28 Juni 2021

Dunia Tanpa "Pelacur Pria", Tapi Boong

Untuk ke sekian kalinya aku kembali mendapati pria melontarkan kata-kata itu, kata p*lacur, l*nte, dan sebagainya.

Aku marah, hasrat hatiku ingin berkata kasar, tapi soal kekasaran merekalah jagonya, yang mungkin sudah terbiasa ngomong kasar, terbiasa berulah/cari gara-gara, atau mungkin dekat dengan lingkungan seperti itu (baca: mungkin pemakai jasa p*lacur). Aku ingin mencari cara yang lebih baik dan lebih elegan serta (harapannya) lebih manjur. Selama ini aku sudah mencoba beberapa cara tetapi belum berhasil. Rupanya, mungkin orang cuek kalau bukan mereka sendirilah korbannya, ada juga orang-orang lugu pemuja prasangka baik, dan sebagian lagi karena keahlian pelakunya dalam menggunakan beragam teknik manipulasi. Which mean, alih-alih mendapat dukungan dan berhasil memuluskan rencanaku aku kalah dan gak dipercaya, gagal.

Aku pertama dikatain p*lacur saat SMP kelas 1, oleh teman priaku sendiri. Maksud dia bercanda karena pengen tahu marahku gimana karena aku terlalu pendiam. Waktu itu aku ga marah dan balas mengatainya rascal/berandalan, yang waktu itu kuartikan sebagai pemakai p*lacur. Tapi lambat laun aku menyesalinya kenapa aku nggak murka, terutama ketika saat mencari jodoh aku sering dikatain p*lacur oleh berbagai pria, selain itu aku juga menemukan kata p*lacur ini sering digunakan sembarangan, seenak lambene atau seenak udele, oleh pria.

Aku tuh heran ya kenapa p*lacur itu hanya disematkan untuk wanita, sementara dunia pria itu bersih. Kalau menyebut p*lacur pasti perempuan, begitu pun berbagai variasinya.

Wanita tuna s*sila (pria juga ada, tapi kenapa wanita yang lebih disorot? Penggunaan tuna s*sila itu sendiri seperti hanya melekat pada wanita).

Wanita p*nggilan (pria juga ada, tapi lagi-lagi wanita yang lebih disorot)

Begitupun mungkin istri s*mpanan, wanita m*rahan, dan istilah-istilah semacamnya.

Laki-laki juga ada toh? Tapi mereka seperti "bersih" tak tersentuh.

Sebagaimana ketika berzina, wanita pun yang lebih diubek-ubek masalah virg*nitasnya, model/penampakan organ-organ reproduksinya, bodinya, kemampuannya untuk memiliki keturunan, dll.

Suatu hari aku menemukan sebuah berita perz*naan di sebuah koran online. Hebatnya, yang ditonjolkan hanya p*zina wanitanya, yang dihukum juga dia, yang muncul namanya juga dia, sementara p*zina prianya "bersih". Itu mereka berz*na kan sama-sama melakukan tetapi pihak prianya sama sekali tidak muncul di koran tersebut dan sama sekali tidak dihukum warga. Penasaran, aku coba membaca versi di koran online lainnya, tetapi sama saja.

Dan hal-hal semacam ini bukanlah diskriminasi gender satu-satunya yang kutemui. Pada berbagai berita, isi buku, ceramah, atau lainnya penggunaan istilah untuk perempuan seringkali lebih kasar, dengan kata lain "gak aturan", minimal akan ada penghalusan untuk gender pria, baik pria itu sebagai pelaku kriminal, pez*na, atau ketika masalah s*ksual itu diangkat dan melibatkan kedua gender.

Kembali pada masalah slut-shaming dan mudahnya cowok-cowok dalam menyebut kata p*lacur, membuat aku kepo mencari arti kata p*lacur di KBBI, yang ternyata memang hanya untuk jenis kelamin wanita, dan aku semakin kecewa ketika membaca artinya, lagi-lagi berbeda nilai rasa antara arti p*lacur (untuk gender wanita) dan g*golo (untuk gender pria). G*golo diartikan dengan lebih halus dan secara implisit masih menyorot wanita (pengguna jasa g*golo) sebagai pihak yang lebih bersalah.

