12 Desember 2021

Kesabaran itu hanya untuk yang Pertama

 

Key, hari ini aku mo bahas tentang "Kesabaran itu hanya untuk yang pertama."

Tulisan ini bukan kebenaran tapi hanya kesimpulan-kesimpulanku berdasarkan puzzle-puzzle yang kususun dari berbagai ilmu pengetahuan atau sumber yang pernah kuindra. Jadi aku berusaha membuat benang merah/korelasi antara sumber agama dan sumber umum, yang kadang otakku membuat asosiasi dengan sendirinya (otomatis) gitu.

Tulisan ini dan tulisan-tulisan yang ada di dalam label "pemikiranku" (yang ada di bagian kanan atas blog ini) adalah tulisan yang sisi pendapat dan subyektifitasnya itu kuanggap lebih kuat dibandingkan tulisan-tulisanku yang lain di dalam blog ini. Kuwarning dulu bahwa ini opini, bukan rujukan yang pasti benar.


Nah, beberapa waktu ini ada peristiwa pemicunya dan sepertinya ada hubungannya. Minimal bisa dihubung-hubungkan lah ya.


Kesabaran itu kan ada 3:

1. Kesabaran dalam mentaati perintah Allah

2. Kesabaran dalam menjauhi larangan Allah

3. Kesabaran dalam menghadapi musibah


Nah, kenapa kesabaran itu dikatakan hanya pada saat yang pertama? Apa istimewanya "saat pertama" itu?

Mungkin jawabannya ada pada buku "Predictably Irrational" kemarin. Keputusan pertama itu sangat krusial karena bisa berefek jangka panjang dan menentukan keputusan-keputusan berikutnya. Setelah beberapa keputusan di awal, orang akan cenderung bertindak berdasarkan kenangan. Itu kenapa tindakan-tindakan tersebut lama-lama akan menjadi habit/kebiasaan atau akan berlangsung secara otomatis (autopilot). Lalu jika kamu sudah sampai di tahap ini, terjadinya peningkatan (ekskalasi) pun mungkin akan sulit kamu sadari. 


Pembuatan keputusan ini berawal di pikiran ya, sehingga tak heran banyak juga orang yang bisa mengubah kebiasaannya dengan pikiran juga, misalnya dengan informasi/ilmu baru yang mengubah mindsetnya, latihan yang disengaja (merusak automasi/autopilot), journaling, atau motif yang kuat. 


Pernah ada kisah seorang perokok berat ditunjukkan gambar paru-paru (milik orang lain) yang rusak berat oleh dokternya, lalu seketika itu juga dia langsung berhenti merokok karena takut paru-parunya akan menjadi seperti itu.


Masih dengan keputusan yang pertama, di dalam Islam kita akan menemui proteksi-proteksi yang sangat ketat, yang sejak awal berfungsi mencegah. Misalnya zina, jangankan zina k*lamin, sentuhan kulit dengan bukan mahram aja nggak boleh kok. Jangankan bertindak m*sum, ngomong m*sum aja nggak boleh kok.


Jadi, ketika kita melakukan dosa, itu kan akan muncul 1 titik hitam di hati dan setiap (atau dosa tertentu saja?) cenderung membawa/memudahkanmu pada dosa-dosa yang lain. Itu akan jadi seperti lingkaran setan.

Makanya, sungguh kemurahan Allah yang sangat besar bahwa 1 dosa dihitung 1, sedangkan 1 kebaikan pahalanya bisa sampai tak terhingga atau bahkan sesuka Allah gitu ganjarannya apa/seberapa. 


Kita juga diingatkan kan akan bahaya hal-hal yang samar/meragukan, bid'ah, atau menyerupai kaum yang lain. Kalau kamu langsung disuruh berubah drastis seperti mereka, kemungkinan besar kamu nggak akan mau, tapi kalo berubahnya pelan-pelan atau sedikit-sedikit, maka tanpa sadar kamu udah ngikutin mereka bahkan hingga sampai masuk ke lubang biawak. Kamu nggak nyadar udah makin persis sama mereka dan ketika kamu udah nyadar pun kamu belum tentu mampu untuk kembali.


"Mencegah lebih mudah daripada mengobati" itu juga berlaku untuk konteks ini. 


Kesabaran itu hanya untuk yang pertama. Ketika kamu kehilangan "yang pertama", makin sulit bagimu untuk bersabar dan kamu semakin berisiko menuju kerusakan yang lebih besar. Cegah sesuatu yang buruk itu seawal mungkin, sebisanya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.