26 Februari 2022

Review Buku "Learning How to Learn"

"Learning How to Learn," how to succeed in school without spending all your time studying

Penulis: Barbara Oakley, Terrence Sejnowski, dan Alistair McConville.


Ini adalah hari terakhir aku mempraktekkan bidang pertama yang kutargetkan untuk kukuasai, yaitu Speed Reading. Sebenarnya buku acuan awalku adalah buku tentang belajar apapun dalam 20 jam sih, tapi masih berhubungan jadi kusinggung di sini.


Jadi ceritanya aku itu belum berhasil mencapai targetku. Selain aku nggak konsisten menggunakan caranya, aku juga nggak konsisten tentang waktunya. Kayaknya ada hari di mana aku overdosis belajarnya, trus otakku "meleduk" dan badanku error trus kecepatan dan latihanku menurun pada hari-hari berikutnya. Jadi mungkin secara kemampuan harian aku dan penulis tersebut sudah beda, tapi aku usahakan tetep baca tiap hari. Cuma sering lupa bacanya baca biasa.


Trus aku random aja moodku pengen baca yang mana. Ya udalah baca buku "Learning How to Learn" ini yang kupilih karena masih berhubungan. Pas lihat sekilas kok bagus, ya udah kuterusin.


Buku "Learning How to Learn" adalah buku tentang strategi belajar. Aslinya ditujukan untuk anak dan remaja, tapi bisa juga digunakan untuk umum.


Buku ini disusun oleh 3 orang pembelajar yang hebat. Mereka masing-masing punya bidang yang sepertinya mudah mereka kuasai dan bidang yang sulit mereka kuasai. Dua di antaranya kesulitan dalam bidang matematika dan sains, sedangkan yang satu lagi sebaliknya, mudah dalam sains tetapi kesulitan dalam bidang lainnya. Kalau biasanya orang hanya mengasah bidang-bidang yang mudah baginya, mereka tidak. Mereka merasa dalam kehidupannya/pekerjaannya itu butuh bidang lain yang sulit mereka kuasai tersebut sehingga mereka meluaskan peluangnya dengan kembali menjadi pemula (pada bidang yang sulit dikuasai tersebut) dan dalam proses tersebut mereka menemukan metode belajar yang tepat. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa antara subyek yang satu dengan subyek yang lain itu sebenarnya berhubungan. Orang yang belajar subyek X saja dengan orang yang mempelajari subyek Y dulu baru belajar subyek X itu hasil/pemahamannya bisa berbeda. Kalau dari buku yang baru kureview kemarin itu disebut keuntungan menjadi seorang generalis.


Singkat kata, ketiganya akhirnya berhasil menjadi ahli pula pada bidang-bidang yang tadinya sulit mereka kuasai tersebut. Ini kusebut mindset keberlimpahan. Meskipun, aku sendiri selama ini belum berhasil menerapkannya.


Berbeda dengan Barbara yang pandai bahasa atau Terrence yang pandai fisika, setidaknya mereka bisa jadi guru atau penerjemah hanya dengan 1 bidang saja. Sementara aku? Hasil tes IQ-ku waktu SMP dan SMA mengatakan pemahamanku di atas rata-rata. Itu abstrak bagiku. Pemahaman? Buat kerja apa? Nggak bisa berdiri sendiri. Kali lain aku tes bakat dan minat sendiri ngisi buku katanya kemampuan numerik-ku yang di atas rata-rata, padahal aku nggak merasa pinter angka. Trus lihat buku lain lagi kayaknya kelebihanku pada metakognisi. Lagi-lagi aku nggak tahu itu apa, yang jelas pada buku tersebut kayaknya nggak bisa berdiri sendiri, butuh keahlian tambahan dari bidang lain. Pernah juga aku tes online katanya kelebihan utamaku adalah generating idea. Sama, aku juga nggak tahu buat kerja apa. Maksudku, nggak bisa berdiri sendiri, butuh keahlian lain. Oleh karena itu, aku belajar bidang lain.


Aku udah mencoba bidang lain tapi nggak bisa-bisa. Kupikir salah satu kesalahannya adalah pada cara belajarku. Sebenarnya aku orang yang gigih, dalam arti misal kayak Edison, nyoba 1000 kali pun ya aku bisa-bisa aja sih, tapi itu kan butuh waktu dan biaya. Nggak cuma masalah persisten aja. Jadi, kudu strategik. Apa yang salah? 


Buku ini menarik karena dibuka dengan kisah Barbara yang mirip aku, dia dengan susah payah belajar bidang lain yang tadinya sulit baginya. Bedanya, dia sudah expert pada bidang barunya itu sekarang, sedangkan aku belum. 


Buku "Learning How to Learn" ini bukan hanya tentang cara belajar yang baik, tapi isinya juga didesain untuk menunjang hal tersebut. Mulai dari panjang pendeknya, margin-marginnya, gambar-gambarnya, pengingat-pengingatnya, kesimpulan dan pertanyaannya, dan lain-lain. Jadi, buku ini itu komprehensif dan isinya didesain dengan sangat baik. Meskipun, aku sendiri tidak sepenuhnya paham. Ketika aku berusaha read walking buku ini aku belum paham dan belum bisa menjawab sebagian pertanyaan atau tugasnya. Trus ada juga metode yang dikatakan metode metafora, aku bingung, apa benar yang dimaksud itu metafora dan bukan analogi. Selain itu, ada juga strategi belajar dengan membuat apa yang dipelajari menjadi gambar (memvisualkan), aku sulit mempraktekkan ini. Aku juga pernah mencoba akronim atau mnemonik (duwulu tapi) dan nggak berhasil. Aku cuma ingat singkatannya aja tapi materi aslinya nggak ingat. 


Kuakui Barbara maupun isi buku ini itu kreatif. Lalu apakah buku ini termasuk mudah, sedang, atau sulit dipahami aku agak bias jawabnya. Sedikit-sedikit sih aku paham tapi aku nggak tahu apakah karena buku ini atau karena aku sudah pernah baca buku serupa berkali-kali. Mungkin jadi semacam repetisi di otakku ya bisa aja. Untuk amannya, tingkat kemudahan untuk dipahami aku nilai sedang aja deh ya. Itu aku ya, bisa jadi kalau kamu beda. Mungkin kamu bisa lebih paham. Seperti Terrence ini, setelah belajar pada Barbara dan Alistair kemampuannya melesat. Dia cocok dengan metode mereka, yang katanya sama persis dengan yang diajarkan di buku ini. Siapa tahu kamu juga gitu. Jangan langsung berasumsi hasilnya akan sama denganku. Baca aja dulu bukunya, baru bisa menilai.



 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.