14 Februari 2020

Kamu Bilang Itu Cinta Diri, Aku Bilang Pikir Lagi


Lagi-lagi akun-akun cewek bule yang kuikuti memamerkan tubuh b*gilnya. Entah sudah orang ke berapa, tak kuhitung dan tak terlalu kuperhatikan latar belakangnya, karena akun yang kuikuti banyak dan tujuannya pun berbeda-beda. Tapi pada umumnya aku menyukai quotes, caption, atau video mereka, yang mengesankan mereka sebagai orang yang ahli, bijak, meneduhkan, dan menebar banyak kemanfaatan. 

Namun, begitu foto-foto sy*r tersebut merebak, batinku bergolak, “Ternyata aku lebih ‘sehat’ darimu”. Yah, dan karena di dalam Islam itu melihat aurat wanita (sesama jenis) pun berdosa (setidaknya aku menghindari melihat yang t*lanjang bulat), ku-unfollow mereka.

Iya sih ada di antara mereka yang cukup gemuk, ada juga yang tak terlalu gemuk namun bertato, ada yang sudah bagus juga sebenarnya, macam-macam jenisnya, juga posenya, dari yang sekadar berupa arahan foto dan pose menarik dalam fotografi, sampai yang diberi efek-efek visual nan indah.

Body shaming memang dilarang, tapi siapa yang bisa membungkam mulut semua orang. Tak semua orang mudah menerima penghinaan, terutama jika kamu berasal dari keluarga narsis atau keluarga yang berperilaku narsis, yang terbiasa melontarkan verbal abuse, dihina dan dicari-cari kekurangannya itu sudah biasa, tanpa kamu pernah dianggap benar atau indah. 

Kegemukan seringkali digaungkan dengan sangat berlebihan, padahal kekurusan juga mengalami hinaan serupa. Namun, ketika mereka mengatakan “Aku berani t*lanjang, lho. Aku berani menampakkan t*buhku utuh kepada semua orang. Aku PD, kan?”, ada yang salah di sini. Kamu telah kehilangan rasa malu, kau biarkan dirimu menjadi sasaran mata j*lang pria dan objek f*ntasi mereka, dan kamu mengecilkan dirimu sendiri. Sebegitu pentingkah validasi pria dan wanita lain bagimu? Lalu jika pria-pria tadi berucap tak s*nonoh, kamu marah, padahal undanganmu yang menyebabkannya.

Tubuhmu adalah titipan Tuhan bagimu (“milikmu”), tetapi kamulah yang bertanggungjawab atasnya, apapun yang kamu lakukan padanya. Namun, kamu lebih dari sekadar tubuhmu. Cintailah tubuhmu dengan cara yang benar, misalnya dengan tidak menyakiti diri, berpakaian yang pantas, memakan makanan yang sehat, berolahraga, istirahat yang cukup, menikmati me time, melakukan aktivitas-aktivitas positif, mengucap afirmasi-afirmasi positif, dan semacamnya, bukan dengan mempublikasikan ket*lanjangan hanya agar kamu bisa mencintai dan menerima dirimu.

Kamu tahu kan itu tidak benar? Bagaimana jika atasanmu melihatnya, bagaimana jika klienmu melihatnya, bagaimana jika anakmu melihatnya, bagaimana jika muridmu melihatnya, bagaimana jika suamimu melihatnya, bagaimana jika mertuamu melihatnya, bagaimana jika orang-orang jahat (scammer, hidung belang, playboy, dll) melihatnya, dan bagaimana jika seluruh dunia melihatnya? Pikirkan tentang reputasi, rasa malu, dosa, keburukan yang diikuti orang lain, dan apakah Tuhan akan suka atau rela t*buhmu ditonton oleh “jutaan” manusia dengan cara seperti itu? 

Pikirkan. Pikirkan kembali. Lalu semoga kamu bisa memutuskan dengan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.