06 Januari 2020

Teknologi, Afeksi, dan Sisi Manusiawi


Teknologi, Afeksi, dan Sisi Manusiawi

 Teknologi
Sumber: Pixabay (by Firmbee)

Perkembangan teknologi membuat manusia semakin kehilangan afeksi dan sisi manusiawinya. Dan mereka pun tak hanya mulai mempertanyakan diri sendiri, tetapi juga berani mempertanyakan Tuhan. Kendati sebenarnya teknologi, sama seperti banyak hal lain, bersifat netral. Manusialah yang memberi arti teknologi tersebut untuk menjadi positif atau negatif.

Pada pabrik misalnya, penggunaan mesin-mesin lebih dipercaya sterilitasnya dibandingkan tangan manusia. Kemudian adanya TV, yang tak sekadar memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga membuat orang bertengkar, lebih cuek, dan malas bersosialisasi. Begitupun dengan telepon dan gawai, yang tadinya bertujuan untuk memudahkan komunikasi jarak jauh, kini malah membuat orang jadi malas bertemu. Bahkan, tetangga sebelah rumah saja tinggal menelepon kalau ada urusan.

Sementara itu, gawai yang isi dan fungsinya lebih kompleks daripada telepon tak mau kalah. Orang bisa tetap mengunjungi atau bertemu kita tetapi terus sibuk dengan gawainya. Entah mereka menggunakannya untuk main game, chat, urusan bisnis, main medsos, atau lainnya. Batasan antara waktu yang benar-benar untuk kita dan untuk yang lain semakin tidak jelas.

Tak hanya itu, komunikasi tak langsung melalui gawai atau internet tersebut juga membuat orang semakin kasar kata-katanya, semakin memaksakan pendapat untuk diterima, semakin cuek, dan semakin mudah memutuskan hubungan. Kalau ada acara-acara sosial, orang lebih mungkin untuk tidak datang, melainkan hanya berucap atau berkomentar melalui media sosial orang tersebut.

Belum lagi dengan adanya dengan tren untuk bertindak sebagai mata-mata. Untuk urusan pekerjaan, percintaan, atau lainnya orang suka mengintai medsos orang lain. Alih-alih membangun koneksi agar orang itu nyaman berbicara dengannya, mereka malah mencari tahu sendiri dengan cara memata-matai. Semakin sulit bagi kita untuk memisahkan diri antara urusan pribadi dan urusan lain. Bos dan rekan kerja, calon, atau keluarga pun bahkan ingin memata-matai kita sampai sedalam-dalamnya. Privasi menjadi nyaris tidak ada lagi. Sehingga, orang-orang berlomba untuk menciptakan image indah (pencitraan) dan mengesankan dirinya selalu bahagia dan baik-baik saja serta “kuat” agar selamat pada semua urusannya.

Sisi manusiawi memang telah jauh berkurang. Termasuk dengan kehadiran kloning dan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) yang membuat manusia semakin berani mempertanyakan Tuhan. Manusia mulai meragukan dirinya dan meragukan bahwa ciptaan Tuhan adalah yang terbaik. Namun, manusia pun lupa bahwa dirinya adalah manusia. Mereka hanya bisa menang dari ciptaan manusia (kloning dan AI misalnya) dengan mempertahankan dan meningkatkan sisi-sisi positif kemanusiaannya.

Kini, banyak orang berinteraksi dengan orang lain tanpa terlalu memiliki perasaan. Mereka menatap layar, bukan berkontak langsung mata dengan mata; mereka berbicara jarak jauh, tanpa bisa merasakan bisikan langsung ke telinga; mereka melakukan video call tanpa bisa memeluk langsung, menyentuh langsung, atau mengusap air mata kita; bahkan untuk berciuman pun mereka berciuman jarak jauh melalui gawainya (ada gawai yang dilengkapi dengan alat tersebut), bukan sentuhan langsung antara bibir mereka dengan bibirnya. Tentu berbeda rasanya berkontak langsung dan berkontak melalui alat. Hal ini dapat menurunkan hormon-hormon penguat cinta dan koneksi, sehingga kita tak terlalu sensitif lagi. Kemampuan afeksi dan sisi manusiawi kita menjadi berkurang. 

Selain itu, kita tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan darinya seperti bagaimana sentuhan dapat menormalkan detak jantung dan tekanan darah serta meningkatkan sel-sel dan daya tahan tubuh. 

Kita ini manusia, sementara ciptaan kita bukan. Jika kita menjadi diri kita yang asli/ori, maka kita akan selalu lebih unggul daripada manusia yang palsu (walaupun mungkin membutuhkan latihan terlebih dahulu). Sayangnya, manusia sudah semakin mirip robot. Tak heran jika mereka kalah, semakin lemah, atau semakin mempertanyakan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.