29 Juni 2021

Mengerikan, Banyak Rasionalisasi Dosa Seputar Zina

Ingat janji Iblis dahulu, dia akan gigih mencari cara untuk menyesatkan manusia dari berbagai arah sampai hari kiamat tiba.

Kalau kamu mudah menyerah dan putus asa, kamu kalah.

Salah satu cara yang bisa digunakan oleh iblis dan bala tentaranya adalah rasionalisasi. Mereka mencari celah atau sisi kelogisan/ilmiah di dalamnya.

Aku juga pernah cerita tentang psikopat dan semacamnya ya. Mereka ini adalah golongan yang bisa sangat cerdas/pintar sehingga dengan kemampuan keilmuan, berbicara/berdebat/persuasi/berargumentasi, atau bahkan memikat hati orang lain dia bisa mudah memiliki pengikut/menyebarkan sesuatu.

Dalam hal ilmiah, kita butuh riset atau minimal studi literatur dan itu bisa membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan terutama biaya. Banyak hal yang menggangguku dan ingin kubahas tetapi aku punya keterbatasan sehingga aku menyinggungnya sedikit saja.

Kamu mungkin nggak asing dengan kata c*li/on*ni, berapa rasionalisasi di dalamnya. Begitupun tentang aktivitas s*ksual, nonton b*kep, lg*t, m*ras, n*rkoba, atau c*uman, masing-masing dari aktivitas atau pelaku tersebut punya rasionalisasi sendiri. 

Kalau kamu sekadar bilang, "Oh, itu nggak penting buatku." Mungkin kamu/agamamu akan dianggap tidak rasional, bodoh, atau tertinggal (primitif). Ya meskipun bagimu pribadi mungkin tidak penting, tetapi orang yang bisa memberikan pijakan logika atau ilmiah di dalamnya itu kuamati jadi banyak memiliki pengikut, menang jika berkasus dengan mereka, dan mampu mengubah sebagian orang yang yakin menjadi ragu atau berpaling.

Miris sekali gitu ketika aku menemukan ada yang ngomong "Nonton film p*rno tidak membuat orang menjadi bodoh."

Atau "C*umlah pasanganmu untuk mencari tahu dia jodohmu atau bukan (untuk mengetahui kecocokan kalian)"

Atau "Nges*kslah dulu dengan pacarmu agar kamu tahu kecocokan kalian dalam hal s*ksual, agar kamu tahu dia bisa muasin kamu atau tidak, bisa hamil/punya anak atau tidak, fr*gid/tidak, dsb."

Gak ketinggalan juga yang satu ini, "C*wek/pacar yang pinter ngasih bl*w job, akan dapat nilai plus di mata cowok. (Jadi berlatihlah dan berikan servis bl*w job sebaik mungkin pada pacarmu dan lakukan sesering mungkin padanya biar kamu bisa memenangkan hatinya)"


Atau ini:

"Tubuh tubuhmu sendiri kok, milikmu, terserah kamu mau ngapain."


Atau yang "sekadar" gini:

"Kontak fisiklah saat pdkt agar dia dekat/closeness sama kamu."

"Buat apa pacaran kalau nggak p*lukan/c*uman/lebih."

Bagaimana juga dengan yang parah kek gini:

"Berc*umanlah dulu dengan calon/pacarmu, kalau ada t*gangan/t*rangsang banget berarti kalian jodoh, dan gak papa lanjut aja "disalurin"/ ML."

"Gpp 'berbuat' asal sama-sama tau risikonya."

"Nges*kslah dulu sering-sering sebelum nikah agar saat nikah nanti kamu sudah expert."


Busyet dah bahkan artikel yang kayak gitu lolos lho di majalah online umum Indonesia. 

Dan yah masih banyak yang lainnya.

Tentang nonton b*kep pun ada yang beralasan untuk edukasi s*ksual.

Aku sejak dulu itu kepo, tiap cowok ketika beranjak dewasa itu kan pasti mimpi b*sah, dan aku pernah wawancarai salah satunya, katanya itu nggak sekadar melihat orang lain g*tuan, tetapi mimpi b*sah itu mereka sendiri yang g*tuan dengan lawan jenis. Which mean, secara otomatis gak perlu diajari pun semua pria bisa.

Nah, aku juga sering baca/dengar "Tiap cowok pasti punya atau bahkan mengoleksi foto-foto seksi di HP atau laptopnya dan pasti pernah/sering nonton b*kep."

Itu masih tanda tanya bagiku, itu pendapat atau fakta ketika dia bicara tentang semua pria.

Tetapi suatu hari tanpa sengaja aku menemukan sesuatu yang mungkin merupakan bagian kecil dari jawabannya, "Biar cepat selesai/tuntas katanya."

Maksudnya kurang lebih gini, ada masa-masa di mana libidonya itu naik, entah karena rajin olahraga, makan makanan yang ternyata peningkat libido, nggak sengaja terpicu sesuatu dari luar (misal temannya cerita ng*res atau dia habis ketemu cewek yang m*rangsang, entah berpakaian terbuka/seksi/genit/agresif, atau lainnya) lalu libidonya naik/t*rangsang dan membuat pikiran serta tubuhnya itu nggak enak/error karena belum "tersalurkan"/keluar. Jadi, dia membantu pelepasannya agar bisa er*ksi/org*sme/keluar cairan-cairan tadi dengan nonton foto-foto s*ksi/terbuka auratnya atau nonton film-film p*rno.

Menurut pengakuan salah satu pria yang kuindikasikan b*dboy, kalau belum tersalurkan itu rasanya seperti ada jarum-jarum di kepalanya. 

Tapi intinya ya, terlepas dari alasan atau rasionalisasinya, dosa itu tetep dosa.

Bagi yang nggak tahu sisi ilmiahnya cukup sami'na wa atho'na terhadap ajaran-ajaran agama, sementara bagi yang tahu atau mau berusaha tahu akan sisi ilmiahnya ya cari tahulah lalu patahkan semua bentuk rasionalisasi dosa. 

Semoga kita semua dijauhkan oleh Allah dari dosa dan semoga Allah berkenan untuk mengampuni dosa-dosa kita dan menutup aib kita. Aamiin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.