10 Juni 2018

Keistimewaan Lapar: Jangan Membenci Lapar, Ini Alasannya!


Keistimewaan Lapar: Jangan Membenci Lapar, Ini Alasannya!
 Lapar

Alkisah di suatu perkampungan beruang hiduplah keluarga beruang kaya (Beka) dan beruang miskin (Bemis). Masing-masing terdiri dari ibu dan anak. Hari itu si Bemis memegangi perutnya sambil merintih. Sudah biasa jika dia terlihat seperti itu. Ibu Bemis berusaha menghiburnya tetapi Bemis tahu itu tipuan belaka. Sementara itu, ayah Bemis tak kunjung pulang membawa makanan. 

Si Beka melihatnya dari kejauhan. Walau biasanya dia cuek, tetapi entah kenapa hari itu hatinya membawanya datang mendekat.

“Kamu kenapa, Bemis?”

“Aku lapar.”

“Lapar itu apa?”

Melotot dan melongo. “Serius kamu nggak tahu?”

Tiba-tiba saja ibu Beka datang. “Beka, makan dulu, Nak!”

“Iya, Beka nggak tahu. Lapar itu cuma buat orang miskin. Sejak kecil Beka nggak pernah saya biarkan lapar.”

“Lapar apa sih, Ma?” Beka menoleh ke mamanya.

“Lapar itu kalau orang kurang makan Beka.”

“Kamu kurang makan?”

Bemis mengangguk.

“Sakit banget, ya?”

Mengangguk lagi.

Kring kring ... pak pos datang membawa bingkisan untuk Bemis. Wajah Bemis berubah sumringah. Ia segera berlari menyambutnya.

“Wah ... akhirnya datang juga! Ma ... paket dari ayah sudah datang!” Dibukanya cepat-cepat paket itu karena perutnya sudah tak mau lagi menunggu. Sebentar saja donat di dalamnya sudah beralih ke mulutnya. Alhamdulillah, lezat sekali.

Beka murung. “Lezat sekali ya?”

Mengangguk sambil tetap mengunyah donatnya. “Mau?” Disodorkannya donat itu pada Beka.

Beka pun segera meraih dan memakannya. “Tidak seenak katamu. Kenapa kalau kamu yang makan sepertinya lezat sekali ya? Sedangkan aku, semua yang kumakan tidak enak.”

“Hah, masa? Kamu kan kaya, bisa makan apa aja.”

“Iya sih, tapi ....”

“Beka, ayo pulang! Makan dulu! Nanti kamu lapar.” ajak ibu Beka lagi.

Mmm ... nggak pa-pa Ma, Beka ingin merasakan lapar. Beka ingin bisa makan dengan nikmat seperti Bemis.

----ii----

Lapar. Sebagian orang begitu akrab dengannya karena begitu miskin. Mungkin juga mereka sampai membencinya. Di sisi lain, ada pula orang yang sangat menghindarinya. Contohnya guru SMP saya. Saya masih ingat waktu itu dengan bangganya ia berkata kalau anaknya tidak diperbolehkan lapar. Jadi, tidak tahu rasanya lapar. 

Guru saya gemuk. Anaknya waktu itu masih kecil, laki-laki, mungkin usia PAUD, TK, atau SD awal. Tetapi di usia segitu berat badannya sudah terlihat berlebihan. Secara proporsi, menurut perkiraan saya lebih gemuk dari ibunya.

Bisa bayangkan tidak bagaimana rasanya tak pernah lapar? Ya, meskipun lapar itu tidak nyaman, tetapi kalau tak pernah lapar .... duh gimana ya, mana bisa merasakan lezatnya makanan. Seperti kisah Bemis dan Beka tadi.

Eits, itu belum seberapa. Karena lapar sendiri itu juga anugerah. Menurut Hiromi Shinya, dokter ahli pencernaan dari Jepang, rasa lapar adalah tanda bahwa detoksifikasi sedang berlangsung. Biasakan untuk merasa bahwa lapar sebentar itu bagus dan patut dirasakan sekali-sekali. Lapar berarti detoksifikasi intraseluler telah dimulai dan enzim-enzim peremaja telah mulai bekerja. 

Makan berlebihan menghalangi aktivitas enzim peremaja sehingga pusat daur ulang dalam tubuh tak bekerja. Agar newzim (*) bekerja aktif, makanlah seperlunya dan berhentilah makan dan minum sebelum kenyang, dan berpuasa. Perpanjang waktu Anda merasa lapar dalam satu hari.

Waktu tubuh kita kelaparan, kelebihan sampah di dalam sel-sel kita disingkirkan dan didaur ulang menjadi protein baru yang oleh mitokondria dijadikan energi.

Biarkan lapar sebentar tanpa harus mengunyah permen karet, makan permen, cokelat, merokok, atau lainnya.


Keterangan: 

(*) newzim adalah “enzim petugas kebersihan” yang melakukan detoksifikasi intraseluler pada hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme (istilah dari Hiromi Shinya)


Sumber gambar: dokter.id