09 April 2017

#MemesonaItu Menjadi Versi Terbaik Kita di Mata Allah

#MemesonaItu Menjadi Versi Terbaik Kita di Mata Allah


Pesona adalah daya tarik, yaitu sesuatu yang menggetarkan hati. Semua orang memilikinya. Bahkan, mungkin tak hanya satu, masing-masing dari kita punya multi pesona. 

Wujud pesona bisa bermacam-macam, namun secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi 4, yaitu:

1.    Pesona fisik, misalnya: kecantikan, suara yang merdu, penampilan yang rapi, tutur kata yang halus dan sopan, dan senyuman yang indah.

2.    Pesona talenta/keahlian, misalnya: memiliki beragam keahlian, menjuarai sesuatu, memiliki jiwa kepemimpinan, dan ahli di bidang tertentu. Pesona ini biasanya mendatangkan pujian berupa “Wah, hebat bener!”.

3.    Pesona batiniah
Adalah hal-hal yang berhubungan dengan akhlak yang baik dan pikiran positif, misalnya suka menolong, jujur, pemaaf, dan optimis.

4.    Pesona spiritual
Adalah pesona yang berhubungan dengan peribadatan agama, misalnya: rajin mengaji, rajin sholat berjamaah ke masjid, ceramahnya begitu menggugah hati, suara ngajinya indah, dan sebagainya.

Pengelompokan ini tidaklah kaku. Satu pesona bisa saja masuk ke dalam satu atau lebih dari 4 kategori di atas. Semakin banyak ranah yang dicakup, semakin kuatlah pancarannya.


Pesona bersifat unik. Dia bisa meningkat atau memudar, bisa bersifat sementara atau selamanya, dan bisa juga tertutupi. Lebih uniknya lagi, ada pesona tertentu yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu. Misalnya, si A punya 5 pesona. Si B dan D terpesona akan kecantikannya. Si C tidak menganggap A cantik, hanya terpesona pada senyumannya. Si E malah melihat 3 pesona A yang lainnya. 

Kita tak perlu iri dengan pesona orang lain atau ingin menjadi orang lain. Karena memang tidak adil jika kekurangan kita dibandingkan dengan kelebihan mereka. Pun sebaliknya, jika kekurangan mereka dibandingkan dengan kelebihan kita. Masing-masing punya pesona tersendiri, yang bisa didapat dari bawaan (genetik), belajar/latihan, atau anugerah khusus.

Pesona bisa bersifat sementara atau selamanya. Kecantikan/ketampanan yang memudar seiring dengan usia yang makin renta adalah contoh dari pesona yang bersifat sementara. Sedangkan pesona yang bersifat selamanya misalnya didapati pada orang yang istiqomah (rutin dan berkesinambungan) berbuat baik. Sejak kecil dia suka menolong dan terus demikian seumur hidupnya, maka seolah-olah label “suka menolong” telah melekat pada dirinya. Itulah pesonanya. Orang akan menyebutnya dengan “Oh, si A yang suka menolong itu.”


Adapun pesona yang tertutupi terutama terbagi menjadi 4 macam:

Pertama,
Tertutupi karena belum mengenal baik. Jadi, informasi yang didapat tentang orang tersebut masih sedikit. Contoh dari ini terdapat pada kisah antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Nabi Musa belum mengenal Nabi Khidir dengan baik sehingga ketika melihatnya membunuh, melubangi perahu, dan membangun kembali rumah yang roboh Nabi Musa menganggap Nabi Khidir jahat.

Ke dua,
Tertutupi karena akhlak buruk/keburukan lain. Dia punya kelebihan tetapi keburukannya seperti tampak lebih menonjol sehingga membuat kelebihannya tertutupi. Contohnya beberapa hari yang lalu. Ada seorang wanita menulis di blognya, “Iya sih ganteng dan mapan, tapi bau mulut.” Akhirnya pesona ganteng dan mapannya tadi itu tidak berguna, kalah oleh bau mulutnya.

Ke tiga,
Tertutupi karena kurang ilmu. Misalnya, dia sebenarnya cantik tapi kurang pandai merawat diri, tidak pandai berdandan, tidak pandai memadu-padankan pakaian, dan sebagainya.

Ke empat,
Tertutupi karena suasana yang tidak tepat. Kehidupan itu naik turun, ada pasang surutnya. Tidak semua orang bisa berada dalam kondisi yang stabil, selalu baik. Jika mungkin seseorang yang belum mengenal kita dengan baik bertemu kita pertama kali dalam kondisi kita sedang buruk, misalnya marah besar, maka dia bisa langsung mencap kita sebagai orang yang buruk. Dia melihat saat kita bad mood, saat rumah berantakan, dan momen-momen tidak bagus lainnya maka kelebihan apapun yang kita miliki saat itu bisa saja tertutupi.


Menjadi Versi Terbaik dari Diri Kita di Mata Allah

#MemesonaItu Menjadi Versi Terbaik Kita di Mata Allah
Berpose dengan lombok hasil panenku
 
Setelah mengetahui sifat pesona di atas maka jadilah versi terbaik dari diri kita di mata Allah. Mengapa di mata Allah? Karena makhluk memiliki standar yang berbeda. Ini bukan berarti hanya mencakup hal-hal bersifat vertikal saja dan mengabaikan yang horizontal. Karena Allah mengajarkan keseimbangan di antara keduanya, dua-duanya sama-sama baik. Ketika kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri maka dengan sendirinya kita menumbuhkan dan mengembangkan pesona dalam diri.

Jujur saja, kadang kita bahkan tidak tahu tentang sesuatu dari diri kita yang dianggap mempesona oleh orang lain. Ada orang yang tampak lebih menarik saat berolahraga dan berlelehan keringat, ada yang menganggap wanita yang ‘tampak berantakan’ karena mengerjakan tugas-tugas rumah tangga itu menarik, ada yang suka wanita polosan, ada yang suka wanita berdandan, ada juga yang suka wanita karir, dan semacamnya. Uniknya, setiap pesona ada peminatnya sendiri-sendiri. Susah dimengerti ya? Tapi memang itulah keadilan Tuhan. Tidak akan ada orang yang terlahir tanpa pesona.

Mengingat pesona bisa memudar, menghilang, atau tertutupi maka kita harus pandai-pandai membawa diri. Berusahalah untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri lalu menerapkan apa yang diketahui serta selalu istiqomah dalam berbuat kebaikan. Itulah cara agar tampil lebih memesona. 

Kita semua punya pesona meski mungkin tidak bisa memesona semua orang (tidak semua orang akan terpesona pada kita). Intinya, memesona itu menjadi versi terbaik dari diri kita di mata Allah. Biarkan Allah yang menilai dan jangan terlalu terpaku pada penilaian makhluk-Nya.