22 Februari 2026

Pengen Makin Hot, tapi Malah Makin Kejedot: Salah Kaprah Cowok tentang Manfaat Pornografi

 

Cowok sedang nonton p*rno diam-diam
Cowok sedang nonton p*rno diam-diam

 

Makin Maraknya Pornografi

Kita pasti tau lah ya kalau pornografi kini makin marak. Nggak seperti dulu lagi yang lebih berupa opsi atau pilihan. Sekarang tuh hampir semuanya mengandung hal-hal porno. Kita dikepung pornografi. Pilihan nggenah (baik)-nya makin susah ditemui. Ini seperti kita, sejak kecil, udah digiring masuk ke sana, terpapar konten-konten m*sum itu. Baik itu film kartun, film atau drama remaja/dewasa, iklan, hiburan, musik, bacaan, duh kah semuanya mengandung gitu2. Bahkan, kita nggak aneh-aneh aja, hal-hal kayak gitu sering juga lewat di internet atau gawai kita atau di sekitar kita (dunyat). Nah, lo, gak enteng kan?

Tapi apa yang bikin aku kemudian ngangkat bahasan ini itu karena aku nemu celetukan-celetukan cowok yang menarik. Saat itu, ada yang terdengar jujur, dan bukan ngeles atau rasionalisasi, misal ngomong gini, “Ya lihat gituan karena belum mampu nikah karena ga punya biaya (buat “swa-layan” maksudnya, sambil nonton gituan).” Seketika aku tertegun, alasan ini sama sekali belum terpikirkan olehku sebelumnya. Biasanya itu pikiranku tentang orang-orang yang terpapar porno lebih tentang cowok bejat, cowok trauma, cowok stres/gak jelas/kurang kerjaan, atau semacamnya. Eh ternyata ada juga yang cowok yang berpikir kurang tepat seperti itu. Dan, dia gak sendiri. Ada beberapa alasan “kemanfaatan” yang sempat dilontarkan cowok tentang keterlibatan mereka dalam mengakses pornografi.

Namun, sebelumnya, kita bagi dulu seluruh cowok pengakses porno berdasarkan kelompoknya.

 

Tiga Jenis Cowok Pengakses Pornografi

Cowok pengakses pornografi itu beda-beda. Di sini, aku akan kelompokkan mereka ke dalam 3 kelompok besar:

1.    Cowok bejat (berperilaku bejat)

Cowok jenis ini emang dari sononya bejat. Gak bisa diubah. Dia memang ingin dan suka di dalam perilaku bejatnya. Menikmati. Gak merasa bersalah. Gak pengen keluar/sembuh. Gak jarang mereka ini malah bangga dengan penyimpangannya/dosa-dosanya.

 

2.    Cowok trauma, stres, dan pengisi waktu luang (cowok berperilaku pengecut/malas)

Pornografi bagi tipe cowok ke dua ini lebih berupa pelarian. Dia ingin “kabur” dari masalahnya.

 

3.    Cowok yang kurang pintar (cowok berperilaku kurang intelek)

Cowok di kelompok ini terjerumus ke pornografi karena alasan “kemanfaatan”. Seperti contoh di atas tadi, karena belum mampu nikah, ngakunya.

 

Nah, kita akan bahas lebih jauh tentang tipe ke tiga ini, cowok yang kurang pintar.

 

Macam-Macam “Manfaat” Pornografi di Mata Cowok yang Kurang Pintar

Cowok kurang pintar di sini, bukan berarti bodoh ya, tetapi dia mungkin telah mengakses informasi yang salah, tidak punya akses ke edukasi hal yang benar sama sekali, atau tentang dugaan-dugaannya sendiri yang menyebabkan dia salah bertindak.

Kadang sih ngakunya maksudnya baik, tapi tetep aja, dalam beribadah, niat dan cara itu sama-sama harus baik dan benar. Gak bisa asal.

Nih beberapa contoh alasan mereka:

·      Karena belum punya uang untuk nikah

Maka, dia “swa-layan”, sambil nonton porno/PMO (P*rnography, M*sturbation, and Org*sm atau P*rnografi, M*sturbasi, dan Org*sme). Ya daripada zina ma orang lain/cewek, dosa kan? Mending ngelakuin “ini”. Gitu kurang lebih pikirannya.

 

·      Biar nanti pas nikah udah ahli (buat belajar)

Mereka belajar macem-macem “gaya” dari film b*kep.

 

·      Nonton bareng ma istri biar cepet “naik” dan banyak variasi “gaya”

Ini karena cowoknya males pemanasan/f*replay, tapi ngakunya sih biar gak bosen hubungan pas*trinya. Biar adegan r*njang mereka itu selalu h*t dan penuh gairah.

