08 Februari 2022

Pendidikan Umum VS Pendidikan Pesantren

Sudah lama aku nggak habis pikir tentang apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia (di Indonesia aja ya biar spesifik). Memang banyak orang menyoroti, tapi kebanyakan sepertinya nggak menghasilkan (atau nggak terlalu menghasilkan atau mungkin kurang tepat hasilnya) solusi, tetapi malah memicu/membesarkan konflik-konflik atau malah bikin excuse-excuse. Memang mencari inti masalah yang tepat itu nggak sederhana, apalagi mencari solusinya.


Berita-berita dan konflik-konflik yang santer terdengar malah bikin kuping dan hati panas. Sudah nggak ngasih solusi malah tukaran atau sibuk menang-menangan: sekolah negeri atau swasta yang lebih baik, sekolah umum atau agama yang lebih baik, sekolah di gedung atau di rumah (homeschooling) yang lebih baik, pekerja atau pengusaha yang lebih baik, dan masih banyak lagi. Alhasil, sebagian orang jadi bingung or makin bingung kehilangan arah. Ke A atau ke B ya? Males ah sekolah, nggak guna. Jadi pengusaha aja ah, jadi pekerja gini gitu. Dan lain-lain yang cenderung geje, sawang-sinawang, iri dengki, serta nggak positif dan nggak produktif. 


Nah, berawal dari membaca buku "The Almanack of Naval Ravikant" ini aku mau menuliskan sebagian pemikiranku. Sebenarnya sebagian sudah sering dibahas sih di buku lain, tapi buku Naval ini pencetusnya. Semacam moment "aha"-nya.


Naval memang menyinggung tentang nggak cocoknya dunia pendidikan formal bagi bisnis. Tapi apa yang mau kusampaikan di sini lebih merupakan pemikiranku sendiri, tetapi masih berhubungan. Ini adalah tentang pesantren. Aku bukan santri ataupun alumni pesantren, jadi ini lebih ke bayangan/pemikiranku aja ya. Benar atau tidaknya aku tidak tahu.


Aku itu membayangkan betapa susah pendidikan di pesantren. Taruhlah contoh menghafal Al Quran saja, itu sudah suwusah banget, belum tentang pelajaran-pelajaran lainnya. Masalah muncul ketika santri itu belajar dobel (agama dan sekolah umum sekaligus), apa nggak makin susah? Ada juga pesantren yang melabel dirinya "modern". Berarti ada pesantren yang kuno dong? Modern-nya di mana? Apakah untuk komersialisasi/strategi marketing saja? Itu jadi semacam pengkotak-kotakan ke dalam "Islam kuno" dan "Islam tidak kuno", karena kehidupan di pesantren itu dianggap miniatur/perwujudan dari Islam.


Orang sering bertanya, kenapa Islam/orang Islam sekarang tidak jaya? Kenapa pentolan-pentolan orang tersukses itu banyak yang bukan Islam?

Itu sebenarnya gini, mari kita bedakan dulu jenis-jenis orang Islamnya, di antaranya:

1. Muslim yang belajar tapi tidak paham. Udah berhenti gitu aja. Nggak diapa-apain. Cuek. Nggak ngamalin dong,

2. Muslim yang belajar dan mengamalkan tapi pemahamannya salah. Amalan jadi salah.

3. Muslim yang belajar dan paham dan ingin mengamalkan tetapi dia lemah/penakut. Dia jadi nggak bisa all out mengamalkan atau malah melenceng/mengamalkan yang berbeda,

4. Muslim yang tidak belajar,

5. Secara agama Islam, tetapi dia munafik.

6. Muslim yang belajar dan paham dan kuat/pemberani dan mengamalkan apa yang dipahaminya.


Nah, setidaknya dari 6 kelompok besar tersebut, 5 di antaranya itu error/bermasalah. 


Aku sudah membaca berbagai buku, baik versi buku agama/religi/Islam maupun versi buku umum, banyak prinsip-prinsip kesuksesan itu sudah ada di dalam agama. Contoh buku yang kubaca itu tentang kesehatan, hubungan/relationship, dan bisnis. Berbagai ahli itu muter-muter nge-riset ini-itu tapi ternyata conclusion-nya sudah ada di agama; di Qur'an-mu, di haditsmu, dll. Itu lucu lucu miris ya. Orang susah-susah nyari ternyata sudah ada di agamanya. Cuma kadang-kadang entah karena memahami sumber-sumber agama itu yang susah atau karena manusianya yang ngeyelan (suka membantah) atau karena sebab-sebab lain, itu semua jadi kurang terintegrasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Manusianya suka pilih-pilih dan tidak mengamalkan ajaran Islam secara kaaffah/menyeluruh/komprehensif. 


Di situlah muncul pertanyaanku. Kamu percaya nggak sih Islam itu agama terbaik dan sudah mengatur seluruh aspek kehidupanmu? Kalau kamu percaya, trus ngapain pesantren kok ditambah pendidikan formal juga seperti sekolah umum. Itu agak useless, kecuali kamu ngejar sertifikatnya, atau mau masuk PNS, atau mau masuk ke tempat-tempat kerja yang butuh sertifikat. Sebagaimana dunia pendidikan umum kita yang gagal/kurang tepat sasaran, pesantren juga ikut gagal juga dengan alasan serupa. Menurut hematku, karena kehidupan di pesantren itu lebih seperti miniatur kehidupan Islam, dia lebih mungkin untuk memantau dan menerapkan ajarannya pada santri-santrinya langsung. Apalagi, biasanya pake nginep. Nggak perlu dibedakan antara pendidikan agama dan umum, langsung diintegrasikan saja. Misal tentang pelajaran ekonomi. Ya sudah cari aja ajaran Islam tentang ekonomi trus langsung dipraktekkan. Baru nanti yang kurang-kurang diajarkan dalam bentuk pelajaran umum. Nggak semua pelajaran (termasuk pelajaran umum) perlu dipelajari. Berat lho belajar agama yang se-bejibun itu, apalagi ditambah pelajaran umum yang sama bejibunnya.

Fokus pada pelajaran kehidupan, bukan pelajaran per bidang studi. Andaipun nggak kerja kantoran atau nggak jadi PNS para lulusan santri tadi tetap bisa sukses, misalnya dengan menjadi pengusaha.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.