar:
- Jalur Rel yang Tumpang Tindih: Kenyataannya, kemacetan tidak hanya menimpa kendaraan di jalan raya. Di jalur kereta, kereta api juga mengalami hal serupa: Kereta Api Jarak Jauh dan Kereta Komuter Lokal berebut rel yang sama. Kereta komuter sering kali harus mengalah, sehingga frekuensi keberangkatan terbatas dan jeda antar-kereta (headway) menjadi panjang.
- Konflik Akses Penyeberangan: Akses pejalan kaki maupun penumpang feeder menuju stasiun sangat tidak practical dan berbahaya. Masyarakat membutuhkan kecepatan dan keamanan yang memadai agar mau dengan senang hati berpindah menggunakan kereta.
Namun, bagi KAI, tantangan ini bukanlah jalan buntu, melainkan ruang untuk menghadirkan inovasi layanan yang lebih inklusif dan terintegrasi.
Cetak Biru Integrasi: Stasiun Gedangan sebagai Hub Multi-Level
Gb. Ilustrasi Desain Infrastruktur Bertingkat di Stasiun Gedangan
Secara rinci, inovasi layanan akses terpadu tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:
- JPO Y-Shape Tiang Tunggal Langsung ke Peron (Lantai 2):
JPO Y-Shape ini berupa jembatan penyeberangan bercabang berbantu lift dan travelator (lift naik-turun dan eksalator mendatar). Dengan memanfaatkan konstruksi tiang tunggal (single-pillar cantilever) yang hemat lahan, JPO ini menghubungkan area pemukiman barat dan koridor Wedi langsung tembus ke dalam peron Stasiun Gedangan (direct seamless access). Dengan JPO ini, pejalan kaki dapat masuk stasiun dengan aman dan nyaman. Selain sangat dimudahkan, mereka juga tidak perlu berjalan terlalu panjang (meningkatkan momentum gerakan). - Konektivitas Feeder Mikrotrans AC (Lantai 1):
Faktor terbesar yang memaksa warga dari jalur panjang Jalan Raya Wedi hingga Banjar Kemuning menggunakan motor pribadi adalah susahnya transportasi di area sana dan langkanya Lyn HB yang lewat (abu-abu/biru telur asin). Untuk mengatasinya, kita bisa menggunakan Feeder Mikrotrans yang berbasis Buy The Service (BTS):- Ø Armada Baru dan Terjadwal: Mengganti Lyn tua dengan armada Mikrotrans AC yang dikelola langsung di bawah upah tetap pemerintah atau konsorsium. Supir digaji bulanan tanpa target setoran, sehingga armada wajib berangkat tiap 5-10 menit tanpa ngetem lama/menunggu penuh. Namun, belajar dari penerapan serupa pada transportasi umum di Surabaya, ada sopir yang nakal menolak penumpang padahal kendaraan kosong atau belum penuh. Untuk mengatasinya, tampilkan nama sopir, waktu, dan kode kendaraan, dan buka akses komplain/penilaian dari masyarakat.
- Ø Zonasi Drop-Zone Steril: Mikrotrans AC dan ojek online disediakan kantong penjemputan khusus (drop-zone/Kiss and Ride) di sekitar mulut koridor Jalan Wedi. Sistem ini mencegah kendaraan umum berhenti sembarangan di radius perempatan jalan raya utama.
- Fasilitas Mikromobilitas di Area Stasiun: Untuk menyelesaikan rute jarak pendek penumpang, di bawah fasilitas JPO dipasang stasiun sepeda dan skuter listrik sewa (Smart-Docking Station) seperti halnya sistem BOSEH Bike Share. Smart-Docking Station ini dilengkapi dengan sistem Hub to Hub. Pengguna memindai QR Code di Stasiun Gedangan, mengendarainya lewat jalur pedestrian, dan mengembalikannya ke hub terdekat di kawasan industri (seperti di depan Japfa Comfeed) atau gerbang perumahan Sukodono. Selain itu, sepeda juga dibekali pengunci elektrik otomatis, pelacak GPS Real-Time, serta pembatas wilayah virtual (geofencing) guna mengeliminasi potensi kehilangan atau vandalisme properti publik.
Efek Domino Penguraian Kawasan Sekitar
Penataan Perempatan Gedangan berbasis Multi-Level Hub seperti ini tidak sekadar dapat mengurai satu titik persimpangan, tetapi juga sangat potensial dalam memberikan efek domino positif yang signifikan terhadap kawasan di sekitarnya, yang juga rawan macet, misalnya:
- Pertigaan dan U-Turn Patung Gedangan: Hilangnya antrean kendaraan meluber (tailback) dari perempatan utama akan membebaskan area Patung Gedangan dari kemacetan. Selain itu, keberadaan kantong penjemputan di stasiun juga mengeliminasi aksi putar balik liar.
- Koridor Aloha dan Bangah: Peralihan ribuan pengendara motor pribadi ke kereta komuter akan menyusutkan volume kendaraan yang mengalir ke utara, sehingga arus di kawasan Aloha dan Bangah menjadi semakin lancar.
- Perempatan Seruni: Peningkatan frekuensi kereta yang berjalan di jalur khusus akan memangkas durasi penutupan palang pintu rel, sehingga mengurangi durasi tunggu kendaraan di persimpangan Seruni.
Komitmen "Semakin Melayani": Modernisasi Layanan Kereta Komuter
Melihat berbagai keuntungan di atas, tampak bahwa betapa masyarakat membutuhkan komitmen KAI dalam mengatasi kemacetan di Perempatan Gedangan ini. Gedung stasiun dan rancangan JPO yang megah tadi baru akan berdampak maksimal jika kualitas operasional keretanya dinaikkan ke tingkat tertinggi.
Melalui tiga langkah strategis berikut ini, semangat "Semakin Melayani" KAI di koridor Sidoarjo-Surabaya akan semakin terwujud:
- Pemisahan Jalur Komuter (Double Track Elektrifikasi): Melalui program modernisasi Surabaya Regional Railway Line (SRRL), penyediaan jalur ganda khusus komuter akan membebaskan kereta lokal dari antrean jalur KA Jarak Jauh.
- Keberangkatan Berfrekuensi Tinggi (Tiap 5-10 Menit): Dengan jalur khusus dan armada KRL/commuter line modern, frekuensi kereta pada jam sibuk dapat dipercepat. Penglaju tidak perlu lagi menghafal jadwal yang jarang, melainkan tinggal datang ke stasiun karena kereta selalu siap melayani.
- Sistem Pembayaran Terintegrasi: Kemudahan tap-in menggunakan kartu e-money atau integrasi aplikasi Trans Jatim AJA yang memberikan tarif terusan terjangkau.
Menjawab tantangan kemacetan di Perempatan Gedangan bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya terletak pada keberanian untuk menghadirkan sinergi transportasi bertingkat dengan Stasiun Gedangan sebagai simpul utamanya.
Lewat integrasi fisik JPO Y-Shape tiang tunggal, kemudahan angkutan pengumpan, dan peningkatan frekuensi kereta komuter yang responsif, PT Kereta Api Indonesia (Persero) tidak hanya mengurai benang kusut lalu lintas, tetapi juga membuktikan secara nyata visinya untuk "Semakin Melayani" seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, perjalanan Sidoarjo-Surabaya bukan lagi kisah tentang "menjadi tua di jalan," melainkan perjalanan yang aman, cepat, dan membanggakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.