16 Mei 2018

Gerakan Sejuta Miliarder, Kunci Kedaulatan Ekonomi Umat dan Rakyat



Gerakan Sejuta Miliarder, Kunci Kedaulatan Ekonomi Umat dan Rakyat


Thomas J. Stanley mencatat, mayoritas miliarder Amerika berasal dari kalangan pengusaha. Yang lebih mengagumkan lagi, mereka bukan sembarang pengusaha, tetapi pengusaha dengan kekayaan bersih sebanyak tujuh digit. Kaya yang sesungguhnya, bukan hanya penghasilannya yang terlihat besar. Para miliarder tersebut, baik yang bekerja sebagai pengusaha maupun yang bekerja di bidang profesional semacam dokter, mayoritas adalah orang berpendidikan. Sebanyak 90 persen adalah lulusan perguruan tinggi. Meskipun tidak selalu ditunjukkan dengan nilai tes yang tinggi, jumlah nilai A yang banyak di seluruh mata kuliah, atau IPK yang sangat tinggi, tetapi hasil mereka juga tidak rendah. Mereka rata-rata memiliki IPK sebesar 2,9. Ini membuktikan bahwa pendidikan itu penting, meski bukan faktor utama untuk menjadi multimiliarder. Beberapa miliarder yang mengatakan bahwa faktor utama kesuksesan mereka adalah pendidikan, nilai, dan gelar yang tinggi hanyalah miliarder dari kalangan pekerja profesional, seperti dokter dan pengacara. Tetapi itupun jumlahnya sedikit dibandingkan seluruh sampel yang ada. Sejak awal para calon miliarder memang banyak yang berorientasi uang, bukan nilai. Apalagi mereka umumnya berasal dari keluarga miskin dan sekolah atau kuliah sambil bekerja. Jadi, wajar bila nilai-nilainya tak semenonjol siswa atau mahasiswa yang kondisinya lebih “beruntung” atau berorientasi nilai (The Millionaire Mind, 2017).

Fakta ini sangat bermanfaat bila dikaitkan dengan kondisi Indonesia. permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kenakalan remaja, dan sebagainya bisa diminimalkan atau diatasi dengan mencanangkan gerakan “sejuta” pengusaha atau gerakan “sejuta” miliarder. Sasarannya adalah para masyarakat ekonomi lemah seperti para fakir miskin, anak jalanan, anak putus sekolah, anak yatim piatu, pengangguran, dan sebagainya. Tantangannya adalah meskipun mayoritas miliarder berasal dari kalangan pengusaha, hanya sedikit pengusaha yang bisa menjadi miliarder. Dengan kata lain, menjadi pengusaha tidak otomatis membuat mereka menjadi miliarder.

Berbicara tentang miliarder tidak hanya berbicara tentang cara berbisnis, tetapi perlu diajarkan juga mengenai pemikiran, gaya hidup, kemampuan melihat peluang yang spesifik sesuai keunggulan pribadinya, permodalan, dan hal-hal semacam itu. Di antara hal penting yang harus diajarkan adalah mengenai utang atau kredit. Tak bisa dimungkiri bahwa orang-orang “kecil” seringkali terjebak akan utang/kredit. Selain karena gaya hidup konsumtif, juga mungkin untuk membayar rumah, motor, sekolah anak, sebagai modal usaha, atau lainnya.


Mengatasi Utang dan Kredit

Sebelum berbicara mengenai kemakmuran atau kemandirian finansial, utang atau kredit harus dipastikan dulu teratasi. Selama orang masih berutang, dia masih belum merdeka. Masih di bawah kekuasaan si pemberi utang.

Utang, baik berupa utang bank, kartu kredit, utang pada rentenir, atau lainnya sama-sama mencekik. Ia bukanlah solusi. Tetapi lihat sekarang, banyak sekali barang bisa dibeli secara kredit. Utang pun tidak selalu digunakan untuk hal-hal yang memang dibutuhkan, tetapi juga hal-hal yang hanya berupa keinginan. Bahkan ada orang yang jelas-jelas tertipu, mengharapkan bunga bank pada uangnya, padahal bunga utang/kreditnya lebih besar. Ia sebenarnya bisa membayar tunai, tetapi memilih mencicil, sedangkan uang sisanya disimpan di bank untuk dibungakan.