 

Terlepas dari itu ngeles/rasionalisasi ataukah perilaku kebodohan, alasan-alasan yang tampak “mulia” ini punya dampak serius yang bakal jadi bumerang buat diri mereka sendiri.

Dan inilah bumerangnya ...

 

Kenapa Manfaat yang Diharapkan Cowok dari Porno itu akhirnya “Bunuh” Mereka Sendiri?

Gak malah untung, tapi malah buntung. Alih-alih mendapatkan manfaat, yang didapat justru musibah dunia akhirat.

 

Nonton karena Belum Mampu Nikah

 

·      Bikin males nikah

Cowok single yang sering mengkonsumsi pornografi dengan dalih belum mampu nikah, akhirnya malah jadi males nikah. Mereka akan kehilangan motivasi untuk berjuang secara finansial atau cari pasangan beneran. Otaknya sudah "kenyang" dengan kepuasan semu, sehingga dorongan untuk bekerja keras demi meminang seseorang justru menurun.

 

·      Bikin mati rasa terhadap rangs*ngan dari pasangan nyata

Keseringan nonton p*rno atau foto s*ksi menyebabkan dia mengalami visual overstimulation (overdosis visual). Dia butuh stimulus luar yang sangat kuat agar bisa ter*ngsang. Jika ini diteruskan, dia malah tidak akan bisa "naik" (er*ksi atau klim*ks) jika hanya dengan sentuhan atau kehadiran pasangan nyata. Dia jadi "mati rasa" terhadap manusia asli dan hanya bisa bereaksi pada layar.

 

·      Melatih otak untuk “ejak*lasi dini”

On*ni sambil nonton konten vulgar/p*rno membuat otaknya belajar bahwa s*ks harus cepat dan instan. Padahal, hubungan nyata butuh for*play (pemanasan) atau durasi dan proses.

 

·      Mentalitas "konsumen", bukan "pemberi"

Alasan "biar cepat" menunjukkan bahwa dia melihat aktivitas s*ksual hanya sebagai transaksi pembuangan sy*hwat, bukan sebuah komunikasi atau berbagi kasih sayang.

 

Risikonya:

Cowok tipe ini biasanya akan jadi suami yang egois. Dia hanya peduli kepuasannya sendiri yang penting cepat beres. Dia akan malas melakukan for*play atau merayu istri karena baginya itu "terlalu lambat" dan merepotkan.

 

·      Mengira bahwa adegan di film b*kep itu normal

Ketidaktahuan dan kurangnya edukasi s*ksual, membuat mereka kepo dan belajar dari sumber yang salah (p*rnografi), lalu menganggap apa yang diajarkan/dilihat di dalamnya itu benar/normal, padahal nggak normal sama sekali.

 

Nonton untuk Belajar "Gaya"

·      Jadi susah “puas” dan memiliki ekspektasi yang tidak realistis (coolidge effect)

P*rno adalah industri film dengan trik kamera, editing, dan aktor profesional. Bintang p*rno di layar adalah hasil dari:

Ø Operasi plastik, makeup tebal, dan pencahayaan profesional.

Ø Editing video yang membuang semua bagian "manusiawi" (seperti keringat berlebih, ekspresi lelah, atau bentuk tubuh alami).

Ini adalah perbandingan visual yang nggak adil. Mencoba meniru p*rno di dunia nyata seringkali membuat istri merasa kesakitan, tidak nyaman, atau merasa diperlakukan seperti objek, bukan manusia. Ketika suami melihat istrinya yang merupakan manusia nyata (yang mungkin lelah mengurus rumah, kerja, atau baru melahirkan), otaknya secara tidak sadar membandingkan dengan citra "sempurna" di layar. Akibatnya, dia merasa istrinya "kurang" secara fisik, padahal istrinya adalah manusia normal.

 

·      Kehilangan keintiman

S*ks bukan soal sirkus atau koreografi, tetapi tentang komunikasi. Belajar dari p*rno hanya akan membuat cowok jadi kaku dan egois.

Dia kehilangan kemampuan untuk menikmati keintiman emosional dan hanya mengejar kejutan visual. Inilah yang membuatnya susah puas secara seksual maupun mental.

 

·      Matinya rasa syukur (desensitisasi)

Pornografi menawarkan variasi tanpa batas. Hanya dengan satu klik, seorang cowok bisa melihat ribuan orang berbeda.

 

Dampaknya:

Otak menjadi manja. Ketika dia hanya menghadapi satu orang (istrinya) setiap hari, sistem reward di otaknya merasa "bosan".

