29 Maret 2020

Shaf Sholat Oh Shaf Sholat ....

Maraknya kasus virus Corona membagi masyarakat menjadi setidaknya 2 kubu terkait shaf  sholat berjamaah di masjid.

Semua ustaz/alim ulama tadi memahami bahwa:
1. Virus corona itu berbahaya
2. Merapatkan shaf dalam sholat merupakan sebuah keutamaan.

Tetapi, tetap saja mereka mengambil pendekatan yg berbeda. Kubu yang satu mengatakan tidak apa2 shaf renggang karena darurat, sedangkan kubu yg lain berpandangan kalau shaf tidak bisa rapat lebih baik sholat jamaah di rumah saja.
Perbedaan semacam ini sering terjadi di dalam Islam dan dikatakan sebagai rahmat (jika disikapi dengan baik).

Nah, saya pun memiliki kisah terkait dengan shaf. Sebagai muslim sejak lahir saya juga sangat memahami tentang keutamaan dari shaf yang rapat ini. Namun, saya mulai terganggu ketika ada beberapa orang yang mulai berlebihan dalam menerapkannya. Setidaknya ada 3 orang yang saya ingat: seorang teman kuliah, seorang tetangga yg sudah nenek-nenek, dan seorang tetangga yg tergolong junior saya. Teman kuliah saya kenali sebagai aktivis organisasi X, yang dianggap sebagian orang termasuk daftar hitam; junior saya saya duga kelompok manhaj X, yg termasuk baru namun tumbuh subur di Indonesia; sedangkan yg nenek-nenek saya tidak tahu.

But, di sini saya tidak ingin terlalu menyoroti hal itu. Saya lebih menyoroti rasa terganggu saya akan sikap mereka. Tiap dekat mereka saya yg sudah kurus ini merasa sangat kecil, dengan tubuh dan sajadah kecil masih dipepet sedemikian rupa. Bayangkan, untuk takbiratul ihram pun tangan saya tak bisa mengangkat dengan lega, ruang kaki juga tidak lega, jika sujud rukuh/mukena sering terinjak mereka, dan saat duduk tahiyat awal/akhir saya jadi tertimpa pantat-pantat di sebelah saya dan pasti akan geser-geser dulu agar posisi duduknya (agak) nyaman. Entah kenapa ada orang atau faham seperti itu. Bikin menderita dan nggak nyaman saja, terutama kalau posisi mereka di kanan saya. Cobalah tempatkan segalanya secara proporsional, tidak begitu caranya.
Saya jadi agak parno (paranoid) kalau ketemu/dekat mereka.

Intinya apa sih tulisan ini? Intinya, perlakukan shaf dengan bijak. Bukan hanya kamu yg ingin meraih keutamaan sholat, tetapi tidak hanya caramu yang harus dipaksakan untuk diterima. Hormati jamaah lain agar kamu tidak malah mengganggu mereka.

NB:
Terkait dg Corona, saya pribadi lebih cenderung pada pendapat yg menyarankan sholat di rumah saja, dengan pertimbangan sbb.:
1. Masjid adalah tempat umum, kita tidak bisa/sulit memastikan/melarang siapa yg boleh/tidak berjamaah di sana,

2. Penderita virus Corona tidak selalu menampakkan gejala,

3. Jarak yang dianjurkan agar lumayan aman adalah lebih dari 4 meter, karena virus Corona masih dapat ditularkan dari jarak 4 meter. Selisih 1 tegel/lantai belum mencapai jarak tersebut,

4. Tidak semua orang patuh memakai masker, baik karena bandel/cuek maupun karena perbedaan pendapat tentang sholat dengan bermasker,

5. Meskipun merupakan ibadah, sholat berjamaah tetap merupakan kumpulan, sedangkan untuk saat ini kumpulan orang banyak harus dihindari untuk menurunkan kecepatan penyebaran, angka penularan, maupun risiko yang lebih besar,

6. Taat penuh terhadap anjuran pemerintah berpotensi membuat situasi gawat/darurat Corona ini cepat selesai, sehingga segala dampak negatif yang ditimbulkan bisa diminimalkan dan keadaan segera normal kembali.

7. Jika misal satu orang saja bandel keburukannya tidak menimpa dirinya sendiri, tetapi menzalimi orang lain/menyusahkan banyak orang.

8. Kemungkinan penularan dapat diperburuk dengan adanya AC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.