Dari Kesalehan Menjadi Berhala: Jebakan Fanatisme dan Pentingnya Nalar

Dari Kesalehan Menjadi Berhala: Jebakan Fanatisme dan Pentingnya Nalar

 Fanatik Buta

Kalau mendengar kata saleh, jangan keburu kagum dulu. Karena, kesalehan itu bisa berbahaya atau bahkan menyesatkan. Baik ketika diri kita sendiri yang saleh, maupun dalam konteks interaksi kita dengan orang lain yang saleh. Hidup manusia itu banyak ranjaunya. Detik ini bisa sangat saleh, tetapi detik berikutnya bisa saja menjadi musuh Allah, seperti Iblis. Atau ada juga yang seperti Barsisho, pria yang selama hidupnya saleh, tetapi meninggal dalam kondisi berbuat berbagai maksiat. 

Banyak sekali kisah makhluk saleh yang patut kita pelajari sejarahnya, bukan hanya karena kesalehan itu bisa hilang tiba-tiba, tetapi juga karena kita bisa memperlakukan orang saleh dengan cara yang salah: cara yang berlebihan atau menyesatkan. Malahan, ada juga oknum-oknum yang sengaja "menjual" kesalehan atau memperdaya orang lain/pengikutnya demi keuntungan pribadinya.

Semua bahaya tadi sudah ada sejak dulu, meskipun bentuknya tidak persis sama. Dalam perjalanan sejarah iman, ada sebuah pola berulang yang sering kali menjebak manusia: mengubah sosok yang awalnya mulia menjadi objek pemujaan yang melampaui batas. Fenomena ini bermuara pada satu titik, yaitu hilangnya nalar kritis dan munculnya fanatisme buta.

1. Iblis: Dari Ahli Ibadah Menjadi Pembangkang

Sejarah mencatat bahwa Iblis (Azazil) dulunya adalah makhluk yang sangat saleh, bahkan berada di barisan para malaikat karena ketaatannya. Namun, kesalehan tersebut justru memunculkan kesombongan (ujub). Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam, Iblis gagal menggunakan logika yang sehat dan justru terjebak pada logika ego: "Aku lebih baik darinya."

Ini adalah peringatan pertama bahwa kesalehan tanpa kerendahan hati dan nalar yang jernih bisa berubah menjadi kesesatan yang nyata.

2. Evolusi Berhala: Simbol Kesalehan yang Disalahpahami

Banyak yang tidak menyadari bahwa berhala-berhala besar zaman dahulu (seperti Wadd, Suwa’, Yaghuth, Ya’uq, dan Nasr) awalnya adalah nama-nama orang saleh. Setelah mereka wafat, pengikutnya yang merasa kehilangan mulai membuat patung sebagai pengingat akan kesalehan mereka.

Lama-kelamaan, generasi berikutnya kehilangan konteks. Pengingat tersebut berubah menjadi perantara, dan berakhir menjadi sesembahan. Inilah akar dari penyelewengan: menghargai orang saleh secara berlebihan hingga menempatkan mereka sejajar dengan Tuhan.

3. Kasus Samiri dan Nabi Isa: Distorsi Figur

Kisah Samiri di zaman Nabi Musa menunjukkan betapa mudahnya massa dipengaruhi oleh simbol fisik (patung sapi emas) yang dibungkus dengan narasi "ajaib". Begitu pula dengan Nabi Isa AS; seorang Rasul yang membawa pesan ketauhidan, tetapi oleh pengikutnya kemudian "ditingkatkan" statusnya menjadi Tuhan karena kekaguman yang tak terkendali.

Keduanya menunjukkan pola yang sama: sosok atau benda dijadikan sentral ibadah karena pengikutnya berhenti berpikir kritis dan lebih memilih mengikuti tren atau keajaiban semata.

