21 Maret 2018

1001 Alasan Religius untuk Tetap Miskin


1001 Alasan Religius untuk Tetap Miskin
Miskin (ilustrasi)

Banyak orang berpikir, semua manusia itu ingin kaya. No, it’s totally wrong. Banyak juga lho orang yang suka miskin, bahkan bangga dengan kemiskinannya. Miskin itu keren, miskin itu alim, miskin itu nyunnah. Tuh lihat  Fatimah dan Ali, mereka hidup miskin. “Kami” meneladani mereka.

Miskin itu gak pa pa, yang penting sudah kerja. Yang penting uangnya halal dan gak riba. Cukup-cukup, ga usah kuatir kekurangan rezeki. Rezeki itu cukup untuk hidup, tetapi ga cukup untuk gaya hidup. Toh, harta juga ga akan dibawa mati.

“Kami” ini orang miskin yang bahagia. Buat apa kaya, kaya belum tentu bahagia. Enak juga miskin, orang kaya hisabnya lama. Orang miskin yang duluan masuk surga. Lagian sekarang apa-apa sudah banyak yang gratis, tinggal manfaatin aja. 

Ntar kalau pengen kaya kan tinggal nikah aja. Kan nikah membuka pintu rezeki.

“Kami” selalu ingatkan para wanita, di antara 4 alasan pemilihan jodoh, pilih agamanya. Mahar nggak usah dipikir. Resepsi juga nggak usah dipikir. Wanita terbaik itu wanita yang (murah?) maharnya. Kalau nggak setuju ya berarti dia/ortunya matre dan nggak sholihah. Wanita gitu sombong dan sok sempurna. Wanita dan ortu yang kayak gitu itu sama aja ngalang-alangi pernikahan, bikin nggak nikah-nikah dan banyak zina. Biarin, tinggal aja wanita kayak gitu. Jumlah wanita sekarang itu lebih sedikit daripada pria, pake kakean gaya.

Nanti kalau dah nikah, bikin anak yang banyak. Nggak usah ngurus rezeki. Isteri harus qonaah, nggak perlu mikir-mikir yang kayak gitu. Isteri yang baik itu pasti bisa ngatur berapapun dapatnya suami.

Well, itu adalah satire, tetapi fakta bahwa orang miskin itu “sangat religius”. 

Pada medsos-medsos, biro jodoh-biro jodoh, atau ceramah-ceramah, itulah yang dikatakan/diajarkan. Entah kenapa wanita terus yang disalahkan atau dijadikan kambing hitam. Alih-alih memotivasi atau mengajari cara kaya, ustaz-ustaz pun malah menyalahkan/menjelek-jelekkan wanita dan menoleransi kemiskinan.

Aku melihat begitu rendahnya penghargaan ustaz-ustaz dan banyak pria akan wanita.

Segala kelemahan diri sendiri (pria miskin) dilimpahkan ke wanita.

Mengapa mereka tidak jujur dengan diri sendiri bahwa miskin itu tidak enak?

Lagipula, pria-pria miskin pun mencari wanita kaya. Kubilang, carilah yang sekufu, eh marah. 

Begitupun pria-pria kaya, umumnya mencari wanita yang setara atau lebih kaya. 

Adalah hal lucu bahwa ketika mereka menonjol-nonjolkan pilih agamanya, ternyata agama atau akhlaknya buruk.

Hadits dibuat permainan.

Hai orang-orang yang mengaku agamis, introspeksi dirimu! Ambil tanggungjawab penuh atas dirimu/hidupmu sendiri, jangan dikit-dikit nyalahin wanita.

Baca juga:
Sumber-Sumber Rezeki

Btw, menceritakan ini mengingatkanku akan film Perempuan Berkalung Sorban. Aku nggak terlalu mengamati sih, tetapi kayaknya ada kesamaan pada pemikirannya yang primitif.

Untungnya, nggak semua pria berpikir demikian, Irfan Supandi, seorang penulis dan cendekiawan muslim, dalam bukunya Saatnya Sang Muslim Kaya, juga berpikir sepertiku. Banyak ustaz yang senantiasa mengajarkan hadits-hadits tentang keutamaan orang miskin. Juga M. Sjohirin, Direktur Plaza Indonesia, dalam bukunya Bloon, Norak, Kampungan tapi Sukses, juga berpikiran serupa denganku.

Ngomong-ngomong soal hidup dan rezeki, ada beberapa orang mati karena miskin, ada yang sampai lambungnya bolong-bolong karena kurang makan, dan lain-lain. Masih bilang miskin ga pa pa, nikah tanpa modal/bekal yang cukup kecuali modal penerimaan dari isteri yang didoktrin macam-macam dalam hal kepatuhan dan dalil agama?

Gitu itu masih tanya, kenapa banyak non muslim menempati posisi-posisi teratas di dunia/sangat kaya? Sudah tahu belum jawabannya?

Jangan cuma bisa iri dengki dan nyalah-nyalahin orang lain/wanita.


Catatan:

-      Tulisan ini berdasarkan fakta, termasuk budaya orang-orang yang malah njagakno program-program gratisan. 

-      Saya jengkel, marah, dan benci mengapa wanita selalu disalahkan. Kami kaum wanita pun tidak ada yang ingin hidup miskin. Kami berusaha/mengupayakan untuk kaya/hidup baik. Lalu mengapa kaum pria banyak yang melimpahkan alasan kemiskinannya kepada kami kaum wanita? Lihatlah wanita-wanita yang bekerja! Apakah untuk hidup miskin? Semua orang ingin hidupnya membaik. Berhenti menyalahkan wanita, ambil tanggungjawab pribadi atas hidupmu sendiri!

-      Tanyalah orang-orang sukses, banyak dari mereka yang kaya karena benci kemiskinan. Tidak membuat-buat alasan, apalagi memakai dalil-dalil agama.


Sumber gambar: Pixabay