 

Nonton Bareng Istri (Biar Cepat "Naik")

 

·      Membunuh kedekatan emosional

Hubungan intim yang sehat butuh chemistry antarmanusia. Jika butuh "bantuan" layar untuk terangsang, artinya dia sudah mati rasa terhadap pasangannya sendiri.

 

·      Ketergantungan visual

Otak jadi malas memproses r*ngsangan nyata (sentuhan/aroma istri) karena sudah terbiasa dengan rangsangan visual ekstrem dari p*rno. Tanpa layar, dia bisa mengalami disfungsi er*ksi di depan istri.

 

·      Kehilangan fokus pada Pasangan

Dalam hubungan sehat, kepuasan datang dari koneksi dua arah. Namun, cowok yang otaknya sudah terpapar p*rno sering kali:

Ø  Hanya fokus pada performa: Dia ingin istrinya melakukan gaya seperti di film.

Ø  Kurang empati

Dia tidak peduli apakah istrinya nyaman atau tidak, yang penting dia mendapatkan stimulasi visual yang mirip dengan apa yang dia tonton.

Ø  Jika istri tidak bisa (atau tidak mau) memenuhi fantasi liarnya, dia akan merasa "tidak puas" dan mulai menyalahkan istrinya, padahal masalahnya ada pada ekspektasi otaknya yang sudah rusak.

Ø  .Lingkaran setan "selingkuh mental"

Membandingkan istri dengan bintang p*rno sebenarnya adalah bentuk perselingkuhan mental:

 

Dia hadir secara fisik di depan istrinya, tapi pikirannya ada di tempat lain.

 

Dia mungkin akan nyuruh istri niru adegan yang ditontonnya. Yang harusnya waktu stimulasi itu sambil melihat istri langsung (ada kontak mata dan keintiman lainnya, eh gara-gara mau niru “gaya” di film-film akhirnya mata keduanya menuju ke layar.

Gak cukup sampai di situ, Si Suami ini mungkin juga akan berfantasi s*ksual bayangin cewek lain saat berhubungan b*dan dengan istrinya. Gak sekadar gak menatap istri, tapi meremnya dia itu sambil bayangin artis s*ksi/s*nsual atau bintang-bintang p*rno.

Yang gini ini pel*cehan banget bagi istri dan akhirnya menciptakan jarak emosional. Istri akan merasa tidak dihargai, merasa rendah diri (insecure), dan akhirnya hubungan pun jadi hambar.

 

Selain itu, mereka yang juga sering menonton p*rno akan berisiko:

 

·      Kecanduan atau mengalami ekskalasi (peningkatan dosis untuk mendapatkan efek yang sama)

 

Ada orang yang beralasan iseng aja. Tapi, dampak p*rno gak se-iseng niat mereka. Menurutmu kenapa Tuhan ngelarang kita dari dosa-dosa itu? Masa iya Tuhan yang butuh kita? Nggak, kan? Yang butuh itu ya kita sendiri. Yang bikin (ciptain kita) itu bikinin kita rules (petunjuk penggunaan) biar kita itu nggak error, nggak kena samting-samting. Kalau kita ngelanggar rules ya tentu kita bakal kena samting-samting. Selain ngecewain pembuatnya (Tuhan), kita juga bakal efek lainnya di dunia atau di akhirat.

Sama juga dengan p*rno. Otak manusia sangat suka dopamin. Sesuatu yang dimulai dari "iseng" bisa dengan cepat membuat jalur saraf baru di otak. Saat bosan atau kosong, otak akan menagih "iseng" tersebut sebagai pelarian utama, hingga akhirnya kehilangan kendali.

Pornografi menyediakan lonjakan dopamin (hormon kesenangan) secara instan. Kalau otak sudah terbiasa dengan kepuasan tinggi gini, kalau nggak nonton p*rno lagi otaknya jadi ngerasa "kekurangan", lalu memicu rasa cemas atau kesepian dan memaksa orang tersebut untuk mengaksesnya kembali.

Selain itu, p*rnografi  tersebut juga akan mengubah struktur otak dia (neuroplastisitas). Konsumsi yang berlebihan dan terus-menerus dapat mengubah jaringan saraf otak, mirip dengan adiksi narkotika atau alkohol. Area otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) dia akan melemah, sehingga dia akan sulit berhenti meskipun tahu itu merusak.

 

·      Makin memburuk kondisinya

 

Kalau radar agamanya masih baik, dia akan merasa bersalah setelahnya. Ini bikin pelarian dia dari stres malah nyebabin stres yang lebih tinggi.

