28 Juli 2018

Memberilah maka Engkau akan Bahagia


Memberilah maka Engkau akan Bahagia
Pelukan, salah satu bentuk pemberian

Hidup telah memberikan banyak kelimpahan kepada kita. Matahari yang bersinar, udara segar, air bersih, tumbuhan dan hewan, serta dari kebaikan orang-orang di sekitar kita. Kita ada karena kebaikan Tuhan melalui makhluk-makhluk-Nya.

Memberi merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi pemberi dan penerimanya. Ia bisa menciptakan perbedaan positif bagi Anda dan penerima pemberian tersebut. Selain itu, memberi akan membuat Anda merasa bermakna, genap, dan bahagia.

Ada banyak sekali manfaat memberi, di antaranya memberi bisa membentuk hubungan-hubungan baru, menciptakan rasa aman, memudahkan pekerjaan, kesehatan yang baik, rasa berdaya, bangga dan berhasil, kebahagiaan, kedamaian dan cinta, serta membuat Anda merasa lebih terhubung dengan orang lain.

Memberi tidak perlu menunggu kaya. Pun, tidak harus selalu berupa harta. Segala keahlian, kemampuan, dan sumber daya Anda yang berlebih bisa diberikan. Anda bisa memberikan waktu, kearifan, perhatian, cinta, tawa, tenaga, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, harapan, kehidupan, kesehatan, sentuhan, pelukan, informasi, atau bahkan nasehat.

Setiap orang memiliki sesuatu yang dapat dilakukan lebih baik atau lebih mudah daripada orang lain, suatu bakat dari lahir atau keahlian yang mereka kembangkan. Bahkan, kita selalu bisa menambah keahlian baru untuk dikembangkan.

Apa yang dibutuhkan masing-masing orang bisa saja berbeda. Selain karena bersifat subyektif, waktu yang berbeda juga bisa menghasilkan kondisi yang berbeda. Di sini, uang atau materi tidak selalu menempati posisi tertinggi. 

Begitu pentingnya masing-masing dari sumber daya Anda, misalnya waktu dan uang, membuat Anda harus berhati-hati dalam memanfaatkannya. Bila penggunaan Anda tidak bijak atasnya, Anda tidak akan bisa memberikan waktu dan uang kepada orang lain. Atau, setidaknya, porsi yang bisa Anda berikan kepada orang lain akan berkurang.

Pemberian berupa waktu sering disepelekan orang lain. Padahal, waktu adalah umur kita. Ketika kita memutuskan untuk memberikan waktu kita, maka sadar atau tidak kita telah menyerahkan sebagian umur kita untuk urusan tersebut. 

Anda juga bisa memberi sesuatu kepada orang lain berupa sentuhan, pelukan, nasehat, tawa, atau lainnya. Penelitian menunjukkan, anak yang sering disentuh agresivitasnya akan berkurang dan menjadi lebih pengertian. Temuan ini merupakan hasil pengamatan dari Dr. Tiffany Field, seorang psikolog perkembangan dan profesor pediatri terhadap para ibu di Paris dan para ibu di Amerika. Risetnya menyimpulkan bahwa agresivitas fisik anak-anak Perancis di taman bermain jauh lebih rendah daripada anak-anak Amerika. Termasuk bila dibandingkan dengan teman mereka di Amerika Serikat, remaja Perancis jauh lebih tidak agresif dalam berbicara. 

Pelukan juga tak kalah penting. Di Jepang sampai ada jual jasa pelukan karena mungkin ada orang-orang tertentu yang begitu ingin dipeluk tetapi tidak terpenuhi kebutuhannya. Ada juga orang yang selingkuh karena kurangnya merasakan kedekatan dengan pasangannya (kurang pelukan). Beberapa dari mereka tidak ingin selingkuh hati, hanya butuh kasih sayang dari pasangan selingkuhnya (katanya, karena pasangan sahnya galak dan ketus).

Sedangkan tentang nasehat, memang harus sangat berhati-hati penggunaannya. Di antara contoh menonjol yang saya ingat adalah bagaimana Napoleon Hill bisa berubah drastis hidupnya setelah mendapat nasehat dari Andrew Carnegie. Serupa dengan itu, perkataan Napoleon Hill-yang diharapkan sebagai nasehat oleh seorang pria yang datang kepadanya- berhasil mengubah hidup pria itu dalam sekejap. Drastis juga. Ke arah positif tentunya. 

Lalu, pernahkah Anda tersesat? Atau tidak tahu akan sesuatu? Di dalam kondisi tersebut, pemberian orang lain berupa informasi yang benar sangatlah diperlukan.

Apapun bentuk pemberiannya yang paling utama adalah memberi diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian kepada orang terdekat kita, pasangan hidup, anak, barulah kepada orang lain. Berinvestasilah ke dalam waktu Anda, kesehatan Anda, uang Anda, kebahagiaan Anda, dan sebagainya lebih dulu. 

Selain itu, untuk bisa memberi lebih banyak, Anda juga butuh melepaskan. Ya, melepaskan hal-hal yang tidak penting dari hidup Anda, misalnya: melepaskan emosi buruk, kebiasaan buruk, sikap buruk, kenangan buruk, dan belajarlah untuk bisa memaafkan. Memaafkan diri sendiri, orang lain, dan mungkin juga Tuhan. Terkadang ada orang yang begitu marah sampai marahnya diarahkan kepada Tuhan.

Memberilah kepada orang yang tepat. Sesuatu yang sama tetapi salah penerima nilainya bisa berbeda. Contohnya uang 5000. Anda memberikan kepada 2 orang miskin, yang satu lebih miskin dan lebih bersyukur, satunya miskin tapi lebih mendingan dari yang sebelumnya dan kurang bersyukur. Uangnya sama-sama 5 ribu, penerimanya sama-sama miskin, tapi nilainya bisa berbeda. Orang pertama bisa sangat berterima kasih, sedangkan orang ke dua mungkin malah menghina dengan berkata dalam hati “huh, ngasih kok segini doang”, atau, “Apa ini, kalau cuma segini aku juga punya. Buat makan aja nggak cukup, apalagi buat bayar utang.” Begitu. Harus tepat juga penerimanya.

Jadikanlah memberi sebagai bagian dari kebiasaan. Sebuah penelitian mengatakan, memberi langsung banyak (misalnya 5 jenis pemberian dalam sehari) memberikan efek bahagia bagi pemberinya. Memberilah langsung banyak dan jadikan kebiasaan sehari-hari. Pastikan pula bahwa Anda menjadi salah satu penerima pemberian Anda sendiri setiap harinya. 

Memberilah dengan ikhlas. Meskipun tidak selalu dibalas sama oleh Si penerima, Tuhan memiliki cara sendiri untuk membalas Anda dengan sesuatu yang lebih baik.

Dengan menjadikan memberi sebagai bagian dari kebiasaan, Anda sudah memberikan teladan bagi putra-putri Anda, orang-orang di sekitar Anda, dan ikut andil membuat dunia menjadi lebih baik.

Terakhir, jangan pernah meremehkan pemberian (sedekah) dalam bentuk apa pun. Anda mungkin tidak akan pernah tahu, pemberian Anda yang mana yang bernilai paling tinggi bagi seseorang. 

Nah, sudahkah Anda memberi hari ini?


Sumber gambar: Pixabay (by Pezibear)

Sumber:
Mc. Kinnon, Harvey dan Azim Jamal. 2017. Memberi untuk Menerima Lebih Banyak. Jakarta: Ufuk Press.