Baik pemikiran yang salah mengenai utang, tidak mampu dan hendak berutang, berutang dan selalu ingin menambah, atau bahkan sudah berutang namun tidak mampu melunasinya; semuanya harus dibantu dicarikan solusinya.

Utang adalah musuh yang nyata. Di dalam Islam, kredit bank merupakan riba. Tetapi lihat, tidak hanya masyarakat yang berutang, negara pun berutang. Di tahun ini saja, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan bahwa utang negara itu biasa (http://setkab.go.id). Utang pemerintah menembus Rp 4.034,8 triliun pada Februari 2018. Direktur Strategi dan Portfolio Utang Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengatakan, utang tersebut bisa saja dilunasi dalam kurun waktu delapan tahun, jika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) surplus Rp 500 triliunan setahun. Adakah yang menjamin bisa atau pasti surplus, dan pasti bisa surplus sejumlah itu? Lalu perhatikan pula pernyataan dari Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih. Ia menjelaskan, jika tidak ingin berutang, maka penerimaan pajak harus naik untuk membiayai pembangunan. “Mau enggak pajak naik? Kalau enggak, apa sarannya? Utang enggak boleh, penerimaan tidak bisa, tapi kalau pemerintah tidak membangun, dimarahi. Serba salah,” kata dia (Katadata, 16/3/2018). Jadi solusi pemerintah terutama hanya seputar pajak dan utang. Sedangkan utang sendiri, apakah tidak bersyarat? Apakah tidak ada kesepakatan-kesepakatan yang diinginkan oleh Si Pemberi Utang agar dipenuhi oleh Si Pengutang?

Kemudian perhatikan uraian John Perkins dalam buku Confession of Economic Hitman, mengenai bagaimana cara Amerika mengambil alih dunia. John Perkins mengungkapkan secara terperinci mengenai kisah hidupnya ketika bekerja sebagai “Bandit Ekonomi”. Tugasnya adalah merancang kontrak pemerintah supaya terlihat sempurna di atas kertas, namun tujuan yang sesungguhnya adalah bagaimana menjerat negara yang ditargetkan itu ke dalam beban utang yang menggunung, dan bagaimana supaya negara tersebut terjerat selamanya dalam utang. Sebab dengan utang, negara-negara yang menjadi target tersebut selamanya akan dapat diperbudak oleh AS. Perkins memberikan contoh sebagai berikut. Perkins mengungkapkan sebuah kontrak kesepakatan yang disusunnya, yang disampaikan dan ditandatangani oleh Keluarga Kerajaan Saudi pada tahun 70-an. Dalam kesepakatan tersebut, semua negara di Saudi Arabia diharuskan menginvestasikan pajak yang diperoleh dari penambangan minyak di bank-bank AS, sebagai imbalan atas perlindungan terhadap tahta mereka. Kesepakatan semacam ini mempererat hubungan antara golongan fundamental Islam di tubuh pemerintahan Saudi dengan pergantian kepemimpinan dalam pemerintahan Amerika (The Diary of Dajjal, 2015: 142-143).


Negara Banyak Berutang, Dibayar dengan Apa?

Bagaimanapun juga, utang harus dibayar. Dengan apa? Sumber daya alam Indonesia telah banyak yang rusak, selain juga banyak yang sudah dikuasai asing. Pengamat Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (Akses), Suroto, menyatakan, secara de jure BUMN masih dimiliki Pemerintah namun secara de facto dikuasai oleh swasta kapitalis yang berorientasi pada profit (Wartaekonomi.co.id, 25/1/2015). Begitupun Ketua Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia, Bambang Ismawan menyebutkan di dalam Bisnis.com, 8/10/2014, sebanyak 60 persen industri penting dan strategis telah dikuasai investor asing,
"Sejumlah industri penting telah dikuasai asing, seperti perbankan, telekomunikasi, elektronika, asuransi, dan pasar modal, sehingga akan menyulitkan pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.”

Penguasaan Taipan dan asing juga meliputi 175 juta hektar tanah atau setara dengan 93% luas daratan Indonesia (Intelijen.co.id, 17/4/2017). Penguasaan tersebut terkait dengan pemilikan (penguasaan formal) maupun penguasaan efektif (garapan/operasional) atas sumber-sumber agraria, serta sebaran alokasi atau peruntukannya. Akibatnya, terjadilah ketimpangan agraria, 35% dari daratan Indonesia digunakan untuk pertambangan.

