Maaf yang Modus: Leader Sejati atau Malah Tak Tahu Diri?

 

Maaf yang Modus: Leader Sejati atau Malah Tak Tahu Diri?
Meminta Maaf dengan Tulus

 

Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

Maaf adalah kata yang fungsi utamanya untuk menyesal dari kesalahan. Bersama dengan kata "tolong" dan "terima kasih" sering kali ketiga kata ini digaungkan sebagai kata "emas" yang dianjurkan dipakai sehari-hari. Sayangnya, seiring dengan tren juga, tren lain muncul dan menjadikan fungsi kata "maaf" yang sebenarnya menjadi luntur. Orang yang benar-benar bersalah (pelakunya) tidak benar-benar meminta maaf.

Kata "Maaf" yang Modus


Banyak sekali dalih yang dibuat-buat biar pelaku itu nggak minta maaf beneran. Ada yang berdalih profesionalitas di lingkungan kerja/diplomatis, biar lebih alpha/like a boss katanya, atau bahkan gaslighting atau balik nyalahin korban. Sudah nggak merasa bersalah, nggak minta maaf beneran, nggak bertanggung jawab atas perbuatan buruknya/memberi tindak lanjut positif atas kerugian korban, nyalahin korbannya pula. Parah banget orang-orang model gini ini.

Macam-Macam Cara Minta "Maaf" yang Modus


Ada banyak kata "maaf" yang modus di dunia ini. Sekadar kata saja mereka tidak mampu memberikannya, itu belum termasuk ekspresi penyesalan yang juga nggak ada, tone penyesalan yang nggak ada, ketulusan yang nggak ada, dan juga upaya perbaikan yang juga nggak ada. Kalau salah itu nyantai aja, sudah nggak peduli dengan perasaan orang lain, kebutuhan orang lain, dosa, apalagi akhirat.
 
 
Contoh cara minta maaf yang modus itu gini:
 

  • Sorry 
"I'm Sorry" berbeda dengan "Forgive Me".
Sorry sering kali hanya ekspresi penyesalan atau rasa kasihan terhadap sebuah situasi, tanpa selalu mengakui kesalahan pribadi.
Kita juga mungkin sering nemuin orang model ginian, "Eh sori ya gini gitu" tapi enteng aja, gak merasa bersalah, gak dengan kerendahan hati, gak ada upaya perbaikan situasi, plus terus-terusan ngulangi.
Sorry itu palsu banget, kadang juga kebiasaan aja (nggak dimaknai, sekadar ngomong).

  • Terima kasih sudah ... 
Pelaku tidak menyesal dan tidak mengakui kesalahan, malah nyuruh orang lain untuk lebih sabar. Penyalahgunaan kata "terima kasih" untuk hal-hal yang manipulatif.
Penggunaan asli dari kata "terima kasih" sebenarnya untuk konteks yang lain. Boleh-boleh aja pelaku berterima kasih misal "terima kasih sudah menunggu" tapi tetep minta maaf dulu. "Maaf saya terlambat. Terima kasih sudah menunggu." Itu lebih beretika. Kamu salah, kamu harus mengakui, minta maaf, dan menerima tanggung jawab. Bukan malah sok bossy. Siapa elu? 

  • Mohon maaf atas ketidaknyamanannya
Pelaku berusaha menggeser fokus bukan pada kesalahan mereka, tetapi pada "ketidaknyamanan" korban. Nyalahin korban salah sendiri sensi/gak nyaman. 
Perhatikan pula bahwa pernyataan "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya" ini tidak mengandung "pelaku" (nggak ada subyeknya), tidak mengandung korban (nggak ada obyeknya), dan tidak mengandung "mereka salah apa" dan "apa perbaikannya". 
Ini sama sekali bukan minta maaf. Ini basa basi bisnis/dalih "diplomatis"/"profesional".
Dan yang paling parah, pernyataan ini juga sering digunakan sebagai tameng hukum agar mereka tidak dianggap mengakui kesalahan secara hukum yang bisa berujung pada tuntutan ganti rugi.
 
Pelaku yang menggunakan pernyataan ini TIDAK BENAR-BENAR MERASA BERSALAH dan TIDAK BENAR-BENAR MEMINTA MAAF.


Semua bentuk maaf palsu tadi termasuk manipulasi psikologis yang sering disebut sebagai non-apology apology. Ini adalah tren kesombongan modern. Sok baik, sok bijak, sok positif, tapi munafik dan licik. Bahkan jika kamu alpha, jadilah alpha yang positif, bukan alpha yang toksik. Menjadi alpha atau leader sekalipun bukan alasan bagi seseorang untuk bisa berbuat seenaknya dan tidak meminta maaf jika bersalah.
 
Justru pemimpin yang baik itu berani mengakui kesalahan, meminta maaf dengan rendah hati, dan bersedia memperbaiki diri.
 
Kalau kamu dibilang kurang leader hanya karena kamu menggunakan kata "maaf", ketahuilah bahwa dia-lah (yang bilang lah) yang error/toksik. Dia yang tak tahu diri. 
Justru kamu leader yang baik, berprinsip, bermoral, dan beretika. Tegaklah di jalan yang benar.


Tandai dalam ingatan siapa saja orang-orang dengan "maaf palsu", hati-hati jika terpaksa harus berhubungan dengan mereka lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.