27 Oktober 2020

Tubuhmu Milik Siapa?


Tubuhmu milik siapa?
Jika kamu tanyakan pada banyak orang, jawabannya pasti beda-beda. Namun, siapa yang mengira jika salah menjawabnya bisa fatal, bahkan bisa berujung kematian.

Saya tuliskan saja ya 4 jawaban/pernyataan ter-umum:

1. Milik orangtuanya/ibunya


Terutama pria, disebut-sebut milik ibunya.
Orangtua merasa memiliki kita karena telah mengandung atau merawat kita. Akan tetapi, benarkah demikian?


Wrong. 


Penghormatan walaupun sangat besar tetap tidak mengubahnya menjadi kepemilikan. Malahan, hubungan semacam ini sering juga dijadikan dalih/modus bagi pria yang sebenarnya anak mama atau memiliki hubungan tidak sehat dengan ibunya. Ibu (ortunya) bisa sangat ikut campur dalam hidup dan pernikahan/rumah tangga anaknya secara berlebihan.


Kalau kamu milik ortu/ibumu, maka kamu berada dalam kendali/kontrol ortu/ibu, yang artinya juga kamu bisa diapa-apain sesuka mereka.


Para ustadz sering berlebihan dalam hal ini, terutama dalam konteks jodoh. Saya pernah mengingatkan salah satunya, tetapi mereka (entah dia entah admin yang menjawab di grup itu) menolak.


Itu fatal banget karena banyak ayat dengan tegas mengatakan bahwa semuanya itu milik Allah.

Contoh ayat-ayatnya bisa dibaca di web ini:

https://khotbahjumat.com/4886-kepunyaan-allah-lah-langit-dan-bumi.html


2. Milik pasangan/suami

Lagi-lagi masih terkait urusan asmara. 

Para muslimah dijejali paham bahwa istri itu milik suami, sedangkan suami itu milik ibunya. 

Jawaban perihal ini pernah dijelaskan dengan baik oleh motivator Indonesia, Mario Teguh, dalam acara Golden Ways-nya. Kalau milik kita, itu artinya bebas kita apa-apain. 

Pernah dengar kata pasangan posesif? Ya itu karena merasa memiliki. Makanya ada suami yang menampar, memukul, mengekang, atau memperlakukan seenaknya itu karena dia merasa memiliki.

Jadi, masih meyakini istri milik suami? 

3. Milik majikan

Ini juga sering kan kita jumpai. Majikan merasa memiliki pekerjanya karena merasa telah menggaji mereka. Tak heran jika ada cerita ART disiram air panas, disetrika, pekerja disiksa, dan lain-lain.

Ketiga hal di atas salah karena jika kita milik orang lain, orang lain itu tidak perlu melakukan apa pun terhadap kita. Tapi kita tidak, kan? Kita juga punya hak dari orang lain: suami, ortu/ibu, majikan, dll, yang kalau dibalik suami, ortu/ibu, majikan, atau orang lain juga punya kewajiban kepada kita.

Lalu bagaimana? Apakah kita milik diri sendiri?

4. Milik diri sendiri

Keyakinan ini juga populer. Bahkan, makin disosialisasikan sepertinya.


Akan tetapi, tahukah kamu kalau keyakinan ini juga fatal?


Ia berhubungan erat dengan berbagai hal/dosa, seperti:

a. Keperawanan,
b. Seks bebas,
c. Foto bugil atau tindakan menampakkan aurat,
d. Operasi plastik (Oplas),
e. Ganti kelamin,
f. Lgbt,
g. Tato
h. Miras dan narkoba
i. Tindik/piercing
j. Makan/minum berlebihan
k. Makan minum yg haram
l. Over kerja tanpa istirahat
j. Over ibadah
k. Over nges*ks, dll.

Apa pun bisa dan boleh kita lakukan pada diri sendiri karena merasa tubuh dan diri kita itu milik kita 


Tindakan menyakiti diri, merusak diri, mempermalukan diri, membahayakan diri, dll juga bebas kita lakukan karena merasa milik kita sendiri.

Dan tahukah kamu, di mana pernyataan otoritas terhadap diri sendiri itu banyak ditemukan?

1. Dalam konteks kep*rawanan

Artinya, terserah kamu mo nges*ks walo belum nikah asal tau konsekuensinya. Wong itu tubuh2mu sendiri. Itu paham yang dianut oleh mereka yang mungkin sudah tidak p*rawan alias menganut s*ks bebas atau minimal pendukungnya, walau bukan pelakunya.

2. Kata-kata itu diajarkan di sekolah khusus untuk menjadi bad boy, sebuah reframing untuk menaklukkan wanita korbannya. Jadi, ada ya "sekolah"-nya. Dan namanya bad boy tujuannya ya pasti selangkangan alias ngajak t*dur.

3. Hayo tebak di mana lagi?

Kata-kata itu digunakan oleh wanita-wanita yang berfoto b*gil dengan alasan meningkatkan rasa PD karena sepertinya mengalami body shaming. Atau mungkin juga tidak body shaming tetapi orangnya saja yang tidak PD dengan tubuhnya. Jadi mereka foto polos rame-rame (secara terpisah) untuk dikagumi body-nya apa adanya.

Dari sini kamu tahu kan, bahaya banget kalau menganggap tubuh kita sendiri itu milik orang lain atau bahkan milik kita.

Kita itu tak punya apa-apa, semua hanya titipan.


Diri kita termasuk tubuh kita itu milik Allah.
Bukan milik pasangan, bukan milik ortu, juga bukan milik kita sendiri.


Milik Allah. Artinya harus tunduk pada aturan-aturan Allah.

Jangan salah lagi ya. Tubuh kita itu milik Allah. Milik Allah.
Oke.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.