12 Agustus 2019

Peri Pengabul Impian


 
Ini adalah dunia tempat orang sering mempertanyakan apakah orang baik masih ada. Ini pinggiran kota, di mana orang sering mengatakan rasa bertetangga dan tolong-menolong telah musnah. Di sinilah Bu Yulia tinggal dan menebar kebaikan bagi sesama. Semua itu tak lain karena sebuah pertanyaan telah mengusik batinnya, “Mampukah aku menyelamatkan diri di akhirat nanti?”


Di sebalik rumahnya, Bu Lila sibuk menghitung uangnya sambil mempertanyakan hal yang berbeda. Mungkin dia memiliki hitungan maya di kepala, mengingat usianya kini yang sudah tak lagi muda. Dia sudah kepala tujuh. Kulitnya yang mengendur dan dihiasi keriput di sekujurnya semakin menegaskan ia harus segera kembali ke sana. “Mengapa tidak?” pikirnya. Sebelum lutut dan tulang-tulang ini semakin digerogoti penyakit khas wanita lanjut usia. Pun sebelum jasad ini berkalang tanah.


Entah apa sebabnya keinginan ke Mekah itu kembali menyeruak. Tak heran sih, mengingat sepulang umroh atau haji para jamaah sering mengatakan hal yang sama, ingin menjejakkan kaki lagi ke Tanah Suci. Rupanya ibadah tersebut mengandung daya pikat yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah menjalaninya. Tetanggaku ini salah satunya. Walau sudah pernah berhaji sekali ia ingin bisa membaui aroma Kakbah lagi. Namun sayang, kali ini keinginan itu sulit untuk terwujud. Pasalnya, bisnisnya yang dulu lancar menghasilkan pundi-pundi mendadak tak laku lagi. Padahal, bisnis itu merupakan sumber penghidupannya pasca ditinggal Sang Suami menghadap Sang Pencipta. Alhasil, uang yang dimiliki belum mencukupi. 


Keajaiban muncul ketika suatu hari ia berbincang dengan Bu Yulia. Bak ketiban durian runtuh, wanita itu menggenapinya. Tak hanya dia, dua tetanggaku yang lain pun memperoleh rezeki serupa. Dia benar-benar laksana seorang peri pengabul impian. Tentu saja dia sendiri sudah pernah berhaji dan berumroh. Namun, bila orang lain memilih berhaji atau berumroh berkali-kali untuk dirinya sendiri, dia berbeda. Dia ingin tetangga-tetangganya bisa mencicipi juga. Istilahnya berbagi kebahagiaan. Dan itu bukan karena mereka bekerja padanya lalu mendapat hadiah. Bukan pula karena mereka bagian dari keluarga atau sanak saudara. Pemberian ini adalah tentang ukhuwah Islamiyah, tentang kebaikan seorang manusia.


Tanpa menunggu waktu lama, begitu dia menggenapinya esoknya keempat orang itu langsung berangkat, tiga yang dibantunya tadi plus satu tetangga lain yang membayar sendiri. Bu Yulia mengurusi keberangkatan mereka sehingga mereka bisa berangkat bersama-sama.