24 Februari 2022

Arti dari "Carilah Jodoh yang Baik Agama dan Akhlaknya"


Disclaimer/Warning: Artikel ini adalah pemahamanku versi ilmu umum, bukan ilmu agama.


"Carilah Jodoh yang Baik Agama dan Akhlaknya". 

Kalau kamu disodori pernyataan seperti itu, apa yang terpikir olehmu? Bingung, nggak? Itu masih terasa abstrak, bukan? Sementara kriteria jodoh yang boleh atau biasanya ditulis aja rata-rata cuma 5. Poin agama dan akhlak apa yang akan kamu tulis? Apa yang kamu pilih untuk kamu ambil cuma 5 itu? 


Nah, di sinilah terjadi pendegradasian kriteria. Agama yang dikatakan baik itu komprehensif, dia menjalankan agamanya semaksimal mungkin. Semakin mendekati 100% semakin baik. Nah, akhlak yang baik sebenarnya sudah termasuk ke dalam menjalankan agama yang baik. Kalau Islamnya baik, akhlaknya juga otomatis baik karena di dalam agama juga dijelaskan tentang akhlak. Bagiku pribadi, itu aslinya otomatis gandengan kalau agamanya baik. Kalau akhlaknya aja yang baik, belum tentu agamanya baik. Bisa jadi dia tidak beragama atau agamanya lain. Dalam konteks Islam, menikah itu harus sama-sama Islam. Agama lain tetapi baik tetap tidak baik untuk dinikahi. 


Kenapa baik agama dan akhlaknya sering dibedakan? Barangkali itu karena baik agama hanya dikaitkan dengan banyak sholat, banyak hafalan Quran, rajin puasa atau tahu teorinya doang tapi tidak mengamalkan, atau misal lulusan "institusi Islam" tertentu tetapi perbuatannya tidak baik. 


Mengapa kamu harus punya standar setinggi mungkin saat mencari jodoh?


Mungkin ini akan membuatmu terkejut, tetapi memiliki standar tinggi kupandang sebagai cara terbaik (setidaknya sampai saat ini) untuk menghindarkanmu dari calon-calon yang mental disorder/dangerous people, terutama psikopat.

Lama sekali aku berusaha mencari apa sebenarnya yang dicari dari seorang calon suami agar rumah tangga itu bisa langgeng, harmonis, dan bahagia. Aku mendalami buku psikologi, buku tentang abuse, buku tentang cinta-cintaan, dan apapun yang berhubungan dengan cinta-cintaan dan gender. Dari situ ternyata ada benang merahnya bahwa red flags-red flags yang ditulis di berbagai buku dengan berbagai versi masing-masing (atau disampaikan pada berbagai kesempatan oleh berbagai ahli) ternyata kalau dikerucutkan akan mengarah pada 5 kelompok dangerous people utama (mental disorder pokoknya). Dan dangerous people ini bisa kamu minimalisir dengan kamu bener-bener memperhatikan hal-hal yang dilarang dalam agama/negatif/buruk.

Mereka sangat berhubungan dengan misalnya zina/s*ks bebas, selingkuh, n*rkoba, m*ras, penipuan, pencurian, pelecehan, kebohongan, kecurangan, kelicikan, abuse/kekasaran/kekerasan, j*di, matre, kebut-kebutan, suka t*wuran, suka mencari sensasi, boros, hal-hal p*rno, lingkungan yang buruk, kemalasan, kehidupan yang parasit, korupsi, menyukai keduniawian banget, mengabaikan keselamatan, cuek/tidak perhatian/tidak bertanggungjawab, nggak empati, nggak punya hati nurani, nggak punya tujuan hidup yang jelas, gitu-gitu contohnya.


Kalau kamu pikir psikopat itu hanya tentang bunuh-membunuh yang sadis, nggak. Itu hanya parsialnya. Ada yang gitu tapi kebanyakan nggak. Kebanyakan orang biasa seperti kita dan banyak juga yang nggak berada di dalam penjara.

