12 November 2020

Kasus Covid-19 Tak Kunjung Tuntas, Gula Pasir Jadi Sorotan

 


Kasus Covid yang tak kunjung tuntas membuat kita perlu menyoroti kembali mengenai masalah gaya hidup. Sebab, sulitnya penanganan kasus Covid di Indonesia terutama disebabkan karena tingkat penularan Covid yang tinggi, terlambatnya pasien dibawa ke rumah sakit, dan adanya komorbid (penyakit penyerta) serta orang-orang yang rentan/dalam kondisi lemah (misalnya lansia dan ibu hamil), bukan karena virus Corona baru (SarCov-2) itu sendiri.



Memang ada kasus penderita yang murni meninggal karena Covid-19, tetapi itu sangat minim. Seperti data kumulatif Dinkes Surabaya misalnya, per tanggal 28 Juli 2020, sekitar 90 persen kasus penderita Covid-19 yang meninggal adalah karena komorbid.




Dilansir dari Suarajatim.id, 18 April 2020, Ketua Gugus Tugas Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, menjelaskan, dari 48 pasien meninggal di Jawa Timur, hanya 2 yang kematiannya murni karena Covid-19. Begitupun di Italia, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto memaparkan data di Italia menunjukkan 99 persen pasien Covid-19 yang meninggal dunia memiliki penyakit lain. Lebih dari 75 persen memiliki hipertensi, 35 persen memiliki diabetes, dan 33 persen memiliki penyakit jantung (cnbcindonesia.com, 15 April 2020).



Penderita Covid dengan komorbid sendiri sulit untuk dipastikan kematiannya karena Covidnya atau komorbidnya, karena mustahil melakukan otopsi atasnya. Otopsi hanya dapat dilakukan jika seseorang meninggal secara tidak wajar.





Namun, saya hampir-hampir yakin bahwa itu memang karena komorbidnya dan kondisi fisiknya yang lemah. Salah satu buktinya adalah seperti termuat dalam berita detik.com, 31 Agustus 2020, dari 99 dokter yang meninggal terpapar virus Corona di Indonesia, 27 di antaranya dari Jawa Timur, dan yang terbanyak dari Surabaya. Ketua IDI Jatim, dr Sutrisno SpOG, sendiri yang menjelaskan bahwa mayoritas dokter yang meninggal tadi adalah karena komorbid atau faktor usia. Bahkan, dari 27 dokter di Jatim yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 kebanyakan tidak menangani pasien Corona secara langsung, melainkan pasien biasa/bukan pasien Covid-19.



 

Penyakit Akibat Gaya Hidup di Indonesia

 



Hingga kini, Indonesia masih memiliki triple burden of malnutrition (tiga beban malnutrisi), yaitu gizi berlebih (obesitas), gizi kurang (stunting, kurus, berat badan kurang, atau gizi buruk), dan defisiensi gizi mikro (kekurangan asupan, penyerapan atau penggunaan satu atau lebih vitamin dan mineral). Sialnya lagi, orang bisa kelebihan berat badan sekaligus kurang gizi pada saat yang sama.



Gangguan-gangguan tersebut, misalnya obesitas, bisa terbawa sampai dewasa. Padahal, obesitas dapat meningkatkan risiko penderitanya terjangkit berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, stroke, kanker, penyakit kardiovaskular, dan sebagainya. Penyakit-penyakit tidak menular ini justru berisiko lebih tinggi terhadap kematian.



Di Indonesia pada masa akhir Orde Baru saja tahun 1996/1997 di ibukota seluruh provinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8,1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25- 27) dan 6.8% mengalami obesitas, 10,5% penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13,5% mengalami obesitas. Pada kelompok umur 40-49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing-masing 24,4% dan 23% pada laki-laki dan 30,4% dan 43% pada wanita. Sementara itu, saat ini di kawasan Asia Pasifik, jumlah kasus obesitas pada orang dewasa meningkat.



Mengacu pada hal tersebut, apakah mengherankan jika saat ini banyak orang meninggal karena Covid?

 

Diabetes sebagai Komorbid Utama Covid-19

 


Komorbid utama dalam kasus meninggalnya pasien Covid di Surabaya adalah diabetes tipe 2 (T2DM/Type 2 diabetes mellitus), disusul dengan hipertensi dan jantung. Meskipun demikian, ada juga penyakit lain yang bisa menjadi komorbid seperti asma, ginjal, gangguan pernapasan kronis, dan TBC.



Komorbid diabetes ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan sistem imun, menimbulkan komplikasi yang lebih parah, serta menyebabkan tingginya risiko kematian pada penderita Covid.






Pada tahun 2007, Health Data melansir, diabetes merupakan penyebab kematian tertinggi ke-6 di Indonesia. Bahkan, posisinya melesat ke peringkat ke-3 pada tahun 2017. Prevalensi penyakit diabetes ini kemudian naik dari 6,9% menjadi 8,5% per tahun 2018.

Diabetesnya sendiri sudah mematikan. Orang yang menderita diabetes, angka harapan hidupnya akan berkurang 5 hingga 10 tahun. Jadi, wajar apabila setelah penderita diabetes terinfeksi virus Corona, risiko kematiannya juga tinggi.

