26 Juni 2020

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri


Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Rapid Test (Sumber gambar: rs-jih.co.id)

Pada 31 Desember 2019 pemerintah Tiongkok mengumumkan keberadaan virus Corona baru (virus 2019-nCov) di Wuhan. Namun, meski kasus pertama diyakini ditemukan di Wuhan, hingga kini belum diketahui pasti di negara mana virus Corona pertama kali menginfeksi dan kapan tepatnya. 

Penyebaran virus Corona begitu masif, hingga ketika setidaknya 118 negara telah mengkonfirmasi diri terjangkit virus ini, WHO terpaksa menetapkan keberadaan Covid 19 sebagai pandemi global. Hanya dalam jangka tiga bulan virus Corona telah berhasil menjadi momok bagi lebih dari 100 negara, tak terkecuali Indonesia.

Situasi sangat kacau, berbagai upaya pun dilakukan demi memperlambat laju penyebaran Covid 19 dan segera mengakhiri mimpi buruk ini, namun belum berhasil. Rasa panik dan takut mencekam masyarakat hingga memicu mereka memborong masker, hand sanitizer (disinfektan), vitamin C, bahkan mengalami degradasi kesehatan mental. Begitupun dengan para tenaga kesehatan (dokter dan suster), dan para karyawan rumah sakit lain seperti para petugas kebersihan (cleaning service) tak luput dari perasaan takut yang manusiawi ini.

Meski demikian, tak semua orang seperti mereka, banyak juga orang yang tenang-tenang saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, ada pula yang menganggap virus Corona ini hanya fantasi dan tak pernah ada. Tak peduli orang lain disiplin memakai masker, hand sanitizer, serta melakukan isolasi diri, karantina, atau physical distancing, mereka cuek-cuek saja. Banyak dari mereka yang masih suka mangkal di kafe-kafe atau mal-mal dan mendapat pendisiplinan lebih lanjut dari Bapak Polisi.

Mengapa sampai ada orang yang tetap cuek dengan virus Corona di saat orang-orang yang lain banyak yang ketakutan? Di antara penyebabnya kemungkinan adalah karena mereka berpegang teguh pada keyakinan yang salah. Banyak bukan teori-teori konspirasi dan berita palsu (fake news/hoax) yang beredar saat pandemi Corona ini, sama seperti pandemi-pandemi sebelumnya yang juga sarat dengan munculnya teori konspirasi. 

Entah teori mana yang mereka ikuti, padahal terlepas dari benar tidaknya teori-teori konspirasi yang ada setahu saya tak ada yang meragukan keberadaan Covid. Mereka tidak mengatakan bahwa Covid itu tidak ada, paling-paling hanya memperdebatkan tentang seberapa bahayanya virus Corona baru ini.

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Sumber data: covid19.kemkes.go.id

Bagaimana bisa dikatakan hanya fantasi, sementara para dokter dan perawat begitu sibuknya, pemerintah begitu paniknya, banyak orang harus dirumahkan (di-PHK), dan terutama telah banyak juga jatuh korban jiwa. Jahat sekali bila kita menganggap para tenaga kesehatan itu mengenakan APD atau bermasker hanya untuk drama.

Hingga detik ini saja, data dari WHO yang dikutip dari https://covid19.kemkes.go.id/ menyebutkan angka kematian global akibat Covid mencapai 5,2%, sementara di Asia Tenggara 2,9%, sedangkan di Indonesia 5,2%. Itu artinya WHO menegaskan bahwa risiko global sangat tinggi. 

Di Indonesia sendiri, dari 49.009 kasus terkonfirmasi Covid, sebanyak 2.573 jiwa telah melayang. Apakah semua dari mereka meninggal karena penyakit penyerta (komorbid)? Ternyata tidak. Meskipun sebagian besar pasien meninggal memiliki penyakit komorbid, tetapi ada juga yang meninggal tanpa penyakit lain yang menyertainya.