So, kamu masih percaya kata-kata pria bahwa "Wanita selalu benar?" Saat realitanya kaum wanita itu malah lebih sering atau bahkan selalu disalahkan.

Kamu tahu nggak betapa mudahnya para lelaki itu menyebut kata p*lacur, perempuan m*rahan, dan semacamnya?

Ada nih ya cowok bermasalah nggak deal maharnya dengan calonnya, anggap aja maharnya ketinggian buat dia, gitu ngatain calonnya p*lacur.

Ada oknum ustadz ceramah tentang hubungan suami istri, bilang "Istri harus agresif seperti p*lacur."

Ada cowok nyetatus di FB, mencitrakan dirinya soleh, tapi kayaknya sering ditolak cewek, di akhir statusnya dia menyebut kata p*lacur, tetapi sebagai upaya penghalusan dia mengadu domba antar cewek, dengan istilah t*roris dan p*lacur, dan memberi tanda tanya pada akhir kalimatnya.

Dan yang juga tak terhingga tentu saja pengalamanku sendiri, ketika aku menolak dengan menyampaikannya, ketika aku menolak dengan mencuekinya, ketika aku hanya mencari pria yang tidak pernah zina, ketika aku tidak mau dihubungi tengah malam, bahkan ketika mereka menganggapku sudah berumur tetapi belum menikah. Dibilang p*lacur lah, l*nte lah, m*rahan lah, munafik lah, sok suci lah, dll.

Kalau sekarang semakin banyak orang yang berz*na itu memang fakta, tetapi ketika sedikit-sedikit kamu ngomong p*lacur, apalagi pada orang yang tidak m*lacur dan tidak berz*na, itu sudah beda urusannya.

Sebagai pengingat, bagi yang muslim, menuduh zina itu membutuhkan 4 orang saksi, sementara p*lacur itu adalah pez*na, orang yang sengaja menjual jasa yang berhubungan dengan perz*naan, dan kemungkinan besar dia sudah berkali-kali berz*na (pez*na, bukan sekadar pernah atau 1 kali berz*na).

Jadi, ketika kamu ngomong p*lacur pada orang yang bukan p*lacur, itu kemungkinan telah jatuh tuduhan z*na berkali-kali, yang tiap kalinya kamu tidak pernah menyertakan 4 saksi.

Apalagi kalau sebutannya ditambah kata m*rahan (misal: p*lacur m*rahan), kamu memberikan tuduhan tambahan padanya, terlepas dari arti "m*rahan" versimu itu apa.

Akhir kata, aku punya 5 keinginan:

1. Setiap orang, terutama pria, harus sangat berhati-hati dalam menggunakan kata "p*lacur",

2. Aku ingin orang yang menggunakan kata "p*lacur" sembarangan bisa dipidanakan dan dihukum seberat-beratnya karena kata tersebut mungkin adalah cacian/tuduhan terburuk bagi wanita,

3. Adil-lah dalam bersikap, dalam berucap, menghukum, dan dalam penggunaan kata bagi kedua jenis gender,

4. Didiklah diri kalian, anak-anak kalian, dan orang dekat kalian agar tidak berzina, tidak menjadi pezina/p*lacur/g*golo, dan tidak mudah melakukan slut-shaming/menyebut p*lacur, l*nte, wanita m*rahan, dsb pada perempuan secara umum, terutama pada perempuan baik-baik (yang tidak berzina, bukan pezina, dan bukan p*lacur). 

5. Untuk konteks-konteks agama, yang mungkin memang berhubungan dengan hal tersebut/ada dalilnya, hendaknya disampaikan dengan bijak, halus, dan sangat hati-hati.

Okey, semoga keinginanku ini bisa terwujud. Ada di antara kalian yang mau dan mampu untuk bantu aku, dan semoga ke depannya masalah ini akan menjadi lebih baik (menurun/tidak ada lagi). 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.