11 Februari 2026

Membangun dari yang Terdekat: Logika yang Sering Dianggap Sepele

 

Desa yang asri dan bahagia
Desa yang asri dan bahagia


Baik pun harus terarah. 

Sebaik apa pun diri kita sumber daya kita terbatas. 

Waktu juga terbatas. 

Jadi, betapapun kita ingin membantu "segalanya" itu mustahil.

 

Di sini, saya ingin menyoroti di mana pertolongan dan fokus kita harus diutamakan. 

Di Islam sudah diajarkan, utamakan keluarga dulu (istri dan anak) baru orang-orang terdekat dan orang-orang yang kita kenal (tetangga, saudara dll), baru orang-orang lain. 

Membangun juga gitu. Dari diri sendiri yang dipimpin, lalu membangun keluarga, lalu masyarakat kecil, lalu masyarakat skup yang lebih besar. 

Jadi:


Diri sendiri -> keluarga -> RT/RW -> Desa -> kecamatan -> dst ke skup yang lebih besar (negara sendiri lalu negara tetangga lalu negara lain)


Masalahnya, urutan ini sering diabaikan atau bahkan dibalik.

Akhirnya kacau dan tak kunjung berhasil.

Ini bukan soal keren-kerenan atau imej, tapi kebermanfaatan dan peluang bahwa perubahan itu akan lebih mudah dan lebih cepat terjadi.

Pertama, amankan diri sendiri dulu. Lalu, baru peduli lingkungan terdekat, baru yang semakin jauh.

Dan di sini, kita pilah-pilah lagi, pilih yang lebih banyak manfaatnya dulu orang/wilayahnya. Sehingga, adil itu bukan tentang merata atau sama besar. Adil itu tentang kita akan membantu orang/wilayah yang mau membantu dirinya sendiri, yang cermat di dalam mengelola keuangan atau bantuan tersebut, dan memberikan manfaat berlipat ganda bagi orang/wilayah yang ditolong tersebut. Artinya, akan memampukan mereka hidup mandiri dan tidak ketergantungan lagi. Bantuan itu diperebutkan dan diatur proporsinya sesuai usaha masing-masing, bukan sekadar dibagi-bagikan merata.


Telah banyak contoh dari pembangunan dari bawah ke atas atau dari dekat ke jauh seperti ini. Ada yang individu atau satu dua orang mampu membangun wilayahnya, ada desa A berhasil di dalam bidang X, ada kampung B mampu menghidupi kampungnya sendiri, dll. Saya tidak nyantumin spesifik contohnya karena males nyari-nyari lagi referensi itu. Lagian ini kan format blog, yang penting idenya nyampe.


Masalahnya, yang terdekat dan pemerintahan yang terbawah malah ditangani makin asal-asalan. Pemilihan ketua RT atau RW digilir karena nggak ada yang mau menjabat atau langsung diserahkan yang termuda (karena untuk buli-bulian dan dianggap nurut), atau dikuasai orang yang dominan tapi gak peduli dan gak kompeten (karena sekarang udah ada bayarannya), atau lainnya. Pemilihan kepala desa itu orangnya itu-itu aja atau muter di keluarganya, atau semacamnya. 

RT dan RW tidak ditangani serius, banyak sungkannya, atau sekadar formalitas. Begitupun kepala desa, nggak jelas programnya dan pembangunannya apa. Bertahun-tahun menjabat/"ganti" tidak terlihat perubahan yang berarti atau bahkan tidak terlihat perubahan sama sekali.

Nggak cuma itu, korupsi di tingkat desa ini termasuk salah satu korupsi yang tertinggi di Indonesia. 

Jadi, di tingkat desa pun bancakannya sudah seheboh itu, bagaimana dengan tingkat yang lebih tinggi? Beneran lebih rendah korupsinya atau sekadar main "lebih cantik"?


Baca artikel pemikiranku lainnya di sini: 

Optimalisasi VCO Indonesia: strategi inovasi terpadu 70/20/10 berbasis daya saing global 

Konflik Manusia dan Harimau Terus Terjadi, Harimau Harus Berubah


Baca seluruh artikel pemikiranku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku

 

Baca artikel pembangunanku lainnya di sini:

Etalase kemewahan: negara dalam pajangan, rakyat dalam angan (satire)


Baca seluruh artikel pembangunanku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pembangunan

 

Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/

 

Jadi, bagi individu maupun konteks pemerintahan, sosial, atau lainnya, terapkanlah urutan dari bawah ke atas dan dari dekat ke jauh ini.

Bukan berarti tidak boleh peduli yang lebih jauh, tetapi proporsinya harus diatur - semakin jauh semakin kecil atau dikesampingkan/tidak diprioritaskan. 

Kalau kita sakit misalnya siapa yang lebih mungkin bantu dimintai tolong/bantu duluan? 

Kalau desa kita butuh/kena bencana siapa yang lebih mungkin dimintai tolong/bantu duluan?

Kalau wilayah kita sedang butuh sedangkan pemerintahan yang lebih atas tidak peduli kita atau tidak memprioritaskan kita atau lambat responnya, lalu bagaimana?

Itulah kenapa kita harus urut dari bawah ke atas dan dari yang terdekat ke terjauh dulu.

Lagipula, semakin dekat dengan kita semakin memungkinkan/mudah kita memantaunya. Beda dengan kalau nyumbang atau peduliin yang jauh-jauh dulu, nggak ada yang tahu beneran sampai apa nggak atau gimana pemanfaatannya. Sementara kalau yang lebih dekat, kita bahkan bisa ikut mantau atau terjun langsung di dalamnya (dan emang idealnya harus demikian, berpartisipasi aktif).


Iya, kita diajarkan untuk peduli orang lain, tetapi masalahnya ada pada bentuk, proporsi, kemanfaatan, dan prioritas.

Kalau kita tidak kaya, ya jangan maksa nyumbang banyak, atau jangan nyumbang uang sama sekali. Kita bisa bantu tenaga, waktu, tulisan, koneksi, publikasi, barang-barang baik yang sudah tidak kita butuhkan, atau lainnya.

Lalu proporsi: dekat lebih banyak dari yang jauh. 

Kemanfaatan dan prioritas: yang paling bermanfaat dapat duluan dan lebih besar. 

Kita membantu untuk membuat mereka bangkit dan mandiri dan dalam jangka panjang menjadi pihak kuat yang bisa membantu orang atau wilayah lainnya lagi, bukan untuk membuat mereka lemah, malas, atau ketergantungan.


Sering juga saya jumpai, lembaga-lembaga donasi itu malah mencantumkan minimal donasi yang sangat tinggi. Ya itu terserah mereka sih, tapi ada orang-orang yang tidak kaya itu sebenarnya ingin menyumbang juga. Namun, karena jumlahnya tidak sesuai ekspektasi dari lembaga-lembaga donasi itu, meskipun orang-orang tadi mampunya segitu (dan secara urutan saya di atas memang harus lebih kecil dari yang lain), akhirnya malah mungkin tidak jadi menyumbang.


Yah intinya, perbaiki dulu individu, keluarga, RT/RW, dan desa. Masyarakat kecil dulu baru dunia/internasional/negara lain. Tangani dengan serius, seperti kita menangani perusahaan. Timbang untung ruginya, catat, evaluasi, dan perbaiki. Pecat orang-orang yang tidak baik, tidak kompeten, atau menjadi penghalang. Setiap dana keluar harus mendatangkan dana baru/laba atau kemanfaatan yang berkali-kali lipat lebih besar. Dan itu butuh cara/struktur yang manjur juga di dalam menerapkannya.

 

 



 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.