Berikut ini adalah beberapa contoh korban Covid yang meninggal tanpa komorbid:

1.    Di RSUP Persahabatan, data bulan April lalu menunjukkan, dari 205 pasien, sebanyak 65 pasien (86 persen) yang meninggal menderita komorbid sementara 11 pasien (14 persen) lainnya tanpa komorbid (Detik.com, 9 Juni 2020).

2.    Di NTB, dari 41 pasien meninggal per 16 Juni, 13 orang di antaranya (yaitu 30 persen) meninggal tanpa komorbid (lombokpost.jawapos.com, 18 Juni 2020).

3.    Di Tiongkok, jumlah korban Covid yang meninggal tanpa komorbid per 11 Februari 2020 mencapai 26 persen (katadata.co.id, 17 April 2020).

Jadi, penderita Covid-19 tanpa penyakit penyerta pun berpotensi untuk meninggal.

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Sumber: Sehatnegeriku.kemkes.go.id

Oleh karena itu, kita tak boleh lengah dan abai terhadap virus Corona ini. Usahakan untuk tetap mawas diri tanpa cemas berlebihan. Ikuti segala anjuran pemerintah dengan baik, baik itu memakai masker, hand sanitizer, menjaga jarak dengan orang lain, atau lainnya, sambil tetap menjaga dan memperbaiki imunitas tubuh dengan makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, minum air yang cukup, mengkonsumsi vitamin dan mineral penunjang daya tahan tubuh, istirahat yang cukup, olahraga teratur, serta menghindari stres.

Agar hati semakin tenang, kita juga bisa melakukan skrining awal Covid dengan rapid test untuk mengetahui apakah kita telah tertular virus Corona atau tidak.

Hasil dari rapid test akan menunjukkan:
1.    Reaktif, artinya antibodi sudah ada dalam tubuh/sudah pernah terinfeksi Corona.
2.    Non reaktif, artinya:
a.       Orang tersebut belum terinfeksi virus Corona, atau
b.      Sudah terinfeksi Corona tetapi antibodi belum terbentuk, karena antibodi baru terbentuk sekitar 8 hari setelah kemasukan virus.

Agar hasilnya lebih akurat, lakukan rapid test kembali setelah 7 hari.

Nah, di mana kita bisa melakukan rapid test?

Akses layanan rapid test bisa dilakukan melalui Halodoc, yaitu sebuah aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kita dan keluarga. Aplikasi tersebut memungkinkan kita untuk berkonsultasi dengan dokter, membeli obat, periksa lab, mencari rumah sakit, membuat janji dengan dokter, hingga mengingatkan untuk minum obat. Lengkap dan praktis, bukan? Halodoc sangat memanjakan urusan kesehatan kita dan keluarga. Memang demikianlah tujuan digagasnya Halodoc, memudahkan dan mempersingkat akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Khusus bagi warga Surabaya yang ingin melakukan rapid test, ikuti panduannya dengan melakukan klik pada link berikut Covid test Surabaya.  Di situ kita bisa melihat berapa harga rapid test, lokasi rapid test, sekaligus memilih dan membuat janji tes Covid dengan dokternya. Gampang, bukan?

Covid itu nyata, karena itu sayangi diri dan keluarga kita dengan memelihara kesehatan sebaik-baiknya. Cegah keparahan sebelum terlambat.



Sumber:
https://covid19.kemkes.go.id/
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/12/003124065/menyebar-hingga-118-negara-virus-corona-ditetapkan-who-sebagai-pandemi?page=all
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5045877/14-persen-meninggal-tanpa-penyakit-penyerta-masih-ragukan-bahaya-corona
https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01398422/beda-dari-pengakuan-tiongkok-studi-harvard-klaim-corona-mungkin-muncul-di-wuhan-sejak-agustus-2019
https://lombokpost.jawapos.com/ntb/18/06/2020/13-pasien-korona-di-ntb-meninggal-tanpa-riwayat-penyakit-bawaan/
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/17/faktor-penyebab-kematian-akibat-covid-19
https://www.kompas.tv/article/82396/tanya-jawab-corona-ini-arti-reaktif-dan-non-reaktif-saat-rapid-test
https://wartakota.tribunnews.com/2016/04/22/halodoc-aplikasi-konsultasi-dokter-diluncurkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.