 

Sebaliknya, kalau radar agamanya sudah memudar/hilang, dia akan santai saja melakukan dosa tersebut. Remnya udah dol (blong) atau rusak. Yang tadinya malu, ngerasa bersalah, dll akhirnya udah gak gitu lagi. Gak stres lagi sih kayak yang radar agamanya masih baik, tapi yang ini malah lebih bahaya, karena imannya sudah terdegradasi parah.

 

 

·      Semakin jauh dari solusi yang sebenarnya

 

Kalau dikit-dikit larinya ke p*rno. Trauma lari ke p*rno, stres (bosan, stres, kesepian) larinya ke p*rno, ada masalah dengan istri ke p*rno lagi, minder dengan lawan jenis ke p*rno juga, maka hidupnya mungkin nggak akan mengalami perbaikan. Dia hanya melakukan pelarian atau mencari kesenangan sesaat, nggak nyari solusinya. Itu sama aja nggak bikin dirinya sembuh (masalah teratasi), tapi cuma menipu diri sendiri.

Apalagi, p*rno itu bisa merebut kehidupan di dunia nyata dia sepenuhnya. S*ks bisa beralih ke p*rno, interaksi dengan manusia bisa beralih ke p*rno, dan semacamnya. Dia jadi “nyaman” di hal-hal yang menyimpang/tidak wajar.

P*rno yang tadinya digunakannya sebagai anestesi/obat b*us untuk mematikan perasaan sedih, gagal, atau trauma malah berbalik jadi bumerang. Udah stresnya nggak hilang (hanya tertunda), begitu efek dopamin habis eh stresnya malah datang lagi dengan bonus rasa bersalah, memicu siklus kecanduan yang lebih parah.

         

Dan gong-nya lagi, alasan-alasan yang tadinya kayak buat harmosisasi keluarga, akhirnya malah bisa membuka pintu perselingkuhan.

Hubungan antara kecanduan pornografi dan perselingkuhan nyata itu ibarat tangga; p*rnografi adalah anak tangga pertama yang pelan-pelan menuntun seseorang ke risiko perz*naan fisik.

Jadi, yang awalnya tadi iseng atau nonton sebentar atau jarang, dan nontonnya masih yang soft, lama-lama makin lama durasinya, makin sering frekuensinya, makin hard tontonannya, makin menyimpang perilaku s*ksualnya (misal: dengan h*wan, anak kecil, sesama j*nis, lewat an*s, dengan peny*ksaan, atau lainnya), lalu mungkin naik jadi melibatkan orang lain(chat m*sum, phone s*x, Ve-Ce-eS), lalu ke praktek ke orang nyata (c*uman, cewek lain or*l dia, atau lainnya), lalu p*tting, dan akhirnya bers*tubuh beneran. Lalu intensitas makin sering, ingin ganti-ganti orang dan ganti-ganti gaya, ganti-ganti lokasi, ganti-ganti alat bantu, dan seterusnya. Makin nyungsep hidupnya. Makin error kualitas dirinya. Udah jauh dari kata sholeh lagi.

 

Mengapa Memudahkan Mereka Menikah Belum Tentu Mengatasi?

Seperti sudah dijelaskan di atas, cowok yang mengakses p*rno itu dibagi menjadi 3 golongan besar, yaitu: cowok bejat, cowok pelarian, dan cowok “tujuan mulia”. Cowok bejat ranahnya adalah hukum/kriminalitas, sedangkan cowok pelarian/kecand*an ranahnya adalah psikolog/psikiater/penyembuh gangguan mental.

Yang bisa kita usahakan untuk kita jangkau adalah cowok jenis ke-3 (yang paling potensial), yaitu cowok belum nikah, yang belum mampu nikah, dan kurang edukasi s*ksual. Meskipun, nggak semua juga, tergantung tingkat keparahannya, dia merasa mampu nggak buat berubah, dan mau berubah apa nggak. Yang lebih baik sih, edukasinya (dan atau upaya bantu dia nikah) itu dilakukan sebelum dia terjun/terpapar konten atau aktivitas p*rno tadi.

 

Karena:

·      Masalahnya di otak, bukan di s*langkangan: Adiksi p*rno adalah gangguan pada sistem reward di otak, bukan sekadar kekurangan penyaluran s*ksual.

 

·      Variasi vs monogami

Di p*rno, cowok bisa melihat ribuan orang dalam satu menit, sedangkan dalam pernikahan pasangannya hanya satu. Jika otaknya sudah "rusak" oleh variasi p*rno, dia akan cepat bosan dengan istrinya karena otaknya selalu menagih stimulasi baru yang tidak masuk akal.

