26 Desember 2017

Antara Sholat, Jeda, dan Produktivitas



Antara Sholat, Jeda, dan Produktivitas
Sholat

Di dalam buku “Kuasai Lebih Cepat” karya Colin Rose disebutkan, manusia paling banyak mengingat di bagian awal dan akhir suatu sesi. Di situ disebutkan pula bahwa belajar akan lebih efektif jika dilakukan dengan periode yang teratur, pendek-pendek, masing-masing sekitar 30 menit.

Di berbagai kursus dan pelatihan, saya juga mendapati para gurunya menyarankan untuk mempelajari bidang kursus/pelatihan tersebut selama 30 menit, 45 menit, atau 1 jam per hari.

Sedangkan di dalam buku yang lain, penulisnya mengatakan, dia bekerja selama 90 menit, lalu mengambil jeda, baru kemudian beraktivitas lagi. Menurut dia, cara itu baik untuk produktivitas.

Dari berbagai contoh di atas, untuk durasi kerja, sepertinya yang 90 menit lalu jeda lebih memungkinkan untuk diterapkan daripada 30 menit, 45 menit, atau 1 jam.

Kemudian muncullah suatu pemikiran di otak saya. Itu menguntungkan sekali bagi umat muslim, karena di sela-sela kegiatan mereka terdapat sholat Dhuha, Dhuhur, Asar, Maghrib, dan Isya, lalu otak istirahat penuh melalui tidur malam. Padahal, sebelum sholat diawali dengan berwudhu. Wudhu mempunyai berbagai manfaat untuk jasmani, rohani, maupun spiritual. Lebih lengkapnya mungkin suatu saat akan saya bahas tersendiri. Sedangkan di dalam sholat juga terdapat posisi sujud. Ada suatu bagian pada otak yang hanya bisa dialiri darah ketika manusia sujud. Jadi, sangat bermanfaat untuk produktivitas.

Lebih jauh, di dalam buku lain, saya juga menemukan. Katanya, di saat manusia lelah itu hanya bagian tertentu yang lelah. Misalkan aktivitas saya banyak menggunakan bagian otak yang bernama A, maka A itulah yang lelah. Sel-sel lainnya tidak. Oleh karena itu, saya membuat kesimpulan pribadi, untuk lebih meningkatkan produktivitas, lakukanlah lintas kegiatan atau lintas bagian otak.

Lintas kegiatan maksudnya begini, ada kegiatan yang lebih banyak menggunakan tangan, ada yang lebih banyak menggunakan otak, ada yang lebih banyak menggunakan mata, ada yang lebih banyak menggunakan telinga, ada yang lebih banyak menggunakan mulut, dan sebagainya. Untuk yang lintas kegiatan, saya sudah pernah praktek, dan sepertinya hasilnya positif. Sedangkan yang lintas bagian otak saya belum pernah mencoba.

Hal lain yang mendasari saya adalah cerita dari buku lainnya lagi. Penulisnya menceritakan bahwa bila berlatih lari untuk maraton terus-menerus, otot kaki bisa cedera. Untuk menghindari musibah tersebut sekaligus untuk menghemat waktu dan tenaga, cara yang lebih baik adalah tidak melulu lari, tetapi diselingi dengan renang dan bersepeda. Dan itu berhasil bagi dia.

Jadi, untuk meningkatkan produktivitas, buatlah jeda, di antaranya dengan melakukan sholat bagi muslim. Selain itu, lakukan lintas kegiatan/lintas bagian otak. Jangan melakukan 1 kegiatan yang sama non stop selama berjam-jam.


#teoriku
#pemikiranku
#dugaanku

Sumber gambar: Pixabay