Dia lebih pada orang yang parasit, orang yang mainin orang lain, orang yang kasar, orang yang misal kamu pacaran sama dia kamu nggak dapat feel sebagai pasangan/feel disayang, orang yang ada maunya doang, orang yang pembohong dan penipu (aktor ulung), orang yang "hidupnya useless/banyak dosa/nggak normal/menyimpang" (fucek, j*di, m*ras, kl*pto, elgebete, dll), dll.


Nah, kesalahan dari banyak orang adalah cuek/masa bodoh dengan masa lalunya atau masa sekarangnya. Terlalu "ngayal" akan potensi.

Aku kasih contoh ya, misal kamu berhubungan dengan ps*kopat, ya dia tak punya cinta. Mo sampai kapan juga dia nggak ada rasa. Pura-pura doang.

Dan misal kamu berhubungan dengan narsis, ya ngimpi aja deh kamu. Narsis bisa berubah tapi dia nggak mau, bahkan dia nggak nyadar kalo ada yang salah pada dirinya. Malangnya lagi, walau dia mau berubah sekalipun itu suwusah dan hanya akan menghasilkan perubahan yang tiny banget. Mayoritas ahli berpendapat gini. Kalau kamu pengen hasil yang lebih baik ya kamu harus nyari ahli yang berpendapat beda dan yang terbukti mampu menyembuhkan narsis dengan cepat atau dengan perubahan yang besar/permanen.


Kamu sering kan denger:

1. Terima aja dia sekarang walaupun pengangguran, nanti setelah nikah akan terbuka rezekinya,

2. Terima aja dia apapun pekerjaannya, yang penting kerja, jangan kuatir rezeki, rezeki datang sendiri setelah nikah,

3. Jangan lihat masa lalunya, walau dia pernah j*di, selingkuh, KDRT, mengkonsumsi m*ras/n*rkoba, z*na, dll.

Dll.


Nah, perhatikan bahwa orang-orang tersebut bisa jadi memiliki mental disorder atau bahkan psikopat. Setelah nikah denganmu, kamu yang kerja, kamu yang ngurus semuanya, dia numpang di rumahmu, dia kamu biayain hidupnya ini itu termasuk modalin bisnisnya atau bayarin utang-utangnya, dll.

Lalu tentang poin ke-3, itu erat banget kaitannya dengan mental disorder. Mental disorder itu biasanya nggak 1, tapi gandengan atau combo. Dia bisa kambuh-kambuhan, bisa membahayakan dirimu (bisa membuatmu trauma lama, sakit, atau bahkan mati), orang dekatmu, aset-asetmu, menahan anakmu, dan apa aja dan dia kemungkinan tidak bisa sembuh sendiri/sembuh dengan cepat tanpa bantuan para ahli yang tepat (terapis, psikolog, psikiater, dsb - dan yang menyatakan sembuh itu para ahli ya, bukan dia sendiri). 


Kamu, iya kamu, bukan terapis.

Tugasmu nyari orang yang "sehat."

Tugasmu nyari partner yang kuat dan tangguh untuk bisa melipatgandakan kekuatan kalian dalam menjalani hidup, bukan yang membebanimu, bukan yang ngecil-ngecilin/mematikan kamu/potensimu, bukan yang minta banyak banget diskon/obral besar (atau gratis ongkir, hehehe) darimu. 

Kamu butuh orang yang bermoral, yang peduli kamu, yang bertumbuh (terus memperbaiki diri).

Gitu-gitu.

Itulah kenapa kamu harus punya standar yang sangat tinggi untuk jodohmu.


Jangan takut dibilang matre, ketinggian, sok suci, atau apa. 

Itu adalah "mainan"/alat mereka dan bisa jadi mereka adalah salah satu di antaranya (mental disorder tadi). 

Utamakan agamanya, tapi jangan lupakan aspek lain seperti yang kusampaikan di atas. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.