11 Februari 2021

Jangan Salfok, Kembali Fokuskan Islam pada yang Satu Ini

Sepertinya lagi ngetren orang Islam menyamakan agama Islam dengan ibadah.

Banyak muslim salah fokus, begitu mengetahui seseorang melakukan ritual ibadah fisik tertentu atau bahkan mempunyai rentetan daftar ibadah yang panjang atau label-label keislaman tertentu, langsung kelihatan kinclong atau wow banget. Langsung dianggap/menganggap dirinya terbaik.

Mereka lupa bahwa melakukan banyak ibadah sekalipun tidak menjadikan orang otomatis baik.

Iya melakukan ibadah fisik itu baik, tetapi tidak bisa dipisahkan dari arti Islam yang sebenarnya, yaitu keselamatan. 

Islam = keselamatan.

Muslim itu ialah muslim lain selamat dari lidah dan tangannya. (HR. Muslim)

Diri sendiri selamat, orang lain selamat, dunia kita selamat, akhirat kita juga selamat.

Islam tidak sama dengan ibadah.

Ibadah hanya bagian dari sarana untuk meraih keselamatan. 

Agar selamat kita memang harus beribadah, tetapi ibadah tidak menjadikan kita otomatis selamat, juga tidak menjadikan orang lain otomatis selamat dari kejahatan/keburukan kita.

Itu kenapa aku sering menemukan bahkan follower ustaz-ustaz pun kadang saling berbalas komen buruk di postingan Si Ustaz, padahal idealnya mereka kan sudah lama mengikuti ustaz tersebut dan belajar banyak mengenai agama darinya, tetapi hal itu tidak mampu mengerem mereka dari perbuatan buruknya.

Atau dengan muslim-muslim yang jika berbeda pendapat langsung berdebat dengan kasar sambil mengolok-olok, "Ngaji lagi yang bener," atau olok-olokan lain.

Lalu jangan lupakan pula tentang Pemilu-Pemilu kita yang acapkali berubah menjadi Pemilu hewani, dengan kubu Cebong (kecebong) dan Kampret-nya. 

Dan itu katanya orang-orang yang beragama. 

Tak heran jika akhirnya kita diguyu (ditertawakan/diolok-olok) atau diserang oleh orang-orang yang tak beragama, ateis/komunis, agnostik, atau lainnya dengan isu-isu tersebut.

Beberapa hari lalu aku pun dicaci maki oleh salah satu kenalan taarufku yang konon ngakunya tahajud rutin (rajin tahajud). Tak main-main umpatannya, sampai beberapa umpatan sekaligus dalam sekali kirim plus menuduhku sebagai pezina. Sampai dia ngomong kata k*ntol-k*ntol segala. 

Gitu itu lho, kamu akan ketipu kalau salfok dengan ibadah fisik. Ibadah fisik semacam sholat, dll itu adalah bagian dari keselamatan. Aturannya kan menyelamatkan diri sendiri dulu. Buat apa banyak ceramah atau menasehati kalau diri sendiri nggak selamat? Orang lain tok yang selamat cz kita cuma omdo atau malah bangkrut cz pahala ibadah kita habis akibat banyak menyakiti/menzalimi/berbuat dosa pada orang lain dan pada Allah.

Islam itu tidak sama dengan ibadah. Islam itu keselamatan. Ibadah itu bagian dari sarana untuk mencapai keselamatan. Ibadah doang nggak berarti selamat, apalagi nggak ibadah. 

Dan Islam itu komprehensif, makanya kita diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah (menyeluruh). 

Jika kita beribadah tetapi ibadah kita belum bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar berarti masih ada yang perlu diperbaiki, entah ibadahnya, keyakinannya (belief2 yang salah), atau lainnya.

Hati-hati ya, kembalikan fokus Islam pada keselamatan, bukan ritual ibadah saja.

Kalau kamu misal tidak sholat (aku nggak ngajarin ga sholat ya), mungkin yang kena label/omongan cuma kamu (individunya). Oh, Si A jelek, males sholat. 

Sementara kalau kamu misal pelaku bom bunuh diri, yang dilabel Islamnya, Islam dilabel teroris, padahal itu kelakuanmu/oknum/individu. Kamu tidak mencerminkan Islam sebagai agama (pembawa) keselamatan.

Jadi, perhatikan, intinya adalah keselamatan. Jangan salfok dengan ibadah atau bahkan label-label.

Dia membawa keselamatan nggak?

Apa kamu lupa, Uwais Al Qorni aja nggak terkenal di bumi, tetapi terkenal di langit.

Selain itu, Rasulullah pernah mengisahkan tentang seorang laki-laki calon penghuni surga. Ada sahabat yang kepo amalannya apa sampai-sampai main detektif-detektifan ke rumahnya. Ternyata apa? Pria itu tidak punya amalan tahajud rutin. Amalannya "biasa saja", tetapi dia tidak pernah iri dengki dan tidak pernah menyakiti tetangganya.

Islam itu keselamatan.

Islam ingin kita bersaudara, bahkan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Kalau kita banyak ibadah fisik tetapi tetap suka menganiaya diri sendiri atau menzalimi orang lain/makhluk lain, di akhirat kita bisa bangkrut karena keburukan-keburukan/dosa-dosa tersebut meminta tebusannya dari kita.


Lihatlah kebaikan Islam seseorang dari:

1. Apakah dia bisa membawa keselamatan bagi dirinya?

Kita tidak tahu bukan ditetapkan Allah sebagai orang yang selamat atau tidak? Jadi, kita mengikhtiarkannya. Semoga kita termasuk orang yang selamat.

2. Apakah dia bisa membawa keselamatan bagi orang lain, hewan-hewan, jin-jin yang tidak zalim, atau lingkungan?

Orang lain dan hewan-hewan/makhluk lain itu akan merasa aman dari kejahatan kita.

Kita juga berusaha mengingatkan orang lain karena kita juga tidak tahu orang mana yang dikehendaki Allah untuk mendapat keselamatan (berubah menjadi lebih baik). Jadi kita random, tidak tahu hasilnya. Kita hanya ikhtiar. Tetapi kita tetap berusaha menggunakan cara yang baik, bahasa yang baik, tone yang baik, bahasa tubuh yang baik, ekspresi wajah yang baik, keteladanan, dan sebagainya.

3. Apakah dia mengikhtiarkan keselamatan dunia dan akhirat bagi dirinya dan orang lain?

Apakah dia cerdas (mempersiapkan banyak bekal untuk kehidupan dunianya dan terutama akhiratnya)? 

Itu ya, komprehensif/menyeluruh.

Bukan hanya tentang rajin ibadah A, punya label B, lulusan C, manhaj D, cingkrang, bercadar, dsb. Apalagi menetapkan keikhlasan/kesalehan hanya dari mau dipoligami/tidak. Itu nggak banget.

Kagumlah pada orang yang bisa menyelamatkan dirinya sekaligus membawa keselamatan bagi alam semesta, bukan kagum pada banyaknya ibadahnya semata. 

Muslim yang fokus keselamatan PASTI beribadah dan memperhatikan ibadah vertikal maupun horizontalnya.

Muslim yang hanya fokus ibadah atau label-label BELUM TENTU selamat atau membawa keselamatan atau membuat orang lain aman dari kejahatan/keburukannya.

Paham, nggak?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.