11 Desember 2025

Dari Salmon ke Debat: Kenapa Analogi Sering Disalahgunakan?

 

Dua orang memandang masalah yang sama dengan analogi berbeda
Dua orang memandang masalah yang sama dengan analogi berbeda


 Baru kapan hari aku bikin postingan tentang salmon, dengan analoginya yang terkenal, “Hanya ikan mati yang ikut arus.” Nah, kali ini postinganku juga masih nggak jauh-jauh dari bahasan analogi.

Aku tuh sering ya nemu orang posting atau komen pake analogi sambil mencak-mencak/marah-marah, yang intinya itu dia mengatakan solusi masalah “ini” adalah apa yang kusampaikan ini, dengan analogi kayak gini. Lalu kemudian bisa terjadi debat analogi.

 

Baca artikel analogi salah tentang salmon di sini: 

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/2025/12/benarkah-hanya-ikan-mati-yang-mengikuti.html


Baca artikel pemikiranku lainnya di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/search/label/pemikiranku


Baca artikel blog lengkapku di sini:

https://cerahdanmencerahkan.blogspot.com/


Pengertian Analogi

 

Nah, sebelum kubahas lebih jauh, analogi itu apa sih?

Menurut KBBI, analogi adalah persamaan atau persesuaian antara dua hal yang berbeda, atau bisa juga disebut kias atau perumpamaan yang digunakan untuk menjelaskan suatu konsep yang sulit dipahami dengan membandingkannya pada hal yang lebih dikenal atau familiar.

Atau bisa juga dikatakan,

Analogi adalah perbandingan dua hal yang tidak sama untuk menunjukkan adanya kesamaan, sehingga memperjelas makna.

Jadi, fungsi analogi adalah untuk membuat suatu hal/masalah itu mudah dipahami.

Masalahnya, orang sering menggunakan analogi seolah sebagai solusi. Padahal, dia bukan solusi. Bukan juga alat berpikir yang benar.

Kenapa?

Karena analogi itu subyektif, tergantung konteksnya. Sementara suatu masalah tidak kaku/saklek solusinya pasti satu. Malahan, biasanya suatu masalah itu bisa didekati dari berbagai sisi, sehingga untuk satu masalah yang sama bisa saja lebih dari satu analogi cocok semua, terutama jika masalahnya sangat tidak spesifik/terlalu umum.

 

Contoh Pendekatan Analogi yang Berbeda untuk Masalah yang Sama

 

Sekarang misal kita bahas masalah trauma. Ada orang trauma nih ceritanya. Dia survivor (orang yang pernah atau sedang mengalami trauma) gitu.

Terhadap korban trauma orang bisa saja ambil analogi:

·      Ikan yang hidup di akuarium kotor/beracun harus dipindah biar pulih. Kalau nggak pindah, nggak bisa pulih.

Analogi ini mengatakan bahwa korban harus keluar dari lingkungan toksik biar pulih. Kalau beban eksternal berkurang, penyembuhan akan lebih mudah.

Kelebihannya:

Simpel, jelas, langsung menunjukkan bahwa lingkungan berperan besar.

Kekurangannya:

Tidak selalu “langsung pulih”.

Trauma atau pola internal bisa tetap ada, jadi perpindahan saja tidak otomatis menyelesaikan akar masalah. Meyakini hal ini bisa membuat survivor merasa gagal kalau pindah tapi masih struggle/belum pulih.

·      Paus bermigrasi mengikuti arus” atau “Ikan berenang mengikuti arus

Dengan analogi yang ini, survivor malah beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kurang ideal, walaupun dengan risiko kehilangan sebagian diri atau memaksakan diri terlalu keras.

·      Ikan (salmon) berenang (bermigrasi) melawan arus, ikan (salmon) mati (dalam migrasi) mengikut arus

Kalau kamu pakai analogi yang ini, maka survivor akan semacam memberontak gitu deh. Karena analogi ini berbicara tentang resistensi dan integritas diri. Berenang melawan arus artinya mempertahankan prinsip, menghadapi kesulitan, tetapi tetap aktif.

 

Jadi, analogi itu fleksibel.

Situasinya bisa sama, tetapi analoginya bisa berbeda tergantung fokus:

·      Fokus pemulihan cepat → pilih “pindah dari lingkungan beracun

·      Fokus adaptasi realistis → pilih “menyesuaikan diri dengan arus

·      Fokus melawan pola yang salah dan menjaga integritas diri → pilih “berenang melawan arus

Kondisi survivor, sumber dayanya, dan toksisitas apa yang dihadapinya itu beda-beda. Survivor itu pilih solusi yang mana untuk hidupnya itu tergantung kemampuannya dan kondisi lingkungannya. Yang satu mungkin lebih pilih melawan/fight ala salmon, satunya lagi mungkin lebih pilih ikut arus/adaptasi karena belum sanggup melawan atau pergi (bisa jadi dia cuma menjauh), satunya lagi pilih pergi.

Intinya, tidak ada satu analogi yang benar untuk semua konteks. Yang penting adalah apa yang terasa paling “nyambung” dengan pengalaman survivor itu sekarang dan bisa memotivasi langkah nyata.

 

Aku kasih analogi baru nih ya. Misal orang naik bus yang sama. Penumpang yang satu lihat ke arah kaca depan bus, penumpang satunya yang di kursi kanan bus lihat pemandangan di kanan bus, sedangkan penumpang di kursi kiri bus lihat pemandangan di kiri bus. Mereka bisa melihat hal yang berbeda walau sama-sama lihat dari bus dan sama-sama naik bus itu.

 

analogi penumpang bus bagian kiri dan kanan
Analogi penumpang kiri bus melihat pegunungan di sisi kaca kiri dan penumpang kanan bus melihat bangunan dari sisi kaca kanan bus

 

Kesalahan dalam Debat Analogi

Seperti sudah dijelaskan di atas, analogi hanyalah cara melihat. Setiap analogi menekankan sudut pandang tertentu.

Misal: satu orang pakai analogi “pindah dari lingkungan beracun → pulih,” orang lain pakai “berenang melawan arus → tetap bertahan.”

Keduanya bisa benar dari sudut pandang masing-masing, tapi tidak menyelesaikan pertanyaan inti jika itu tentang fakta atau solusi nyata.

Ketika orang ngotot bahwa analoginya adalah satu-satunya solusi masalah, yang sering terjadi kemudian adalah debat analogi. Orang jadi sibuk membandingkan analogi sendiri daripada membahas inti masalah. Akhirnya, diskusi jadi panjang tapi tidak produktif, karena  setiap analogi bisa diputar balik dan ditafsirkan berbeda.

 

Cara Efektif Menghadapi Adu Analogi

·      Akui bahwa analoginya hanya ilustrasi.

·      Kembalikan fokus ke: “Apa fakta atau prinsip dasar yang mau kita bicarakan?” atau “Apa tindakan/solusi yang konkret?”

·      Bisa juga menyatukan analogi sebagai lapisan perspektif, tapi bukan kunci keputusan.

 

Intinya:

Adu analogi sering bikin debat seru tapi belum tentu menyelesaikan masalah, karena setiap analogi cuma cara melihat, bukan solusi atau bukti.

 

Lagian ya, kan nggak semua situasi kita harus ngelawan arus atau pindah, kadang kita butuh adaptasi atau ngalir aja. Fleksibel aja jadi orang. Kondisional aja sesuai keadaan masing-masing. Paus dan salmon aja sama-sama bermigrasi tapi keduanya pilih cara yang beda, paus bermigrasi ikut arus, salmon bermigrasi melawan arus. Jadi, nggak sama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.