03 September 2019

Aplikasi Reminder Wisata, Membuat Turis Selalu Ingat Yogyakarta


Aplikasi Reminder Wisata, Membuat Turis Selalu Ingat Yogyakarta

Upacara Sekaten, salah satu budaya Jawa yang ada di Yogyakarta
Sumber: iwantgoto.com

Yah, kelewat lagi! Padahal jauh-jauh hari sebelum 23 Agustus sudah ada rencana datang ke Malioboro Night Festival 2019 eh lupa. Trus bikin rencana baru ingin nonton pagelaran wayang kulit paguyuban dalang muda Yogyakarta Sukra Kasih tanggal 30 Agustus eh kelewat juga. Pernah tidak Anda mengalami hal seperti itu? Sudah punya rencana untuk menghadiri atau menonton even pariwisata tertentu tetapi kelewatan. Apalagi jika evennya jarang, misalnya even tahunan. Lupa, meskipun manusiawi, pasti terasa mengecewakan.


Kadang seseorang tidak mendatangi suatu acara bukan karena tidak tertarik, melainkan karena sedang berbenturan jadwalnya dengan yang lain, sibuk, atau lupa. Nah, untuk alasan yang terakhir kita memerlukan alat bantu berupa aplikasi reminder wisata.


Mumpung Yogyakarta masih tercatat sebagai Kota Kebudayaan ASEAN, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan segera membuat aplikasi ini. Karena sejak tahun 2018 hingga setahun ke depan, Yogyakarta masih akan menyandang predikat tersebut (Kota Kebudayaan ASEAN/ASEAN City of Culture).

 Aplikasi Reminder Wisata, Membuat Turis Selalu Ingat Yogyakarta
Yogyakarta sebagai ASEAN City of Culture
Sumber: Goodnewsfromindonesia.id


Dari tahun ke tahun ancaman kepunahan budaya terus mengintai sehingga memerlukan penanganan serius. Terutama terkait dengan dilema yang mereka hadapi. Di satu sisi budaya tradisional itu ingin tetap asli, namun di sisi lain mereka harus mengikuti selera pasar agar tetap ada atau berjaya. Menjadikan suatu budaya sebagai objek wisata dan memberinya pengingat (reminder) merupakan salah satu upaya untuk melestarikannya.


Sejak dulu Yogyakarta dan Jawa Tengah dianggap sebagai gambaran dari budaya Jawa yang asli. Entah mengapa Jawa Timur sering tidak diikutsertakan. Namun, yang saya titikberatkan di sini adalah karena kedua tempat tersebut dianggap mewakili Jawa, sehingga menjaga dan menampilkan ke-Jawa-annya mutlak diperlukan. Apalagi dengan derasnya arus globalisasi, masuknya budaya luar sedikit banyak ikut mempengaruhi. Agar tidak punah, kita harus benar-benar menjaganya. 


Seiring dengan perkembangan teknologi, budaya-budaya Indonesia juga sudah masuk ke dalam ranah digital, baik melalui buku digital, aplikasi digital, games digital, atau lainnya. Bahkan sudah ada ojek andong digital. Upaya yang baik menurut saya, mengingat di daerah saya Sidoarjo dan daerah kakek saya Pasuruan Andong (di sana namanya dokar) sekarang sudah langka.


Upaya digital lain yang bisa dilakukan adalah melalui media sosial. Seperti daerah Surabaya misalnya, admin Instagramnya gaul dan informatif dalam menyebarkan info-info tentang acara-acara dan pembangunan di sana. Pengikutnya banyak dan tampak antusias juga dalam menghadiri even-even yang diinfokan, selain juga aktif berdialog interaktif dengan admin tersebut. Upaya seperti ini juga baik bagi pariwisata Yogyakarta, terutama jika sasarannya adalah turis lokal/dalam negeri.


Nah, untuk mencapai sasaran yang lebih luas aplikasi reminder wisata ini dapat membantu. Integrasikan seluruh agenda wisata pada aplikasi ini, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun pihak lain, misalnya Jogja Cross Culture (JCC). JCC memiliki misi untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota budaya dunia dan saya rasa hal ini selaras dengan misi pemerintah. Apalagi JCC menjadi gambaran budaya Yogyakarta dari berbagai zaman. Bila ASEAN City of Culture berupa gelar yang ada masanya (berlaku hingga periode tertentu), upaya yang kita lakukan adalah membuat gelar itu benar-benar melekat pada Yogyakarta dalam jangka panjang dan lingkup yang lebih luas. Gunakan gelar ASEAN City of Culture sebagai kendaraan atau batu loncatan saja untuk tujuan yang lebih besar.


Di dalam aplikasi reminder wisata nanti, semua agenda wisata yang menarik di Yogyakarta dimasukkan. Misalnya upacara Gerebek Maulud, upacara Sekaten, upacara Siraman Pusaka, upacara Bekakak, Sendratari Ramayana, dan masih banyak lagi. Sangat disayangkan ketika saya menemui ada media yang mengatakan turis menyasar Parangtritis dan Dlingo saja, padahal obyek wisata di Yogyakarta tak kurang-kurang macamnya.


Adanya informasi di website bagus, informasi di medsos juga bagus, tetapi lengkapi pula dengan aplikasi reminder wisata. Tak bakal lagi deh mereka akan melupakan Yogyakarta. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019"