 

·      Konflik rumah tangga

Jika dia terbiasa lari ke porno saat stres, maka setiap kali bertengkar dengan istri, dia akan kembali ke p*rno sebagai pelarian, bukannya menyelesaikan masalah dengan pasangan.

 

Peran Pria sebagai Pemimpin sedang Diuji

Di sinilah peran pria sebagai pemimpin diuji. Pemimpin itu nggak cuma koar-koar aja, tapi mimpin diri sendiri dulu. Ngasih keteladanan dulu. Urutannya adalah mimpin diri sendiri dulu, baru mimpin orang lain.

Tugas kita sebagai muslim, ya sebagai pemimpin. Memimpin itu bukan hanya tentang suami terhadap istri, dan bukan nunggu nikah dulu, tapi kita sebagai muslim itu emang ditugaskan untuk memimpin diri sendiri sebaik mungkin, seumur hidup.

Nah, setelah itu, baru kita berusaha mimpin orang lain, terutama orang terdekat dulu. Dalam konteks cowok, cowok ini harus menegur sekitarnya juga kalau ada yang salah, misal ortunya, tetangganya, temannya, atau lainnya.

Terutama terhadap teman nih ya, aku sering nemuin cowok-cowok itu lemah terhadap temannya yang m*sum. Seringkali ada f*cek atau teman cerita m*sum di kantor mereka, menceritakan hubungan s*ksualnya atau prestasinya ngerusak banyak kehormatan cewek (menz*nai), tapi cowok-cowok di situ (dan kadang ada cewek-cewek juga di sana) malah kepo atau ikut nimbrung cerita juga. Nggak berusaha negur. Gak berusaha membubarkan. Malah ikut menikmati. Ya minimal banget nih ya, kalau mereka itu lemah, minimaaaal banget, kamu menjauh gitu lho. Jauuuh banget. Jauhin mereka. Itu bikin kamu masih punya sisi pemimpin, meskipun dalam taraf terendah (memimpin dengan hati/sekadar mampu membenci perbuatan tersebut).

Cowok suka ngaku-ngaku “Kami pemimpin lho. Kami pemimpin lho.” Tapi gak bisa mimpin dirinya sendiri dengan baik. Kalau ditegur tentang kem*suman malah nyalahin cewek, ngeles bilang “cowok itu ya emang setelannya gitu (m*sum), dll.

Kalau ditegur tentang r*kok, ngeles dengan berbagai alasan, yang intinya gak mau dipisahin ma r*koknya. Atau kelakuan-kelakuan absurd cowok lainnya.

Nah, misal ya, kamu ngatain cowok n*psu karena ceweknya bajunya s*ksi2. Lah apa mereka pikir semua cewek itu muslim? Cewek yang nggak muslim atau cewek muslim yang masih kurang taat (tahap belajar/sedang khilaf/masih berproses) tentunya ya masih nggak menutup aurat dengan sempurna. Kalau mereka ingin ngontrol orang lain, kelompok lain, atau bahkan negara lain itu nggak realistis.

Cewek punya ujian/PR sendiri (misal: sangat pengen tampil), cowok juga punya ujian/PR sendiri (misal: syahw*t yang mungkin lebih besar dari cewek). Itu PR masing-masing untuk berusaha menjadi pribadi yang sebaik mungkin, menegur orang lain dengan baik, tetapi hasilnya gak mungkin semuanya ngikut maumu. Pasti banyak juga yang masih tetep nggak berubah. Itulah pentingnya kamu nguatin bentengmu sendiri, gak lepas tangan dan cuma nyalahin orang lain. Carilah caranya sampai ketemu. Ngeles ngatain m*sum itu "bawaan cowok" adalah alasan manipulatif. Jangan mengkambinghitamkan gender untuk menutupi rendahnya kontrol diri dan rusaknya integritasmu.

Jadi, harapannya, dengan gitu kamu nggak akan mudah terjatuh ke hal-hal p*rno dan gak akan cuma koar-koar aja, tapi juga ga diam aja. Introspeksi diri, memperbaiki diri, menegur orang lain dengan baik, tapi hasilnya serahkan pada Allah.

Laki-laki yang berkualitas bukan dilihat dari seberapa "berpengalaman" dia, tapi dari keberanian moralnya untuk berbeda dari arus yang rusak. Menjauh dari lingkungan toksik adalah standar paling minim bagi seorang pria yang layak menjadi pemimpin. Jika dia hanya "ikut-ikutan" atau "pasif" saat temannya berbuat m*sum, dia bukan pemimpin, dia hanya penumpang yang menunggu waktu untuk ikut kecemplung juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.