05 Juni 2021

Kesadaran yang Hampir Terlambat

 Ada hal-hal tertentu dalam hidup yang harus kupelajari dalam cara yang berat. Baru beberapa tahun terakhir ini aku menyadarinya, dan itu membuatku merasa sangat bodoh dan malu terhadap diriku sendiri.

Aku telah membuang-buang banyak uang, waktu, dan tenaga dengan sia-sia di hidupku.

Aku ingin mencegahmu dari mengalami kebodohan serupa atau tidak berlama-lama di dalamnya sepertiku.

Ini pelajarannya:

1. Jangan setia pada sesuatu yang salah, baik itu orang, organisasi, tempat kerja, atau apa pun. Setialah pada nilai-nilai dan kebenaran saja.


2. Jangan setia sebelum waktunya,

3. Di dalam setiap monopoli atau banyaknya demand/permintaan terhadap sesuatu itu ada potensi kesewenang-wenangan/kezaliman, bukalah opsimu sebanyak-banyaknya agar tidak terjebak dalam monopoli atau kesewenang-wenangan orang lain, sehingga opsi dan demand terhadapmu pun banyak. Kamu juga bisa memilih untuk mendapatkan yang terbaik.


4. Nama besar dari sesuatu tidak menjamin sesuatu itu baik. Segalanya itu subyektif, lihatlah perlakuan mereka terhadapmu. Meski banyak orang bilang mereka baik, tetapi kepadamu tidak, ya berarti mereka tidak baik. Apa yang kamu alami maupun standarmu itu valid.


5. Harapkan yang terbaik, tetapi bersiaplah untuk kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Milikilah fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi terhadap perubahan apa pun. 


6. Terkadang kehidupan melemparkan "kotoran" ke wajahmu. Kamu boleh sedih ataupun marah, tetapi jangan lama-lama. Segeralah membersihkan kotoran itu lalu melanjutkan hidupmu kembali.


7. Ada orang-orang atau hal-hal yang tidak untuk selamanya. Memilih apa yang juga memilihmu terkadang dapat memudahkan hidupmu. Semua orang dan semua hal saling memilih, pastikan kamu dan dia saling memilih satu sama lain.


8. Investasi terbaikmu harus kamu tujukan pada dirimu sendiri, bukan passive income, anak, pasangan, atau apa pun.


9. Kemampuan indera-indera kita itu terbatas, tak semua yang kamu indera itu nyata. Perhatikan apa yang kamu indera dan apa yang tidak kamu indera.


10. Selektiflah akan segalanya. Lakukanlah learning dan unlearning sepanjang waktu. Hidup kita bukan tentang segalanya, tetapi tentang hal-hal yang teristimewa dan terpenting saja.


11. Sahabat terbaikmu adalah amalmu.


12. Yang paling peduli padamu dan sayang kamu adalah Allah dan Rasulullah.


13. Tidak semua orang/hal akan memilihmu, tetapi kamu harus selalu memilih dirimu sendiri. Perlakukan dirimu sebaik-baiknya. Dirimu adalah aset terbesarmu.


Dan aku nulis sebanyak ini itu aslinya berawal dari terlambatnya aku menyadari adanya lowongan pekerjaan yang bisa tutup sewaktu-waktu, bahkan dengan segera setelah diposting/dipublikasikan atau setelah mendapat kandidat yang tepat. Padahal, aku melamar sampai buanyak gitu lho. Sering juga dulu pinjam koran Jawa Pos Sabtu milik tetangga, lalu aku melamar untuk loker di Sabtu itu dan Sabtu sebelumnya, dan mengirimkan lamaran pekerjaan itu bahkan hingga seminggu setelah loker Sabtu terbaru itu dipasang. 

Dan itu banyak sekali. Mungkin sudah ratusan. Itu pun belum termasuk yang dari web atau sumber lain. Selain itu, aku juga percaya deadline yang tertulis pada lowongan-lowongan tersebut. 

Ketika aku kemudian menemukan di Jobstreet, IG, ataupun FB ternyata lowongan-lowongan itu bisa kilat banget hilangnya/terisinya, di situ aku merasa "Apa yang telah kulakukan selama ini? Bodoh banget. Kenapa aku baru nyadar/tahu?"

Tapi ya sudah terlanjur terlambat tahu, daripada nggak tahu sama sekali. Cuma, penyesalan itu ada dan besar.

Kecepatan dan ketepatan itu penting. CATET.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.