Sebanyak 70% dari blog migas sudah dikuasai oleh asing, sedangkan 43% dari PGN dikuasai oleh swasta dan asing. Jika ditambah dengan total utang PGN, maka penguasaan swasta atasnya telah mencapai 84% dari total aset PGN. Kemudian hutan Indonesia, sebanyak 30%-nya dikuasai oleh 25 konglomerat, sementara rakyat hanya menguasai lahan di bawah 1 juta hektar. Belum lagi kelapa sawit, sebanyak 52% dari 10,9 juta lahan kelapa sawit pun dimiliki oleh swasta besar. Sedangkan petani rata-rata hanya memiliki 0,3-0,5 hektar lahan pertanian.

Delapan puluh persen industri Indonesia telah dikuasai oleh swasta yang terdiri dari asing dan pribumi (Tribunnews.com, 3/3/2015). Sedangkan 56% aset nasional telah dikuasai oleh 0,2% penduduk dalam bentuk kepemilikan tanah. Bahkan, menurut data Bank Dunia 1% menguasai 49% aset nasional (Nusantara.news, 16/6/2017), dan satu persen tadi didominasi oleh etnis Cina. Di mana posisi umat Muslim? Menurut perkiraan Wakil Presiden Jusuf Kalla, umat Islam mungkin tidak lebih dari 10 persennya dari yang 1 persen itu.

 
Menggalang Kekuatan Umat

Ketika negara sudah tidak mampu memelihara bumi, air, dan kekayaan alam di dalamnya; dan tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat darinya, maka perlu diambil langkah lain. Meskipun idealnya aspirasi bisa disampaikan kepada wakil-wakil rakyat di pemerintahan, tetapi orang-orang yang duduk di sana terlalu majemuk. Bila negara dan pemerintahan sudah tidak terlalu bisa dipercaya, maka kita dapat mengubah haluan dengan menggalang kekuatan umat. Kita bisa memanfaatkan kekuatan kita sebagai umat mayoritas di negeri ini, atau solidaritas sesama muslim dengan meminta bantuan saudara kita sesama muslim di luar negeri. Solusinya, Islam harus bersatu dan memiliki kekuatan perekonomian sendiri. Di antara caranya adalah dengan menciptakan pengusaha-pengusaha baru, yang tidak asal “berlabel” kerja, tetapi harus sukses, bahkan menjadi miliarder.

Selamatkan saudara-saudara kita dari kemiskinan. Selamatkan dari kristenisasi, kesulitan beribadah, atau penanaman pemikiran tertentu akibat bekerja pada non muslim. Selamatkan diri dan negara kita dari asing dan dari non muslim. Perekonomian adalah jalan bagi kita untuk mandiri dan berkuasa atas diri dan negeri sendiri.


