28 April 2019

5 Pertimbangan Penting Orangtua Memilih Pre-School yang Baik



Bercermin dari kasus perkosaan di Jakarta International School (JIS), pendidikan anak usia dini membutuhkan peran serta orangtua dan sekolah.

Kasus perkosaan terhadap sejumlah siswa TK di JIS terjadi sekitar 5 tahun lalu. Memalukan, perbuatan bejat tersebut terjadi di sebuah institusi pendidikan. Salah pihak sekolahkah atau orangtua? Mungkin lebih baik sama-sama instrospeksi diri. Karena yang dipertaruhkan di sini adalah masa depan anak, generasi penerus bangsa.

Anak pada usia dini masih sangat rentan dan lemah. Ia cenderung hanya bisa menerima apa-apa yang dipilihkan orangtuanya. Termasuk dalam pemilihan sekolah. Selain itu, ia juga masih kurang bisa membela diri dan memiliki ilmu pengetahuan yang terbatas. Jangan melihat sekolah hanya dari pembelajaran bahasa inggris atau label internasional. JIS menjadi bukti bahwa label internasional saja tidak cukup. 

Sebaiknya pertimbangkan 5 faktor berikut ini sebelum memilih pre-school:

1.    Keamanan

Di dalam memilih tempat prasekolah yang baik, faktor utama yang harus diperhatikan adalah keamanannya. Aman di sini mencakup aman dari kekerasan guru, pekerja di sekolah, murid lain, wali murid lain, orang-orang asing, permainan maupun media dan aktivitas pembelajaran, lalu lintas di sekitar, dan lain-lain. Termasuk kasus pedofilia, perundungan, dan tindakan kekerasan lainnya (abusive).  

 2.    Menyenangkan (nyaman) dan baik bagi mental anak

Usahakan sekolah tersebut memberikan kenyamanan, termasuk dalam hal bersosialisasi. Jika anak tidak nyaman, tentu akan tidak kerasan dan tidak mau/malas sekolah.

Hingga usia 7 tahun, otak kita berada dalam fase teta (kondisi hipnosis), yaitu kondisi saat pikiran bawah sadar dibentuk. Mengubah hal itu sangat sulit karena kita diprogram untuk kesadaran yang tidak kita pilih. Kita menjadi autopilot pada sekitar 95% waktu. Jika pada masa kecil kita mengalami pengasuhan atau pendidikan yang salah, kita akan menjadi tidak percaya diri. Sedangkan rendahnya percaya diri menyebabkan sifat materialistis, yang bisa berlangsung hingga dewasa. Temuan ini merupakan hasil penelitian dari dua psikolog, yaitu Lan Nguyen Chaplin dan Deborah Roedder John. Telah dibuktikan pula bahwa ketika kepercayaan diri partisipan meningkat, sifat matrenya menurun. Belum selesai sampai di situ, hasil penelitian dari Elizabeth Dunn dari Universitas Britis Columbia juga mengungkapkan bahwa di antara ciri orang yang matre adalah cenderung agak mementingkan diri sendiri sehingga menjadi tidak/kurang bahagia. Jadi, memenuhi faktor ke dua juga sangat penting bagi anak.

3. Mampu mengoptimalkan ilmu pengetahuan dan bakat anak

Setiap anak memiliki potensi tersendiri. Semakin awal potensi tersebut diketahui, semakin ia bisa dikembangkan lebih awal. Selain keahlian anak dapat lebih terasah, ilmu pengetahuannya juga dapat berkembang pesat. Sehingga, ia memiliki modal cukup untuk menuju ke jenjang pendidikan selanjutnya.

4.    Membantu mengembangkan rasa tanggung jawab, akhlak, dan kecakapan hidup

Kebiasaan-kebiasaan baik perlu dipupuk sejak kecil agar menjadi karakter. Misalnya, tidak semua anak mau merapikan mainannya setelah bermain. Juga, tidak semua orangtua mampu/mau mendidik anaknya agar bersedia melakukannya. Ada yang tidak bisa, ada juga yang tidak tega, ada pula yang menyerahkan sepenuhnya pada ART. Nah, pada sekolah yang tepat akan ada tenaga yang lebih terdidik atau terlatih di dalam mengatasi masalah-masalah semacam itu. 

5.    Dapat mencegah stunting/kerdil
Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Anak dengan stunting cenderung kurang/tidak cerdas serta mudah sakit. Bahkan, berisiko tinggi menderita diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan kegemukan. Stunting hanya bisa dikoreksi hingga usia sekitar 2 tahun, tepatnya 1000 hari pertama kehidupan. Setelah 1000 hari pertama kehidupan terlampaui, akibat dari stunting tersebut akan bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki. Oleh karena itu, dua tahun pertama kehidupan merupakan periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa mendatang. Periode ini disebut periode emas, periode kritis, atau disebut window of opportunity oleh bank Dunia.