Untuk diketahui, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Indonesia mengalami peningkatan dalam prevalansi penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi masyarakat Indonesia. Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab kematian tertinggi tersebut tidak jauh-jauh dari komorbid-komorbid utama dalam Covid-19, seperti diabetes mellitus, stroke, gagal ginjal kronis, dan kanker.

 

Rokok Disayang, Nyawa Melayang

 

Selanjutnya adalah rokok. Rokok masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Bukan penyebab langsung sih, tetapi merupakan faktor risiko utama. Perokok memiliki risiko tertinggi untuk menderita penyakit-penyakit penyebab kematian tertinggi seperti hipertensi, jantung, kanker, stroke, penyakit pernapasan (misalnya Penyakit Paru Obstruktif Kronik/PPOK), atau lainnya. Merokok menyebabkan 20% kematian akibat kanker dan 70% kematian akibat kanker paru-paru di dunia.

 

Meningkatnya Jumlah Penderita Diabetes dan Hipertensi Setiap Tahunnya

 


Hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahun. Kalau sudah terkena hipertensi orang akan mudah terkena stroke, jantung, gagal ginjal, dan mengalami berbagai kerusakan organ tubuh. Begitupun diabetes, penderitanya akan rawan terkena stroke, penyakit jantung, ginjal, mata, dan kerusakan berbagai organ tubuh lainnya.

Sehubungan dengan Covid-19 dan peningkatan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia, rokok tentu menjadi sorotan utama. Itu PR kita. Selain itu, saya menawarkan solusi jangka panjang berupa perbaikan konsumsi gula. Ini adalah One Thing saya, yaitu perubahan kecil dari Tiny Habits, yang terkesan remeh, tetapi konsisten dan diterapkan sungguh-sungguh.

Masyarakat sendiri tidak benar-benar bandel atau cuek kesehatannya, atau setidaknya mereka tidak sepenuhnya begitu. Ingat tidak ketika pada awal-awal muncul wacana tentang vitamin C dan jambu merah, keduanya habis di pasaran atau menjadi susah ditemukan. Beri mereka kuncinya dan kadang mereka akan mencarinya sendiri.



Saya itu menyayangkan ketika Pemprov Jatim mengadakan Lumbung Pangan-nya, mengapa pangan-pangan di situ adalah pangan-pangan yang tidak sehat, hanya harganya yang mungkin lebih murah. Padahal, di situ pemerintah bisa melakukan intervensi terselubung untuk memaksakan gaya hidup sehat di masyarakat. Jadi, saat masyarakat butuh pangan dan kesehatan secara bersamaan, kita bisa “memaksakan” pangan sehat kepada mereka.

Saya tidak akan jauh-jauh membahas gula-gula pada snack/camilan atau minuman bersoda misalnya. Gula/pemanis sehari-hari saja lah ayo mulai kita ganti dengan yang lebih sehat. Bila memungkinkan sih, gula pasir sepenuhnya ditiadakan saja, ganti dengan gula yang lebih sehat, tetapi jadikan harganya murah (ramah di kantong).

Kalau kita mau membahas hal-hal lain lagi seperti meningkatnya kasus leaky gut (usus bocor) dan autoimun, gula juga pengaruh lho. Ya tidak usahlah solusinya terlalu fantastis, bertahap saja dari gula dulu misalnya, karena dari One Thing yang membaik dapat merembet pada membaiknya hal lain juga.

Sebagai alternatif pemanis pengganti gula pasir, ada raw honey, madu, kurma, stevia, D-ribose/ribose, monk fruit extract (luo han guo), dan erythritol. Baik orang sehat, apalagi yang sudah sakit Covid atau lainnya, pilih pemanis yang lebih sehat.

Terus, menurut hemat saya, yang lebih butuh untuk isolasi adalah orang-orang rawan tadi. Kalau tidak penting-penting amat, kalau bisa tidak keluar, tidak ke kerumunan, atau mungkin dilokalisasi lebih baik. Ya ke tempat yang sepi-sepi aja begitu, yang jarang orangnya. Apalagi, buat yang sudah sakit tapi suka bandel melanggar pantangan dll wah jangan banget keluar atau ketemu/kumpul orang sembarangan. Diukur sendiri gitu ya kondisi tubuhnya.

Dalam buku Factfulness, Hans Rosling dan Ola Rosling menjelaskan, terdapat 6 risiko global yang harus kita khawatirkan, yaitu:

1.   Pandemik global,

2.   Keruntuhan keuangan (financial collaps),

3.   Perang dunia III,

4.   Perubahan iklim,

5.   Kemiskinan ekstrem, dan

6.   Tidak diketahui.

Pandemi flu adalah yang paling sering datang. Jadi, tak ada jalan lain kecuali kita harus lebih mempersiapkan diri menyambutnya. Gampangnya begini, kalau virus yang datang lebih kuat, ya kita harus lebih kuat lagi. Kalau pandemi akan datang tiap tahun atau tiap beberapa tahun ya kita harus lebih siap lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.