01 Maret 2022

Review Buku "Hyperfocus"

Hyperfocus: how to be more productive in a world of distraction

Penulis: Chris Bailey


Kamu males nggak misal disuruh baca ratusan atau ribuan referensi tentang manajemen waktu? Males, kan ya? Kalau aku sih males. Kalau nggak kepepet banget ya nyari yang praktis aja.


Nah, buku "Hyperfocus" ini adalah hasil dari riset penulisnya terhadap ratusan atau ribuan literatur tentang manajemen waktu. Bisa dibayangin kan betapa kaya isi buku ini. Jadi, kalau kamu nyari buku tentang manajemen waktu bisa lah ya baca buku ini.


Lho, kok manajemen waktu? Bukannya judulnya tentang fokus-fokus gitu?


Nah, itu dia, ternyata nyambungnya ke sana. Bahasan tentang fokus ini trus nyambung ke produktivitas, dan kalau udah ngomong soal produktivitas biasanya nggak jauh-jauh dari manajemen waktu.


Tadinya kupikir fokus itu akan berhubungan dengan khusyu', mindfulness, bisa bikin patah hati atau masalah-masalah nggak terlalu mengganggu (ya mungkin termasuk mindfulness juga ya), dan semacamnya. Pokoknya tentang kontrol pikiran. Ternyata arahnya lebih mirip 3 buku kemarin, yaitu "How to be Everything," "Learning How to Learn" dan "Rest."

Semuanya berkaitan dengan 2 cara kerja otak. Bedanya, selain pada istilahnya juga pada penekanannya. Kalau "How to be Everything" nggak bahas otaknya, dia cuma bahas kalau kita mampu menguasai/bekerja pada lebih dari 1 bidang. Kalau "Learning How to Learn," dia bahas cara kerja otaknya, fungsi masing-masing saat ganti mode, dan bahwa kita mampu menguasai lebih dari 1 bidang sekaligus, termasuk bidang yang sebelumnya sulit kita kuasai atau bidang yang sepertinya berlawanan. Sedangkan "Rest" isinya lebih ke salah satu cara kerja otaknya, manfaat kalau sedang dalam mode istirahat, dan istirahatnya dalam bentuk apa saja. Nah, kalau "Hyperfocus," isinya tentang 2 cara kerja otak, tapi dia pake istilah "hyperfocus" (mode produktif) dan "scatterfocus" (mode kreatif), dan keduanya masing-masing dijabarkan tersendiri cara masuk ke mode tersebut dan cara pakenya. Selebihnya, isinya dominan tentang produktivitas dan manajemen waktu. Gimana cara kamu fokus, mengatasi masalah internal dan eksternal, gitu-gitu. Bahasannya gitu, yah seperti buku produktivitas dan manajemen waktu pada umumnya. Poin-poinnya/strateginya aja yang beda, terutama karena mungkin dia orangnya lebih nggak enakan daripada penulis-penulis buku produktivitas dan manajemen waktu pada umumnya. Masih ada sisi nggak tega, nggak enak, sungkan, susah nolak, nggak teges, sisi berperasaan, sisi manusiawi, sisi luwes/fleksibel, atau entah apa kamu nyebutnya. It depends on you. Selama aku baca buku ginian, juarang atau bahkan nggak pernah kayaknya nemu yang kayak gini. Biasanya ya "Kamu harus bisa 'cut' ini," "Kamu harus bisa 'cut' itu." Gitu. 


Terus, tentang mindfulness sendiri ternyata beda dengan fokus. Kalau "mindfulness" itu fokus ke kondisi sekarang, kalau "fokus" itu fokus ke 1 hal aja. 


Tapi sebenarnya manusia itu bisa multitasking sih, makanya buku ini diawali dengan pembagian aktivitas dulu menjadi 3:

1. Aktivitas harian kecil yang nggak butuh mikir,

2. Satu aktivitas besar dan satu aktivitas kecil,

3. Aktivitas yang butuh mikir banget.


Kalau kamu multitasking pada aktivitas yang salah, ya alamat error/berantakan/kecelakaan.

Bagian ini adalah poin lebih/poin menarik dari buku ini menurutku, selain tentang nggak tegaan-nya tadi. Itu sesuatu yang baru buatku.


Yah, seperti itulah isi buku ini. Tertarik baca? 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.