Sekolahnya Sudah Baik, Lalu Apa Lagi?

Peran orangtua dalam memilihkan sekolah yang baik sudah dilakukan. Tetapi, jangan langsung pasrah sepenuhnya pada sekolah. Selama ini masih banyak orangtua yang sekadar mengantar jemput anaknya, atau lebih parahnya lagi hanya mengambil rapor. Anak menjadi kurang kasih sayang dari orangtua, kurang rasa kebersamaan dengan keluarga, dan jarang dipantau. Belum lagi jika tidak ada keteladanan di rumah dan apa-apa yang diajarkan di sekolah tidak bisa diterapkan di rumah. Ada lho orangtua seperti itu. Tidak semua orangtua suportif. Ada yang malah menentang kebijakan sekolah. 

Selain itu, hal yang juga sering dijumpai adalah kebiasaan orangtua di dalam membanding-bandingkan, melakukan kekerasan (abusive), hanya peduli pada rapor dan prestasi-prestasi tanpa mempedulikan perasaan anak, dan lain-lain. Hal-hal semacam ini sangat tidak baik dan tidak sinergis dengan apa yang diajarkan di sekolah (sekolah yang tepat tentunya). 

5 Pertimbangan Penting Orangtua Memilih Pre-School yang Baik
 
Pernah tidak Anda mendengar atau membaca kisah tentang seorang bocah berusia 6 tahun yang mengalami gangguan jiwa karena orangtuanya? Anak perempuan tersebut cantik, ibunya lulusan S2 dari universitas ternama. Tetapi, dia tertekan karena kebanyakan les. Selama dikunjungi oleh teman ibunya, ia terus memamerkan kepandaiannya akan pelajaran ini dan itu. Tak hanya itu, ia juga tak mau dekat dengan ibunya. Bahagiakah orangtuanya? Banggakah mereka? Saya menyebut orangtua semacam ini adalah orangtua yang “kejar tayang”. Hanya peduli tentang nilai, ujian, rapor, juara, les, dan semacamnya. Banyak sekali orangtua semacam ini di masyarakat. Pada rumah sakit jiwa tersebut masih ada lima anak kecil lainnya, tapi dia yang paling kecil, sisanya umur 12 tahunan karena broken home. Beritanya ada di sini.

Anak butuh diterima apa adanya, diterima bahwa dirinya tidak sempurna, diajarkan untuk mencintai diri sendiri (self love), dipercaya, diperbolehkan mencoba dan bereksplorasi, serta diperbolehkan kalah dan gagal. Tidak hanya boleh kalah dan gagal, tetapi diajarkan pula untuk bisa menyikapi kekalahan dan kegagalan dengan baik. Berubah itu sulit. Andaipun orangtua ingin anak berubah menjadi lebih baik, apreasiasilah perubahan itu walau sekecil apapun. Serta, jangan lupa, orangtua harus mendahului menjadi teladan. Itu akan lebih mudah bagi anak. Di sinilah peran keluarga yang sangat krusial di dalam pendidikan anak usia dini. Ajarkan segala hal baik padanya: mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih (sekaligus memaafkan, memberi bantuan, dan mampu menerima ucapan terima kasih dari orang lain dengan baik); bersyukur, bersabar, menyayangi, dan sebagainya. Tanyai mereka setiap sepulang sekolah, dengarkan cerita dan keluh kesahnya, perhatikan perasaannya, sering-seringlah memeluk dan menciumnya, serta hargailah kebaikan-kebaikannya. Kebaikan di sini lebih berupa akhlak baik, usaha, dan kesalehan. Tidak berupa pujian seperti “Kamu pintar sekali”, karena beda efeknya. 

Ketika orangtua tidak berfokus pada kebahagiaan dan perasaan anak itu sendiri, maka bisa terjadi trauma pada diri si anak. Trauma ini mempengaruhi kehidupan anak tersebut, bahkan bisa sampai menjadi trauma lintas generasi (trauma yang “menurun” hingga ke anak cucunya) atau terbawa sampai dewasa. Karena efek dari perilaku kekerasan (narcissist abusive) ini. Salah satu akibatnya adalah memiliki harga diri (self esteem) yang rendah.


Dan Lok, rahasia sukses nomer 1

Ada sebuah pernyataan menarik dari Dan Lok, seorang multi miliuner. Ia mengatakan, rahasia sukses nomer 1 adalah memiliki harga diri (self esteem) tinggi.  Nah, apa-apa yang saya sebutkan di atas sangat mendukung seseorang agar memiliki harga diri yang tinggi. Pada umumnya, para orangtua menginginkan anaknya sukses dan bahagia, bukan? Oleh karena itu, mulailah dengan lebih memperhatikan self esteem mereka. Pilihkan pre-school yang baik untuk mereka dan jadilah orangtua yang suportif.  

Dengan mengoptimalkan ikhtiar mudah-mudahan masa depan anak-anak kita menjadi semakin cemerlang.