4. Fenomena "Kata Orang Tua" dan Gelar Kehormatan

Al-Qur'an sering menyentil logika kaum musyrikin yang ketika diajak kembali ke jalan yang benar, mereka menjawab: "Kami hanya mengikuti apa yang dilakukan nenek moyang kami" (QS. Al-Baqarah: 170).

Di era modern, pola ini bertransformasi dalam bentuk fanatisme berlebih terhadap gelar atau keturunan, seperti fenomena penghormatan kepada Habib atau tokoh agama secara membabi buta. Menghormati keturunan Nabi atau ulama adalah bagian dari adab. Akan tetapi, jika penghormatan itu membuat seseorang berhenti menimbang benar-salahnya sebuah tindakan berdasarkan dalil, maka ia telah jatuh pada lubang yang sama dengan kaum terdahulu.

5. "Afala Ta'qilun": Mengapa Kamu Tidak Berpikir?

Berulang kali Al-Qur'an melontarkan pertanyaan retoris: "Afala ta’qilun?" (Apakah kamu tidak berpikir?). Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya beribadah seperti robot yang hanya ikut-ikutan (taklid buta).

Fanatisme buta terjadi ketika seseorang meletakkan akalnya di bawah kaki figur manusia. Padahal, dalam Islam, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

Cara Kembali Beribadah dengan Benar

Bagaimana agar kita terhindar dari jebakan fanatisme ini?

  • Posisikan Manusia pada Tempatnya: Sehebat apa pun seorang manusia, sesaleh apa pun mereka, mereka tetaplah makhluk yang tidak luput dari salah. Hormati ilmunya, bukan menuhankan orangnya.

  • Kembali ke Sumber Utama: Jadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai filter utama. Jika ucapan seorang tokoh bertentangan dengan prinsip dasar tauhid dan keadilan, maka akal sehat harus dimenangkan.

  • Berani Bertanya: Jangan tabu untuk mempertanyakan "mengapa". Agama Islam adalah agama yang sangat masuk akal. Ibadah yang dilandasi pemahaman akan jauh lebih kokoh daripada yang hanya ikut-ikutan.

  • Waspadai Kultus Individu: Jika sebuah lingkungan mulai melarang kita berpikir kritis dan mewajibkan kepatuhan mutlak pada satu orang selain Rasulullah, itu adalah alarm merah bagi iman kita.

Kita beruntung bila menjadi saleh, tetapi jangan sampai sombong atau dipuja orang lain berlebihan. Kita juga beruntung jika bisa bertemu orang saleh dan meneladani perilaku salehnya, tetapi awas jangan sampai syirik atau fanatik buta. Syirik itu tidak hanya berupa menyembah berhala, tetapi juga penghormatan yang berlebihan atau memperlakukan mereka laksana Tuhan. Bedakan antara orangnya/pribadinya dengan ajaran Islamnya. Islam selalu benar, sementara orangnya/pengikut Islam bisa berbuat salah. 

  • Jangan sekadar ikut-ikutan,
  • Jangan sekadar asal kata Pak Ustadz/Habib/Kyai/Syekh,
  • Jangan pula sekadar "Kata orang dulu begitu/sejak dulu begitu". 
Jangan biarkan label dan casing orang saleh memperdayamu. Saleh bukan tentang air diludahi ustadz, saleh bukan tentang anak kecil/anak jamaahnya dic*um (dik*kop) bibirnya di muka umum oleh ustadznya, saleh itu bukan tentang mencuci kaki kyai. Saleh itu tentang ajaran Islamnya, bukan perlakuan berlebihan ke "orang salehnya". Saleh itu tentang akhlak dan integritas orang tersebut serta keselarasannya dengan Al Quran, Hadits, dan ajaran Islam seluruhnya.

Iman dan akal bukanlah dua hal yang terpisah. Mereka terkait erat. Gunakan akalmu untuk membedakan mana penghormatan yang tulus dan mana pemujaan yang menyesatkan. Ibadah yang benar adalah haruslah ditujukan hanya kepada Allah, tanpa ada "perantara" yang mencuri porsi ketuhanan-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.