22 Februari 2022

Review Buku "How to be Everything"

 How to be Everything: a guide for those who (still) don't know what they want to be when they grow up.

Penulis: Emilie Wapnick


Ada banyak sekali buku dan sumber informasi lain di dunia ini, tetapi ketika mayoritas dari mereka ternyata nggak kamu banget jatuhnya malah invalidasi, mencoba mendefinisikan kamu, mengatakan kalau kamu salah atau nggak bakal sukses kalau nggak begini-begitu, membuatmu bingung, atau menimbulkan hal-hal negatif lainnya. Pada beberapa kasus, kamu mungkin akan dicap buruk, ADHD, atau lainnya hanya karena kamu beda dari orang lain. Kamu terlalu nggak dimengerti. 


Penulis, Emilie Wapnick, juga punya perasaan semacam itu ketika dirinya nggak bisa masuk ke teori manapun, lalu dia membuat teori sendiri dan mendefinisikan dirinya sendiri dan ingin membantu orang-orang seperti dia.


Ada banyak contoh bahwa orang itu seringkali ngomong tentang dirinya sendiri atau asumsinya saja, misalnya tentang niche Youtube, mayoritas orang mengatakan 1 niche aja biar sukses, tapi ada 1 orang itu malah bikin niche "gado-gado" dan sukses. Serupa dengan itu, beberapa tahun lalu aku percaya dengan prinsip keberlimpahan, kamu nggak harus selalu memilih A atau B, kadang kamu bisa dapat keduanya sekaligus. Contoh lain ya, waktu aku menetapkan 10 kriteria jodoh yang menurutku standar/biasa (nggak wah dan sebenarnya saringan awal aja), aku diserang dan dicaci maki buanyak sekali orang, tapi ternyata waktu itu 1 pria maju dan menyatakan dia punya kriteria itu. Poinnya adalah apa yang dianggap orang impossible aslinya cuma pikiran mereka sendiri atau mereka nggak memenuhi atau mereka belum mencoba atau hal-hal semacam itu. Dan misal 10 kriteria udah kamu anggap impossible, kamu mungkin akan lebih kaget lagi karena ternyata ada pria yang menetapkan 68 kriteria dan itu semua ada pada calon istrinya dan dia temukan calonnya itu dengan cepat plus akhirnya rumah tangga mereka bahagia dan harmonis. Ngowoh nggak tuh?


Serupa dengan itu adalah tentang buku "How to be Everything" ini. Di mana-mana kita disuruh memilih 1 saja agar bisa sukses. Kamu harus fokus, fokus, dan fokus katanya. Kalau kamu nggak fokus 1 bidang saja atau bosenan kamu dibilang nggak akan sukses. Selain itu, kamu juga seolah disuruh milih salah satu aja, kenyamanan kerja atau pemenuhan finansial dan nggak mungkin dapat keduanya. Ini semua dibantah oleh penulis di dalam buku ini. 

Nggak ada yang salah denganmu, kamu hanya berbeda. 


Di sini penulis akan memandumu dengan 3 bagian dalam bukunya:

1. Bagian pertama adalah mitos bahwa kamu hanya bisa memilih 1 bidang. Bagian ini disertai dengan istilah-istilah untuk orang yang punya banyak minat/bidang seperti itu.

2. Bagian ke dua adalah tentang 4 model kerja untuk multipotentialite seperti itu, dan

3. Bagian ke tiga adalah cara mengatasi kendala-kendala internal dan eksternalnya.


Buku ini juga dilengkapi dengan orang-orang yang berhasil bekerja pada lebih dari 1 minat/bidang serta berbagai contoh bidang interdisipliner yang mungkin cocok untuk orang-orang semacam itu.


Aku sudah sering sih tahu orang-orang dengan cara yang berbeda (baik tentang bahasan buku ini atau lainnya), tapi untuk buku semacam ini sendiri seingatku yang pertama kubaca adalah buku karya Barbara Sher, yaitu "Refuse to Choose." Buku tersebut juga sempat disenggol di dalam buku milik Emilie Wapnick ini.


Kalau aku menggambarkan buku "How to be Everything" ini sangat luar biasa. Feel-nya lebih dapet daripada "Refuse to Choose," meskipun aku sudah nggak ingat isi dari "Refuse to Choose" itu sendiri.


Buku "How to be Everything" ini itu sulit digambarkan dengan kata-kata. Bahasanya itu sangat empatik, hangat, ramah, dan bersahabat, mengandung penerimaan, validasi, motivasi, sekaligus solusi. Ada banyak buku yang (ngakunya) buku motivasi tapi nggak banyak yang bener-bener bisa menggerakkan orang secara otomatis. Buku ini adalah salah satu buku yang punya daya hidup dan daya gerak tersebut. Penulis itu seperti bener-bener care dan peduli kamu serta berusaha ngertiin kamu. Ini bener-bener sesuatu yang "deep" (mengandung closeness/intimacy), yang bahkan belum tentu kamu temukan pada buku-buku karya psikolog/psikiater/terapis/motivator atau semacamnya. Ini adalah perasaan empati yang bisa relate atau beresonansi dengan baik antara penulis dan pembaca. Buku ini sangaaaaat nyaman untuk dibaca dan sangat detail. Setelah lama kamu menjadi "alien" bagi dunia yang menganggapmu aneh, tulisan di dalam buku ini pasti akan menjadi harta karun yang sangat besar buatmu. Buagus banget pokoknya. Masya Allah.


Buku ini juga covernya menarik dan bagus dan menurutku cukup menyatu dengan jiwa kreatif dari penulis buku ini. Jadi, isi, gaya bahasa, dan covernya itu bagus.


Buat kamu yang merasa beda banget (merasa seperti alien) di dalam dunia yang sangat tidak ramah buatmu, coba deh baca buku ini. Very recommended.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.