Kesuksesan Bisa Dipelajari

T. Harv Eker telah memiliki 17 usaha di usia 30 tahun, dan menjadi miliarder hanya dalam tempo 2,5 tahun. Ia mengatakan bahwa kesuksesan itu bisa dipelajari. Di dalam bukunya, Speedwealth, ia menunjukkan caranya. Pertama, memposisikan diri untuk siap menerima kekayaan. Ke dua, bangun pola pikir bahwa menjadi kaya dengan cepat bisa dilakukan dan Anda mampu melakukannya. Ke tiga, Anda harus benar-benar ingin menciptakan kebebasan finansial secepatnya. Ke empat, berikan nilai yang banyak, lebih, dan berkualitas kepada orang banyak. Jadilah yang terbaik.  Ke lima, tawarkan sebuah produk, terutama yang berkaitan dengan bisnis Anda sekarang, dan yang menambah manfaat kepada konsumen. Ke enam, lakukan “kloning” pada diri Anda sendiri, yaitu dengan melatih atau membayar orang lain, atau membuat sistem yang bisa bekerja walaupun Anda tidur/tanpa Anda. Ke tujuh, miliki sumber penghasilan ke dua yang berpotensi menciptakan kekayaan, yaitu dengan memperhatikan permintaan, persediaan, kualitas, dan kuantitas. Ke delapan, jadilah orang yang tepat, lalu pilihlah bisnis (barang/jasa) yang tepat pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ke sembilan, taksirlah waktu pasar. Anda harus tahu kapan Anda masuk dan kapan Anda keluar.  Ke sepuluh, manfaatkan jeda, yaitu waktu yang dibutuhkan bagi sebuah ide untuk tersebar dari satu wilayah geografis ke wilayah geografis yang lain. Temukan konsepnya, lalu tiru dan perbaiki konsep itu. Ke sebelas, jalin afiliasi dengan seseorang atau sesuatu yang sudah berjaya di pasar. Ke dua belas, memasarkan ulang barang dan jasa yang undermarketed; yaitu barang yang menurut Anda fantastis, bekerja sangat ajaib, namun hampir tidak diketahui orang. Ke tiga belas, pemasaran, produksi, dan administrasi harus didesai agar masing-masing bekerja dengan mulus dan hampir otomatis. Ke empat belas, ketika Anda sudah punya sesuatu yang berjalan dengan baik, maka fokuslah untuk menduplikasi cara tersebut. Ke lima belas, tanyakan siapa yang bisa membeli atau menjual barang atau jasaku dalam jumlah besar sekaligus atau secara terus-menerus. Ke tujuh belas, terapkan leverage, yaitu dengan mengganti diri Anda atau mengganti banyak hal yang biasanya Anda kerjakan sendiri. Misalnya dengan mengulang penjualan, mendukung pelanggan dengan produk-produk dan jasa-jasa tambahan, pemasaran lewat kemitraan atau usaha patungan, dan sebagainya. Ke delapan belas, Anda memulai bisnis dengan tujuan untuk menguangkannya suatu saat nanti, misalnya dengan dijual atau go public. Ke sembilan belas, jangan gunakan nama pribadi sebagai nama usaha! Ke dua puluh, carilah perusahaan sukses yang besar, yang sekiranya menganggap uang senilai satu atau dua juta dolar terasa seperti tetesan air di dalam ember. Perhatikan siapa yang membeli perusahaan Anda dan daya beli calon pembeli Anda! T. Harv Eker telah berhasil mengembangkan suatu cara yang membuat orang bisa kaya tanpa stres dan susah payah. Ke dua puluh satu, praktekkan apa yang Anda inginkan di masa depan sekarang juga. Misalnya, berbahagia, belajar tentang ilmu bisnis umum (pemasaran, negosiasi, keuangan, dan sebagainya), ilmu bisnis spesifik/bidang yang ingin digeluti, ilmu tentang pengembangan diri, dan lain-lain.

 Akan tetapi, seperti pernah dijelaskan sebelumnya, ilmu berbisnis saja tidak cukup. Kita harus tahu bahwa mayoritas miliarder Amerika adalah dari usaha sendiri, hidup hemat, dan tidak memperoleh sepeser pun suntikan uang dari keluarganya. Mereka hidup seimbang, tidak gila kerja, sangat cermat di dalam harta dan pemilihan pasangan hidup, serta didukung oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, dan rajin melakukan riset. Mereka juga tidak suka judi/lotre dan tidak suka berganti-ganti pasangan/memiliki banyak pasangan. Bahkan, mereka memprioritaskan keluarga di atas segalanya (The Millionaire Mind, 2017). Semua hal ini harus diajarkan di dalam suatu upaya mencetak “sejuta” miliarder. Pelaksanaannya bisa bertahap dulu, misalnya melatih 100 orang dulu. Setelah 100 orang tadi menjadi miliarder, maka mereka bisa membantu melatih dan membantu dana atau lainnya yang dibutuhkan. Termasuk mungkin membukukan perjalanan kisah mereka dan menjualnya. Lalu royaltinya digunakan untuk mencetak miliarder baru. Atau memperjual belikan CD-nya. Bisa juga dengan mengadakan seminar atau pelatihan dengan mereka sebagai mentornya, atau lainnya. 

T. Harv Eker mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk menjadi miliarder jika Speedwealth dilakukan dengan tepat adalah sekitar 3-5 tahun. Bila berhasil, cara ini sangat bermanfaat bagi kemandirian pribadi, kemandirian Islam, dan pada akhirnya kemandirian Indonesia. Selain juga membuat Islam semakin berjaya/berkuasa. Gerakan sejuta miliarder ini melengkapi program-program lain yang sudah ada, seperti Riba Crisis Center dan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia. Islam adalah satu, tak boleh terkotak-kotak atau merasa ingin menonjol sendiri. Karena sesama muslim bersaudara. Mari saling membantu dan bekerja sama.


Sumber Gambar: istimewa