17 Maret 2022

Review Buku "Rejection Free"

"Rejection Free," how to choose yourself first and take charge of your life by confidently asking for what you want

Penulis: Scott Allan


Rejection/penolakan itu sangat akrab dengan keseharian kita. Meskipun demikian, tetap saja menanganinya itu tidak sederhana. 


Beberapa tahun lalu, waktu mau resign atau baru resign, aku melamar kerja di sebuah penerbit di dekat rumahku. Teman-teman yang sekota denganku mungkin bisa nebak penerbitnya, cz di kotaku ini penerbit mayor itu nggak banyak. Di sana, aku melamar sebagai editor. Dites luama oleh bosnya dulu baru kemudian oleh mungkin kepala editornya. Di situ, sebenarnya bosnya itu melecehkan aku, ada bahasa-bahasa dan sikap tubuh yang bernada merendahkan, juga gaji yang ditawarkan itu sebenarnya terlalu rendah atau nggak layak bagiku untuk tugas sebanyak/seberat itu, tapi karena aku butuh, ya udah kuiyain, pokoknya dapat uang/pengalaman dulu. Means "aku bersedia dilecehkan/direndahkan." Kupikir di titik gaji ini aku sudah diterima, lalu aku disuruh menemui orang selanjutnya dan ternyata dites lagi. Orang tersebut ekspresinya sangat mirip robot dan ternyata aku ditolak. "Brengsek," makiku dalam hati, dengan membawa perasaan tertolak dan perasaan defect dan menyesal karena membiarkan diriku dilecehkan. Tak berhenti sampai di situ, aku bertemu intel keberuntunganku, ada murid sekolahku dulu (saat masih ngajar di skul kami gurunya nggak boleh ngelesi murid sekolah di rumah kami sendiri/pribadi, jadi pasti aku udah resign saat ini) yang les privat di rumahku, bawa buku-buku sekolahnya yang ternyata sekarang sudah ganti terbitan penerbit brengsek tadi. "Kurang ajar, dia memanipulasi aku dan memanfaatkan infoku untuk masuk ke sekolahku dulu, menggantikan penerbit lain yang sudah bekerja sama bertahun-tahun dengan sekolahku." (Ada banyak orang model gini saat aku interview di mana2, jadi aku agak males interview). Sejujurnya sih, penerbit sebelumnya juga tidaklah baik. Nggak kalah brengseknya. Aku sudah heran kenapa kok bukunya sama selama bertahun-tahun dan bener ketika aku ke toko buku (waktu itu kadang aku suka refreshing ke toko buku), aslinya harusnya bukunya udah beda. Jadi, skulku dulu itu diberi buku edisi lama selama bertahun-tahun. Aku ga tau gimana cara ngomongnya jadi aku diem aja. Cuma pertama kali kerja di sana dan aku tau bukunya kok sama selama 2 periode, aku ngerasa aneh dan sempat nanya juga, tapi entahlah ya ternyata masih pake juga sampe tahun berikutnya.


Oke, pelajarannya adalah jika kamu harus memilih antara dirimu atau uang, pilihlah dirimu. Karena jika kamu kehilangan dirimu, kamu bisa defect atau "mati" sebelum mati yang sesungguhnya. Aku sudah menolak diriku yang ori (yang aslinya tau harga itu kerendahen buatku dan tau kalau aku direndahkan) tapi tetep ditolak juga kan? Dan itu menyebabkan penyesalan yang dalam di hatiku, malu, dll. Nggak banget pokoknya.


Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menawarkan "sesuatu" atau "seseorang" yang sangat tidak layak bagiku. Welek-welek. Misal tentang jodoh, kasarane iku "Kekno anakmu dewe gelem gak?" Dia aja nyarikan jodoh bagus untuk anaknya tapi pas nyarikan aku dengan tanpa rasa sungkan atau malu bawain calon-calon yang nggak banget. Begitupun tentang pekerjaan atau lainnya. "Noooooo. Enough. Aku nyari sendiri. Jangan tawarin aku kalo yang kamu bawa cuma gitu-gitu." How dare you! Betapa jelek kamu memandang diriku sampe nawarin yang gitu-gitu. Yah kalo dalam hal asmara/pencarian jodoh juga nggak lepas dari rejection ya, baik aku yang me-reject maupun aku yang di-reject.


Aku orang sains, dalam banyak hal aku melakukan riset atau eksperimen, termasuk dalam hal jodoh ini. Nggak seperti sosialisasi or pikiran sebagian orang ya, meskipun pria itu jelek, miskin, kerja nggak oke, atau apa pun itu nggak bikin perlakuannya lebih baik atau nggak bakal me-reject kamu. Jangan terlalu nge-up mereka dengan minta diskon ini itu dari cewek atau melakukan manipulasi-manipulasi agar cewek nerima mereka dengan mudah. Biarkan mereka berusaha, biarkan mereka memperbaiki akhlak dan hidupnya, biarkan mereka meningkatkan kualitas dirinya atau memiliki nilai lebih yang memang bisa menjadi daya tarik bagi wanita. Aku selalu berusaha mengajarkan pada siapapun wanita single yang pernah menemukan tulisanku untuk punya harga diri tinggi cz dalam pencarian jodoh itu ada banyak sekali jenis pria atau pihak lain (ustaz, birjo, birta/biro taaruf, dll) yang akan berusaha me-reject dirimu atau merusak self esteem-mu, atau semacamnya. 


Nah, buku "Rejection Free" ini Insya Allah bagus untuk membantumu menangani perasaan-perasaan yang timbul akibat penolakan, memberimu dasar pemikiran/mindset yang kuat, dan mendorongmu untuk melakukan perubahan positif dalam hidupmu, termasuk dengan cara meminta apa yang kamu inginkan. Gaya bahasanya itu sangat bersahabat, menginspirasi, dan memotivasi. Tapi ya itu, prinsip utamanya ya kamu harus terjun atau praktek. Jadi, lama-lama makin kebal. Cuma ya nggak sekadar praktek, ada tekniknya. Ini mirip sih prinsipnya sama suatu buku yang dulu pernah kubaca, tentang mengatasi rasa takut, solusinya ya kamu harus belajar berani, latihan dari hal-hal yang paling kecil/yang paling nggak menakutkan dulu. Tetep horor kan ya? Yah begitulah, semuanya butuh praktek.


Aku baca buku "Rejection Free" ini awalnya saat lagi betmut dan bundel. Buku ini memilihku. Dari berbagai judul kok lagi pengen buka yang ini, bukan buku tentang hepi atau lainnya. Dan rasanya nyamaan banget. Isinya dan cara menulisnya itu ringan, mudah dibaca, dan enak gitu. Meski dia cowok, nggak terlalu menggurui, ada empatinya dan isinya lebih ke menginformasikan/mengajak daripada menggurui. 


So, tentu saja aku sangat merekomendasikan buku ini. Kalau tentang pencarian jodoh dan hubungannya dengan empowering, kamu wajib baca "Rejection Free" ini dan "It's Not You, It's Him." Dijamin perasaanmu sing elek-elek gara-gara kelakuane cowok error ilang. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.