13 Februari 2018

Wasiat Teristimewa



Wasiat Teristimewa

Setiap kali berbicara tentang warisan, manusia di belahan bumi manapun cenderung rakus dan berebut. Tak terkecuali di keluarga besar Red Stevens. Hari itu mereka semua berkumpul untuk mendengarkan pembacaan wasiat Red oleh Theodore J. Hamilton, yang juga seorang pengacara sekaligus sahabat terbaiknya.

Red meninggal tidak dengan tenang. Keluarganya hancur karena kesalahan pendidikan yang dilakukannya semasa hidup. Meski ia memulai segalanya dari bawah, ia gagal menunjukkan kepada keluarga besarnya tentang apa-apa yang perlu dimaknai dalam proses hidupnya itu.

Meninggalnya Red mungkin tak menjadi momen sedih bagi keluarganya. Mereka malah menanti-nanti jatah warisannya, berapa yang akan diterima.

Ted, panggilan khusus Red pada Sang Pengacara, mulai membacakan satu per satu nama berikut jatahnya, lalu orang tersebut harus keluar dari ruangan. 

Setelah semua mendapatkan bagiannya, tinggallah seorang cicit ponakan berusia dua puluhan tahun. Red memperlakukannya berbeda. Jatah Jason ditahan hingga setahun lamanya.

Jason ini sebenarnya sama saja dengan yang lain, tidak berguna dan berperangai buruk. Tahu jatahnya berbeda meledaklah amarahnya, protes. Beruntung Ted yang sudah berusia 80 tahun itu memiliki kendali diri yang baik. Meski mengesalkan, dia mampu menangani cicit ponakan sahabatnya itu.

Jatah Jason sangat misterius dan memerlukan usaha setahun penuh. Dia harus lulus semua tantangannya. 

Di bulan-bulan awal sikapnya masih buruk, sering marah dan tak terkendali, tetapi karena begitu ingin mendapat jatah, Jason berhasil melalui masing-masing darinya hingga setahun penuh. Dua belas tantangan dan sekaligus pelajaran itu berhasil membuatnya menjadi orang yang baru. Ted dan Miss Hastings, partnernya, akhirnya bisa lega, karena Red telah berhasil menyelamatkan satu orang di keluarganya tersebut. 

Dalam setahun itu Jason dibantu dengan Ted dan Miss Hastings telah belajar mengenai 12 macam hadiah, yaitu hadiah kerja, hadiah uang, hadiah teman-teman, hadiah pembelajaran, hadiah masalah, hadiah keluarga, hadiah tawa, hadiah mimpi, hadiah memberi, hadiah bersyukur, hadiah satu hari, dan hadiah cinta. 

Hebatnya, hanya di bulan pertama Jason bertanya atau berpikir mengenai gaji. Bahkan, setelah 12 bulan dilalui, dia tidak kecewa setelah mengetahui hadiah ke-12-nya bukan uang, dan tidak menagihnya. Dia benar-benar tidak tahu kalau Red juga mewariskan uang yang sangat banyak untuknya, yang pengelolaannya diserahkan penuh padanya.

Jason yang awal-awalnya menyebut Red dengan sebutan “Orang tua sinting”, di tengah perjalanan mengubahnya menjadi “Pak Tua itu”, dan di akhir perjalanan menjadi sangat sayang padanya.

Red memang hebat, bahkan sebelum kematiannya dia telah menyiapkan suatu pelajaran besar bagi cicit ponakannya, hingga Si Cicit Ponakan sanggup mengelola kekayaannya dan meneruskan kebaikan Red bagi sesama. Jejak-jejak kebaikan Red dan Ted menjadi semakin terbuka baginya. Juga, tentang “wajah dunia” yang selama ini tak diketahui Jason, karena selalu dilindungi dari masalah.

Akhir yang indah itu membuat semuanya gembira: Ted, Miss Hastings, dan Jason tentunya.

Bila keluarga yang lain mendapat warisan namun pengelolaannya diserahkan ke orang lain. Jason tidak. Dia memperoleh kendali penuh atas dana amal Red senilai 1 milyar dolar lebih.

Kisah mereka dalam The Ultimate Gift karya Jim Stovall ini sangat menyentuh hati dan membuka pemikiran. Ketika membacanya saya seperti bisa melihat bagaimana baiknya sosok Red semasa hidup. Selain itu, saya jadi teringat akan para orangtua atau kakek nenek yang hidupnya begitu susah/sederhana, yang ternyata mewariskan banyak harta. Kemudian harta itu menjadi rebutan anak cucunya atau kerabatnya. Kadang-kadang malah sampai terjadi permusuhan dan perpecahan.

Yah itulah hidup, jangan lupa untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak dan keluarga kita, juga akhlak yang baik. Mungkin Ted sedikit beruntung karena bisa menyelamatkan 1 orang dari keluarganya, tetapi tidak semua memiliki akhir yang sama, bukan?

Sumber:
Stovall, Jim. 2001. The Ultimate Gift. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber gambar: Pixabay